• Tidak ada hasil yang ditemukan

ALAM HIJAU Vol. II No. 2 Februari 2013 Hal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ALAM HIJAU Vol. II No. 2 Februari 2013 Hal"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ALAM HIJAU Vol. II No. 2 Februari 2013 Hal. 1-112

ISSN 2086-6844

ALAM HIJAU

Jurnal

Jurnal

Jurnal

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran Eksakta

Eksakta

Eksakta

Eksakta

Volume II, No 2, Februari 2013

Muchtar

Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada Kompetensi Dasar Perkembangan Islam di Indonesia Melalui Strategi Crossword Puzzle Siswa Kelas XII IPS 2 Semester Gasal di SMA Negeri Balung JemberTahun

Pelajaran 2012/2013

Herman Susanto

Penerapan Model Cl Teknik Snowball Throwing dengan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas XII IPA 1 SMA Negeri Balung Jember pada Mata Pelajaran Fisika Semester Ganjil

Tahun 2012/2013

Putu Yogatama

Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI Dengan Metode Eksperimen Pada Sub Pokok Bahasan Keanekaragaman Hayati Indonesia Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X 3 Semester

Gasal Di SMAN Ambulu Jember Tahun Pelajaran 2012/2013 (Hal 29 – 40 )

Suharmadi

Penerapan Model Cooperative Learning Teknik Talking Stick Dengan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Aktivitas dan Ketuntasan Hasil Belajar Fisika pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis Siswa Kelas X.4 Semester

Genap SMA Negeri Ambulu Tahun Ajaran 2011/2012

Guntur Sugoto

Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Teams Games Tournament Dengan Alat Peraga Sederhana dan Berbasis Pengembangan Karakter Sub Pokok Bahasan Sudut Dalam Ruang Dimensi Tiga untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X B Semeter Genap Di SMA Negeri 3 Jember

Tahun Ajaran 2011/2012

Fifit Wulandari

Penerapan Model Belajar Think Pair Share ( TPS ) dalam Pembelajaran Biologi Sub Pokok Bahasan Bioteknologi Pertanian Dapat Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Kelas XII IPA 3 SMA Negeri Balung Jember Semester

Genap Tahun Ajaran 2011/2012

Endra Priawasana

Identifikasi Tumbuhan Paku (Pteridophyta) di Kawasan “Hutan Penelitian Sumberwringin” Kecamatan Sukosari Kabupaten Bondowoso Sebagai Media Pembelajaran Biologi Sub Pokok Bahasan Pteridophyta Pokok Bahasan

Plantae SMA Kelas X

Asri Widiatsih

Peran Masyarakat Dalam Pengembangan Pendidikan Berbasis Life Skill di SMK Setia Atmadja Jember

Ismul Mauludin Al Habib

Strategi Vermikompos, Aktivator Pengomposan, serta Penggabungan Vermikompos dan Aktivator untuk Meningkatkan Kecepatan Proses Pengomposan sebagai Media Pembelajaran SMA Pokok Bahasan Bioteknologi

Kelas X

Penerbit

Fakultas Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

IKIP PGRI JEMBER

Sekretariat: Jl. Jawa No. 10 Tegal boto Jember

(3)

ALAM HIJAU Vol. II No. 2 Februari 2013 Hal. 1-112

Volume II, No 2, Februari 2013

DAFTAR ISI

Muchtar

Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada Kompetensi Dasar Perkembangan Islam di Indonesia Melalui Strategi Crossword Puzzle Siswa Kelas XII IPS 2 Semester Gasal di SMA Negeri Balung JemberTahun

Pelajaran 2012/2013 ( hal 1 – 13 )

Herman Susanto

Penerapan Model Cl Teknik Snowball Throwing dengan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas XII IPA 1 SMA Negeri Balung Jember pada Mata Pelajaran Fisika Semester Ganjil

Tahun 2012/2013 ( hal 14 – 28 )

Putu Yogatama

Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI Dengan Metode Eksperimen Pada Sub Pokok Bahasan Keanekaragaman Hayati Indonesia Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X 3 Semester

Gasal Di SMAN Ambulu Jember Tahun Pelajaran 2012/2013 (Hal 29 – 40 )

Suharmadi

Penerapan Model Cooperative Learning Teknik Talking Stick Dengan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Aktivitas dan Ketuntasan Hasil Belajar Fisika pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis Siswa Kelas X.4 Semester

Genap SMA Negeri Ambulu Tahun Ajaran 2011/2012 ( hal 41– 52)

Guntur Sugoto

Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Teams Games Tournament Dengan Alat Peraga Sederhana dan Berbasis Pengembangan Karakter Sub Pokok Bahasan Sudut Dalam Ruang Dimensi Tiga untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X B Semeter Genap Di SMA Negeri 3 Jember

Tahun Ajaran 2011/2012 ( hal 53 – 63 )

Fifit Wulandari

Penerapan Model Belajar Think Pair Share ( TPS ) dalam Pembelajaran Biologi Sub Pokok Bahasan Bioteknologi Pertanian Dapat Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Kelas XII IPA 3 SMA Negeri Balung Jember Semester

Genap Tahun Ajaran 2011/2012 ( hal 64 – 75 )

Endra Priawasana

Identifikasi Tumbuhan Paku (Pteridophyta) di Kawasan “Hutan Penelitian Sumberwringin” Kecamatan Sukosari Kabupaten Bondowoso Sebagai Media Pembelajaran Biologi Sub Pokok Bahasan Pteridophyta Pokok Bahasan

Plantae SMA Kelas X (hal 77 – 89)

Asri Widiatsih

Peran Masyarakat Dalam Pengembangan Pendidikan Berbasis Life Skill di SMK Setia Atmadja Jember (hal 90 – 105)

Ismul Mauludin Al Habib

Strategi Vermikompos, Aktivator Pengomposan, serta Penggabungan Vermikompos dan Aktivator untuk Meningkatkan Kecepatan Proses Pengomposan sebagai Media Pembelajaran SMA Pokok Bahasan Bioteknologi

Kelas X (hal 106 – 112)

ISSN 2086-6844

ALAM HIJAU

Jurnal

Jurnal

Jurnal

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran Eksakta

Pendidikan dan Pengajaran

Eksakta

Eksakta

Eksakta

(4)

ALAM HIJAU Vol. II No. 2 Februari 2013 Hal. 1-112

ALAM HIJAU, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran diterbitkan oleh Fakultas Pendidikan

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FP.MIPA) IKIP PGRI Jember, Jurnal ini sebagai

media informasi dan media penuangan ide-ide kritis dan hasil-hasil penelitian yang berkaitan

dengan pendidikan dan pengajaran. Jurnal ini terbit 2 kali setahun, pada bulan Februari dan

Agustus Jurnal ini pertama kali terbit pada bulan Februari 2012.

Pelindung:

Rektor IKIP PGRI Jember

Penanggung Jawab:

Dekan Fakultas Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

Ketua Penyunting:

Prof.Dr. Rudy Sumiharsono,MM

Anggota Penyunting:

Dr. H.Hobri,M.Pd

Dr. Suratno,M.Si

Dr. Hj. Evi Hanizar,M.Kes

Dr. Susanto,M.Pd

Drs. Sukarni, M.Pd

Sekretaris:

Ismul Mauludin Al Habib,S.Pd.,M.P

Bendahara:

Jhoni Susanto, SE

Tata Usaha

Endra Priawasana,S.P.,M.Pd

Lutfiyah,S.Pd.,M.Pd

MS. Aswan,S.Pd

Alamat:

Fakultas Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

IKIP PGRI JEMBER

Jl. Jawa No. 10 Tegal boto Jember

Telepon 0331 335827 Fax 03331 335977

http://www.Jurnal.ikip-jember.org/

ISSN 2086-6844

ALAM HIJAU

Jurnal

Jurnal

Jurnal

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran Eksakta

Eksakta

Eksakta

Eksakta

(5)

ALAM HIJAU Vol. II No. 2 Februari 2013 Hal. 1-112

Alamat Redaksi

Fakultas Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

IKIP PGRI JEMBER

Sekretariat: Jl. Jawa No. 10 Tegal boto Jember

Telepon 0331 335827 Fax 03331 335977

http://www.Jurnal.ikip-jember.org/

(6)

77 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

IDENTIFIKASI TUMBUHAN PAKU (PTERIDOPHYTA) DI KAWASAN “HUTAN PENELITIAN SUMBERWRINGIN”

KECAMATAN SUKOSARI KABUPATEN BONDOWOSO SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BIOLOGI

SUB POKOK BAHASAN PTERIDOPHYTA POKOK BAHASAN PLANTAE

SMA KELAS X Oleh :

Endra Priawarsana.1, Dwi Retno Purnaningsasi.2

( 1. Dosen Program Studi Pendidikan Biologi IKIP PGRI Jember, 2. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi IKIP PGRI Jember )

Abstrak

Tumbuhan paku yang ada di kawasan Hutan Penelitian Sumberwringin Kecamatan Sukosari Kabupaten Bondowoso ini merupakan sebagian kecil dari tumbuhan paku yang ada di Indonesia. Di dalam kurikulum berkarakter, Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan salah satu materi pelajaran biologi di sekolah, di tingkat SMA kelas X semester 2 pada pokok bahasan Plantae, dengan Sub Pokok Bahasan Tumbuhan paku. yang ada dan tumbuh di kawasan Hutan Penelitian Sumberwringin, Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso dan apakah dapat dijadikan media pembelajaran biologi SMA (Sekolah Menengah Atas) kelas X (sepuluh) semester 2 (genap), pada pokok bahasan Plantae, dengan Sub Pokok Bahasan Tumbuhan paku (Pteridophyta). Jenis penelitianya adalah deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian didapatkan 9 spesies tumbuhan paku (Pteridophyta) berasal dari 1 kelas antara lain: (1) Athyrium sp, (2) Pteris biaurita, (3) Asplenium nidus, (4) Davallia sp (5) Nephrolepis cordifolia (6) Pityrogramma calomelanos (7) Nephrolepis biserrata (8) Drynaria sparsisora (9) Adiantum sp. Setelah mengetahui spesies-spesies tumbuhan paku yang berada dikawasan hutan penelitian sumberwringin dapat dijadikan media pembelajaran yang diharapkan bisa membantu guru dalam penyampaian ilmu pengetahuan kepada siswanya, khususnya untuk mengetahui tumbuhan lumut tidak dari gambar dan foto saja, akan tetapi siswa dapat langsung terjun ke lapangan untuk mengamati dan mendeskripsikan secara langsung melalui benda ( Tumbuhan paku ) yang riil, yang masih ada di habitat asli, dan yang ada secara utuh sehingga kualitas pendidikan di Indonesia akan lebih baik lagi.

(7)

78 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU” PENDAHULUAN

Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan suatu divisi yang warganya telah mempunyai kormus, artinyatubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, yaitu akar, batang, dan daun.Namun demikian, pada tumbuhan paku belum dihasilkan biji , alat perkembangbiakannya adalah spora (Tjitrosoepomo, 2009). Kebanyakan paku memiliki perawakan yang khas yaitu adanya daun muda yang bergelung yang akan membuka jika dewasa, ciri yang hampir unik ini disebut vernasi bergelung, sebagai akibat lebih lambatnya pertumbuhan permukaan daun sebelah atas dari pada sebelah bawah pada perkembangan awalnya (Loveless, 1989).

Ciri-ciri tumbuhan paku struktur tubuh terdiri atas bagian-bagian akar, batang dan daun, akarnya berupa rizoid yang bersifat seperti akar serabut dengan ujung dilindungi kaliptra, batangnya pada umumnya tidak tampak (kecuali tumbuhan paku tiang) karena terdapat di dalam tanah berupa rimpang, menjalar, atau sedikit tegak, daunnya yang muda umumnya melingkar atau menggulung,

Daun pada tumbuhan paku mengandung sporangia yang berkembang dalam bentuk kelompok yang disebut sori. Sporangia yang pecah akan menghasilkan spora. Dengan spora inilah tumbuhan paku berkembing biak (Cranbrook dan Endward, 1994)

Dalam udara kering, spora mampu mempertahankan viabilitasnya selama beberapa bulan, tetapi jika dibasahi pada suhu yang cocok, spora akan berkecambah (Loveless, 1989).

Daur hidup tumbuhan paku mengenal pergiliran keturunan, yang terdiri dari dua fase utama: Gametofit dan Sporofit.

Tumbuhan paku ada yang bersifat teresterial, epifit, dan aquatic. Jenis-jenis yang sekarang masih ada sebagian bersifat higrofit. Mereka lebih menyukai tempat-tempat yang teduh dengan kelembaban yang tinggi (Tjitrosoepomo, 2009). Di daerah tropik banyak pohon-pohon paku menjulang tegak dan dapat mencapai sampai 20meter ( Soemarwoto et al, 1984).

Menurut Tjitrosoepomo,2009 Dalam taksonomi, Pteridophyta termasuk juga yang telah punah, dibedakan dalam beberapa kelas yaitu:

(8)

79 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU” a. Kelas: Psilophytinae (paku purba)

Paku purba meliputi jenis-jenis tumbuhan paku yang sebagian besar telah punah. Jenis-jenis yang sekarang yang masih ada hanya sedikit saja. Warga paku purba merupakan paku telanjang (tidak berdaun) atau mempunyai daun-daun kecil (mikrofil) yang belum terdeferensiasi. Ada diantaranya belum mempunyai akar dan bersifat homospor (Tjitrosoepomo, 2005)

Kelas ini dibedakan menjadi dua bangsa, yaitu: 1) Bangsa Psilophytales (paku telanjang) 2) Bangsa Psilotales.

b. Kelas: Lycopodiinae (paku rambat atau paku kawat)

Batang dan akar – akarnya bercabang – cabang menggantung. Berdaun mikropil, tidak bertangkai, selalu bertulang satu saja. Pada beberapa bangsanya, terdapat lidah – lidah (ligula) pada daun – daunnya. Adanya mikropil memberikan suatu petunjuk bahwa kelas tumbuhan paku ini masih dekat dengan Psilopipinae dan masih keturunan dari Psilopipiinae (Tjitrosoepomo,2005). Kelas ini dibedakan dalam empat bangsa, yaitu : 1) Bangsa Lycopodiales

2) Bangsa Celaginellales (paku rane atau paku lumut) 3) Bangsa Lepydodendrales

4) Bangsa Isoetales

c. Kelas: Equisetinae (paku ekor kuda)

Warga kelas ini yang sekarang masih hidup umunya berupa terna yang menyukai tempat-tempat lembab, terkadang dalam jumlah yang sangat besar dan bersifat dominan dalam (Tjitrosoepomo, 2005). Kelas ini dibedakan beberapa kelas, yaitu:

Kelas ini dibedakan beberapa kelas, yaitu: 1) Bangsa Equisetales

2) Bangsa Sphenophyllales 3) Bangsa Protoarticulatales

(9)

80 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU” d. Kelas: Filicinae (paku sejati)

Kelas Filicinae meliputi beraneka ragam tumbuhan yang menurut bahasa sehari-hari dikenal sebagai tumbuhan paku atau pakis yang sebenarnya. Habitusnya yang beraneka ragam menyebabkan berbagai jenis diantaranya yang mendapat penghargaan yang tinggi sebagai tanaman hias (Tjitrosoepomo, 2005). Kelas ini yang sekarang masih hidup dibedakan dalam 3 anak kelas,yaitu:

1) Anak kelas Eusporangiatae

Tumbuhan yang tergolong dalam anak kelas ini kebanyakan berupa terna. Anak kelas ini dibedakan dalam dua bangsa, yaitu:

a) Bangsa Ophoglossales. b) Bangsa Marattiales 2) Anak kelas Leptosporangiatae

Golongan ini terdiri atas beraneka ragam paku-pakuan yang luar biasa banyaknya, meliputi 90% dari seluruh jumlah marga yang tergolong dalam Filicinae dan tersebar di seluruh muka bumi. Berikut pembagian klasifikasinya (Tjitrosoepomo, 2005).

a) Suku Osmundaceae b) Suku Schizaeaceae c) Suku Gleicheniaceae d) Suku Matoniaceae e) Suku Loxsomaceae f) Suku Hymenophyllaceae g) Suku Dicksoniaceae h) Suku Thysopteridaceae i) Suku Cyatheaceae j) Suku Polypodiceae 3) Anak kelas Hydropterides

Tumbuhan ini selalu heterospora. Makrosporagium dan mikrosporangiumnya berdinding tipis, tidak mempunyai annulus dan

(10)

81 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

terdapat dalam suatu badan pada pangkal daun anak kelas ini meliputi 2 suku, yaitu (Tjitrosoepomo,2005)

a) Suku Salviniaceae b) Suku Marsileaceae

Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) dalam Sudrajat, (2008) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di hutan penelitian Sumberwringin Kecamatan Sukosari Kabupaten Bondowoso yang merupakan untuk mengembangkan berbagai macam jenis pohon-pohon hutan yang mulai langka dan sebagai tempat penelitian departemant kehutanan.. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka, melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan memo, dan dokumen resmi lainnya. Dalam penelitian ini sumber data yang diambil adalah Lumut yang ada dikawasan Hutan Penelitian Sumberwringin tersebut dengan menggunakan tehnik pengambilan data menggunakan metode petak ganda dan dalam pengambilan sampel menggunakan metode jelajah menyusuri setiap plot di hutan penelitian dengan cara mengikuti arah matahari, dari sisi sebelah ujung utara, tengah, ujung selatan pada kawasan hutan penelitian Sumberwringin Kecamatan Sukosari Kabupaten Bondowoso. Dengan sketsa penelitian sebagai berikut :

(11)

82 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

Setelah pengambilan sampel terlaksana akan dilanjutkan dengan pengidentifikasian tumbuhan paku dengan cara :

- Mengamati sampel

- Mendeskripsikan karakteristik yang ditemukan dan dicocokkan dengan menggunakan buku acuan (Taksonomi Tumbuhan Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta oleh Gembong Tjirosoepomo 2009, FLORA untuk sekolah di Indonesia oleh Dr.C.G.G.J van Steenis 1988 dan referensi dari LIPI Kebun Raya Cibodas dalam Kusuma, (2011) dan referensi dari LIPI Kebun Raya Cibodas dalam Nuruliawati, (2011)) guna menentukan nama spesiesnya.

HASIL dan PEMBAHASAN

Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut : 1) Spesies 1

Tumbuhan paku yang ditemukan dalam penelitian termasuk paku tanah. Akarnya serabut berwarna coklat kehitaman. Batangnya tumbuh tegak. Memiliki anak-anak daun yang tidak bertangkai. Daun berwarna hijau. Termasuk daun majemuk menyirip dan bergerigi. Habitatnya ditempat lembab yang tidak tergenang oleh air, yang cukup mendapatkan sinar matahari. Ditemukan di tempat berbatuan yang permukaannya tertutup oleh humus, atau di sela-sela batu. Tumbuhnya sering membentuk kelompok yang tidak terlalu besar atau bercampur dengan jenis tumbuhan lain.

(12)

83 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

Gambar A. Athyrium sp pada habitat asli

Gambar B. Athyrium sp per individu Klasifikasi Divisio : Pteridophyta Class : Pteropsida Ordo : Filicales Family : Athyriaceae Genus : Athyrium Spesies : Athyrium sp. 2) Spesies 2

Tumbuhan paku yang ditemukan dalam penelitian adalah paku tanah yang akarnya rimpang atau merayap, pendek dan beruas pendek. Memiliki daun berwarna hijau, tipe daunnya menyirip sampai menyirip ganda. Memiliki tangkai anak daun duduk berseling rapat hampir seperti berhadapan, jarak sepasang anak daun terhadap lainnya berjauhan, semakin ke atas, jaraknya semakin pendek. Habitat sebagian besar di hutan, dinding, dan tanah. Disebut juga paku padang ( Sastrapraja, 1985)

Gambar A. Pteris biaurita L pada habitat asli Gambar B. Pteris biaurita L per individu Klasifikasi Divisio : Pteridophyta Class : Pteropsida Ordo : Filicales Family : Pteridaceae Genus : Pteris

Spesies : Pteris biaurita L

3) Spesies 3

Tumbuhan paku yang ditemukan dalam penelitian adalah paku epifit. Akar rimpang tegak, pendek. Daun tunggal, bertulang daun

(13)

84 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

menyirip, daun tidak dapat lepas dari rimpang ,tidak beruas dengan akar rimpang, bertangkai sangat pendek, berbentuk langset, dengan pangkal sangat sempit, coklat mengkilat, tulang daun lateral banyak, sejajar. Habitatnya diperkebunan yang sangat teduh, dan daerah yang tidak begitu kering (Steenis, 1988)

Gambar A. Asplenium nidus L. pada habitat asli

Gambar B. Asplenium nidus L. per individu

Klasifikasi Divisio : Pteridophyta Class : Pteropsida Ordo : Filicales Family : Aspleniaceae Genus : Asplenium Spesies : Asplenium nidus L. 4) Spesies 4

Tumbuhan paku yang ditemukan dalam penelitian termasuk paku epifit atau tanah. Akar rimpang memanjat atau merayap, panjang, bersisik rapat, dengan ujung yang berambut pendek. Daun menyirip ganda atau lebih, bergerigi. Selaput penutup terikat sepanjang pangkal daun tepi samping, berbentuk piala, membuka keluar. Sisik berwarna pirang. Habitatnya biasanya di atas pohon di hutan dan daerah perkebunan (Steenis, 1988). Gambar A. Davallia trichomanoides pada habitat asli Gambar B. Davallia trichomanoides per individu Klasifikasi Divisio : Pteridophyta Class : Pteropsida Ordo : Filicales Family : Davalliaceae Genus : Davallia Spesies :Davallia trichomanoides

(14)

85 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

5) Spesies 5

Tumbuhan paku yang ditemukan dalam penelitian merupakan paku tanah atau epifit. Akar rimpang tegak, berdaun rapat. Daun duduk atau hampir duduk. Poros dengan sisik coklat. Anak daun berjejal rapat, urat daun sejajar yang berakhir dalam sorus atau pori air. Habitat aslinya biasanya berada di dalam hutan belukar dan rimba rumput, lereng dan lereng batu (Steenis, 1988).

Gambar A. Nephrolepis cordifolia L. pada habitat asli Gambar B. Nephrolepis cordifolia L. per individu Klasifikasi Divisio : Pteridophyta Class : Pteridopsida Ordo : Filicales Family : Nephrolepidaceae Genus : Nephrolepis Spesies :Nephrolepis cordifolia. 6) Spesies 6

Tumbuhan paku yang ditemukan dalam penelitian termasuk paku tanah. Akar rimpang pendek, tegak atau kecondong-condongan, di sekitarnya berdaun lebat, pada bagian yang muda bersisik rapat dan coklat. Daun tidak beruas terhadap akar rimpang, bulat telur panjang, anak daun bertangkai pendek. Sori di atas sisi bagian bawah. Habitat di daerah tidak terlalu kering, ditempat matahari cerah atau teduh (Steenis, 1988).

(15)

86 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

Gambar A. Pityrogramma calomelanos L. pada habitat asli Gambar B. Pityrogramma calomelanos L. per individu Klasifikasi Divisio : Pteridophyta Class : Pteropsida Ordo : Filicales Family : Hemionitidaceae Genus : Pityrogramma Spesies : Pityrogramma calomelanos L. 7) Spesies 7

Tumbuhan paku yang ditemukan dalam penelitian termasuk paku tanah atau epifit. Akar rimpang tegak, berdaun rapat. Tangkai daun 10-50 cm, kuat, tertutup oleh sisik coklat muda dan mudah rontok, kerap kali melengkung sampai menggantung. Anak daun duduk atau hampir duduk, berjarak satu dengan yang lain, bangun lanset garis. Urat daun sejajar, berdekatan rapat dan berakhir pada sori atau pori air. Habitat di daerah yang tidak begitu kering, batang pohon , tepi hutan dan hutan belukar (Steenis, 1988).

Gambar A.

Nephrolepis biserrata Schott. pada habitat asli

Gambar B.

Nephrolepis biserrata Schott. per individu

Klasifikasi Divisio : Pteridophyta Class : Pteridopsida Ordo : Filicales Family : Nephrolepidaceae Genus : Nephrolepis Spesies : Nephrolepis biserrata Schott.

(16)

87 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

8) Spesies 8

Tumbuhan paku yang ditemukan dalam penelitian termasuk paku epifit atau paku terestrial. Akar rimpang memanjat, kerapkali panjang dan tebal, sisik mulai dari kaki membalut lambat laun menyempit. Daun beruas dengan akar rimpang, daun sarang bulat telur. Daun sejati serupa kulit, gundul, tajuk ujung tidak ada, tajuk samping yang tertinggi menggantikannya, tajuk daun berbentuk lanset garis, tepi rata, helaian daun panjang 30-150 cm. Urat daun banyak berjalan mendekat. Habitatnya dari mangrove sampai daerah gunung yang rendah, hutan secundair, di atas pohon di daerah perkebunan (Steenis, 1988).

Gambar A. Drynaria sparsisora (Desv.) T. Moore pada habitat asli

Gambar B. Drynaria sparsisora (Desv.) T. Moore per individu

Klasifikasi Divisio : Pteridophyta Class : Pteropsida Ordo : Filicales Family : Polypodiaceae Genus : Drynaria Spesies : Drynaria sparsisora (Desv.) 9) Spesies 9

Paku tanah. Akar rimpang tegak, semakin menaik, berdaun rapat dan pendek. Tangkai daun gundul. Daun majemuk, yang besar menyirip rangkap 3-4 dan bergerigi. Anak daun berseling sepanjang poros sirip, gundul, sepanjang tepi atas bercangkap, bulat telur, oval atau bulat telur terbalik. Sori pada sisi bawah daun dibawah tepi taju daun yang menggulung, tepi daun berfungsi sebagai selaput penutup. Habitat daratan rendah sampai pegunungan, sangat banyak dipelihara

(17)

88 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

menjadi tanaman hias (Steenis, 1988).

Gambar A. Adiantum sp L. pada habitat asli

Gambar B. Adiantum L. per individu Klasifikasi Divisio : Pteridophyta Class : Pteropsida Ordo : Filicales Family : Adiantaceae Genus : Adiantum Spesies : Adiantum sp L. I. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dari mencari dan mengumpulkan data kemudian dilanjutkan dengan identifikasi, maka dapat di simpulkan:

1) Dari penelitian yang dilakukan di kawasan hutan penelitian Sumberwringin kecamatan Sukosari Kabupaten Bondowoso terdapat 9 spesies yaitu: lain (1) Athyrium sp, (2) Pteris biaurita, (3) Asplenium nidus, (4) Davallia sp (5) Nephrolepis cordifolia (6) Pityrogramma calomelanos (7) Nephrolepis biserrata (8) Drynaria sparsisora (9) Adiantum sp.

2) Spesies tumbuhan paku yang ditemukan di Hutan Penelitian Sumberwringin dapat digunakan sebagai media pembelajaran biologi SMA Kelas X khususnya bab “ Plantae” sub pokok bahasan Pteridophyta.

DAFTAR PUSTAKA

Tjitrosomo, S.S. 1983. Botani Umum 3. Bandung: Angkasa. Indriyanto. Ir. 2006. Ekologi Hutan, Jakarta. PT. Bumi aksara. Tjitrosoepomo, G. 2009. Taksonomi Tumbuhan Schizophyta,

Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta. Yogyakarta. Gajah Mada University Press.

Steenis, Dr.C.G.G.J van. 1988. FLORA untuk sekolah di Indonesia. Jakarta: PT Pradnya Paramita.

(18)

89 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

Nuruliawati, K. 2011. Inventarisasi dan Identifikasi Morfologi Tumbuhan

Lumut (Bryophyta) dan Tumbuhan Paku (Pteridophyta) di Kawasan Wisata Rembangan Jember Sebagai Sumber Belajar Biologi SMA. Tidak dipublikasikan. Skripsi. Jember: Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jember.

Loveless, A.R. 1989. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik 2. Jakarta: PT Gramedia

Kusumah, Wijaya. (2009). Pengertian Media Pembelajaran. (Online). Tersedia: http://media-grafika.com/pengertian-media-pembelajaran (21 april 2012)

Mustikasari, Ardiani. (2008). Mengenal Media Pembelajaran. (Online). Tersedia: http://edu-articles.com/mengenal-media-pembelajaran.html (21 april 2012)

Gambar

Gambar : sketsa alur perjalanan peneliti
Gambar  B.  Athyrium  sp per individu  Klasifikasi Divisio  :  Pteridophyta Class :  Pteropsida Ordo :  Filicales Family :  Athyriaceae Genus :  Athyrium Spesies  :  Athyrium sp
Gambar A. Asplenium  nidus  L.  pada  habitat  asli
Gambar  A.   Pityrogramma  calomelanos  L.  pada  habitat asli  Gambar  B.  Pityrogramma calomelanos  L

Referensi

Dokumen terkait