STUDI KASUS CITRA DIRI ANAK PUNK DI YOGYAKARTA
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan gunaMemperolehGelar Sarjana Pendidikan
Oleh Sandi Rahmadhani NIM10104244023
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
MOTTO
Kebanyakan milyuner mendapat nilai B atau C di kampus.Mereka membangun
kekayaan bukan dari IQ semata, melainkan kreativitas dan akal sehat.
(Thomas Stanley)
Kejarlah cita-cita sebelum cinta, apabila tercapainya cita-cita maka dengan
sendirinya cinta itu akan hadir.
(Djendrals Jack)
Suatu gaya hidup itu pilihan, yang terpenting komitmen individu itu sendiri. Akan
sampai kapan orang tersebut mempunyai gaya hidup seperti tersebut dan
eksistensinya terhadap masyarakat.
PERSEMBAHAN
Skripsi ini dipersembahkkan untuk:
1. Kedua orang tua dan keluarga tercinta.
2. Almamater Universitas Negeri Yogyakarta, Fakultas Ilmu Pendidikan,
STUDI KASUS CITRA DIRI ANAK PUNK DI YOGYAKARTA
Oleh
Sandi Rahmadhani NIM 10104244023
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana citra diri anak punk dan faktor pendorong menjadi punk di Yogyakarta.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subyek penelitian di sini adalah 3 orang anak punk dengan kriteria subyek menjadi anak punk lebih dari 2 tahun, berdomisili di Yogyakarta, usia 18-40 tahun, dan yang menjadi key informan adalah 2 orang teman yang sudah lama berteman. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.Uji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode.Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukan citra diri anak punk secara persepsi adalah suatu jalan hidup dan gaya hidup mereka. Secara karakteristik anak punk yaitu berupa fashion yang digunakan dan attitudeyang ditunjukan. Citra diri mengenai attitude anak punk terdapat negatif dan positif.Citra diri mengenai attitude anak punk negatif diantaranya terlibatnya punk dalam pergaulan bebas (miras dan freesex) dan jarang melakukan ibadah.Di sisi lain citra diri mengenai attitude anak punk yang positif yaitu mempunyai jiwa sosial yang tinggi terhadap masyarakat. Faktor pendorong menjadi punk yaitu dikarenakan faktor teman sebaya, mengidolakan tokoh, dan faktor media.
KATA PENGANTAR
Tiada kata yang pantas terucap kecuali Puji beserta Syukur kepada
ALLAH SWT, atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan. Sholawat dan
salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah
menunjukkan jalan kebenaran dan menuntun manusia menuju tali agama Allah
SWT yang mulia.
Selanjutnya, dengan kerendahan hati penulis ingin menghaturkan rasa
terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penyelesaian
proposal skripsi yang berjudul “Studi Kasus Citra Diri Anak Punk di Yogyakarta”
ini dengan baik dan lancer. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan
partisipasi berbagai pihak, skripsi ini tidak akan terselesaikan dengan baik. Oleh
karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan
kepada penulis untuk menjadi mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta.
2. Dekan FakultasIlmu Pendidikan UniversitasNegeri Yogyakarta yang telah
memberikan izin penelitian.
3. Ketua Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan yang telah
memberikan kemudahan dalam proses perizinan penelitian sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan.
4. Eva Imania Eliasa, M.Pd. selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus
dosen pembimbing akademik yang telah membimbing penulis,
mengarahkan dengansabar, penuhperhatian, dan selalu memberikan
motivasi untuk menyelasaikan skripsi.
5. Amor Sudigdo, S. H. dan Adhibatun, S. Pd. Kedua orang tua penulis yang
dengan tulus memberi doa, dukungan moril maupun materil yang telah
diberikan. Terselesaikannya skripsi ini merupakan langkah awal untuk
6. Sigit Firmansyah dan Ifan Desemawardhana, kakakku yang selalu tiada
henti memberikan semangat, dukungan dandorongan yang begitu besarnya
DAFTAR ISI
hal
HALAMAN JUDUL ……….………... i
HALAMAN PERSETUJUAN …….………... ii
HALAMAN PERNYATAAN………..……….. iii
HALAMAN PENGESAHAN………….……… iv
HALAMAN MOTTO……….……… v
HALAMAN PERSEMBAHAN………..……… vi
ABSTRAK……….………. vii
KATA PENGANTAR ………....……... viii
DAFTAR ISI ………... x
DAFTAR TABEL………...……….. xii
DAFTAR LAMPIRAN……….……….. xiii
BAB I. PENDAHULUAN
BAB II. KAJIAN TEORI A.Punk... 10
1. Pengertian Punk... 10
2. Jenis-jenis Punk... 11
3. Sejarah Punk... 14
4. Perkembangan Punk di Indonesia... 15
5. Perkembangan Punk di Yogyakarta... 17
6. Alasan yang Mendorong masuk Dunia Punk... 18
2. Karakteristik Citra Diri... 22
3. Komponen-komponen Citra Diri... 23
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Citra Diri... 24
5. Citra Diri Anak Punk... 25
C. Masa Dewasa Awal 1. Dewasa Awal……… 26
2. Karakteristik Dewasa Awal... 27
D. PertanyaanPenelitian... 28
BAB III. METODE PENELITIAN A. PendekatanPenelitian... 30
B. Langkah-langkah Penelitian... 30
C. Setting Penelitian... 31
D. Subjek Penelitian……... 31
E. Teknik Pengumpulan Data... 32
F. Instrumen Penelitian... 34
G. Teknik Analisis Data... 37
H. Uji Keabsahan Data... 38
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian……… 40
1. Deskripsi Setting Penelitian…...…...…………... 40
2. Deskripsi Subyek Penelitian………... 40
3. Citra Diri Anak Punk……….. 51
4. Faktor Pendorong Menjadi Punk... 68
5. Display Data Hasil Penelitian……… 72
B. Pembahasan ………. 73
C. Keterbatasan Penelitian………... 76
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………. 77
DAFTAR TABEL
hal
Tabel 1. Pedoman Observasi……….………. 35
Tabel 2.Pedoman Wawancara Mendalam………... 36
Tabel 3. Profil Subyek……… 41
Tabel 4. Profil key informan………. 42
Tabel 5. Citra Diri ALX Seorang Punk……….. 57
Tabel 6. Citra Diri YN Seorang Punk………. 62
Tabel 7. Citra Diri BB Seorang Punk………. 67
DAFTAR LAMPIRAN
hal
Lampiran 1. Pedoman Wawancara ……… 83
Lampiran 2. Pedoman Observasi ………..… 86
Lampiran 3. Identitas Diri Subyek ……….... 87
Lampiran 4. Identitas Diri Key Informan ……….………….. 89
Lampiran 5. Hasil Wawancara ……….……... 90
Lampiran 6. Catatan lapangan ………....… 112
Lampiran 7. Display Hasil Data Wawancara ……….……. 116
Lampiran 8. Display Hasil Observasi ……….……. 118
Lampiran 9. Dokumentasi ……… 119
BAB l PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk sosial, makhluk yang tidak dapat hidup
sendiri tanpa orang lain,tetapi manusia dalam kehidupan pribadinya bisa
disebut sebagai makhluk individu yaitu makhluk yang hidup untuk dirinya
sendiri. Dalam kaitannya dengan kehidupan pribadinya, manusia akan terus
berusaha untuk bertahan hidup yaitu dengan terus berkarya dengan caranya
sendiri. Dalam berkarya, hasil cipta karya manusia disebut budaya, atau
manusia menciptakan kebudayaan.
Menurut Aristoteles (Indra Saputra, 2013), seorang ahli fikir Yunani
menyatakan dalam ajaranya, bahwa manusia adalah zoon politicon, artinya
pada dasarnya manusia adalah makhluk yang ingin selalu bergaul dan
berkumpul dengan manusia, jadi makhluk yang sifatnya suka bergaul dan
bermasyarakat itulah manusia.Aristoteles mendefinisikan tentang manusia
sebagai makhluk sosial, makhluk yang hidup bersama manusia yang lain,
makhluk yang ada dan berelasi dengan manusia lain. Bahwa manusia itu
makhluk sosial tidak hanya bermaksud menegaskan ide tentang kewajiban
manusia untuk bersosialisasi dengan sesamanya, melainkan ide tentang
makhluk sosial terutama bermaksud menunjuk langsung pada kesempurnaan
identitas diri.
Menurut Marcia (Fitia Yulianti, 2012), tahap perkembangan identitas
diri akan bergerak dari tahap satu ke tahap berikutnya atau dengan kata lain
berikutnya, sering anak muda sekarangpecintraan dirinya tidak lepas dari
persepsi seseorang atau kelompok terhadap citranya sehingga menimbulkan
sebuah kesan baik atau buruk.
Pada era sekarang ini banyak menjumpai kecenderungan anak muda
yang kuat untuk memperbaiki penampilannya dengan berbagai macam cara,
baik yang wajar maupun yang membahayakan bagi dirinya sendiri, seperti
mengikuti perkembangan mode, potongan rambut, asesoris kosmetika yang
sedang trenddan sebagainya menurut Dewi (Syarief Budiman, 2006).
Salah satu hal yang menarik perhatian menurut Sutarmanto (Syarief
Budiman, 2006), adalah perubahan fisik yang terjadi ketika bagian-bagian
tubuh tertentu mengalami perubahan dan mengambil bentuk yang berbeda dari
sebelumnya.Perubahan fisik menandai pemahaman baru tentang diri individu
yang berkaitan erat dengan penerimaan diri dan pencarian identitas diri.
Tubuh dan karakteristik memiliki peranan penting dalam membentuk
gambaran tentang citra dirinya baik dalam pandangannya sendiri maupun
orang lain.
Bicara tentang citra diri, citra diri itu sendiri menurut Centi (Syarief
Budiman, 2006), merupakan hal yang subyektif, menurut penglihatan sendiri.
Keadaan dan penampilan diri pada gilirannya dipengaruhi oleh norma yang
dijumpai atau yang dihadapi. Pendapat ini didukung oleh pendapat Burn
(Syarief Budiman, 2006), mengatakan bahwa citra diri sumber utama dari
kapasitas-kapasitasnya menurut standar-standar dan nilai-nilai yang telah
diinternalisasikan dari masyarakat.
Citra diri membentuk persepsi seseorang tentang diri, baik secara
internal maupun eksternal.Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang
ditujukan pada tubuh. Citra diri dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang
karakteristik dan kemampuan fisik oleh persepsi dan pandangan orang lain.
Citra diri dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan
fisik.Perubahan perkembangan yang normal seperti pertumbuhan dan penuaan
mempunyai efek penampakan yang lebih besar pada tubuh dibandingkan
dengan aspek lainnya dari konsep diri menurut Perry & Potter (Indah Juwita,
2013).
Seperti halnya dengan anak punk, anak muda zaman sekarang mungkin
sudah tidak asing dengan anak punk. Anak punk mempunyai gaya yang
berbeda dengan anak-anak muda lain. Penampilan anak punk yang identik
dengan rambut mohawk, celana ketat, sepatu bot, dan berbagai aksesori
anak punk merupakan simbol perlawanan.Berdasarkan penelitian (Aidin
Adrian, 2003), berbagai aksesori itu masing-masing mempunyai makna
seperti:
1) Rambut Mohawk yang tegak sering diartikan sebagai anti penindasan
sekaligus kebebasan. Gaya rambut ini terinsipari dari film Drums Along
the Mohawk tahun 1963. Dalam film itu diceritakan tentang suku indian
Mohican di lembah mohawk. Gaya inilah yang kemudian diadaptasi anak
2) Aksesori lain yang menonjol yaitu celana yang ketat. Bahan celana yang
biasa mereka pakai adalah jins, kulit, atau bermotif kulit hewan (bandage
pants )yang diberi emblem. Awalnya punkers sebutan anak punk,
menggunakan celana kulit karena awet dan tahan lama. Model ketat
menyimbolkan himpitan hidup.Karena itu punkersbiasanya merobek
celana bagian paha dan lutut sebagai simbol kemerdekaan gerak dan ide.
3) Bot adalah jenis sepatu favorit anak punk. Seperti halnya celana panjang,
mereka memilih bot karena alasan awet. Untuk aliran hardrock
punk dan pop punk biasanya memilih sneakers dan sepatu olahraga yang
lebih praktis.
4) Tattoo dan tindik juga merupakan gaya anak punk. Anak punk biasanya
menato tubuhnya dengan gambar tengkorak, salib terbalik, swastika Nazi,
atau api. Tattoo ini menunjukkan identitas kelompok dan menjadi simbol
penguasaan penuh terhadap tubuhnya.Seperti tattoo, tindik juga
menyimbolkan kekuasaan terhadap tubuh.
5) Ciri lainnya adalah rantai aksesoris yang dianggap sebagai simbol
solidaritas. Kelompok punk yang terusir dari masyarakat dianggap
sampah, dinilai menyimpang, membuat punkers membentuk kelompok
baru untuk berlindung. Solidaritas kelompok ini sangat penting untuk
bertahan hidup. Aksesori lain anak punk yaitu eye liner, paku atau benda
tajam lain, baju, serta stocking. Pernak-pernik itu mempunyai inti pesan
Dengan berbagai ragam aksesoris dan gayaanak punk
membuatmasyarakat untuk memudahkan mengenalnya sebagai anak punk atau
punker. Banyaknya anak muda sekarang yang menjadi punk membuat
sebagian orang tua menjadi resah, banyak orang tua menilai bahwa kelompok
punk lebih mementingkan kelompoknya dibanding keluarganya sendiri.
Mereka lebih nyaman di kelompoknya karena penyesuaian diri dengan standar
kelompok dianggap jauh lebih penting.
Berdasarkan penelitian Ulfa Amalia (Fitia Yulianti, 2012), bahwa
secara sosial, anak punk mendapat respon negatif dari orang tuanya yang
menolak punk hingga diusir dari rumah, dirobek-robek pakaiannya, dan
dipukul, orang tua tetap pada prinsipnya bahwa apa yang dilakukan punk
adalah negatif, begitu juga dengan masyarakat memandang punkadalahnegatif.
Contohnya saja seperti kasus heboh 65 anak-anak jalanan (Punk) di Banda
Aceh tertangkap oknum polisi berikut barang bukti berupa narkoba, minuman
keras bersama mereka, atas pengaduan keresahan masyarakat Aceh terhadap
komunitas ini (Kompas, 19 maret 2012). Kemudian terjadi isu polemic ada
sebagian masyarakat diwakili berbagai tokoh-tokoh masyarakat menganggap
penangkapan tersebut adalah merupakan pelanggaran dan pelanggaran kreasi
anak-anak bangsa, polisi melakukan pelanggaran hak anak-anak yang ingin
mengaplikasikan kreasinya dalam dunia seni. Hal itu sangat disayangkan jika
mengatas namakan hak berekspresi, itu adalah sebuah opini yang keliru.
Kenyataanya mereka melakukan tindakan-tindakan kriminal yang dapat
Kehidupan anak punk selalu dikaitkan dengan perilaku yang negatif,
tetapi tidak semua anak punk itu negatif, bahkan adapula diantara mereka
adalah pekerja keras. Hasil observasi awal kebanyakan mereka itu anak-anak
kreatif, banyak mereka yang membentuk group band dimana lirik lagu-lagu
yang mereka ungkap adalah hasil dari kehidupan mereka sehari-hari,
pertemanan, atau bahkan menilai tentang pemerintahan masa kini.Sifat mereka
yang kreatif berbekal dari ideologi DIY/Doit Your Self. Mereka juga banyak
yang berkarya dengan cara menyablon kaos-kaos band punk lalu dijual
(ngelapak) ketika ada acara punk. Di samping dengan kemandirian anak punk,
mereka juga mempunyai jiwa solidaritas dan loyalitas tinggi.Contohnya di
band punk “Marjinal” asal Jakarta yang mebuat lagu tentang Marsinah,
Marsinah itu sendiri adalah buruh wanita yang tertindas oleh kaum-kaum atas
sampai mati.Anak punk membuatkan lagunya dan betapa pedulinya mereka.
Rasa solidaritas mereka terhadap kaum rendah dan tertindas sangat tinggi
karena hidup mereka tidak jauh dengan kejadian seperti itu.
Permasalahan yang dialami individu tidak hanya terjadi terjadi pada pendidikan formal saja melainkan juga padanon formal. Permasalahan itu
dapat juga muncul di berbagai lingkungan keluarga dan masyarakat. Oleh
sebab itu bimbingan dan konseling melalui berbagai layanannya dapat terjadi
di keluarga maupun dalam masyarakat secara luas.
Dalam bidang bimbingan dan konseling itu sendiri menyangkut
karena mereka dianggapmasyarakatkaum marjinal.Anak punk mempunyai
gaya hidup yang tidak sesuai norma yang berlaku pada masyarakat, tidak
dapat dipungkiri bahwa di sisi lain anak punk itu sendiri mempunyai nilai
yang positif seperti jiwa sosial yang tinggi dan kreatif yang masyarakat pada
umumnya tidak memperdulikan.
Di Yogyakarta sendiri sudah banyak permasalahandewasa awal yang
menjadi punkers dan ikut komunitas punk, seperti:
1) Kegelisahan masayarakat karena imagepunk seolah terkesan sangardengan
penampilannya sehingga menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.
2) Berbagai permasalahan yang timbul karena minimnya pemahaman tentang
sikap seorangpunk dan adapula yang tidak mengerti sama sekali atau hanya
mengikuti trendsaja, sehingga menimbulkan citra diri anak punk di mata
masyarakat itu buruk.
Oleh karena itu mengapa peneliti memilih fenomena tentang citra diri
anak punk dikarenakan ingin mengetahui lebih luas tentang citra diri anak
punkyang berada di berbagai di Yogyakarta dan faktor pendorong anak menjadi punk atau masuk dalam komunitas punk.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan permasalahan yang ada di latar belakang tersebut, maka
dapat diidentifikasikan permasalahan khusus yang terkait dengan beberapa
masalah yang akan dicari pemecahannya dalam penelitian. Adapun
permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan penelitian ini antara
1) Penampilan anak punk yang berbeda dengan lainnya..
2) Orang tuanya selalu merespon negatif tentang punk.
3) Adanya anak punk yang minim tentang ideologi punk sesungguhnya itu.
4) Citra diri anak punk yang dianggap negatif masyarakat.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang didapatkan, agar penelitian ini
dapat dilakukan dengan lebih mendalam maka peneliti membatasi masalah
pada: “Citra Diri Anak Punk di Yogyakarta”
D. Rumusan Masalah
Dari batasan masalah di atas dapat dirumuskan permasalahannya
sebagaiberikut :
1) Bagaimana citra diri anak punk di Yogyakarta
2) Faktor pendorong menjadi punk.
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan
untuk mendiskripsikan bagaimana citra diri anak punk di Yogyakarta dan
faktor pendorong individu itu sendiri menjadi punk.
F. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberi manfaat, baik
secara teoritis maupun praktis.
a. Manfaat teoritis
ini, diharapkan juga dapat meningkatkan segala hal yang berhubungan
dengan citra diri anak punk.
b. Manfaat praktis
1. Bagi pembaca, peneliti ini dapat digunakan sebagai media informasi
untuk menggambarkan citra diri anak punk Yogyakarta yang
sesungguhnya dan mengetahui faktor penyebab anak muda masuk di
komunitas punk untuk menjadi punker.
2. Bagi peneliti, penelitian ini untuk menambah wawasan tentang
komunitas punk yang sesungguhnya dan dapat dijadikan informasi
untuk melakukan pendekatan terhadap kelompok punk dalam lingkup
bimbingan dan konseling.
3. Bagi jurusan, peneliti ini dapat dijadikan informasi atau referensi untuk
BAB lI
KAJIAN PUSTAKA A. PUNK
1. Pengertian Punk
Punk menurut (Widya G, 2010), adalah sifat marah yang berbentuk perilaku tidak tepat dengan tempatnya.Punkers tidak pernah merasa puas
dan selalu melawan pada suatu hal (sosial, politik, budaya, ekonomi
bahkan agama) terutama terhadap tindakan menindas. Para
punkermewujudkan sikap tersebut ke dalam musik dan cara berpakaian. Mereka hidup bebas dan tetap bertanggung jawab pada setiap pemikiran
dan tindakannya. Oleh sebab itu mereka menciptakan perlawanan itu
dengan realisasi musik, gaya hidup, komunitas dan faham tersendiri.
Dalam “philosophy of Punk”, Craig O’Hara (Fitia Yulianti, 2012),
menuliskan tiga definisi punk.Pertama adalah punk sebagai trend remaja
dalam fashion dan musik.Kedua yaitu punk sebagai keberanian
memberontak dan melakukan perubahan. Terakhir, punk sebagai bentuk
perlawanan yang “hebat” karena menciptakan musik, gaya hidup,
komunitas, dan kebudayaan sendiri.
Menurut (John Martono, 2008), punk merupakan suatu fenomena
budaya yang memberikan suatu identitas baru bagi sekelompok (sub
altern). Berdasarkan dari pendapat-pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa punkbisa dianggap sebagai trend dalam fashion remaja
perubahan dengan menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan faham
tersendiri dengan tingkah laku yang mereka perlihatkan.
Berdasarkan dari pendapat-pendapat di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa punkbisadi anggap sebagai gayahidupyang
memberontak. Punkmelakukan pemberontakan perlawanan mereka dalam
bentuk melakukan perubahan dengan menciptakan musik, attitude,
komunitas, dan faham tersendiri dengan tingkah laku yang mereka
perlihatkan.
2. Jenis-Jenis Punk
Dengan berkembangnya punk mengalami pasang surut, kondisi
seperti ini menurut ragam aliran atau jenis punk. Menurut (Widya G,
2010), ada beberapa aliran punk :
a) Anarcho punk
Jenis komunitas punk yang sangat idealis dan bisa juga disebut
keras, dengan ideologi yang mereka anut dengan anti-otoritarian dan
anti-kapitalis. Mereka sangat menutup diri dengan orang lain dan
kekerasan sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
b) Crust Punk
Para anggotanya yang terkenal berpenampilan kusut dan
kritikannya pedas. Mereka suka melakukan protes atau demo di
jalanan, mengemis, penghuni liar (penghuni ilegal tempat), penghibur
c) Glam Punk
Para anggotanya yang biasanya terdiri dari seniman,
pengalaman sehari-harinya dituangkan sendiri dalam berbagai macam
karya. Mereka menjauhi perselisihan dengan sesama maupun orang
lain.
d) Nazi Punk
Jenis Punk yang masih murni, terdiri dari minoritas terkecil di
sub-kultur punk dan anggotanya berpaham ideologi nasionalis kulit
putih yang erat kaitannya dengan skinhead kulit putih.Dalam bermusik
mereka mengutarakan tentang kebenciannya dengan kaum yahudi,
kulit hitam, multi-ras, dan homoseksual.
e) Oi
Terdiri dari para hoolygan yang anggotanya sering membuat
keonaran dimana-mana baik dipertunjukan musik ataupun sepak
bola.Mereka memandang rendah dengan para kaum elit atau para
pekerja.
f) Queercore
Budaya dan gerakan sosial yang dimulai pada pertengahan
1980-an. Anggotanya terdiri dari orang-orang berkelaian, contohnya
itu sendiri adalah homoseksual, biseksual, lesbian, dan
g) Riot Grrrl
Gerakan punk feminis bawah tanah, mereka sering mengangkat
isu tentang pemerkosaan, kekerasan salam rumah tangga, seksualitas,
dan pemberdayaan perempuan.
h) Scum Punk
Mereka biasa menyebutnya Straight Edgescene.Banyak para
anggotanya yang no drugsatau bisa disebut juga positive
live.Benar-benar mengutamakan kenyamanan, kebersihan, kebaikan moral dan
kesehatan pada dirinya masing-masing.
i) Skate Punk
Pada pertengahan 1980-an di California, bermain skateboard
dianggap suatu bentuk perlawanan. Nama skate punk karena
kebanyakan kegemaran anggotanya dalam bermain skateboard.
j) Ska Punk
Jenis ska punk ini adalah gabungan dari musik reggae dan
music punk dan mereka mempunyai tarian sendiri yang namanya pogo,
tarian yang berenergik sesuai dengan musik dari skapunk yang
memiliki beat-beat yang cepat.
Berdasarkan uraian atau pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
punk itu mempunyai jenis berbeda dan bervariasi dalam setiap komunitasnya, dengan berbekal ideologi yang mereka miliki dan mereka sepakati bersama
3. Sejarah Punk
Menurut (Abdul Lathiif, 2013), sejarah punk berawal dari sub-budaya
yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu
dikacaukan oleh golongan Skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, punkers
merajalela di Amerika, golongan punk dan Skinhead seolah-olah menyatu,
karena mempunyai semangat yang sama. Namun, punk juga dapat berartijenis
musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti
ideologi hidup yang mencakup aspeksosial dan politik. Gerakan anak muda
yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah
Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh
kemerosotan moral oleh para tokoh politikyang memicu tingkat pengangguran
dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan
caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana
namun cenderung kasar, beat yang cepat dan menghentak. Banyak yang
menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena
di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk
mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra
punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal. Punk selanjutnya berkembang sebagai sebuah
kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu
didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis
protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk
menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan
hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi
aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat. Akibatnya punk dicap
sebagai musik rock and roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat
kesempatan untuk tampil di acara televisi.Perusahaan-perusahaan rekaman
pun enggan mengorbitkan mereka. Namun lebih tepatnya seorang punk itu
mempunyai perilaku yang berbeda. Mereka hanya sebuah aliran, jiwa dan
kepribadiannya akan kembali pada individu masing-masing.
Berdasarkan uraian di atas dari berbagai pendapat, dapat disimpulkan
bahwa sejarahpunk itu sendiri lahir dari sub budaya dari Inggris.Gerakan anak
muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja, berusaha menyindir para
penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik
yang sederhana. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan,
dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja
kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa
terhadap rakyat. Contoh band punk itu sendiri adalah The Beatles, Rolling
Stone, dan Elvis Presley.
4. Perkembangan Punk di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang berkembang dan mempunyai
penduduk yang banyak.Seiring majunya zaman dan terbukanya arus
informasi, fenomena punk masuk ke Indonesia. Pada awal perkembangannya
dibarengi dengan terbukanya masyarakat Indonesia terhadap hal baru (John
Martono, 2008).
Menurut Fitia Yulianti (Khasanah, 2008), pada awal 1970-an
muncullah penggabungan antara kaum maskulin Skinhead, progesifitas kaum
Hippies, Glamrock. Penggabungan ini ditunjukan dalam sebuah bentuk perkembangan ke arah tanpa kelas dan menghasilkan suatu budaya
Universal.Pada era ini merupakan akhir perjalanan singkat berbagai sub kebudayaan kelas pekerja di Inggris, sampai digantikan oleh sub kebudayaan
punkdan telah menjadi suatu fenomena di Indonesia.
Seiring mulainya era punk, lagu grup-grup band punk asal luar mulai
masuk di Indonseia. Seperti: Ramones, Rancid, Blink 182, Bad Religion dan
sebagianya. Musik punk mulai didengar dari televisi dan radio.Acara musik
punk pun mulai semakin semarak diselenggarakan meskipun dengan fasilitas yang minim (Aidin Adrian, 2003).Hingga menjelang tahun 1998, fenomena
punk dan komunitasnya semakin berkembang seiring merebaknya semangat perlawanan terhadap pemerintah waktu Orde Baru (ORBA).Setelah ORBA
selesai, Indonesia makin terbuka terhadap paham-paham yang sebelumnya
dipandang sebelah mata.Pada masa ini muncullah berbagai majalah tentang
punk(zine)yang diterbitkan untuk membangun interaksi antar komunitas punk di Indonesia.Selain itu juga didukung dengan rilisan album band punk yang
bermunculan (John Martono, 2008).
punkmasuk dengan adanya grup band punk luar dengan cara mendengarkan lagu melalui radio maupun televisi. Mulai setelah ORBA selesai muncullah
majalah punk (zine), membuat band punk dan merilis album-albumnya dalam
suatu bentuk interaksinya dengan yang lain.
5. Perkembangan Punk di Yogyakarta
Yogyakarta merupakan kota pendidikan dan kota budaya, salah satu
dari berbagai budaya yang terdapat pada kota Yogyakarta adalah punk. Punk
itu sendiri masuk di Yogyakarta tahun 1997-an, jumlah individu dari
komunitas punk itu sendiri sulit diketahui namun notabennya adalah
mahasiswa yang masih aktif kuliah.Punk merambah menjadi budaya yang
pesat dan diklaim sebagai pergerakan yang melawan penindasan terutama
pada kaum lemah, tetapi kekhasan punkcara apresiasif ini dilakukan dan
aturan main dalam tubuh punk masing-masing (Khasanah, 2008).
Jogja Corpsegrinders adalah sebuah komunitas punk pertama di
Yogyakarta.Band-band punk lahir dari komunitas ini, contohnya seperti A
Sistem Reject, Something Wrong, DOM 65, Human Chaos, Noise for Violence, Black Boots.Anak punk Yogyakarta dikenal diberbagai daerah Indonesia dengan menggelarnya acara Parkinsound yang tidak cuman menampilkan
musik punksaja tetapi aliran lainnya juga, media masapun mengangkat festival
elektronik yang pertama di Indonesia menurut pendapat Markus B.T. Sirait
(Fitia Yulianti, 2012).
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa punkdi
secara kaidah dan aturan main dalam diri punk itu sendiri, sehingga bisa
dikenal punkers yang di luar Yogyakarta juga.
6. Alasan yang Mendorong Masuk Dunia Punk
Dalam suatu kelompok anak muda, selalu ada standar nilai yang
digunakan sebagai penerimaan pada kelompok (Sindroma Penerimaan).
Standar nilai yang digunakan biasanya seperti sifat yang sama atau perilaku
yang disenangi anak muda dalam kelompok tersebut agar dapat menambah
gengsi yang diindentifikasikan menurut Hurlock (Rita Eka Izzaty dkk, 2008).
Menurut Al-Mighwar (Fitia Yulianti, 2012) bahwa anak muda
menganggap kelompok mereka lebih penting daripada keluarga mereka
sendiri, karena dalam kelompok tersebut mereka mendapatkan kenyamanan
dan kelompok mereka dapat memahami mereka sendiri daripada orang tua
mereka. Dalam hal pakaian, bicara maupun tingkah laku mereka bisa
menyesuaikan diri berdasarkan standar kelompoknya.
Berdasarkan hasil penelitian dari (Aidin Adrian,2003), menyebutkan
alasan yang mendorong anak muda masuk dunia punk:
a. Teman Sebaya
Alasan ini sangat berpengaruh dalam mendorong anak muda masuk
dunia punk, biasanya teman sebayanya terlebih dahulu yang kemudian
ditiru oleh anak muda lainnya karena adanya ketertarikan terhadap
ideologi, perilaku, musik, gaya hidupnya dan aksesoris lainnya. Ada
dorongan untuk meniru orang lain. faktor yang kedua yaitu sugesti, adanya
pengaruh psikis, baik yang dating dari diri sendiri dan orang lain. faktor
yang ketiga yaitu identifikasi, suatu dorongan yang menjadi sama dengan
orang lain. Faktor yang terakhir itu sendiri adalah simpati, suatu perasaan
yang tertarik pada orang lain.
b. Keluarga
Keluarga juga sangat berpengaruh dalam mendorong individu
menjadi punk.Pengaruh keluarga ini lebih pada adanya ketidakharmonisan
hubungan dalam keluarga yang menyebabkan anak kurang kasih sayang
yang lebih, sehingga anak mencari kenyamanan di luar dengan mengikuti
punk.
Di sisi lain ada juga karena aturan yang terlalu ketat yang diterapkan
oleh orang tua terhadap anaknya dapat mempengaruhi alasan seorang anak
masuk di dunia punk. Faktor ini dampaknya anak merasa terkekang oleh
aturan yang diterapkan orang tuanya, padahal pada usia muda anak ingin
suatu kebebasan. Sebagai penyebab dari fenomena tersebut, anak
meninggalkan keluarganya , meninggalkan aturan-aturan keluarga karena
membatasi kebebasannya.
c. Orang Lain
Dalam masa pencarian identitas diri, anak muda sering mencari
sesuatu hal yang baru, mereka mencari sesuatu pengalaman yang baru.
Pada masa pencarian identitas baru biasanya mereka meraba-raba terhadap
mengidentifikasi suatu hal yang akan dimasuki yang kemudian mereka
akan mempertimbangkannya.
Selain itu juga adanya keinginan untuk eksis terhadap masyarakat.
Ketika seorang anak muda dihadapkan pada suatu kesamaan yang terjadi di
dalam masyarakat, mereka ingin sesuatu yang baru dan ingin tampil beda
dengan mengikuti gaya hidup punk yang pada dasarnya berbeda, yang pada
saat itu masyarakat menganggap bahwa itu gaya hidup yang aneh.
Kemudian kegemaran terhadap gaya yang ditawarkan dalam punkitu
sendiri. Bagi dewasa awal mungkin penampilan yang menarik dan disetiap
penampilan tersebut mengandung makna-makna tersendiri. Kegemaran
terhadap punkitu sendiri kemudian direalisasikan melalui identitas diri yang
akan menumbuhkan perilaku sebagai model dalam situasi dan kondisi saat
ini kemudian menjadi punk.
Beberapa alasan yang disebutkan di atas, hanya saja pada penelitian
(Khasanah, 2008), ditambahkan alasan yang mendorong masuk dunia
punkseperti:
a) Pengaruh Media
Teknologi dari zaman ke zaman semakin maju, perkembangan
teknologi merupakan salah satu faktor pendorong individu menjadi
punk.Contohnya melalui internet yang cukup berpengaruh individu menjadi punk, di internet terdapat blog-blog yang banyak sekali mengulas
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa
alasan yang mendorong dewasa awal menjadi punk, seperti teman sebaya,
keluarga, pengaruh orang lain, dan pengaruh media.
B. Kajian Citra Diri
1. Pengertian Citra Diri
Citra diri (Self Image) itu sendiri bagian dari konsep diri (Self
Concept).Konsep diri (Self Concept) itu sendiri mempunyai komponen dasar yaitu citra diri (SelfImage) dan harga diri(SelfEsteem).Citra diri
(SelfImage) dan harga diri (SelfEsteem)untuk membentukSelfConcept
seseorang menurut Coopersmith (Burns R.B, 1993).
Menurut Shibutani (Mac Patricia. C, 1979),self imagemerupakan
suatu identitas yang mempengaruhi perilaku seseorang yang cenderung
untuk terlibat dalam suatu kegiatan yang kongruen, di samping itu
tindakan seseorang mempengaruhi reaksi terhadap orang lain dan
membentuk pengaruh besar pada suatu gambaran seseorang.
Menurut Hurlock (Rasti Mardian, 2013), citra diri merupakan
seluruh ide dan perasaan kepercayaan, nilai, dan keyakinan.Pendapat
tersebut didukung oleh Maltz (Rasti Mardian, 2013), citra diri
didefinisikan sebagai perilaku dari individu baik yang disadari maupun
yang tidak disadari dan suatu gambaran diri yang ideal yang diinginkan
individu.
Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah dijelaskan di atas,
gambaran ideal mengenai dirinya sendiri, identitas, keberhargaanya, dan
suatu kemampuan yang dimiliki.
2. Karakteristik Citra Diri
Citra diri merupakan mekanisme otomatis dari gambaran mental
seseorang. Jika citra dirinya sehat maka ia dapat mencapai kebahagiaan
sebaliknya jika citra dirinya buruk maka ia akan terlihat sebagai orang
yang tidak percaya diri dan tidak mampu. Citra diri atau gambaran yang
dimiliki seseorang haruslah realistis (Eka Darmaputera, 2005).
Setiap orang pasti memiliki citra diri yang negatif maupun citra diri
yang positif.Di bawah ini terdapat pendapat tentang citra diri negatif
maupun positif:
a) Orang dengan Citra Diri Positif
Individu yang memiliki citra diri yang positif merasa dirinya
berharga di mata orang lain. Seperti citra tentang kejujuran, ketegasan,
wibawa, dan sikap adil.Citra diri yang positif ditandai dengan
kepercayaan diri individu bahwa mereka memiliki lebih banyak
kualitas positif bila dibandingkan dengan kualitas negatif dari dirinya
sendiri. Orang yang memiliki citra diri positif mudah untuk mencapai
tujuan yang diinginkannya, simpati orang lain selalu tertuju padanya,
dan citra dirinya itu memicu antusias hidupnya (Sjafri Mangkuprawira,
b) Orang dengan Citra Diri Negatif
(Haryanto Kandani, 2010), menguraikan orang dengan citra diri
yang buruk, yaitu: minder (tidak percaya diri), sombong (takut gagal,
takut tertolak, pembuktian diri), rasa tidak aman (ingin menjadi orang
lain), merasa tidak mampu (menyerah pada situasi ataupun keadaan),
mudah tersinggung.
3. Komponen-Komponen Citra Diri
Menurut Jersild (Fristy, 2012), terdapat tiga komponen dalam citra
diri yaitu:
a) Perceptual Component
Imageyang dimiliki seseorang mengenai penampilan dirinya, terutama tubuh dan ekspresi yang diberikan pada orang lain. Tercakup
didalamnya adalah attractiviness, appropriatiness yang berhubungan
dengan daya tarik seseorang bagi orang lain. Hal ini dapat dicontohkan
oleh seseorang yang memiliki wajah cantik atau tampan, sehingga
seseorang tersebut disukai oleh orang lain. Komponen ini disebut
sebagai Physical Self Image
b) Conceptual Component
Merupakan konsepsi seseorang mengenai karakteristik dirinya,
misalnya kemampuan,kekurangan dan keterbatasan dirinya.Komponen
c) Attitudional Component
Merupakan pikiran dan perasaan seseorang mengenai
dirinya,status dan pandangan terhadap orang lain. Komponen ini biasa
disebut sebagai Social Self Image.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa komponen
citra diri ada perceptual, conceptual, dan attitudional.Ketiga komponen
tersebut saling berhubungan dalam membentuk suatu citra diri.
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Citra Diri
Menurut Scoot (Rasti Mardian, 2013) citra diri timbul karena
adanya keinginan seorang individu untuk tampil sebagaimana yang
individu inginkan.Dorongan internal dan eksternal juga dapat
mempengaruhi mental seorang untuk tampil sebagai sosok yang
diinginkan. Dorongan internal itu sendiri dari individu itu sendiri
sedangkan dorongan eksternal dari orang lain. Adapun faktor khusu yang
mempengaryhi citra diri seorang, yaitu:
a. Faktor psikologis, reaksi dan opini dari orang lain terutama dari orang
terdekat yang dianggap penting akan mempengaruhi seorang dalam
melakukan penilaian terhadap dirinya.
b. Faktor biologis/fisik dapat mempengaruhi cara pandang seorang
terhadap dirinya. Manusia memiliki keinginan untuk mengetahui
informasi mengenai dirinya jika dibandingkan dengan orang lain yang
c. Faktor sosiokultural, nilai-nilai sosiokultural yang dapat
mempengaruhi cara pandang sesorang terhadap dirinya. Media juga
memegang peran yang signifikan dalam membentuk citra diri.
Maltz (Rasti Mardian, 2013) mengungkapkan faktor umum yang
mempengaruhi citra diri yaitu pengalaman masa lalu, kesuksesan dan
kegagalan, penghinaan, kemenangan dan bagaimana cara orang lain
merespon terhadapnya.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
yang mempengaruhi citra diri yaitu faktor psikologis, faktor fisik, dan
sosial.dapat juga berpengaruh karena pengalaman hidup.
5. Citra Diri Anak Punk
(Adrian, 2003), mengungkapkan bahwa dalam penggunaan atribut
mulai dari menggunakan berbagai identitas punk, membuat tattoo di tubuh
mereka, piercing, penataan rambut dengan mowhak, itu merupakan citra
diri anak punk.di setiap penggunaan atribut tersebut memiliki arti
tersendiri.
(Pandi Apriyandi, 2013), sebenarnya tidak semua anak punk itu
berperilaku negatif, ada beberapa anak punk yang bergabung dalam suatu
komunitas karena menyukai gayapunk yang identik dengan model rambut
mohawk, bodypierching, tattoo, gelang spike, dan aksesoris nyentrik lainnya. Gaya hidup negatif yang kerap terjadi di anak punk biasanya
disebabkan karena mendapatkan terpengaruh teman sesama anak punk
minuman keras, melakukan kekerasan atau penganiayaan, “ngelem”,
narkoba, freesex, dan sebagainya.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, citra diri anak
punk terletak dimana gaya mereka yang berani tampil beda dengan individu lain, karena disitu mereka mengekspresikan diri mereka dengan
membentuk suatu identitas punk. Definisi citra diri anak punkadalah
perilaku dari anak punk baik yang disadari maupun yang tidak disadari dan
suatu gambaran diri yang ideal yang diinginkan individu.
Bimbingan dan konseling berperan di masyarakat sebagai pemahaman
penangkapan masyarakat tentang makna-makna pesan perlawanan atau
pemberontakan dalam fashion maupun sikappunk berkaitan dengan konteks
sosial yang terjadi di masyarakat. Oleh karenanya, pengetahuan mengenai
latar belakang anak punk mengenai situasi dan kondisi suatu kelompok sosial
atau masyarakat amat penting.Tanpa pemahaman mengenai keadaan
masyarakat dominan, maka hampir tidak mungkin interpretasi terhadap
fashionpunk atau sikapnya yang dianggap menyimpang dapat dilakukan dengan baik.Mereka juga hendaknya diberikan penyuluhan yang sebaiknya
dapat bermanfaat bagi mereka.Misalnya dengan memberikan pengetahuan dan
keterampilan yang dapat digunakan untuk membuka peluang usaha.
C. KAJIAN MASA DEWASA AWAL
1. Dewasa Awal
baru dan harapan-harapan sosial baru. Masa dewasa awal ini dimulai pada
umur 18 tahun sampai umur 40 tahun.Orang dewasa awal diharapkan
memainkan peranan baru seperti peran suami atau istri, orang tua dan
pencari nafkah dan mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan dan nilai
sesuai tugas baru.
Menurut (Agus Dariyo, 2003), young adulthood menampilkan
profil yang sempurna dalam aspek-aspek perkembangannya telah
mencapai puncak. Mereka mempunyai taraf yang prima sehingga dalam
melakukan berbagai kegiatan tampak inisiatif, kreatif, energik, cepat, dan
proaktif.
Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dewasa
awal itu dimulai dari umur 18 tahun sampai 40 tahun, mereka mempunyai
kehidupan baru dan mencapai puncak dalam aspek-aspek
perkembangannya.
2. Karakteristik Dewasa Awal
Peran dan tanggung jawab tentu makin besar ketika seseorang
tergolong dewasa, mereka menunjukan pribadi yang dewasa yang mandiri.
Urusan dan segala masalah sebisa mungkin ditangani sendiri. Menurut
(Santrock,1999), dewasa awal tergolong masa transisi baik dari fisik,
intelektual, dan peran sosial:
a. Fisik
Menampilkan profil yang sempurna dengan aspek-aspek
perkembangan seperti dewasa muda lainnya, misalnya bekerja,
menikah. Masa ini ditandai juga adanya perubahan fisik, misalnya
tumbuh bulu-bulu halus, perubahan suara, menstruasi bagi wanita, dan
kemampuan bereproduksi.
b. Intelektual
Mampu memecahkan masalah yang kompleks dengan kapasitas
berpikir logis, abstrak, dan rasional. Dewasa awal juga harus mampu
mengembangkan karir untuk meraih puncak prestasi dalam
pekerjaannya.
c. Peran Sosial
Masing-masing individu dewasa awal mempunyai peran ganda,
yaitu sebagai individu yang bekerja di suatu lembaga dan menjadi
kepala rumah tangga bagi laki-laki. Sebagai anggota masyarakat,
mereka pun terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, misalnya pengurus
RT, kerja bakti ronda dan lainnya.
Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dewasa awal
merupakan masa transisi fisik, intelektual, dan sosial.
D. Pertanyaan Penelitian
Dalam proses pengumpulan data dan informasi tentang aspek-aspek
yang akan diteliti, maka peneliti akan menguraikan dan mempertajam dengan
lebih rinci rumusan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya kedalam
dengan harapan tidak keluar dari pokok penelitian. Pertanyaan penelitian
tersebut antara lain:
1. Bagaimanacitra diri anak punk di Yogyakarta?
a. Persepsi
b. Karakteristik
c. Attitude
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif, mengacu pada
pernyataan yang menerangkan bagaimana dunia dan kehidupan dipersepsikan.
Mengandung pandangan tentang dunia, cara pandang untuk menyederhanakan
kompleksitas dunia nyata. Dalam konteks pelaksanaan penelitian, memberi
gambaran mengenai apa yang penting, apa yang dianggap mungkin dan sah
untuk dilakukan, apa yang dapat diterima akal sehat Patton(Poerwandari,
1998).
Penelitian kualitatif secara spesifik lebih diarahkan pada penggunaan
metode studi kasus. Studi kasus itu sendiri adalahuraian dan penjelasan
komprehensif mengenai berbagai aspek seorang individu, suatu kelompok
(komunitas), atau suatu situasi sosial menurut (Deddy Mulyana,2001).
B. Langkah-langkah Penelitian
Untuk menciptakan pelaksanaan penelitian yang sistematis, peneliti
membagi proses pelaksaan penelitian ini ke tahapan-tahapan. Adapun
tahapan-tahapan tersebut menurut (Lexy J.Moleong,2000) yaitu:
1) Tahap Pralapangan
Pengadaan survei penelitian untuk pendahuluan, selama proses
survei ini peneliti melakukan penjajagan lapangan dan mecari data dan
informasi anak punkdi Yogyakarta yang akan diteliti nanti. Selain itu
2) Tahap Pekerjaan Lapangan
Dalam tahap ini peneliti memasuki latar penelitian dalam rangka
pengumpulan data.
3) Tahap Analisis Data
Melakukan serangkaian proses analisis data kualitatif sampai pada
interpretasi data-data yang sudah diperoleh sebelumnya. Adapun peneliti
harus menempuh proses triangulasi data yang dibandingkan dengan teori
kepustakaan.
C. Setting Penelitian
Penelitian ini dilakukan di sebuah komunitas punk di Kota
Yogyakarta.Peneliti terjun langsung melakukan penelitian di tempat yang
telah disepakati bersama dan menyesuaikan waktu senggang yang dimiliki
oleh anak punk tersebut, sehingga mempermudah peneliti dalam mendapatkan
data dan informasi yang dibutuhkan.
D. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini ditentukan secara kriteria, subyek pada penelitian
ini seperti yang didapat pada pengambilan kasus tipikal (Elisabeth Kristi
Poerwandari, 1998).Subjek penelitian ini adalah anak punk yang asli
Yogyakarta, kriteria yang digunakan adalah:
1) Punker atau anak punk.
2) Umur 18 tahun sampai 40 tahun.
3) Berdomisili atau bertempat tinggal di Yogyakarta.
5) Mengerti seluk beluk Punk di Yogyakarta.
a. Subyek/informan itu sendiri adalah :
No Nama (Inisial) Usia Alamat Keterangan
1 ALX 36 Tahun Wirobrajan Sudah menjadi punk
selama 17 tahun
2 YN 26 Tahun Baciro Sudah menjadi punk
selama 9 tahun
3 BB 23 Tahun Timoho Sudah menjadi punk
selama 8 tahun
b. Key Informan:
No Nama (Inisial) Usia Alamat Keterangan
1 AD 25 Condong Catur Teman dan yang
merekomendasikan ALX sebagai Informan.
2 DR 24 Seturan Teman dari YN dan juga
teman dariBB.
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam teknik pengumpulan data dapat dilihat dari segi cara atau teknik
pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara observasi, indepth
interview(wawancara mendalam), dokumentasi dan gabungan dari ketiganya atau triangulasi (Sugiyono, 2010).
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang
dibutuhkan dalam rangkamencapai tujuan penelitian(Elisabeth Kristi
1) Observasi
Observasi merupakan metode pengumpulan data paling umum
digunakan oleh peneliti, terutama dalam meneliti tentang perilaku
manusia.Observasi merupakan metode untuk menangkap fenomena subjek
dari kacamata peneliti. Penggambaran setting yang diperlajari, aktivitas
yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dengan cara
melihat kejadian dari perspektif peneliti.
Observasi yang digunakan adalah observasi berstruktur yaitu
dengan melakukan pengamatan menggunakan pedoman observasi pada
saat pengamatan dilakukan dan peneliti dilarang terlibat dalam kegiatan
yang subjek lakukan.
2) Wawancara mendalam (indepth interview)
Wawancara merupakan percakapan dan tanya jawab yang
diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara dilakukan untuk
memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami
individu berkenaan dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan
eksplorasi terhadap isu-isu lain yang berkaitan dengan topik tersebut.
Penelitian ini menggunakan jenis wawancara dengan pedoman
umum.Isu-isu yang bersifat umum ditetapkan untuk menjaga
perkembangan pembicaraan dalam wawancara tetap dalam fokus
penelitian. Selain itu, tema pertanyaan yang akan dijawab subjek adalah
tema yang masih bisa berkembang dalam pelaksanaan wawancara
sehingga pengembangan pertanyaan wawancara yang menyesuaikan
dengan kehidupan subjek sangat diperlukan. Jadi, pedoman umum untuk
pertanyaan awal wawancara akan dibuat sama, sedangkan perkembangan
berikutnya akan menyesuaikan dengan kekhasan di lapangan pada
masing-masing subjek.
In depth interview (wawancara mendalam) adalah alat pengumpul data yang diajukan dan dijawab secara lisan mengenai suatu persoalan.In
depth interview (wawancara mendalam) digunakan dalam penelitian ini dengan pertimbangan alat ini dapat memberikan informasi yang lebih
lengkap dan mendalam mengenai pengetahuan, sikap, pandangan
responden mengenai masalah.
3) Dokumentasi
Untuk memperkaya informasi data yang dibutuhkan dengan teknik
dokumentasi seperti foto-foto kegiatan anak punkatau bahkan bisa berupa
video.
F. Instrumen Penelitian
Menurut (Sugiyono, 2010) yang menjadi instrument atau alat
penelitian yaitu peneliti itu sendiri.Peneliti itu sendiri yang melakukan
validasi.Melalui evaluasi diri seberapa jauh pemahamannya terhadap metode
yang dipakai, penguasaan teori dan wawasan terhadap bidang yang diteliti,
serta kesiapan untuk bekal di lapangan.
dikembangkan instrumen penelitian sederhana yang bisa diharapkan untuk
pembanding dan pelengkap data yang sebelumnya ditemukan melalui
observasi dan wawancara mendalam (Sugiyono, 2010).
1) Pedoman Observasi
Berisi tentang aspek-aspek yang diamati, peneliti melakukan
pengamatan atau observasi terhadap subjek penelitian sekaligus
melibatkan diri untuk mengamati dalam kegiatan subjek sehari-hari
sehingga memperoleh data yang lengkap.
Tabel 1.Pedoman Observasi
No Aspek Aspek yang Diteliti
1 Psikologis a. Pengetahuan yang dimiliki subjek
b. Merokok
c. Mabuk
d. Bahagia
e. Ibadah
2 Fisik a. Postur tubuh
b. Rambutnya
c. Tattoo d. Pierching
3 Sosial a. Hubungan dengan keluarga.
b. Hubungan dengan teman.
c. Hubungan dengan masyarakat.
Adapun pedoman observasi dibuat untuk mendapatkan informasi
pedoman observasi ini dapat berkembang seiring dengan penemuan
penelitian di lapangan.
2) Pedoman Wawancara Mendalam
Pedoman wawancara mendalam adalah suatu daftar pertanyaan
yang akan ditanyakan pada subjek maupun informan yang akan diteliti.
Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan aspek-aspek yang diteliti
tentang anak punk dan citra diri anak punk. Pertanyaan disajikan dalam
bentuk pertanyaan terbuka sehingga diharapkan akan memperoleh
informasi sebanyak-banyaknya yang dapat mendukung data selama
penelitian. Di sisi lain peniliti menggunakan alat bantuberupa alat tulis
untuk mencatat informasi yang telah peniliti peroleh. Untuk merumuskan
setiap diskriptor menjadi butir-butir instrumen, dapat dilihat di dalam
kisi-kisi pedoman wawancara sebagai berikut :
Tabel 2.Pedoman Wawancara Mendalam (In depth Interview)
Variabel Sub
Variabel Indikator Item Pertanyaan
Anak Punk Citra Diri Persepsi 1. Pengertian tentang punk
menurut anda?
Karakteristik 1. Style yang bagaimana
ketika anda menjadi punk? 2. Ciri khas apa yang anda
ketahui tentang punk?
Attitude 1. Kegiatan apa yang anda lakukan ketika menjadi punk?
dalam pergaulan bebas (freesex dan miras)?
4. Bagaimana pelaksanaan
ibadahmu saat ini?
Faktor Pendorong menjadi punk
1. Kapan pertama anda
menjadi punk?
2. Siapakah yang
mengenalkan punk dalam hidup anda?
3. Apakah motivasi anda
menjadi punk?
Adapun dalam tahap ini peneliti membuat pedoman wawancara
mendalam (in depth interview) sesuai dengan pedoman wawancara mendalam
(in depth interview) mendalam yang telah dibuat. Pedoman wawancara mendalam yang dibuat merupakan bentuk pertanyaan yang akan ditanyakan
langsung kepada subjek peneliti, sehingga tidak membuat intruksi atau kata
pengantar. Daftar pertanyaan dalam pedoman wawancara ini dibuat dengan
pertanyaan terbuka agar memperoleh informasi sebanyak-banyaknya yang
dapat mendukung data selama penelitian, dan peneliti dapat menggali data
lebih dalam dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam.
G. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau
data sekunder yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian.
Menurut Milles & Huberman (Sugiyono, 2010), teknik analisis data
yang digunakan yaitu interactive model yang mengklasifikasikan analisis data
dalam tiga langkah, yaitu:
1) Reduksi Data (Data Reduction)
Reduksi data adalah suatu proses pemilihan , pemusatan perhatian
pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang
muncul dari catatan-catatan lapangan.
2) Penyajian Data (Display Data)
Data ini tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan
kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan
tindakan.Selain itu bentuk yang digunakan pada data kualitatif terdahulu
adalah sebuah bentuk teks naratif.
3) Penarikan kesimpulan (Verifikasi)
Diperoleh kesimpulan dari data yangtelah dikumpulkan yang akan
diungkap mengenai makna. Jika diperoleh kesimpulan yang tentatif,
kabur, kaku dan meragukan sehingga kesimpulan tersebut perlu
diverifikasi. Verifikasi dilakukan dengan melihat kembalireduksi data
maupun display datasehingga kesimpulan yang diambil tidak menyimpang
dari data yang dianalisis.
H. Uji Keabsahan Data
Menurut (Sugiyono, 2010) temuan atau data yang diteliti bisa
William Wiersma (Sugiyono, 2010), triangulation is
qualitative cross-validation it assessesthe sufficiency of the data according to the convergence of multiple data sources or multiple data collection procedures.
Dengan demikian terdapat 3 triangulasi menurut (Sugiyono, 2010):
a. Triangulasi Sumber
Menguji data dengan cara mengecek data yang diperoleh
dibeberapa sumber atau bisa disebut juga key informan.
b. Triangulasi metode
Menguji data dilakukan dengan cara mengecek data kepada
sumber-sumber yang sama dengan teknik berbeda. Data penelitian
berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan metode observasi dan
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil penelitian
1. Deskripsi Setting Penelitian
Penelitian ini mengambil latar di Kota Yogyakarta secara
khususnya di Wirobrajan, Baciro, Timoho.Hal ini disebabkan karena
Yogyakarta merupakan kotayang memungkinkan banyak terjadinya
pertukaran budaya dan gaya hidup yang dibawa oleh orang pendatang.
Yogyakarta jika dibandingkan dengan provinsi yang lain memiliki
kekhususan tersendiri yaitu kota yangmenawarkan berbagai macam
hiburan serta pergaulan dari berbagai macam daerah serta budaya yang
beragam yang berbaur menjadi satu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari
berbagai sisi kehidupan anakpunk di Yogyakarta yang dilihat dari
perspektif Ilmu Bimbingan dan Konseling. Keberadaan punk di setiap
komunitasnya di Yogyakarta sangat menarik diteliti untuk mengetahui
latar belakang, motivasi, dan tujuan mereka memasuki dan menggeluti
dunia punk.Selain itu untuk mengetahui seberapa luas pengetahuan
mereka tentang punk dan ideologi yang digunakan.
2. Deskripsi Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini sebelumnya telah ditentukan oleh
peneliti dengan rekomendasi temannya yang berperan sebagai
informan yang berjumlah 3 dan key informan 2. Informan yang dipilih
merupakan anak yang sudah menjadipunk minimal selama 2 tahun dan
berdomisili di Yogyakarta. Anak punk dilaporkan melalui informan dari
key informan.
Tabel 3. Profil Subyek
No Keterangan Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3
1 Nama ALX YN BB
2 Jenis kelamin Laki-laki Laki-laki Laki-laki
3 Alamat Wirobrajan Baciro Timoho
7 Status pernikahan Sudah
menikah
Belum
menikah
Belum
menikah
8 Status Pekerjaan Buruh Mahasiswa Nganggur
Dalam penelitian ini ditentukan 3 anak punk yang dianggap
mewakili dari bebarapa anak punk yang ada di kota
Yogyakarta.Diantaranya di daerah Wirobrajan, baciro, dan Timoho.
Alasan peneliti mengambil informan berbeda-beda tempat supaya
informasi yang didapat bervariasi.Peneliti menggunakan ALX sebagai
tersebut sangat besar dan direkomendasikan oleh temannya (AD) sebagai
keyinforman.Sedangkan peneliti menggunakan YN dan BB sebagai informan, dikarenakan kedua informan tersebut hasil rekomendasi (DR)
sebagai keyinformanyang dapat memberikan informasi, melengkapi, dan
mengklarifikasi kepada peneliti.Ketiga informan tersebut juga memenuhi
kriteria yang ditentukan oleh peneliti.Selanjutnya adalah profil singkat key
informan yang dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.Profil key Informan
No Keterangan Key Informan 1 Key Informan 2
1 Nama AD DR
2 Jenis Kelamin Laki-laki Laki-laki
3 Alamat Condong catur Seturan
4 Pekerjaan Mahasiswa Mahasiswa
5 Hubungan dengan
subyek
Teman Teman
Key informan I adalah AD, AD merupakan teman ALX semenjak AD kuliah di Yogyakarta.AD mengenal ALX karena waktu itu AD sering
berhubungan masalah produksi kaos dengan ALX, kebetulan AD juga
memproduksi kaospunk.AD sendiri mengetahui kegiatan-kegiatan ALX
selama menjadi punk dan lattar belakang ALX itu sendiri.Keyinforman II
yaitu DR, DR merupakan teman dari YN dan BB. DR mengenal
Berikut ini adalah profil subyek berdasarkan hasil wawancara dan
pengamatan yang dilakukan oleh peneliti.
a. Subjek 1: ALX
ALX usianya 36 tahun dan sudah menikah.Kesehariannya dia
memproduksi kaos-kaos punk, menyablon kaos untuk menghidupinya
dan keluarganya.ALX sudah mempunyai anak 1 laki-laki umur 5
tahun.Perawakan ALX berkulit sawo matang dan tingginya itu sendiri
kira-kira 175 cm. Rambutnya yang agak gondrong dan dia lebih suka
memakai pakaian gelap.ALX berdandanan mencolok sebagai punk
dengan jaketnya, celana dengan emblemnya, sepatunya. Dia juga
mempunyai tattoo salah satunya di lengan tangannya.
ALX awal mula menjadi punk pada saat dia duduk dibangku
SMP kelas 3 tepatnya sekitar tahun 1997.Ketika itu ALX melihat
segerombolan punk di jalan dan ikut nonton acara punk.Tidak lama
kemudian ALX kumpul dengan teman-teman punk lain dan
lama-kalamaan kenyamanan didapat ALX dengan punk itu sendiri.
Setelah menjadi punk selama 1 tahun tepatnya pada tahun 1998,
ALX membuat band punk bersama teman-temannya itu.Band punk itu
sendiri masih berjalan sampai sekarang dan terkenal di Jogja maupun
di luar Jogja.Anak punk Jogja yang mengaku punk pasti mengenal
band tersebut.Bandnya sering main di acara punk di Jogja bahkan luar
Jogja juga.ALX sering berkumpul dengan teman-temannya pada
adalah minum-minuman keras, bercerita dengan teman punk
lain.Dengan kegiatan malam minggunya bersama teman-teman punk
lainnya bisa melepas kepenatannyaALX juga sudah pernah masuk
penjara karena pergaulan bebasnya.
Sikap orang tua ALX pada awalnya tidak suka dengan sikap
ALX menjadi punk, karena dandanannya yang berubah. Tetapi ALX
menampik anggapan orang tuanya, dengan menjadi punk ALX tetap
bertanggung jawab, dengan menjadi punkcarahidupnya menemui
kenyamanan dan hidupnya lebih enak. Lama-kalamaan orang tuanya
bisa mengerti ALX dengan tersendirinya.Istrinya dan keluarga istrinya
juga menerima ALX sebagai punk dengan konsekuensi saya bisa
bertanggung jawab.
Tentang pemahaman agama ALX setelah atau sebelum menjadi
punk masih seperti dulu. ALX menganggap bahwa dia masih percaya dengan agamanya yaitu Islam dan Tuhannya yaitu Allah, walaupun di
sisi lain ibadahnya belum sempurna terlaksanakan atau sholatnya
masih bolong-bolong.
Tentang karirnya sekarang yang sebagai penyablon kaos dia
juga mensyukuri. Dia dari kecil tidak begitu penting memikirkan
karirnya nanti akan menjadi apa, karena menurut ALX yang lebih
penting dia lebih enak untuk menjalani hidup tanpa dipikirkan dan biar
Mengenai hubungan sosial itu sendiri,ALX mengatakan ketika
dibutuhkan masyarakat ALX tetap aktif, tetapi tidak usah mencari
muka agar dicap bagus. Dalam acara punk itu sendiri ALX sering
berkontribusi dengan penggalangan dana. Seperti acara 30 Maret 2014
kemaren di terminal kopi Babarsari, ALX dan teman-temannya
mengadakan acara punk dengan 100% hasil acara akan diserahkan
kepada teman-temannya yang di Kulon Progo yang lahan tempat
tinggalnya terkena pertambangan.
ALX sendiri termasuk jenis AnarchoPunk, karena ALX itu
orang yang sangat menutup diri terhadap orang yang tidak dikenal, dan
hidup di jalan selama waktu belum menikah mengajarkan arti
kekerasan.
b. Subjek 2: YN
YN mempunyai perawakan yang kurus, tingginya sekitar 170
cm dan memiliki umur 26 tahun. YN merupakan Mahasiswa semester
8 di Universitas terkenal di Yogyakarta. Dia berasal dari kota
Wonosobo Jawa tengah tetapi YN sudah di Jogja sejak duduk di
bangku SMP ikut tantenya. Selain kuliah YN juga hobinya bermain
gitar dan mendaki gunung. Rambutnya, gaya atau style yang
digunakan biasa aja, tidak begitu mencolok sebagai anak punk lainnya,
tetapi dia tetap suka memakai kaos yang gelap.
Di sisi lain dengan hobinya bermain gitar, YN juga mempunyai
band tersebut.Bandnya sering bermain ketika ada acara-acara punk
atau musik underground di Yogyakarta maupun luar Yogyakarta.
Awal mula YN menjadi punk itu sendiri ketika YN masih
duduk di bangku SMP kelas 3 mulai membaca buku tentang punk dan
berkeinginan tahu lebih luas tentang punk itu sendiri. Ketika itu
teman-teman SMP YN tidak terima ketika YN menjadi punk, karena menurut
teman-temannya, YN mendirikan bendera kekuasaan tersendiri di sisi
lain teman-temannya itu sebuah genk motor. YN di sekolahan sering di
pukulin akibat dia menjadi punkkarena tidak ikut dengan
teman-temannya.Tetapi YN bersikeras tidak ikut teman-temannya dan tetap
menjadi punk.Akhirnya teman-temannya lama kalamaan bisa
menerima YN sebagai punk.
YN sendiri suka minum-minuman keras dengan temannya
ketika berkumpul dengan teman-temannya, atau ketika acara punk. Di
sisi lain YN itu sendiri tidak mengkonsumsi rokok dari kecil sampai
sekarang. Dia menganggap lebih suka minum daripada merokok, tidak
semua peminum itu juga suka merokok. Banyak di luar negeri sana
orang peminum tetapi tidak mengkonsumsi rokok. Kalau tentang
freesex YN mengakuinya karena tidak mau dianggap munafik.Pasti hampir semua orang diseusianya dan di zaman sekarang pasti pernah
melakukan freesex.