• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.500 pulau dengan panjang garis pantai diperkirakan lebih dari 81.000 km. Secara fisik Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan luas laut sekitar 3,1 juta km2 (0,3 juta km2 perairan teritorial; dan 2,8 juta km2 perairan nusantara) atau 62% dari luas teritorialnya (Dahuri et al., 2002., dalam Ambarwulan et al., 2003).

Kawasan perairan merupakan suatu kawasan yang tidak berdiri sendiri, banyak faktor yang berpengaruh terhadap kawasab tersebut, pengaruh terbesar adalah kegiatan yang terjadi di sekitar kawasan perairan tersebut (Parwati et al., 2006). Bertambahnya jumlah penduduk dan adanya perkembangan daerah kota akan mengakibatkan alih fungsi lahan, perubahan fungsi lahan yang sering terjadi ialah dari lahan bervegetasi menjadi lahan terbuka atau permukiman. Perkembangan Pola Penggunaan lahan yang tidak tepat tersebut telah merusak ekosistem daerah Aliran sungai. Adanya kegiatan manusia dalam pengelolaan sumber daya alam, tanah, hutan dan air yang berlebihan akan merusak perubahan keseimbangan lebih cepat dan seringkali kegiatan yang berlebihan memberikan efek perubahan tata air dan penurunan kualiatas daerah aliran sungai, kerusakan Daerah Aliran Sungai pada nantinya juga akan mempengaruhi kondisi pada Muara DAS

Ekosistem pesisir merupakan media dimana biota laut berkembang biak, yaitu tempat berkembang biakan ikan yg masih kecil. Kondisi ekosistem pesisir akan mempengaruhi biota-biota laut untuk berkembang, salah satunya ialah kualitas air laut yg bersih dari polutan. Padatan tersuspensi (Total Suspended Solids) TSS merupakan salah satu polutan yang dapat mengakibatkan kerusakan ekosistem pesisir, larutan tersuspensi yang tinggi akan mengakibatkan terhalangnya penetrasi sinar matahari ke dalam air, sehingga mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis pada fitoplankton. Larutan tersuspensi ini biasanya berasal dari

(2)

material-2 material dari daratan yang terkikis oleh air dan terbawa menuju muara sungai, yang kemudian akan menuju pesisir.

Pencemaran lingkungan adalah masuknya mahluk hidup, zat energi atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan kurang berfungsi bagi peruntukannya (undang-undang pokok pengelolaan lingkungan hidup no .4 tahun 1982).

Salah satu dampak yang dihasilkan dari kerusakan ekosistem DAS adalah meningkatnya padatan tesuspensi tau lebih dikenal dengan Total Suspended Solid

(TSS). Peningkatan nilai TSS akan mengakibatkan kerusakan ekosistem pesisir, hal

ini dikarenakan padatan tersuspensi dapat menghambat penetrasi matahari dalam perairan pantai, sehingga akan mempengaruhi keadaan ekosistem pesisir.

Perubahan Total Suspended Solids (TSS) akan mempengaruhi kualitas perairan, terutama pada perairan pesisir. Kualitas air adalah proses untuk menentukan karakterstik kimia, fisik dan biologi pada tubuh air dan mengidentifikasi sumber daya dari kemungkinan polusi atau kontaminasi yang dapat mengakibatkan penurunan dari kualitas perairan. Indikator kualitas air dapat dikategorikan seperti berikut: (i) Biologi: bakteri, alga; (ii) Fisik meliputi: suhu, kekeruhan dan kecerahan, warna, salinitas, padatan tersuspensi, padatan terlarut; (iii) Kimia meliputi: pH (tingkat keasaman), oksigen terlarut, kebutuhan oksigen biotik, nutrisi (didalamnya termasuk nitrogen dan pospor), komponen organik dan anorganik (didalamnya termasuk toksin) (Usali dan Ismail, 2010).

Perubahan nilai TSS yang terjadi secara signifikan dan terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan eutrofikasi perairan pesisir, terutama pada daerah pesisir yang terdapat di sekitar muara daerah aliran sungai (DAS). Hal ini disebabkan karena pada muara DAS merupakan outlet dari material sedimen yang terlarut dari daratan yang akan dialirkan menuju pada perairan pesisir.

Eutrofikasi adalah proses pengkayaan perairan yang disebabkan oleh meningkatnya nitrogen dan pospor dalam jumlah yang berlebihan, juga elemen lain seperti potasium, kalsium, dan mangan yang mengakibatkan tidak terkontrolnya

(3)

3 tumbuhan air seperti alga pada tubuh air atau yang lebih dikenal dalam istilah

blooming (Welch dan Lindel, 1992). Terapan teknik penginderaan jauh dalam

berbagai kajian telah berkembang semakin jauh pada saat ini. Bidang ilmu atau metode penginderaan jauh ini semakin lengkap dan efektif untuk mengkaji berbagai permasalahan spasial dengan dukungan Sistem Informasi Geografis sebagai suatu sistem pengolahan dan analisis data-data spasial secara kompleks. Integrasi antara penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis diharapkan dapat memberikan suatu efektifitas dan efisiensi yang berkenaan dengan faktor waktu, energi/tenaga, maupun biaya dalam berbagai kepentingan analisis dan terapan berbagai permasalahan spasial. Dipandang efektif dan efisien dari berbagai segi tersebut setelah dibandingkan dengan metode terrestrial (menggunakan cara-cara pengukuran lapangan secara langsung), yang tentu saja akan membutuhkan alokasi waktu, tenaga, dan biaya yang jauh lebih besar.

Sejak akhir 1970-an penginderaan jauh untuk studi padatan tersuspensi telah digunakan, yaitu analisis padatan tersuspensi malalui peningkatan radian dari permukaan air pada spektrum elektromagnetik saluran visibel dan infra merah dekat (Richie and Schiebe (2000) dalam Mobasheri and Hamid, 2003). Penginderaan jauh telah memegang peranan penting untuk inventarisasi, monitoring dan pengelolaan wilayah pesisir melalui kemampuannya memberikan gambaran sinopsis dari wilayah tersebut (Ambarwulan, 2003).

Padatan tersuspensi dapat dipetakan dengan citra satelit resolusi menengah seperti Landsat MSS, Landsat TM 5, Landsat ETM+ 7, SPOT, ASTER, MERIS, MODIS maupun citra resolusi menegah lainnya (Ambarwulan et al., 2003). Teknik yang paling umum diguakan dalam analisa data penginderaan jauh untuk menentukan kualitas air adalah berdasarkan reflektan air. Untuk memperoleh konsentrasi TSS dari reflektan yang dihasilkan oleh air yang ditangkap oleh sensor optik diperlukan suatu algoritma. Morel dan Gordon (1980) menjelaskan tentang tiga pendekatan yang digunakan untu memetakan pendekatan padatan tersspensi, yaitu pendekatan empirik (statistik), pendekatan semi empirik dan pendekatan analitik (Ambarwulan et al., 2003).

(4)

4 Perkembangan teknlogi penginderaan jauh saat ini telah memberi kemudahan untuk analisis dalam berbagi bidang, salah satunya ialah dapat digunakan sebagai media anlisis untuk kawasan perairan pantai. Perkembangan citra satelit pada saat ini telah mengalami kemajuan, salah satunya ialah data Landsat, yang meiliki saluran-saluran yang dapat digunakan untuk inperpretasi berbagi bidang. Kemampuan transformasi masing-masing kanal data Landsat dapat digunakan untuk interpretasi sebaran TSS pada muara DAS.

1.2 Perumusan Masalah

Muara DAS merupakan salah satu bangian penting dalam ekosistem pantai, pada wilayah ini merupakan tempat dimana biota laut berkembang, yang merupakan tempat berkembangnya ikan yang masih kecil. Sehingga keseimbangan ekosistem muara DAS sangat mempengaruhi kelestarian dari ekosistem pantai.

Zone pantai merupakan sistem ekologi penting dan sumber daya alam utama pada beberapa negara. Wilayah pantai sangatlah kompleks, dinamis dan wilayah yang sangat produktif di laut luas. Wilayah pantai merupakan akumulasi dan transformasi dari nutrisi dan sedimen yang terbawa dari wilayah darat dan atmosfer. Wilayah ini sangatlah penting untuk menjaga kelestarian ikan dan berkembangnya, serta sebagai rumah untuk sebagian besar ikan laut. Kira-kira 90% dari total penangkapan ikan pesisir berasal dari wilayah pantai. Meskipun wilayah pantai hanya berukuran kurang dari 8% dari total wilayah laut (Milner et al., 2003., dalam Ambarwulan, 2010).

Penyebab meningkatnya TSS di perairan antara lain adalah pengikisan tanah yang terbawa ke dalam air dan akan dialirkan pada muara sungai untuk menuju perairan pesisir. Konsentrasi dari nilai material tersuspensi apabila terlalu tinggi akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke dalam air dan mengakibatkan terganggunya proses fotosintesis, hal ini merupakan salah satu hal yang dapat mengakibatkan kerusakan ekosistem pesisir. Persebaran TSS di perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor fisik antara lain ialah angin, curah hujan, gelombang arus dan pasang surut (Effendi, 2003).

(5)

5 Peningkatan nilai TSS yang berlebihan akan mengakibatkan kerusakan ekosistem DAS dan juga dapat mempengaruhi kehidupan biota pesisir, oleh karena itu perlu upaya untuk melakukan pemantauan TSS, agar keseimbangan ekosistem DAS dapat terjaga. Oleh karena itu perlu adanya proses analisis perubahan larutan tersuspensi dari waktu ke waktu untuk memudahkan monitoring serta dapat digunakan untuk masukan dalam upaya konservasi ekosistem pesisir.

Sejak tahun 1980-an , aplikasi citra penginderaan jauh untuk analisis sedimen tersuspensi dilakukan dengan menggunakan citra resolusi rendah seperti Sea-viewing

Wide Field-of-view Sensor (SeaWiFS) dan citra resolusi menengah seperti Landsat,

SPOT, Coastal Zone Color Scanner (CZCS), dan Indian Remote Sensing (Ambarwulan, 2003). Dari penelitian tersebut diperoleh hasil adanya hubungan yang signifikan antara sedimen tersuspensi dengan reflektan dari saluran tunggal maupun kombinasi dari beberapa saluran.

Penggunaan penginderaan jauh untuk pemetaan konsentrasi sedimen tersuspensi adalah bagus untuk diterapkan pada variasi tipe perairan, pada umumnya metodenya adalah dengan menghubungkan besarnya pantulan dalam saluran merah (600-700 µm) pada gelombang tampak untuk mengukur dari sedimen kolom air atau konsentrasi partikel materi (Richard et al., 2004).

Padatan tersuspensi dapat dipetakan dengan citra satelit resolusi menengah seperti Landsat TM, Landsat ETM, SPOT, ASTER, MERIS, MODIS maupun citra resolusi menengah lainnya (Ambarwulan, 2003). Data penginderaan jauh Landsat memiliki saluran spektral yang dapat dimanfaatkan untuk aplikasi yang berkaitan dengan vegetasi, air, dan tanah, berbagai kombinasi kanal spektral digunakan untuk dimanfaatkan sesuai tujuan yang akan dicapai (Parwati et al., 2014).

Penelitian mengenai analisis kualitas perairan pesisir sudah pernah dilakukan oleh beberapa ahli penginderaan jauh di Indonesia, antara lain adalah penelitian yang dilakukan oleh Wiwin Ambarwulan (2003) dan Syarif Budiman (2005) tentang material tersuspensi. Algoritma yang mereka gunakan berbeda, tetapi memiliki daerah kajian yang sama yaitu pada delta Mahakam. Algoritma yang mereka gunakan untuk konsentrasi TSM ialah bio-optical model, yang dapat digunakan untuk

(6)

6 menghasilkan data set (R 0-) pada setia sensor kanal sebagai fungsi dari meningkatnya konsentrasi TSS. Hubungan yang dibangun pada penelitian Budhiman (2005) adalah korelasi antara nilai TSM dan nilai spektral pada masing-masing kanal, sehingga algoritma yang digunakan adalah algoritma berdasarkan pada satu kanal.

Pada penelitian Ambarwulan (2003) mengenai larutan tersuspensi menggunakan citra resolusi menengah, data yang digunakan ialah data Bakorsutanal (BIG) yang dikumpulkan pada survei bulan Juli 2003 dan data dari ITC yang diambil pada bulan Juli 2003. Data citra resolusi menengah yang digunakan dalam penelitian ini ialah Landsat TM tahun 1998 dan Landsat ETM+ tahun 2003. Pada penelitian ini telah dicoba beberapa algoritma yang dihasilkan dari korelasi antara DN dengan pengukuran in-situ pada band tunggal maupun kombinasi dari dua dan tiga band visibel. Hasil dari penelitian itu ialah secara umum analisis pemetaan larutan tersuspensi dengan band tunggal menunjukkan nilai korelasi yang cukup tinggi, nilai korelasi yang tinggi juga ditunjukkan dengan menggunakan kombinasi dua maupun tiga band, padahal citra Landsat TM tahun 1998 (musim basah) direkam pada musim yang berbeda dengan data pengamatan lapangan (musim kering). Dari analisis tersebut terlihat bahwa meskipun kedua besaran (pengukuran in-situ dan saat perekaman) berasal dari dua musim yang berbeda, korelasi antara reflektan dengan pengukuran larutan tersuspensi di lapangan tetap dapat diperoleh, hanya band inframerah dekat yang memberikan nilai korelasi dan R2 yang rendah.

Penelitian mengenai TSS menggunakan data multitemporal tinggi juga pernah dilakukan oleh Neukerman et al. (2009). Penelitian ini menggunakan data SEVIRI dan AQUA-MODIS, penelitian ini dilakukan di perairan selatan Laut Utara. Algoritma yang digunakan merupakan algoritma yang diambil dari rasio band tunggal, yang dikorelasikan dengan menggunakan pengukuran in-situ. Hasil dari penelitian ini antara lain pemetaan larutan tersuspensi pada perairan selatan Laut Utara lebih mudah menggunakan SEVIRI pada perairan keruh, meskipun besar kemungkinan tidak dapat digunakan untuk perairan jernih, pemetaan larutan tersuspensi yang memiliki korelasi bagus diperoleh dari pemetaan larutan tersuspensi menggunakan data AQUA MODIS.

(7)

7 Data penginderaan jauh sangatlah diperlukan untuk daat memonitor wilayah pesisir yang sangat luas, akan tetapi diperlukan metode yang baik untuk mendapatkan hubungan antara konsentrasi TSS (Total Suspended Solids) dengan reflektansi yang diterima oleh sensor satelit (Budhiman, 2005).

Teknik yang paling umum digunakan dalam analisis data citra penginderaan jauh untuk menentukan kualitas air adalah berdasarkan reflektan air. Untuk memperoleh konsentrasi TSS dari reflektan yang diradiasikan oleh air yang ditangkap oleh sensor optik diperlukan suatu algoritma. Morel dan Gordon (1980) menjelaskan tentang tiga pendekatan yang digunakan untuk memetakan sebaran TSS, yaitu pendekatan empirik (statistik), pendekatan semi-empirik, dan pendekatan analitik (Ambarwulan, 2003).

Pendekatan empirik didasarkan pada kalkulasi statistik yang mengkorelasikan antara TSS hasil pengukuran di lapangan dengan reflektan. Pendekatan empirik membutuhkan data pengukuran lapangan in situ, yang akurasinya semakin tinggi jika waktu pengukuran in-situ dilakukan bersamaan dengan saat satelit merekam daerah tersebut.

Pendekatan analitik atau yang sering disebut model bio-optikal adalah model yang dibuat dengan memasukkan konsentrasi komponen air dan sifat optik dari komponen air untuk membuat model reflektan maupun sebaliknya (Ambarwulan, 2003). Pendekatan ini dikembangkan oleh Dekker et al. (1999) dan Ambarwulan (2002). Penggunaan pendekatan ini dimungkinkan mendapatkan peta TSS dari data penginderaan jauh secara lebih akurat. Kelebihan model bio-optikal diantaranya adalah satu algoritma dari sensor yang sama dapat diaplikasikan ke citra lain dari sensor yang sama.

Metode yang akan digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan empirik, yaitu dengan mengkorelasikan data TSS lapangan yang diperoleh dari pengukuran

in-situ dengan reflektan. Hal ini ditujukan supaya mendapatkan hasil analisis TSS yang

lebih akurat dan sesuai dengan kondisi yang terdapat pada muara Sungai Garang. Data yang akan digunakan dalam penelitian ini ialah data Lansdsat tahun 2001 dan 2016. Pemilihan data landsat dikarenakan skala yang akan digunakan dalam

(8)

8 penelitian ini ialah karena data Landsat memiliki kanal-kanal yang mendukung untuk melakukan anlisis maupun transformasi multispektral untuk kajian TSS. Data landsat juga memilki ketersediaan data lampau yang relatif lebih banyak, sehingga lebih memudahkan untuk analisis multitemporal.

Proses perolehan informasi perubahan TSS dapat dilakukan dengan membandingkan analisis TSS dari masing-masing periodik, yaitu analisis TSS tahun 2001 dan 2016, Sehingga akan dapat dilakukan analisis perubahan TSS.

Hasil dari analisis perubahan material tersuspensi tersebut kemudian akan dihubungkan dengan kualitas perairan atau eutrofikasi perairan pesisir, yaitu bagaimana pengaruh perubahan larutan material tersuspensi terhadap kualitas air dan ekosistem pesisir pada Muara DAS Garang.

Target penelitian ini ialah pemantauan perubahan padatan tersuspensi yang berada pada delta Sungai Garang secara periodik, melipui pola persebarannya, model perkembangannya dari masing masing periode, sehingga dapat diperoleh tren perkembangan dan arah persebarannya serta pengaruhnya terhadap dampak yang diakibatkan dari perkembangan larutan tersuspensi yang berpengaruh pada keseimbangan biota dan ekosistem pesisir. Hasil analisis sebaran larutan tersuspensi secara periodik ini pada nantinya akan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk upaya konservatif dalam menjaga ekosistem pesisir dalam pengembangan ekosistem yang seimbang dan berkelanjutan.

1.3 Pertanyaan Penelitian

1.3.1 Seberapa besarkah kemampuan data penginderaan jauh multi-temporal dalam melakukan analisis perubahan padatan tersuspensi (TSS) pada delta Sungai Garang antara tahun 2001 – 2016?

1.3.2 Transformasi algoritma TSS manakah yang memiliki tingkat akurasi yang terbaik dalam analisis padatan tersuspensi pada Muara DAS Garang?

1.3.3 Bagaimana pola kecenderungan perubahan padatan tersuspensi pada muara DAS Garang antara tahun 2001-2016?

(9)

9 1.3.4 Seberapa besarkah pengaruh perubahan larutan Total Suspended Solids (TSS)

terhadap kualitas perairan delta Sungai Garang?

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1.4.1 Melakukan analisis Total Suspended Solids (TSS) menggunakan data Landsat secara multi-temporal.

1.4.2 Membandingkan hasil transformasi algoritma TSS dan kemudian mencari metode mana yang sesuai untuk analisis TSS pada Muara Sungai Garang. 1.4.3 Melakukan analisis perubahan Total Suspended Solids, yaitu melakukan

pemodelan spasial dengan membuat model transformasi estimasi sebaran padatan tersuspensi selama periode waktu tersebut.

1.4.4 Melakukan analisis hubungan antara kecenderungan atau pola perubahan sebaran sedimen terhadap kualitas perairan Muara Sungai Garang

1.5 Manfaat dan Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini:

1.5.1 Untuk mengetahui seberapa besar kemampuan data penginderaan jauh dalam melakukan analisis perubahan larutan tersuspensi pada muara DAS Garang. 1.5.2 Mengetahui perbandingan transformasi algoritma TSS yang sesuai untuk

analisis padatan tersuspensi pada Muara DAS Garang.

1.5.3 Analisis dari perubahan TSS secara periodik akan menghasilkan kecenderungan pola perubahan larutan tersuspensi pada muara DAS Garang dalam kurun waktu 2001-2016.

1.5.4 Hasil dari pola kecenderungan tersebut akan dapat digunakan dalam monitoring laju perubahan TSS, sehingga dapat digunakan sebagai masukan untuk upaya konservatif.

(10)

10 1.6 Penegasan Istilah

Penegasan istilah dalam penelitian ini dimaksudkan untuk membatasi ruang lingkup permasalahan yang diteliti sehingga jelas batasannya, kesalahan penafsiran istilah, memudahkan menangkap isi dan makna, serta sebagai pedoman pelaksanaan penelitian. Istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.6.1 Total Suspended Solids (TSS)

Pada Penelitian ini istilah Total Suspended Solids (TSS) adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter >1 πm) yang tertahan pada saringan mili-pore dengan diameter pori 0,45 πm (Effendi, 2003).

1.6.2 Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek daerah atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1990)

1.6.3 Citra Penginderaan Jauh

Citra penginderaan jauh adalah gambaran suatu objek, daerah, atau fenomena hasil rekaman pantulan dan atau pancaran objek oleh sensor penginderaan jauh, dapat berupa foto atau data digital (Purwadhi dan Sanjoto, 2008).

1.6.4 Daerah Aliran Sungai

Daerah Aliran Sungai ialah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas topografi relief yang mana airnya akan mengalir, mengumpul menjadi satu yang akan keluar melewati satu outlet. Daerah pengaliran sebuah sungai adalah tempat presipitasi / hujan mengkonsentrasi ke sungai (Dinas Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Provinsi Jawa Tengah, 2007).

1.6.5 Multi Temporal

Multi Temporal adalah kemampuan suatu sistem untuk merekam ulang daerah yang sama (Brachet dalam Projo Danoedoro, 1996).

(11)

11 1.7 Keaslian Penelitian

Keaslian penelitian ini ialah membandingkan antara kecenderungan trasnformasi analisis antar saluran terhadap perubahan padatan tersuspensi dari waktu ke-waktu, yaitu dengan melakukan percobaan-percobaan transformasi , yaitu transformasi algoritma TSS menggunakan saluran tunggal yang meliputi band hijau, merah, kemudian transformasi rasio saluran yang meliputi rasio band yaitu rasio biru dengan merah maupun band biru dengan inframerah dekat dan yang ketiga adalah transformasi indeks, yaitu akan menggunakan NDSSI (Normalized Difference

Suspended Sediment Index) ke dalam algoritma TSS, dari analisis tersebut kemudian

akan dikorelasikan dengan pengukuran data in-situ. Dari hasil masing-masing algoritma tersebut maka akan dihasilkan transformasi mana yang akan memiliki tingkat akurasi yang paling bagus, yaitu transformasi mana yang memilki kesesuaian dengan data lapangan. Kemudian setelah itu menghubungkan analisis masing-masing transformasi tersebut dengan parameter-parameter kualitas air perairan. Apakah terdapat pengaruh anatara perubahan padatan tersuspensi terhadap kualitas perairan pada Muara DAS Garang.

Sepengetahuan penulis sudah terdapat penelitian tentang indeks vegetasi maupun material tersuspensi. Beberapa penelitian yang pernah ditulis sebelumnya seperti tercantum pada Tabel 1.1 berikut.

(12)

12 Tabel 1.1. Keaslian Penelitian

Penulis Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil

Ahmad Fadhli Qomaruddin (2017) Pemanfaatan Data Landsat Multi-Temporal Untuk Analisis Perubahan Total Suspended Solids (TSS) di Muara DAS Garang

Melakukan Analisis Total

Suspended Solids (TSS)

menggunakan data Landsat secara multi-temporal, membandingkan hasil transformasi algoritma, melakukan analisis hubungan antara perubahan TSS

terhadap kualitas perairan Muara DAS Garang

Menggunakan analisis metode regresi linear dengan menggunakan data hasil pengukuran lapangan, kemudian membangun model dan membandingkan algoritma mana yang sesuai.

Hasl dari analisis regresi linear menunjukkan bahwa R2 terbesar terdapat pada algoritma saluran tunggal, yaitu pada regresi dari saluran 5, sedangkan hasil dari transformasi NDSSI menunjukkan nilai R2 yang relatif mendekati nilai R2 dari algoritma tunggal saluran hijau. Nilai TSS memiliki hubungan yang linear terhadap parameter kualitas perairan.

Rika Tantiyana (2016)

Pemanfaatan citra SPOT 4 Untuk

Analisis Pola Sebaran Muatan Padatan Tersuspensi Di Muara Sungai Juwana Pati

Mengetahui persamaan algoritma TSS yang sesuai yang telah dikembangkan Budhiman dan Jing Li, serta mengetahui pola sebaran muatan padatan tersuspensi

Menggunakan Rumus Empiris antar band citra SPOT dengan data TSS di lapangan melalui analisis regresi linear sederhana. Penelitian ini menerapkan algoritma dari Jing Li

Algoritma Jing Li dan Budhiman kurang sesuai jika diterapkan untuk analisis TSS sungai Juwana, karena setelah uji T test didapatkan hasil varians yang berbeda

(13)

13 (2008) dan Budhiman

(2004) Marindah Yulia

Iswari (2014)

Aplikasi Citra ALOS AVNIR-2 Untuk Pemetaan Distribusi Muatan Padatan Tersuspensi (Total

Suspended Solids) di

Muara Sungai Opak Yogyakarta

Menerapkan persamaan Hendrawan dan Asai, Bhatti

et al., Alashloo et al. untuk

diaplikasikan di Sungai Opak. Menganalisis

persamaan yang sesuai, serta memetakan distribusi muatan padatan tersuspensi di Muara Sungai Opak Yogyakarta

Menerapkan Algoritma yang sudah diterapkan oleh peneliti sebelumnya, kemudian

membandingkan dengan analisis regresi linear dengan data pengukuran lapangan.

Hasil estimasi yang didapatkan dari pengolahan citra dengan persamaan-persamaan Hendrawan, Ashloo, Bhatti mempunyai nilai yang berbeda-beda. Pengukuran menggunakan 35 sampel

menghasilkan rentang nilai 0,7 mg/l sampai 89,4 mg/l. Distribusi MPT di Muara Sungai Opak

direpresentasikan dalam bentuk peta.

Bambang Semedi, Arif Zainal Fuad dan

Syarif Budhiman (2013) Analisa Sedimen Tersuspensi (TSM) di perairan timur Sidoarjo menggunakan Data Landsat dan SPOT

Mengetahui konsentrasi TSM di perairan timur Sidoarjo tahon 2007-2013

menggunakan data citra resolusi menengah.

Citra dikoreksi sampai tahap atmosferik, yaitu mencari nilai reflektan laut dalam (deep water) kemudian diolah

menggunakan algorithma Budhiman. Analisis

Peta sebaran TSM serta grafik hubungan dengan data curah hujan dan pasang surut

(14)

14 regresi linear dengan data

in situ Wiwin Ambarwulan (2010) Remote Sensing of Tropical Coastal Waters: Study of The Berau Estuary, East Kalimantan, Indonesia Chapter 5: Estimating Total Suspended Matter Concrentation in Tropical Coastal Water.

Melalukan anlisis estimasi material tersuspensi di perairan tropis menggunakan rumus empiris menggunakan teknologi penginderaan jauh pada muara Berau.

Metodenya ialah dengan menggunakan rumus empiris, yaitu K-M Model serta Inverse K-M Model, citra yang

digunakan adalah MERIS.

Konsentrasi TSM yang diperoleh dari penggunaan K-M model menunjukkan rendahnya RMSE, coefisien dari determinasi tinggi, dan error/kesalahan relative rendah jika dibandingkan dengan analisis menggunakan pendekatan rumus empiris asli. Indah Budi Lestari (2009) Pendugaan Konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) dan Transparansi Perairan Teluk jakarta dengan Citra Satelit

Mengembangkan algoritma empiris yang sesuai untuk menduga konsentrasi TSS dan trannparansi perairan serta memetakan konsentrasi TSS dan transparansi Teluk

Penelitian ini

menggunakan algoritma empiris untuk menduga konsentrasi TSS dengan menggunakan persamaan regresi model polynomial

Konsentrasi TSS Teluk Jakarta pada musim kemarau sangat tinggi, yaitu >100mg/l dan 50-100 mg/l pada musim hujan. Transparansi perairan Teluk Jakarta pada musim kemarau dan hujan rata-rata berkisar antara

(15)

0-15 Landsat. Jakarta pada musim kemarau

dan hujan.

orde-3, begitu juga untuk pendugaan transparansi perairan, hanya saya persamaan regresinya berbeda tiap penggunaan.

4 m dan 5-10 m, dengan sebaran transparansi paling rendah pada musim kemarau.

Sucipto (2008) Kajian Sedimentasi di Sungai Kaligarang Dalam Upaya Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Kaligarang-Semarang

Mengkaji tingkat erosi di kaligarang, serta besarnya sedimentasi yang terjadi di kaligarang.

Penelitian ini

menggunakan metode perhitungan dari data serta pegukuran lapangan.

Tingkat erosi di Sungai Garang yaitu sebesar 53001 ton/ha/tahun, atau 1.064.260,08 ha/tahun sehingga besarnya sedimentasi 124.944,12 ton/tahun yang telah melampaui toleransi sedimentasi Sungai Garang, yaitu 26.426,36 ton/tahun.

Referensi

Dokumen terkait

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan FGD pada orang tua atau keluarga korban, anak yang menjadi korban, tokoh masyarakat, tokoh agama dan pejabat dari instansi terkait,

anita usia subur - cakupan yang tinggi untuk semua kelompok sasaran sulit dicapai ;aksinasi rnasai bnntuk - cukup potensial menghambat h-ansmisi - rnenyisakan kelompok

BILLY TANG ENTERPRISE PT 15944, BATU 7, JALAN BESAR KEPONG 52100 KUALA LUMPUR WILAYAH PERSEKUTUAN CENTRAL EZ JET STATION LOT PT 6559, SECTOR C7/R13, BANDAR BARU WANGSA MAJU 51750

Penelitian ini difokuskan pada karakteristik berupa lirik, laras/ tangganada, lagu serta dongkari/ ornamentasi yang digunakan dalam pupuh Kinanti Kawali dengan pendekatan

Dari hasil perhitungan back testing pada tabel tersebut tampak bahwa nilai LR lebih kecil dari critical value sehingga dapat disimpulkan bahwa model perhitungan OpVaR

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa mayoritas masyarakat Desa Klampok beragama Islam, terbukti dari sarana peribadatan yang sangat memadai. Salah satunya yaitu masjid

Dari area bisnis yang ada, ditemukan beberapa hal menyangkut permasalahan yang ada, yaitu: (1) Pihak manajemen dalam melakukan perencanaan penjualan dan produksi memperoleh data dari

Hasil uji reliabilitas instrumen variabel motivasi belajar (Y) akan diukur tingkat reliabilitasnya berdasarkan interpretasi reliabilitas yang telah ditentukan pada