• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KASUS CITRA DIRI ANAK PUNK DI YOGYAKARTA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "STUDI KASUS CITRA DIRI ANAK PUNK DI YOGYAKARTA."

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KASUS CITRA DIRI ANAK PUNK DI YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan gunaMemperolehGelar Sarjana Pendidikan

Oleh Sandi Rahmadhani NIM10104244023

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

(2)
(3)
(4)
(5)

MOTTO

Kebanyakan milyuner mendapat nilai B atau C di kampus.Mereka membangun

kekayaan bukan dari IQ semata, melainkan kreativitas dan akal sehat.

(Thomas Stanley)

Kejarlah cita-cita sebelum cinta, apabila tercapainya cita-cita maka dengan

sendirinya cinta itu akan hadir.

(Djendrals Jack)

Suatu gaya hidup itu pilihan, yang terpenting komitmen individu itu sendiri. Akan

sampai kapan orang tersebut mempunyai gaya hidup seperti tersebut dan

eksistensinya terhadap masyarakat.

(6)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini dipersembahkkan untuk:

1. Kedua orang tua dan keluarga tercinta.

2. Almamater Universitas Negeri Yogyakarta, Fakultas Ilmu Pendidikan,

(7)

STUDI KASUS CITRA DIRI ANAK PUNK DI YOGYAKARTA

Oleh

Sandi Rahmadhani NIM 10104244023

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana citra diri anak punk dan faktor pendorong menjadi punk di Yogyakarta.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subyek penelitian di sini adalah 3 orang anak punk dengan kriteria subyek menjadi anak punk lebih dari 2 tahun, berdomisili di Yogyakarta, usia 18-40 tahun, dan yang menjadi key informan adalah 2 orang teman yang sudah lama berteman. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.Uji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode.Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukan citra diri anak punk secara persepsi adalah suatu jalan hidup dan gaya hidup mereka. Secara karakteristik anak punk yaitu berupa fashion yang digunakan dan attitudeyang ditunjukan. Citra diri mengenai attitude anak punk terdapat negatif dan positif.Citra diri mengenai attitude anak punk negatif diantaranya terlibatnya punk dalam pergaulan bebas (miras dan freesex) dan jarang melakukan ibadah.Di sisi lain citra diri mengenai attitude anak punk yang positif yaitu mempunyai jiwa sosial yang tinggi terhadap masyarakat. Faktor pendorong menjadi punk yaitu dikarenakan faktor teman sebaya, mengidolakan tokoh, dan faktor media.

(8)

KATA PENGANTAR

Tiada kata yang pantas terucap kecuali Puji beserta Syukur kepada

ALLAH SWT, atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan. Sholawat dan

salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah

menunjukkan jalan kebenaran dan menuntun manusia menuju tali agama Allah

SWT yang mulia.

Selanjutnya, dengan kerendahan hati penulis ingin menghaturkan rasa

terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penyelesaian

proposal skripsi yang berjudul “Studi Kasus Citra Diri Anak Punk di Yogyakarta”

ini dengan baik dan lancer. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan

partisipasi berbagai pihak, skripsi ini tidak akan terselesaikan dengan baik. Oleh

karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan

kepada penulis untuk menjadi mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta.

2. Dekan FakultasIlmu Pendidikan UniversitasNegeri Yogyakarta yang telah

memberikan izin penelitian.

3. Ketua Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan yang telah

memberikan kemudahan dalam proses perizinan penelitian sehingga

skripsi ini dapat terselesaikan.

4. Eva Imania Eliasa, M.Pd. selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus

dosen pembimbing akademik yang telah membimbing penulis,

mengarahkan dengansabar, penuhperhatian, dan selalu memberikan

motivasi untuk menyelasaikan skripsi.

5. Amor Sudigdo, S. H. dan Adhibatun, S. Pd. Kedua orang tua penulis yang

dengan tulus memberi doa, dukungan moril maupun materil yang telah

diberikan. Terselesaikannya skripsi ini merupakan langkah awal untuk

(9)

6. Sigit Firmansyah dan Ifan Desemawardhana, kakakku yang selalu tiada

henti memberikan semangat, dukungan dandorongan yang begitu besarnya

(10)

DAFTAR ISI

hal

HALAMAN JUDUL ……….………... i

HALAMAN PERSETUJUAN …….………... ii

HALAMAN PERNYATAAN………..……….. iii

HALAMAN PENGESAHAN………….……… iv

HALAMAN MOTTO……….……… v

HALAMAN PERSEMBAHAN………..……… vi

ABSTRAK……….………. vii

KATA PENGANTAR ………....……... viii

DAFTAR ISI ………... x

DAFTAR TABEL………...……….. xii

DAFTAR LAMPIRAN……….……….. xiii

BAB I. PENDAHULUAN

BAB II. KAJIAN TEORI A.Punk... 10

1. Pengertian Punk... 10

2. Jenis-jenis Punk... 11

3. Sejarah Punk... 14

4. Perkembangan Punk di Indonesia... 15

5. Perkembangan Punk di Yogyakarta... 17

6. Alasan yang Mendorong masuk Dunia Punk... 18

(11)

2. Karakteristik Citra Diri... 22

3. Komponen-komponen Citra Diri... 23

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Citra Diri... 24

5. Citra Diri Anak Punk... 25

C. Masa Dewasa Awal 1. Dewasa Awal……… 26

2. Karakteristik Dewasa Awal... 27

D. PertanyaanPenelitian... 28

BAB III. METODE PENELITIAN A. PendekatanPenelitian... 30

B. Langkah-langkah Penelitian... 30

C. Setting Penelitian... 31

D. Subjek Penelitian……... 31

E. Teknik Pengumpulan Data... 32

F. Instrumen Penelitian... 34

G. Teknik Analisis Data... 37

H. Uji Keabsahan Data... 38

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian……… 40

1. Deskripsi Setting Penelitian…...…...…………... 40

2. Deskripsi Subyek Penelitian………... 40

3. Citra Diri Anak Punk……….. 51

4. Faktor Pendorong Menjadi Punk... 68

5. Display Data Hasil Penelitian……… 72

B. Pembahasan ………. 73

C. Keterbatasan Penelitian………... 76

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………. 77

(12)

DAFTAR TABEL

hal

Tabel 1. Pedoman Observasi……….………. 35

Tabel 2.Pedoman Wawancara Mendalam………... 36

Tabel 3. Profil Subyek……… 41

Tabel 4. Profil key informan………. 42

Tabel 5. Citra Diri ALX Seorang Punk……….. 57

Tabel 6. Citra Diri YN Seorang Punk………. 62

Tabel 7. Citra Diri BB Seorang Punk………. 67

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

hal

Lampiran 1. Pedoman Wawancara ……… 83

Lampiran 2. Pedoman Observasi ………..… 86

Lampiran 3. Identitas Diri Subyek ……….... 87

Lampiran 4. Identitas Diri Key Informan ……….………….. 89

Lampiran 5. Hasil Wawancara ……….……... 90

Lampiran 6. Catatan lapangan ………....… 112

Lampiran 7. Display Hasil Data Wawancara ……….……. 116

Lampiran 8. Display Hasil Observasi ……….……. 118

Lampiran 9. Dokumentasi ……… 119

(14)

BAB l PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Manusia merupakan makhluk sosial, makhluk yang tidak dapat hidup

sendiri tanpa orang lain,tetapi manusia dalam kehidupan pribadinya bisa

disebut sebagai makhluk individu yaitu makhluk yang hidup untuk dirinya

sendiri. Dalam kaitannya dengan kehidupan pribadinya, manusia akan terus

berusaha untuk bertahan hidup yaitu dengan terus berkarya dengan caranya

sendiri. Dalam berkarya, hasil cipta karya manusia disebut budaya, atau

manusia menciptakan kebudayaan.

Menurut Aristoteles (Indra Saputra, 2013), seorang ahli fikir Yunani

menyatakan dalam ajaranya, bahwa manusia adalah zoon politicon, artinya

pada dasarnya manusia adalah makhluk yang ingin selalu bergaul dan

berkumpul dengan manusia, jadi makhluk yang sifatnya suka bergaul dan

bermasyarakat itulah manusia.Aristoteles mendefinisikan tentang manusia

sebagai makhluk sosial, makhluk yang hidup bersama manusia yang lain,

makhluk yang ada dan berelasi dengan manusia lain. Bahwa manusia itu

makhluk sosial tidak hanya bermaksud menegaskan ide tentang kewajiban

manusia untuk bersosialisasi dengan sesamanya, melainkan ide tentang

makhluk sosial terutama bermaksud menunjuk langsung pada kesempurnaan

identitas diri.

Menurut Marcia (Fitia Yulianti, 2012), tahap perkembangan identitas

diri akan bergerak dari tahap satu ke tahap berikutnya atau dengan kata lain

(15)

berikutnya, sering anak muda sekarangpecintraan dirinya tidak lepas dari

persepsi seseorang atau kelompok terhadap citranya sehingga menimbulkan

sebuah kesan baik atau buruk.

Pada era sekarang ini banyak menjumpai kecenderungan anak muda

yang kuat untuk memperbaiki penampilannya dengan berbagai macam cara,

baik yang wajar maupun yang membahayakan bagi dirinya sendiri, seperti

mengikuti perkembangan mode, potongan rambut, asesoris kosmetika yang

sedang trenddan sebagainya menurut Dewi (Syarief Budiman, 2006).

Salah satu hal yang menarik perhatian menurut Sutarmanto (Syarief

Budiman, 2006), adalah perubahan fisik yang terjadi ketika bagian-bagian

tubuh tertentu mengalami perubahan dan mengambil bentuk yang berbeda dari

sebelumnya.Perubahan fisik menandai pemahaman baru tentang diri individu

yang berkaitan erat dengan penerimaan diri dan pencarian identitas diri.

Tubuh dan karakteristik memiliki peranan penting dalam membentuk

gambaran tentang citra dirinya baik dalam pandangannya sendiri maupun

orang lain.

Bicara tentang citra diri, citra diri itu sendiri menurut Centi (Syarief

Budiman, 2006), merupakan hal yang subyektif, menurut penglihatan sendiri.

Keadaan dan penampilan diri pada gilirannya dipengaruhi oleh norma yang

dijumpai atau yang dihadapi. Pendapat ini didukung oleh pendapat Burn

(Syarief Budiman, 2006), mengatakan bahwa citra diri sumber utama dari

(16)

kapasitas-kapasitasnya menurut standar-standar dan nilai-nilai yang telah

diinternalisasikan dari masyarakat.

Citra diri membentuk persepsi seseorang tentang diri, baik secara

internal maupun eksternal.Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang

ditujukan pada tubuh. Citra diri dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang

karakteristik dan kemampuan fisik oleh persepsi dan pandangan orang lain.

Citra diri dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan

fisik.Perubahan perkembangan yang normal seperti pertumbuhan dan penuaan

mempunyai efek penampakan yang lebih besar pada tubuh dibandingkan

dengan aspek lainnya dari konsep diri menurut Perry & Potter (Indah Juwita,

2013).

Seperti halnya dengan anak punk, anak muda zaman sekarang mungkin

sudah tidak asing dengan anak punk. Anak punk mempunyai gaya yang

berbeda dengan anak-anak muda lain. Penampilan anak punk yang identik

dengan rambut mohawk, celana ketat, sepatu bot, dan berbagai aksesori

anak punk merupakan simbol perlawanan.Berdasarkan penelitian (Aidin

Adrian, 2003), berbagai aksesori itu masing-masing mempunyai makna

seperti:

1) Rambut Mohawk yang tegak sering diartikan sebagai anti penindasan

sekaligus kebebasan. Gaya rambut ini terinsipari dari film Drums Along

the Mohawk tahun 1963. Dalam film itu diceritakan tentang suku indian

Mohican di lembah mohawk. Gaya inilah yang kemudian diadaptasi anak

(17)

2) Aksesori lain yang menonjol yaitu celana yang ketat. Bahan celana yang

biasa mereka pakai adalah jins, kulit, atau bermotif kulit hewan (bandage

pants )yang diberi emblem. Awalnya punkers sebutan anak punk,

menggunakan celana kulit karena awet dan tahan lama. Model ketat

menyimbolkan himpitan hidup.Karena itu punkersbiasanya merobek

celana bagian paha dan lutut sebagai simbol kemerdekaan gerak dan ide.

3) Bot adalah jenis sepatu favorit anak punk. Seperti halnya celana panjang,

mereka memilih bot karena alasan awet. Untuk aliran hardrock

punk dan pop punk biasanya memilih sneakers dan sepatu olahraga yang

lebih praktis.

4) Tattoo dan tindik juga merupakan gaya anak punk. Anak punk biasanya

menato tubuhnya dengan gambar tengkorak, salib terbalik, swastika Nazi,

atau api. Tattoo ini menunjukkan identitas kelompok dan menjadi simbol

penguasaan penuh terhadap tubuhnya.Seperti tattoo, tindik juga

menyimbolkan kekuasaan terhadap tubuh.

5) Ciri lainnya adalah rantai aksesoris yang dianggap sebagai simbol

solidaritas. Kelompok punk yang terusir dari masyarakat dianggap

sampah, dinilai menyimpang, membuat punkers membentuk kelompok

baru untuk berlindung. Solidaritas kelompok ini sangat penting untuk

bertahan hidup. Aksesori lain anak punk yaitu eye liner, paku atau benda

tajam lain, baju, serta stocking. Pernak-pernik itu mempunyai inti pesan

(18)

Dengan berbagai ragam aksesoris dan gayaanak punk

membuatmasyarakat untuk memudahkan mengenalnya sebagai anak punk atau

punker. Banyaknya anak muda sekarang yang menjadi punk membuat

sebagian orang tua menjadi resah, banyak orang tua menilai bahwa kelompok

punk lebih mementingkan kelompoknya dibanding keluarganya sendiri.

Mereka lebih nyaman di kelompoknya karena penyesuaian diri dengan standar

kelompok dianggap jauh lebih penting.

Berdasarkan penelitian Ulfa Amalia (Fitia Yulianti, 2012), bahwa

secara sosial, anak punk mendapat respon negatif dari orang tuanya yang

menolak punk hingga diusir dari rumah, dirobek-robek pakaiannya, dan

dipukul, orang tua tetap pada prinsipnya bahwa apa yang dilakukan punk

adalah negatif, begitu juga dengan masyarakat memandang punkadalahnegatif.

Contohnya saja seperti kasus heboh 65 anak-anak jalanan (Punk) di Banda

Aceh tertangkap oknum polisi berikut barang bukti berupa narkoba, minuman

keras bersama mereka, atas pengaduan keresahan masyarakat Aceh terhadap

komunitas ini (Kompas, 19 maret 2012). Kemudian terjadi isu polemic ada

sebagian masyarakat diwakili berbagai tokoh-tokoh masyarakat menganggap

penangkapan tersebut adalah merupakan pelanggaran dan pelanggaran kreasi

anak-anak bangsa, polisi melakukan pelanggaran hak anak-anak yang ingin

mengaplikasikan kreasinya dalam dunia seni. Hal itu sangat disayangkan jika

mengatas namakan hak berekspresi, itu adalah sebuah opini yang keliru.

Kenyataanya mereka melakukan tindakan-tindakan kriminal yang dapat

(19)

Kehidupan anak punk selalu dikaitkan dengan perilaku yang negatif,

tetapi tidak semua anak punk itu negatif, bahkan adapula diantara mereka

adalah pekerja keras. Hasil observasi awal kebanyakan mereka itu anak-anak

kreatif, banyak mereka yang membentuk group band dimana lirik lagu-lagu

yang mereka ungkap adalah hasil dari kehidupan mereka sehari-hari,

pertemanan, atau bahkan menilai tentang pemerintahan masa kini.Sifat mereka

yang kreatif berbekal dari ideologi DIY/Doit Your Self. Mereka juga banyak

yang berkarya dengan cara menyablon kaos-kaos band punk lalu dijual

(ngelapak) ketika ada acara punk. Di samping dengan kemandirian anak punk,

mereka juga mempunyai jiwa solidaritas dan loyalitas tinggi.Contohnya di

band punk “Marjinal” asal Jakarta yang mebuat lagu tentang Marsinah,

Marsinah itu sendiri adalah buruh wanita yang tertindas oleh kaum-kaum atas

sampai mati.Anak punk membuatkan lagunya dan betapa pedulinya mereka.

Rasa solidaritas mereka terhadap kaum rendah dan tertindas sangat tinggi

karena hidup mereka tidak jauh dengan kejadian seperti itu.

Permasalahan yang dialami individu tidak hanya terjadi terjadi pada pendidikan formal saja melainkan juga padanon formal. Permasalahan itu

dapat juga muncul di berbagai lingkungan keluarga dan masyarakat. Oleh

sebab itu bimbingan dan konseling melalui berbagai layanannya dapat terjadi

di keluarga maupun dalam masyarakat secara luas.

Dalam bidang bimbingan dan konseling itu sendiri menyangkut

(20)

karena mereka dianggapmasyarakatkaum marjinal.Anak punk mempunyai

gaya hidup yang tidak sesuai norma yang berlaku pada masyarakat, tidak

dapat dipungkiri bahwa di sisi lain anak punk itu sendiri mempunyai nilai

yang positif seperti jiwa sosial yang tinggi dan kreatif yang masyarakat pada

umumnya tidak memperdulikan.

Di Yogyakarta sendiri sudah banyak permasalahandewasa awal yang

menjadi punkers dan ikut komunitas punk, seperti:

1) Kegelisahan masayarakat karena imagepunk seolah terkesan sangardengan

penampilannya sehingga menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.

2) Berbagai permasalahan yang timbul karena minimnya pemahaman tentang

sikap seorangpunk dan adapula yang tidak mengerti sama sekali atau hanya

mengikuti trendsaja, sehingga menimbulkan citra diri anak punk di mata

masyarakat itu buruk.

Oleh karena itu mengapa peneliti memilih fenomena tentang citra diri

anak punk dikarenakan ingin mengetahui lebih luas tentang citra diri anak

punkyang berada di berbagai di Yogyakarta dan faktor pendorong anak menjadi punk atau masuk dalam komunitas punk.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan permasalahan yang ada di latar belakang tersebut, maka

dapat diidentifikasikan permasalahan khusus yang terkait dengan beberapa

masalah yang akan dicari pemecahannya dalam penelitian. Adapun

permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan penelitian ini antara

(21)

1) Penampilan anak punk yang berbeda dengan lainnya..

2) Orang tuanya selalu merespon negatif tentang punk.

3) Adanya anak punk yang minim tentang ideologi punk sesungguhnya itu.

4) Citra diri anak punk yang dianggap negatif masyarakat.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang didapatkan, agar penelitian ini

dapat dilakukan dengan lebih mendalam maka peneliti membatasi masalah

pada: “Citra Diri Anak Punk di Yogyakarta”

D. Rumusan Masalah

Dari batasan masalah di atas dapat dirumuskan permasalahannya

sebagaiberikut :

1) Bagaimana citra diri anak punk di Yogyakarta

2) Faktor pendorong menjadi punk.

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dari permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan

untuk mendiskripsikan bagaimana citra diri anak punk di Yogyakarta dan

faktor pendorong individu itu sendiri menjadi punk.

F. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberi manfaat, baik

secara teoritis maupun praktis.

a. Manfaat teoritis

(22)

ini, diharapkan juga dapat meningkatkan segala hal yang berhubungan

dengan citra diri anak punk.

b. Manfaat praktis

1. Bagi pembaca, peneliti ini dapat digunakan sebagai media informasi

untuk menggambarkan citra diri anak punk Yogyakarta yang

sesungguhnya dan mengetahui faktor penyebab anak muda masuk di

komunitas punk untuk menjadi punker.

2. Bagi peneliti, penelitian ini untuk menambah wawasan tentang

komunitas punk yang sesungguhnya dan dapat dijadikan informasi

untuk melakukan pendekatan terhadap kelompok punk dalam lingkup

bimbingan dan konseling.

3. Bagi jurusan, peneliti ini dapat dijadikan informasi atau referensi untuk

(23)

BAB lI

KAJIAN PUSTAKA A. PUNK

1. Pengertian Punk

Punk menurut (Widya G, 2010), adalah sifat marah yang berbentuk perilaku tidak tepat dengan tempatnya.Punkers tidak pernah merasa puas

dan selalu melawan pada suatu hal (sosial, politik, budaya, ekonomi

bahkan agama) terutama terhadap tindakan menindas. Para

punkermewujudkan sikap tersebut ke dalam musik dan cara berpakaian. Mereka hidup bebas dan tetap bertanggung jawab pada setiap pemikiran

dan tindakannya. Oleh sebab itu mereka menciptakan perlawanan itu

dengan realisasi musik, gaya hidup, komunitas dan faham tersendiri.

Dalam “philosophy of Punk”, Craig O’Hara (Fitia Yulianti, 2012),

menuliskan tiga definisi punk.Pertama adalah punk sebagai trend remaja

dalam fashion dan musik.Kedua yaitu punk sebagai keberanian

memberontak dan melakukan perubahan. Terakhir, punk sebagai bentuk

perlawanan yang “hebat” karena menciptakan musik, gaya hidup,

komunitas, dan kebudayaan sendiri.

Menurut (John Martono, 2008), punk merupakan suatu fenomena

budaya yang memberikan suatu identitas baru bagi sekelompok (sub

altern). Berdasarkan dari pendapat-pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa punkbisa dianggap sebagai trend dalam fashion remaja

(24)

perubahan dengan menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan faham

tersendiri dengan tingkah laku yang mereka perlihatkan.

Berdasarkan dari pendapat-pendapat di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa punkbisadi anggap sebagai gayahidupyang

memberontak. Punkmelakukan pemberontakan perlawanan mereka dalam

bentuk melakukan perubahan dengan menciptakan musik, attitude,

komunitas, dan faham tersendiri dengan tingkah laku yang mereka

perlihatkan.

2. Jenis-Jenis Punk

Dengan berkembangnya punk mengalami pasang surut, kondisi

seperti ini menurut ragam aliran atau jenis punk. Menurut (Widya G,

2010), ada beberapa aliran punk :

a) Anarcho punk

Jenis komunitas punk yang sangat idealis dan bisa juga disebut

keras, dengan ideologi yang mereka anut dengan anti-otoritarian dan

anti-kapitalis. Mereka sangat menutup diri dengan orang lain dan

kekerasan sudah menjadi bagian dari kehidupannya.

b) Crust Punk

Para anggotanya yang terkenal berpenampilan kusut dan

kritikannya pedas. Mereka suka melakukan protes atau demo di

jalanan, mengemis, penghuni liar (penghuni ilegal tempat), penghibur

(25)

c) Glam Punk

Para anggotanya yang biasanya terdiri dari seniman,

pengalaman sehari-harinya dituangkan sendiri dalam berbagai macam

karya. Mereka menjauhi perselisihan dengan sesama maupun orang

lain.

d) Nazi Punk

Jenis Punk yang masih murni, terdiri dari minoritas terkecil di

sub-kultur punk dan anggotanya berpaham ideologi nasionalis kulit

putih yang erat kaitannya dengan skinhead kulit putih.Dalam bermusik

mereka mengutarakan tentang kebenciannya dengan kaum yahudi,

kulit hitam, multi-ras, dan homoseksual.

e) Oi

Terdiri dari para hoolygan yang anggotanya sering membuat

keonaran dimana-mana baik dipertunjukan musik ataupun sepak

bola.Mereka memandang rendah dengan para kaum elit atau para

pekerja.

f) Queercore

Budaya dan gerakan sosial yang dimulai pada pertengahan

1980-an. Anggotanya terdiri dari orang-orang berkelaian, contohnya

itu sendiri adalah homoseksual, biseksual, lesbian, dan

(26)

g) Riot Grrrl

Gerakan punk feminis bawah tanah, mereka sering mengangkat

isu tentang pemerkosaan, kekerasan salam rumah tangga, seksualitas,

dan pemberdayaan perempuan.

h) Scum Punk

Mereka biasa menyebutnya Straight Edgescene.Banyak para

anggotanya yang no drugsatau bisa disebut juga positive

live.Benar-benar mengutamakan kenyamanan, kebersihan, kebaikan moral dan

kesehatan pada dirinya masing-masing.

i) Skate Punk

Pada pertengahan 1980-an di California, bermain skateboard

dianggap suatu bentuk perlawanan. Nama skate punk karena

kebanyakan kegemaran anggotanya dalam bermain skateboard.

j) Ska Punk

Jenis ska punk ini adalah gabungan dari musik reggae dan

music punk dan mereka mempunyai tarian sendiri yang namanya pogo,

tarian yang berenergik sesuai dengan musik dari skapunk yang

memiliki beat-beat yang cepat.

Berdasarkan uraian atau pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

punk itu mempunyai jenis berbeda dan bervariasi dalam setiap komunitasnya, dengan berbekal ideologi yang mereka miliki dan mereka sepakati bersama

(27)

3. Sejarah Punk

Menurut (Abdul Lathiif, 2013), sejarah punk berawal dari sub-budaya

yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu

dikacaukan oleh golongan Skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, punkers

merajalela di Amerika, golongan punk dan Skinhead seolah-olah menyatu,

karena mempunyai semangat yang sama. Namun, punk juga dapat berartijenis

musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti

ideologi hidup yang mencakup aspeksosial dan politik. Gerakan anak muda

yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah

Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh

kemerosotan moral oleh para tokoh politikyang memicu tingkat pengangguran

dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan

caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana

namun cenderung kasar, beat yang cepat dan menghentak. Banyak yang

menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena

di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk

mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra

punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal. Punk selanjutnya berkembang sebagai sebuah

kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu

didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis

(28)

protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk

menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan

hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi

aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat. Akibatnya punk dicap

sebagai musik rock and roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat

kesempatan untuk tampil di acara televisi.Perusahaan-perusahaan rekaman

pun enggan mengorbitkan mereka. Namun lebih tepatnya seorang punk itu

mempunyai perilaku yang berbeda. Mereka hanya sebuah aliran, jiwa dan

kepribadiannya akan kembali pada individu masing-masing.

Berdasarkan uraian di atas dari berbagai pendapat, dapat disimpulkan

bahwa sejarahpunk itu sendiri lahir dari sub budaya dari Inggris.Gerakan anak

muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja, berusaha menyindir para

penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik

yang sederhana. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan,

dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja

kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa

terhadap rakyat. Contoh band punk itu sendiri adalah The Beatles, Rolling

Stone, dan Elvis Presley.

4. Perkembangan Punk di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang berkembang dan mempunyai

penduduk yang banyak.Seiring majunya zaman dan terbukanya arus

informasi, fenomena punk masuk ke Indonesia. Pada awal perkembangannya

(29)

dibarengi dengan terbukanya masyarakat Indonesia terhadap hal baru (John

Martono, 2008).

Menurut Fitia Yulianti (Khasanah, 2008), pada awal 1970-an

muncullah penggabungan antara kaum maskulin Skinhead, progesifitas kaum

Hippies, Glamrock. Penggabungan ini ditunjukan dalam sebuah bentuk perkembangan ke arah tanpa kelas dan menghasilkan suatu budaya

Universal.Pada era ini merupakan akhir perjalanan singkat berbagai sub kebudayaan kelas pekerja di Inggris, sampai digantikan oleh sub kebudayaan

punkdan telah menjadi suatu fenomena di Indonesia.

Seiring mulainya era punk, lagu grup-grup band punk asal luar mulai

masuk di Indonseia. Seperti: Ramones, Rancid, Blink 182, Bad Religion dan

sebagianya. Musik punk mulai didengar dari televisi dan radio.Acara musik

punk pun mulai semakin semarak diselenggarakan meskipun dengan fasilitas yang minim (Aidin Adrian, 2003).Hingga menjelang tahun 1998, fenomena

punk dan komunitasnya semakin berkembang seiring merebaknya semangat perlawanan terhadap pemerintah waktu Orde Baru (ORBA).Setelah ORBA

selesai, Indonesia makin terbuka terhadap paham-paham yang sebelumnya

dipandang sebelah mata.Pada masa ini muncullah berbagai majalah tentang

punk(zine)yang diterbitkan untuk membangun interaksi antar komunitas punk di Indonesia.Selain itu juga didukung dengan rilisan album band punk yang

bermunculan (John Martono, 2008).

(30)

punkmasuk dengan adanya grup band punk luar dengan cara mendengarkan lagu melalui radio maupun televisi. Mulai setelah ORBA selesai muncullah

majalah punk (zine), membuat band punk dan merilis album-albumnya dalam

suatu bentuk interaksinya dengan yang lain.

5. Perkembangan Punk di Yogyakarta

Yogyakarta merupakan kota pendidikan dan kota budaya, salah satu

dari berbagai budaya yang terdapat pada kota Yogyakarta adalah punk. Punk

itu sendiri masuk di Yogyakarta tahun 1997-an, jumlah individu dari

komunitas punk itu sendiri sulit diketahui namun notabennya adalah

mahasiswa yang masih aktif kuliah.Punk merambah menjadi budaya yang

pesat dan diklaim sebagai pergerakan yang melawan penindasan terutama

pada kaum lemah, tetapi kekhasan punkcara apresiasif ini dilakukan dan

aturan main dalam tubuh punk masing-masing (Khasanah, 2008).

Jogja Corpsegrinders adalah sebuah komunitas punk pertama di

Yogyakarta.Band-band punk lahir dari komunitas ini, contohnya seperti A

Sistem Reject, Something Wrong, DOM 65, Human Chaos, Noise for Violence, Black Boots.Anak punk Yogyakarta dikenal diberbagai daerah Indonesia dengan menggelarnya acara Parkinsound yang tidak cuman menampilkan

musik punksaja tetapi aliran lainnya juga, media masapun mengangkat festival

elektronik yang pertama di Indonesia menurut pendapat Markus B.T. Sirait

(Fitia Yulianti, 2012).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa punkdi

(31)

secara kaidah dan aturan main dalam diri punk itu sendiri, sehingga bisa

dikenal punkers yang di luar Yogyakarta juga.

6. Alasan yang Mendorong Masuk Dunia Punk

Dalam suatu kelompok anak muda, selalu ada standar nilai yang

digunakan sebagai penerimaan pada kelompok (Sindroma Penerimaan).

Standar nilai yang digunakan biasanya seperti sifat yang sama atau perilaku

yang disenangi anak muda dalam kelompok tersebut agar dapat menambah

gengsi yang diindentifikasikan menurut Hurlock (Rita Eka Izzaty dkk, 2008).

Menurut Al-Mighwar (Fitia Yulianti, 2012) bahwa anak muda

menganggap kelompok mereka lebih penting daripada keluarga mereka

sendiri, karena dalam kelompok tersebut mereka mendapatkan kenyamanan

dan kelompok mereka dapat memahami mereka sendiri daripada orang tua

mereka. Dalam hal pakaian, bicara maupun tingkah laku mereka bisa

menyesuaikan diri berdasarkan standar kelompoknya.

Berdasarkan hasil penelitian dari (Aidin Adrian,2003), menyebutkan

alasan yang mendorong anak muda masuk dunia punk:

a. Teman Sebaya

Alasan ini sangat berpengaruh dalam mendorong anak muda masuk

dunia punk, biasanya teman sebayanya terlebih dahulu yang kemudian

ditiru oleh anak muda lainnya karena adanya ketertarikan terhadap

ideologi, perilaku, musik, gaya hidupnya dan aksesoris lainnya. Ada

(32)

dorongan untuk meniru orang lain. faktor yang kedua yaitu sugesti, adanya

pengaruh psikis, baik yang dating dari diri sendiri dan orang lain. faktor

yang ketiga yaitu identifikasi, suatu dorongan yang menjadi sama dengan

orang lain. Faktor yang terakhir itu sendiri adalah simpati, suatu perasaan

yang tertarik pada orang lain.

b. Keluarga

Keluarga juga sangat berpengaruh dalam mendorong individu

menjadi punk.Pengaruh keluarga ini lebih pada adanya ketidakharmonisan

hubungan dalam keluarga yang menyebabkan anak kurang kasih sayang

yang lebih, sehingga anak mencari kenyamanan di luar dengan mengikuti

punk.

Di sisi lain ada juga karena aturan yang terlalu ketat yang diterapkan

oleh orang tua terhadap anaknya dapat mempengaruhi alasan seorang anak

masuk di dunia punk. Faktor ini dampaknya anak merasa terkekang oleh

aturan yang diterapkan orang tuanya, padahal pada usia muda anak ingin

suatu kebebasan. Sebagai penyebab dari fenomena tersebut, anak

meninggalkan keluarganya , meninggalkan aturan-aturan keluarga karena

membatasi kebebasannya.

c. Orang Lain

Dalam masa pencarian identitas diri, anak muda sering mencari

sesuatu hal yang baru, mereka mencari sesuatu pengalaman yang baru.

Pada masa pencarian identitas baru biasanya mereka meraba-raba terhadap

(33)

mengidentifikasi suatu hal yang akan dimasuki yang kemudian mereka

akan mempertimbangkannya.

Selain itu juga adanya keinginan untuk eksis terhadap masyarakat.

Ketika seorang anak muda dihadapkan pada suatu kesamaan yang terjadi di

dalam masyarakat, mereka ingin sesuatu yang baru dan ingin tampil beda

dengan mengikuti gaya hidup punk yang pada dasarnya berbeda, yang pada

saat itu masyarakat menganggap bahwa itu gaya hidup yang aneh.

Kemudian kegemaran terhadap gaya yang ditawarkan dalam punkitu

sendiri. Bagi dewasa awal mungkin penampilan yang menarik dan disetiap

penampilan tersebut mengandung makna-makna tersendiri. Kegemaran

terhadap punkitu sendiri kemudian direalisasikan melalui identitas diri yang

akan menumbuhkan perilaku sebagai model dalam situasi dan kondisi saat

ini kemudian menjadi punk.

Beberapa alasan yang disebutkan di atas, hanya saja pada penelitian

(Khasanah, 2008), ditambahkan alasan yang mendorong masuk dunia

punkseperti:

a) Pengaruh Media

Teknologi dari zaman ke zaman semakin maju, perkembangan

teknologi merupakan salah satu faktor pendorong individu menjadi

punk.Contohnya melalui internet yang cukup berpengaruh individu menjadi punk, di internet terdapat blog-blog yang banyak sekali mengulas

(34)

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa

alasan yang mendorong dewasa awal menjadi punk, seperti teman sebaya,

keluarga, pengaruh orang lain, dan pengaruh media.

B. Kajian Citra Diri

1. Pengertian Citra Diri

Citra diri (Self Image) itu sendiri bagian dari konsep diri (Self

Concept).Konsep diri (Self Concept) itu sendiri mempunyai komponen dasar yaitu citra diri (SelfImage) dan harga diri(SelfEsteem).Citra diri

(SelfImage) dan harga diri (SelfEsteem)untuk membentukSelfConcept

seseorang menurut Coopersmith (Burns R.B, 1993).

Menurut Shibutani (Mac Patricia. C, 1979),self imagemerupakan

suatu identitas yang mempengaruhi perilaku seseorang yang cenderung

untuk terlibat dalam suatu kegiatan yang kongruen, di samping itu

tindakan seseorang mempengaruhi reaksi terhadap orang lain dan

membentuk pengaruh besar pada suatu gambaran seseorang.

Menurut Hurlock (Rasti Mardian, 2013), citra diri merupakan

seluruh ide dan perasaan kepercayaan, nilai, dan keyakinan.Pendapat

tersebut didukung oleh Maltz (Rasti Mardian, 2013), citra diri

didefinisikan sebagai perilaku dari individu baik yang disadari maupun

yang tidak disadari dan suatu gambaran diri yang ideal yang diinginkan

individu.

Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah dijelaskan di atas,

(35)

gambaran ideal mengenai dirinya sendiri, identitas, keberhargaanya, dan

suatu kemampuan yang dimiliki.

2. Karakteristik Citra Diri

Citra diri merupakan mekanisme otomatis dari gambaran mental

seseorang. Jika citra dirinya sehat maka ia dapat mencapai kebahagiaan

sebaliknya jika citra dirinya buruk maka ia akan terlihat sebagai orang

yang tidak percaya diri dan tidak mampu. Citra diri atau gambaran yang

dimiliki seseorang haruslah realistis (Eka Darmaputera, 2005).

Setiap orang pasti memiliki citra diri yang negatif maupun citra diri

yang positif.Di bawah ini terdapat pendapat tentang citra diri negatif

maupun positif:

a) Orang dengan Citra Diri Positif

Individu yang memiliki citra diri yang positif merasa dirinya

berharga di mata orang lain. Seperti citra tentang kejujuran, ketegasan,

wibawa, dan sikap adil.Citra diri yang positif ditandai dengan

kepercayaan diri individu bahwa mereka memiliki lebih banyak

kualitas positif bila dibandingkan dengan kualitas negatif dari dirinya

sendiri. Orang yang memiliki citra diri positif mudah untuk mencapai

tujuan yang diinginkannya, simpati orang lain selalu tertuju padanya,

dan citra dirinya itu memicu antusias hidupnya (Sjafri Mangkuprawira,

(36)

b) Orang dengan Citra Diri Negatif

(Haryanto Kandani, 2010), menguraikan orang dengan citra diri

yang buruk, yaitu: minder (tidak percaya diri), sombong (takut gagal,

takut tertolak, pembuktian diri), rasa tidak aman (ingin menjadi orang

lain), merasa tidak mampu (menyerah pada situasi ataupun keadaan),

mudah tersinggung.

3. Komponen-Komponen Citra Diri

Menurut Jersild (Fristy, 2012), terdapat tiga komponen dalam citra

diri yaitu:

a) Perceptual Component

Imageyang dimiliki seseorang mengenai penampilan dirinya, terutama tubuh dan ekspresi yang diberikan pada orang lain. Tercakup

didalamnya adalah attractiviness, appropriatiness yang berhubungan

dengan daya tarik seseorang bagi orang lain. Hal ini dapat dicontohkan

oleh seseorang yang memiliki wajah cantik atau tampan, sehingga

seseorang tersebut disukai oleh orang lain. Komponen ini disebut

sebagai Physical Self Image

b) Conceptual Component

Merupakan konsepsi seseorang mengenai karakteristik dirinya,

misalnya kemampuan,kekurangan dan keterbatasan dirinya.Komponen

(37)

c) Attitudional Component

Merupakan pikiran dan perasaan seseorang mengenai

dirinya,status dan pandangan terhadap orang lain. Komponen ini biasa

disebut sebagai Social Self Image.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa komponen

citra diri ada perceptual, conceptual, dan attitudional.Ketiga komponen

tersebut saling berhubungan dalam membentuk suatu citra diri.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Citra Diri

Menurut Scoot (Rasti Mardian, 2013) citra diri timbul karena

adanya keinginan seorang individu untuk tampil sebagaimana yang

individu inginkan.Dorongan internal dan eksternal juga dapat

mempengaruhi mental seorang untuk tampil sebagai sosok yang

diinginkan. Dorongan internal itu sendiri dari individu itu sendiri

sedangkan dorongan eksternal dari orang lain. Adapun faktor khusu yang

mempengaryhi citra diri seorang, yaitu:

a. Faktor psikologis, reaksi dan opini dari orang lain terutama dari orang

terdekat yang dianggap penting akan mempengaruhi seorang dalam

melakukan penilaian terhadap dirinya.

b. Faktor biologis/fisik dapat mempengaruhi cara pandang seorang

terhadap dirinya. Manusia memiliki keinginan untuk mengetahui

informasi mengenai dirinya jika dibandingkan dengan orang lain yang

(38)

c. Faktor sosiokultural, nilai-nilai sosiokultural yang dapat

mempengaruhi cara pandang sesorang terhadap dirinya. Media juga

memegang peran yang signifikan dalam membentuk citra diri.

Maltz (Rasti Mardian, 2013) mengungkapkan faktor umum yang

mempengaruhi citra diri yaitu pengalaman masa lalu, kesuksesan dan

kegagalan, penghinaan, kemenangan dan bagaimana cara orang lain

merespon terhadapnya.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

yang mempengaruhi citra diri yaitu faktor psikologis, faktor fisik, dan

sosial.dapat juga berpengaruh karena pengalaman hidup.

5. Citra Diri Anak Punk

(Adrian, 2003), mengungkapkan bahwa dalam penggunaan atribut

mulai dari menggunakan berbagai identitas punk, membuat tattoo di tubuh

mereka, piercing, penataan rambut dengan mowhak, itu merupakan citra

diri anak punk.di setiap penggunaan atribut tersebut memiliki arti

tersendiri.

(Pandi Apriyandi, 2013), sebenarnya tidak semua anak punk itu

berperilaku negatif, ada beberapa anak punk yang bergabung dalam suatu

komunitas karena menyukai gayapunk yang identik dengan model rambut

mohawk, bodypierching, tattoo, gelang spike, dan aksesoris nyentrik lainnya. Gaya hidup negatif yang kerap terjadi di anak punk biasanya

disebabkan karena mendapatkan terpengaruh teman sesama anak punk

(39)

minuman keras, melakukan kekerasan atau penganiayaan, “ngelem”,

narkoba, freesex, dan sebagainya.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, citra diri anak

punk terletak dimana gaya mereka yang berani tampil beda dengan individu lain, karena disitu mereka mengekspresikan diri mereka dengan

membentuk suatu identitas punk. Definisi citra diri anak punkadalah

perilaku dari anak punk baik yang disadari maupun yang tidak disadari dan

suatu gambaran diri yang ideal yang diinginkan individu.

Bimbingan dan konseling berperan di masyarakat sebagai pemahaman

penangkapan masyarakat tentang makna-makna pesan perlawanan atau

pemberontakan dalam fashion maupun sikappunk berkaitan dengan konteks

sosial yang terjadi di masyarakat. Oleh karenanya, pengetahuan mengenai

latar belakang anak punk mengenai situasi dan kondisi suatu kelompok sosial

atau masyarakat amat penting.Tanpa pemahaman mengenai keadaan

masyarakat dominan, maka hampir tidak mungkin interpretasi terhadap

fashionpunk atau sikapnya yang dianggap menyimpang dapat dilakukan dengan baik.Mereka juga hendaknya diberikan penyuluhan yang sebaiknya

dapat bermanfaat bagi mereka.Misalnya dengan memberikan pengetahuan dan

keterampilan yang dapat digunakan untuk membuka peluang usaha.

C. KAJIAN MASA DEWASA AWAL

1. Dewasa Awal

(40)

baru dan harapan-harapan sosial baru. Masa dewasa awal ini dimulai pada

umur 18 tahun sampai umur 40 tahun.Orang dewasa awal diharapkan

memainkan peranan baru seperti peran suami atau istri, orang tua dan

pencari nafkah dan mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan dan nilai

sesuai tugas baru.

Menurut (Agus Dariyo, 2003), young adulthood menampilkan

profil yang sempurna dalam aspek-aspek perkembangannya telah

mencapai puncak. Mereka mempunyai taraf yang prima sehingga dalam

melakukan berbagai kegiatan tampak inisiatif, kreatif, energik, cepat, dan

proaktif.

Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dewasa

awal itu dimulai dari umur 18 tahun sampai 40 tahun, mereka mempunyai

kehidupan baru dan mencapai puncak dalam aspek-aspek

perkembangannya.

2. Karakteristik Dewasa Awal

Peran dan tanggung jawab tentu makin besar ketika seseorang

tergolong dewasa, mereka menunjukan pribadi yang dewasa yang mandiri.

Urusan dan segala masalah sebisa mungkin ditangani sendiri. Menurut

(Santrock,1999), dewasa awal tergolong masa transisi baik dari fisik,

intelektual, dan peran sosial:

a. Fisik

Menampilkan profil yang sempurna dengan aspek-aspek

(41)

perkembangan seperti dewasa muda lainnya, misalnya bekerja,

menikah. Masa ini ditandai juga adanya perubahan fisik, misalnya

tumbuh bulu-bulu halus, perubahan suara, menstruasi bagi wanita, dan

kemampuan bereproduksi.

b. Intelektual

Mampu memecahkan masalah yang kompleks dengan kapasitas

berpikir logis, abstrak, dan rasional. Dewasa awal juga harus mampu

mengembangkan karir untuk meraih puncak prestasi dalam

pekerjaannya.

c. Peran Sosial

Masing-masing individu dewasa awal mempunyai peran ganda,

yaitu sebagai individu yang bekerja di suatu lembaga dan menjadi

kepala rumah tangga bagi laki-laki. Sebagai anggota masyarakat,

mereka pun terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, misalnya pengurus

RT, kerja bakti ronda dan lainnya.

Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dewasa awal

merupakan masa transisi fisik, intelektual, dan sosial.

D. Pertanyaan Penelitian

Dalam proses pengumpulan data dan informasi tentang aspek-aspek

yang akan diteliti, maka peneliti akan menguraikan dan mempertajam dengan

lebih rinci rumusan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya kedalam

(42)

dengan harapan tidak keluar dari pokok penelitian. Pertanyaan penelitian

tersebut antara lain:

1. Bagaimanacitra diri anak punk di Yogyakarta?

a. Persepsi

b. Karakteristik

c. Attitude

(43)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif, mengacu pada

pernyataan yang menerangkan bagaimana dunia dan kehidupan dipersepsikan.

Mengandung pandangan tentang dunia, cara pandang untuk menyederhanakan

kompleksitas dunia nyata. Dalam konteks pelaksanaan penelitian, memberi

gambaran mengenai apa yang penting, apa yang dianggap mungkin dan sah

untuk dilakukan, apa yang dapat diterima akal sehat Patton(Poerwandari,

1998).

Penelitian kualitatif secara spesifik lebih diarahkan pada penggunaan

metode studi kasus. Studi kasus itu sendiri adalahuraian dan penjelasan

komprehensif mengenai berbagai aspek seorang individu, suatu kelompok

(komunitas), atau suatu situasi sosial menurut (Deddy Mulyana,2001).

B. Langkah-langkah Penelitian

Untuk menciptakan pelaksanaan penelitian yang sistematis, peneliti

membagi proses pelaksaan penelitian ini ke tahapan-tahapan. Adapun

tahapan-tahapan tersebut menurut (Lexy J.Moleong,2000) yaitu:

1) Tahap Pralapangan

Pengadaan survei penelitian untuk pendahuluan, selama proses

survei ini peneliti melakukan penjajagan lapangan dan mecari data dan

informasi anak punkdi Yogyakarta yang akan diteliti nanti. Selain itu

(44)

2) Tahap Pekerjaan Lapangan

Dalam tahap ini peneliti memasuki latar penelitian dalam rangka

pengumpulan data.

3) Tahap Analisis Data

Melakukan serangkaian proses analisis data kualitatif sampai pada

interpretasi data-data yang sudah diperoleh sebelumnya. Adapun peneliti

harus menempuh proses triangulasi data yang dibandingkan dengan teori

kepustakaan.

C. Setting Penelitian

Penelitian ini dilakukan di sebuah komunitas punk di Kota

Yogyakarta.Peneliti terjun langsung melakukan penelitian di tempat yang

telah disepakati bersama dan menyesuaikan waktu senggang yang dimiliki

oleh anak punk tersebut, sehingga mempermudah peneliti dalam mendapatkan

data dan informasi yang dibutuhkan.

D. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini ditentukan secara kriteria, subyek pada penelitian

ini seperti yang didapat pada pengambilan kasus tipikal (Elisabeth Kristi

Poerwandari, 1998).Subjek penelitian ini adalah anak punk yang asli

Yogyakarta, kriteria yang digunakan adalah:

1) Punker atau anak punk.

2) Umur 18 tahun sampai 40 tahun.

3) Berdomisili atau bertempat tinggal di Yogyakarta.

(45)

5) Mengerti seluk beluk Punk di Yogyakarta.

a. Subyek/informan itu sendiri adalah :

No Nama (Inisial) Usia Alamat Keterangan

1 ALX 36 Tahun Wirobrajan Sudah menjadi punk

selama 17 tahun

2 YN 26 Tahun Baciro Sudah menjadi punk

selama 9 tahun

3 BB 23 Tahun Timoho Sudah menjadi punk

selama 8 tahun

b. Key Informan:

No Nama (Inisial) Usia Alamat Keterangan

1 AD 25 Condong Catur Teman dan yang

merekomendasikan ALX sebagai Informan.

2 DR 24 Seturan Teman dari YN dan juga

teman dariBB.

E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam teknik pengumpulan data dapat dilihat dari segi cara atau teknik

pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara observasi, indepth

interview(wawancara mendalam), dokumentasi dan gabungan dari ketiganya atau triangulasi (Sugiyono, 2010).

Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang

dibutuhkan dalam rangkamencapai tujuan penelitian(Elisabeth Kristi

(46)

1) Observasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data paling umum

digunakan oleh peneliti, terutama dalam meneliti tentang perilaku

manusia.Observasi merupakan metode untuk menangkap fenomena subjek

dari kacamata peneliti. Penggambaran setting yang diperlajari, aktivitas

yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dengan cara

melihat kejadian dari perspektif peneliti.

Observasi yang digunakan adalah observasi berstruktur yaitu

dengan melakukan pengamatan menggunakan pedoman observasi pada

saat pengamatan dilakukan dan peneliti dilarang terlibat dalam kegiatan

yang subjek lakukan.

2) Wawancara mendalam (indepth interview)

Wawancara merupakan percakapan dan tanya jawab yang

diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara dilakukan untuk

memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami

individu berkenaan dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan

eksplorasi terhadap isu-isu lain yang berkaitan dengan topik tersebut.

Penelitian ini menggunakan jenis wawancara dengan pedoman

umum.Isu-isu yang bersifat umum ditetapkan untuk menjaga

perkembangan pembicaraan dalam wawancara tetap dalam fokus

penelitian. Selain itu, tema pertanyaan yang akan dijawab subjek adalah

tema yang masih bisa berkembang dalam pelaksanaan wawancara

(47)

sehingga pengembangan pertanyaan wawancara yang menyesuaikan

dengan kehidupan subjek sangat diperlukan. Jadi, pedoman umum untuk

pertanyaan awal wawancara akan dibuat sama, sedangkan perkembangan

berikutnya akan menyesuaikan dengan kekhasan di lapangan pada

masing-masing subjek.

In depth interview (wawancara mendalam) adalah alat pengumpul data yang diajukan dan dijawab secara lisan mengenai suatu persoalan.In

depth interview (wawancara mendalam) digunakan dalam penelitian ini dengan pertimbangan alat ini dapat memberikan informasi yang lebih

lengkap dan mendalam mengenai pengetahuan, sikap, pandangan

responden mengenai masalah.

3) Dokumentasi

Untuk memperkaya informasi data yang dibutuhkan dengan teknik

dokumentasi seperti foto-foto kegiatan anak punkatau bahkan bisa berupa

video.

F. Instrumen Penelitian

Menurut (Sugiyono, 2010) yang menjadi instrument atau alat

penelitian yaitu peneliti itu sendiri.Peneliti itu sendiri yang melakukan

validasi.Melalui evaluasi diri seberapa jauh pemahamannya terhadap metode

yang dipakai, penguasaan teori dan wawasan terhadap bidang yang diteliti,

serta kesiapan untuk bekal di lapangan.

(48)

dikembangkan instrumen penelitian sederhana yang bisa diharapkan untuk

pembanding dan pelengkap data yang sebelumnya ditemukan melalui

observasi dan wawancara mendalam (Sugiyono, 2010).

1) Pedoman Observasi

Berisi tentang aspek-aspek yang diamati, peneliti melakukan

pengamatan atau observasi terhadap subjek penelitian sekaligus

melibatkan diri untuk mengamati dalam kegiatan subjek sehari-hari

sehingga memperoleh data yang lengkap.

Tabel 1.Pedoman Observasi

No Aspek Aspek yang Diteliti

1 Psikologis a. Pengetahuan yang dimiliki subjek

b. Merokok

c. Mabuk

d. Bahagia

e. Ibadah

2 Fisik a. Postur tubuh

b. Rambutnya

c. Tattoo d. Pierching

3 Sosial a. Hubungan dengan keluarga.

b. Hubungan dengan teman.

c. Hubungan dengan masyarakat.

Adapun pedoman observasi dibuat untuk mendapatkan informasi

(49)

pedoman observasi ini dapat berkembang seiring dengan penemuan

penelitian di lapangan.

2) Pedoman Wawancara Mendalam

Pedoman wawancara mendalam adalah suatu daftar pertanyaan

yang akan ditanyakan pada subjek maupun informan yang akan diteliti.

Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan aspek-aspek yang diteliti

tentang anak punk dan citra diri anak punk. Pertanyaan disajikan dalam

bentuk pertanyaan terbuka sehingga diharapkan akan memperoleh

informasi sebanyak-banyaknya yang dapat mendukung data selama

penelitian. Di sisi lain peniliti menggunakan alat bantuberupa alat tulis

untuk mencatat informasi yang telah peniliti peroleh. Untuk merumuskan

setiap diskriptor menjadi butir-butir instrumen, dapat dilihat di dalam

kisi-kisi pedoman wawancara sebagai berikut :

Tabel 2.Pedoman Wawancara Mendalam (In depth Interview)

Variabel Sub

Variabel Indikator Item Pertanyaan

Anak Punk Citra Diri Persepsi 1. Pengertian tentang punk

menurut anda?

Karakteristik 1. Style yang bagaimana

ketika anda menjadi punk? 2. Ciri khas apa yang anda

ketahui tentang punk?

Attitude 1. Kegiatan apa yang anda lakukan ketika menjadi punk?

(50)

dalam pergaulan bebas (freesex dan miras)?

4. Bagaimana pelaksanaan

ibadahmu saat ini?

Faktor Pendorong menjadi punk

1. Kapan pertama anda

menjadi punk?

2. Siapakah yang

mengenalkan punk dalam hidup anda?

3. Apakah motivasi anda

menjadi punk?

Adapun dalam tahap ini peneliti membuat pedoman wawancara

mendalam (in depth interview) sesuai dengan pedoman wawancara mendalam

(in depth interview) mendalam yang telah dibuat. Pedoman wawancara mendalam yang dibuat merupakan bentuk pertanyaan yang akan ditanyakan

langsung kepada subjek peneliti, sehingga tidak membuat intruksi atau kata

pengantar. Daftar pertanyaan dalam pedoman wawancara ini dibuat dengan

pertanyaan terbuka agar memperoleh informasi sebanyak-banyaknya yang

dapat mendukung data selama penelitian, dan peneliti dapat menggali data

lebih dalam dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau

data sekunder yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian.

(51)

Menurut Milles & Huberman (Sugiyono, 2010), teknik analisis data

yang digunakan yaitu interactive model yang mengklasifikasikan analisis data

dalam tiga langkah, yaitu:

1) Reduksi Data (Data Reduction)

Reduksi data adalah suatu proses pemilihan , pemusatan perhatian

pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang

muncul dari catatan-catatan lapangan.

2) Penyajian Data (Display Data)

Data ini tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan

kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan

tindakan.Selain itu bentuk yang digunakan pada data kualitatif terdahulu

adalah sebuah bentuk teks naratif.

3) Penarikan kesimpulan (Verifikasi)

Diperoleh kesimpulan dari data yangtelah dikumpulkan yang akan

diungkap mengenai makna. Jika diperoleh kesimpulan yang tentatif,

kabur, kaku dan meragukan sehingga kesimpulan tersebut perlu

diverifikasi. Verifikasi dilakukan dengan melihat kembalireduksi data

maupun display datasehingga kesimpulan yang diambil tidak menyimpang

dari data yang dianalisis.

H. Uji Keabsahan Data

Menurut (Sugiyono, 2010) temuan atau data yang diteliti bisa

(52)

William Wiersma (Sugiyono, 2010), triangulation is

qualitative cross-validation it assessesthe sufficiency of the data according to the convergence of multiple data sources or multiple data collection procedures.

Dengan demikian terdapat 3 triangulasi menurut (Sugiyono, 2010):

a. Triangulasi Sumber

Menguji data dengan cara mengecek data yang diperoleh

dibeberapa sumber atau bisa disebut juga key informan.

b. Triangulasi metode

Menguji data dilakukan dengan cara mengecek data kepada

sumber-sumber yang sama dengan teknik berbeda. Data penelitian

berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan metode observasi dan

(53)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil penelitian

1. Deskripsi Setting Penelitian

Penelitian ini mengambil latar di Kota Yogyakarta secara

khususnya di Wirobrajan, Baciro, Timoho.Hal ini disebabkan karena

Yogyakarta merupakan kotayang memungkinkan banyak terjadinya

pertukaran budaya dan gaya hidup yang dibawa oleh orang pendatang.

Yogyakarta jika dibandingkan dengan provinsi yang lain memiliki

kekhususan tersendiri yaitu kota yangmenawarkan berbagai macam

hiburan serta pergaulan dari berbagai macam daerah serta budaya yang

beragam yang berbaur menjadi satu.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari

berbagai sisi kehidupan anakpunk di Yogyakarta yang dilihat dari

perspektif Ilmu Bimbingan dan Konseling. Keberadaan punk di setiap

komunitasnya di Yogyakarta sangat menarik diteliti untuk mengetahui

latar belakang, motivasi, dan tujuan mereka memasuki dan menggeluti

dunia punk.Selain itu untuk mengetahui seberapa luas pengetahuan

mereka tentang punk dan ideologi yang digunakan.

2. Deskripsi Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini sebelumnya telah ditentukan oleh

peneliti dengan rekomendasi temannya yang berperan sebagai

(54)

informan yang berjumlah 3 dan key informan 2. Informan yang dipilih

merupakan anak yang sudah menjadipunk minimal selama 2 tahun dan

berdomisili di Yogyakarta. Anak punk dilaporkan melalui informan dari

key informan.

Tabel 3. Profil Subyek

No Keterangan Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3

1 Nama ALX YN BB

2 Jenis kelamin Laki-laki Laki-laki Laki-laki

3 Alamat Wirobrajan Baciro Timoho

7 Status pernikahan Sudah

menikah

Belum

menikah

Belum

menikah

8 Status Pekerjaan Buruh Mahasiswa Nganggur

Dalam penelitian ini ditentukan 3 anak punk yang dianggap

mewakili dari bebarapa anak punk yang ada di kota

Yogyakarta.Diantaranya di daerah Wirobrajan, baciro, dan Timoho.

Alasan peneliti mengambil informan berbeda-beda tempat supaya

informasi yang didapat bervariasi.Peneliti menggunakan ALX sebagai

(55)

tersebut sangat besar dan direkomendasikan oleh temannya (AD) sebagai

keyinforman.Sedangkan peneliti menggunakan YN dan BB sebagai informan, dikarenakan kedua informan tersebut hasil rekomendasi (DR)

sebagai keyinformanyang dapat memberikan informasi, melengkapi, dan

mengklarifikasi kepada peneliti.Ketiga informan tersebut juga memenuhi

kriteria yang ditentukan oleh peneliti.Selanjutnya adalah profil singkat key

informan yang dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.Profil key Informan

No Keterangan Key Informan 1 Key Informan 2

1 Nama AD DR

2 Jenis Kelamin Laki-laki Laki-laki

3 Alamat Condong catur Seturan

4 Pekerjaan Mahasiswa Mahasiswa

5 Hubungan dengan

subyek

Teman Teman

Key informan I adalah AD, AD merupakan teman ALX semenjak AD kuliah di Yogyakarta.AD mengenal ALX karena waktu itu AD sering

berhubungan masalah produksi kaos dengan ALX, kebetulan AD juga

memproduksi kaospunk.AD sendiri mengetahui kegiatan-kegiatan ALX

selama menjadi punk dan lattar belakang ALX itu sendiri.Keyinforman II

yaitu DR, DR merupakan teman dari YN dan BB. DR mengenal

(56)

Berikut ini adalah profil subyek berdasarkan hasil wawancara dan

pengamatan yang dilakukan oleh peneliti.

a. Subjek 1: ALX

ALX usianya 36 tahun dan sudah menikah.Kesehariannya dia

memproduksi kaos-kaos punk, menyablon kaos untuk menghidupinya

dan keluarganya.ALX sudah mempunyai anak 1 laki-laki umur 5

tahun.Perawakan ALX berkulit sawo matang dan tingginya itu sendiri

kira-kira 175 cm. Rambutnya yang agak gondrong dan dia lebih suka

memakai pakaian gelap.ALX berdandanan mencolok sebagai punk

dengan jaketnya, celana dengan emblemnya, sepatunya. Dia juga

mempunyai tattoo salah satunya di lengan tangannya.

ALX awal mula menjadi punk pada saat dia duduk dibangku

SMP kelas 3 tepatnya sekitar tahun 1997.Ketika itu ALX melihat

segerombolan punk di jalan dan ikut nonton acara punk.Tidak lama

kemudian ALX kumpul dengan teman-teman punk lain dan

lama-kalamaan kenyamanan didapat ALX dengan punk itu sendiri.

Setelah menjadi punk selama 1 tahun tepatnya pada tahun 1998,

ALX membuat band punk bersama teman-temannya itu.Band punk itu

sendiri masih berjalan sampai sekarang dan terkenal di Jogja maupun

di luar Jogja.Anak punk Jogja yang mengaku punk pasti mengenal

band tersebut.Bandnya sering main di acara punk di Jogja bahkan luar

Jogja juga.ALX sering berkumpul dengan teman-temannya pada

(57)

adalah minum-minuman keras, bercerita dengan teman punk

lain.Dengan kegiatan malam minggunya bersama teman-teman punk

lainnya bisa melepas kepenatannyaALX juga sudah pernah masuk

penjara karena pergaulan bebasnya.

Sikap orang tua ALX pada awalnya tidak suka dengan sikap

ALX menjadi punk, karena dandanannya yang berubah. Tetapi ALX

menampik anggapan orang tuanya, dengan menjadi punk ALX tetap

bertanggung jawab, dengan menjadi punkcarahidupnya menemui

kenyamanan dan hidupnya lebih enak. Lama-kalamaan orang tuanya

bisa mengerti ALX dengan tersendirinya.Istrinya dan keluarga istrinya

juga menerima ALX sebagai punk dengan konsekuensi saya bisa

bertanggung jawab.

Tentang pemahaman agama ALX setelah atau sebelum menjadi

punk masih seperti dulu. ALX menganggap bahwa dia masih percaya dengan agamanya yaitu Islam dan Tuhannya yaitu Allah, walaupun di

sisi lain ibadahnya belum sempurna terlaksanakan atau sholatnya

masih bolong-bolong.

Tentang karirnya sekarang yang sebagai penyablon kaos dia

juga mensyukuri. Dia dari kecil tidak begitu penting memikirkan

karirnya nanti akan menjadi apa, karena menurut ALX yang lebih

penting dia lebih enak untuk menjalani hidup tanpa dipikirkan dan biar

(58)

Mengenai hubungan sosial itu sendiri,ALX mengatakan ketika

dibutuhkan masyarakat ALX tetap aktif, tetapi tidak usah mencari

muka agar dicap bagus. Dalam acara punk itu sendiri ALX sering

berkontribusi dengan penggalangan dana. Seperti acara 30 Maret 2014

kemaren di terminal kopi Babarsari, ALX dan teman-temannya

mengadakan acara punk dengan 100% hasil acara akan diserahkan

kepada teman-temannya yang di Kulon Progo yang lahan tempat

tinggalnya terkena pertambangan.

ALX sendiri termasuk jenis AnarchoPunk, karena ALX itu

orang yang sangat menutup diri terhadap orang yang tidak dikenal, dan

hidup di jalan selama waktu belum menikah mengajarkan arti

kekerasan.

b. Subjek 2: YN

YN mempunyai perawakan yang kurus, tingginya sekitar 170

cm dan memiliki umur 26 tahun. YN merupakan Mahasiswa semester

8 di Universitas terkenal di Yogyakarta. Dia berasal dari kota

Wonosobo Jawa tengah tetapi YN sudah di Jogja sejak duduk di

bangku SMP ikut tantenya. Selain kuliah YN juga hobinya bermain

gitar dan mendaki gunung. Rambutnya, gaya atau style yang

digunakan biasa aja, tidak begitu mencolok sebagai anak punk lainnya,

tetapi dia tetap suka memakai kaos yang gelap.

Di sisi lain dengan hobinya bermain gitar, YN juga mempunyai

(59)

band tersebut.Bandnya sering bermain ketika ada acara-acara punk

atau musik underground di Yogyakarta maupun luar Yogyakarta.

Awal mula YN menjadi punk itu sendiri ketika YN masih

duduk di bangku SMP kelas 3 mulai membaca buku tentang punk dan

berkeinginan tahu lebih luas tentang punk itu sendiri. Ketika itu

teman-teman SMP YN tidak terima ketika YN menjadi punk, karena menurut

teman-temannya, YN mendirikan bendera kekuasaan tersendiri di sisi

lain teman-temannya itu sebuah genk motor. YN di sekolahan sering di

pukulin akibat dia menjadi punkkarena tidak ikut dengan

teman-temannya.Tetapi YN bersikeras tidak ikut teman-temannya dan tetap

menjadi punk.Akhirnya teman-temannya lama kalamaan bisa

menerima YN sebagai punk.

YN sendiri suka minum-minuman keras dengan temannya

ketika berkumpul dengan teman-temannya, atau ketika acara punk. Di

sisi lain YN itu sendiri tidak mengkonsumsi rokok dari kecil sampai

sekarang. Dia menganggap lebih suka minum daripada merokok, tidak

semua peminum itu juga suka merokok. Banyak di luar negeri sana

orang peminum tetapi tidak mengkonsumsi rokok. Kalau tentang

freesex YN mengakuinya karena tidak mau dianggap munafik.Pasti hampir semua orang diseusianya dan di zaman sekarang pasti pernah

melakukan freesex.

Gambar

Tabel 1.Pedoman Observasi  No Aspek
Tabel 2.Pedoman Wawancara Mendalam (In depth Interview) Sub
Tabel 3. Profil Subyek  No Keterangan
Gambar 2.YN sebagai gitaris di bandnya
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah yang terjadi dilingkungan sekitar tentang keberadaan komunitas punk karena sekarang sudah mulai banyak anak yang mengikuti

Respon masyarakat terhadap keberadaan anak punk di Kecamatan Ujung Berung yaitu komunitas punk meresahkan masyarakat karena adanya perilaku menyimpang dan ketidaksesuaian norma

berbeda satu dengan yang lainnya karena itu merupakan gaya unik dari punk rock. Kebanyakan punk rock memiliki aransemen musik sederhana, lagu yang

Identitas Diri Anggota Komunitas Punk di Bandung, Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro [Jurnal]. Persepsi Masyarakat Terhadap Eksistensi Komunitas Punk di

Penulisan skripsi yang berjudul “Makna Simbolik dalam Komunitas Street Punk Gonzo”, berawal dari stigma negatif masyarakat terhadap komunitas Punk yang berada di Jalan Mandala

Generasi muda yang tergabung dalam komunitas punk merasa menemukan konsep dan pemikiran mereka terhadap gaya unik yang khas yang ditonjolkan mereka (Newkicks,

Sebagai manusia biasa dan makhluk sosial yang punya perasaan, komunitas anak punk memilih punk bukan untuk pelarian semata tapi pertahanan diri mereka terhadap serangan-serangan

Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa 1 proses perubahan perilaku anak punk di kota Bengkulu memiliki 4 proses dan disetiap informan memiliki proses yang berbeda, 2 penyebab