• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN KOMIK NEED FOR POWER SEBAGAI MEDIA LAYANAN BIMBINGAN PRIBADI BAGI SISWA KELAS VII SMP N 1 YOGYAKARTA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGEMBANGAN KOMIK NEED FOR POWER SEBAGAI MEDIA LAYANAN BIMBINGAN PRIBADI BAGI SISWA KELAS VII SMP N 1 YOGYAKARTA."

Copied!
190
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN KOMIK NEED FOR POWER SEBAGAI MEDIA LAYANAN BIMBINGAN PRIBADI BAGI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1

YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh Greda Isna Patria NIM 10104244026

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)

PERSETUJUAN

Skripsi yang berjudul“PENGEMBANGAN KOMIK NEED FOR POWER SEBAGAI MEDIA LAYANAN BIMBINGAN PRIBADI BAGI SISWA KELAS VII SMP

NEGERI 1 YOGYAKARTA yang disusun oleh Greda Isna Patria, NIM

10104244026 ini telah disetujui oleh dosen pembimbing untuk diujikan.

Yogyakarta, 25 Juni 2014 Dosen Pembimbing

(3)

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya sendiri.

Sepanjang sepengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau

diterbitkan oleh orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti tata

penulisan karya ilmiah yang telah lazim.

Tanda tangan dosen penguji yang tertera dalam halaman pengesahan adalah asli. Jika

tidak asli, saya siap menerima sanksi ditunda yudisium pada periode berikutnya.

Yogyakarta, 25 Juni 2014 Yang menyatakan,

(4)
(5)

MOTTO

Berbahagialah orang yang dapat menjadi tuan untuk dirinya, menjadi pemandu untuk

nafsunya, dan menjadi kapten untuk bahtera hidupnya.

(Saidina Ali)

Seorang pemimpin yang hebat, ketika dia dalam keadaan aman, dia tidak lupa bahwa

bahaya mungkin datang. Saat dia berada di puncak, dia tidak lupa bahwa kemungkinan

jatuh itu selalu mengintai. Ketika segalanya terasa damai, dia tidak lupa bahwa

kekacauan bisa saja terjadi.

(Confucius, Peribahasa Cina)

Seorang pemimpin yang enggan mengambil resiko, Anda tak akan pernah kalah. Tapi

tanpa berani menanggung resiko, Anda tak akan pernah menang.

(Richard Nixon)

Untuk bisa memimpin orang lain, menjadi ujung tombak di barisan terdepan, seorang

manusia harus mau dan berani maju sendirian.

(6)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini penulis persembahkan kepada:

1. Kedua orang tuaku tercinta, yang selalu memberikan segalanya yang terbaik

untukku dan yang menjadikanku terus bersyukur.

2. Almamaterku, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Psikologi

Pendidikan dan Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri

Yogyakarta.

(7)

PENGEMBANGAN KOMIK NEED FOR POWER SEBAGAI MEDIA LAYANAN BIMBINGAN PRIBADI BAGI SISWA KELAS VII SMP N 1

YOGYAKARTA Oleh Greda Isna Patria NIM 10104244026

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan komik tentang need for power sebagai media layanan bimbingan pribadi bagi siswa kelas VII SMP N 1 Yogyakarta.

Penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan prosedur pengembangan Borg and Gall yang meliputi penelitian awal dan pengambilan data, perencanaan, pengembangan prototipe produk, validasi ahli, uji coba produk awal, revisi hasil validasi ahli, uji coba lapangan utama, revisi uji coba lapangan utama, uji coba lapangan operasional dan revisi ahkir. Pada uji validasi terdapat dua ahli yang terlibat yaitu ahli materi yang mengerti tentang bimbingan pribadi dan ahli media yang mengerti tentang komik. Dalam penentuan subyek dilakukan dengan teknik random

sampling untuk jumlah subyek pada uji coba lapangan awal sebanyak 5 siswa, uji coba

produk lapangan utama sebanyak 15 siswa, sedangkan pada uji lapangan operasional sebanyak 30 siswa. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif.

Berdasarkan dari beberapa langkah penelitian yang sudah dilakukan, diketahui dari uji ahli media komik dinilai dengan persentase 76,92% yang dikategorikan sangat baik. Masukan yang diberikan adalah penataan pada layout. Hasil uji ahli materi, komik dinilai dengan persentase 66,4% yang dikategorikan baik. Masukan yang diberikan adalah penggantian judul pada cover komik. Hasil uji coba produk lapangan awal, komik dinilai 79,1%. Masukan yang diberikan penggantian cover komik dan penambahan warna pada cover. Hasil uji coba produk lapangan utama, komik dinilai dengan persentase 80,29% yang dikategorikan sangat baik. Masukan yang diberikan siswa cover masih kurang menarik dan mimik wajah tokoh masih kurang terlihat. Pada tahap uji lapangan operasional diperoleh persentase 76,37% yang dikatakan sangat baik. Masukan yang diberikan siswa adalah penambahan layanan bimbingan pribadi

nedd for power pada siswa.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan limpahan

karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi berjudul

Pengembangan Komik Need For Power Sebagi Media Layanan Bimbingan Pribadi Bagi Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Yogyakarta”.

Sebagai ungkapan syukur, penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh

pihak atas dukungan dan kerja sama yang baik secara langsung maupun tidak

langsung. Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:

1. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang telah memberikan

kesempatan untuk menjalani dan menyelesaikan studi.

2. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNY yang telah memfasilitasi kebutuhan

akademik selama penulis menjalani masa studi.

3. Ketua Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan yang telah membantu

kelancaran penyusunan skripsi.

4. Bapak Dr. Muh. Farozin, M. Pd. selaku dosen pembimbing yang telah

meluangkan waktu dan dengan sabar memberikan bimbingan serta masukan

kepada penulisselama penyusunan skripsi.

5. Seluruh dosen jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan UNY atas ilmu

yang bermanfaat selama penulis menyelesaikan studi.

6. Kepala SMP N 1 Yogyakarta yang telah memberikan ijin penelitian.

7. Ibu Dra. Endang Tri Zulaeini selaku guru BK SMP N 1 Yogyakarta atas

kerjasama dan bimbingan selama penulis melaksanakan penelitian.

8. Seluruh guru, staff TU, dan siswa kelas VII di SMP N 1 Yogyakarta atas

kerjasama dan bantuannya.

9. Kedua Orang tuaku tercinta, Bp. Sunyoto, B. E. dan Alm Ibu. Sri Mulyani,

S. Pd. yang tiada henti selalu memberikan dukungan moril maupun materil.

(9)

11. Berlita, Mitta, Sandi, Dady yang sering memberikan masukan dan semangat

selama mengerjakan skripsi.

12. Ryan Kristianto (kocang) yang telah membantu dalam pembuatan komik.

13. Teman-teman The B’Gundalz, teman The Big Boss, semua teman-teman B3 dan seluruh teman-teman-teman-teman angkatan 2010 BK UNY lainnya yang

telah banyak memberi tawa dan cerita.

14. Siska, Tomi, Murphy, Yati, Kindi sebagai teman satu bimbingan.

15. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang juga ikut

berperan dalam kelancaran penyusunan skripsi ini.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna.

Oleh karena itu penulis dengan senang hati menerima saran, komentar, dan kritik yang

membangun. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Amin.

Yogyakarta, 25 Juni 2014

(10)

DAFTAR ISI

hal

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 8

C. Batasan Masalah ... 9

D. Rumusan Masalah ... 9

E. Tujuan Penelitian ... 9

F. Spesifikasi Produk ... 10

G. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Need for Power ... 12

1. Pengertian Need for Power ... 12

2. Bentuk-bentuk Need for Power... 14

(11)

2. Bentuk-Bentuk Komik ... 27

3. Kelebihan dan Kekurangan Komik ... 29

a. Kelebihan Komik ... 29

b. Kekurangan Komik ... 32

4. Cara Membuat Komik ... 34

C. Bimbingan Pribadi ... 38

1. Pengertian Bimbingan Pribadi ... 38

2. Tujuan Bimbingan Pribadi ... 40

3. Bimbingan Pribadi dalam Bimbingan dan Konseling... 42

4. Implikasi Penggunaan Komik sebagai Media Bimbingan ... 46

D. Perkembangan Remaja... 47

1. Pengertian Remaja ... 47

2. Tugas Perkembangan Masa Remaja ... 48

3. Perkemabangan Emosi Remaja... 49

4.Perkembangan Sosial Remaja... 52

BAB III METODE PENELITIAN A. Prosedur Pengembangan ... 54

B. Tempat dan Waktu Pengembangan... 59

C. Uji Coba Produk ... 59

1. Desain Uji Coba ... 59

2. Subjek Uji Coba ... 61

3. Jenis Data ... 62

4. Instrumen Pengumpulan Data ... 63

5. Teknik Analisis Data ... 66

BAB IV HASIL PENGEMBANGAN A. Penelitian Awal dan Analisis Kebutuhan ... 70

B. Perencanaan ... 71

C. Pengembangan Produk... 72

1. Pra Penulisan... 72

2. Pembuatan Komik... 72

(12)

1. Hasil Uji Ahli Materi ... 74

2. Hasil Uji Ahli Media... 75

E. Uji Coba Lapangan Awal... 76

F. Revisi Produk Awal ... 77

1. Revisi Ahli Materi... 78

2. Revisi Ahli Media ... 79

G. Uji Coba Lapangan Utama... 80

H. Revisi Produk Uji Coba Lapangan Utama ... 82

I. Uji Lapangan Operasional ... 83

J. Revisi Produk Uji Lapangan Operasional... 84

K. Produk Akhir... 84

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 85

B. Saran ... 85

C. Keterbatasan Pengembangan ... 86

DAFTAR PUSTAKA ... 87

(13)

DAFTAR TABEL

hal

Tabel 1. Kisi-Kisi Angket Ahli Materi ... 63

Tabel 2. Kisi-kisi Angket Ahli Media... 65

Tabel 3. Kisi-Kisi Angket Siswa... 65

Tabel 4. Skala Penilaian ... 68

Tabel 5. Hasil Angket Uji Validasi Ahli Materi ... 74

Tabel 6. Hasil Angket Uji Validasi Ahli Media... 76

Tabel 7. Hasil Angket Uji Coba Produk Lapangan Awal ... 77

Tabel 8. Hasil Angket Uji Coba Produk Lapangan Utama ... 81

(14)

DAFTAR GAMBAR

hal

Gambar 1. Alur Prosedur Pengembangan Komik Need for Power bagi siswa

Kelas VII ... 58

Gambar 2. Cover Produk Awal ... 73

Gambar 3. Revisi Cover Ahli Media... 78

Gambar 4. Revisi Judul Komik... 78

Gambar 5. Revisi Kata Pengantar Pada Komik ... 79

Gambar 6. Revisi Desain Layout ... 79

Gambar 7. Revisi Mimik Wajah ... 80

Gambar 8. Revisi Cover Depan dan Belakang... 82

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

hal

Lampiran 1. Lembar Observasi... 92

Lampiran 2. Form Angket Validasi Ahli Materi... 94

Lampiran 3. Form Angket Validasi Ahli Media ... 99

Lampiran 4. Form Angket Siswa ... 105

Lampiran 5. Hasil Angket Validasi Ahli Materi ... 110

Lampiran 6. Hasil Angket Validasi Ahli Media ... 121

Lampiran 7. Hasil Angket Siswa Uji Coba Produk Lapangan Utama ... 128

Lampiran 8. Hasil Angket Siswa Uji Lapangan Operasional ... 144

Lampiran 9. Analisis Hasil Angket Validasi Ahli Materi... 160

Lampiran 10. Analisis Hasil Angket Validasi Ahli Media ... 161

Lampiran 11. Analisis Hasil Angket Siswa Uji Coba Produk Lapangan Utama.. 162

Lampiran 12. Analisis Hasil Angket Siswa Uji Lapangan Operasional ... 163

Lampiran 13. Buku Panduan Penggunaan Komik ... 164

(16)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Sejak lahir manusia adalah mahkluk hidup yang dikaruniai oleh

Tuhan dengan tiga macam kebutuhan yaitu kebutuhan primer, kebutuhan

sekunder, dan kebutuhan umum. Makan, rasa ingin tahu, dan berinteraksi

sosial merupakan beberapa contoh pemenuhan kebutuhan manusia untuk

bisa hidup di dunia. Kebutuhan juga diartikan sebagai sesuatu keadaan

internal yang meyebabkan hasil-hasil tertentu tampak menarik. Ketiga

kebutuhan tersebut harus bisa seimbang dalam memenuhi kebutuhannya

agar kelangsungan hidupnya terus menerus berjalan dengan baik.

Di era globalisasi ini manusia dituntut untuk mempunyai mobilisasi

yang sangat tinggi sehingga kebutuhan manusia menjadi meningkat.

Banyak para ahli meneliti tentang kebutuhan manusia salah satunya adalah

kebutuhan untuk berkuasa (n-pow). Menurut McClelland (1995: 254) need

for power merupakan kekuasaan menanamkan diri pada keinginan untuk

mempunyai pengaruh terhadap orang lain dan siapa saja yang diajak

berinteraksi.

Need for power identik dengan jiwa dari seorang pemimpin, segala

sesuatu untuk meraih tujuan pasti membutuhkan proses. Kepemimpinan

(17)

ini ditegaskan juga oleh Yukl (2010: 2) kepemimpinan adalah subjek yang

telah lama menarik perhatihan banyak orang. Ini memerlukan

keterampilan untuk membangun hubungan dengan orang lain dan

mengorganisir berbagai sumber daya secara aktif. Penguasaan

kepemimpinan ini terbuka oleh siapa saja.

Individu yang memiliki need for power cenderung suka mengikuti

kegiatan yang memiliki tingkat persaingan tinggi. Salah satu contoh yang

menunjukkan need for power tinggi adalah kompetisi olahraga. Dengan

berolahraga menunjukan bahwa kebutuhan terhadap kekuasaan di sekolah

para siswa laki-laki adalah sangat berhubungan dengan keunggulan dalam

olahraga seperti futsal, bola basket, atau voli, dimana terdapat semacam

persaingan saling berhadap-hadapan. Menurut Suaramedia (2008: 336)

terdapat dua manfaat yang didapat dari kegiatan olahraga yang kompetitif,

diantaranya Anak-anak belajar untuk aktif dan belajar begaimana

bekerjasama dalam sebuah tim dan merasa percaya diri terhadap

kemampuan diri mereka.

Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mengambil

momentum maju ke depan. Momentum inilah yang membantu seseorang

mampu mengatasi rintangan. Dengan pembekalan keterampilan

kepemimpinan bagi anak-anak, memberikan kesempatan bagi mereka

untuk dapat meningkatkan kecakapan hidup dan menunjukkan bakat dan

(18)

Namun kenyataannya akhir-akhir ini di Indonesia mengalami krisis

kepemimpinan. Para pemimpin di Indonesia cenderung menonjolkan

popularitas daripada kompetensi. Banyak kasus yang menimpa para

pemimpin di Indonesia dari kasus korupsi sampai kasus asusila yang

menodai kepemimpinan di Indonesia. Sehingga masyarakat tidak lagi

menemukan karakter kepemimpinan yang bisa memajukan bangsa ini.

Di era teknologi informasi yang semakin maju, rakyat bisa

mengamati dan menilai track record para pemimpin. Sebagai contoh,

baru-baru ini bangsa Indonesia digemparkan kasus korupsi impor daging.

Ada juga kasus korupsi yang banyak menyeret para pemimpin.

Kasus wisma atlet Hambalang yang menyeret mantan Menpora, dan

mantan ketua umum sebuah partai. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

menemukan kerugian yang dialami negara karena kasus Hambalang

berkisar kurang lebih mencapai Rp 10 Miliar. Menurut juru bicara KPK

dalam (solopos.com, 2012) dugaan sementara KPK negara mengalami

kerugian sekitar Rp 10Miliar untuk anggaran 2010. Akan tetapi

perhitungan tersebut akan ditindak lanjut lagi supaya lebih sempurna

dengan perhitungan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sampai

sekarang masih melakukan audit investigasi proyek yang menjerat banyak

para pejabat negara yang terlibat dengan pembangunan Hambalang.

(19)

Aditya Dananjaya (2012), juga memaparkan kasus dugaan korupsi

dalam pengadaan simulator SIM dimenangkan oleh PT Citra Mandiri

Metalindo Abadi melalui tender akan mengadakan 700 simulator motor

dengan nilai mencapai Rp. 54,453 Miliar dan 552 buah simulator mobil

dengan nilai Rp. 142,415 Miliar pada tahun 2011 lalu. Kemudian KPK

menyelidiki dengan mengumpulkan beberapa bukti dari berbagai sumber

informasi sehubungan adanya dugaan suap terhadap pemimpin tertinggi

Polri dengan dugaan penggelembungan harga dari simulator tersebut. Pada

tanggal 27 Juli 2012 KPK menaikan kasus ini secara resmi dan

menetapkan petinggi di kepolisian sebagai tersangka, dan pada tanggal 30

Juli 2012 KPK menggeledah kantor Korlantas Polri. Suap juga dikabarkan

mengalir ke sejumlah anggota Korlantas hingga pejabat Kepolisian.

Namun, penggeledahan tidak berjalan mulus dikarenakan dari pihak

Bareskrim menghalangi proses penggeledahan dan KPK juga tidak bisa

membawa barang bukti.

Sekarang ini kepercayaan yang diberikan rakyat untuk para pejabat

seakan-akan langka atau bahkan hilang karena ulah mereka yang sering

membuat kecewa jutaan rakyat Indonesia. Jika kita melihat dari segi

materi, mereka adalah orang yang sangat mampu karena mereka

mendapatkan fasilitas-fasilitas yang sangat teristimewa dari negara yang

tak lain dari uang hasil keringat rakyat. Dengan melihat fasilitas-fasilitas

yang istimewa mereka masih belum bisa menjadi karakter pemimpin yang

(20)

Dengan melihat dari bukti-bukti yang terdapat di atas, masyarakat

sudah merasa jenuh dengan kelakuan para pemimpin yang tidak bisa

mengemban amanah dari rakyat untuk manjadikan negara ini menjadi

negara yang baik. Masyarakat di Indonesia hanya bisa melihat dan duduk

manis dan berharap hukum yang akan menyelesaikan dan mengadili

mereka para pejabat yang korup.

Jika ini dibiarkan terus menerus mau di bawa kemana negara

Indonesia yang katanya negara besar jika para pemimpinnya memiliki

moral yang tercela. Sudah saatnya kita bisa belajar dari kesalahan dan

mulai berbenah. Seorang pemimpin mempunyai jiwa melayani dan

mempunyai rasa tanggung jawab supaya bisa diandalkan. Pemimpin yang

melayani adalah pemimpin yang mau mendengar. Mau mendengar impian,

tujuan, kebutuhan, dan harapan dari mereka yang dipimpin.

Pemimpin muncul bukan dari jabatan dan pangkat, pemimpin

muncul dari dalam diri setiap manusia yang ingin menjadi pemimpin baik

untuk dirinya sendiri, keluarga, lingkungan, dan negara.

Pada dasarnya setiap manusia memiliki potensi menjadi seorang

pemimpin. Mengembangkan keterampilan memimpin sejak dini akan

dapat membantu anak dalam menetapkan landasan yang kuat untuk

mencapai tujuan hidupnya. Dengan keterampilan kepemimpinan tersebut

(21)

Menurut data yang ada di lapangan, peneliti merasa prihatin

dengan karakter diri dan moral para pemimpin yang tidak bisa mengemban

amanah dan belum bisa menyalurkan aspirasi rakyat Indonesia. Disini

peneliti ingin menanamkan nilai-nalai need for power sejak dini dengan

menggunakan sebuah komik yang dapat mengatasi problem-problem.

Dengan menggunakan media komik dapat manarik minat siswa untuk

mudah memahami betapa pentingnya belajar kepemimpinan untuk masa

depan. Dengan melihat adanya potensi setiap individu memiliki jiwa

pemimpin, peneliti ingin menanamkan jiwa need for power pada siswa

SMP. Kepemimpinan harus diajarkan, ditingkatkan dan diasah sejak dini.

Berdasarkan indikator need for power yang ada, gejala yang

muncul pada siswa adalah pada pemilihan ketua Organisasi Siswa Intra

Sekolah (OSIS). Disini banyak siswa hanya berdiam diri saja dan tidak ada

kemauan dalam diri mereka sendiri untuk mencalonkan dirinya sendiri

menjadi ketua OSIS di sekolah. Siswa masih belum bisa mengambil

keputusan karena takut bersaing dengan teman-temannya.

Peneliti mencoba melakukan wawancara dan observasi di SMP N

1 Yogayakarta dalam pemberian materi tentang kepemimpinan, guru

bimbingan dan konseling masih menggunakan bimbingan klasikal. Dari

hasil wawancara dan observasi dengan guru bimbingan dan konseling,

siswa kurang antusias bila materi disampaikan secara klasikal karena

(22)

sering berbuat gaduh sendiri dan merasa bosan untuk mendengar

penjelasan dari guru bimbingan dan konseling. Guru bimbingan dan

konseling juga sesekali menggunakan media bimbingan yang berupa

leaflet, akan tetapi antusias siswa masih kurang karena leaflet hanya

menyajikan tulisan yang sangat banyak dan bergambar tapi hanya

beberapa gambar yang disajikan.

Dari hasil wawancara dengan beberapa siswa juga mengungkapkan

mereka merasa bosan dengan cara mengajar yang klasikal karena sulit

mengikutinya. Jika sudah ketinggalan dalam memeperhatikan guru yang

berbicara di depan kelas mereka biasanya bicara sendiri dengan temannya

dan membuat gaduh. Sehingga materi guru bimbingan dan konseling yang

disampaikan tidak sampai ke siswa secara maksimal.

Hasil dari observasi pada saat istirahat siswa banyak yang suka

membaca di depan kelas mereka masing-masing. Kebanyakan mereka

membaca komik-komik kesukaan mereka yang mereka bawa dari rumah

dan ada juga yang membaca novel dan buku-buku pelajaran yang akan

diajarkan selanjutnya. Peneliti mencoba bertanya yang suka membaca

komik, Menurut mereka komik adalah bacaan yang mudah dipahami dan

mereka bisa mengerti alur cerita yang digambarkan dikomik tersebut. Ada

(23)

Berkaitan dengan hal tersebut, diperlukan media bimbingan yang

mudah dimengerti khususnya anak SMP N 1 Yogyakarta. Media tersebut

adalah media yang dapat mengatasi problem-problem di atas dan dapat

menarik minat siswa untuk mengarahkan dan membimbing siswa supaya

bisa lebih baik. Salah satu media yang dimaksud adalah komik yang

bertampilan gambar yang menarik yang berisi bimbingan agar siswa

mudah memahami isi dan makna bimbingan yang ada didalamnya. Siswa

yang sedang memasuki pada masa remaja awal, biasanya mereka lebih

suka bacaan yang bergambar dan menarik dan mudah dimengerti sehingga

media komik sangat cocok untuk media bimbingan anak SMP. Dengan

kemauan yang timbul dalam dirinya sendiri tentunya dengan sendirinya

mereka bisa menyerap bimbingan yang diperoleh dan sebagian besar akan

terekam dalam ingatannya.

Komik sebagai media bimbingan dapat dikembangkan dalam

pelaksanan bimbingan pribadi. Komik dijadikan media bimbingan yang

efektif sehingga siswa akan tertarik membacanya tanpa harus dibujuk dan

merasa bosan mendengarkan uraian bimbingan yang disampaikan guru.

Penyampaian pesan-pesan bimbingan pribadi melalui media komik dapat

menarik minat siswa. Hal ini mengingat kelebihan komik sebagai media

grafis yang memiliki karakteristik sebagai berikut: sederhana, jelas, mudah

dan bersifat personal (Ahmad Rohani, 1997: 77).

Atas dasar latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan

(24)

bentuk komik dengan penelitian yang berjudul “Pengembangan Komik

Need For Power Sebagai Media Layanan Bimbingan Pribadi Bagi Siswa

Kelas VII di SMP Negeri 1 Yogyakarta”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka

permasalahan yang mucul dan akan dibahas dalam penelitian ini adalah:

1. Kurangnya penanaman jiwa need for power sejak dini sebagai krisis

kepemimpinan.

2. Banyaknya kegiatan organisasi di sekolah masih kurang menunjukan

adanya kebutuhan terhadap kekuasaan.

3. Masih kurangnya variasi dalam media pembelajaran untuk layanan

bimbingan khususnya bimbingan pribadi

4. Belum adanya media komik untuk layanan bimbingan khususnya

layanan bimbingan pribadi.

C. Batasan Pengembangan

Agar penelitian ini lebih terarah, maka pengembangan media komik

yang difungsikan sebagai media penelitian ini dibatasi pada:

Peneliti mengangkat materi bimbingan pribadi tentang pengembangan

komik need for power sebagai media layanan bimbingan pribadi pada

siswa kelas VII di SMP 1 Yogyakarta dengan tema olahraga.

(25)

komik tentang need for power dapat sebagai media layanan bimbingan

khususnya bimbigan pribadi?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian dalam

penelitian ini yaitu menyusun komik need for power yang mengangkat tema

olahraga sebagai bentuk pelaksanaan media layanan bimbingan.

F. Spesifikasi Produk

Produk yang diharapkan dalam penelitian ini terdapat spesifikasi

berikut :

1. Produk yang dihasilkan berupa komik berwarna bagian cover, gambar

komik hitam putih, dan terdapat cerita yang berkaitan dengan bimbingan

pribadi tentang need for power bertemakan olahraga.

2. Di dalam penelitian ini peneliti membuat comic book yaitu komik

berbentuk buku berisikan suatu cerita dan memiliki halaman-halaman

yang juga mempunyai informasi komersil dan tentang biografi komikus.

3. Komik berukuran A5 dan tersaji dengan 20 halaman.

G. Manfaat Penelitian

Pengembangan media komik need for power sebagai media layanan

bimbingan pribadi ini diharapkan mempunyai manfaat secara teoritis dan

praktis yaitu:

1. Secara Teoritis

a. Menyumbangkan pengembangan media Bimbingan dan Konseling

(26)

b. Menyumbangkan layanan bimbingan pribadi dengan pengembangan

materi need for power yang bertema olahraraga untuk perkembangan pribadi para siswa dalam bentuk media komik.

2. Secara Praktis

a. Bagi siswa, membantu siswa untuk memperoleh pengalaman belajar

dan membangkitkan need for power dalam diri siswa.

b. Bagi guru bimbingan dan konseling, sebagai media untuk

menyampaikan bimbingan pribadi kepada siswa.

c. Bagi peneliti selanjutnya, bisa dijadikan bahan pertimbangan

(27)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Need For Power

1. Pengertian Need For Power

Tingkah laku seseorang timbul karena adanya

kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi. Salah satu kebutuhan-kebutuhannya adalah

kebutuhan berkuasa (need for power). Kebutuhan berkuasa dibutuhkan

manusia karena adanya keterbatasan dan kelebihan tertentu pada

manusia. Seseorang yang memiliki kemampuan lebih tersebut

kemudian ditunjuk sebagai orang yang bisa dipercaya untuk mengatur

orang lainnya.

Menurut Mc Clelland (Safaria Triantoro, 2004: 180) need for

power adalah kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku dalam

suatu cara dimana orang-orang itu tanpa dipaksa tidak akan

berperilaku demikian atau suatu bentuk ekspresi dari individu untuk

mengendalikan dan mempengaruhi orang lain. Ahli lain juga

mempunyai pemikiran mendefinisikan kekuasaan adalah kemampuan

membuat orang lain melakukan apa yang diinginkan oleh pihak

lainnya Gibson (1997: 480).

Pendapat lain yang menguatkan pendapat dua ahli diatas bahwa

kekuasaan digunakan untuk menjelaskan kapasitas absolut seseorang

untuk mempengaruhi perilaku atau sikap seseorang pada satu waktu

(28)

sebagai kemampuan menyeluruh orang lain untuk mengerjakan sesuatu

yang diinginkan sesuatu itu mungkin bukan pekerjaan yang mereka

suka lakukan. Maka kekusaan pada dasarnya adalah ketrampilan antar

pribadi yang kuat (Buhler, 2004: 310). Sedangkan menurut Miftah Toha

(2006: 331) mendefinisikan kekuasaan sebagai suatu potensi pengaruh

dari seorang pemimpin. Ini merupakan sumber yang memungkinkan

seorang pemimpin mendapatkan hal untuk mengajak atau

mempengaruhi orang-orang lain. Reksohadiprodjo, Sukanto, dkk (2001:

125) juga memiliki gagasan tentang kekuasaan yang diartikan sebagai

kemampuan untuk mempunyai pengaruh. Mempunyai kekusaan berarti

mempunyai kemampuan untuk mengubah perilaku atau sikap

individu-individu lain.

Setelah mengetahui pengertian need for power dari para ahli

diatas, maka peneliti ingin membatasi pengertian motivasi berkuasa

adalah sebuah dorongan kebutuhan untuk memiliki kekuasaan.

Kepemimpinan menurut Danim Sudarwan (2004: 55-56) adalah setiap

tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk

mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain

yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan

yang telah ditetapkan sebelumnya. Kepemimpinan terkadang dipahami

(29)

hubungannya dengan pekerjaan para anggota kelompok. Seseorang

yang menaruh respek pada seorang pemimpin, mangamati apa yang

diperbuat pemimpin sehingga mampu mengetahui siapa sebenarnya

pemimpin tersebut. Hal senada juga dikemukakan oleh Bernadie R

Wirjana dan Susilo Supardo (2005: 17) kepemimpinan segala hal yang

dilakukan pemimpin yang membuat tujuan organisasi tercapai dan

kemudian membawa kesejahteraan bagi para anggotanya. Dominasi

dalam kepemimpian berupa penguasaan mayoritas dalam kelompok.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa need for power atau kebutuhan akan kekuasaan

adalah keinginan untuk mempunyai pengaruh dengan siapa ia

melakukan interaksi dan kemampuan membuat orang lain

mengerjakan sesuatu yang diinginkan untuk mencapai suatu tujuan

bersama. Untuk menjadi pemimpin yang berkuantitas dan berkualitas

jiwa kepemimpinan harus diajarkan sejak dini khususnya pada siswa

kelas VII SMP 1 Yogyakarta.

2. Bentuk Need For Power

McClelland (1995: 258) membagi need for power menjadi dua,

yaitu kebutuhan kekuasaan pribadi dan sosial, selengkapnya akan

diuraikan sebagai berikut:

a. Kekuasaan pribadi

Kekuasaan pribadi ditandai oleh cara ketundukan kekuasaan.

(30)

yang efektif dengan alasan bahwa orang semacam itu cenderung

memperlakukan orang-orang lain sebagai alat agar tujuan

pribadinya dapat tercapai.

b. Kekuasaan sosial

Kekuasaan sosial menitik beratkan pada perhatian pada

tujuan-tujuan kelompok, untuk mencapai tujuan-tujuan-tujuan-tujuan tersebut yang akan

menggerakkan orang-orang, untuk membantu kelompok dan

mencari inisiatif yang baik agar tujuan dapat tercapai. Pemimpin

memberikan anggota kelompok perasaan mampu membangkitkan

semangat agar anggota bekerja keras dalam mencapai tujuan.

Berdasarkan dua macam kebutuhan akan kekuasaan, yaitu

kebutuhan kekuasaan pribadi dan sosial, pada penelitian ini yang ingin

ditingkatkan adalah kebutuhan kekuasaan sosial. Hal ini dikarenakan

kebutuhan kekuasaan sosial memliki tujuan mempengaruhi orang lain

guna kepentingan kelompok, meggerakkan anggota untuk ikut bekerja

agar tujuan kelompok dapat tercapai. Sedangkan kebutuhan pribadi

lebih menganggap anggota sebagai alat untuk mencapai tujuan

pribadi, kekuasaan pribadi juga dipandang negatif. Hal ini diperjelas

kembali oleh Lathuns (2005: 273) bahwa kekuasaan sosial yang

merupakan karakteristik pemimpin yang efektif ditujukan untuk

(31)

Fiedler (Rivai, 2006: 70) mengemukakan suatu pendekatan

terhadap kekuasaan yang menyatakan bahwa semua kepemimpinan

tergantung pada keadaan atau situasi. Kekuasan situasional,

kepemimpinan harus didasarkan pada hasil analisis terhadap situasi

yang dihadapi pada suatu saat tertentu dan mengidentifikasikan

kondisi anggota yang dipimpinnya.

Pendapat lain tentang bentuk need for power ditambahkan oleh

Kartini Kartono (2006: 81-87) menjadi enam, yaitu :

a. Paternalis

Kepemimpinan paternalis menganggap bahwa anggotanya sebagai

orang yang belum bisa dewasa atau bisa dikatakan sebagai anak

sendiri yang perlu dikembangkan. Pemimpin jarang memberikan

kesempatan kepada anggotanya untuk mengambil keputusan

sendiri dan sulit untuk berinisiatif.

b. Militeristis

Kekuasaan militeris meggunakan sistem perintah/komando

terhadap anggotanya sehingga kepatuhan mutlak untuk para

anggotanya. Pemimpin menuntut adanya disiplin keras dan tidak

memberlakukan saran, usul, dan kritikan-kritikan dari bawahan

sehingga jalur komunikasinya hanya berlangsung searah saja.

c. Otokratis

Kekuasaan otokratis itu mendasarkan diri pada kekuasaan dan

(32)

sebagai pemain tunggal karena berambisi sekali merajai situasi.

Setiap perintah dan kebijakan ditetapkan tanpa berkonsultasi

dengan anggotanya. Para anggota tidak pernah diberi informasi

mendetail mengenai rencana dan tindakan yang harus dilakukan.

Semua pujian dan kritik terhadap segenap anggota diberikan atas

pertimbangan pribadi sendiri.

d. Laissez faire

Pada kepemimpinan laissez faire pemimpin tidak memikirkan

kelompoknya berbuat semaunya sendiri. Disini pemimpin tidak

berpartisipasi sedikitpun dalam kegiatan kelompoknya. Tanggung

jawab harus dilakukan oleh para anggotanya sendiri.

Kepemimpinan ini biasanya diperoleh melalui penyogokan,

suapan atau berkat sistem nepotisme.

e. Populis

Kekuasaan polpulis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat

yang tradisional. Juga kurang mempercayai dukungan kekuatan

serta bantuan dari pihak asing. Kepemimpinan jenis ini

mengutamakan nasionalisme.

f. Demokratis

Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia, dan

(33)

Berdasarkan pengertian di atas, peneliti memilih kekuasaan

yang demokratis. Kekuasan secara demokratis semuanya terlibat aktif

dalam penentuan sikap, pemecahan masalah, dam pembuatan

rencana-rencana. Pemimpin yang demokratis mempunyai fungsi katalisator

untuk mempercepat kerja sama demi pencapaian tujuan organisasi

dengan cara yang paling cocok dengan jiwa kelompok dan situasinya.

French dan Raven ( Garry Yukl 2010: 174) juga menjelaskan

tentang berbagai bentuk kekuasaan. Ada lima bentuk kekuasaan

sebagai berikut :

a. Kekuasaan memberi penghargaan (Reward power)

Persepsi dari seseorang bahwa pemimpin mempunyai kendali

terhadap sumber daya yang penting dan penghargaan yang

diinginkan orang tersebut. Disini pemimpin menawarkan jenis

penghargaan yang diinginkan angagota kelompok tersebut dan

jangan memberikan janji lebih dari yang akan diberikan.

Berikanlah penghargaan sesuai janji yang telah disepakati

berasama.

b. Kekuasan yang memiliki legitimasi (Legitimate Power)

Seseorang patuh karena mereka percaya bahwa pemimpinnya

memiliki hak untuk memerintah dan seseorang wajib untuk

mematuhinya.Pemimpin melakukan permintaan harus dengan cara

(34)

yang memiliki legitimasi harus dibuat dengan tegas dan dengan

cara meyakinkan.

c. Kekuasaan memaksa (Coercive Power)

Seseorang patuh terhadap perintah untuk menghindari hukuman

yang dilakukan oleh pemimpin. Kekuasaan memaksa diterapkan

dengan cara mengancam atau memberikan peringatan kepada

anggota kelompok bahwa dia akan mendapatkan konsekuensi

yang tidak menyenangkan jika tidak segera melaksanakan tugas

dari pemimpin.

d. Kekuasaan berdasarkan Keahlian (Expert Power)

Seseorang patuh karena mereka percaya bahwa pemimpinnya

memiliki pengetahuan khusus mengenai cara menyelesaikan suatu

pekerjaan. Kekuasaan berdasarkan ahli diterapkan jika anggota

kelompok mendapatkan kesulitan dalam menjalini permintaan

yang diberikan oleh pemimpin.

e. Kekuasaan berdasarkan Referensi (Referent Power)

Seseorang patuh karena mereka mengagumi atau mengenal

pemimpinnya dan ingin mendapatkan persetujuan dari

pemimpin.Kekuasaan berdasarkan referensi biasanya pemimpin

memberikan permintaanya kepada anggota yang bersahabat,

(35)

Dari lima bentuk di atas, peneliti hanya menggunakan bentuk

kekuasaan berdasarkan keahlian (Expert Power) karena seorang

pemimpin memiliki pengetahuan yang unik mengenai cara terbaik

mengatasi atau menyelesaikan masalah yang tidak dimengerti anggota

kelompoknya. Pengetahuan khusus dan keterampilan teknis akan

menjadi sumber kekuasaan jika para anggota kelompoknya tidak

mengerti atau belum menguasai tentang permasalahan yang dihadapi.

Dalam kekuasann berdasarkan ahli pemimpin menjadi sunber

informasi dan tempat bertanya yang sangat diandalakan.

Berdasarkan berbagai uraian penjelasan di atas mengenai

bentuk-bentuk kekuasaan, di dalam penelitian ini peneliti memilih

menggunakan kekuasaan demokrasi dan kekuasan berdasarkan

keahlian. Hal ini dikarenakan bentuk kepemimipinan ini, pemimpin

dan anggotanya bisa bertukar pikiran dan bekerja sama untuk

mencapai tujuan bersama.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Need For Power

Iskandar Zulriska (2008: 1) menyebutkan bahwa faktor yang

mempengaruhi need for power ada dua yaitu faktor internal dan

eksternal, selengkapnya adalah sebagai berikut:

a. Faktor Internal

Individu cenderung merasa kurang puas terhadap apa yang

(36)

diri mencari posisi untuk memimpin mengembangkan kemampuan

yang dimiliki.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah yang berasal dari lingkungan, seorang

yang berkuasa akan dihargai dan dihormati oleh lingkungan

sekitar. Dengan demikian banyak orang mengejar kedudukan demi

mendapatkan penghargaan dari lingkungan.

Dua faktor di atas sangat berpengaruh terhadap peningkatan

need for power, seseorang yang telah memeliki kedudukan, akan terus

berusaha untuk melangkah ketingkat yang lebih tinggi lagi dengan

mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimilikinya, hal ini

dikarenakan setiap individu membutuhkan tempat untuk

mengaktualisasikan diri. Selain itu setiap orang membutuhkan

penghargaan atas apa yang didapatkan dari orang lain, dengan

menjadi pemimpin seseorang akan dihargai dan dihormati oleh

lingkungan sekitar, dan kerja keras yang dilakukan selama ini untuk

memajukan kelompokakan dihargai oleh orang lain. Hal ini akan

menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap individu jika

pengembangan need for power dapat sesuai dengan peningkatan

kualitas pribadi secara produktif, saling ,menghargai dan

(37)

Sedangkan Maxwell (Diyah Puspitarini: 2008) menjelaskan

bahwa need for power seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor,

yaitu:

a. Pendidikan, sejauh mana tingkat pendidikan yang ditempuh karena

hal ini berpengaruh dengan penguasaan wawasan dan

pembangunan visi seorang pemimpin dalam mencapai tujuan.

b. Pengalaman, yaitu perjalanan hidup yang pernah mengalami

menjadi pemimpinan sangat berpengaruh, baik kemampuan dalam

menghadapi hambatan dan kondisi di lapangan.

c. Lingkungan, yaitu kondisi lingkungan dan interaksi antar personal

didalamnya memberikan pengaruh terhadap perluasaan jaringan

dan keterbukaan pola pikir pemimpin dalam memimpin.

d. Keluarga, yaitu dukungan yang penuh dari anggota keluarga dan

pemberian kondisi yang nyaman sangat memungkinkan

mendorong seseorang untuk menjadi pemimpin.

Contor (1998: 48) juga memiliki pemikiran tentang

faktor-faktor mempengaruhi terhadap need for power yaitu :

a. Personal, faktor yang paling kuat adalah agresif kreatif, perhatian

yang lebih pada pengambilan inisiatif terhadap suatu kondisi

tertentu, kekuatan dalam menyatakan sikap, dan kemampuan

memimpin orang lain.

b. Keluarga, dukungan dari keluarga merupakan faktor paling

(38)

pola pendidikan dalam keluarga menjadi pembentukan karakter

yang kuat dan kokoh.

c. Pendidikan, jenjang pendidikan yang telah ditempuh berbanding

lurus dengan penguasaan terhadap informasi yang teraktual serta

kemajuan dalam mengembangkan visi dan misi untuk mencapai

tujuan.

d. Pengalaman masa kecil, pola pengasuhan sampai dengan prestasi

seseorang dalam memimpin semisal menjadi ketua osis

memberikan kepercayaan diri yang bisa menjadi kekuatan dalam

mengarahkan mencapai tujuan.

Dari beberapa uraian beberapa, need for power tidak bisa

dimunculkan begitu saja. Ada tahap-tahap proses pembelajaran dalam

kepemimpinan sudah dimulai ketika masih dini dan tentunya

peran-peran orang yang ada disekitar dan lingkungan sekitar sangat

mendukung.

4. Ciri-ciri Need For Power

Motif kekuasaan dapat muncul kapan saja, banyak cara yang

dilakukan individu untuk mendapatkan kekuasaan dan memperlihatkan

bahwa ia memiliki motif berkuasa. Individu yang didorong oleh

kebutuhan untuk berkuasa yang tinggi akan nampak tingkah laku

(39)

a. Mengumpulkan barang-barang bergengsi atau menjadi anggota

suatu perkumpulan yang dapat mencerminkan prestise.

b. Mengikuti kegiatan yang penuh persaingan/kompetitif.

c. Sangat aktif mengikuti organisasi dimana ia berada.

Seiring berjalannya waktu, banyak penelitian yang dilakukan

mengenai motif berkuasa. Salah satunya penelitian yang dilakukan

oleh Winter (1987: 42) yang menggambarkan ciri-ciri individu yang

memiliki need for power adalah sebagai berikut:

a. Kuat, tindakan-tindakan penuh semangat yang berpengaruh pada

orang lain memaksa, usaha untuk meyakinkan atau

mempengaruhi, menolong orang lain, dan usaha untuk mengawasi

dan mengendalikan.

b. Tindakan-tindakan yang serta merta muncul membangkitkan

emosi yang kuat pada orang lain.

c. Memusatkan perhatian pada reputasi dan prestis.

Peningkatan kualitas manusia melalui pengembangan pribadi

dapat dihindari dan lebih menekankan pada motif kekuasaan

sosial.

Iskandar Zulriska (2008: 1) mengemukakan beberapa ciri

seseorang dikategorikan memliki need for power, diantaranya:

a. Memiliki kesenangan dalam menasehati orang lain

b. Memberikan opini atau penilaian.

(40)

d. Berbicara lancar dan banyak bicara

Berdasarkan beberapa pendapat mengenai ciri-ciri motif

berkuasa yang dimiliki individu, maka dapat disimpulkan motif

berkuasa memiliki dua pandangan, yang bersifat positif dan negatif.

Motif berkuasa dianggap positif apabila bersifat sosial, dengan kata

lain berusaha mempengaruhi orang lain agar tujuan kelompok dapat

tercapai, sedangkan motif berkuasa dianggap negatif apabila bersifat

pribadi, mempengaruhi orang lain demi kepenyingan pribadinya.

Berkaitan dengan dua pandangan motif berkuasa, pada penelitian ini

ingin ditingkatkan motif berkuasa yang bersifat sosial. Dengan

demikian dapat disimpulkan komponen yang terdapat dalam need for

power sosial ditandai dengan:

a. Mengikuti kegiatan yang penuh persaiangan/kompetitif

b. Aktif mengikuti organisasi dimana ia berada

c. Berusaha untuk meyakinkan atau mempengaruhi

d. Senang menasehati orang lain

e. Senang memberikan opini dan penilaian

f. Komunikasi yang efektif

B. Komik

1. Pengertian komik

(41)

diterbitkan dalam rangka tujuan komersial yang sifatnya tidak mendidik

dan mengarahkan pembaca kepada hal-hal yang terlalu imajinatif

dibanding komik-komik yang bertujuan untuk mendidik. Penggunaan

media komik dalam pendidikan di sekolah masih sangat jarang dijumpai.

Padahal jika dikaji lebih dalam, banyak hal-hal positif yang dapat

dimanfaatkan dalam media komik.

Untuk pertama kalinya komik berasal dari Negara Yunani. Kata

“komik” berasal dari kata “komikos”. Yowenus wenda (2009: 21)

mengatakan komik adalah suatu bentuk kartun yang mengungkapkan

karakter dan memerankan suatu cerita dalam urutan yang eret

dihubungkan dengan gambar dan dapat dirancang untuk memberikan

hiburan kepada para pembaca. Hal yang senada juga dipaparkan oleh

Nana Sudjana dan Ahmad Rifai (2002: 64) yang mendefinisikan komik

adalah cerita bergambar yang mudah dicerna dan lucu untuk menghibur

semua orang. Boneff (2008: ix) berpendapat komik adalah sastra

bergambar.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan

media komik adalah suatu cerita bergambar yang berisi urutan-urutan

gambar yang dilengkapi naskah dan alur cerita yang dirancang untuk

memberikan hiburan atau menyampaikan informasi kepada pembaca.

Disini peneliti membuat komik sebagai media bimbingan untuk siswa

SMP kelas VII SMP 1 Yogyakarta

(42)

2. Bentuk-Bentuk Komik

Secara garis besar menurut Trimo (Nur Mariyanah, 2005: 25)

media komik dapat dibedakan menjadi dua yaitu komik strip (comic

strip) dan buku komik (comic book).

a. Comic strip

Menurut Trimo (Nur Mariyanah, 2005: 25) komik strip adalah suatu

bentuk komik yang terdiri dari beberapa lembar bingkai kolom yang

dimuat dalam suatu harian atau majalah, biasanya disambung

ceritanya. Pendapat lain juga memaparkan komik strip adalah jenis

komik yang selalu terbit harian atau mingguan yang mempunyai

susunan beberapa panel atau kolom saja. Di Indonesia komik strip

sebagai komik yang pertama kali terbit pada tahun 1930 berupa

komik humor karya Kho Wang Gie (Boneff, 2008: 9). Hal yang

senada juga dipaparkan oleh Sungkono dan Eko (1992: 6) komik

strip adalah suatu bentuk komik yang dimuat dalam bentuk jalur,

diterbitkan berkala secara mingguan ataupun harian.

Dari uraian pendapatan di atas dapat disimpulkan komik strip

adalah gambar yang disusun dan mempunyai alur cerita yang

singkat. Isi dari cerita komik strip tidak hanya selesai begitu saja

bahkan bisa juga menjadi cerita bergambar berseri/bersambung.

(43)

b. Comic book

Menurut Trimo (Nur Mariyanah 2005: 25) dimaksud buku comic

book adalah suatu komik yang berbentuk buku. Sependapat dengan

pengertian di atas comic book adalah jenis komik berkemaskan

komik berbentuk buku, yang berisi satu cerita dan biasanya memiliki

informasi komersial (seperti agen penjualan komik, kuis tentang

komik, dan juga informasi komik edisi lain) dan ada juga pengenalan

komikus (Boneff, 2008: 9). Sungkono dan Eko (1992: 6) juga

berpendapat yang senada comic book adalah suatu komik yang

diterbitkan secara terberkas menjadi seperti buku.

Dari beberapa pendapat ahli yang di atas maka dapat

disimpulkan comic book adalah komik cerita pendek, yang biasanya

dikemas dalam buku komik yang berisikan cerita dan diterbitkan

secara terberkas menjadi satu buku.

Dipandang dari segi isi, komik terbagi dalam beberapa jenis, yaitu:

a. Komik kocak, yang isinya lucu dan penuh humor

b. Komik petualangan, yang isinya mengandung petualangan

c. Komik fantasi, yang isinya fiksi dalam ilmu pengetahuan

d. Komik sejarah, yang isinya berdasarkan hal-hal yang telah

dipakai dalam sejarah, termasuk hal-hal yang dianggap sebagai

sejarah

e. Komik nyata dan klasik, yang isinya menceritakan kembali

(44)

3. Kelebihan dan Kekurangan Komik

Sebagai salah satu media visual media komik memiliki

kelebihan dan kekurangan, selengkapnya adalah sebagai berikut:

a. Kelebihan Komik

Komik tentunya memiliki kelebihan tersendiri jika dimanfaatkan

dalam kegiatan belajar mengajar. Kelebihan media komik dalam

kegiatan belajar mengajar menurut Trimo (Nur Mariyanah, 2005:

26), dinyatakan:

1) Komik menambah pembendaharaan kata-kata pembacanya

2) Mempermudah anak didik menangkap hal-hal atau rumusan

yang abstrak

3) Bila mendapat bimbingan yang baik, dapat mengembangkan

minat baca anak dari suatu pengetahuan

4) Pada sebagian gambar cerita, bila seluruh jalan ceritanya

ditelusuri pada hakekatnya menuju satu hal yakni kebaikan atau

studi yang lain

5) Gambar cerita (komik) justru melatih daya imajinasi anak

sehingga sejalan dengan salah satu tujuan pendidikan yaitu agar

kelak menjadi anak yang kreatif.

Peranan pokok dari komik dalam pendidikan adalah

(45)

dilakukan. Penggunaan komik yang dipadukan dengan bimbingan dan

metode mengajar guru dapat menjadikan komik sebagai media

bimbingan yang efektif. Pemakaiannya yang luas dengan ilustrasi

berwarna, alur cerita yang ringkas, dan perwatakan orang yang realistis

dapat menarik semua siswa dari berbagai usia (Nana Sudjana dan

Ahmad Rifai, 2002: 68).

Ahmad Rohani (1997: 77) juga mengungkapkan kelebihan lain

dari komik yang antara lain: sederhana, jelas, mudah, dan bersifat

personal. Elizabeth Hurlock (1999: 338) juga mengungkapkan beberapa

kelebihan dari komik yang menjadikan komik sangat disukai

anak-anak, antara lain adalah:

1) Komik menarik imajinasi anak dan rasa ingin tahu

2) Gambar dalam komik cukup sederhana untuk dimengerti

3) Melalui identifikasi karakter di dalam komik, anak

mendapatkesempatan yang baik untuk mendapat wawasan

mengenai masalah pribadi dan sosialnya

4) Komik mudah dibaca dan dipahami, bahkan anak yang kurang

mampu membaca dapat memahami arti dari gambarnya

5) Komik memberi pelarian sementara dari hiruk pikuk hidup

sehari-hari

6) Komik tidak mahal

(46)

Berdasar beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa

beberapa kelebihan media komik antara lain yaitu:

1) Gambar cerita (komik) memiliki unsur sederhana, jelas, mudah

dimengerti dan dapat menambah pembendaharaan kata bagi

pembaca

2) Mempermudah peserta didik menangkap hal-hal atau rumusan

yang bersifat abstrak

3) Bila mendapat bimbingan yang baik, komik justru akan

mengembangkan minat baca dari suatu bidang pengetahuan

4) Penggunaan komik yang dipadukan dengan bimbingan dan

metode mengajar guru dapat menjadi komik sebagai media

bimbingan yang efektif

5) Melalui identifikasi karakter di dalam komik, anak mendapat

kesempatan yang baik untuk mendapat wawasan mengenai

masalah pribadi dan sosialnya

6) Gambar cerita (komik) justru melatih daya imajinasi anak

sehingga sejalan dengan salah satu tujuan pendidikan yaitu agar

kelak menjadi anak yang kreatif

7) Komik memberi pelarian sementara dari hiruk pikuk hidup

sehari-hari sehingga dapat menghibur dan memberi rasa

(47)

b. Kekurangan Media Komik

Media komik selain mempunyai kelebihan juga memiliki

kelemahan dan keterbatasan kemampuan dalam hal-hal tertentu.

Menurut Trimo Sudjono (1997: 21) dalam kelemahan media komik

antara lain:

1) Kemudahan orang membaca komik membuat malas membca

sehingga menyebabkan penolakan-penolakan atas buku-buku

yang tidak bergambar

2) Ditinjau dari segi bahasa komik hanya menggunakan kata-kata

kotor ataupun kalimat-kalimat yang kurang dapat

dipertanggungjawabkan

3) Banyak aksi-aksi yang menonjolkan kekerasan ataupun tingkah

laku yang sinting (perverted)

4) Banyak adegan percintaan yang menonjol

Adapun argumen yang menentang komik menurut Hurlock

(1999: 399) adalah:

1) Komik mengalihkan perhatian anak dari bacaan lain yang lebih

berguna

2) Karena gambar menerangkan cerita, anak yang kurang mampu

membaca tidak berusaha membaca teks

3) Terdapat sedikit atau bahkan tidak ada kemajuan pengalaman

membaca dalam komik

(48)

5) Cerita yang berkaitan seks, kekerasan, dan ketakutan terlalu

merangsang dan sering menakutkan anak

6) Konflik menghambat anak melakukan bentuk bermain lainnya

7) Dengan menggambarkan perilaku antisosial, komik mendorong

timbulnya agresivitas dan dan kenakalan remaja

8) Komik menjadikan kehidupan sebenarnya membosankan

terhadap orang-orang dan ini mendorong timbulnya prasangka

Berdasar beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan

bahwa beberapa kekurangan media komik antara lain:

1) Kemudahan orang membaca komik membuat malas membaca

sehingga menyebabkan penolakan-penolakan atas buku-buku

yang tidak bergambar.

2) Terdapat sedikit atau bahkan tidak ada kemajuan pengalaman

membaca dalam komik.

3) Cerita yang berkaitan dengan seks, kekerasan, dan ketakutan

terlalu merangsang dan serig menakutkan anak.

4) Komik menghambat anak melakukan bentuk bermain lainnya.

5) Komik menjadikan kehidupan sebenarnya membosankan dan

tidak menarik.

6) Komik menimbulkan stereotipe terhadap orang-orang dan

(49)

4. Cara Pembuatan Komik

(Megha, 2013) Ada beberapa teknik dasar dalam pembuatan

komik, diantaranya :

a. Penentuan Proporsi

Tujuannya untuk mempermudah dalam menentukan postur tubuh

sebuah tokoh, biasanya konsep porsi ini menggunakan pola

proporsi tubuh untuk membuat contoh-contoh awal dan

menentukan akan seperti apakah bentuk badan si tokoh tersebut

nantinya.

b. Ekspreksi Wajah

Cara yang paling mudah dalam langkah ini adalah dengan melihat

wajah kita sendiri di cermin dan menggambarkannya. Emosi dari

sebuah tokoh juga dapat diekspresikan dalam bentuk gerak tubuh,

contohnya dengan mengepalkan tangan sebagai tanda menahan

marah, atau tersenyum lebar sebagai tanda bahagia.

c. Eksyen

Eksyen adalah perpaduan antara emosi wajah dan porsi sebuah

tokoh komik yang ditambah dengan gerakan, dengan tujuan agar

pembaca dapat mendeskripsikan adegan dalam komik.

d. Balon Kata

Balon kata adalah kolom percakapan atau kalimat dalam sebuah

komik. Balon kata punya pengaruh besar dalam sebuah

(50)

kreatif dalam mendesain balon kata. Terkadang bentuknya

disesuaikan sebagaimana fungsinya, entah itu untuk narasi,

keterangan tempat, bunyi-bunyian, hingga seruan.

e. Frame

Frame adalah garis batas pada panel-panel adegan komik.

Bentuknya tidak harus kotak, karena tujuannya adalah sebagai

pembatas antara gambar satu cerita ke gambar cerita yang lain.

f. Style

Style penggambaran komik/karakter ini biasanya datang secara

alamiah dari tangan seorang komikus.

(Zesy Aditya, 2013) juga berpendapat bahwa komik memiliki

gambar-gambar yang sedemikian menarik sehingga pembaca akan

menjadi penasaran tentang kelanjutan ceritanya. Untuk membuat

komik ada beberapa cara membuat komik, yaitu :

a. Tentukan karakternya, karakter merupakan pelaku atau tokoh

utama yang memerankan suatu cerita. Tanpa tokoh, komik akan

menjadi gambar pemandangan.

b. Tentukan wataknya, watak adalah ciri utama dari setiap karakter.

c. Carti tema, tema adalah faktor yang menentukan para pembaca.

Biasanya tema action mayoritas peminatnya laki-laki, sedangkan

(51)

d. Buat ceritanya, buat cerita sebagai patokan untuk langkah

selanjutnya. Buatlah cerita yang mudah dipahami dan menarik

pembaca.

e. Tuangkan dalan gambar, mulailah menggambar sesuai cerita yang

telah dibuat.

(Cucu Supiandi, 2004) mempunyai pendapat tentang cara-cara

pembuatan komik yang baik dan benar sebagai berikut :

a. Panel

Setiap gambar objek atau unsur-unsur komik biasanya dibingkai

oleh garis pembatas yang membedakan antara obyek gambar

kesatu, kedua, dan seterusnya oleh panel. Bentuk panel pada

umumnya berbentuk segi empat, akan tetapi pada

perkembangannya panel ini banyak bermunculan bentuk-bentuk

baru sesuai keinginan dan kreasi dari komikus dalam

menggambarkan nuansa ceritanya

b. Narasi

Dalam cerita komik biasanya ada bagian-bagian yang kurang

efektif apabila semuanya harus digunakan. Narasi ini biasanya

menerangkan waktu, tempat, dan situasi. Narasi ditulis dalam

sebuah kotak yang disebut kotak narasi.

c. Gang

Gang atau yang disebut juga parit yaitu jarak antara panel satu

(52)

d. Sound lettering (anomatope)

Kata anomatope berasal dari kata anamatopoeia. Didalam ilmu

bahasa berarti formasi kata pelukis bunyi-bunyi. Dalam dunia

komik, anomatopei biasanya dimanfaatkan sebagai elemen

pendukung komunikasi maupun estetika.

e. Simbol visual

Penggunaan simbol dalam komik pada dasarnya memiliki tujuan

untuk menyampaikan pesan dalam bentuk lain dengan tujuan agar

pembaca memiliki kesan terhadap apa yang ditampilkan.

f. Efek balon kata

Selain unsur-unsur diatas penggunaan balon kata sangat penting

dalam pembuatan komik, hal ini penting karena balon kata

menggambarkan dan mencerminkan keadaan serta emosi yang

ada pada saat pembicaraan dilakukan mengenai tingkat kekerasan

maupun kelembutan dapat digambarkan dengan penggunaan

balon kata.

Dari paparan teori di atas, peneliti memakai cara dalam

pembuatan komik yaitu :

a. Penentuan proporsi, Tujuannya untuk mempermudah.

b. dalam menentukan postur tubuh sebuah tokoh.

(53)

pembuatan panel tergantung komikus yang membuat asalkan

pembaca mengerti dan memahami alur ceritanya.

d. Narasi cerita, narasi digunakan untuk menerangkan waktu,

tempat, atau kejadian yang tidak bisa diterangkan antar dialog.

Biasanya dibuat kotak untuk narasi sendiri.

e. Gang (jarak antara panel satu dengan yang lain) supaya panel satu

dengan yang lain tidak bertabrakan.

f. Tentukan karakter/tokoh, penentyan karakter adalah hal paling

penting dalam pembuatan komik. Karakter/tokoh merupakan

pelaku atau tokoh utama yang memerankan suatu cerita. Tanpa

tokoh, komik hanya gambar pemandangan.

g. Eksyen, perpaduan antara emosi wajah dan gerakan tokoh komik,

dengan tujuan agar pembaca dapat mendeskripsikan adegan

dalam komik.

h. Balon kata, percakapan atau kalimat dalam sebuah komik. balon

kata menggambarkan dan mencerminkan keadaan serta emosi

yang ada pada saat pembicaraan dilakukan mengenai tingkat

kekerasan maupun kelembutan dapat digambarkan dengan

penggunaan balon kata.

C. Bimbingan pribadi

1. Pengertian Bimbingan Pribadi

Bimbingan pribadi adalah salah satu bidang bimbingan yang

(54)

bimbingan pribadi. Dewa Ketut Sukardi (1995: 2) mengemukakan

pendapatnya, bimbingan pribadi merupakan usaha bimbingan, dalam

menghadapi dan memecahkan masalah pribadi, seperti menghadapi

konflik dan penyesuaian diri. Hal ini juga senada dengan perngertian

bimbingan pribadi yang dikemukakan oleh Syamsu Yusuf dan A.

Juntika Nurihsan (2005: 11) yang mengungkapkan bimbingan pribadi

adalah bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan

masalah-masalah pribadi. Yang tergolong dalam masalah-masalah

pribadi adalah hubungan dengan sesama teman, orang tua,

permasalahan sifat dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan

lingkungan pendidiakan dan masyarakat tempat mereka tinggal dan

penyelesaian konflik.

Sependapat dari dua para ahli diatas Abu Ahmadi (1991: 109)

mengemukakan pendapatnya tentang bimbingan pribadi bahwa :

“bimbingan pribadi adalah seperangkat usaha bantuan kepada siswa

agar dapat menghadapi sendiri masalah-masalah pribadi yang dialaminya, mengadakan penyesuaian pribadi, kegiatan rekreatif yang bernilai guna, serta berdaya upaya sendiri dalam memecahkan masalah-masalah pribadi, rekreasi dan sosial yang dialaminya”.

Inti dari pengertian bimbingan pribadi yang dikemukakan oleh

abu ahmadi adalah bimbingan pribadi yang diberikan kepada pribadi,

agar dapat dan mampu memecahkan permasalahan pribadi secara

(55)

seorang yang berkompeten dibidang bimbingan dan konseling kepada

individu atau kelompok, dalam membantu individu untuk menghadapi

dan memecahkan masalah-masalah pribadi.

2. Tujuan Bimbingan Pribadi

Menurut Syamsu Yusuf dan A.juntika Nurihsan (2005: 14)

tujuan dari bimbingan pribadi yaitu sebagai berikut:

a. Memilki sikap toleransi terhadap umat beragama lain dengan

saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya

masing-masing.

b. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara obyktif dan

konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun

kelemahan, baik fisik maupun psikis.

c. Memiliki kemampuan melakukan pilihan secara sehat.

d. Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk

komitmen terhadap tugas dan kewajiban.

e. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalah, baik bersifat

internal maupun dengan orang lain.

f. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

g. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial, diwujudkan dalam

bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silahturahmi

(56)

h. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau

menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga

dirinya.

i. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai

keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik

dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman

sebaya, sekolah, tempat kerja maupun masyarakat pada umumnya.

j. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang

lain.

Tohirin (2007: 125) juga menegaskan tujuan bimbingan pribadi

adalah agar individu mampu mengatasi sendiri masalah yang dia

hadapi, dan juga mampu mengambil sikap sendiri yang meyangkut

keadaannya sendiri.

Didalam buku petunjuk pelaksanaan bimbingan dan konseling

(Depdikbud, 2008: 198) terdapat tujuan bimbingan pribadi sebagai

berikut :

a. Memiliki kesadaran diri, menggambarkan penampilan dan

mengenai kekhususan yang ada pada dirinya.

b. Dapat mengembangkan sikap positif.

c. Membuat pilihan secara sehat.

(57)

g. Memiliki rasa tanggung jawab.

h. Mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi.

Berdasarkan dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan

bahwa tujuan bimbingan pribadi adalah untuk membantu atau

membimbing siswa dalam menemukan, memahami dan memecahan

masalah pribadi siswa, serta dapat mengembangkan kemampuan

siswa tersebut dapat melakukan penyesuaian dengan norma yang ada

disekelilingnya.

3. Bimbingan Pribadi dalam Bimbingan dan Konseling

Pendidikan yang bermutu merupakan salah satu unsur penting

dalam perkembangan suatu bangsa. Pandangan mengenai pendidikan

yang bermutu menurut Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan (2010:

4) ialah Pendidikan yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan

utamanya secara sinergi yaitu bidang administratif dan kepemimpinan,

bidang instruksional dan kurikuler serta pembinaan siswa atau

Bimbingan dan Konseling.

Pengertian bimbingan sendiri menurut Uman Suherman (2007:

10) adalah proses bantuan kepada individu (konseli) sebagai bagian

dari program pendidikan yang dilakukan oleh tenaga ahli (konselor)

agar individu (konseli) mampu memahami dan mengembangkan

potensinya secara optimal sesuai dengan tuntutan lingkungannya.

Hampir sama dengan pendapat di atas Syamsu Yusuf dan A. Juntika

(58)

helping yang identik dengan “aiding, assisting, atau availing,” yang berarti bantuan atau pertolongan. Pendapat lain yang mengemukakan

penegrtian bimbingan adalah Shertzer dan Stone (dalam Syamsu Yusuf

dan A. Juntika Nurihsan 2009: 6) bimbingan merupakan proses

pemberian bantuan kepada individu agar mampu memahami diri dan

lingkunganya. Jadi dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa

bimbingan merupakan proses pemberian bantuan kepada individu,

supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga ia

sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar sesuai

dengan tuntutan dan kadaan lingkungannya.

Sementara itu pengertian konseling menurut Uman Suherman

(2007: 16) mengartikan konseling sebagai salah satu hubungan yang

bersifat membantu agar klien dapat tumbuh ke arah yang dipilihnya

juga agar dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.

Pendapat lain yang mengungkap konseling adalah Syamsu Yusuf dan

A. Juntika Nurihsan (2009: 45), konseling adalah proses helping atau

bantuan dari konselor (helper) kepada konseli, baik melalui tatap muka

maupun media (cetak maupun elektronik, internet atau telepon), agar

klien dapat mengembangkan potensi dirinya atau memecahkan

masalahnya, sehingga berkembang menjadi seorang pribadi yang

(59)

hubungan yang bersifat membantu. Makna bantuan di sini yaitu

sebagai upaya untuk membantu orang lain agar ia mampu tumbuh

kearah yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang

dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam

kehidupannya.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan

dan konseling merupakan proses pemberian layanan bantuan dalam

upaya mencapai perekembangannya yang optimal, melalui interaksi

yang sehat dengan lingkungannya.

Bimbingan dan konseling sendiri memiliki tujuan menurut

Winkel dan Hastuti (2010: 32-36) tujuan bimbingan dan konseling

yaitu agar individu yang dilayani mampu menghadapi semua tugas

perkembangan hidupnya secara sadar dan bebas, mewujudkan

kesadaran dan kebebasan itu dalam membuat pilihan-pilihan secara

bijaksana, serta berhasil mengatur kehidupannya sendiri secara

bertanggunga jawab. Sementara itu menurut Syamsu Yusuf dan A.

Juntika Nurihsan (2009: 7-9) tujuan bimbingan dan konseling adalah

mencapai perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai

tentang kehidupan yang baik dan benar serta mampu mengadakakan

perubahan perilaku pada diri konseli sehingga memungkinkan

hidupnya lebih produktif dan memuaskan.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa

(60)

mampu menghadapi semua tugas perkembangan hidupnya, mampu

mengambil keputusan yang penting bagi dirinya, serta bertanggung

jawab terhadap akibat dari tindakan-tindakannya.

Dilihat dari masalah individu, ada empat jenis bimbingan yaitu

bimbingan akademik, bimbingan pribadi, bimbingan sosial, dan

bimbingan karir. Terkait dengan program pemberian layanan bantuan

kepada peserta didik (siswa) dalam upaya mencapai perkembangannya

yang optimal.

Bimbingan dan konseling pribadi merupakan proses bantuan

untuk memfasilitasi siswa agar memiliki pemahaman tentang

karakteristik dirinya, kemampuan mengembangkan potensi dirinya,

dan memecahkan masalah-masalah yang dialaminya (SyamsuYusuf

dan A. Juntika Nurihsan, 2009: 53). Sementara itu pendapat lain yang

mengungkap bimbingan dan konseling pribadi yaitu Syamsu Yusuf

dan A. Juntika Nurihsan (2009: 11) bimbingan dan konseling pribadi

merupakan bimbingan untuk membantu

Gambar

Tabel 1. Kisi-Kisi Angket Ahli Materi ................................................................
Gambar 1. Alur prosedur pengembangan media komik need for power bagi siswakelas VII
Tabel 1. Kisi-kisi Angket Ahli Materisub
Tabel 3. Kisi-kisi Angket Siswa
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga, penelitian bertujuan memperoleh deskripsi mengenai profil gambaran umum landasan hidup religius remaja muslim dan merumuskan layanan bimbingan pribadi

Skripsi dengan judul tingkat kepuasan peserta didik kelas VII SMP N 1 Banyuasin III terhadap layanan bimbingan klasikal selama masa pandemi covid-19 ini disusun

Sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu meningkatkan komunikasi antarpribadi melalui layanan bimbingan kelompok pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Watukumpul

Pengembangan Produk.. Pengembangan komik moral bagi siswa SMP dilakukan dengan langkah berikut. 1) Mengidentifikasi Kebutuhan Pada tahap ini yang dilakukan adalah

Judul skripsi : Survei pemanfaatan waktu luang dan implikasinya bagi layanan bimbingan pribadi pada siswa kelas VIII B SMP Swasta Diakui Adhyaksa 2 Kupang tahun pelajaran

Simpulan hasil penelitian ini terjadi peningkatan kepekaan sosial setelah diberi layanan bimbingan kelompok teknik experiential learning pada siswa kelas VII F SMP N 5

A. Penelitian Awal dan Pengumpulan Informasi Peneliti memulai dengan melakukan wawancara dengan guru BK SMP Muhammadiyah 1 Godean untuk mengalisis kebutuhan

Berdasarkan kenyataan tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul,”Pengaruh bimbingan pribadi terhadap perkembangan konsep diri siswa kelas VII SMP N