BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1. Ergonomi
Ergonomi yang diartikan dari bahasa Yunani berasal dari kata “ergos” dan “nomos” yang memiliki arti kata kerja (ergo) dan hukum (nomos). Sehingga ergonomi dapat diartikan sebagai sebuah ilmu yang memperlajari tentang manusia yang berhubungan dengan seluruh aktivitasnya.
Penerapan ergonomi dapat digunakan untuk melakukan perancangan baik untuk perancangan kembali atau perancangan baru, untuk mendapatkan lingkungan kerja dan juga alat kerja yang memiliki kesesuaian satu sama lain sehingga menciptakan suatu kenyamanan bagi manusia sebagai penggunanya saat menggunakannya. Dalam penerapan ergonomi ini digunakan juga teknologi yang mampu mendukung seluruh pengaturan dan penyesuaian yang dilakukan.
Tujuan diterapkannya ergonomi dalam kehidupan sehari-hari adalah agar tercipta suatu lingkungan yang sesuai bagi manusia, sehingga manusia sebagai pengguna dari lingkungan atau fasilitas tersebut tidak perlu melakukan penyesuaian terhadap lingkungan atau fasilitas tersebut. Lingkungan atau fasilitas yang dibuat sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan dari manusia sebagai penggunanya akan menghindarkan manusia dari hal-hal negatif seperti kecelakaan atau ketidaknyamanan.
2.2. Pengembangan Produk
Pengembangan produk (product development) berdasarkan pendapat Ulrich-Eppinger merupakan sebuah aktivitas interdisipliner yang membutuhkan kontribusi dari hampir seluruh fungsi dari sebuah firma. Dimana tiga fungsi yang menjadi pusat dari pengembangan adalah marketing, design, dan manufacturing.
Kemudian proses pengembangan produk dapat dijelaskan sebagai a product development process is the sequence of steps or activities which an enterprise employs to concieve, design, and commercialize a product. (Karl T. Ulrich. Steven D. Eppinger, 2008). Menurut Ulrich-Eppinger juga proses
pengembangan produk pada prakteknya terkadang dapat dijelaskan secara rinci namun terkadang ada beberapa pihak atau perusahaan yang tidak bisa menjelaskan proses pengembangan yang dilakukannya. Begitu pula dengan setiap proses yang dilakukan, setiap pihak yang melakukan penembangan produk memiliki proses pengembangan yang tidak sama, sehingga jarang terjadi kesamaan dalam melakukan pengembangan produk.
2.2.1 Membuat Spesifikasi Produk
Kebutuhan konsumen biasanya diekspresikan dalam bentuk bahasa konsumen. Bahasa konsumen dapat memberikan sedikit petunjuk khusus bagaimana mendesain dan proses permesianan produk. Bahasa konsumen ini menciptakan margin yang besar dan menciptakan interpretasi subyektif. Oleh karena itu tim pengembangan harus membuat sekumpulan spesifikasi yang menerjemahkan harga, detail terukur, dalam bentuk apa yang harus dapat dilakukan oleh produk. Fase tersebut antara lain :
1. Menyiapkan daftar ukuran
2.2.2 Membuat Konsep Produk
Definisi konsep produk adalah gambaran perkiraan dari teknologi, prinsip pekerjaan, dan bentuk produk. Konsep produk ini dapat berbentuk gambaran singkat bagaimana produk akan memuaskan kebutuhan konsumen. Sebuah konsep biasanya diekspresikan berupa sketsa atau model 3 dimensi kasar dan diikuti dengan gambaran yang kuat berupa teks. Derajat kepuasan konsumen dan dan kesuksesan secara komersial bergantung pada besarnya ukuran kualitas konsep yang mendasarinya.
Fase ini mempunyai 5 tahap: 1. Mengklarifikasi masalah
2. Pencarian eksternal 3. Pencarian internal
2.2.3 Pemilihan Konsep
Yang dimaksud pemilihan konsep disini adalah proses mengevaluasi konsep dengan memperhatikan kebutuhan konsumen dan membandingkan kekuatan dan kelemahan konsep secara relatif dan memilih salah satu atau lebih konsep untuk pengembangan selanjutnya.
Metodologi pemilihan konsep terdiri dari dua tahap yaitu Concept Screening dimana tujuan dari konsep ini adalah mempersempit jumlah konsep secara cepat dan memperbaiki konsep. Adapun yang kedua adalah Concept Scoring, konsep ini ditentukan oleh jumlah bobot dari rating.
2.3. Kondisi Lingkungan Fisik Kerja Yang Mempengaruhi Aktivitas Kerja Manusia
Manusia sebagai makhluk “sempurna” tetap tidak luput dari kekurangan, dalam arti kata segala kemampuannya masih dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut bisa datang dari dirinya sendiri (intern) atau mungkin dari pengaruh luar (extern). Salah satu faktor yang berasal dari luar adalah kondisi lingkungan kerja, yaitu semua keadaan yang terdapat di sekitar tempat kerja seperti temperatur, sirkulasi udara, pencahayaan, warna dan lain-lain. Dibawah ini akan dijelaskan faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi lingkungan kerja yang berasal dari luar.
1. Temperatur
Temperatur tubuh manusia selalu tetap (konstan). Di bagian dalam otak, jantung, dan di dalam perut, temperaturnya berfluktasi sekitar 370 Celcius yang disebut sebagai temperatur inti utama (core temperature). Suatu core temperature yang konstan adalah merupakan prasayarat untuk fungsi normal dari fungsi vital yang paling penting. Secara psikologis dikatakan oleh Grandjean (1986) bahwa jika temperatur sekeliling sangatlah dingin maka akan ada perbedaan temperatur yang menyolok (steep temperature gradient) pada bagian kulit akan menurun sampai 350 Celcius. Sedangkan dalam suhu sekeliling yang hangat masih berada sekitar 35-360 Celcius yang hanya berada sekitar beberapa milimiter dibawah kulit.
Menurut penyelidikan untuk berbagai tingkat temperatur akan memberikan pengaruh yang berbeda-beda seperti berikut:
a. ± 490 C : Temperatur yang dapat ditahan sekitar 1 jam, tetapi jauh diatas tingkat kemampuan fisik dan mental. Lebih kurang 300 Celcius. Aktivitas mental dan daya tanggap mulai menurun dan cenderung untuk membuat kesalahn dalam pekerjaan sehingga timbul kelelahan fisik.
b. ± 300 C : Aktivitas mental dan daya tanggap mulai menurun dan cenderung untuk membuat kesalahan dalam pekerjaan sehingga timbul kekelahan fisik.
c. ± 240 C : Kondisi optimum
d. ± 100 C : Kelakuan fisik yang extrem mulai muncul
Sumber : Wignjosoebroto, S. (2003). Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu, Guna Widya.
2. Meja
Hubungan antara dimensi manusia dan ukuran tubuh dari orang yang sedang duduk dan lemari arsip juga merupakan pertimbangan yang lain. Tinggi mata pemakai dalam posisi berdiri dan duduk, serta hubungannya dengan ketinggian partisi rendah dalam sistem terbuka (open-plan) juga merupakan faktor antropometrik yang harus dipertimbangkan.
Zona kebutuhan kerja haruslah cukup besar untuk mengakomodasi kertas-kertas kerja, peralatan-peralatan yang dibawa dosen. Dibawah ini adalah gambar serta ukuran yang sesuai dengan ukuran meja.
Sumber: (Julius Panero, 2003, hal. 182)
Gambar 2.1 Meja Tulis Dengan Pengarsipan, Tempat Penyimpanan dan Sirkulasi Terbatas
Sumber: (Julius Panero, 2003, hal. 182)
Gambar 2.2 Ukuran Meja Tulis Dengan Pengarsipa, Tempat Penyimpanan dan Sirkulasi Terbatas
Sumber: (Julius Panero, 2003, hal. 183)
Sumber: (Julius Panero, 2003, hal. 183)
Gambar 2.4 Ukuran Pos Kerja Dengan Pengarsipan dan Tempat Penyimpanan
3. Pencahayaan
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pencahayaan adalah proses, cara, perbuatan memberi cahaya. Cahaya adalah prasyarat untuk penglihatan manusia terutama dalam mengenali lingkungan dan menjalankan aktifitasnya (Oktavia, 2010, 9). Pada dasarnya objek yang kita lihat adalah pantulan cahaya dari objek tersebut. Oleh sebab itu bagaimana kita melihat dan merespon sekeliling kita sangat tergantung dari jenis pencahayaan yang digunakan.
Terdapat perbedaan mendasar antara pencahayaan dan penerangan. Pencahayaan lebih menekankan sifat-sifat penyinaran yang harus dipelajari oleh seorang perancang interior. Penerapan pencahayaan yang baik tidak bisa lepas dari pemanfaatan cahaya alami yang optimal dan buatan yang efisien. Sedangkan penerangan hanya sekedar membuat ruangan menjadi terang. Di lain pihak, pencahayaan yang kurang dapat membuat kita kesulitan merespon sekitar, sedangkan pencahayaan berlebihan dapat mengakibatkan silau (glare) sehingga pengguna tidak nyaman.
A. Fungsi Pencahayaan
Buku yang diletakan dimeja akan terlihat dengan bantuan cahaya. Ruang tamu yang telah didesain apik dapat dinikmati dengan bantuan cahaya. Cahaya memiliki fungsi yang sangat penting khususnya pada rumah tinggal. Pengaturan cahaya (pencahayaan) yang baik membuat ruangan tertentu menjadi nyaman untuk dijadikan tempat beristirahat. Berikut ini ada tabel tingkat pencahayaan.
Tabel 2.1 Tingkat Pencahayaan
Lux Contoh
20 Humanisasi Minimum
100 Kamar tidur hotel
1000 Gambar yang sangat teliti 2000 Pekerjaan secara rinci dan presisi 3 Pencahayaan setempat
untuk pekerjaan teliti
750 Pembacaan untuk koreksi tulisan 350 Pencahayaan umum untuk perkantoran,
pertokoan, membaca, menulis
400 Ruang gambar
Macam Pekerjaan
1
Pencahayaan untuk daerah yang tidak terus
menerus dipergunakan
50 Parkir dan daerah sirkulasi didalam ruangan
2
200 Membaca dan menulis yang terus menerus.
Pencahayaan untuk bekerja didalam ruangan
Sumber : SNI 03-6579-2002 Perencanaan Teknis Konservasi Energi Pada Bangunan Rumah dan Gedung (2002)
2.4. Penggunaan Anak Tangga Pada Panggung 2.4.1.Ukuran Lebar dan Tinggi Anak Tangga
Panggung pada area kelas merupakan area yang digunakan narasumber (dosen) untuk proses belajar mengajar. Panggung pada area kelas ini terdapat tangga. Tangga adalah sebuah konstruksi yang dirancang untuk menghubungi dua tingkat vertikal yang memiliki jarak satu sama lain.
Pada tangga terdapat anak tangga. Anak tangga merupakan elemen dari tangga yang perlu perhatian cukup penting. Karena sering dilalui untuk naik turun pengguna, bahan permukaan anak tangga harus benar-benar aman, nyaman agar terhindar dari kemungkinan kecelakaan seperti terpeleset karena licin atau terlalu sempit.
Pada lebar tangga, standar minimal lebar tangga yang nyaman dan aman untuk satu orang pengguna adalah 60 cm. Semakin lebar tentunya semakin nyaman dan semakin banyak penggunanya dalam satu waktu. Dan pada bagian tinggi anak tangga berkisar antara 15 – 18 cm.
2.5. Penempatan Papan Tulis
Papan tulis yang digunakan sebagai sarana belajar kadang-kadang ditempatkan pada tempat yang tidak ergonomis, sehingga dapat memunculkan gangguan fisiologis pada mahasiswa saat membaca tulisan atau pesan yang dibuat di papan tulis tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diketahui kaidah-kaidah ergonomi yang dapat digunakan sebagai acuan di dalam penempatan papan tulis tersebut. (Sutajaya, 2007)
(Nurmianto, 2008, hal. 350)
Gambar 2.5 Pengamat Pria Pada Posisi Duduk
(Nurmianto, 2008, hal. 353)
Dari gambar 2.5 diketahui bahwa batasan sudut pandang mata posisi pada saat duduk diketahui yaitu 500, akan tetapi untuk sudut pandang yang ideal untuk sudut pandang mata dalam posisi duduk adalah 300-330. Untuk dapat meletakkan posisi papan tulis yang ergonomis maka disesuaikan dengan mempertimbangkan mahasiswa yang duduk paling depan dan paling belakang, sehingga rotasi mata mereka tetap berada pada 300-330. (Nurmianto, 2008)
2.6. Diagram Sebab-Akibat (Cause and Effectc Diagram)
Diagram sebab-akibat adalah suatu diagram yang menunjukkan hubungan antara sebab dan akibat. Berkaitan dengan pengendalian proses statistikal, diagram sebab-akibat dipergunakan untuk menunjukkan faktor-faktor penyebab (sebab) dan karakteristik kualitas (akibat) yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab itu. Diagram sebab-akibat ini sering juga disebut sebagai diagram tulang ikan (fishbone diagram) karena bentuknya seperti kerangka ikan, atau diagram Ishikawa (Ishikawa diagram) karena pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Kaouru Ishikawa pada tahun 1943.
Manfaat diagram sebab-akibat tersebut antara lain:
1. Dapat menggunakan kondisi yang sesungguhnya untuk tujuan perbaikan kualitas produk atau jasa, lebih efisien dalam penggunaan sumber daya, dan dapat mengurangi biaya
2. Dapat mengurangi dan menghilangkan kondisi yang menyebabkan ketidaksesuain produk atau jasa
3. Dapat membuat suatu standardisasi operasi yang ada maupun yang direncanakan
4. Dapat memberikan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan dalam kegiatan pembuatan keputusan dan melakukan tindakan perbaikan.
Langkah-langkah pembuatan diagram sebab – akibat dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. Mulai dengan pernyataan masalah utama yang penting dan mendesak untuk diselesaikan
2. Tuliskan pernyataan masalah pada ”kepala ikan” yang merupakan akibat (effect)
3. Tuliskan faktor–faktor penyebab utama (sebab-sebab) yang mempengaruhi masalah kualitas sebagai ”tulang besar”, juga ditempatkan dalam kotak
4. Tuliskan penyebab–penyebab sekunder yang mempengaruhi penyebab– penyebab utama
5. Tuliskan penyebab–penyebab tersier yang mempengaruhi penyebab – penyebab sekunder
6. Tentukan item–item yang penting dari setiap faktor dan tandai faktor penting yang kelihatannya memiliki pengaruh nyata terhadap karakteristik kualitas. Catat informasi yang perlu di dalam diagram sebab–akibat itu.
2.7. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)
Salah satu metode yang bisa digunakan untuk mengetahui/mengukur keandalan (realibility) adalah dengan menggunakan FMEA. FMEA adalah metode yang dapat digunakan untuk mencegah dan menghilangkan cacat yang bisa muncul dalam proses manufaktur (Dudek-Burlikowska, 2011) . FMEA juga merupakan serangkaian aktivitas yang memiliki tujuan untuk mengenali dan mengevaluasi potensi kegagalan dari suatu proses dan akibatnya, mengidentifikasi tindakan yang mampu mengurangi atau menghilangkan kemungkinan kegagalan, dan mendata keseluruhan proses yang terjadi (Besterfield, Dale H; Besterfield-Michna, Carol; Besterfield, Gale H;, 2003).
Untuk melakukan antisipasi agar tidak timbulnya kegagalan maka harus dilakukan identifikasi penyebab dari kegagalan, setelah diketahui maka dilakukanlah pencegahan terhadap penyebab kegagalan tersebut agar tidak timbul. Hal ini dapat dilakukan oleh FMEA dengan menggunakan kriteria occurance dan detection probability serta kriteria severity. Agar penggunaan FMEA dapat berhasil maka perlu dilakukan pembaharuan setiap muncul masalah/kegagalan. Berikut adalah tabel Severity, tabel occurance, dan tabel detection.
Tabel 2.2 Severity Rating Table Appearance of the
defect (Severity)
FMEA - Products/Design/Process
1 The appearance of the defect is almost impossible 2-3 The defect very rarely appears
4-6 The defect appears occasionally, every now and then 7-8 The defect often appears
9-10 Almost it isn't possible to avoid the defect
Sumber: (Dudek-Burlikowska, 2011, p. 95)
Tabel 2.3 Occurance Rating Table Meaning of the
defect (Occurrence)
FMEA - Products/Design/Process
1 There is no meaning
2-3 Meaning of the defect is little and construct for little worsening the jurisdiction of the product
4-6 The defect in the product evokes the distinct dissatisfaction of the user
7-8 The dissatisfaction of the user is great, because is triggered with impossibility of using the product
9-10 The defect in the product threatens the safety of the user
Sumber: (Dudek-Burlikowska, 2011, p. 95)
Tabel 2.4 Detection Rating Table Detectability of the defect FMEA - Products/Design/Process 1-2 Very high 3-4 High 5-6 Average 7-8 Low 9 Very low 10 None Sumber: (Dudek-Burlikowska, 2011, p. 95)
2.8. Pengertian dan Tahap Merancang Kuesioner
Kuisoner merupakan daftar pertanyaan yang akan digunakan oleh periset untuk memperoleh data dari sumbernya secara langsung melalui proses komunikasi atau dengan mengajukan pertanyaan (Churchill, 2005).
2.8.1 Merancang Kuesioner
Adapun tahap-tahap yang dilakukan dalam merancang kuisioner diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Tetapkan informasi yang ingin diketahui
Pastikan mempunyai pemahaman yang baik dan yang ingin diketahui. Susunlah pertanyaan sedemikian rupa, review pertanyaan secara periodik ketika sedang menyusun kuesioner, lakukan pencarian atas pertanyaan mengenai permasalahan yang ada
2. Tentukan isi dari masing-masing pertanyaan
Pastikan bahwa setiap pertanyaan adalah penting dan hanya berkaitan dengan permasalahan yang ada. Pecahilah satu pertanyaan yang dapat dijawab dari kerangka referensi, yang mencerminkan kerangka acuan referensi yang mungkin digunakan
3. Tentukan banyak respon atas setiap pertanyaan
Gunakan pertanyaan terbuka atau open-ended yang hanya memerlukan jawaban singkat untuk mengawali suatu kuesioner. Jika pertanyaan opend-ended atau terbuka menjadi pertanyaan dengan respons tetap guna mengurangi beban kerja responden. Menyadari bahwa mungkin ada responden yang bersikap netral. Apabila menggunakan pertanyaan pilihan berganda, pastikan pilihannya lengkap serta bersifat mutually. 4. Tentukan kata-kata yang digunakan untuk setiap pertanyaan
Gunakan kata-kata yang sederhana. Hindari kata-kata dan pertanyaan yang bermakna ganda. Gunakan kalimat-kalimat yang sederhana dan hindari kalimat-kalimat yang sama. Buatlah pertanyaan spesifik mungkin.
5. Tentukan urutan pertanyaan
Gunakan pertanyaan yang sederhana dan menarik sebagai pembuka. Ajukan pertanyaan yang sulit atau sensitif pada bagian akhir kuesioner ketika hubungan yang baik telah terjamin. Jawablah pertanyaan mengenai suatu topik sebelum melangkah ke pertanyaan selanjutnya.
2.9. Pengertian Desain
Dalam masalah perancangan tata ruang, semua aspek yang mencakup unsur- unsur keindahan dari berbagai macam aspek sehingga pada akhirnya memberikan kepuasan bagi si penghuni atau dengan kata lain bahwa perancangan desain tersebut haruslah dapat memenuhi berbagai kebutuhan penghuni secara memuaskan. Desain adalah suatu sistem yang berlaku untuk segala macam jenis perancangan di mana titik beratnya adalah melihat sesuatu persoalan tidak secara terpisah atau tersendiri, melainkan sebagai suatu kesatuan di mana satu masalah dengan lainnya saling kait-mengkait. Dengan sistem disain, perancangan dilakukan dalam 3 tahap dengan urutan sebagai berikut:
1. Pengumpulan berbagai macam permasalahan 2. Meneliti masalah satu persatu
3. Mengelompokkan masalah tersebut, sehingga cara penyelesaian dari keseluruhannya dapat tersusun dengan jelas.
Manusia selalu cenderung untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang berbeda pada tiap ruang, sehingga seorang perancang disain harus mengatur cara-cara atau membuat ruang-ruang menjadi berbeda-beda pula dalam fungsi karena faktor utama dalam sistem perancangan disain selalu menitik beratkan pada unsur-unsur:
a. Manusia b. Ruang c. Lingkungan
Ketiga faktor tersebut harus dipelajari satu persatu karena dengan memperhatikan kepentingan ketiga unsur tadi akan dihasilkan suatu perancangan dasar yang lebih mantap. Faktor manusia sebagai subjek yang menempati ruang dengan ikatan lingkungan terpaut padanya harus dijaga kesatuannya agar menghasilkan karya yang mampu mencerminkan suasana dari aktivitas yang terjadi dalam ruang tersebut. Maksud dari sistem disain yaitu mengutamakan unsur-unsur disain dari semua benda-benda yang dibutuhkan, dimana perancang dituntut memiliki landasan dan motivasi yang kuat untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal dalam profesinya dengan menciptakan disain-disain baru guna memenuhi kebutuhan esensil yang sejalan
2.10. Pengertian Estetika
Secara etimologi, estetika berasal dari kata aesthesis (Yunani) yang artinya mengamati. Estetika juga dapat berasal dari kata aisthenasthai (mengamati secara jasmani), juga dapat berasal dari kata aesthetikos (pengamatan dengan penginderaan). Sehingga estetika berkaitan dengan alat yang dipakai untuk mengamati yaitu indera manusia yang ada secara jasad. (ESTETIKA DALAM ARSITEKTUR, 2010). Kata “mengamati”, berarti ada obyek yang diamati. Obyek tersebut berada di luar subyek “mengamati” dengan indera yang lain yaitu indera pendengaran, indera perabaan, dan indera penciuman serta indera perasa. Sehingga obyek estetis (obyek yang diamati yang bernilai keindahan) tidak hanya lukisan, arsitektur, kerajinan tangan dan lain-lain.
Walaupun pengamatan dilakukan melalui indera tetapi estetis berkaitan dengan “rasa” yang melibatkan akal dan hati. Dalam Bahasa Inggris estetika diartikan sebagai to perceive/to sense. Hal ini menjadikan pelibatan “oleh rasa” sangat diperlukan yang kemudia hal ini menyentuh kesadaran dala diri manusia yang diungkapkan dalam obyek estetis dan apresiasi seni. Untuk Arsitektur maka objek estetisnya adalah Arsitektur dan senimannya disebut arsitek dan kritikus Arsitektur.
2.11. Bahan Material Tangga
Dalam memilih material untuk sebuah tangga tidak bisa sembarangan, karena setiap material memiliki karakternya tersendiri. Dari segi kekuatan, sisi visual, dan efektifitas terhadap bentuk tangga yang diingin. Ada beberapa bahan material yang digunakan untuk tangga, yaitu :
a. Kayu
Visual kayu juga memiliki daya tarik tersendiri yang tak tergantikan oleh material lain. Motif serat kayu dan aneka ragam warna alaminya membuat kayu menjadi material yang disukai pasar serta umum digunakan. Karena itu kayu tidak hanya dapat digunakan sebagai material struktur, tetapi juga umum digunakan sebagai aksen dan pemanis dalam sebuah tangga
2.12. DFM (Designed For Manufacturing)
Untuk dapat memenuhi kebutuhan pelanggan serta dapat menciptakan suatu produk yang tepat guna dibutuhkan metodologi yang dapat digunakan untuk melakukan pengembangan konsep terhadap produk yang diinginkan tersebut. Salah satu metodologi yang biasa digunakan adalah designed for manufacturing (DFM), yang merupakan suatu metodologi yang langsung mengarah pada biaya produksi (manufacturing cost) dari pembuatan produk yang diinginkan tersebut.
Biaya produksi merupakan salah satu bagian penting dari kesuksesan suatu produk secara ekonomi. Kesuksesan secara ekonomi bergantung pada rentang keuntungan yang didapat dari setiap penjualan produk serta berapa banyak produk yang dapat dijual, dimana rentang keuntungan merupakan perbedaan dari harga jual produk dan biaya pembuatan produk.
Design for manufacturing merupakan salah satu penerapan terpadu yang menyangkut dalam pengembangan produk. Dalam penggunaannya DFM memanfaatkan beberapa tipe informasi, yaitu :
1. Sketsa, gambar, spesifikasi produk, dan desain alternatif 2. Penjelasan tentang produk serta proses perakitannya
3. Perkiraan biaya produksi, volume produksi, serta ramp-up timing.
Penerapan DFM memerlukan keikutsertaan dari seluruh anggota tim pengembangan. Dalam tim ini terdapat beberapa ahli baik dari manufacturing engineers, cost accountants, bagian produksi serta product designers.
Penggunaan DFM dimulai pada saat pengembangan konsep produk. Dalam tahap ini biaya merupakan salah satu kriteria yang menentukan keputusan yang akan diambil.
Proses-proses yang terdapat pada DFM adalah:
1. Estimasi biaya produksi (estimate the manufacturing cost) a. Component costs
Dari satu produk dapat dibedakan menjadi dua, yaitu standard component dan custom component.
b. Assembly costs
Proses assembly akan membutuhkan biaya untuk pekerjanya (labor costs), biaya untuk peralatan dan perlengkapan yang digunakan (equipment and tooling costs).