PROPOSAL
PENELITIAN UNGGULAN DANA LOKAL ITS
TAHUN 2020
Peningkatan Kapasitas Masyarakat Kota Surabaya melalui Rancang Bangun Aplikasi Penilaian Resiko Bencana Banjir
Tim Peneliti:
Ketua : Endah RM Putri, S.Si, MT, Ph.D (Matematika/FSAD/ITS)(NIDN 0013127601) Anggota:
Cahyono Bintang Nurcahyo, ST, MT (Teknik Sipil/FSLK/ITS)(NIDN 0031078203) Nani Kurniati, ST, MT, Ph.D (Teknik Industri/FTI/ITS)(NIP 197504081998022001 )
Vely Kukinul S, ST, MT, M.Sc (Perencanaan Wilayah Kota/FSLK/ITS)(NIP 3600201405005 )
Mahasiswa : Hengky Kurniawan (Matematika/FMKSD/ITS)(NRP 06111640000026)
DIREKTORAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
DAFTAR ISI
Hal Halaman Judul i DAFTAR ISI ii Bab I RINGKASAN 1 Bab II PENDAHULUAN 4 2.1 Tujuan Penelitian . . . 7 2.1.1 Tujuan Umum . . . 7 2.1.2 Tujuan Khusus . . . 7 2.2 Urgensi Penelitian . . . 82.3 Spesifikasi Khusus Penelitian sebagai Penelitian Unggulan . . . 9
Bab III TINJAUAN PUSTAKA 10 3.1 State of The Art . . . 10
3.2 Road Map . . . 11
3.3 Dasar Teori . . . 12
3.3.1 Teori DaLa . . . 12
3.4 Pemodelan Matematika Indeks Kerugian Bencana Banjir dan Asuransi Bencana . . . 24
3.4.1 Prediksi Curah Hujan Maksimum . . . 24
3.4.2 Perhitungan Resiko Banjir . . . 25
3.4.3 Model Indeks Kerugian . . . 28
3.4.4 Pembangkitan Bilangan Acak . . . 29
3.4.5 Pendekatan Monte Carlo . . . 29
Bab IV METODOLOGI 30 4.1 Tahun pertama . . . 30 4.2 Tahun kedua . . . 34 Bab V JADWAL 37 5.1 Jadwal . . . 37 5.2 Anggaran Biaya . . . 38
Bab VI Daftar Pustaka 42
DAFTAR PUSTAKA 43
Bab VII Lampiran 45
7.1 BIODATA KETUA. . . 45
7.2 BIODATA ANGGOTA 1 . . . 47
7.3 BIODATA ANGGOTA 2 . . . 48
BAB I
RINGKASAN
Banjir adalah bencana yang cukup sering terjadi di Kota Surabaya dibandingkan bencana lain seperti kebakaran dan angin puting beliung. Banjir yang terjadi bisa diaki-batkan oleh curah hujan yang tinggi, kondisi tanah yang rendah, dan luapan air sungai. Surabaya termasuk daerah yang mengalami curah hujan tinggi yaitu sekitar 141 mm rata-rata per tahun. Bencana banjir yang sering terjadi di Surabaya antara lain di daerah Kecamatan Wiyung, Pakal, dan Benowo, dimana cukup besar menimbulkan kerusakan dan kerugian. Nilai ekonomi kerusakan dan kerugian tersebut ditaksir cukup besar meskipun belum ada proses penilaian yang jelas terhadap nilai ekonomi kerusakan dan kerugian tersebut oleh Pemerintah Kota. Kerugian yang diderita oleh masyarakat, misalnya dikare-nakan kerusakan properti dan kehilangan kesempatan usaha belum terekam dengan baik. Kerusakan dan kerugian akibat bencana tersebut tentu saja menurunkan tingkat kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.
Selama ini untuk mempertahankan dan memulihkan tingkat kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana banjir di Surabaya berupa bantuan dari Pemerintah Kota yang dianggarkan di APBD. Untuk memberikan alternatif peningkatan kapasitas masyarakat Kota Surabaya dalam menghadapi bencana banjir berupa alternatif pembiayaan yang tidak bersumber dari APBD, maka penelitian ini mengajukan rancang bangun penilaian ekonomi kerusakan dan kerugian bencana banjir di Kota Surabaya. Oleh karena itu, penelitian ini secara umum bertujuan untuk melakukan penilaian ekonomi dari kerusakan dan kerugian bencana dan menyusun suatu skema pendanaan pendamping proses pemulihan bencana banjir dalam bentuk asuransi bencana, dengan studi kasus Kota Surabaya.
Penilaian ekonomi kerusakan dan kerugian bencana diperlukan untuk menyusun suatu skema pendanaan bencana seperti asuransi bencana. Skema tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat Kota Surabaya dalam menghadapi bencana, baik pra-bencana dan pasca bencana, secara ekonomi dan keuangan. Selain itu skema pendanaan tersebut akan memberikan alternatif pembiayaan penanganan dan pemulihan bencana yang selama ini dilakukan Pemerintah dengan menggunakan APBN. Aplikasi web atau mobile akan dirancang dan dibangun untuk mempermudah masyarakat Kota
Surabaya dan Pemerintah dalam proses pemantauan nilai kerusakan dan kerugian bencana serta nilai skema asuransi yang sesuai.
Penelitian akan dilakukan selama dua tahun dengan rincian mendapatkan penilaian ekonomi dari kerusakan dan kerugian bencana banjir di Surabaya pada tahun pertama dan membangun skema pendanaan pendamping untuk penanganan bencana dan pemulihan pasca bencana berupa asuransi bencana pada tahun kedua. Pada tahun pertama langkah-langkah yang dilakukan meliputi survey dan pengumpulan data kerusakan dan kerugian banjir di Kota Surabaya, curah hujan di Kota Surabaya, luas permukaan saluran air di Kota Surabaya; metode yang digunakan adalah metode DaLa untuk mendapatkan nilai ekonomi kerusakan dan kerugian bencana banjir di Kota Surabaya. Selanjutnya akan dihitung indeks kerugian bencana banjir di Kota Surabaya menggunakan rumusan dasar hidrologi berdasarkan data curah hujan dan luas permukaan saluran air. Model matematika dari indeks kerugian bencana banjir dibentuk menggunakan persamaan diferensial stokastik Geometric Brownian Motion dengan proses jump-difussion. Selanjutnya akan dibangun prototipe aplikasi web atau mobile penilaian ekonomi kerusakan dan kerugian bencana banjir yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Surabaya dan Pemerintah Kota Surabaya sebagai bagian dari usaha meningkatkan kapasitas masyarakat Kota Surabaya dalam menghadapi bencana banjir.
Pada tahun kedua, model matematika indeks kerugian bencana banjir Surabaya yang telah didapatkan, akan digunakan sebagai dasar model resiko bencana untuk menyusun suatu skema kontrak asuransi bencana banjir di Kota Surabaya. Asuransi bencana banjir ini merupakan skema alternatif pembiayaan penanganan dan pemulihan bencana banjir dengan menyertakan masyarakat. Dengan skema asuransi bencana banjir tersebut diharapkan kapasitas ekonomi masyarakat Kota Surabaya akan meningkat. selain itu Pemerintah Kota juga mendapatkan alternatif pembiayaan penanganan dan pemulihan pasca banjir yang tidak berasal dari APBD. Selanjutnya prototipe aplikasi web atau mobile penghtungan premi asuransi bencana banjir akan dibangun agar hasil penelitian ini dapat digunakan oleh masyarakat dan PEmerintah Kota Surabaya.
Luaran yang ditargetkan terbagi menjadi dua yaitu pada tahun pertama dan tahun kedua. Pada tahun pertama luaran yang diharapkan adalah prototipe aplikasi web atau mobile penilaian ekonomi kerusakan dan kerugian bencana banjir di Kota Surabaya dan publikasi paper di jurnal internasional terindeks Scopus Q2 Geneva Papers on Risk and Insurance: Issues and Practice. Pada tahun kedua, target luaran adalah prototipe aplikasi web atau mobile penghitungan premi asuransi bencana banjir di Kota Surabaya dan
publikasi paper di jurnal internasional terindeks Scopus Q2.
BAB II
PENDAHULUAN
Banjir merupakan salah satu bencana yang terjadi dengan frekuensi yang cukup tinggi di Kota Surabaya, selain bencana kebakaran, angin puting beliung, dan kerentanan tanah (Surabaya, 2016). Tipe banjir di Kota Surabaya terdiri dari dua macam yaitu banjir rob (Prawira and Pamungkas, 2014) dan banjir pada saat musim penghujan (Susetyo, 2008). Banjir rob antara lain disebabkan karena topografi kota Surabaya yang didominasi oleh dataran rendah sekitar 80.72% berada pada ketinggian 0-10 meter dari permukaan air laut (Prawira and Pamungkas, 2014). Sedangkan pada musim penghujan, Surabaya mempunyai curah hujan yang cukup tinggi sekitar 141.1 mm rata-rata per tahun. Bahkan pada bulan Februari, Maret, April, November dan Desember, curah hujan bisa mencapai 200 mm (Susetyo, 2008).
Kerugian ekonomi akibat banjir tersebut bisa berupa dampak langsung dan tidak langsung. Dampak langsung berupa kerusakan rumah, bangunan, tempat usaha, kantor, dan infrastruktur dirasakan oleh masyarakat dan pemerintah. Dampak tidak langsung berupa penurunan kegiatan perekonomian sebagai akibat susulan dari kerusakan sebelumnya. Dalam periode 2008 sampai dengan 2011, bencana banjir yang melanda Surabaya terjadi selama 12 kali dan telah mengakibatkan kerugian dalam kerusakan lahan dan kerusakan jalan. Kerusakan tersebut menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Genangan banjir di Surabaya antara lain terjadi di kawasan pemukiman Wiyung dengan ketinggian 30 cm selama 40 menit. Kerugian yang dialami oleh Pemerintah ditaksir mencapai 31 juta rupiah pada tahun 2011 (Lasminto, 2015). Banjir yang terjadi di antara Kabupaten Gresik dan Kota Surabaya karena meluapnya Kali Lamong, sering terjadi, dengan daerah terdampak wilayah Kota Surabaya adalah Kecamatan Benowo dan Kecamatan Pakal. Sekitar 2000 rumah terdampak banjir Kali Lamong di Kecamatan Pakal (Abraham, 2019). Kelurahan yang paling parah dengan kerugian mencapai 8 juta rupiah pada tahun 2011 adalah Kelurahan Tambakdono dan Sumberejo (Perdinan, 2015). Daerah terdampak banjir di Surabaya dapat dilihat di peta banjir di Gambar 2.1. Banjir yang terjadi di Lamongan misalnya, mengalami banjir di tahun 2008 dan mengaki-batkan sekitar 16.733 rumah terendam dan evakuasi harus dilakukan terhadap 2.212
Figure 2.1: Peta Banjir Surabaya
warga setempat. Kerusakan akibat banjir tersebut diperkirakan mencapai 27.5 juta USD (Pamungkas, 2012).
Selain kerugian akibat kerusakan disebabkan banjir, kerugian yang diderita oleh masyarakat terkait kerusakan rumah masing-masing, kehilangan barang berharga, dan penurunan kemampuan ekonomi masyarakat juga perlu diperhatikan. Tingkat kerentanan masyarakat terhadap resiko bencana banjir (vulnerability), menjadi konsep kunci dalam reduksi resiko komunitas terhadap bencana (Pamungkas, 2012). Studi tentang tingkat kerentanan ini melibatkan berbagai disiplin ilmu dari teknik sampai sosial. Tingkat kerentanan tersebut terkait dengan kapasitas masyarakat dalam merespon bencana secara fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan (Rulli, 2015).
Peningkatan kapasitas masyarakat dalam merespon bencana adalah salah satu bagian dari manajemen resiko bencana. Studi tentang tingkat kerentanan berperan dalam meminimumkan akibat dari bencana yang mungkin akan terjadi pada masyarakat di masa depan, dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam merespon bencana yang terjadi.
Diterbitkannya Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (UU PB), merupakan payung hukum yang ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia dalam rangka memberikan ruang bagi berbagai pihak terkait untuk berperan dalam mengoptimalkan penanganan bencana dan meminimumkan resiko antara lain berupa kerusakan dan kerugian yang terjadi (Siswanto, 2015). Menurut UU PB pasal 1 ayat
9 bahwa serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana disebut mitigasi bencana. Berkurangnya risiko bencana tersebut merupakan kondisi yang perlu diciptakan melalui serangkaian kegiatan yang bersifat preventif.
Langkah preventif tersebut dapat dilakukan dengan tindakan mitigasi yang berawal dari menciptakan kesadaran manakala terjadi bencana yang mereduksi kapasitas masyarakat terdampak bencana, baik penguasaannya maupun aksesnya. Langkah preventif tersebut diharapkan menjadi upaya untuk segera melakukan perbaikan atas kapasitas terdampak bencana sesegera mungkin (Siswanto, 2015) sehingga masyarakat dapat melanjutkan kembali kehidupannya.
Dengan kata lain mitigasi mendorong upaya menekan proses reduksi aset penghidupan, baik dalam bentuk humane capital, yakni modal yang dimiliki manusia, seperti rumah tinggal dan financial capital, yaitu sumber-sumber keuangan yang digunakan oleh masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuan kehidupannya.UU PB telah mengatur secara khusus mengenai hak dan kewajiban masyarakat. Dari sisi hak, bahwa setiap orang berhak untuk memperoleh ganti kerugian akibat bencana yang disebabkan oleh kegagalan kontruksi [Pasal 26 ayat 3). Selama ini skema ganti kerugian untuk masyarakat mayoritas dilakukan oleh Pemerintah dalam bentuk langkah pemulihan pasca bencana yaitu rehabilitasi dan rekonstruksi, dimana pembiayaannya dianggarkan dalam APBN (Prihanadi and Others, 2017). Peran Pemerintah dalam proses pemulihan pasca bencana tersebut semakin meningkat dari tahun ke tahun seiring meningkatnya frekuensi bencana yang terjadi. Alokasi anggran untuk penanganan bencana terbatas antara 2 triliun sampai dengan 5 triliun rupiah untuk seluruh Indonesia padahal kerusakan dan kerugian bencana yang terjadi jauh lebih besar. Misalnya bencana tsunami Aceh dan Nias menelan biaya 40 triliun dan bencana gempa Yogya menelan biaya sebesar 29 triliun rupiah. Oleh karena itu sangatlah penting untuk mencari skema pembiayaan kebencanaan yang jauh lebih baik.
Salah satu cara untuk mencari alternatif skema pembiayaan kebencanaan adalah peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat melalui asuransi bencana. Dengan asuransi bencana ini maka Pemerintah dapat mempunyai skema pendamping pendanaan sehingga diharapkan proses pemulihan pasca bencana akan menjadi lebih baik (Prihanadi and Others, 2017). Masyarakat pun akan mempunyai kemampuan atau kapasitas yang lebih baik secara ekonomi dan keuangan dalam kesiapsiagaan dan pemulihan pasca bencana.
Untuk mendapatkan suatu skema pembiayaan pendamping proses pemulihan pasca bencana selain dana Pemerintah dari APBN seperti asuransi bencana, maka
diper-lukan informasi yang akurat mengenai kerusakan dan kerugian bencana. Informasi yang akurat ini nantinya akan digunakan untuk menyusun suatu asuransi bencana yang sesuai (Prihanadi and Others, 2017).
2.1 Tujuan Penelitian 2.1.1 Tujuan Umum
Oleh karena itu, penelitian ini secara umum bertujuan untuk melakukan penilaian ekonomi dari kerusakan dan kerugian bencana dan menyusun suatu skema pendanaan pendamping proses pemulihan bencana banjir dalam bentuk asuransi bencana, dengan studi kasus Kota Surabaya. Penilaian ekonomi kerusakan dan kerugian bencana diper-lukan untuk menyusun suatu skema pendanaan bencana seperti asuransi bencana. Skema tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat Kota Surabaya dalam menghadapi bencana, baik pra-bencana dan pasca bencana, secara ekonomi dan keuangan. Selain itu skema pendanaan tersebut akan memberikan alternatif pembiayaan penanganan dan pemulihan bencana yang selama ini dilakukan Pemerintah dengan menggunakan APBN. Aplikasi web atau mobile akan dirancang dan dibangun untuk mempermudah masyarakat Kota Surabaya dan Pemerintah dalam proses pemantauan nilai kerusakan dan kerugian bencana serta nilai skema asuransi yang sesuai.
2.1.2 Tujuan Khusus
Untuk mencapai tujuan umum diatas maka perlu dijabarkan tujuan khusus dari penelitian ini. Penelitian ini akan dilaksanakan selama dua tahun pendanaan dengan rincian sebagai berikut:
Tahun 1 (Pertama)
Untuk mencapai tujuan umum pertama yaitu mendapatkan penilaian ekonomi dari kerusakan dan kerugian bencana banjir di Surabaya, maka diperlukan tujuan khusus yang lebih terinci. Tujuan khusus penelitian untuk tahun 1 (pertama) adalah sebagai berikut:
1. Melakukan survey bencana banjir di Kota Surabaya dan mendapatkan data kerusakan dan kerugian dari tiap kelurahan di Kota Surabaya.
2. Melakukan penilaian ekonomi dari kerusakan dan kerugian akibat bencana banjir di Kota Surabaya.
3. Membangun model matematika indeks kerugian bencana banjir untuk Kota Surabaya.
4. Membangun prototipe aplikasi web atau mobile penilaian ekonomi bencana banjir di Kota Surabaya.
Tahun 2 (Kedua)
Tujuan umum kedua adalah membangun skema pendanaan pendamping untuk penanganan bencana dan pemulihan pasca bencana berupa asuransi bencana. Untuk mencapainya maka diperlukan tujuan khusus sebagai penjabaran tujuan umum. Tujuan khusus penelitian untuk tahun 2 (kedua) adalah sebagai berikut:
1. Menggunakan model matematika indeks kerugian bencana banjir Kota Surabaya sebagai model resiko bencana.
2. Mendapatkan nilai premi asuransi yang diinginkan oleh masyarakat Kota Surabaya (Willingness-To-Pay WTP).
3. Mendapatkan nilai premi pure asuransi bencana banjir di Kota Surabaya.
4. Membangun model asuransi bencana banjir Kota Surabaya dengan beberapa alter-natif model.
5. Mendapatkan nilai premi asuransi dengan beberapa alternatif model yang diperoleh. 6. Membangun prototipe aplikasi penghitungan premi asuransi bencana banjir di Kota
Surabaya.
2.2 Urgensi Penelitian
Seiring meningkatnya kejadian bencana banjir yang terjadi di Kota Surabaya membawa konsekuensi meningkatnya biaya penanganan bencana dan pemulihan pasca bencana. Masyarakat terdampak dan Pemerintah Kota sama-sama terekspose oleh besarnya biaya tersebut. Peningkatan kapasitas masyarakat terdampak bencana secara ekonomi menjadi penting untuk meminimumkan bertambahnya kerentanan masyarakat Kota Surabaya terhadap bencana banjir. Penilaian ekonomi kerusakan dan kerugian bencana banjir di Kota Surabaya merupakan langkah awal untuk mendapatkan gambaran seberapa besar kerentanan masyarakat dan beban Pemerintah Kota. Selanjutnya dari gambaran tersebut akan dibangun skema asuransi bencana nantinya diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat Kota Surabaya secara ekonomi terhadap bencana banjir dan menjadi alternatif pembiayaan penanganan dan pemulihan pasca bencana yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota.
2.3 Spesifikasi Khusus Penelitian sebagai Penelitian Unggulan
Penelitian ini akan meningkatkan peran Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim di Kota Surabaya untuk berkontribusi dalam perumusan kebijakan Pemerintah Kota Surabaya dalam penanganan dan pemulihan pasca benacan Banjir di Kota Surabaya dengan berkomunikasi dengan BAPPEKO Surabaya.
Penelitian ini melibatkan peneliti multidisiplin yaitu
• bidang Matematika Keuangan dan Aktuaria, dengan person in charge adalah Endah RM Putri, Ph.D (Departemen Matematika), yang bertanggung jawab dalam masalah pemodelan matematika indeks kerugian bencana dan pembangunan produk keuangan asuransi bencana.
• bidang Teknik Sipil, dengan person in charge adalah Cahyono Bintang Nurcahyo, ST, MT (Departemen Teknik Sipil), yang bertanggung jawab dalam masalah assesment terhadap kerusakan dan kerugian bencana.
• bidang Teknik Industri, dengan person in charge adalah Nani Kurniati, ST, MT, Ph.D (Departemen Teknik Industri) yang bertanggung jawab dalam assesment ekonomi kerusakan dan kerugian bencana.
• bidang Perencanaan Wilayah Kota, dengan person in charge adalah Vely Kukinul Siswanto, ST, MT, M.Sc (Departemen Perencanaan Wilayah Kota), yang bertanggung jawab dalam masalah keterkaitan assesment ekonomi kerugian bencana dan pemodelannya dalam perencanaan wilayah Kota Surabaya.
Luaran yang dihasilkan baik ada tahun pertama dan tahun kedua antara lain adalah membangun aplikasi web atau mobile penilaian ekonomi kerusakan dan kerugian bencana banjir dan aplikasi penghitungan premi asuransi bencana banjir yang mencapai TKT 4-6. Oleh karena itu penelitian ini akan meningkatkan peranan PUI dalam mendorong percepatan penelitian terapan multidisiplin dan menghasilkan inovasi teknologi untuk peningkatan kapasitas masyarakat Kota Surabaya dalam menghadapi bencana banjir. Topik peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana banjir merupakan topik unggulan di Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim. Produk aplikasi web atau mobile penilaian ekonomi kerusakan dan kerugian bencana dan aplikasi penghitungan premi asuransi bencana nantinya akan diajukan hak patennya.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 State of The Art
Penelitian tentang penguatan kapasitas masyarakat terhadap bencana melalui rancang bangun penilaian ekonomi kerugian bencana banjir di Surabaya dimulai dengan beberapa penelitian terdahulu. Penelitian mengenai kerusakan dan kerugian bencana menggunakan metode DaLa antara lain dilakukan oleh Ayunani (Khris Ayunani and Ayu Larasati, 2019) untuk menilai kerusakan dan kerugian aset permukiman akibat bencana tanah longsor di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Metode DaLa secara detil dibahas oleh Cahyono Bintang Nurcahyo, dkk di buku yang berjudul Panduan Penilaian Kerusakan dan Kerugian Akibat Bencana (Cahyono Bintang Nurcahyo, 2016). Peran-cangan sistem informasi manajemen kebencanaan untuk bencana tsunami di Padang berbasis metode DaLa dilakukan oleh Mursal (Mursal, 2019). Kelebihan metode DaLa adalah bahwa informasi kerusakan dan kerugian bencana bisa dikumpulkan pada basis ad hoc tanpa melakukan pelaporan pada level municipality (Corbane, De Groeve, Ehrlich and Poljansek, 2015), memanfaatkan data kuantitatif indikator kerusakan fisik di database bencana (Massabo, Toto, Deda, Prenci and Dhima, 2015) dan meliputi assesment terhadap akibat sosial, ekonomi, dan lingkungan (Wilkinson, Chang-Richards, Sapeciay and Organ-isations, 2014). Lebih jauh tentang penerapan metode DaLa, studi assesment kerusakan dan kerugian bencana banjir di Kota Surabaya menggunakan metode tersebut di literatur belum ada hingga sekarang.
Assesment fisik kerusakan dan kerugian akibat bencana dilanjutkan dengan assesment ekonomi untuk mengetahui sejauh mana kerusakan dan kerugian akibat bencana tersebut mereduksi kapasitas ekonomi masyarakat. Assesment ekonomi secara kuantitatif dari kerusakan dan kerugian bencana dibahas oleh Kozmenko (Kozmenko, 2010) untuk menge-tahui konsekuensi dari bencana yang terjadi dan menawarkan suatu algoritma untuk mengevaluasi secara ekonomi efek dari kerusakan dan kerugian bencana tersebut. Akibat kerusakan dan kerugian bencana secara finansial terhadap sektor publik dibahas oleh Noy dan Edmonds (Noy and Edmonds, 2016) dan mereka menawarkan adanya proteksi finansial atas kerusakan dan kerugian bencana yang terjadi. Skema alternatif pembiayaan alternatif
atas kerusakan dan kerugian bencana banjir yang terjadi menggunakan program nasional asuransi banjir sebagai penguatan kapasitas ekonomi masyarakat diajukan oleh Kerjan (Michel-Kerjan, 2010) di Amerika Serikat. Skema pembiayaan alternatif berupa asuransi banjir berdasarkan penilaian ekonomi kerusakan dan kerugian bencana banjir yang terjadi di Surabaya belum pernah dilakukan.
Asuransi bencana banjir sudah diterapkan di Amerika Serikat sejak tahun 1990-an. Brown dan Hoyt (Browne and Hoyt, 2000) membahas tentang pengukuran besar minat masyarakat terhadap asuransi banjir. Pada studi tersebut juga diukur willingness-to-pay dari masyarakat terhadap premi asuransi banjir. Pembentukan produk asuransi banjir harus memperhatikan informasi yang akurat tentang besar resiko banjir yang terjadi (Chivers and Flores, 2002) agar valuasi premi asuransi sesuai dengan kondisi di masyarakat. Informasi tentang resiko banjir bisa diperoleh dari indeks kerugian banjir yang dibangun berdasarkan data kerusakan dan kerugian yang terjadi. Model matematika indeks kerugian banjir berupa suatu model stokastik nantinya akan menjadi dasar penentuan harga premi dari asuransi bencana dan produk keuangan lainnya. Untuk banjir yang terjadi di Surabaya model indeks kerugian bencana banjir belum ada dan produk asuransi banjir berdasarkan model kerugian tersebut belum pernah dibuat.
3.2 Road Map
Penelitian ini mengacu pada roadmap penelitian yang ada di Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim dan masuk dalam kluster penguatan kapasitas (lihat Gambar ??).
berbeda. Peta penelitian dimulai oleh masing-masing peneliti sehingga bertemu di satu titik topik yang sama yaitu penilaian ekonomi kerusan dan kerugian bencana. Adapun roadmap masing-masing peneliti bisa dilihat sebagai berikut:
1. Endah RM Putri, S.Si, MT, Ph.D
Figure 3.1: Roadmap Endah RM Putri, S.Si, MT, Ph.D
2. Cahyono Bintang Nurcahyo, ST,MT 3. Nani Kurniati, ST, MT, Ph.D 4. Vely Kukinul Siswanto ST.MT. MSc
Roadmap pertemuan antara keempat peneliti dapat dilihat sebagai berikut: Masing-maisng peneliti berkontribusi sesuai dengan bidang yang ditekuni untuk bisa mencapai tujuan umum dan tujuab khusus penelitian ini.
3.3 Dasar Teori 3.3.1 Teori DaLa
Indonesia merupakan daerah rawan bencana, baik karena alam maupun ulah manusia. Hampir semua jenis bencana terjadi di Indonesia, yang paling dominan adalah banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Banjir sebagai fenomena alam terkait dengan ulah
Figure 3.2: Roadmap Cahyono Bintang Nurcahyo, ST,MT
Figure 3.3: Roadmap Nani Kurniati, ST, MT, Ph.D
manusia terjadi sebagai akibat akumulasi beberapa faktor yaitu hujan, kondisi sungai, kondisi daerah hulu, kondisi daerah budidaya dan pasang surut air laut. Potensi terjadinya
Figure 3.4: Roadmap Vely Kukinul Siswanto ST.MT. MSc
ancaman bencana banjir dan tanah longsor saat ini disebabkan keadaan badan sungai rusak, kerusakan daerah tangkapan air, pelanggaran tata-ruang wilayah, pelanggaran hukum meningkat, perencanaan pembangunan kurang terpadu, dan disiplin masyarakat yang rendah. Dampak banjir meliputi :
• Dampak primer berupa kerusakan fisik, yang mampu merusak berbagai jenis struktur, termasuk jembatan, mobil, bangunan, sistem selokan bawah tanah, jalan raya, dan kanal.
• Dampak sekunder, berupa: – Persediaan air
Kontaminasi air. Air minum bersih mulai langka. – Penyakit
Kondisi tidak higienis. Penyebaran penyakit bawaan air. – Pertanian dan persediaan makanan
Kelangkaan hasil tani disebabkan oleh kegagalan panen. Namun, dataran rendah dekat sungai bergantung kepada endapan sungai akibat banjir demi menambah mineral tanah setempat.
Figure 3.5: Roadmap Gabungan – Pepohonan
Spesies yang tidak sanggup akan mati karena tidak bisa bernapas. – Transportasi
- Jalur transportasi hancur, sulit mengirimkan bantuan darurat kepada orang-orang yang membutuhkan.
• Dampak tersier / jangka panjang, berupa: – Ekonomi
Kesulitan ekonomi karena penurunan jumlah wisatawan, biaya pembangunan kembali, kelangkaan makanan yang mendorong kenaikan harga, dll
Bencana menimbulkan banyak kerusakan dan kerugian, sehingga diperlukan pemulihan untuk mengembalikan pada kondisi semula. Dalam siklus bencana, masa pemulihan tersebut biasa disebut rekonstruksi dan rehabilitasi. Pengambilan keputusan yang efektif dan efisien dalam merespon bencana mutlak ditopang oleh informasi yang didapat oleh pihak pengambil keputusan. Jika informasi tidak benar, bisa dipastikan keputusan
akan salah dan intervensi yang dilakukan juga tidak tepat (tidak efektif), juga sangat dimungkinkan menghambur-hamburkan sumberdaya dan sumber dana (tidak efisien). Agar dapat mengambil keputusan yang tepat, maka diperlukan perencanaan yang matang. Penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi merupakan bagian tak terpisahkan dalam perencanaan pembangunan sehingga memerlukan perencanaan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Hasil perencanaan yang baik, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh dalam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana bergantung pada masukan berupa pengkajian dan penilaian akibat bencana, analisis dampak bencana, dan perkiraan kebutuhan pascabencana. Dengan demikian penilaian kerusakan dan kerugian akibat bencana memiliki posisi penting untuk dilakukan sebelum merencanakan kegiatan selanjutnya.
Pengkajian kebutuhan pascabencana terdiri dari dua metodologi dasar, yaitu penilaian kerusakan dan kerugian atau Damages and Losses Assessment (DaLA) dan pengkajian pemulihan kebutuhan manusia atau Human Recovery Need Assessment (HRNA). DaLA dilaksanakan dengan pendekatan kuantitatif dan topik-topiknya terfokus pada penilaian kerusakan dan kerugian yang meliputi perumahan, infrastruktur, ekonomi, sosial, dan lintas sektor. Penilaian Kerusakan dan Kerugian (Damages and Losses Assessment) biasanya menggunakan metode ECLAC (Economic Commission for Latin America and Caribbean). Sedangkan HRNA dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dan topik-topiknya terdiri gangguan akses, gangguan fungsi atau proses, dan peningkatan risiko bencana. Kedua metodologi tersebut saling melengkapi satu sama lain guna menghasilkan kebutuhan serta prioritasnya dalam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menilai dan memahami dampak dari suatu bencana adalah dengan melakukan penilaian kerusakan dan kerugian (Damages and Losses Assessment, DaLA). Kajian penilaian kerusakan dan kerugian dilakukan dengan menggunakan metoda ECLAC (Economic Commission for Latin America and the Caribbean), yaitu metode penilaian akibat bencana yang dikembangkan oleh ”The Economic Commission for Latin America and the Caribbean”. Metode yang dikembangkan oleh Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin dan Karibia (ECLAC) ini pertama kali dikembangkan pada awal tahun 1970-an dan telah dimodifikasi dan ditingkatkan melalui aplikasi selama lebih dari tiga dekade dalam konteks pasca bencana di seluruh dunia.
Sesaat pasca bencana, langkah yang perlu segera dilakukan adalah penanganan tanggap darurat, sebagai bantuan kemanusiaan. Langkah selanjutnya yang perlu segera
dilakukan adalah penilaian kerusakan dan kerugian, yang diperlukan sebagai pijakan bagi kegiatan pemulihan pasca bencana. Metode ECLAC diperkenalkan kepada Pemerintah Indonesia oleh komunitas donor internasional sebagai salah satu instrumen analisa yang telah dikembangkan untuk menghitung jumlah kerusakan dankerugian yang diakibatkan oleh berbagai jenis bencana, baik bencana alam maupun bencana yang terjadi akibat ulah manusia.
Pada metode ECLAC ini dilakukan analisa pada tiap sektor dari kerusakan dan kerugian. Pola pencatatan dan pengumpulan informasi tiap sektor disediakan untuk memastikan konsistensi informasi, tidak terjadi duplikasi dan perbandingan hasil dan tambahan dari penghitungan tiap sektor. Pada metode ini juga dihasilkan perkiraan pendahuluan terhadap aset fisik yang rusak sehingga harus diperbaiki atau diganti, serta dampaknya terhadap produktivitas selama aset tersebut diperbaiki atau dibangun kembali.
Selanjutnya, pada metode ECLAC ini dianalisis tiga aspek utama, yaitu:
• Kerusakan (dampak langsung), yang merupakan dampak terhadap aset, saham, properti yang dinilai dengan harga unit penggantian (bukan rekonstruksi) yang disep-akati. Perkiraan itu harus memperhitungkan tingkat kerusakan, yaitu apakah aset masih bisa dipulihkan/diperbaiki, atau sudah sama sekali hancur.
• Kerugian (dampak tidak langsung), yang merupakan proyeksi hambatan produk-tivitas akibat aset yang rusak/hilang akibat bencana, seperti potensi pendapatan yang berkurang, pengeluaran yang bertambah dan lain-lain selama beberapa waktu hingga aset dipulihkan; berdasarkan nilai saat ini. Kesepakatan atas periode pemulihan sangat penting, dengan pertimbangan bahwa semakin lama waktu yang diperlukan untuk pemulihan, maka dampak kerugian akan meningkat secara signifikan.
• Dampak ekonomi (kadang disebut dampak sekunder), yang meliputi dampak fiskal, dampak pertumbuhan PDB, dan lain-lain.
Metode ini dimaksudkan untuk menyediakan sebuah penilaian awal mengenai kerusakan dan kehilangan setelah terjadi suatu bencana untuk mengidentifikasi kebutuhan pemulihan yang segera harus dilakukan ataupun kebutuhan pembangunan kembali (rekon-struksi) dalam jangka panjang. Dasar konseptual penilaian adalah sebuah analisa perse-diaan (stock) / aliran (flow) yang menilai pengaruh bencana: (i) pada aset fisik yang harus diperbaiki/dipulihkan /digantikan atau dikurangi di waktu mendatang, dan (ii) pada arus
(barang dan jasa) yang tidak akan dihasilkan sampai aset-aset tersebut diperbaiki atau dibangun kembali (Bappenas, 2008).
Pada dasarnya, tujuan utama penilaian seberapa besar kerusakan dan kerugian adalah untuk sesegera mungkin mengukur skala dampak bencana sehingga dapat diten-tukan prioritas penanganan dan pada akhirnya menenditen-tukan strategi rekonstruksi dan rehabilitasi. Selain itu, tujuan lain penilaian kerusakan dan kerugian adalah memperki-rakan apakah investasi yang akan dialokasikan dapat memberikan manfaat atau tidak bagi kehidupan masyarakat dan pembangunan daerah yang terkena dampak bencana. Secara spesifik, tujuan dilakukannya penilaian kerusakan dan kerugian antara lain:
• menilai kerusakan yang terjadi pada prasarana dan sarana publik dan non-publik; • menilai kerugian yang terjadi dan dampaknya terhadap masyarakat, daerah dan
Negara;
• menilai pengaruh kerusakan terhadap penyelenggaraan pelayanan umum, sekaligus mengantisipasi resiko terjadinya konflik, pelanggaran hukum dan ketertiban masyarakat diwilayah pasca bencana;
• memobilisasi sumber daya (manusia, peralatan, pendanaan dan lain-lain) untuk mempercepat upaya pemulihan.
Manfaat dari perkiraan dampak pasca bencana pada dasarnya adalah untuk: • Bahan masukan kebijakan program rekonstruksi
• Bahan masukan bagi kebijakan pemulihan sosial dan ekonomi; • Tolok ukur pemantauan kegiatan pemulihan pasca bencana; • Bahan masukan bagi manajemen risiko bencana.
Berdasarkan pengalaman penggunaan metoda ECLAC di tingkat global, terdapat fakta bahwa bencana geologi (letusan gunung api, gempa) menimbulkan lebih banyak kerusakan dari pada kerugian, dan sebaliknya bencana hidrometeorologi lebih banyak mengakibatkan kerugian daripada kerusakan.
Contoh karakteristik kerusakan dan kerugian digambarkan pada diagram di Gambar 3.6 berikut ini
Penilaian pasca kejadian bencana dengan metode ECLAC mampu memperkirakan dan memperhitungkan akibat dari bencana yang terjadi baik bencana alam maupun
Figure 3.6: Struktur kerusakan dan kerugian tiap jenis bencana
bencana akibat ulah manusia, secara sektoral maupun global, serta penilaian kapasitas rekonstruksi dari negara-negara yang rentan terhadap bencana.
Definisi Kerusakan dan Kerugian
Kerusakan (dampak langsung), merupakan dampak terhadap aset, saham, properti yang dinilai dengan harga unit penggantian (bukan rekonstruksi) yang disepakati. Perkiraan itu harus memperhitungkan tingkat kerusakan (apakah aset masih bisa dipulihkan/diperbaiki, atau sudah sama sekali hancur).
Dampak segera adalah dampak yang terjadi berupa kerusakan pada saat bencana. Kerusakan dapat dihitung sebagai kehancuran sebagian dan keseluruhan aset fisik, yang diukur dalam unit fisik dan lalu kemudian diperkirakan nilai uangnya berdasarkan biaya per unit tertentu.
Kerugian (dampak tidak langsung), merupakan proyeksi hambatan produktivitas akibat aset yang rusak/hilang akibat bencana, seperti potensi pendapatan yang berkurang, pengeluaran yang bertambah dan lain-lain selama beberapa waktu hingga aset dipulihkan; berdasarkan nilai saat ini. Kesepakatan atas periode pemulihan sangat penting, dengan pertimbangan bahwa semakin lama waktu yang diperlukan untuk pemulihan, seperti dalam kasus Aceh, dampak kerugian akan meningkat secara signifikan.
Kerugian dihitung berupa perubahan dalam aliran ekonomi, termasuk:
1. Nilai produksi yang tidak tercapai dan/atau nilai penjualan yang tidak terjadi akibat bencana.
2. Biaya operasional yang meningkat dan/atau pendapatan yang tidak jadi didapatkan akibat bencana.
3. Pengeluaran yang harus dikeluarkan akibat bencana (bantuan kemanusiaan, pember-sihan puing dan lain sebagainya).
Kerugian harus diperkirakan sejak waktu terjadinya bencana sampai dengan pemulihan dan rekonstruksi penuh diperkirakan akan terjadi. Kerugian diukur dalam nilai uang dengan harga pada saat dilakukannya penilaian.
Penurunan tingkat pendapatan dimungkinkan terjadi apabila ternyata akibat adanya bencana terjadi penurunan tingkat pendapatan dari setiap item dari sektor yang terkait. Misalnya pada saat terjadi bencana, karyawan yang bekerja di pabrik sementara harus kehilangan mata pencaharian karena pabrik tidak dapat beroperasi baik untuk sementara waktu maupun seterusnya.
Peningkatan biaya operasional misal diperlukan akibat adanya biaya tambahan untuk melakukan aktivitas yang bersifat rutin. Misalnya untuk sektor transportasi diperlukan biaya yang lebih mahal untuk biaya operasional akibat tidak bisa dilaluinya jalan tertentu. Sehingga rute yang harus dilalui menjadi lebih jauh, yang otomatis akan meningkatkan besarnya biaya transportasi. Sedangkan biaya tak terduga atau kontinjensi dapat timbul untuk pengadaan suatu keperluan yang sifatnya tidak rutin akibat adanya bencana. Misalnya diperlukannya pembelian tenda akibat tidak bisa digunakannya fasilitas gedung yang ada.
Misalnya untuk item rumah sakit, terbagi atas rumah sakit kelas A, kelas B dan kelas C. Berdasarkan kategori ini, jumlah populasi dari masing-masing kategori akan dihitung jumlahnya. Untuk selanjutnya dihitung besarnya pendapatan dari setiap kategori kelas rumah sakit pada saat sebelum dan setelah bencana. Adapun besarnya penurunan pendapatan dicari dengan mengurangi besarnya pendapatan pada saat sebelum bencana dikurangi dengan besarnya pendapatan saat bencana kemudian dikalikan dengan jumlah populasi setiap kalangan penduduk.
Peningkatan biaya operasional dihitung dengan cara mengurangi besarnya biaya operasional pada saat bencana dengan biaya operasional pada saat kondisi normal dan hasilnya dikalikan dengan jumlah populasi item. Biaya tak terduga ini bersifat untuk mengatasi kondisi darurat. Contohnya adalah biaya untuk menyewa tenda, membeli tandon air, mendatangkan jembatan balley dan lainnya. Cara menghitungnya adalah dengan menghitung banyaknya unit untuk jenis pendukung sementara yang dibutuhkan dikalikan dengan harga satuan tiap pekerjaan.
Penjelasan Contoh Kerusakan dan Kerugian Tiap Contoh Sektor • Sektor Sosial
– Kesehatan : rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu, balai pengobatan – Pendidikan : gedung sekolah, pondok pesantren
– Peribadatan : masjid, pura, mushola, gereja – Olahraga : gedung olah raga
– Lembaga Sosial : panti sosial • Sektor Infrastruktur
– Transportasi : jalan, jembatan, terminal, stasiun, bandara
– Komunikasi : Base Transceiver Station (BTS), tiang telepon, jaringan kabel telepon, Sentra Telepon Otomatis (STO)
– Energi : jaringan listrik, sistem transmisi dan distribusi, tiang listrik, gardu listrik
– Sarana air dan pembuangan : jaringan perpipaan, pompa sumur bor, PDAM, saluran drainase, pengelolaan limbah padat, lokasi pembuangan sampah
• Sektor Ekonomi
– Agrikultur : pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan
– Perdagangan dan industri : pasar tradisional, toko, depot, industri rumah tangga
– Pariwisata : hotel, penginapan • Lintas Sektor
– Kantor pemerintahan – Kantor militer
Menentukan Tingkat Kerusakan
Tingkat kerusakan tiap sektor akan berbeda pada setiap bencana. Misalkan sektor perumahan, klasifikasi rusak berat untuk bencana gempa bumi dapat berbeda dengan klasifikasi rusak berat untuk bencana erupsi gunung berapi. Gambar tabel 3.7 hingga Gambar tabel 3.12 berikut menyajikan contoh kerusakan tiap bencana.
Figure 3.7: Kerusakan Sektor Sosial, Ekonomi, Lintas Sektor : bangunan (perumahan, hotel, pasar, kantor pemerintah, dll)
Figure 3.8: Kondisi Kerusakan Bangunan Rumah Tinggal Menentukan Tingkat Kerugian dan Menentukan Harga Satuan
Pada saat melakukan penilaian kerusakan dan kerugian, tim seringkali mengalami kesulitan tentang penentuan harga satuan. Nilai harga satuan perlu penyeragaman sehingga pada saat melakukan survei yang dihitung adalah banyaknya yang terdampak
Figure 3.9: Kerusakan Sektor Infrastruktur : Jalan
Figure 3.10: Kerusakan Sektor Infrastruktur : Tiang jaringan listrik, telepon, BTS
Figure 3.11: Kerusakan Sektor Ekonomi : pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan
(rumah, sekolah, rumah sakit, pasar, hotel, rumah trafo, BTS, kantor pemerintahan), luasan terdampak (perkebunan, sawah, peternakan, dll), panjang terdampak (jalan, saluran air, saluran drainase, jaringan listrik, jaringan telepon, dll).
Karena sifat survei yang sangat terbatas oleh waktu, dan hasil yang diperoleh harus segera diketahui, maka penyeragaman harga satuan perlu dilakukan. Misalkan, harga satuan untuk rumah semi permanen yang mengalami rusak berat akibat erupsi gunung berapi nilainya Rp 700.000,- maka dalam pengisian form survei, cukup dihitung berapa rumah semi permanen yang mengalami rusak berat di suatu wilayah akibat kejadian tersebut. Nilai Rp 700.000,- adalah nilai yang dibutuhkan untuk melakukan perbaikan akibat bencana tersebut menjadi seperti kondisi semula (bukan kondisi yang lebih baik, sebelum terjadi bencana). Contoh lain untuk aspek kerugian, apabila suatu perkebunan mengalami kerugian karena harus mengeluarkan biaya operasional berupa kegiatan pembersihan lahan akibat hujan pasir yang dihasilkan oleh erupsi gunung berapi, maka dalam menentukan harga satuan cukup menentukan biaya untuk membersihkan lahan tersebut per hektarnya. Sehingga, saat melakukan survei lapangan yang terkena dampak cukup melakukan hitungan berapa luasan perkebunan yang seharusnya diber-sihkan. Saat analisis harga kerugian, maka luasan terkena dampak cukup dikalikan dengan harga satuannya tersebut. Harga satuan atau juga dikenal dengan istilah analisa harga satuan pokok kegiatan (HSPK) merupakan nilai yang dipakai sebagai dasar dalam menghitung rencana anggaran biaya (RAB) pekerjaan. Nilai harga satuan yang dikalikan dengan kuantitas pekerjaan akan mendapatkan harga setiap pekerjaan. Apabila harga setiap pekerjaan ini dijumlahkan secara keseluruhan, akan didapatkan total biaya seluruh pekerjaan
3.4 Pemodelan Matematika Indeks Kerugian Bencana Banjir dan Asuransi Bencana
3.4.1 Prediksi Curah Hujan Maksimum
Curah hujan maksimum akan diprediksi dengan menggunakan metode regresi. Metode regresi momodelkan hubungan antara suatu peubah bebas dengan suatu peubah terikat (?). Pada umumnya, peubah bebas disebut sebagai predictor sedangkan peubah terikat disebut target. Beberapa model regresi yang biasanya digunakan adalah regresi linear, regresi polinomial, maupun regresi Gaussian.
Data curah hujan maksimum yang diperoleh bersifat musiman namun sangat sulit untuk dilakukan regresi standar dikarenakan banyaknya nilai nol pada data. Hal ini
disebabkan pada musim kemarau sangat jarang terjadi hujan walaupun bisa terjadi dengan curah hujan yang cukup tinggi. Data terasing seperti ini tidak bisa tidak diperhitungkan karena bisa saja dapat menyebabkan banjir.
3.4.2 Perhitungan Resiko Banjir
Banjir adalah suatu kejadian bencana alam berupa meluapnya atau terge-nangnya lahan yang biasanya kering seperti pemukiman penduduk, pusat kota, maupun seluruh jalur transportasi darat. Banjir terjadi apabila debit air yang mengalir pada suatu saluran melebihi kapasitas debit air yang mampu dialirkan oleh saluran tersebut (?). Oleh karena itu, pada tugas akhir ini akan dilakukan perhitungan debit hidrologi per kecamatan dan kapasitas debit saluran pada setiap kelurahan untuk menentukan terjadi atau tidaknya banjir pada kelurahan tersebut.
Debit Hidrologi
Terdapat banyak kelompok metode untuk memperkirakan debit air yang akan melalui suatu saluran. Beberapa kelompok metode yang ada adalah metode analisis proba-bilitas frekuensi debit banjir, metode analisis regional, maupun metode empiris. Pada tugas akhir ini akan digunakan metode rasional yang termasuk kelompok metode empiris (?). Metode rasional adalah suatu metode yang tertua dan terkenal dibandingkan metode empiris lainnya.
Metode rasional pada suatu daerah dengan koefisien pengaliran yang berbeda dapat didekati dengan menggunakan nilai koefisien pengaliran gabungan (?). Nilai koefisien pengaliran gabungan dapat diperoleh dengan rumus
¯ C = Pn j=1CjAj Pn j=1Aj (3.1) dimana ¯
C : nilai koefisien pengaliran gabungan Cj : koefisien pengaliran saluran jenis ke-j
Aj : luas saluran jenis ke-j
n : banyaknya jenis saluran
Metode rasional dapat digunakan apabila hujan yang terjadi memiliki intenstitas yang merata di seluruh daerah pengaliran dengan paling sedikit selama waktu konsentrasi dan koefisien pengaliran adalah tetap untuk periode waktu apapun. Secara umum, metode
rasional dinyatakan sebagai (?)
Qa = 0.278 × C × It× A (3.2)
dimana
Qa : debit hidrologi
C : koefisien pengaliran
I : intensitas maksimum curah hujan (mm/jam) A : luas daerah pengaliran (km2)
Untuk menggunakan rumus di atas, perlu terlebih dahulu mencari nilai mencari inten-sitas maksimum curah hujan. Dalam mencari nilai dari inteninten-sitas maksimum curah hujan (I) akan digunakan rumus Mononobe yang dituliskan sebagai (?)
It= R24 24 24 tc 23 (3.3) dimana
It : intensitas maksimum (mm/jam) untuk hujan dengan waktu konsentrasi t
R24 : curah hujan maksimum dalam 24 jam
Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan saluran untuk mengalirkan air. Waktu konsentrasi dihitung sebagai waktu maksimum suatu saluran untuk mengalirkan air hingga keluar dari saluran tersebut. Waktu konsentrasi akan dihitung dengan menggu-nakan rumus Kerby. Rumus Kerby dituliskan sebagai (?)
tc = 1.44 nk× l √ s 0.467 (3.4) dimana
t : waktu konsentrasi (menit) nk : koefisien kekasaran
l : panjang lintasan air terjauh s : kemiringan rata-rata saluran
Nilai dari koefisien kekasaran bergantung pada jenis bahan yang digunakan untuk membuat saluran air. Semakin kasar bahan yang digunakan untuk membuat saluran akan mengakibatkan saluran air akan semakin besar. Besarnya gaya gesek akan memengaruhi
lamanya air berada pada saluran. Debit Hidrolika
Pada tugas akhir ini akan digunakan persamaan Manning untuk memperoleh debit hidrolika. Syarat yang diperlukan agar persamaan Manning dapat digunakan adalah kemiringan saluran sama dengan kemiringan permukaan air dalam saluran. Adapun rumus Manning dituliskan sebagai
Qb = 1 nm × Rh 2 3 × s 1 2 × Acs (3.5) dimana Qb : debit hidrolika
nm : koefisien kekasaran Manning
R : jari-jari hidrolika S : kemiringan saluran A : luar penampang saluran
Nilai koefisien kekasaran Manning merepresentasikan kekasaran atau gesekan yang diberikan saluran kepada aliran. Jari-jari hidrolika adalah rasio dari luas penampang saluran dengan keliling penampang yang terkena air saat proses pengaliran air sehingga dapat ditulis sebagai (Findley, Schroeder, Cunningham and Brown, 2015)
Rh = Acs Pw (3.6) dimana Rh : jari-jari hidrolika
Acs : luas penampang saluran
Pw : keliling penampang yang terkena air
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa semakin besar nilai jari-jari hidrolika akan semakin efisien saluran tersebut dalam mengalirkan air. Nilai luas penampang saluran diperoleh dari disesuaikan dengan spesifikasi saluran yang digunakan. Saluran yang digunakan pada tugas akhir ini adalah saluran U-Ditch.
Perhitungan Kerugian
Debit hidrologi dan debit hidrolika yang diperoleh akan digunakan untuk melakukan prediksi terkait kelurahan mana saja yang akan terpapar banjir. Dari setiap
kelurahan yang terpapar, akan dicari banyaknya penduduk yang terpapar dan luas dari setiap kelurahan. Dikarenakan tidak adanya data jumlah penduduk per kelurahan, jumlah penduduk dari suatu kelurahan dicari dengan menggunakan proporsi luas kelurahan dengan luas kecamatan. Hal ini bisa dilakukan dengan asumsi kepadatan penduduk bersifat seragam untuk setiap kecamatan yang diamati. Kerugian yang diterima untuk setiap kelurahan akan dihitung dengan rumus
L = p × k1+ Af × k2 (3.7)
dimana
L : total kerugian
p : banyaknya jiwa terpapar
k1 : besar kerugian yang dialami per jiwa
Af : luas daerah terpapar
k2 : besar kerugian yang dialami per meter persegi
3.4.3 Model Indeks Kerugian
Dalam memodelkan indeks kerugian, dapat digunakan Jump Diffusion Process yang diperkenalkan oleh Merton pada 1976. Model indeks kerugian dapat dituliskan sebagai (Parcollet, Lamond et al., 2014)
dLt Lt = (µ − λσ)dt + σdWt+ (Y − 1)dNt (3.8) dimana Lt : indeks kerugian µ : drift kerugian
λ : intensitas terjadinya lompatan σ : volatilitas kerugian
W t : gerak Brown
Y : faktor lompatan berdistribusi log-normal Nt : proses Poisson standar
Pemilihan Jump Diffusion Process untuk memodelkan indeks kerugian dikarenakan sesuai dengan pergerakan kerugian itu sendiri. Sepanjang tahun pastilah terjadi bencana yang mengakibatkan kerugian kecil maupun besar. Pada bencana banjir umumnya yang sering terjadi adalah kerugian yang kecil. Namun, ketika memasuki musim hujan akan
terjadi banjir yang semakin intens yang mengakibatkan kerugian besar. Kerugian besar inilah yang dianggap sebagai lompatan.
3.4.4 Pembangkitan Bilangan Acak
Terdapat dua jenis bilangan acak yang dapat dibangkitkan yaitu bilangan acak semu dan bilangan acak kuasi. Bilangan acak semu adalah bilangan acak yang dibangkitkan berdasarkan prinsip matematika tertentu. Pada tugas akhir ini, dibangk-itkan bilangan acak dengan distribusi normal N (0, 1) menggunakan fungsi normrnd(0,1) pada MATLAB. Setelah itu, hasil dari pembangkitan bilangan acak ini digunakan sebagai nilai acak pada Jump Diffusion Process.
Bilangan acak kuasi merupakan suku-suku pada suatu barisan deterministik yang pembangkitannya menggunakan algoritma khusus (Joy, Boyle and Tan, 1996). Barisan bilangan acak kuasi merupakan salah satu bentuk barisan low discrepancy. Low discrepancy adalah suatu kondisi dimana selisih antar bilang terdekat relatif sama. Prinsip dasar konstruksi barisan bilangan acak kuasi adalah dengan mempartisi interval [0, 1] yang kemudian diambil titik tengah dari tiap-tiap partisi tersebut. Ada beberapa jenis barisan bilangan acak kuasi low discrepancy seperti barisan van der Corput, Halton, Sobol, dan Faure. Perbedaan antar barisan acak ini adalah cara pembangkitannya.
3.4.5 Pendekatan Monte Carlo
Algoritma Monte Carlo digunakan dengan istilah sampling statistik. Salah satu keuntungan dari algoritma Monte Carlo sendiri adalah kita tidak memerlukan solusi analitik dari suatu permasalahan sebab solusi yang dihasilkan adalah solusi numerik optimum global (Boyle, 1977). Selain itu, algoritma Monte Carlo berbentuk iterasi/rekursif, sehingga perlu dilakukan diskretisasi untuk beberapa fungsi yang kontinu. Prinsip algoritma Monte Carlo adalah merata-rata N kemungkinan percobaan yang dibangkitkan secara acak, sehingga ketika dirata-rata akan mendekati jawaban aslinya. Secara matematis, bisa dituliskan sebagai (Goncu, 2009)
1 N N X i=1 f (xi) → Z 1 0 f (x)dx = E(f (x)) (3.9)
BAB IV
METODOLOGI
4.1 Tahun pertama
Pada bagian ini akan dijelaskan tahapan penelitian yang akan dilaksanakan dari tahap awal hingga tahap akhir untuk tahun pertama. Berikut adalah flowchart yang menggambarkan alur kerja dari penelitian ini pada Gambar 4.1. Adapun penjelasan dari
Figure 4.1: Tahapan Penelitian Tahun Pertama
1. Studi literatur
Pada tahap ini dilakukan studi literatur tentang teori-teori terkait dengan
• Bencana banjir: penanganan bencana banjir, rapid loss assesment kerusakan dan kerugian akibat bencana banjir, teori DaLa.
• Indeks kerugian bencana banjir : persamaan differensial stokastik, estimasi parameter, validasi model
• Pembuatan aplikasi web atau mobile penghitungan indeks kerugian bencana banjir
2. Survey dan Pengumpulan Data
Pada tahap ini akan dilakukan survey lapangan di 25 sample kelurahan di Kota Surabaya dimana terdampak banjir. Survey dilakukan untuk mendapatkan data kerusakan dan kerugian bencana banjir di Kota Surabaya. Titik berat survey dilakukan adalah sebagai berikut:
• untuk kerusakan Sektor Sosial, Ekonomi, Lintas Sektor : bangunan (perumahan, hotel, pasar, kantor pemerintah, dll)(lihat Gambar 3.7) dengan tingkat kerusakan berat, sedang, dan ringan.
• untuk kerusakan Sektor Infrastruktur : Jalan dengan tingkat kerusakan rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan (lihat Gambar ??).
• untuk kerusakan Sektor Infrastruktur : tiang jaringan listrik, telepon, BTS, gardu listrik, gardu telekomunikasi, jaringan air dengan tingkat kerusakan berat, sedang, dan ringan.
• untuk kerugian Sektor Sosial : perumahan, sekolah, tempat ibadah, kantor. • untuk kerugian Sektor Ekonomi :berupa penurunan pendapatan, peningkatan
biaya operasional, dan biaya tak terduga.
Selain data kerusakan dan kerugian diperlukan data curah hujan di Kota Surabaya selama 10 tahun terakhir dari BMKG Juanda dan Bali yang akan digunakan untuk memperkirakan kejadian banjir di Surabaya dengan memperhitungkan prinsip-prinsip hidrologi dan kemampuan resapan air limpasan. Hal ini dilakukan karena tidak tersedia data yang memadai tentang kejadian banjir di Kota Surabaya. Data tentang luas permukaan resapan air (saluran dan permukaan saluran) juga
diper-lukan dalam penghitungan hidrologi. Data ini akan dikumpulkan dari Laboratorium Departemen Teknik Sipil dan Pemerintah Kota Surabaya.
3. Menentukan Harga Satuan
Berdasarkan data kerusakan dan kerugian yang diperoleh akan ditentukan nilai harga satuan. Nilai harga satuan perlu penyeragaman sehingga pada saat melakukan survei yang dihitung adalah banyaknya yang terdampak (rumah, sekolah, rumah sakit, pasar, hotel, rumah trafo, BTS, kantor pemerintahan), luasan terdampak (perke-bunan, sawah, peternakan, dll), panjang terdampak (jalan, saluran air, saluran drainase, jaringan listrik, jaringan telepon, dll). Harga satuan atau juga dikenal dengan istilah analisa harga satuan pokok kegiatan (HSPK) merupakan nilai yang dipakai sebagai dasar dalam menghitung rencana anggaran biaya (RAB) pekerjaan. Nilai harga satuan yang dikalikan dengan kuantitas pekerjaan akan mendapatkan harga setiap pekerjaan. Apabila harga setiap pekerjaan ini dijumlahkan secara keseluruhan, akan didapatkan total biaya seluruh pekerjaan.
4. Pra-proses Data
Setelah kegiatan mengumpulkan data selesai, langkah selanjutnya adalah memproses data untuk bisa digunakan dalam pemodelan matematika indeks kerugian bencana banjir. Data tersebut nantinya dibagi menjadi dua kelompok yaitu:
• Data kerusakan dan kerugian akibat banjir, yang akan digunakan untuk tingkat severitas kerugian banjir.
• Data curah hujan dan kejadian banjir berdasarkan prinsip hidrologi, yang akan digunakan sebagai tingkat frekuensi kejadian banjir.
5. Penghitungan indeks kerugian bencana banjir
Pada tahap ini akan dilakukan penghitungan indeks kerugian bencana banjir berdasarkan data yang sudah disiapkan dalam langkah sebelumnya. Penghitungan indeks kerugian bencana banjir didapatkan dari rumusan
6. Membangun model matematika indeks kerugian banjir
Setelah indeks kerugian bencana banjir untuk tiap wilayah kelurahan di Kota Surabaya menurut deret waktu dapat dihitung, maka langkah selanjutnya adalah membangun model matematika indeks kerugian banjir. Langkah yang harus dilakukan adalah :
• Plotting deret waktu dari data indeks kerugian bencana banjir untuk menge-tahui profil data. Kemungkinan besar melihat dari sifat kejadian banjir dan kerugiannya, indeks kerugian bencana banjir akan dimodelkan dengan persamaan differensial stokastik Geometric Brownian Motion dengan jump diffussion process.
• Estimasi parameter dari model persamaan differensial stokastik Geometric Brownian Motion dengan jump diffussion process menggunakan metode least square estimation dan grid search. Untuk mengetahui apakah parameter yang didapatkan adalah significan terhadap model maka uji signifikansi dilakukan. • Setelah parameter yang didapatkan signifikan terhadap model maka langkah
selanjutnya adalah melakukan simulasi sebagai tahap testing terhadap model. Sejumlah nilai dibangkitkan berdasarkan model yang diperoleh dan hasilnya dibandingkan dengan data aktual indeks kerugian bencana banjir. Simpangan atau error model terhadap data aktual akan diketahui pada tahap ini.
• Sebagai tahap cadangan jika akurasi model yang diperoleh krang bagus makan akan digunakan metode Kalman Filter atau Monte Carlo untuk merubah parameter yang statis menjadi dinamis sesuai dengan data terbaru yang diperoleh.
7. Focus Group Discussion dengan Pemerintah Kota Surabaya (BAPPEKO) Setelah model indeks kerugian bencana banjir diperoleh maka langkah selan-jutnya adalah mengundang Pemerintah Kota Surabaya dalam hal ini BAPPEKO untuk mengkomunikasikan tentang hasil yang diperoleh dan melakukan sosialiasasi bagaimana gambaran penggunaan model tersebut untuk membantu meningkatkan kapasitas masyarakat Kota Surabaya dalam menghadapi bencana banjir. Selain itu dalam Focus Group Discussion tersebut PEmerintah Kota Surabaya diminta untuk memberikan masukan terkait hasil penelitian untuk kemudian akan dilakukan perbaikan terhadap model dan rencana pembuatan/rancang bangun prototipe aplikasi penghitungan ekonomi kerugian bencana banjir di Kota Surabaya.
8. Membangun prototipe aplikasi penghitungan ekonomi kerugian bencana banjir di Kota Surabaya.
Pada tahap ini dilakukan kembali Focus Group Discussion dengan pihak Pemerintah Kota Surabaya untuk mensosialisasikan aplikasi web atau mobile aplikasi
penghi-tungan ekonomi kerugian bencana banjir di Kota Surabaya. Masukan dari Pemer-intah Kota Surabaya diharapkan dapat memperbaiki prototipe yang telah dihasilkan. 9. Mengajukan paten aplikasi web atau mobile aplikasi penghitungan
ekonomi kerugian bencana banjir di Kota Surabaya
10. Menyusun paper luaran penelitian dan akan disubmit ke jurnal interna-sional dengan klasifikasi Q2
Jurnal internasional yang akan dituju adalah Geneva Papers on Risk and Insurance: Issues and Practice.
11. Menyusun laporan akhir penelitian 4.2 Tahun kedua
Pada bagian ini akan dijelaskan tahapan penelitian yang akan dilaksanakan dari tahap awal hingga tahap akhir untuk tahun pertama. Berikut adalah flowchart yang menggambarkan alur kerja dari penelitian ini pada Gambar 4.2. Adapun penjelasan dari masing-masing tahapan dari flowchart diatas adalah sebagai berikut.
1. Menggunakan model matematika indeks kerugian bencana banjir Kota Surabaya sebagai model resiko bencana.
2. Mendapatkan nilai premi asuransi yang diinginkan oleh masyarakat Kota Surabaya (Willingness-To-Pay WTP).
Pada tahap ini dilakukan survey terhadap masyarakat Kota Surabaya tentang nilai premi asuransi bencana banjir yang diinginkan oleh masyarakat.
3. Mengadakan Focus Group Discussion
FGD dengan pemerintah Kota Surabaya terkait temuan hasil survey nilai premi asuransi yang diinginkan oleh masyarakat Kota Surabaya. Diharapkan dari FGD ini dapat disimpulkan antara keinginan masyarakat dan keinginan Pemerintah Kota Surabaya terkait asuransi bencana banjir di Kota Surabaya.
4. Mendapatkan nilai premi pure asuransi bencana banjir di Kota Surabaya.
Model resiko bencana banjir yang diperoleh digunakan sebagai dasar penghitungan nilai premi asuransi bencana banjir tanpa adanya intervensi dari pihak luar.
Figure 4.2: Tahapan Penelitian Tahun Kedua
5. Membangun model asuransi bencana banjir Kota Surabaya dengan beberapa alter-natif model.
Beberapa alternatif model tersebut nanti berdasarkan kustomisasi kontrak asuransi bencana banjir yang dibangun berdasarkan informasi yang ada seperti WTP masyarakat Kota Surabaya dan keinginan Pemerintah Kota Surabaya.
6. Mengadakan Focus Group Discussion
FGD ditujukan untuk mensosialisasikan hasil beberapa alternatif model asuransi bencana banjir sehingga diketahui kelebihan dan kekurangan masing-masing kontrak asuransi tersebut.
7. Mendapatkan nilai premi asuransi dengan beberapa alternatif model yang diperoleh. 8. Membangun prototipe aplikasi penghitungan premi asuransi bencana banjir di Kota
Surabaya.
9. Mengajukan paten prototipe aplikasi penghitungan premi asuransi bencana banjir di Kota Surabaya.
10. Menyusun paper yang akan disubmit ke jurnal internasional terindeks Scopus level Q2
BAB V
JADWAL
5.1 Jadwal
Penelitian pada tahun pertama akan dilakukan sesuai dengan jadwal berikut ini:
No Aktifitas Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Studi Literature x x x x x x x x
2. Survey dan pengumpulan data x x
3. Menentukan Harga Satuan x
4. Pra-proses Data x x
5. Penghitungan indeks kerugian bencana banjir x x x x
6. Membangun model matematika indeks kerugian banjir x x x x x
7. Focus Group Discussion dengan Pemerintah Kota
Surabaya x x x x
8. Membangun prototipe aplikasi penghitungan ekonomi
kerugian bencana banjir di Kota Surabaya x x
9.
Mengajukan paten aplikasi web atau mobile aplikasi penghitungan ekonomi kerugian bencana banjir di Kota Surabaya
x x
10.
Menyusun paper luaran penelitian dan akan disubmit ke jurnal internasional dengan klasi
kasi Q2
x x x
11. Menyusun laporan akhir penelitian x x x
Penelitian pada tahun kedua akan dilakukan sesuai dengan jadwal berikut ini:
No Aktifitas Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Menggunakan model matematika indeks kerugian
bencana banjir sebagai model resiko bencana x x x x
2. Mendapatkan nilai premi asuransi yang diinginkan oleh
masyarakat Kota Surabaya (Willingness-To-Pay WTP) x x x x x
3. Mengadakan Focus Group Discussion untuk sosialisasi
WTP x x x x x
4. Mendapatkan nilai premi pure asuransi bencana banjir
di Kota Surabaya x x x x x
5. Membangun model asuransi bencana banjir Kota
Surabaya dengan beberapa alter- natif model. x x x x
6. Mengadakan Focus Group Discussion terkait beberapa
model asuransi x x x x x
7. Mendapatkan nilai premi asuransi dengan beberapa
alternatif model yang diperoleh. x x x x
8. Membangun prototipe aplikasi penghitungan premi
asuransi bencana banjir di Kota Surabaya. x x
9. Mengajukan paten prototipe aplikasi penghitungan
premi asuransi bencana banjir di Kota Surabaya. x x
10. Menyusun paper yang akan disubmit ke jurnal
internasional terindeks Scopus level Q2 x x x
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
Abraham, W. (2019), ‘450 Rumah & 550 Hektar Tambak Terendam Banjir Kali Lamong, Warga Derita Kerugian Capai Rp 25 Miliar’, Online.
Boyle, P. P. (1977), ‘Options: A monte carlo approach’, Journal of financial economics 4(3), 323–338.
Browne, M. J. and Hoyt, R. E. (2000), ‘The demand for flood insurance: empirical evidence’, Journal of risk and uncertainty 20(3), 291–306.
Cahyono Bintang Nurcahyo, Machsus, T. I. P. A. W. T. D. W. (2016), Panduan Penilaian Kerusakan dan Kerugian Akibat Bencana, ITS Press.
Chivers, J. and Flores, N. E. (2002), ‘Market failure in information: the national flood insurance program’, Land Economics 78(4), 515–521.
Corbane, C., De Groeve, T., Ehrlich, D. and Poljansek, K. (2015), ‘A European Framework For Recording And Sharing Disaster Damage And Loss Data.’, International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing & Spatial Information Sciences 40.
Findley, D. J., Schroeder, B., Cunningham, C. and Brown, T. (2015), Highway engineering: planning, design, and operations, Butterworth-Heinemann.
Goncu, A. (2009), Monte Carlo and quasi-Monte Carlo methods in financial deriva-tivepricing, The Florida State University.
Joy, C., Boyle, P. P. and Tan, K. S. (1996), ‘Quasi-Monte Carlo methods in numerical finance’, Management Science 42(6), 926–938.
Khris Ayunani, N. and Ayu Larasati, D. (2019), ‘Penilaian Kerusakan Dan Kerugian Aset Permukiman Akibat Bencana Tanah Longsor Dengan Metode Dala (Damage and Loss Assessment) Desa Banaran Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo’, Swara Bhumi 2(1).
Kozmenko, S. (2010), ‘Economic evaluation of the consequences of disasters’, Environ-mental Economics 1(1).
Lasminto, U. (2015), Evaluasi Genangan Kota Surabaya, dalam Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW), 83–98.
Massabo, M., Toto, E., Deda, M., Prenci, S. and Dhima, M. (2015), Assessments of the economic impacts of natural hazards in Albania: application of DaLA methodology., dalam EGU General Assembly Conference Abstracts, Vol. 17.
Michel-Kerjan, E. O. (2010), ‘Catastrophe economics: the national flood insurance program’, Journal of economic perspectives 24(4), 165–86.
Mursal, H. (2019), Perancangan Sistem Informasi Manajemen Kebencanaan Untuk Penguatan Kapasitas Operasi Tanggap Darurat (Studi Kasus: Penanggulangan Bencana Tsunami Kota Padang), PhD thesis, Universitas Andalas.
Noy, I. and Edmonds, C. (2016), ‘The economic and fiscal burdens of disasters in the Pacific’.
Pamungkas, A. (2012), ‘Vulnerability assessment for disaster risk management: a case study of floods in Centini village, Indonesia’.
Parcollet, M., Lamond, B. F. et al. (2014), ‘The valuation of catastrophe bonds with exposure to currency exchange risk’, International Review of Financial Analysis 33, 243–252.
Perdinan, Yon Sugiarto, I. U. S. d. (2015), ‘Pengembangan Metode Kajian REsiko Iklim Fokus Anak’, Online.
Prawira, M. P. and Pamungkas, A. (2014), ‘Mitigasi Kawasan Rawan Banjir Rob di Kawasan Pantai Utara Surabaya’, Jurnal Teknik ITS 3(2), C160–C165.
Prihanadi, A. and Others (2017), ‘Penerapan Skema Asuransi Bencana Alam Oleh Pemer-intah’.
Rulli, S. (2015), Strategi Pembangunan Daerah Rawan Bencana Dengan Analisis Kerentanan dan Kapasitas Masyarakat (Studi Kasus Kelurahan Teluk Kabung Selatan), PhD thesis, Universitas Andalas.
Siswanto, A. D. (2015), ‘Analysis of the Ability to Pay for Disaster Insurance Program’, Kajian Ekonomi dan Keuangan 18(1), 15–34.
Surabaya, P. K. (2016), ‘Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 10 Tahun 2016 tentang RPJMD Kota Surabaya Tahun 2016-2021’, Peraturan Daerah Kota Surabaya. halaman 1-646.
Susetyo, C. (2008), Urban flood management in Surabaya City: anticipating changes in the Brantas River system, ITC.
Wilkinson, S., Chang-Richards, A. Y., Sapeciay, Z. and Organisations, R. (2014), ‘Investment in the construction sector to reduce disaster risk management’, United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNISDR) .
BAB VII
LAMPIRAN
7.1 BIODATA KETUA
Identitas Diri
a. Nama Lengkap : Endah Rokhmati MP, S.Si, MT, Ph.D
b. NIP/NIDN : 19761213 200212 2 001/0013127601
c. Fungsional /Pangkat/Gol : Asisten Ahli/IIIa
d. Bidang Keahlian : Matematika Keuangan dan Aktuaria
e. Departemen : Matematika
h. Alamat Rumah dan
Nomor Telepon/ HP :
Jl. Muria 21 PEpelegi Waru Sidoarjo 081235551376
Riwayat Penelitian dalam 5 tahun terakhir
No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber* Jml (Juta Rp)
1. 2014
Metode Beda Hingga untuk Penentuan Harga Opsi dengan Volatilitas
Non-Konstan (Ketua)
Dana
Departemen 15.000.000
2. 2016 Transformasi Laplace dan Inversnya dalam Model Kontrak Opsi Saham Beli
Dana Departemen (Anggota)
15.000.000
3. 2017
Metode Binomial untuk Menentukan Nilai Stock Loan tanpa Dividen dengan Regime-Switching (Ketua)
Dana
Departemen 15.000.000
4. 2017
Model Persamaan Diferensial Stokastik untuk Prediksi Harga Komoditas Minyak Mentah (Anggota)
Dana
Departemen 15.000.000
5. 2018
Metode Volume Hingga Dalam Menentukan Harga European Call Option Dengan Regime-Switching Volatilitas Dan Tingkat Suku Bunga Untuk Mengurangi Resiko Perubahan Kondisi Ekonomi (Ketua)
Dana Lokal
LBE 50.000.000
6. 2018
Estimasi Yield Surat Utang Negara Berdasarkan Model Dibeold-Li Untuk Mendukung Ketahanan Finansial Indonesia (Anggota) Dana Lokal Labora-torium 45.000.000 7. 2018
Analytic Valuation Of Deposit Insurance With A Regime-Switching Volatility (Ketua)
READI
Riwayat Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir
No.
Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat
Pendanaan
Sumber* Jml (Juta Rp) 1. 2015 Pelatihan Guru SMA Negeri 1 Kraksaan,
Probolinggo Mandiri 5.000.000
2. 2015 Pelatihan Guru SMK Negeri 1
Banyuwangi BOPTN 16.000.000
Publikasi artikel ilmiah dalam jurnal dalam 5 tahun terakhir
No. Judul artikel ilmiah Nama Jurnal Volume/ Nomor/
Tahun
1.
Semi-analytic valuation of stock loans with finite maturity (X Lu, ERM Putri)
Communications in Nonlinear Science and Numerical Simulation
27/1/2014
2. Finite maturity margin call stock loans (X Lu, ERM Putri)
Operations Research
Letters 44/1/2015
Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir No. Nama pertemuan
ilmiah/ Seminar Judul artikel ilmiah
Waktu dan Tempat
1. ICOS
Finite Difference Method for Pricing Eurpean Options under the Heston Model
2014 ,Makassar
2. DESAMF
A Semi-analytic Method for Pricing of American Options in A Regime-Switching Economy
2014, Sanya, China