• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN PUBLIC RELATIONS DALAM MENINGKATKAN ETIKA KERJA KARYAWAN DI PT MEDIA TELEVISI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERAN PUBLIC RELATIONS DALAM MENINGKATKAN ETIKA KERJA KARYAWAN DI PT MEDIA TELEVISI INDONESIA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN PUBLIC RELATIONS DALAM

MENINGKATKAN ETIKA KERJA

KARYAWAN DI PT MEDIA TELEVISI

INDONESIA

Fira Oktaviani Putri

Jurusan Komunikasi Pemasaran, Fakultas Ekonomi dan Komunikasi, Bina Nusantara University

Jln. K.H Syahdan No.9, Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat 11480

Pembimbing :

Ferane Aristrivani Sofian, S.I.Kom.,M.I.Kom

Abstrak

Public Relations mempunyai peran penting dalam suatu perusahaan yang salah satu perannya

tersebut adalah sebagai jembatan komunikasi bagi organisasi kepada karyawannya. Selain itu

sebagai Good Image Maker yaitu menciptakan citra positif dimata para karyawannya,

masyarakat maupun perusahaan lain. Hal ini dapat terwujud dengan salah satu cara melalui

etika kerja yang baik yang diciptakan oleh para karyawannya sendiri. Etika merupakan suatu

akar terpenting di dalam suatu perusahaan karena etika merupakan salah satu identitas dari

suatu perusahaan dan juga mencerminkan profesionalisme dari perusahaan tersebut. Penelitian

ini bertujuan untuk mengetahui peran Public Relations dalam meningkatkan etika kerja karyawan

di PT Media Televisi Indonesia dan juga untuk mengetahui standar etika kerja yang ada di PT

Media Televisi Indonesia. Metode penelitian yang digunakan antara lain dengan wawancara dan

observasi langsung terhadap peran Public Relations di PT Media Televisi Indonesia. Serta studi

pustaka meliputi buku-buku referensi dan jurnal, selain itu dokumentasi perusahaan. Hasil

penelitian ini menunjukan bahwa Public Relations di PT Media Televisi Indonesia sudah

melakukan perannya, melalui perannya tersebut yang dilakukan adalah dengan memberikan

training kepada para karyawannya sehingga etika kerja di PT Media Televisi Indonesia

membuahkan hasil kerja yang memuaskan. Sehingga PT Media Televisi Indonesia dapat memiliki

citra yang baik di mata masyarakat.(FOP)

Keywords: Peran Public Relations, Etika Kerja, Standar Etika

Abstract

Public Relations have important roles within an organization and one of them is acting as a

communication bridge for the organization to its employees. The other role is to act as good

image maker, which to create positive image in the eyes of its employees, society and even other

organizations. This factor can be achieved by working ethically created by the employees

themselves. Ethics is an important roots within an organization because ethics is an identity of an

organization and reflects professionalism from that particular organization. This research is

aimed to identify the roles of public relations in order to improve the working ethics within PT

Media Televisi Indonesia and also to identify the working ethics standard in PT Media Televisi

Indonesia.The research method used are interviews and direct observationaimed at the roles of

public relations in PT Media Televisi Indonesia. Literature review is also included using books

and journals, other than that is by using organization documentation. The result of this research

shows that public reltions of PT Media Televisi Indonesia has done their roles by giving training

to the employees so that PT Media Televisi Indonesia produced good quality of work that enabled

them to have good company image in the eyes of the society.(FOP)

(2)

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Public Relations mempunyai peran penting dalam suatu perusahaan, yang salah satunya adalah menjadi jembatan komunikasi bagi organisasi kepada karyawannya. Salah satu peran Public Relations adalah sebagai Good Image Maker, yaitu menciptakan citra yang positif merupakan prestasi, reputasi dan sekaligus menjadi tujuan utama bagi aktifitas Public Relations dalam melaksanakan manajemen Public Relations membangun citra atau nama baik organisasi yang diwakilinya (Ruslan, 2006, hal.26). Menciptakan citra positif atau reputasi ini bisa dilihat dari etika kerja karyawan yang ada di perusahaan tersebut. Etika merupakan suatu akar terpenting di dalam suatu perusahaan, karena etika merupakan salah satu identitas dari suatu perusahaan dan juga mencerminkan profesionalisme dari perusahaan tersebut.

Etika itu sendiri memiliki arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang pengguna yang berbeda. Etika itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari mengenai hal-hal baik ataupun buruk, dan berhubungan dengan hal-hal yang dianggap benar ataupun salah. Seorang profesional dalam melakukan tugas dan kewajiban selalu berkaitan erat dengan kode etik profesi sebagai standar moral, tolak ukur atau pedoman dalam melaksanakan pekerjaan dan kewajibannya masing-masing sesuai dengan fungsi dan peran dalam suatu organisasi atau lembaga yang diwakilinya (Suranto, 2011, hal.125).

Etika kerja dalam PT Media Televisi Indonesia dapat terlihat dari adanya peraturan-peraturan yang menyangkut kedisplinan bekerja dalam melakukan tugas-tugas yang telah di tentukan oleh perusahaan. Tentu saja di dalam perusahaan manapun tidak akan terlepas dari sebuah permasalahan yang timbul dari ketidakdisiplinan atau adanya pelanggaran dalam melakukan pekerjaan. Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan di dalam lingkungan kerja perusahaan, satu contoh yang dapat dilihat dari ketidakdisiplinan dalam bekerja adalah adanya karyawan yang hadir tidak sesuai dengan jam kerja yang sudah ditentukan sebelumnya.

PT Media Televisi Indonesia atau dikenal juga sebagai Metro TV merupakan stasiun televisi berita 24 jam yang terdiri dari 70 % berita (news) dan dengan 30 % program non berita (non news) saat ini sedang menghadapi persaingan dengan televisi-televisi lainnya. Dengan adanya hal tersebut para karyawannya diharapkan untuk bekerja secara profesional, salah satunya dengan cara mendisiplinkan diri sesuai dengan tata tertib yang ada sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya. Apabila dikaitkan ke dalam prinsip etika profesi menurut Keraf dalam Rosady Ruslan, bahwa dalam salah satu prinsip etika profesi adanya prinsip tanggung jawab yang dimana setiap penyandang profesi tentu harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap profesinya yaitu, tanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaan atau fungsinya (by function) artinya keputusan yang diambil dan hasil dari pekerjaan tersebut harus baik serta dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan standar profesi, efisien, dan efektif (Ruslan, 2014, hal.55-57).

Jika etika kerja di suatu perusahaan tidak baik maka akan berdampak pada cukup banyak hal, salah satunya adalah citra perusahaan tersebut akan dipandang tidak baik oleh masyarakat dan juga perusahaan lain. Oleh sebab itu, etika kerja suatu perusahaan sangat penting dan harus selalu diperhatikan agar tingkat profesionalisme dalam bekerja pun dapat dimaksimalkan.

Salah satu yang berperan dalam suatu perusahaan untuk meningkatkan etika kerja tersebut adalah Public Relations. Public Relations bertugas untuk menjaga reputasi dari perusahaan yang diwakilinya (Ruslan, 2006, hal.27). Oleh sebab itu agar reputasi suatu perusahaan dapat terjaga dengan baik salah satu caranya dengan membangun etika kerja yang baik. Dengan adanya etika kerja tersebut, perusahaan akan mendapat cukup banyak keuntungan, salah satunya seperti terciptanya budaya kerja yang baik dan jika hal ini sudah tercipta maka kedisiplinan dalam bekerja pun akan meningkat. Berdasarkan uraian di atas maka dapat ditarik kesimpulan untuk melakukan penelitian dengan judul “Peran Public Relations dalam Meningkatkan Etika Kerja Karyawan di PT Media Televisi Indonesia”.

Pertanyaan yang difokuskan pada penelitian adalah :

1. Bagaimana peran Public Relations dalam meningkatkan etika di dalam lingkungan kerja pada PT Media Televisi Indonesia?

2. Bagaimana standar etika kerja di PT Media Televisi Indonesia? Tujuan penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui peran Public Relations dalam meningkatkan etika di dalam lingkungan kerja pada PT Media Televisi Indonesia

(3)

2. Untuk mengetahui standar etika kerja di PT Media Televisi Indonesia Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini adalah :

1. Manfaat akademis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat akademis yang bermuara pada pemberian kontribusi bagi pengembangan khasanah ilmu komunikasi, khususnya yang berkaitan dengan peran Public Relations dalam meningkatkan etika.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat bagi perusahaan, khususnya divisi Public Relations untuk memahami tentang peran Public Relations dalam meningkatkan etika di dalam lingkungan kerja

3. Manfaat umum

Hasil riset studi penelitian ini dapat dijadikan panduan bagi para pemimpin dan individu untuk selanjutanya di implementasikan ke dalam kehidupan keseharian dan memperbaiki etika bekerja agar dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif dan metode penelitian studi kasus, dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam (in depth interview), observasi partisipan dan dokumentasi. Dengan menggunakan teknik analisis data deskriptif dan teknik keabsahan data berupa triangulasi sumber.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Peran Public Relations

Peran Public Relations menurut Rosady Ruslan, yaitu: Communicator, Relationship, Back Up Management, dan Good Image Maker. Dari keempat peran Public Relations yang ada Metro TV sudah menjalankan keempat perannya, berikut diantaranya:

1. Communicator

Artinya kemampuan sebagai komunikator baik secara langsung maupun tidak langsung, bisa melalui media cetak, elektronik, online, dan lisan. Di samping itu juga bertindak sebagai persuader. Public Relations juga berperan sebagai communicator baik secara langsung maupun tidak langsung, kemampuan ini juga digunakan pada saat Public Relations Metro TV melakukan training yang diperuntukkan kepada para karyawan. Selain itu juga bertindak sebagai persuader, yaitu mampu untuk mempengaruhi sikap, pendapat serta perilaku para karyawan agar para karyawan tersebut dapat mengerti serta mentaati apa yang disampaikan Public Relations Metro TV di dalam training tersebut.

2. Relationship

Relationship disini maksudnya adalah kemampuan peran PR membangun hubungan yang positif antara lembaga yang diwakilinya. Juga, berupaya menciptakan saling pengertian, kepercayaan, dukungan, kerja sama, dan toleransi antara kedua belah pihak tersebut. PR dituntut untuk bisa bekerjasama dengan baik dengan pihak internal dan juga eksternal. Jika dikaitkan dengan penjelasan diatas adalah situasi dari hubungan yang ada antara satu karyawan dengan karyawan lainnya ataupun kondisi hubungan antara satu divisi dengan divisi lainnya. Relationship merupakan salah satu kunci kesuksesan untuk meningkatkan etika kerja di dalam Metro TV karena dengan adanya hubungan yang baik antara divisi PR dengan divisi lainnya, PR akan lebih mudah untuk menyampaikan dan memberikan pengarahan terhadap karyawan lain akan pentingnya etika kerja dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ada setiap harinya. Relationship juga menentukan seberapa baik etika kerja dalam Metro TV, karena hubungan yang baik antara satu karyawan dengan karyawan lainnya merupakan bentuk etika kerja, sehingga untuk Metro TV memiliki hubungan internal yang baik akan membantu erusahaan untuk meningkatkan etika kerja setiap karyawan yang nantinya akan membuahkan hasil kerja yang memuaskan.

(4)

3. Back Up Management

Back Up Management disini maksudnya melakukan dukungan manajemen atau menunjang kegiatan lain, seperti acara seminar, workshop, training, promosi, pemasaran, personalia dan sebagainya untuk mencapai tujuan bersama dalam suatu kerangka tujuan pokok perusahaan atau organisasi. Peran Public Relations dalam meningkatkan etika kerja karyawan salah satunya adalah sebagai Back Up Management yang dimana Public Relations ikut berperan dalam memberikan training yang diberikan kepada para karyawan. Disini Public Relations bukan hanya menyampaikan materi cara beretika yang baik, tetapi di dalam training ini juga Public Relations menanamkan visi misi dari perusahaan. Hal ini dilakukan agar para karyawan dapat menerapkan budaya kerja dari Metro TV sendiri.

4. Good Image Maker

Good Image Maker ialah menciptakan citra atau publikasi yang positif merupakan prestasi, reputasi dan sekaligus menjadi tujuan utama bagi aktifitas Public Relations bagi organisasi yang diwakilinya. Salah satu tugas Public Relations Metro TV adalah menjaga image atau reputasi Metro TV sendiri, salah satu tugasnya tersebut tentu saja berkaitan dengan perannya yaitu good image maker, maka yang dilakukan oleh Public Relations Metro TV adalah dengan memberikan training kepada karyawannya. Training ini adalah sebuah cara yang digunakan oleh Public Relations Metro TV untuk meningkatkan etika kerja tersebut. Dengan adanya hal ini maka hasil yang akan didapat adalah terbentuknya etika kerja yang baik sehingga dapat membangun profesionalisme dalam bekerja, lalu jika kedua hal tersebut sudah terbentuk maka perusahaan akan mendapat keuntungan yang positif yaitu terciptanya image yang baik dimata masyarakat, maupun perusahaan lain. Jadi, good image akan terbentuk melalui etika kerja yang baik, yang dimana pembelajaran tersebut akan di dapat dari training yang Public Relations Metro TV berikan kepada karyawannya.

Standar etika kerja

Metro TV memiliki standar etika kerja yang dibuat untuk karyawannya, seperti berikut ini:

a. Wajibnya pemakaian seragam selama sedang melakukan tugas perusahaan atau pada saat jam kerja

b. Adanya pedoman buku tata tertib yang diberikan kepada para karyawan c. Penetapan jam kerja atau office hour

d. Adanya bukti kehadiran karyawan dengan cara men-tapping ID Card masing-masing pada saat melakukan absensi sehari-hari

e. Berlakunya sanksi yang dibuat oleh Metro TV, yang diperuntukan bagi karyawan yang melanggar standar etika kerja yang sudah ditetapkan ini

Menurut Moore, kode etik profesi itu merupakan sarana untuk membantu para pelaksana sebagai seseorang yang profesional supaya tidak dapat merusak etika profesi. Ada tiga hal pokok yang merupakan fungsi dari kode etik profesi, diantaranya adalah: (Moore, 2005, hal. 193).

1. Kode etik profesi memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan. Maksudnya bahwa dengan kode etik profesi, pelaksana profesi mampu mengetahui suatu hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. 2. Kode etik profesi merupakan sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang

bersangkutan. Maksudnya bahwa etika profesi dapat memberikan suatu pengetahuan kepada masyarakat agar juga dapat memahami arti pentingnya suatu profesi, sehingga memungkinkan pengontrolan terhadap para pelaksana di lapangan kerja (kalangan sosial).

3. Kode etik profesi mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi. Arti tersebut dapat dijelaskan bahwa para pelaksana profesi pada suatu instansi atau perusahaan yang lain tidak boleh mencampuri pelaksanaan profesi di lain instansi atau perusahaan.

Tetapi jika dikaitkan dengan tujuan dibuatnya standar etika kerja oleh pihak Metro TV, fungsi dari kode etik profesi diatas lebih tertuju pada dimana kode etik profesi memberikan pedoman bagi

(5)

setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan. Maksudnya bahwa dengan kode etik profesi, pelaksana profesi mampu mengetahui suatu hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Dengan adanya standar etika kerja yang dibuat oleh Metro TV, tentunya ada harapan-harapan yang ingin dicapai salah satunya adalah agar karyawan yang bekerja di Metro TV bisa memahami bahwa pentingnya etika kerja di sebuah perusahaan. Jika hal ini sudah diciptakan oleh para karyawan maka tingkat profesionalisme dalam bekerja pun akan meningkat, sehingga visi misi yang ingin dicapai oleh Metro TV pun dapat terwujud.

Pembahasan

Etika kerja merupakan sesuatu yang sangat penting di dalam lingkungan kerja sehari-hari dimana etika kerja yang baik akan membuahkan hasil yang positif dalam hasil kerja yang telah dilakukan. Public Relations Metro TV telah menggunakan perannya untuk meningkatkan etika kerja tersebut, keempat peran tersebut adalah Communicator, Relationship, Back Up Management dan Good Image Maker.

Berikut juga penjelasan dari Ibu Henny Puspitasari mengenai training yang diberikan untuk karyawan. Training orientation adalah training yang diberikan untuk karyawan yang baru bergabung dengan Metro TV, training ini akan diberikan setiap basis tiga bulan sekali. Tujuannya agar karyawan tersebut dapat mengetahui seperti apa standar etika kerja yang ada di Metro TV, lalu agar karyawan dapat mengetahui bagaimana budaya kerja yang ada, serta menanamkan visi misi dari Metro TV sendiri. Selain training orientation, Public Relations juga memberikan Re-Training yang diperuntukan untuk karyawan yang sudah lama bergabung dengan Metro TV, tujuan dari re-training ini tidak jauh berbeda dengan training orientation yaitu seperti untuk menjaga dan mempertahankan etika kerja para karyawan, lalu memastikan kepada karyawan yang belum mencapai standar etika kerja yang diterapkan oleh Metro TV agar dapat mencapai standar etika kerja yang Metro TV inginkan. Re-training diadakan karena setiap karyawan memiliki kapasitas yang berbeda, sehingga masih ada karyawan yang kurang paham akan materi yang diberikan, yang dimana karyawan tersebut tidak melakukan pekerjaannya berdasarkan materi training yang telah diberikan. Semua hal yang dilakukan tersebut berguna untuk meningkatkan kedisiplinan dalam etika kerja, selain itu juga berguna untuk menciptakan budaya kerja yang positif sehingga visi misi yang ditanamkan oleh Metro TV dapat terwujud. Dari kegiatan training yang dilakukan ini adanya harapan yang cukup besar, tentunya agar etika kerja karyawan di Metro TV menjadi semakin baik karena etika kerja bukan hanya untuk keuntungan masa sekarang saja, tetapi untuk dimasa yang akan datang. Selain itu tujuan training ini dilakukan juga agar profesionalisme bekerja dapat ditingkat sehingga kedisplinan dapat tercipta di dalam lingkungan kerja.

Selain itu, standar etika kerja yang dibuat oleh Metro TV juga merupakan suatu hal yang sangat baik, peraturan-peraturan yang ada di dalam pedoman buku tata tertib menjadi suatu pegangan Metro TV agar etika kerja yang tercipta dapat meningkatkan tingkat profesionalisme karyawan dalam melakukan tanggung jawab yang diberikan oleh Metro TV. Karena hal tersebut sangat berkaitan dengan salah satu prinsip kode etik professional yaitu, prinsip tanggung jawab bahwa setiap keputusan yang diambil dan hasil dari pekerjaan tersebut harus baik serta dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan standar profesi, efisien, dan efektif. Berikut ini adalah standar etika kerja yang ada di Metro TV, antara lain:

a. Wajibnya pemakaian seragam selama sedang melakukan tugas perusahaan atau pada saat jam kerja

b. Adanya pedoman buku tata tertib yang diberikan kepada para karyawan c. Penetapan jam kerja atau office hour

d. Adanya bukti kehadiran karyawan dengan cara men-tapping ID Card masing-masing pada saat melakukan absensi sehari-hari

e. Berlakunya sanksi yang dibuat oleh Metro TV, yang diperuntukan bagi karyawan yang melanggar standar etika kerja yang sudah ditetapkan ini

Standar etika kerja yang telah ditetapkan oleh Metro TV tersebut sangat berkaitan dengan salah satu fungsi dari kode etik profesi yaitu, kode etik profesi memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan. Maksudnya bahwa dengan kode etik profesi, pelaksana profesi mampu mengetahui suatu hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Standar etika kerja ini sangat berpengaruh dengan Metro TV, karena dengan adanya standar etika ini maka peluang untuk mencapai visi misi Metro TV cukup besar dan dapat terwujud melalui adanya etika kerja yang baik sehingga dapat menciptakan profesionalisme bekerja yang baik pula. Jika kedua hal tersebut sudah tercipta di dalam lingkungan kerja Metro TV, maka dampak positif yang di dapat

(6)

selain itu kualitas yang dihasilkan dari pekerjaan yang dilakukan juga akan semakin baik. Citra Metro TV yang baik juga dikarenakan adanya relationship yang baik antar sesama karyawan, dimana miskomunikasi sangat diminimalkan sehingga hasil pekerjaan yang membutuhkan lebih dari satu divisi untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut membuahkan hasil yang baik. Kerjasama antara karyawan pun juga terlihat baik karena setiap acara yang diadakan Metro TV dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan dari pihak Metro TV sendiri.

Jadi, peran Public relations di dalam meningkatkan etika kerja karyawan ini sangat berkaitan dengan adanya standar etika kerja yang telah ditetapkan oleh Metro TV sendiri, sehingga Public Relations lebih mudah untuk menerapkan perannya untuk meningkatkan etika kerja. Karena peran Public Relations disini menjadi sarana agar apa yang diharapkan oleh Metro TV dapat terwujud lewat standar etika kerja yang sudah ada sebelumnya.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana peran Public Relations dalam meningkatkan etika kerja karyawan di PT Media Televisi Indonesia. Berdasarkan data yang telah dianalisis, maka kesimpulan dari hasil penelitian ini :

1. Dari keempat peran Public Relations yang ada, Public relations Metro TV sudah menjalankan keempat perannya yaitu sebagai Communicator, Relationship, Back Up Management dan Good Image Maker. Melalui perannya ini yang Public Relations lakukan adalah dengan memberikan training kepada para karyawan agar etika kerja yang baik dapat tercipta, dengan adanya training ini diharapkan karyawan dapat menerapkan budaya kerja yang ada di Metro TV sehingga visi misi yang telah ditetapkan dapat terwujud. Secara keseluruhan, keempat peran tersebut telah dilakukan dengan baik sehingga Metro TV memiliki citra perusahaan yang baik didepan masyarakat yang dikarenakan para karyawannya memiliki etika kerja yang baik, yang dimana hasil pekerjaan para karyawan seperti acara-acara Metro TV dilihat oleh masyarakat tanpa adanya gangguan atau kekurangan saat menyaksikan acara tersebut.

2. Berdasarkan observasi yang dilakukan dan didukung dengan hasil wawancara langsung dengan beberapa narasumber terkait standar etika kerja yang ada di Metro TV bahwa, standar etika kerja yang dibuat oleh Metro TV termasuk pedoman buku etika yang ada di dalamnya akan menjadi suatu pegangan Metro TV agar etika kerja yang tercipta dapat meningkatkan tingkat profesionalisme karyawan dalam melakukan tanggung jawab yang diberikan oleh Metro TV.

Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dijabarkan diatas, maka disimpulkan beberapa saran penelitian, yakni:

1. Saran Praktis

Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa hal yang ingin peneliti sampaikan sebagai sebuah saran dan masukan untuk pihak Metro TV dalam hal peran Public Relations dalam meningkatkan etika kerja karyawan, yaitu:

Public Relations Metro TV di dalam menjalankan perannya untuk meningkatkan etika kerja karyawan sudah menggunakan keempat peran Public Relations yang ada. Dari keempat peran PR, peran relationship masih dapat ditingkatkan,dikarenakan oleh hasil wawancara yang menunjukkan bahwa adanya karyawan yang tidak melihat atau tidak menyadari akan hubungan divisinya dengan PR Metro TV. Memiliki hubungan yang terlihat sangatlah penting bagi PR karena karyawan lain harus menyadari bahwa adanya hubungan yang baik antara PR degan divisi lain sehingga penyampaian yang berhubungan dengan peningkatan etika kerja dapat tersampaikan dengan baik. • Standar etika kerja yang dibuat oleh pihak Metro TV telah sesuai dengan fungsi kode etik profesi

yang ada. Tetapi standar etika kerja tersebut hanya menggunakan satu dari tiga fungsi kode etik profesi yang ada. Jika standar etika kerja Metro TV menggunakan ketiga fungsi kode etik profesi tersebut, maka hasil yang akan didapat adalah standar etika kerja yang lebih baik lagi.

(7)

2. Saran Akademis

Diharapkan agar penelitian ini dapat berguna bagi mahasiswa yang melakukan penelitian serupa atau melakukan penelitian lanjutan atas topik yang sama. Harapan kedepannya agar topik ini dan pembahasan yang telah dipaparkan dapat menimbulkan rasa keingintahuan untuk mengadakan penelitian lanjutan, dengan cara mengadakan wawancara yang lebih mendalam dengan pihak-pihak terkait guna mendapatkan informasi yang lebih banyak lagi sehingga dapat disampaikan kepada semua pihak, serta mengadakan survei dengan cara mendatangi perusahaan bersangkutan untuk mengetahui Public Relations dalam melaksanakan perannya dalam meningkatkan etika kerja karyawan. Serta diharapkan agar hasil penelitian ini memberikan kontribusi yang berguna dalam ilmu komunikasi khususnya di bidang komunikasi dan Public Relations sebagai pengetahuan dan panduan serta informasi yang dapat dijadikan pengalaman terhadap peran Public Relations dalam meningkatkan etika kerja.

REFERENSI

BUKU:

Agoes, S., & Ardana, I. (2011). Etika Bisnis Dan profesi : Tantangan Membangun Manusia Seutuhnya. Jakarta: Salemba Empat.

Cutlip, S. M., Center, A. H., & Broom, G. M. (2006). Effective Public Relations. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Effendy, U. (2004). Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Gunawan, I. (2013). Metode Penelitian Kualitaif: Teori dan Praktek. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Moleong, L. (2013). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Moore, F. (2005). Humas : Membangun Citra Dengan Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Morissan, M. (2008). Manajemen Public Relations . Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Mukhtar. (2013). Metode Praktis Penelitian Deskriptif Kualitatif. Jakarta: Referensi.

Mulyana, D., & Solatun. (2007). Metode Penelitian Komunikasi: Contoh-Contoh Penelitian Kualitatif Dengan Pendekatan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, D. (2013). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mulyana, D. (2007). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Ratna, N. K. (2010). Metodologi Penelitian : Kajian Budaya dan Ilmu-Ilmu Sosial Humaniora pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ruslan, R. (2006). Manajemen Public Relations Dan Media Komunikasi:Konsepsi Dan Aplikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Ruslan, R. (2010). Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi. Cetakan ke-5. Jakarta: Raja grafindo Persada.

Ruslan, R. (2014). Etika Kehumasan : Konsepsi & Aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers. Sarwono, J. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif & Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Suprapto, T. (2009). Pengantar Teori & Manajemen Komunikasi. Jakarta. PT. Buku Kita. Suranto, Aw. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha Ilmu.

(8)

JURNAL:

Arce, G.D dan Gunn, B.L (2005). WorkingWell With Others: The Evolution of Teamwork and Ethics. Memphis, USA

Birowo, A.M dan Perbawaningsih, W. (2004). Mengembangkan Self Regulation Dalam Etika Komunikasi. Jurnal Ilmu Komunikasi : Vol.1 No.1. Yogyakarta

Gustina (2008). Etika Bisnis. Jurnal Ekonomi dan Bisnis : Vol.3 No.2. Padang

Sulistyaningtyas, I.D (2010). Riset sebagai Ujung Tombak Keberhasilan Program Public Relations. Jurnal Ilmu Komunikasi : Vol.7, No.2. Yogyakarta

Trevino, K.L dan Brown, E.M. (2004). Managing To Be Ethical: Debunking five Business Ethics Myths. Academy of Management Executive : Vol.18 No.2. Pennsylvania, USA

RIWAYAT PENULIS

Fira Oktaviani Putri lahir di kota Tangerang pada 31 Oktober 1992. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara (BINUS) dalam bidang Public Relations pada tahun 2014.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah mendeskrpsikan struktur yang membangun novel Partikel karya Dewi Lestari, mendeskripsikan aspek motivasi yang terkandung dalam

Apakah Lingkungan Kerja dan Kepribadian berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan Divisi SDM dan Divisi Umum pada PDAM Tirtanadi Medan.. 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

(Tuliskan kegiatan yang menghasilkan dampak terhadap lingkungan) (Tuliskan dampak yang mungkin terjadi) (Tuliskan ukuran yang dapat menyatakan besaran dampak) (Tuliskan

Aplikasi (Pengendalian Masukan atau Input Controls) 160 4.4.5 Penilaian Resiko (Risk Measurement) untuk Pengendalian. Aplikasi (Pengendalian Proses atau Process Controls)

di bawah 0,05 maka tidak berdistribusi normal.Dari penelitian yang dilakukan, nilai signifikansi data waktu penyelesaian soal 1 dan 2, baik sebelum dan sesudah diberi

Turki adalah Negara muslim pertama yang melakukan kodifikasi undang- undang keluarga di masa modern yaitu dengan lahirnya The Ottoman Law of Family Rights tahun 1917. Turki

Pada daerah yang serangan Fusarium sp nya tinggi (populasi100 sel/g tanah) penggunaan jamur Gliocladium sp disarankan dapat dilakukan secara terus menerus selama

Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama (Jakarta: Al Hikmah, 2006).. Alauddin at Tharablisi, Muin Al Hukkam Fima yataraddadu baina