• Tidak ada hasil yang ditemukan

msil DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "msil DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian"

Copied!
229
0
0

Teks penuh

(1)

m S I L DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum Daerah Penelitian

Hasil analisis indikator-indikator sosial-ekonomi makro terpilih, sebagai penentu perubahan perilaku sosial, dan ekonomi petani Q pedesaan adalah: jumlah rumah tangga pertanian, jumlah rumah tangga pertanian pengguna lahan (PPL) yang h a n g dari 0,50 ha, nilai tukar petani (NTP) kontribusi sektor pertanian terhadap "product domestic bruto " dan jumlah penduduk, Qsajikan dalam Tabel 4.1.

Tabel 4.1. InQkator-inQkator makro sosial ekonomi di Provinsi Jawa Timur, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat OIJTB)

Keterangan: RTP = Rumah tangga petani satuan RTP, jumlah RTP Indonesia x 100 RTP, dan Jawa Timur x !O RTP; angka dalarn kurung dalarn % (BPS, 1983; 1993); PL= Penguasaan lahan pertanian dibawah 0,5 ha, satuan % (BPS, 1983; 1993); PPL = Rumah tangga pertanian pengguna

lahan satuan %; NTP = Nilai tukar petani (BPS, 97; 98; 99; 00; Mulyono, 2001); PDRB = Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB satuan % (BPS, 98); PDDK = Jumlah penduduk x

(2)

Indonesia

Pada tahun 1983, selutar 21,20 juta rumah tangga (65,70 %) dan jumlah total rumah tangga di Indonesia bekerja di sektor pertanian dan 91, 98 % di antaranya terdiri atas rumah tangga pertanian pengguna lahan (PPL) (BPS, 1983). Berdasarkan hasil sensus pertanian 1993, jumlah rumah tangga pertanian di Indonesia selutar 21, 70 juta atau selutar 58, 37 % dari total rumah tangga dan 97,OO % di antaranya terdiri atas rumah tangga pertanian pengguna lahan (BPS, 1993). Dalam kurun waktu sepuluh tahun, jumlah rumah tangga pertanian menwun 7,33 %, tetapi jumlah rumah tangga pertanian pengguna lahan (PPL) meningkat dari 91,98 % pada tahun 1983, menjadi 97,OO % pada tahun 1993. Informasi tersebut menggambarkan bahwa sebagan besar rurnah tangga pertanian di pedesaan, menekuni usaha pertanian yang berbasis lahan, baik lahan sawah maupun lahan kering.

Data tersebut di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk telah menekan sektor pertanian dari waktu ke waktu. Dalam kwun waktu sepuluh tahun jumlah rumah tangga pertanian yang menguasai lahan kurang dari 0, 50 ha, meningkat dari 36,67 % pada tahun 1983, menjadi 5 1,41 % pada tahun 1993. Penyempitan penguasaan lahan pertanian berpengaruh pada kualitas interaksi antara petani dengan lahannya atau pertambahan penduduk menekan petani

untuk

menyesuaikan strategi adaptasinya agar tetap bertahan hidup.

Proviusi Jawa Timur

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa faktor produksi utarna sektor pertanian 1

Jawa Timur adalah lahan pertanian. Berdasarkan hasil pendaftaran rumah tangga sensus pertanian 1993 tercatat 7,11 juta rurnah tangga dan 59,70 % di antaranya terdiri atas rurnah tangga pertanian. Dari jumlah rumah tangga pertanian tersebut 96,17 % adalah rumah tangga PPL. Dalam kurun waktu 10 tahun rumah tangga pertanian meningkat 4,44 % dan rumah tangga petani pengguna lahan meningkat

(3)

9,38 % (BPS Jatim, 1993). Hal ini mengakibatkan rasio lahan dengan rurnah tangga pertanian semakin kecil. Kecilnya rasio lahan dengan petani ditambah dengan peningkatan kuantitas dan kualitas kebutuhan petani, secara sinergs memaksa petani mengubah strateg adaptasinya untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas kehidupan keluarganya.

Dengan meningkatnya jumlah rumah tangga PPL dalam kurun waktu 10 tahun, menyebabkan peningkatan jumlah rumah tangga pertanian yang menguasai lahan pertanian kurang dari 0,50 ha, yaitu dan 60,67 % pada tahun 1983 menjadi 68,98 % pada tahun 1993. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata penguasaan lahan pertanian m e n m

dan

0,59 ha pada tahun 1983, menjadi 0,48 ha pada tahun 1993. Informasi-infonnasi ini memberikan gambaran tentang peningkatan beban sektor pertanian dalam perekonomian di pedesaan Provinsi Jawa Timur. Hal ini mempengaruhi perilaku sosial ekonomi dan kualitas kehidupan para petani.

Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan petani. Nilai tukar petani di Jawa Timur dari tahm 1995-1999 nilainya di atas 100, tetapi pada tahun 2000, NTP Jawa Timur turun di bawah 100 (BPS, 1999). Hal ini menunjukkan p e n m a n tingkat kesejahteraan petani di Jawa Timur. Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB di Jawa Timur berkisar 15,OO-18,OO % dalam kurun waktu lima tahun, sedangkan jumlah rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian berlusar 59,lO %. Hal ini mengindikasikan produktivitas sektor pertanian relatif lebih rendah dan produktivitas sektor lain atau telah te ja& ketimpangan produktivitas antar sektor. Kondisi seperti ini menarnbah kompleksitas pennasalahan yang hams dipecahkan

untuk

meningkatkan harkat dan martabat para petani. Dengan keterbatasan sumberdaya yang dlkuasai oleh para petani, salah satu jalan untuk meningkatkan harkat dan martabat para petani adalah melalui upaya peningkatan kualitas sumberdaya petaninya sendiri.

(4)

Provinsi Lampung

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa faktor produksi utama sektor pertanian di Lampung adalah lahan pertanian. Berdasarkan hasil pendaftaran rumah tangga sensus pertanian 1993 tercatat 1,34 juta rumah tangga dan 72,24 % di antaranya adalah rumah tangga pertanian. Dari rumah tangga pertanian tersebut 99,49 % adalah rumah tangga pertanian pengguna lahan (PPL). Kalau hasil sensus pertanian 1983 (ST 83) dibandingkan dengan hasil sensus pertanian 1993 (ST 93), dalam kurun waktu 10 tahun, rumah tangga pertanian meningkat sekitar 33,68 % dan rumah tangga PPL meningkat 1,23 % (BPS Lampung, 1993). Hal ini mengakibatkan rasio lahan dengan rurnah tangga pertanian semakin kecil, walaupun tidak sekecil Provinsi Jawa Timur. Kecilnya rasio lahan dengan petani ditambah dengan peningkatan kuantitas dan kualitas kebutuhan petani secara sinergs memaksa petani mengubah strategi adaptasinya untuk dapat memper- tahankan dan meningkatkan kualitas kehidupan keluarganya.

Peningkatan jumlah rumah tangga PPL dalam kurun waktu 10 tahun, menyebabkan peningkatan jumlah rumah tangga pertanian yang menguasai lahan kurang dari 0,50 ha yaitu dari 20,13 % pada tahun 1983 menjadi 23,18 % pada tahun 1993. Rata-rata penguasaan lahan pertanian menurun dari 1,28 ha pada tahun 1983, menjadi 1,15 ha pada tahun 1993. Informasi-informasi ini memberikan gambaran tentang peningkatan beban sektor pertanian dalam perekonomian di pedesaan Lampung. Hal ini mempengaruhi perilaku sosial, ekonomi dan kualitas kehidupan para petani.

NTP merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan petani. NTP di Provinsi Lampung clan tahun 1995-200 1, selalu berada dibawah 100 (BPS, 1999). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani di Lampung relatif rendah dan terus menurun sejak 1999. Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB di Lampung berkisar 30,OO-35,OO % dalam kurun waktu lima tahun, sedangkan jurnlah rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian berkisar 72,lO %. Hal ini

(5)

menginddcasikan produktivitas sektor perZanian relatif lebih rendah dari

produktivitas sektor lain atau telah terjadi ketimpangan produktivitas antar sektor. Kondisi seperti ini menambah kompleksitas per masdahan yang hams dipecahkan untuk meningkatkan harkat dan martabat para petani. Dengan keterbatasan sumberdaya yang dikuasai oleh para petani, salah satu jalan untuk meningkatkan harkat dan martabat para petani adalah melalui upaya peningkatan kualitas sumberdaya petaninya sendiri.

Provinsi Nusa Tenggara Barat

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa faktor produksi utama sektor pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah lahan pertanian. Berdasarkan hasil p e n d a k a n rumah tangga sensus pertanian 1993 tercatat 804700 rumah tangga dan 55,19% di antaranya adalah rumah tangga pertanian. Dari rumah tangga pertanian tersebut 95,71 % terdiri atas rumah tangga PPL. Kalau hasil sensus pertanian 1983 (ST 83) dibandingkan dengan hasil sensus pertanian 1993 (ST 93),

dalam kurun waktu 10 tahun rumah tangga pertani- an menurun sekitar 5,75%, tetapi rumah tangga PPL meningkat 21,68 % (BPS NTB, 1993). Hal ini mengakibatkan rasio lahan dengan rumah tangga pertanian semalun kecil. Kecilnya rasio lahan dengan petani ditambah dengan peningkatan kuantitas dan kualitas kebutuhan petani secara sinergis memaksa petani mengubah strategi adaptasinya untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas kehdupan keluarganya.

Dengan meningkatnya jumlah rumah tangga PPL dalam

kurun

waktu 10 tahun, menyebabkan peningkatan jumlah rumah tangga pertanian yang menguasai lahan kurang dari 0,50 ha yaitu dan 4439 % pada tahun 1983 menjah 51,54 % pada tahun 1993. Informasi-informasi ini memberikan gambaran tentang peningkatan beban sektor pertanian dalam perekonomian di pedesaan Provinsi

(6)

Nusa Tenggara Barat. Hal ini mempengaruhi perubahan perilaku sosial ekonomi

dan kualitas kehidupan para petani.

NTP sebagai salah satu indkator tingkat kesejahteraan petani, di Nusa Tenggara Barat dari tahun 1995-2001 terus meningkat sampai dengan tahun 2997 (BPS, 1999). Sejak tahun 1998, NTP Nusa Tenggara Barat mulai menurun sampai di bawah 100 pada tahun 2001. Hal ini menunjukkan penurunan tingkat kesejahteraan petani di Provinsi Nusa Tenggara Barat dimulai sejak tahun 1998. Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB di Nusa Tenggara Barat berkisar 35,OO-36,OO % dalam kurun waktu lima tahun, sedangkan jumlah rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian berkisar 56,43 %. Hal ini mengindikasikan produktivitas sektor pertanian relatif rendah dibandingkan dengan produktivitas sektor lain atau telah tejadi ketimpangan produktivitas antar sektor. Kondisi seperti ini menambah kompleksitas permasalahan yang hams &pecahkan untuk meningkatkan harkat dan martabat para petani. Dengan keterbatasan sumberdaya yang dikuasai oleh para petani, salah satu jalan untuk meningkatkan harkat dan martabat para petani adalah melalui upaya peningkatan kualitas sumberdaya petaninya sendiri.

Pada aras nasional peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja dapat hlihat dari persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja pada berbagai sektor. BPS (2000a) menunjukkan bahwa 45,28 % bekeja di sektor pertanian; 12,96 % bekerja di sektor industri; 20,58 % bekerja di sektor perdagangan dan 10,53 % bekerja di sektor lain-lain. Kontribusi sektor pertanian terhadap PDB selutar 16,60 % dalam kurun waktu 1994-1999 (Saragih, 2000). Dengan demikian fenomena-fenomena di Provinsi Jawa Timur, Lampung dan Nusa Tenggara Barat relatif konsisten dengan fenomena-fenomena tingkat Nasional. Uraian tersebut di atas memberikan garnbaran bahwa perubahan- perubahan indikator sosial-ekonomi yang telah tejadi pada aras makro akan

(7)

berdampak pada kualitas dinamika masyarakat tani di pedesaan. Karena secara umum desa-desa di dunia saat ini sudah relatif terbuka (Popkin, 1986).

Boserup (Sanderson, 2000) percaya bahwa kondisi penting yang memaksa manusia untuk meningkatkan teknologinya adalah tekanan penduduk. Tekanan penduduk muncul ketika pertumbuhan penduduk menekan sumberdayanya. Untuk mempertahankan standar hidup sebagai akibat dari tekanan penduduk terhadap sumberdayanya maka manusia harus menyesuaikan strategi adaptasinya.

Berry et al. (1999) dalam Gambar 4.1 menghubungkan konteks budaya dan

Gambar 4.1. Hubungan antara %I ekologis d m sosio-politis terhadap perubahan perilaku inhvidu

ekologis pada aras populasi terhadap keluaran perilaku teramati pada aras individu. Perilaku salah satu wujud budaya diwariskan melalui proses enkulturasi dan sosialisasi. Dengan paradigma tentang manusia yang reflektif, Eckensberger (Berry et al., 1999) menjelaskan perubahan dan perkembangan in&vidu dapat dipahami sebagai luaran-luaran transaksi dialektik dengan lingkungan fisik terutama lingkungan sosial. Manusia tidak hanya dibentuk oleh lingkungannya, tetapi manusia juga membentuk lingkungannya, manusia merefleksikannya dan dapat mengubah daur kejadian melalui aksi-aksinya.

+ Penginuh Ekologis

+

A

Perilaku Teramati -

+

Adaptasi Pewarisan Buda~a Adaptasi CiriCiri Budaya

---

yang Terslmpulkan I -- Biologis Akulturasi Pemindahan Genetik -

(8)

Dengan paradlgma tentang manusia yang reflektif (Eckensberger, 1979) mengembangkan teori aksi sebagai perilaku dalam konteks. Teori ini &pat dipergunakan untuk memahami aspek-aspek unik kejadian-kejadian perilaku individu. Ada empat aspek esensial dalam teori tindakan: pertama, perilaku distrukturkan beberapa tujuan masa depan; kedua, ada suatu pilihan di antara cara alternatif untuk mencapai tujuan itu; ketrga, orang yang bertindak dapat sadar terhadap tujuan dan cara yang htempuhnya; dan keempat, orang dapat mencanangkan kosekuensi-konsekuensi, yang diinginkan ataupun yang tidak diinginkan, dan akan menerima tanggungiawab untuk ini.

Menurut pendekatan tradisional, komunitas mempunyai ciri: minat atau nilai yang sama di kalangan anggotanya, persarnaan lokalitas dan sistem atau struktur sosial yang sama. Secara berangsur-angsur namun pasti, komunitas dengan ciri seperti yang disebutkan itu menghilang digantikan oleh jenis yang lain. Hal ini tejadi berkat kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi yang menembus batas-batas komunitas tadi. Budaya luar masuk ke pedesaan tanpa ada yang bisa menghalangi.

Menggunakan model-model kognitif Gambar 4.2 sebagai kerangka berpikir untuk memahami pola-pola kelakuan tertentu yang diwujudkan oleh manusia adalah sesuai dengan rangsangan dan tantangan yang sedang dihadapinya. Menurut Spradley (Poenvanto, 2000), aturan, strategi, maupun petunjuk adalah perwujudan model-model kognitif yang dipakai oleh manusia yang memilikinya untuk menghadapi lingkungannya. Perubahan-perubahan lingkungan biogeofisik mengharuskan manusia untuk beradaptasi. Proses adaptasi, dipengaruhi oleh persepsi dan interpretasi seseorang terhadap suatu obyek atau lingkungan biogeofisik, selanjutnya menuju pada sistem kategorisasi dalam bentuk respon atas kompleksitas suatu lingkungan. Menurut Spradley (Poenvanto, 2000) sistem kategorisasi ini memungkinkan seseorang mengidentifikasi aspek-aspek lingkungan yang sesuai untuk diadaptasi, dan memberikan arah bagi perilaku

(9)

mereka, sehingga memungkmkan untuk mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang akan datang

Berdasarkan uraian tersebut di atas, yaitu dengan perubahan-perubahan indikator makro biogeofislk dalam kurun waktu 7-10 tahun seperti jumlah rumah tangga pertanian, jumlah rumah tangga pertanian pengguna lahan, nilai tukar petani, jumlah petani yang menguasai lahan kurang dan 0,50 ha, kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB, dan jumlah penduduk, maka secara teoritis telah te qadi perubahan-perubahan, yang meliputi perubahan sistem nilai, tingkat pengetahuan,

FAKTOR-FAKTOR

I

M'IERNAL - Motivasi - Pengalaman - Pengetahuan - Pendidikan

I

FAKTOR-FAKTOR EKS'IERNAL

I

- Infomasi - Norma Sosial-Buday a

- Kondisi dan Situasi Lingkungan SUB BUDAYA Strategi Adaptasi

r--l

- Persepsi - Interpretasi Biogeofisik-Sosbud

Gambar 4.2. Kerangka model kognitif respon manusia terhadap rangsangan dan tantangan yang dihadapi

(10)

sikap, kepribadian dan perilaku usaha tani khususnya para petani dan masyarakat pedesaan pada umumnya.

Profil Penyuluh Pertanian Lapangan Profil Demografi Penyuluh Pertanian

Hasil analisis peubah-peubah yang dipergunakan untuk menggambarkan secara ringkas Profil Demografi Penyuluh Pertanian Lapangan disajikan dalam Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Profil demografi Penyuluh Pertanian Lapangan di Provinsi Jawa Timur, Lampung dan Nusa Tenggara Barat

Sumber : Data primer tahun 2000 - 2001

Keterangan : n = Jumlah responden 107 orang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL); Min-Maks = Skor minimal- maksimal, Keahlian : 1 = Keahtian tanaman pangan; Transportasi : 2 = Alat transportasi sepeda motor; Pekejaan lain : 4 = Dagang, 2 = Pertanian; Jenis latihan : 1 = Latihan penyuluhan dasar dan budidaya.

(11)

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa rata-rata Penyuluh Pertanian tinggal di luar wilayah kerjanya. Jarak ke wilayah kerja, umur, penguasaan alat transportasi, alokasi waktu kerja, merefleksikan kernampan operasional seorang Penyuluh Pertanian. Luas wilayah kerja dan jurnlah petani yang harus dilayani, merefleksikan beban kerjanya. Penyuluh Pertanian masih dalam kategori umur

produktif dengan pengalaman kerja sekitar 17,94 tahun dan tingkat pendidlkan rata-rata SLTA. Sekitar 8,40 % Penyuluh Pertanian berpendidikan D3 dan S1. Sebagian besar Penyuluh Pertanian ahli dalam tanaman pangan. Pa& umunya mereka sudah men&uti latlhan penyuluhan dasar dan teknologi budidaya. Sebagian besar (92,70%) Penyuluh Pertanian terakhir mengikuti latihan sekitar 6 tahun yang lalu. Disamping sebagai Penyuluh Pertanian, mereka memanfaatkan waktu luangnya untuk berdagang dan berusaha tani.

Dengan asumsi kebutuhan petani telah berkembang dan kompetensi Penyuluh Pertanian Lapangan dominan dalam tanaman pangan serta pemutahiran kompetensinya kurang berkesinambungan maka diduga kompetensi dan sumberdaya Penyuluh Pertanian Lapangan saat ini, tidak sesuai lagi dengan kebutuhan para petani.

Profil Psikhografi dan Lingkungan Kerja Penyuluh Pertanian

Faktor-faktor atau peubah internal dan ekstemal relevan Penyuluh Pertanian untuk menjelaskan tingkat kualitas kegatan penyuluhan pertanian di sentra produksi komoditi perdagangan maupun di sentra produksi komodlti subsisten adalah motivasi atau semangat kerja, kepribadian, harga diri, tingkat kompetensi, kemampuan operasional Penyuluh Pertanian, iklim organisasi, kualitas pelatihan, kualitas teknologi pertanian, kualitas informasi pertanian, kualitas kebijaksanaan, dan kompleksitas wilayah kerja. Hasil analisis peubah internal dan eksternal Penyuluh Pertanian Lapangan disajikan dalarn Tabel 4.3.

(12)

Tabel 4.3. Profil psichografi dan lingkungan ke j a Penyuluh Pertanian pada sentra produksi komoditi perdagangan dan sentra produksi komoditi subsisten di Provinsi Jawa Timur, Lampung dan Nusa Tenggara Barat

7 8 9 10 11 I2

Sumber: Data primer tahun 2000-2001;

Keterangan: n = Jumlah responden 107 orang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL); 1 = Sentra produksi komoditi perdagangan (hortikultura sayur);

2 = Sentra produksi komoditi subsisten (tanaman pangan). Min-Maks = Minimal-maksimal organislsi Kualiols pemberdayan K d t a s tdnolopl Kualitas mfomsi Kualitas ksbijaksanaan Kompleksitas wilayah kaja n 8-40 12-60 4-20 22-110 4-19 1533 22.11 8,67 42.94 9.94 8-22 14-34 4-13 29-58 5-13 18 19,71 28.59 9,88 49,76 lO,12 17 14-24 16-37 6-12 39.63 6-13 18 17,OO 24,Il 9,33 43,72 12,83 18 14-26 20-36 8-14 36.61 10-15 18 18,50 29,61 10.94 54,17 6,72 18 15-22 22-34 9-13 36-68 4-13 54 17,94 27,28 10.28 55,22 7,OO 53 13-23 14-36 7-14 140-77 4-13 19,28 30,11 1139 56,22 6,39 16-24 22-37 9-13 33-72 4-8 16.76 24,KI 9,43 47,30 9,91 8-26 14-36 4-14 29-77 4-1 5 19.15 29,45 10,75 53,45 7,70 14-24 16-37 6-14 33-72 4-13

(13)

Motivasi Penyuluh Pertanian

(XI)

Tabel 4.3 menunjukkan secara umurn rata-rata motivasi P P L, baik di sentra produksi komoditi perdagangan maupun di sentra produksi komodlti subsisten dalam kategori sedang. Skomya hanya mencapai 25,70-32,ll atau sekitar 42,83-53,51 % dari skor maksimal. Kondisi yang relatif sama juga tejadi pada sentra produksi komoditi perdagangan maupun di sentra produksi komoditi subsisten pada lokasi penelitian di Provinsi Jawa Timur, Larnpung dan Nusa Tenggara Barat dengan kisaran skor 23,06-34,61 atau 38,43-57,68 % dari skor maksimal. Tingkat motivasi k e j a Penyuluh Pertanian dapat dilihat d m frekuensi dan intensitas kunjungan P P L ke wilayah kerjanya (Tabel 4.10) dan kualitas k e ~ a t a n penyuluhan pertanian di lapangan (Tabel 4.7, dan Tabel 4.8).

Tabel 4.10 menunjukkan bahwa sebagian besar Penyuluh Pertanian hadir 2 bulan sekali ke wilayah kejanya baik di sentra produksi komoditi perdagangan maupun di sentra produksi komoditi subsisten. Di beberapa wilayah, Penyuluh Pertanian hadir ke wilayah ke janya di atas 3 bulan sekali. Petani sering melihat Penyuluh Pertanian pada saat musim hujan di desa dan mengunjungi beberapa rumah petani, tetapi pada musim kemarau jarang mellhat Penyuluh Pertanian di desa. Hal ini mengindikasikan kegiatan Penyuluh Pertanian relatif lebih banyak terkait dengan pencapaian tujuan organisasinya dari pada memecahkan masalah individu petani. Tabel 4.6 dan 4.7 menunjukkan bahwa materi penyuluhan pertanian dominan terkait dengan program pembangunan dan Penyu- luh Pertanian jarang melaksanakan kunjungan ke lokasi usahatani para petani untuk mengetahui dan memecahkan permasalahan petani.

Tingkat motivasi Penyuluh Pertanian saat ini berhubungan dengan: pertarnu, perubahan-perubahan organisasi penyuluhan. Pengorganisasian penyuluhan pertanian yang berubah-ubah menyebabkan Penyuluh Pertanian bersikap agak negatif terhadap profesinya. Penyuluh Pertanian merasakan profesinya sebagai kelinci percobaan, merasakan profesinya di remehkan sehingga semangat

(14)

menurun. Dalam kondisi seperti itu Penyuluh Pertanian sering merasa tidak nyaman bekerja; kedua, penghargaan terhadap Penyuluh Pertanian relatif sangat rendah. Dulu penghargaan terhadap Penyuluh Pertanian sangat tinggi, diperhatikan baik oleh pemerintah maupun oleh petani; ketiga, tugas Penyuluh Pertanian sebagai pengawal program-program pemerintah. Semua dinas lingkup pertanian menugaskan dan meminta program-programnya untuk disukseskan. Penyuluh Pertanian hams mencapai target-target produksi komodrti tertentu, kalau tidak tercapai, Penyuluh Pertanian dinilai tidak bekerja. Sekarang petani sudah berubah, petani sudah sangat kritis terhadap program-program pemerintah. Setiap program yang ditawarkan, petani selalu menanyakan harga, jaminan pemasaran dan keuntungan dari tawaran tersebut. Program yang pemasaran hasil dan harganya tidak jelas, petani akan menolak. Berdasarkan pengalaman petani, menerapkan anjuran Penyuluh Pertanian belum tentu menguntungkan. Pada kondisi seperti itu, Penyuluh Pertanian sering merasa tertekan. Mempertemukan tujuan organisasi dengan kebutuhan kebanyakan petani, bukan ha1 yang mudah. Kondisi tersebut sering menjauhkan dan merusak hubungan antara Penyuluh Pertanian dengan para petani (van Den Ban dan Hawkins, 1999; Mosher, 1978); keempat, kegiatan Penyuluh Pertanian Lapangan bersifat rutin dari tahun ke tahun. Karena kegatan utama Penyuluh Pertanian mengawal program, maka mereka merasa kegiatan penyuluhan merupakan tugas rutin, tidak ada variasi. Penyuluh Pertanian sering merasa jenuh yang dikerjakan itu-itu saja dari tahun ke tahun Mereka hanya diberikan target-target produksi yang tidak sesuai dengan kebutuhan petani. Mereka menghendaki pekejan yang menantang, dan diberikan kebebasan atau wewenang berkreasi bersama petani.

Kepribadian Penyuluh Pertanian Lapangan (X2)

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa secara mum rata-rata skor kepribadian Penyuluh Pertanian di lapangan, baik di sentra produksi komoditi perdagangan

(15)

maupun di sentra produksi komoditi subsisten dalam kategori sedang. Skornya hanya mencapai 112,78-113,96 atau 48,61-49,12 % dari skor maksimal. Kondisi yang sama juga te rjadi di sentra produksi komoditi perdagangan maupun di sentra produksi komoditi subsisten di Provinsi Jawa Timur, Lampung dan Nusa Tenggara Barat dengan kisaran skor 106,39-117,ll atau 45,85-50,47 % dan skor maksimal.

Hal ini dapat di lihat: pertama, dari tingkat sensitivitas Penyuluh Pertanian merespon perubahan lingkungan ke janya seperti perubahan-perubahan kebutuhan para petani, clan cara petani belajar. Penyuluh Pertanian yang senior di B P P, sering mengeluh bahwa idealisme Penyuluh Pertanian saat ini menurun. Melaksanakan kegiatan penyuluhan pertanian asal berkunjung ke petani sudah merasa melaksanakan tugasnya secara baik. Penyuluh Pertanian relatif kurang memperhatikan pernasalahan-pernasalahan yang dihadapi oleh para petani, lebih memprioritaskan tugas-tugas yang relatif menguntungkan profesinya.

Kedua, dalam melaksanakan kegatan selalu menunggu perintah atasan. Beberapa kepala B I P P, mengungkapkan keluhannya bahwa Penyuluh Pertanian kalau tidak diperintah tidak jalan. Beberapa P P L, mengakui bahwa kawan- kawannya kalau beke rja mash sering menunggu perintah dari koordinatornya

Ketiga, inisiatif mengembangkan kompetensinya secara mandiri. Minat baca Penyuluh Pertanian relatif rendah, untuk meningkatkan kompetensi mrinya lebih banyak menunggu kalau ada latihan, kalau tidak a& latihan, mereka pada umumnya kurang berbuat banyak. Sekarang sifat kesediaan terus belajar sering menjadi salah satu persyaratan dalam penerimaan tenaga kerja. Karena umur teknologi relatif pendek, per masalahan terus berkembang yang belum tentu dapat dpecahkan dengan teknologi yang ada. Kondisi tersebut menuntut pemutakhiran teknologi terus menerus.

Kekurang sesuaian kepribadian Penyuluh Pertanian dengan profesinya: pertama, berhubungan dengan pengangkatan tenaga Penyuluh Pertanian tidak

(16)

menjalani test pskologi. Aspek kepribadian kurang mendapatkan perhatian pa& saat pengangkatan tenaga Penyuluh Pertanian. Dengan perubahan lingkungan kerja

dan

makin kompleksnya permasalahan dalam meningkatkan harkat dan martabat para petani, faktor kepribadan seorang Penyuluh Pertanian menjadi sangat penting. Dalam setiap pertemuan dengan para petani, mereka menghendaki Penyuluh Pertanian yang jujur, punya niat yang baik clan tulus &lam membantu petani. Kepribadian menentukan konsistensi perilaku seseorang pada berbagai situasi dan tidak tergantung pada penilaian sesaat (Sarwono, 1997). Dengan demikian, kepribadan lebih permanen dari pada slkap. Beberapa orang Penyuluh Pertanian mengatakan "kurang terpengaruh dengan perubahan situasi organisasi penyuluhan akhir-akhlr ini, yang penting bagaimana terus dihargai dan dibutuh- kan oleh petani. Llalam pekerjaan, lebih mengutamakan petani." Hal in1 mengindikasikan bahwa Penyuluh Pertanian yang berkepribadian melaksanakan tugas-tugasnya relatit' konsisten dan kurang terpengad oleh perubahan- perubahan organisasi penyuluh an yang terjadi. Dengan perubahan-perubahan sistem niiai, kebutuhan, tingkat pengetahuan petani, maka sangat diperlukan Penyuluh Pertanian berkepribahan, yang sesuai dengan profesinya.

Kedua, berhubungan dengan peran d m posisi Penyuluh Pertanian. Selama

mni Penyuluh Pertanian lebih banyak diposisikan dan diperankan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasinya. Prosedur ke rja telah dipersiapkan, target-target telah ditetapkan. Penyuluh Pertanian tinggal menunggu perintah kapan mulai dilaksanakan. Kegiatan penyuluhan yang tidak sesuai dengan petunjuk pelaksanaan, walaupun hasilnya memuas- kan petani, belum tentu dianggap benar. Pola kerja "sentralistis" yang membentuk pola kerja

dan

kebiasaan kerja Penyuluh Pertanian, menunggu perintah. Pada saat permasalahan dan lingkungan kerja penyuluhan pertanian relatif homogin, pola kerja "sentralistis" memang sangat efektif dan efisien. Sejak puluhan tahun yang lalu, lingkungan kerja penyuluhan pertanlan, terutama para petani telah banyak mengalami

(17)

perkembangan. Hal ini menuntut pola kerja yang berbeda. Perubahan tersebut hanya dapat ditanggapi secara baik oleh Penyuluh Pertanian yang profesional.

Ketlgu, berhubungan dengan pemberdayaan dan pengembangan kompetensi Penyuluh Pertanian. Kompetensi bukan hanya meliputi pengetahuan dan

keterampilan saja, tetapi semua ha1 yang mempengaruhi tenvujudnya kinerja prima. Sebagai konsekuensi posisi dan peran Penyuluh Pertanian selama ini, maka pengembangan kompetensi lebih banyak pada domain pengetahuan dan keterampilan. Dengan pengembangan kedua domain tersebut tujuan organisasi telah tercapai, tetapi muncul perilaku tugas yang h a n g terpuji di hadapan para petani. Aspek kepribadian Penyuluh Pertanian kurang mendapatkan perhatian. Kepribadiam merupakan salah satu predisposisi perilaku individu, yang lebih konsisten dalam merespon perubahan lingkungan. Perkembangan kebutuhan para petani saat ini, menuntut perubahan perilaku atau strategi adaptasinya. Untuk memenuhl kebutuhannya, petani sering berinteraksi dengan pihak ke tiga. Efektiv- itas interaksi dengan phak ke tiga menuntut kepribadian tertentu. Saat ini kepribadian telah menjadi modal sosial sangat penting untuk terjadinya interkasi sosial yang sinergis. Dengan demikian, pengembangan sumberdaya manusia petani ke depan bukan hanya menyentuh aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan saja, tetapi juga menyentuh aspek kepribadiannya. Untuk itu, juga diperlukan Penyuluh Pertanian yang berkepribadian sesuai dengan status dan perannya. Mengembangkan kepribadian Penyuluh Pertanian menuntut pengembangan kepribadian petugas pertanian pada semua tingkatan, karena metodologi pengembangan kepribadian berbeda dengan metodolog pengem- bangan pengetahuan, dan keterampilan.

Harga Diri Penyuluh Pertanian (X3)

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa secara umum rata-rata skor harga diri Penyuluh Pertanian Lapangan, baik pada sentra produksi komoditi perdagangan

(18)

maupun pada sentra produksi komoditi subsisten dalam kategori sedang, hanya mencapai 66,OO-69,58 atau 58,92-62,12 % dari skor maksimal. Kondisi yang sama juga tejadi pada sentra produksi komoditi perdagangan maupun pada sentra produksi komoditi subsisten di Provinsi Jawa Timur, Lampung dan Nusa Tenggara Barat dengan kisaran skor 65,ll-72,72 atau 58,13-64,92 % dari skor maksimal.

Hal ini dapat di lihat clan pertarnu, kepercayaan petani terhadap kompetensi Penyuluh Pertanian. Beberapa Penyuluh Pertanian senior mengatakan pada waktu masih menjadi Penyuluh Pertanian Lapangan, sangat dihargai oleh petani, sekarang kalau petani menemui PPL, hanya menanyakan persoalan kredit kapan cair. P P L, sering mengatakan sekarang penghargaan petani terhadap Penyuluh Pertanian relatif rendah dibandingkan sebelum tahun 80-an. Petani sekarang orientasinya keuntungan sedangkan Penyuluh Pertanian orientasinya produksi komoditi program. Penyuluh senior mengungkapkan bahwa dulu sebagai PPL sangat dihargai dan dibutuhkan oleh petani, kalau datang ke desa ditanggapi seperti pejabat Kecamatan, kalau pertemuan banyak petani yang hadir, sekarang mengumpulkan petani yang hadir maksimal 50 % itu pun kadang-kadang. Pertanyaan petani yang utama bukan l a p masalah teknologi produksi tetapi masalah modal, harga, pemasaran hasil-hasil pertanian. Mengenai materi penyuluhan pertanian, para petani sering mengatakan lebih percaya pada teknologi atau informasi yang diberikan oleh sesama petani, petani biasanya me- ngatakan, hal-hal yang telah dialami sehingga sering cocok dengan kondisinya. Hal-ha1 yang dikatakan oleh Penyuluh Pertanian belurn tentu sesuatu yang telah dikerjakan, mungkin saja ha1 yang pemah dibaca atau ha1 yang pemah didengar. Sebagian besar petani di Kabupaten Lombok Barat, mengakui bahwa sekarang mengumpulkan kawan-kawan petani sulit, tidak semudah dulu untuk mengikuti kegiatan Penyuluh Pertanian, alasannya yang dibicarakan begitu-begitu saja, hal- ha1 yang sudah diketahui, kalau m e n g h t i kegiatan penyuluhan hasilnya juga

(19)

begtu-begitu saja. Petani-petani selalu ingin mencari usaha-usaha yang menguntungkan sesuai dengan kemampuannya, dalam ha1 ini Penyuluh PertaNan tidak banyak berperan. Walaupun rajin mengikuti kegiatan penyuluhan pertanian petani kurang merasakan manfaatnya. Dalam pertemuan dengan para petani sering terlontar bahwa ikut atau tidak ikut kegiatan penyuluhan pertanian keadaan petani tetap saja seperti ini.

Fakta di atas menunjukkan bahwa telah terjadi kesenjangan kompetensi PPL, dengan tuntutan para petani. Akumulasi kesenjangan tersebut yang menurunkan harga diri P P L di hadapan para petani.

Kedua, penilaian atasan Penyuluh Pertanian. Dulu penghargaan pemerintah atau atasan kepada Penyuluh Pertanian sangat tinggi, hampir dalarn setiap kegiatan upacara, Penyuluh PertaNan disanjung-sanjung, dan perhatian pemerintah terhadap Penyuluh Pertanian sangat besar. Sekarang Penyuluh Pertanian h a n g mendaptkan perhatian, malahan sering terungkap, mereka sebagai tumpuan kesalahan, kalau te rjadi kegagalan program atau proyek. Dengan cara yang berbeda dinas lingkup Pertanian mengatakan Penyuluh Pertanian adalah orang yang diperlukan oleh masyarakat dan semua pihak, oleh karena itu kembalikan harga diri dan tingkatkan kepercayaan diri para Penyuluh Pertanian. Hal ini mengindikasikan menurunnya harga diri P P L merupakan suatu realita.

Ketiga, pergeseran sumber teknologi atau infomasi petani. Tabel 4.19-4.24 menunjukkan bahwa Penyuluh Pertanian bukan lagi sebagai tempat bertanya atau berkonsultasi yang utama bagi petani, kalau menghadapi permasalahan- permasalahan yang berkaitan dengan harga sarana produksi, harga jual hasil pertanian, budidaya, usaha-usaha pertanian yang menguntungkan, permodalan. Posisi tersebut perannya digeser oleh petani sendiri, dan pelaku agribisnis lainnya. Tingkat harga &ri Penyuluh Pertanian saat ini: pertama, berhubungan dengan kegiatan-kegatan Penyuluh Pertanian tidak dapat merespon perubahan kebutuhan-kebutuhan para petani; kedua, kompetensi atau materi penyuluhan

(20)

pertanian tidak dapat memecahkan pennasalahan-pernasalahan petani., ketiga, korespondensi informasi atau teknologi yang disarankan oleh Penyuluh Pertanian relatif rendah; keempat, kompetensi Penyuluh Pertanian relatif rendah; dan kelima, berhubungan dengan tugas atau kegatan-kegatan Penyuluh Pertanian sebagian besar hanya mengawal program-program yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan petani. Hal ini menunjukkan bahwa peran Penyuluh Pertanian sebagai "the local errand boy for government" yang dapat menghancurkan hubungan antara Penyuluh Pertanian dengan petani (Mosher, 1978).

Petani percaya pada informasi atau teknologi dari Penyuluh Pertanian atau petugas lain kalau petani mengetahui dan melihat bahwa P P L atau petugas lain usahanya juga sama atau pemah mengerjakan, dengan ha]-hal yang dikatakan, kalau tidak pernah, maka Penyuluh Pertanian atau petugas tersebut dikatakan hanya berteori. Teori belajar sosial dan mengalami langsung (Sarwono, 1997) dapat dipergunakan untuk mengubah persepsi petani terhadap kredlbilitas teknologi dan informasi yang dibawa oleh Penyuluh Pertanian atau petugas lain. Teori belajar convensional conditioning tidak dapat mengubah persepsi petani terhadap kredibilitas Penyuluh Pertanian atau petugas sebagai surnber teknologi atau informasi. Hal ini mengindikasikan bahwa para petani telah kritis terhadap teknologi dan informasi pertanian dari luar, dan kekritisan petani tersebut harus dijadikan landasan untuk merancang teknologi dan informasi peaanian yang akan disampaikan kepada petani.

Kompetensi Penyuluh Pertanian (X4)

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa secara umum rata-rata skor kompetensi Penyuluh Pertanian Lapangan, baik pada sentra produksi komoditi perdagangan maupun pada sentra produksi komoditi subsisten relatif rendah, hanya mencapai 61,04-66,19 atau 46,95-50,91 % dari skor maksimal. Kondisi yang sama juga terjadl pada sentra produk si komoditi perdagangan maupun pada sentra produksi

(21)

komomti subsisten di Provinsi Jawa Timur, Lampung dan Nusa Tenggara Barat dengan kisaran skor 55,67-73,71 atau 42,82-56,70 % dari skor maksimal. Rata- rata kompetensi Penyuluh Pertanian d sentra produksi komoditi perdagangan relatif lebih rendah dari pada kompetensi Penyuluh Pertanian di sentra produksi komoditi subsisten.

Rendahnya tingkat kompetensi Penyuluh Pertanian dapat dilihat: pertama, dari materi penyuluhan dominan berupa program-program pemerintah dan teknologi bukdaya pertanian (Tabel 4.7), rnateri-materi tersebut sudah tidak sesuai dengan kebutuhan petani. Petani sering mengeluhkan, kalau Penyuluh Pertanian datang dalam pertemuan kelompok yang dibicarakan itu-itu saja seperti varietas, pupuk, hama clan penyakit sedangkan petani perlu yang lain. Petani mengharapkan, Penyuluh Pertanian mampu memberikan altematif usaha tani yang menguntungkan. Dengan perkembangan petani sekarang diperlukan kompetensi Penyuluh Pertanian Lapangan yang lebih tinggi lag, kompetensinya saat ini sudah tidak memadai l a g untuk memecahkan permasalahan para petani. Petani sering bertanya kepada PPL tetapi Penyuluh Pertanian tidak bisa men- jawab, kalau tidak bisa menjawab petani bertanya kepada kawan-kawannya yang pemah mengalami. Hal ini menunjukkan bahwa para petani masih memerlukan Penyuluh Pertanian, tetapi yang berkompetensi.

Kedua, pengakuan Penyuluh Pertanian sendiri. Dalam berdskusi dengan Penyuluh Pertanian sering terungkap kompetensi Penyuluh Pertanian sekarang tidak sesuai dengan yang diperlukan oleh petani. Penyuluh Pertanian tahu cara meningkatkan produksi, tetapi Penyuluh Pertanian h a n g tahu cara meningkatkan pendapatan. Banyak Penyuluh Pertanian memanfaatkan petani- petani yang berhasil sebagai sumber teknologi dan informasi (Tabel 4.11). Kemajuan-kemajuan para petani menuntut kompetensi Penyuluh Pertanian yang lebih tinggi. Kompetensi Penyuluh Pertanian sekarang sudah tidak memadru lagi, sekarang Penyuluh Pertanian belajar pada petani yang maju, rasanya Penyuluh

(22)

jauh ketinggalan, Penyuluh hams banyak diisi, perlu pelatihan secara periodik. Malahan beberapa Penyuluh Pertanian mengatakan bahwa sekarang Penyuluh Pertanian agak bingung menghadapi perkembangan para petani. Beberapa Penyuluh Pertanian pada sentra produksi komoditi subsisten mengungkapkan pengamatan dan pengalamannya bahwa sekarang petani sudah berbicara tentang pasar, komoditinya bukan hanya pangan, sudah a& menanam hortikultura, sesuai dengan permintaan pasar. Penyuluh Pertanian tidak mempunyai kompetensi hortikultura, sehingga agak deg-degan pada saat kelapangan, kalau petani bertanya tentang komodi-komoditi yang teknologmya tidak dikuasainya.

Kualitas kompetensi Penyuluh Pertanian saat ini berhubungan dengan: pertama, selarna ini tugas-tugas Penyuluh Pertanian relatif lebih banyak

mengawal program-program pembangunan, sehingga peningkatan kompetensinya disesuaikan dengan program yang dikawalnya. Dilain pihak kebutuhan-kebutuhan petani telah bergeser sehingga kompetensi yang dikuasai oleh Penyuluh Pertanian tidak mampu memecahkan pennasalahan dan untuk memenuhi kebutuhan petani; kedua, kepribadian Penyuluh Pertanian yang belum sesuai dengan posisinya sebagai pejabat fungsional

untuk

mengembangkan tingkat kompetensinya secara mandiri, ketrga, motivasi Penyuluh Pertanian untuk meningkatkan kompetensinya relatif rendah, keempat, sistem pembinaan terhadap P P L, relatif kurang be jalan, kurang sesuai dengan perkembangan petani; kelrma, kualitas teknologi dan infonnasi pertanian di B P P, relatif rendah; dan keenam kompetensi Pembina Penyuluh Pertanian di tingkat Kabupaten dan Provinsi yang kurang memadai.

Sesuai dengan perkembangan atribusi dan perilaku usaha tani para petani maka Penyuluh Pertanian harus menguasai kompetensi sebagai berikut: (1) Sistem sosial setempat, (2) Perilaku petani, (3) Analisis sistem, (4) Analisis data, (5) Merancang pendekatan penyuluhan, (6) Perencanaan usaha pertanian, (7) Manajemen Teknologi, (8) Ekonomi rumah tangga, (9) Mengembangkan teknologi lokal spesifik, (10) Memahami cara petani belajar, (1 1) Pengembangan

(23)

kelompok dan organisasi, (12) Perilaku pasar, (13) Peta kognitif petani, (14) Teknologi produksi, (15) Teknologi pasca panen, (16) Usaha tani sebagai bisnis, dan (17) Proses pembangunan pertanian.

Kemampuan Operasional Penyuluh Pertanian

(X5)

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa secara umum rata-rata kemampuan operasional Penyuluh Pertanian relatif rendah. Di sentra produksi komoditi perdagangan kemampuan operasionalnya relatif lebih rendah dari pada di sentra produksi komoditi subsisten dengan kisaran skor 5,45-5,49 atau 36,33-36,60 % dari skor maksimal. Kondisi yang sama juga terjadi & sentra produksi komoditi perdagangan dan di sentra produksi komoditi subsisten di Provinsi Jawa Timur, Lampung dan Nusa Tenggara Barat dengan kisaran skor 5,18-6,76 atau 3433- 45,06 % dari skor maksimal.

Lebih rendahnya kemampuan operasional Penyuluh Pertanian di sentra produksi komoditi perdagangan dari pada di sentra produksi komoditi subsisten berhubungan dengan lebih luasnya wilayah kerja Penyuluh Pertanian dan kondisi infrastruktur wilayah ke rjanya relatif lebih jelek, serta Penyuluh Pertanian yang ditugaskan di sentra produksi komod~ti perdagangan relatif lebih yunior dari pada Penyuluh Pertanian yang ditugaskan di sentra produksi komoditi subsisten.

Iklim Organisasi Penyuluh Pertanian (X6)

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa secara umum rata-rata skor iklim organisasi P P L, baik di sentra produksi komoditi perdagangan maupun di sentra produksi komoditi subsisten dalam kategori sedang, hanya berkisar 72,98-76,94 atau 52,12-

54,95 % dari skor maksimal. Kondisi yang sama juga terjadi di sentra produksi komoditi perdagangan maupun di sentra produksi komodrti subsisten di Provinsi Jawa Timur, Lampung dan Nusa Tenggara Barat dengan kisaran skor 68,83-81,76 atau 49,19-58,40 % dari skor maksimal. Rata-rata iklim organisasi Penyuluh

(24)

Pertanian pada sentra produksi komoditi perdagangan relatif h a n g kondusif dari pada iklim organisasi Penyuluh Pertanian pada sentra produksi komoditi subsisten.

Relatif kurang nyamannya iklim organisasi Penyuluh Pertanian dapat dilihat dari: pertama kelancaran, kejujuran, keadilan dalam penetapan angka kredit dan kelancaran kenaikan pangkat. Dengan perubahan-perubahan organisasi penyuluhan yang dlikuti dengan perpindahan pangkalan administrasi Penyuluh Pertanian, penetapan angka kredit dan kenaikan pangkat menjadi relatif kurang lancar; kedua sensitivitas organisasi dalam merespon pennasalahan-permasalahan

yang dihadapi oleh Penyuluh Pertanian di lapangan. Hal ini dapat dilihat dari

permasalahan-permasalahan lapangan yang disampakan ke atasan, sering dikembalikan lagi kepada Penyuluh Pertanian dan sering tidak direspon sehmgga Penyuluh Pertanian agak h a n g percaya din menemui petani yang menghadapi permasalahan tersebut. Penyuluh Pertanian sering mengatakan tugas-tugas dari kabupaten sering kurang jelas, sehingga Penyuluh Pertanian bingung cara menyelesaikan tugas-tugas tersebut. S u p e ~ s i Penyuluh Pertanian Kabupaten hanya memantau tugas-tugas Penyuluh Pertanian Lapangan, mereka tidak membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh Penyuluh Pertanian. Makna pemyataan tersebut &ah P P L, kurang merasakan manfaat kegiatan supervisi yang dilaksanakan oleh petugas-petugas Kabupaten, sehingga P P L di B P P, merasa dlrinya kurang dlperhatikan.

Kekurangnyamanan iklim organisasi Penyuluh Pertanian: pertama, berhubungan dengan perubahan-perubahan pengorganisasian penyuluhan pertanian. Dari tahun 1984-1991 Penyuluh Pertanian dikelola oleh Sekretariat Badan Pengendali BIMAS, untuk mendukung pencapaian sasaran intensifikasi.

Dengan dikeluarkannya SKB Mendagri dan Mentan Nomor:

539ikptsiLP.1201711991 dan Nomor 65

Tahun

1991, pengelolaan Penyuluh Pertanian diserahkan ke dinas-dinas lingkup Pertanian di daerah. Pada tahun 1996

(25)

pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan diperbaiki dengan SKB Menteri Dalam Negen dan Menteri Pertanian Nomor 54 Tahun 1996 dan Nomor: 301/kpts/LP.120/4/1996 dan keputusan Mendagi Nomor: 35 Tahun 1999, pengelolaan Penyuluhan Pertanian ditangani oleh BIPP. Dalam era otonomi daerah pengelolaan penyuluhan bemariasi antar Kabupaten, tergantung persepsi Pemerintah Kabupaten tentang peranan penyuluhan pertanian dalam membangun daerahnya. Perubahan-perubahan pengorganisasian penyuluhan pertanian berdampak pada kelancaran karier Penyuluh Pertanian dan harga diri Penyuluh Pertanian. Dengan perubahan-perubahan organisasi penyuluhan per tanian, Penyuluh Pertanian merasa djadikan kelinci percobaan dan sudah ada yang apatis, serta merasa dirinya menjadi pegawai kelas dua.

Kedua, berhubungan dengan relatif terputusnya hubungan fungsional antara Penyuluh Pertanian di lapangan dengan Penyuluh Pertanian di Kabupaten. P P L, merasa peranan Penyuluh Pertanian Kabupaten relatif kecil dalam pengembangan kompetensinya dan memberikan solusi-solusi permasalahan lapangan yang tidak dapat hpecahkan oleh Penyuluh Pertanian

d~

lapangan.

Ketzga, berhubungan dengan sistem penghargaan relatif tidak berjalan, walaupun bejalan pelaksanaan tidak proporsional, jujur clan adil. P P L mengaku sudah melaksanakan tugas relatif baik dibandingkan dengan kawan-kawan, tetapi, keputusan penetapan usulan angka kreditnya relatif lebih lama dari kawan yang melaksanakan tugas-tugasnya relatif h a n g baik, P P L sering berpikir untuk tidak mengurus kredit point karena tidak terkait dengan prestasi pelaksanaan tugas-tugasnya.

Kualitas Pemberdayaan (X7)

Tabel 4. 3 menunjukkan bahwa secara umum rata-rata kualitas pemberdayaan di B P P, bagi P P L, baik pada sentra produksi komoditi perdagangan maupun pada sentra produksi komoditi subsisten relatif rendah, skor

(26)

kualitas pemberdayaan di B P P, berkisar 16,76-19,15 atau 41,90-49,40 % dari skor maksimal. Kondisi yang sama juga terjadi di sentra produksi komoditi perdagangan maupun di sentra produksi komoditi subsisten di Provinsi Jawa Timur, Lampung dan Nusa Tenggara Barat dengan kisaran 15,33-19,71 atau 38,32-49,27 % dari skor maksimal. Rata-rata kualitas pemberdayaan bagi Penyu- luh Pertanian di B P P, pada sentra produksi komodlti perdagangan relatif rendah

dan pada kualitas pemberdayaan bagi Penyuluh Pertanian Lapangan di B P P pada sentra produksi komoditi subsisten.

Rendahnya kualitas pemberdayaan bagi Penyuluh Pertanian di B P P: pertama dapat dilihat dari intensitas pelatihan di BPP sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi P P L. Pelatihan di Balai Penyuluhan Pertanian bagi Penyuluh Pertanian tidak lagi sebagai sumber teknolog dan informasi utarna bagi PPL. Hal ini diganti dengan kegiatan tukar menukar pengalaman sesama Penyuluh. Kegiatan tersebut bukan merupakan strategi yang direncanakan oleh Penyuluh Pertanian di BPP untuk meningkatkan kompetensi mereka, tetapi sebagai kon- sekuensi dari sistem peningkatan kompetensi Penyuluh Pertanian melalui pelatihan dl BPP kurang berjalan sebagai mestinya. Hal ini dapat dilihat

dart realisasi pelaksanaan pelatihan di BPP rata-rata berkisar 0,O-0,7 jam per tahun, yang seharusnya 2,O jam per tahun. Pelatih dari Kabupaten relatif jarang datang ke BPP, untuk meningkatkan kompetensinya, Penyuluh Pertanian belajar ke petani yang berhasil baik lokal maupun ke luar Kecamatan. Sejak dua tahun

terakhir kehadlran pelatih dari Kabupaten di BPP sangat jarang. Sebagai solusinya Koordinator Penyuluh Pertanian mengajak kawan-kawan Penyuluh Pertanian belajar ke petani-petani yang maju. Di BPP Labu Api dan Dasan Tereng, Kabupaten Lombok Barat, belajar ke petani maju dijadikan salah satu strategi peningkatan kompetensi PPL yang dilaksanakan setiap hari Jumat.

Kedua, dapat dilihat dari kesesuaian materi pelatihan di BPP. Kalau pelatih Kabupaten datang pada saat latihan di BPP, P P L mengatakan materi

(27)

pelatihannya itu-itu saja padahal petani sudah berubah. Untuk memecahkan masalah para petani, Penyuluh Pertanian mencari informasi sendiri. Materi pelatihan di BPP tidak relevan dengan kebutuhan petani, materi pelatihan yang dlminta oleh PPL, jarang dapat dlpenuhi. P P L, sering mengungkapkan bahwa dari pelatihan dl BPP tidak banyak infonnasi yang dapat diharapkan.

Ketlga, dapat dilihat dari kualitas pelatih. Kelompok Penyuluh Pertanian di BPP menghendaki pelatih dari kabupaten harus mempunyai kemampuam melatih dan kemampuan substansi yang sesuai dengan perkembangan para petani, pelatih dari kabupaten belum mempunyai kemampuan seperti itu, sehingga pelatihan di BPP kurang memuaskan. Pelatih harus bemawasan yang luas, tahu kebutuhan petani yang semakin komersial. P P L, sering mengungkapkan bahwa kemampuan pelatih Kabupaten tidak banyak yang dapat diharapkan, karena antara kompetensi pelatih dan Kabupaten dengan kompetensi yang dilatih tidak ada perbedaan yang signifikan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh kepala BIPP bahwa Penyuluh Pertanian kabupaten sering enggan datang melatih ke BPP, sepertinya kurang percaya diri karena merasa kompetensinya kurang memadai. Sesuai dengan kemajuan para petani sebaiknya pelatih di BPP dari lembaga penelitian atau perguruan tinggt.

Kualitas Teknologi Pertanian (X8)

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa secara umum rata-rata kualitas teknologt di B P P bagt Penyuluh Pertanian di lapangan relatif rendah, baik pada sentra produksi komoditi perdagangan maupun pada sentra produksi komoditi subsisten, skor kualitas teknologi dl B P P, berkisar 24,50-29,45 atau 40,83-49,08 % dari skor maksimal. Kondisi yang sama juga terjadi pada sentra produksi komoditi perdagangan maupun pada sentra produksi komoditi subsisten di Provinsi Jawa Timur, Lampung dan Nusa Tenggara Barat dengan hsaran skor 22,ll-30,ll atau 36,83-50,18 % dari skor maksimal. Rata-nta kualitas teknologi di B P P bagi

(28)

Penyuluh Pertanian pada sentra produksi komoditi perdagangan relatif lebih rendah dari pa& kualitas teknologi di B P P bagi Penyuluh Pertanian pada sentra produksi komoditi subsisten. Hal ini mengindikasikan bahwa ketersediaan teknologi di BPP relatif lebih banyak terkait dengan teknologi komoditi pangan.

Rendahnya kualitas teknolog pertanian di B P P: pertama &pat dilihat dan kesesuaian teknologi dengan kebutuhan petani. Kelompok Penyuluh Pertanian d BPP sering mengungkapkan pengalamannya bahwa "teknologi yang tersedia di BPP tidak dapat langsung dimanfaatkan sebagai materi penyu1uhan pertanian. Teknologi tersebut hams disesuakan dengan kondisi petani setempat. Kalau langsung diterapkan, korespondensi teknolog tersebut relatif rendah." Hal tersebut sesuai dengan pengakuan Aqo Sadeni, seorang petani di Lampung Tengah bahwa Penyuluh Pertanian menganjurkan jarak tanam padi 20x20 Cm atau 25x25 Cm, hasil percobaan nya, menunjukkan jar& tanam padi yang sesuai dengan kondisi tanahnya adalah 22,5x22,5 Cm. Rastra petani lain dari Seputihraman mengatakan tidak langsung percaya dengan anjuran teknologi Penyuluh Pertanian, karena Penyuluh Pertanian belurn tentu tahu kondisi tanahnya. Sebelum menerapkan anjuran tersebut, selalu menyesuaikan teknologi tersebut dengan kondisi tanahnya, kalau tidak bisa rugi. Petani memandang lahan tempat berusaha tani dalam dimensi waktu satu tahun bisa juga lebih dari setahun tergantung jenis komodtinya, sehingga efisiensi usahanya menjadl relatif tinggi dalam dimensi waktu tersebut. Petani menghendaki teknologi seperti itu, tetapi teknologi yang tersedia di BPP dalam kemasan parsial yang berbasis komoditi berdimensi musiman. Dalam kondisi seperti itu para petani mencari dan mensintesakan sendiri teknologi yang sesuai dengan kebutuhannya. Pengalaman petani tersebut memverifikasi pemyataan Sutomo (1997) yang mengatakan tidak ada teknologi pertanian yang lintas spasial dan lintas temporal. Kelompok Penyuluh Pertanian di BPP mengungkapkan pengalamannya bahwa "teknologi

(29)

yang berasal dari petani dimanfaatkan sebagai materi penyuluhan relatif lebih diterima oleh petani lainnya"

Kedua, dapat dilihat dan ketersediaan teknologi setiap saat dibutuhkan di Balai Penyuluhan Pertanian. Ketersediaan teknologi di BPP sering tidak tepat waktu. Pada saat diperlukan tidak tersedia di BPP tetapi pada saat tidak d~perlukan teknolog ter- sebut tersedia di BPP. Dalam kondisi seperti itu, Penyuluh Pertanian mencari teknologi ke kawan-kawannya yang pemah menghadapi persoalan yang sama, kalau tidak diketemukan maka Penyuluh Pertanian mencari teknologi yang dlperlukan ke petani yang maju Tabel 4.11.

Rendahnya kualitas teknologi pertanian di B P P: pertama, berhubungan dengan perencanaan teknologi relatif mengacu pada program. Hal ini nampak pada kualitas teknologi pada sentra produksi komoditi pangan relatif lebih tinggi dari pada kualitas teknologi pada sentra produksi komoditi perdagangan (Tabel 4.3), dan dinas-dinas lingkup pertanian relatif dominan dalam menetapkan perencanaan penelitian; kedua, tertanamnya sikap pada pemerintah dalam ha1 ini peneliti, kurang melibatkan petani dalam menyusun perencanaan; ketrga, dalam proses perencanaan penelitian, peta kognitif petani dan sikap petani terhadap sumberdaya alam yang dikuasainya serta jenis usaha taninya relatif kurang menentukan dalam penetapan perencanaan penelitian; keempat, perencanaan dan rakitan teknologi relatif dominan terkait dengan aktivitas produksi yang tidak sesuai dengan tahapan-tahapan petani dalam menetapkan perencanaan usaha pertaniannya sebagai konsekuensi dan perubahan-perubahan sistem nilai yang termanifestasi dalam bentuk pergeseran kebutuhan-kebutuhan para petani; dan kelzma, perakitan dan pengemasan t e k n o l o ~ dominan berbasis musim dan relatif sangat kecil berbasis pasar. Hal ini dapat dilihat dari rekomendasi teknologi yang dikeluarkan tidak menyinggung kapan sebaiknya suatu usaha tani dilaksanakan sehingga produksinya relatif mendapatkan harga jual yang layak, tetapi bukan mendapatkan harga jual yang layak karena kebetulan.

(30)

Kualitas Informasi Pertanian (X9)

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa secara umum rata-rata kualitas informasi di B P P bagi P P L, baik pada sentra produksi komoditi perdagangan maupun pada sentra produksi komoditi subsisten relatif rendah, skor kualitas informasi di B P P hanya berkisar 9,43-10,75 atau 47,15-53,75 % dari skor maksimal. Kondisi yang sama juga tcrjadi pada sentra produksi komoditi perdagangan maupun pada sentra produksi komoditi subsisten di Jawa Timur, Lampung dan Nusa Tenggara Barat dengan kisaran 8,67-11,39 atau 43,35-56,95 % dari skor maksimal. Rata-rata kualitas informasi di B P P bagi Penyuluh Pertanian pada sentra produksi komoditi perdagangan relatif rendah dari pada kualitas informasi di B P P bagi Penyuluh Pertanian pada sentra produksi komoditi subsisten. Hal ini mcngindikasikan ketersediaan informasi di BPP sentra produksi komoditi subsisten relatif lebih banyak dari pada kctersediaan informasi dl BPP sentra produksi komoditi perdagangan.

Rendahnya kualitas informasi bagi Penyuluh Pertanian dl B P P dapat dilihat clan: pertama, ketersediaan informasi setiap saat dlperlukan oleh Penyuluh Pertanian di lapangan. Penyuluh Pertanian dl lapangan sering kesulitan men- dapatkan informasi di BPP, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan petani di luar teknologi pangan. Medla informasi yang ada di BPP dominan Sinar Tani. Folder atau liptan dari BPTP jumlah, jenis informasilteknologi pertanian dan waktu penyampaiannya kurang memadai, kadang-kadang folder dari perusahaan- perusahaan sarana produksi. Kcsemua medla informasi tersebut bukan menjadi sumber informasi utama bagi Penyuluh Pcrtanian. Penyuluh Pertanian mengatakan kalau tidak mendapatkan informasi di BPP, untuk menjawab pertanyaan petani yang diajukan pada saat kunjungan sebelumnya, maka bertanya pada kawan-kawan PPL yang mengetahui jawabannya atau menanyakan ke petani yang dinilai maju (Tabel 4.11). Kalau jawaban pertanyaan petani tersebut belum ditemukan, agak cnggan menemui petani tersebut.

(31)

Sesuai dengan perkembangan para petani saat ini, pasokan informasi kepada Penyuluh Pertanian harus memadai. Berdasarkan pengakuan Penyuluh Pertanian tersebut & atas, jawaban atas pertanyaan petani

akan

disampaikan pada kunjungan berikutnya, jawaban tersebut belum tentu dibutuhkan la@ oleh petani yang menanyakan. Fenomena-fenomena seperti ini terakumulasi sebagai penyebab penurunan citra dan harga diri Penyuluh Pertanian dihadapan para petani. Hal ini yang menyebabkan munculnya ketidak percayaan petani terhadap kompetensi Penyuluh Pertanian.

Kedua, dapat dilihat dari saat tibanya media informasi tersebut di B P P. Kelompok Penyuluh Pertanian di B P P mengungkapkan menerima media informasi seperti swat kabar, folder atau liptan, waktunya tidak pasti, kadang- kadang dua bulan sekali, enam bulan sekali. Informasi yang disampaikan melalui media tersebut dalam dimensi waktu, petani belum tentu memanfaatkan sebagai solusi permasalahannya. Media tersebut hanya bemanfaat menambah wawasan Penyuluh Pertanian. Permasalahannya adalah, bagaimana media tersebut dapat menambah wawasan Penyuluh Pertanian yang minat bacanya rendah. Fenomena ini harus menja& pertimbangan dalam menyusun strategi pemberdayaan Penyuluh Pertanian.

Kualitas Kebijaksanaan Organisasi Penyuluhan (X10)

Tabel 4. 3 menunjukkan bahwa secara umum rata-rata kualitas kebijaksanaan organisasi penyuluhan pada sentra produksi komoditi perdagangan maupun pada sentra produksi komoditi subsisten relatif rendah, skor kualitas kebijaksanaan organisasi berkisar 47,30-53,45 atau 43,OO-48,59 % dari skor maksimal. Kon&si yang sama juga terjadi pada sentra produksi komoditi perdagangan maupun pada sentra produksi komoditi subsisten di Provinsi Jawa Timur, Lampung dan Nusa Tenggara Barat dengan kisaran 42,94-56,22 atau 39,03-51,lO % dari skor maksimal. Rata-rata kualitas kebijaksanaan organisasi di

(32)

sentra produksi komoditi perdagangan relatif rendah dari pada rata-rata kualitas kebijaksanaan organisasi di sentra produksi komoditi subsisten. Hal ini berarti kebijaksanaan organisasi selama ini relatif lebih sesuai untuk memecahkan permasalahan pada sentra produksi komoditi subsisten dari sentra produksi komoditi perdagangan.

Keberpihakan kebijaksanaan organisasi selama ini pada sentra produksi komoditi subsisten dapat dillhat dari penyediaan permodalan dan bantuan teknis. Penyediaan permodalan melalui program Kredit Usaha Tani (KUT) untuk pengembangan sentra komoditi subsisten sudah &mulai sejak Pelita I sampai saat ini. Jurnlah kredit relatif memadai. Diberikan bantuan teknis berupa penugasan- penugasan Penyuluh Pertanian di sentra komoditi subsisten. Kebijaksanaan permodalan untuk pengembangan sentra produksi komoditi perdagangan baru dimulai sehtar tahun 1997 begitu juga dengan penugasan PPL untuk memberikan bantuan teknis di sentra komoditi perdagangan relatif baru.

Rendahnya kualitas kebijaksanaan organisasi penyuluhan: pertama, dapat dilihat dari fleksibilitas kebijaksanaan dalam merespon perubahan-perubahan lingkungan.dan wewenang yang diberikan kepada Penyuluh Pertanian dalam merespon perubahan-perubahan sosial-ekonomi petani. P P L selalu mengidentifikasi faktor-faktor penentu produksi sebagai salah satu dasar untuk menyusun programa penyuluhan pertanian B P P (Tabel 4.6). P P L mengetahui programa tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan para petani sekarang, tetapi itu kebijaksanaan. Penugasan Penyuluh Pertanian hanya untuk menjamin terjadinya peningkatan produksi. Hal tersebut menyebabkan ke~atan-kegiatan Penyuluh Pertanian menjadi rutin dari tahun ke tahun. Penyuluh Pertanian merasakan hanya sebagai pembawa pesan-pesan pembangunan sedangkan peningkatan kompetensi sangat kurang mendapatkan perhatian. Penyuluh Pertanian terlalu banyak melaksanakan kegiatan pelayanan, sehingga relatif sedikit waktu untuk mengajarkan keterampilan kepada petani. Penugasan

(33)

Penyuluh Pertanian berdasarkan wilayah administrasi tidak sesuai dengan perubahan perilaku usaha tani petani. Penempatan Penyuluh Pertanian seharus nya berdasarkan kompetensi. Penyuluh Pertanian terlalu banyak dibebani program-program yang semuanya minta disukseskan, ha1 ini menuntut waktu dan

energi relatif banyak, sehingga waktu untuk melayani petani relatif kecil. Sebagai Penyuluh Pertanian sering dalam posisi sulit, dari atas minta target-target hams tercapai, tetapi petani menolak, kalau tidak a& kepastian pemasaran. Penyuluh Pertanian tidak mempunyai wewenang untuk merencanakan usaha pertanian sesuai dengan kondisi petani setempat ber sama petani. Kalau Penyuluh Pertanian diberikan wewenang mengembangkan usaha tani bersama petani maka kegiatan- kegiatan Penyuluh Pertanian menjadi lebih menantang. Selama ini hanya mempunyai wewenang menyukseskan program-program dari atas. Kalau program-program terlambat, apalagi pelaksanaannya tidak sesuai dengan penjelasan semula, Penyuluh Pertanian Lapangan sering dibilang bohong oleh petani, ha1 ini menyebabkan kepercayaan petani menurun terhadap Penyuluh Pertanian.

Kedua, dapat dilihat dari upaya pemerintah

untuk

memperlancar kegiatan Penyuluh Pertanian. Fasilitas dari pemerintah daerah melalui dinas-dinas lingkup pertanian untuk mendukung kegatan penyuluhan pertanian relatif sangat kecil. Sebagian besar sumber anggaran kegiatan penyuluhan pertanian berasal dari Bantuan Kegiatan Operasional Penyuluhan Pertanian (BKOPP).

Berdasarkan analisis data kualitatif tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa: pertama, kualitas kebijaksanaan organisasi sebagai penentu penurunan motivasi Penyuluh Pertanian, ketidak sesuaian kompetensi Penyuluh Pertanian dengan kebutuhan para petani, penurunan harga diri Penyuluh Pertanian dihadapan para petani, p e n m a n kepercayaan petani terhadap kompetensi Penyuluh Pertanian, kurang kondusifnya iklim organisasi Penyuluhan, rendahnya kualitas teknologi, kekurang sesuaian kepribadian Penyuluh Pertanian dan

(34)

rendahnya kualitas pemberdayaan Penyuluh Pertanian; dan kedua, kebijaksanaan organisasi dalam penugasan Penyuluh Pertanian relatif kaku, dalam artian kurang responsif terhadap perubahan-perubahan kebutuhan para petani.

Tingkat fleksibilitas kebijaksanaan organisasi &lam memposisikan penyuluhan pestanian dalam pembangunan pertanian merupakan refleksi dari

struktur internal organisasi penyuluhan pertanian. Untuk memahami situasi organisasi penyuluhan saat ini, dapat menggunakan analisis Toynbee Capra (2000) tentang runtuhnya suatu peradaban. Setelah mencapai puncak vitalitasnya, peradaban cenderung kehlangan tenaga budayanya dan kemudian runtuh. Suatu elemen penting dalam keruntuhan budaya ini, menurut Toynbee karena hilangnya fleksibilitas. Pada waktu struktur sosial dan pola perilaku telah menjadi kaku sehingga masyarakat tidak lagi mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah, peradabm tidak akan mampu melanjutkan proses kreatif evolusi budayanya. Peradaban tersebut hancur dan secara berangsur mengalami disintegrasi.

Penjelasan tersebut di atas relatif mirip dengan perkembangan penyuluhan pertanian selarna ini. Puncak vitalitas penyuluhan pertanian tercapai pada saat tercapainya swasembada beras tahun 1984. Pada saat itu, permasalahan dan kebutuhan petani relatif sederhana. Perilaku struktur dan pelaku-pelaku birokrat lingkup organisasi pertanian relatif menjadi kaku sehingga tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan sosial dan kebutuhan petani. Menurut Heraklitos clan Aritoteles (Keraf dan Mikhael, 2001) perubahan merupakan ciri khas dari realitas apa saja, baik yang hidup maupun yang mati, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Evolusi merupakan kenyataan dasar setiap realita. Keterpurukan penyuluhan pertanian saat ini karena kegiatan penyuluhan pertanian tidak tanggap pada perubahan-perubahan lingkungan ke rjanya.

(35)

Dengan menggunakan logika teori sistem, organisasi penyuluhan pertanian dapat diposisikan sebagai satu subsistem dari sistem yang lebih besar. Koestler 1978 (Capra, 1999) menggunakan istilah "holon" untuk subsistem-subsistem tersebut yang merupakan keseluruhan sekaligus bagian. Setiap holon mempunyai dua tendensi yang berlawanan: pertama, tendensi integratif yang digunakan untuk

fungsi sebagai bagian dari keseluruhan yang lebih besar, dan kedua, tendensi menonjolkan diri yang digunakan fungsi melestankan otonomi individualnya. Holon dapat bertahan kalau ada keseimbangan antara integrasi dan tendensi penonjolan diri. Manifestasi tendensi integrasi adalah fleksibilitas holon. Organisasi penyuluhan sebagai salah satu pelaku kebijaksanaan pembangunan pertanian tendensi integrasinya yang relatif rendah. Hal ini dapat dilihat dari kurang responsifhya organisasi penyuluhan terhadap perubahan kebutuhan para petani.

Kornpleksitas Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian

(X11)

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa secara umum rata-rata skor kompleksitas wilayah kerja Penyuluh Pertanian Lapangan, baik pada sentra produksi komoditi perdagangan maupun pada sentra produksi komoditi subsisten relatif beragam, bervariasi dari 7,70-9,91 atau 40,52-52,15 % dari skor maksimal. Kondisi yang sama juga terjadi pada sentra produksi komoditi perdagangan maupun pada sentra produksi komoditi subsisten di Provinsi Jawa Timur, Lampung dan Nusa Tenggara Barat dengan kisaran 7,OO-12,83 atau 36,84-67,52 % dari skor maksimal. Rata-rata skor kompleksitas wilayah kerja Penyuluh Pertanian pada sentra produksi komodlti perdagangan relatif lebih tinggi

dari

pada kompleksitas wilayah ke rja Penyuluh Pertanian pada sentra produksi komoditi subsisten.

Wilayah kerja Penyuluh Pertanian di Provinsi Jawa Timur dan Lampung relatif lebih kompleks dari pada wilayah kerja Penyuluh Pertanian di Provinsi

(36)

Nusa Tenggara Barat. Hal ini dapat dilihat dari jumlah wilayah binaan Penyuluh Pertanian di Provinsi Jawa Timur dan Lampung berkisar satu sampai tiga desa, sedangkan di Nusa Tenggara Barat hanya satu desa. Wilayah binaan Penyuluh pertanian per desa di Jawa Timur dan Lampung relatif lebih luas dari pa& wilayah binaan per desa & Nusa Tenggara Barat, disamping tempat tinggal petani di Jawa Timur dan Lampung relatif lebih menyebar dari pada tempat tinggal petani di Nusa Tenggara Barat. Agroekosistem wilayah binaan Penyuluh Pertanian di Provinsi Jawa Timur dan Lampung relatif lebih bewariasi dari pada agroekosistem wilayah binaan Penyuluh Pertanian di Nusa Tenggara Barat.

Berdasarkan uraian-waian semua variabel Tabel 4.3 &pat disimpulkan bahwa: pertam variabel-variabel internal Penyuluh Pertanian beke j a secara sinergis dengan variabel-variabel eksternal Penyuluh Pertanian &lam menentukan kualitas kegiatan penyuluhan pertanian; kedua kebijaksanaan organisasi sebagai aspek penentu penurunan motivasi Penyuluh Pertanian, ketidak sesuaian kompetensi Penyuluh Pertanian dengan kebutuhan para petani, penurunan harga diri Penyuluh Pertanian dihadapan para petani, penurunan kepercayaan petani terhadap kompetensi Penyuluh Pertanian, iklim organisasi Penyuluhan yang kurang kondusif, rendahnya kualitas teknologi dan informasi pertanian, kwang sesuainya kepribadian Penyuluh Pertanian dan rendahnya kualitas pemberdayaan Penyuluh Pertanian, ketlga kebijaksanaan organisasi dalam penugasan Penyuluh Pertanian relatif kaku, dalam artian tidak responsif terhadap perubahan-perubahan

kebutuhan para petani; dan keempat setiap organisasi akan tetap bertahan hidup kalau organisasi tersebut mampu menjaga keseimbangan antara tendensi integrasi dan tendensi penonjolan diri.

Profil Petani Responden

Dengan mempertimbangkan pemanfaatan implikasi penelitian ini, maka hanya variabel pendidikan, umur, tingkat komersialisasi dan jenis usaha tani

Gambar

Gambar 4.1. Hubungan antara  % I ekologis  d m   sosio-politis terhadap perubahan perilaku inhvidu
Gambar  4.2.  Kerangka model kognitif respon manusia terhadap rangsangan dan tantangan  yang dihadapi
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa secara umum rata-rata kualitas informasi di  B P P bagi P P  L,  baik pada sentra produksi komoditi perdagangan maupun pada  sentra produksi komoditi subsisten relatif rendah, skor kualitas informasi di B P P  hanya berkisar 9,4
Gambar  4.4.  Hubungan antara umur petani dengan jenis usaha tani (jut) yang dikelola
+7

Referensi

Dokumen terkait

Proses Penciptaan, dan Fungsi. Disertasi pada FIB UI. “Kebinekaan dan Ketunggalikaan Cerita Prosa Nusantara,” Makalah Seminar Internasional Tradisi Lisan III, ATL 14- 16

Perspektif financial tetap digunakan karena ukuran financial sangat penting dalam memberikan ringkasan konsekuensi tindakan ekonomis yang sudah diambil. Ukuran kinerja

Berdasarkan uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa kedua faktor tersebut di atas perlu diperhatikan oleh orangtua sebagai orang yang menanmkan pengalaman

Berdasarkan hasil pembahasan, diperoleh bahwa suatu himpunan matriks invertibel yang entrinya adalah bilangan real yang didefinisikan GLn  R  dengan operasi pertambahan dan

Tabel 3 menjelaskan penduduk yang memiliki pekerjaan sampingan juga meningkat hal ini bisa dilihat dari tabel 4.2, dari 4.1 responden tahun 2012-2013 semuanya

Adapun Karya tulis ilmiah dalam bentuk buku ilmiah dalam modul ini adalah karya ilmiah yang tersusun dan tercetak dalam bentuk buku oleh sebuah penerbit buku umum

Faktor Kultural mempunyai nilai signifikansi 0,184 yang berarti nilai ini lebih besar dari 0,05, ini menunjukkan bahwa secara parsial Faktor Kultural tidak berpengaruh

Dalam kasus ini antara nilai SSD dan Cross-Correlations memiliki nilai yang berbeda karena rumus disparity SSD dan Cross-Correlations berbeda dan juga ketepatan ukuran pada