• Tidak ada hasil yang ditemukan

ALAM HIJAU Vol. II No. 2 Februari 2013 Hal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ALAM HIJAU Vol. II No. 2 Februari 2013 Hal"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ALAM HIJAU Vol. II No. 2 Februari 2013 Hal. 1-112

ISSN 2086-6844

ALAM HIJAU

Jurnal

Jurnal

Jurnal

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran Eksakta

Eksakta

Eksakta

Eksakta

Volume II, No 2, Februari 2013

Muchtar

Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada Kompetensi Dasar Perkembangan Islam di Indonesia Melalui Strategi Crossword Puzzle Siswa Kelas XII IPS 2 Semester Gasal di SMA Negeri Balung JemberTahun

Pelajaran 2012/2013 Herman Susanto

Penerapan Model Cl Teknik Snowball Throwing dengan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas XII IPA 1 SMA Negeri Balung Jember pada Mata Pelajaran Fisika Semester Ganjil

Tahun 2012/2013 Putu Yogatama

Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI Dengan Metode Eksperimen Pada Sub Pokok Bahasan Keanekaragaman Hayati Indonesia Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X 3 Semester

Gasal Di SMAN Ambulu Jember Tahun Pelajaran 2012/2013 (Hal 29 – 40 ) Suharmadi

Penerapan Model Cooperative Learning Teknik Talking Stick Dengan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Aktivitas dan Ketuntasan Hasil Belajar Fisika pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis Siswa Kelas X.4 Semester

Genap SMA Negeri Ambulu Tahun Ajaran 2011/2012 Guntur Sugoto

Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Teams Games Tournament Dengan Alat Peraga Sederhana dan Berbasis Pengembangan Karakter Sub Pokok Bahasan Sudut Dalam Ruang Dimensi Tiga untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X B Semeter Genap Di SMA Negeri 3 Jember

Tahun Ajaran 2011/2012 Fifit Wulandari

Penerapan Model Belajar Think Pair Share ( TPS ) dalam Pembelajaran Biologi Sub Pokok Bahasan Bioteknologi Pertanian Dapat Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Kelas XII IPA 3 SMA Negeri Balung Jember Semester

Genap Tahun Ajaran 2011/2012 Endra Priawasana

Identifikasi Tumbuhan Paku (Pteridophyta) di Kawasan “Hutan Penelitian Sumberwringin” Kecamatan Sukosari Kabupaten Bondowoso Sebagai Media Pembelajaran Biologi Sub Pokok Bahasan Pteridophyta Pokok Bahasan

Plantae SMA Kelas X Asri Widiatsih

Peran Masyarakat Dalam Pengembangan Pendidikan Berbasis Life Skill di SMK Setia Atmadja Jember Ismul Mauludin Al Habib

Strategi Vermikompos, Aktivator Pengomposan, serta Penggabungan Vermikompos dan Aktivator untuk Meningkatkan Kecepatan Proses Pengomposan sebagai Media Pembelajaran SMA Pokok Bahasan Bioteknologi

Kelas X

Penerbit

Fakultas Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

IKIP PGRI JEMBER

Sekretariat: Jl. Jawa No. 10 Tegal boto Jember

(3)

ALAM HIJAU Vol. II No. 2 Februari 2013 Hal. 1-112

Volume II, No 2, Februari 2013

DAFTAR ISI

Muchtar

Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada Kompetensi Dasar Perkembangan Islam di Indonesia Melalui Strategi Crossword Puzzle Siswa Kelas XII IPS 2 Semester Gasal di SMA Negeri Balung JemberTahun

Pelajaran 2012/2013 ( hal 1 – 13 ) Herman Susanto

Penerapan Model Cl Teknik Snowball Throwing dengan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas XII IPA 1 SMA Negeri Balung Jember pada Mata Pelajaran Fisika Semester Ganjil

Tahun 2012/2013 ( hal 14 – 28 ) Putu Yogatama

Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI Dengan Metode Eksperimen Pada Sub Pokok Bahasan Keanekaragaman Hayati Indonesia Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X 3 Semester

Gasal Di SMAN Ambulu Jember Tahun Pelajaran 2012/2013 (Hal 29 – 40 ) Suharmadi

Penerapan Model Cooperative Learning Teknik Talking Stick Dengan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Aktivitas dan Ketuntasan Hasil Belajar Fisika pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis Siswa Kelas X.4 Semester

Genap SMA Negeri Ambulu Tahun Ajaran 2011/2012 ( hal 41– 52) Guntur Sugoto

Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Teams Games Tournament Dengan Alat Peraga Sederhana dan Berbasis Pengembangan Karakter Sub Pokok Bahasan Sudut Dalam Ruang Dimensi Tiga untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X B Semeter Genap Di SMA Negeri 3 Jember

Tahun Ajaran 2011/2012 ( hal 53 – 63 ) Fifit Wulandari

Penerapan Model Belajar Think Pair Share ( TPS ) dalam Pembelajaran Biologi Sub Pokok Bahasan Bioteknologi Pertanian Dapat Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Kelas XII IPA 3 SMA Negeri Balung Jember Semester

Genap Tahun Ajaran 2011/2012 ( hal 64 – 75 ) Endra Priawasana

Identifikasi Tumbuhan Paku (Pteridophyta) di Kawasan “Hutan Penelitian Sumberwringin” Kecamatan Sukosari Kabupaten Bondowoso Sebagai Media Pembelajaran Biologi Sub Pokok Bahasan Pteridophyta Pokok Bahasan

Plantae SMA Kelas X (hal 77 – 89) Asri Widiatsih

Peran Masyarakat Dalam Pengembangan Pendidikan Berbasis Life Skill di SMK Setia Atmadja Jember (hal 90 – 105)

Ismul Mauludin Al Habib

Strategi Vermikompos, Aktivator Pengomposan, serta Penggabungan Vermikompos dan Aktivator untuk Meningkatkan Kecepatan Proses Pengomposan sebagai Media Pembelajaran SMA Pokok Bahasan Bioteknologi

Kelas X (hal 106 – 112)

ISSN 2086-6844

ALAM HIJAU

Jurnal

Jurnal

Jurnal

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran Eksakta

Pendidikan dan Pengajaran

Eksakta

Eksakta

Eksakta

(4)

ALAM HIJAU Vol. II No. 2 Februari 2013 Hal. 1-112

ALAM HIJAU, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran diterbitkan oleh Fakultas Pendidikan

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FP.MIPA) IKIP PGRI Jember, Jurnal ini sebagai

media informasi dan media penuangan ide-ide kritis dan hasil-hasil penelitian yang berkaitan

dengan pendidikan dan pengajaran. Jurnal ini terbit 2 kali setahun, pada bulan Februari dan

Agustus Jurnal ini pertama kali terbit pada bulan Februari 2012.

Pelindung:

Rektor IKIP PGRI Jember

Penanggung Jawab:

Dekan Fakultas Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

Ketua Penyunting:

Prof.Dr. Rudy Sumiharsono,MM

Anggota Penyunting:

Dr. H.Hobri,M.Pd

Dr. Suratno,M.Si

Dr. Hj. Evi Hanizar,M.Kes

Dr. Susanto,M.Pd

Drs. Sukarni, M.Pd

Sekretaris:

Ismul Mauludin Al Habib,S.Pd.,M.P

Bendahara:

Jhoni Susanto, SE

Tata Usaha

Endra Priawasana,S.P.,M.Pd

Lutfiyah,S.Pd.,M.Pd

MS. Aswan,S.Pd

Alamat:

Fakultas Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

IKIP PGRI JEMBER

Jl. Jawa No. 10 Tegal boto Jember

Telepon 0331 335827 Fax 03331 335977

http://www.Jurnal.ikip-jember.org/

ISSN 2086-6844

ALAM HIJAU

Jurnal

Jurnal

Jurnal

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan Pengajaran Eksakta

Eksakta

Eksakta

Eksakta

(5)

ALAM HIJAU Vol. II No. 2 Februari 2013 Hal. 1-112

Alamat Redaksi

Fakultas Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

IKIP PGRI JEMBER

Sekretariat: Jl. Jawa No. 10 Tegal boto Jember

Telepon 0331 335827 Fax 03331 335977

http://www.Jurnal.ikip-jember.org/

(6)

106 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

STRATEGI VERMIKOMPOS, AKTIVATOR PENGOMPOSAN, SERTA PENGGABUNGAN VERMIKOMPOS DAN AKTIVATOR UNTUK

MENINGKATKAN KECEPATAN PROSES PENGOMPOSAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SMA POKOK

BAHASAN BIOTEKNOLOGO KELAS X Oleh :

Ismul Mauludin Al Habib1, Dwi Yanti Laeli Septiana2

(1. Dosen Program Studi Pendidikan Biologi IKIP PGRI Jember, 2.

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi IKIP PGRI Jember)

ABSTRAK

Masalah yang serius pada perpupukan di Indonesia salah satunya adalah kelangkaan pupuk yang disebabkan oleh berbagai macam hal. Sehingga petani mencari pupuk alternativ yang dapat digunakan dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai apakah dengan strategi vermikompos, aktivator pengomposan, serta penggabungan vermikompos dan aktivator bisa meningkatkan kecepatan proses pengomposan dan juga bisa dijadikan sebagai media pembelajaran SMA pada pokok bahasan Bioteknologi kelas X.Permasalahn dari penelitian ini adalah apakah dengan strategi vermikompos,aktivator pengomposan, serta penggabungan vermikompo dan aktivator dapat meningkatkan proses pengomposan dan apakah strategi vermikompo,aktivator pengomposan, serta penggabungan vermikompos dan aktivator dapat meningkatkan proses pengomposan dapat dijadikan media pembelajaran SMA pokok bahasan Bioteknologi kelas X. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan, yaitu P1 = cacing, P2 = aktivator pengomposan (rumen sapi) dan P3 = cacing dan rumen P4 = kontrol dan diulang 3 kali. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji F tabel F5% dan F1%.

hasil penelitian menunjukkan kompos yang paling lama proses pengomposannya yaitu pada P4 (kontrol) yang tidak diberi aktivator apapun selama 46 hari, sedangakan percobaan yang paling cepat menjadi kompos yaitu P3 (cacing 75 ekor + rumen 1,5 kg) selama 27 hari. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa strategi vermikompo,aktivator pengomposan, serta penggabungan vermikompos dan aktivator dapat meningkatkan proses pengomposan. Juga strategi vermikompo,aktivator pengomposan, serta penggabungan vermikompos dan aktivator untuk meningkatkan proses pengomposan dapat dijadikan media pembelajaran SMA pokok bahasan Bioteknologi kelas X.

(7)

107 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU” PENDAHULUAN

Kondisi perpupukan di Indonesia memiliki berbagai masalah yang serius. Penyebab utama adalah kelangkaan pupuk yang terjadi di Indonesia yang disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, tidak ada satu pun industri di Indonesia cukup kuat pondasinya untuk mempertahankan kelangsungan produksinya dan juga sebaian besar pabrik pupuk di Indonesia berusia tua sehingga efisiensi produksinya makin menurun. Kedua, Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia menyebabkan permintaan pupuk kimia semakin meningkat. Hal ini membuat pengusaha pupuk kimia harus dapat menyediakan pupuk kimia untuk kegiatan produksi petani secara terus menerus. Namun, ini tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan baku yang ada. Inilah yang membuat pupuk kimia menjadi langka di pasaran. Ketiga, Penyebab lainnya yaitu Alur distribusi pupuk kimia di Indonesia yang terlalu panjang. Keempat, Banyaknya sampah yang menyebabkan pencemaran lingkungan. Kelima, Pengomposan termasuk dalam pokok bahasan Bioteknologi jadi bisa digunakan sebagai media pembelajaran biologi SMA kelas X. Dari berbagai masalah perpupukan yang dipaparkan diatas sehingga membuat petani mencari pupuk alternatif yang bisa digunakan dan tidak memerlukan waktu lama untuk membuatnya.

Tujuann dari penelitian ini adalah mengetahui Peningkatan kualitas kompos dengan strategi vermikompos, akktifator pengomposan serta penggabungan vermikompos dan aktifator pengomposan dan mengetahui peningkatan kualitas kompos dengan strategi vermikompos, aktifator pengomposan, serta penggabungan vermikompos dan aktifator pengomposan pokok bahasan Bioteknologi dapat dijadikan media pembelajaran biologi SMA kelas X.

Kompos adalah hasil penguraian, pelapukan, dan pembusukan bahan organik seperti kotoran hewan, daun, maupun bahan organik lainnya. Bahan organik tidak dapat langsung digunakan atau dimanfaatkan oleh tanaman karena perbandingn C/N dalam bahan tersebut relatif tinggi atau tidak sama dengan C/N

(8)

108 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

tanah. Nilai C/N merupakan hasil perbandingan antara karbon dan nitrogen. Nilai C/N tanah sekuitar 10 – 12. Apabila bahan organik yang mempunyai kandungan C/N mendekati atau sama dengan C/N tanah maka bahan tersebut dapat digunakan atau diserap tanaman. Namun bahan organik yang segar mempunyai C/N yang tinggi seperti jerami padi 50-70, daun-daunan >50(tergantung jenisnya), cabang tanaman 15-60, kayu yang sudah tua dapat mencapai 400. (Hery Soeryoko, 2011)

Prinsip pengomposan adalah menurunkan C/N rasio bahan organik sama dengan C/N tanah (<20). Dengan semakin tingginya C/N bahan maka proses pengomposan akan semakin lama karena C/N harus diturunkan. Waktu yang diperlukan untuk menurunkan C/N tersebut bermacam-macam dari 3 bulan hingga tahunan. Faktor yang mempengaruhi proses pengomposan adalah rasio C/N, ukuran partikel, kadar air, aerasi, temperature, porositas, kelembapan, ph, kandungan hara, kandungan bahan berbahaya, lama pengomposan.(Edi, 2009).

Cirri-ciri kompos yang sudah matang mempunyai ciri-ciri sudah berbau daun lapuk, bertekstur halus (remah), berwarna coklat kehitaman seperti tanah (SNI,2004)

Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah jerami sampah dedaunan. Jerami mengandung sedikit air, tetapi banyak memikili karbon. Umumnya jerami mudah dirombak dalam proses pengomposan. Nitrogen yang terdapat didalamnya lebih sedikit karena sudah dipakai untuk pertumbuhan dan produksi. Yang digunakan sebagai aktivator dalam penelitian ini adalah rumen dan cacing. Pengompoosan dengan aktivator cacing ini disebut vermikompos. Kerjasama antara caing tanah dengan mikroorganisme memberi dampak proses penguraian yang berjalan dengan baik. Walaupun sebagian besar proses penguraian dilakukan oleh mikroorganisme, tetapi kehadiran caing dapat membantu proses tersebut karena bahan-bahan yang diurai oleh mikroorganisme telah diurai lebih dulu oleh cacing. Dengan demikian kerja mikrooragisme lebih efektif dan lebih cepat.(Yovita,2008)

(9)

109 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

Vermikompos banyak mengandung humus yang berguna untuk meningkatkan kesuburan tanah. Vermikompos juga mengandung banyak mikroba tanah sangat berguna seperti Aktinomisetes, bakteri dan fungi. Keunggulan dari vermikompos adalah Vermikompos merupakan sumber nutrisi bagi mikroba tanah, Vermikompos juga dapat membantu proses penghancuran limbah organik, Vermikompos berperan memperbaiki kemampuan menahan air, membantu menyediakan nutrisi bagi tanaman, memperbaiki struktur tanah dan menetralkan pH tanah, Vermikompos mempunyai kemampuan menahan air sebesar 40-60%.

Aktivator yang kedua adalah rumen sapi. Rumen sapi adalah bahan-bahan makanan yang tercerna oleh sapi yang belum sempat diserap oleh usus dan masih tercampur dengan getah lambung dan enzim pencernaan yang disebut rumen sapi. Kandungan zat makanan yang terdapat pada isi rumen sapi meliputi air, protein kasar, lemak, serat kasar, BETN, abu, kalsium, phospor, Rumen sapi juga mengandung berbagai mikroorganisme yaitu sejumlah besar spesies bakteri, protozoa, dan fungi membuat habitat rumen sangat lengkap.

METODE PENELITIAN

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Jerami 1 kg @ keranjang, dedak, cacing 300 ekor, kotoran ayam , sampah daun/sayuran 1 kg, keranjang sebagai tempat pengomposan 10 buah, timbangan, alat pengaduk, terpal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 macam perlakuan, yaitu P1 = cacing, P2 = rumen sapi dan P3 = cacing dan rumen sapi dan 3 ulangan. Untuk mengetahui besarnya pengaruh perlakuan dilakukan analisis sidik ragam (Analysis of Variance/ ANOVA ) dan dilanjutkan uji F5% dan

F1%.

Prosedur penelitian ini adalah persiapan alat dan bahan, Pemasangan karton pada keranjang, tahap fermentasi substrat/kompos dasar (Pencacahan bahan, penyusunan, penutupan, pembalikan, penyiraman), tahap pengomposan (pencampuran, pembalikan, penyiraman, pematangan), pengambilan data.

(10)

110 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

Tabel 1. Hasil Pengomposan

No Perlakuan Lamanya pengomposan (hari) ∑ perlakuan (T) Rataan perlakuan 1. Cacing 25/50/ 75 ekor 40 41 42 123 41 2. Rumen 0,5 kg/1 kg/1,5 kg 37 34 33 104 34,7 3. Cacing + rumen 30 29 27 86 28,7 4. Kontrol 46 46 46 138 46 ∑ umum (G) 451 Rataan umum 37,6

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengomposan yang terjadi paling lama pada kontrol (P4) selama 46 hari karena pengomposan ini tidak dicampur dengan aktivator apapun yang mempercepat proses pengomposan. Sedangkan pengomposan yang paling cepat terjadi Perlakuan 3 ulangan yang ke-3 selama 27 hari yaitu kompos yang dicampur dengan rumen sapi 1,5 kg dan cacing 75 ekor. Karena merupakan kerjasama antara cacing dan rumen yang mempercepat pengomposan. Selama fase awal penggomposan, bakteri meningkat dengan cepat. Berikutnya bakteri berfilamen (actinomycetes), jamur, dan protozoa mulai bekerja. Organisme yang bertugas dalam menghancurkan material organic membutuhkan nitrogen (N) dalam jumlah besar. Oleh karena itu dalam proses pengomposan perlu ditambahkan material yang mengandung nitrogen agar berlangsung proses pengomposan secara sempurna. Material tersebut salah satunya dapat diperoleh dari kotoran ternak. Nitrogen akan bersatu dengan mikroba selama proses penghancuran material organic. Setelah proses pembusukan selesai, nitrogen akan dilepaskan kembali sebagai salah satu komponen yang terkandung dalam kompos. Pada fase berikutnya, jamur (fungi) akannmencerna kembali substansi organik untuk cacing tanah dan actinomycetes agar mulai bekerja. Cacing tanah akan bertugas dalam mencampurkan substansi organik yang telah dicerna kembali oleh jamur dengan sejumlah kecil tanah lempung dan kalsium yang terkandung dalam tubuh cacing tanah. Setelah

(11)

111 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU”

sejumlah karbon (C) dalam kompos dimanfaatkan dan temperatur mulai menurun, mikroorganisme lain dan cacing.(Ikhsan, 2007)

Tabel 2. Anova Sumber perlakuan Derajat bebas (db) Jumlah kuadrat (JK) Kuadrat tengah (KT) FHitung F tabel 5% 1% Perlakuan 2 511,67 150,76 89,77** 4,26 8,02 Galat percobaan 9 15,3 1,9 ∑ umum 11 526,97

kk = 3,6 ** = berpengaruh sangat nyata

Dari hasil perhitungan tabel ANOVA diatas maka besarnya perlakuan vermikompos, activator pengomposan serta penggabungan vermikompos dan activator pengomposan berbeda sangat nyata terhadap peningkatan kecepatan proses pengomposan.

Direkonstruksi, direkam, Ciri media pendidikan yang layak digunakan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut

a. Fiksatif (fixative property)

b. Manipulatif (manipulatif property) c. Distributif (distributive property)

KESIMPULAN

1. Strategi vermikompos, aktivator pengomposan, serta pengagabungan vermikompos dan aktivator dapat meningkatkan kecepatan proses pengomposan. Terbukti pada pengomposan yang tidak diberi activator apapun proses pengomposannya lebih lama yaitu selama 46 hari sedangkan pada kompos yang diberi activator cacing 75 ekor dan rumen 1,5 kg peoses pengomposannya ppaling cepat selama 27 hari.

2. Strategi vermikompos, aktivator pengomposan, serta pengagabungan vermikompos dan aktivator untuk meningkatkan kecepatan proses pengomposan dapat dijadikan sebagai media pembelajaran SMA pokok bahasab Bioteknologi kelas X.

(12)

112 Vol. II No. 2 Februari 2013

Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Eksakta “ALAM HIJAU” DAFTAR PUSTAKA

Danapriatna,N. (2009). “Fenomena Kelangkaan Pupuk Kimia dan Alternatif Solusinya”. Dalam Jurnal Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Wilaya. 1 (1), 1 – 7

Djaja,W. (2008). Langkah jitu membuat kompos dari kotoran ternak dan sampah. Jakarta: PT Agro Media Pustaka.

Hidayati,Y. Dkk. (2010). “Pengaruh Campuran Feses Sapi Potong dan Feses Kuda Pada Proses Pengomposan Terhadap Kualitas Kompos”. Dalam

jurnal ilmiah ilmu-ilmu peternakan. 13 (6), 1 – 5.

Indriani,Y.H. (2008). Membuat kompos secara kilat. Jakarta: Penebar Swadaya anggota IKAPI

Murbandono,L. (2008). Membuat Kompos. Jakarta: Penebar Swadaya anggota IKAPI

Sastrosupadi,A. (2000). Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Edisi Revisi: Yokyakarta. Penerbit Kanisius.

Shiddieqi,I. (2007). Aplikasi teknologi peternakan . Jakarta: Penerbit budidaya Simora,S. (2006). Meningkatkan Kualitas Kompos. Jakarta: PT Agro Media

Pustaka

Soeryoko,H. (2011). Kiat Pintar Memproduksi Kompos dengan Pengurai buatan

sendiri. Yokyakarta: Lily Publisher.

Sudjna,N dan Rivai,A. (1990). Media pengajaran. Bandung: CV Sinar Baru Bandung

Sutanto,R. (2002). Penerapan Pertanian Organik. Yokyakarta: Penerbit Kanisius. Wahyudi,A dan Malik,A. (2007). “Usul Penelitian tahun II hibah bersaing perguruan tinggi”. Dalam jurnal pengembangan starter fermentasi

produksi gas bio dengan formulasi isolat bakteri fibrolitik asal rumen dan kolon domba. 1-42

Warsidi,E. (2009). Cara membuat Pupuk Organic. Bandung: Cv Putra Mandiri. ____________ .(2001). “Pupuk Organik Berkualitas dan Ramah Lingkungan”.

Gambar

Tabel 1. Hasil Pengomposan
Tabel 2. Anova  Sumber  perlakuan  Derajat  bebas (db)  Jumlah  kuadrat (JK)  Kuadrat  tengah (KT)  F Hitung  F tabel  5%  1%  Perlakuan  2  511,67  150,76  89,77 **  4,26  8,02  Galat percobaan  9  15,3  1,9  ∑ umum  11  526,97

Referensi

Dokumen terkait

Secara kasat mata, terlihat penyebaran nilai koefisien penduga parameter cakupan imunisasi campak (X1) di DKI Jakarta dari utara ke selatan semakin besar, sehingga semakin ke

Hasil penelitian lainnya menurut Rosário, Costa, Núñez, González-Pienda, Solano, dan Valle (2009) menyebutkan bahwa dukungan sosial yang diberikan kepada siswa

(1) penerima rujukan dapat merujuk balik atau mengarahkan ke fasilitas pelayanan kesehatan sesuai jenjang pelayanannya jika berdasarkan pelayanan kesehatan dimaksud dalam psl 6

Untuk perbanyakan tanaman gondola ini dapat dilakukan dengan cara stek batang atau vegetatif, bisa juga dengan menggunakan biji atau generatif.. Meskipun dapat diperbanyak

Karena penelitian ini berusaha untuk menjabarkan situasi atau peristiwa dan membandingkan data-data yang berhubungan dengan strategi yang dilakukan oleh public

Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor : 059/76/2008 tentang Penetapan Status Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah ( PPK-BLUD) pada Rumah Sakit Umum Daerah

Biasanya antioksidan digunakan bersama dengan asam sitrat atau asam askorbat (vitamin C) yang fungsinya untuk memperkuat kerja antioksidan itu.Zat tambahan golongan