31 III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Kerangka Konseptual
Pertumbuhan ekonomi merupakan sarana utama bagi pembangunan manusia untuk dapat berlangsung secara berkesinambungan. Dalam hal ini ketenagakerjaan yang merupakan jembatan antara pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia menjadi pilar penting dalam pembangunan. Untuk mewujudkannya maka pemerintah perlu membuka peluang sebesar-besarnya kepada masyarakat akses terhadap sumber-sumber ekonomi berdasarkan potensi wilayah yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Selanjutnya disusun strategi pembangunan dan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah yang saling bersinergi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi ―ramah‖ terhadap penyerapan tenaga kerja. Dengan kata lain, secara teoritis, pertumbuhan ekonomi memainkan peranan penting untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja
Isu ketenagakerjaan merupakan salah satu isu yang sangat penting dalam perkembangan sosial ekonomi di Indonesia disamping isu kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Salah satu isu penting dalam ketenagakerjan disamping keadaan angkatan kerja (economically active) dan struktur ketenagakerjaan adalah isu tentang pengangguran sebagai residu dari tingkat penduduk yang bekerja (employment rate). Dari sisi ekonomi pengangguran merupakan produk dari ketidakmampuan pasar dalam menyerap angkatan kerja yang tersedia. Ketersediaan lapangan kerja yang relatif terbatas, tidak mampu menyerap para pencari kerja yang senantiasa bertambah setiap tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Masih rendahnya tingkat penduduk yang bekerja tidak hanya menimbulkan masalah-masalah di bidang ekonomi, melainkan juga menimbulkan berbagai masalah di bidang sosial seperti kemiskinan dan kerawanan sosial. Data tentang situasi ketenagakerjaan merupakan salah satu data pokok yang dapat menggambarkan kondisi perekonomian, sosial, bahkan tingkat kesejahteraan penduduk di suatu wilayah (misal provinsi) dan dalam suatu kurun waktu tertentu.
Salah satu tujuan pembangunan adalah untuk mensejahterakan dan meningkatkan taraf masyarakat dalam berbagai aspek untuk menuju kehidupan
32 yang lebih baik diwaktu sekarang maupun diwaktu mendatang. Pembangunan perlu dipahami sebagai proses multidimensi yang mencakup perubahan orientasi dan organisasi sistem sosial, ekonomi, politik, serta kebudayaan. Tujuannya adalah meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Kemakmuran berkaitan dengan aspek ekonomi, dapat diukur dengan tingkat produksi, pengeluaran, dan pendapatan. Sedangkan kesejahteraan ditentukan oleh aspek non-ekonomi, misalnya kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Sebagai sebuah proses, pembangunan menunjukkan adanya hubungan saling pengaruh antara berbagai faktor yang dihasilkannya. Dalam kaitan ini data statistik diperlukan untuk dapat melihat proses itu secara obyektif (berdasarkan fakta yang sebenarnya), memonitor dan mengevaluasi perkembangannya, serta ‖merancang‖ proses selanjutnya berdasarkan pemahaman obyektif atau berbasis empiris.
Sudah lebih dari 30 tahun para pakar pembangunan diilhami ide paradigma modernisasi. Paradigma tersebut mengandalkan tetesan strategi pertumbuhan (growth) ekonomi untuk mengatasi masalah sebagai akibat pembangunan seperti kemiskinan. Salah satu asumsi paradigma pertumbuhan adalah perlunya investasi kapital besar-besaran pada perusahaan industri modern dan aplikasi teknologi modern pada produksi. Terciptanya sektor industri yang dinamis melalui investasi tidak hanya membawa pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga dapat menciptakan lapangan kerja besar-besaran serta menyerap surplus tenaga kerja pedesaan yang subsisten ke sektor modern. Secara tidak langsung, akan terjadi peningkatan penghasilan dari banyak orang. Dengan peningkatan penghasilan, banyak keluarga akan mendapat ―sarana‖ untuk dapat memenuhi kebutuhan sosial ekonomi mereka.
Asumsi paradigma pertumbuhan tidak sepenuhnya mengandung kebenaran, karena meskipun banyak negara berkembang telah berhasil mengalami peningkatan dalam angka pertumbuhannya, tetapi peningkatan tersebut tidak diikuti dengan perbaikan nasib kaum miskin. Dalam arti keberhasilan pembangunan tidak diiringi keberhasilan dari sisi sektor ketenagakerjaan. Meskipun pertumbuhan ekonomi relatif cukup tinggi, namun tidak banyak menyerap tenaga kerja. Investasi lebih banyak disektor yang padat modal tetapi bukan disektor yang banyak menyerap tenaga kerja. Akhirnya, muncul pengakuan
33 bahwa paradigma growth tadi yang memakai PDRB sebagai tolok ukurnya dianggap kurang sensitif terhadap upaya perbaikan kualitas hidup manusia.
Siregar (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan syarat keharusan (necessary condition) bagi pengurangan kemiskinan. Pengertian pengurangan kemiskinan dalam hal ini bisa diartikan bahwa pertumbuhan ekonomi harus diiringi dengan penciptaan lapangan kerja baru atau dengan kata lain meningkatkan jumlah penduduk yang bekerja. Adapun syarat kecukupannya (sufficient condition) ialah bahwa pertumbuhan tersebut efektif dalam mengurangi kemiskinan. Artinya, pertumbuhan tersebut hendaklah menyebar di setiap golongan pendapatan, termasuk di golongan penduduk miskin (growth with equity). Secara langsung, hal ini berarti pertumbuhan itu perlu dipastikan terjadi di sektor-sektor di mana orang miskin bekerja (pertanian atau sektor yang padat karya). Adapun secara tidak langsung, hal itu berarti diperlukan pemerintah yang cukup efektif meredistribusi manfaat pertumbuhan yang boleh jadi didapatkan dari sektor modern seperti jasa dan manufaktur yang padat modal.
Dari sisi kacamata makroekonomi, pemerintah dituntut untuk mampu untuk mengendalikan indikator perekonomian seperti inflasi, nilai tukar (kurs) dan tingkat suku bunga. Seperti inflasi, meskipun pergerakannya ditentukan oleh pasar namun peran pemerintah masih diperlukan untuk memperbaiki distribusi barang dan jasa maupun melakukan operasi pasar agar inflasi tidak lepas kontrol. Inflasi yang tinggi akan mempengaruhi produksi barang dan jasa sehingga akan mengurangi penyerapan tenaga kerja.
Dari sisi supply, berlimpahnya tenaga kerja yang sebagian besar berlatar belakang pendidikan yang kurang memadai serta kemampuan sumber daya manusia yang kurang handal akan memperlemah sisi bargaining dengan sisi demand-nya. Sementara dari sisi lain tuntutan kenaikan UMR tiap tahun akan memberatkan pihak yang memerlukan tenaga kerja sehingga perusahaan akan ―bertahan‖ untuk merekrut tenaga baru atau tetap akan melakukan rekutmen dengan sistem off-sourcing.
Dari uraian diatas bahwa pertumbuhan ekonomi wilayah yang tercermin dalam PDRB dan ketenagakerjaan memiliki kaitan yang erat. Dari hubungan ini selanjutnya akan dicoba dibangun suatu model ekonometrika yang mampu menggambarkan terjadinya anomali tingkat pertumbuhan ekonomi dengan tingkat
34 penyerapan tenaga kerja. Selain itu model ini juga diharapkan mampu untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penyerapan tenaga kerja dan respon penyerapan tenaga terhadap perubahan faktor-faktor tersebut serta elastisitas penyerapan tenaga kerja terhadap variabel-variabel utama ekonomi. Melalui identifikasi pola perkembangan PDRB, kontribusi sektor dan kondisi makroekonomi, diharapkan hasil analisis identifikasi tersebut dapat dijadikan sebagai landasan dalam merumuskan kebijakan yang dapat menselaraskan pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja atau kebijakan yang dapat menghilangkan anomali tersebut.
Gambar 3.1: Kerangka operasional penelitian 3.2 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan permasalahan, tujuan dan alur kerangka berfikir penelitian di atas maka hipotesis yang dapat disusun dalam penelitian ini adalah:
1) Terjadi anomali tingkat pertumbuhan ekonomi dengan tingkat penyerapan tenaga kerja yang pada provinsi-provinsi yang dikaji. Menurut teori
35 ekonomi suatu wilayah yang mempunyai pertumbuhan ekonomi tinggi akan diikuti dengan tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi pula 2) Pertumbuhan ekonomi mempunyai hubungan dua arah dengan tingkat
penyerapan tenaga kerja, meskipun antara keduanya memiliki hubungan yang tidak secara otomatis.
3) Pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek dan jangka panjang akan mempengaruhi tingkat penyerapan tenaga kerja. Respon yang tercermin melalui elastisitas penyerapan tenaga kerja mempunyai sifat yang berbeda dimana peubah makro ekonomi dapat berdampak positif maupun negatif terhadap penyerapan tenaga baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
3.3 Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Bank Indonesia (BI). Data yang dikumpulkan tersebut merupakan data panel (pooled data) yaitu data dari 30 provinsi di Indonesia dari tahun 2002-2009.
Dalam penelitian ini, untuk mengukur pertumbuhan ekonomi digunakan indikator rata-rata pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) selama kurun 2002-2009. Untuk ketenagakerjaan, indikator yang digunakan adalah pertumbuhan penduduk yang bekerja dalam kurun waktu sama menurut sektor. Berdasarkan dua indikator ini dapat diturunkan indikator elastisitas tenaga kerja sebagai salah satu alat ukur kualitas pertumbuhan ekonomi.
Data jumlah penduduk yang bersumber dari data proyeksi penduduk Indonesia menurut provinsi 2000-2009. Sementara untuk data PDRB menurut sektor maupun subsektor mencakup Sektor Pertanian, Industri, Pertambangan, Konstruksi, Perdagangan, Keuangan, dan Jasa. Untuk analisis ketenagakerjaan menggunakan data hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang diselenggarakan oleh BPS pada periode yang sama. Sakernas dinilai kridibel karena dirancang khusus untuk mengumpulkan data ketenagakerjaan.
36 Data pendidikan bersumber dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diselenggarakan BPS secara tahunan. Salah datu data yang dikumpulkan oleh survei ini adalah penduduk menurut tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan mulai jenjang Sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Universitas atau Perguruan Tinggi (PT).. Dengan sampel sekitar 300.000 rumah tangga survei ini dinilai kridibel untuk menyajikan data sosial ekonomi sampai level kabupaten/kota. Sementara itu data Upah Minimum Regional/Provinsi (UMR/P) berdasarkan data UMR yang dikumpulan oleh Kementrian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi secara tahunan.
3.4 Jenis Data
Seperti yang telah disebutkan dalam penjelasan sebelumnya, dalam penelitian ini menggunakan berbagai jenis data sosial ekonomi yang bersumber dari berbagai data dari hasil survei yang diyakini sangat kredibel. Varibel-variabel sosial mencakup data jumlah penduduk dan tenaga kerja, PDRB, kontribusi menurut sektor, pendidikan, indikator makroekonomi dan upah minimum regional/provinsi. Variabel-variabel ini diduga kuat akan mampu menjelaskan keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat penyerapan tenaga kerja maupun hubungan antar keduanya.
Secara umum, variabel-variabel yang akan digunakan sebagai analisis dirangkum dalam tabel berikut:
Tabel 3.1: Variabel yang digunakan dalam analisis
Variabel Definisi variabel Satuan Sumber
EMPLOYMENT Tingkat penduduk yang bekerja Orang BPS (2011)
PENDUDUK Jumlah penduduk Orang BPS (2007)
PDRB Produk Domestik Regional Bruto Juta BPS (2010) AGRISHARE Share pertanian terhadap PDRB % BPS (2010) INDUSTRISHARE Share industri terhadap PDRB % BPS (2010) TAMBANGSHARE Share pertambangan terhadap PDRB % BPS (2010) KONSTRUKSHARE Share konstruksi terhadap PDRB % BPS (2010)
37
Variabel Definisi variabel Satuan Sumber
DAGANGSHARE Share perdagangan terhadap PDRB % BPS (2010) TRANSPORSHARE Share angkutan terhadap PDRB % BPS (2010) KEUANGANSHARE Share keuangan terhadap PDRB % BPS (2010) JASASHARE Share jasa terhadap PDRB % BPS (2010) SD Persentase orang yang lulus SD % BPS (2010) SMP Persentase orang yang lulus SMP % BPS (2010) UNIVERSITAS Persentase orang yang lulus PT % BPS (2010) UMR Upah Minimum Regional (Provinsi) Ribuan BPS (2010)
3.5 Metoda Analisis
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas pola dan pengaruh dari hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan penyerapan tenaga kerja yang terjadi pada provinsi-provinsi yang diteliti maka dilakukan analisis yang terbagi dalam 2 tahap yaitu: 1) Analisis Deskiptif, dan 2) Analisis Ekonometrika
3.5.1 Metoda Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif dilakukan dengan menyajikan data dalam bentuk tabel dan grafik. Analisis ini dilakukan untuk menjawab tujuan penelitian Nomor 1 dan 2. Dalam analisis ini menjelaskan dan menggambarkan mengenai hubungan pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja yang pernah terjadi dalam perekonomian Indonesia selama kurun waktu 2002-2009 dan bagaimana aspek kebijakan pemerintah dalam mempengaruhi kondisi-kondisi dalam kurun waktu tersebut terhadap beberapa variabel makroekonomi.
Untuk memudahkan dalam analisis, data tingkat pertumbuhan ekonomi dan tingkat penyerapan tenaga kerja menurut provinsi yang terjadi selama kurun waktu 2002-2009 akan diplot dalam 4 kuadran sebagai berikut:
Kuadran 1 (Hubungan Kuat/Strong Links): provinsi-provinsi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan tenaga kerja relatif tinggi. Dengan perkataan lain provinsi-provinsi inilah yang disebut dengan ―ideal‖.
38
Kuadran 2 (Hubungan Tidak Seimbang/Unbalane Link): provinsi-provinsi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi relatif rendah tetapi mempunyai pertumbuhan tenaga kerja relatif tinggi.
Kuadran 3 (Hubungan Lemah/Weak Links): provinsi-provinsi yang mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan tenaga kerja relatif rendah.
Kuadran 4 (Hubungan Tidak Seimbang/Unbalane Link): provinsi-provinsi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi relatif tinggi tetapi mempunyai pertumbuhan tenaga kerja relatif rendah.
Untuk memudahkan pemahaman, Grafik 5.2. mengilustrasikan plotting kuadran yang terbagi dalam 4 wilayah.
Grafik 3.2: Wilayah plotting kuadran
3.5.2 Metoda Analisis Ekonometrika
Analisis ekonometrika dilakukan dengan menggunakan data panel dimaksudkan untuk menelaah pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja pada provinsi-provinsi yang diteliti.
39 3.5.2.1 Penyusunan Model
Pendekatan model ekonometrika dalam penelitian ini digunakan untuk menjawab tujuan nomor 2 dan nomor 3, yaitu menganalisis faktor-faktor penyebab munculnya anomali serta menelaah dampak yang akan ditimbulkan oleh setiap faktor (shock) tersebut terhadap variabel makroekonomi. Total variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 14 variabel, yang terdiri dari (1) jumlah penduduk (PENDUDUK), (2) output (PDRB), (3) kontribusi Sektor Pertanian (AGRISHARE), (4) kontribusi Sektor Industri (INDUSTRISHARE), (5) kontribusi Sektor Pertambangan (TAMBANGSHARE), (6) kontribusi Sektor Kontruksi (KOSNTRUK-SHARE), (7) kontribusi Sektor Perdagangan (DAGANG(KOSNTRUK-SHARE), (8) kontribusi Sektor Angkutan (TRANSPORSHARE), (9) kontribusi Sektor Keuangan (KEUANGANSHARE), (10) kontribusi Sektor Jasa (JASASHARE), (11) persentase penduduk tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP), (12) persentase penduduk tamat Sekolah Menengah Atas (SMA), (13) persentase penduduk tamat Universitas/ Perguruan Tinggi (PT), (14) Upah Minimum Regional (UMR).
Berdasarkan hasil ordering (peringkat) terhadap masing-masing variabel, dikelompokkan dalam dua model, yaitu model kelompok kuadran dan model wilayah kuadran. Model kelompok kuadran terdiri dari Kuadran I (hubungan kuat) dan III (hubungan lemah) serta Kuadran II dan IV (hubungan tidak seimbang). Kuadran I dan III dimasudkan untuk membandingkan kelompok ini sejalan dengan teori ekonomi, sementara Kuadran II dan IV diduga adanya anomalli di wilayah ini. Sedangkan model wilayah kuadran dimaksudkan untuk melihat pengaruh dari setiap variabel terhadap penyerapan tenaga kerja pada wilayah masing-masing kuadran. Variabel-variabel yang didepannya ada kata ln menunjukkan bahwa Variabel-variabel tersebut telah ditransformasi dalam bentuk logaritma. Analisis diawali dengan pengujian ketidak-stasioneran masing-masing variabel dengan menggunakan uji Augmented Dickey Fuller (ADF) (Verbeek, 2000). Semua variabel yang digunakan dalam analisis ditemukan bersifat non stasioner. Pengolahan data menggunakan program komputer Eviews 6.0.
3.5.2.1. 1 Model Kelompok Kuadran
Penyusunan model makroekonomi ini dimaksudkan untuk menjelaskan adanya keterkaitan dan hubungan kuantitatif antara peubah makroekonomi dengan
40 tingkat penyerapan tenaga kerja baik di kelompok Kuadran I dan III maupun Kuadran II dan IV. Interaksi hubungan tersebut akan digambarkan melalui suatu sistem persamaan simultan, dimana model dibangun dalam persamaan regresi. Adapun periode sampel yang digunakan untuk pendugaan model adalah data tahun 2002-2009. Penyusunan model penyerapan tenaga kerja dimaksudkan untuk mengidenfikasi fenomena anomali pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja terjadi dalam jangka pendek atau jangka panjang baik pada kelompok Kuadran I dan III maupun II dan IV. Hal ini penting diketahui untuk dapat menentukan strategi kebijakan yang akan dilakukan pada masing-masing wilayah kelompok kuadran. Eit = 0 + 1 ln PENDUDUKit + 2 ln PDRBit + 3 AGRISHAREit + 4 INDUSTRISHAREit + 5 TAMBANGSHAREit + 6 KONSTRUKSHAREit+ 7 DAGANGSHAREit + 8 TRANSPORHAREit + 9 KEUANGANSHAREit + 10 JASASHAREit +
11 SMPit + 12SMAit + 13PTit + 14 ln UMRit + ij ………..….(1) dengan
0 menyatakan intersep dari model
n menyatakan koefisien regresi (pengaruh dari variabel bebas ke-n terhadap variabel tak bebas, penduduk yang bekerja, dengan n = 1, 2, …14)
adalah galat acak
it merupakan indeks yang menyatakan provinsi ke-i dan tahun ke-t
Model tersebut mengilustrasikan bahwa tingkat penyerapan tenaga kerja disuatu wilayah diduga dipengaruhi oleh jumlah penduduk (PENDUDUK), pendapatan (PDRB), pangsa sektor pertanian dalam PDRB (AGRISHARE), pangsa sektor industri manufaktur (INDUSTRISHARE), pangsa sektor pertambangan (TAMBANGSHARE), pangsa sektor kontruksi (KONSTRUK-SHARE), pangsa sektor perdagangan (TRADE(KONSTRUK-SHARE), pangsa sektor angkutan
41 (TRANSPORSHARE), pangsa sektor keuangan (KEUANGANSHARE), pangsa sektor jasa (JASASHARE), persentase penduduk tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP), persentase penduduk tamat Sekolah Menengah Atas (SMA), persentase penduduk tamat Perguruan Tinggi (PT), dan Upah Minimum Regional (UMR).
3.5.2.1. 2 Model Wilayah Kuadran
Secara umum model ini sama dengan model kelompok kuadran, hanya saya cakupan datannya adalah sejumlah provinsi yang tercakup dalam masing-masing kuadran. Tujuan dari penyusunan model ini adalah untuk melihat pola penyerapan tenaga kerja yang dipengaruhi oleh variable-variabel makroekonomi seperti yang terjadi pada model kelompok kuadran. Hanya saja dalam analisis ini lebih memfokuskan pada sisi spesifik dari setiap kuadran baik yang diduga terjadi anomali maupun yang sesuai dengan teori ekonomi.
3.5.2.1. 3 Model Fungsi Produksi Agregat
Berangkat dari model pertumbuhan Solow tentang fungsi produksi agregat yang kemudian dimodifikasi menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, modal (kapital) fisik, sumberdaya manusia dan tenaga kerja. Sumberdaya manusia merupakan akumulasi dari pendidikan dan pelatihan. Investasi terhadap sumberdaya manusia melalui sektor pendidikan akan menghasilkan pendapatan nasional yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang kurang berinvestasi pada sektor tersebut. Secara umum model tersbut dirumuskan sebagai berikut:
Y = A.F.(K, H, L)
Dimana A merupakan teknologi, K modal (kapital) fisik, H sumberdaya manusia dan L adalah tenaga kerja. Dari persamaan tersebut ditransformasikan dengan proxy model:
PDRBit = 0 + 1 ln KAPITALit + 2 SDit + 3 SMPit + 4 SMAit +
5 PTit + 6 EMPLOYit + ij ……….………..….(2)
dengan
42
n menyatakan koefisien regresi (pengaruh dari variabel bebas ke-n terhadap variabel tak bebas, PDRB, dengan n = 1, 2, …6)
adalah galat acak
it merupakan indeks yang menyatakan provinsi ke-i dan tahun ke-t
Model tersebut mengilustrasikan bahwa PDRB disuatu wilayah diduga dipengaruhi oleh besarnya modal (KAPITAL), persentase penduduk tamat Sekolah Dasar (SD), persentase penduduk tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP),persentase penduduk tamat Sekolah Menengah Atas (SMA), persentase penduduk tamat Perguruan Tinggi (PT), dan penyerapan tenaga kerja (EMPLOY). Aplikasi dari model ini akan dilakukan baik menurut kelompok kuadran maupun masing-masing kuadran untuk merumuskan kebijakan pada masing-masing wilayah. Hasil analisis yang diperoleh digunakan untuk melihat hubungan timbal balik antara pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. 3.5.2.2 Pemilihan Model
Dalam penelitian ini menggunakan data panel (panel pooled data) yang menrupakan gabungan antara data time series dan data cross section. Data time series mencakup kurun waktu penelitian yaitu 2002-2009 dan data cross section mencakup berbagai macam indikator sosial-ekonomi yang terbagi dalam 30 provinsi di Indonesia (3 provinsi pemekaran dalam analisis penelitian ini digabung dengan provinsi induknya).
Terdapat dua keuntungan penggunaan model data panel dibandingkan data time series dan cross section saja (Verbeek, 2004). Pertama, dengan mengkombinasikan data time series dan cross section dalam data panel membuat jumlah observasi menjadi lebih besar. Dengan menggunakan model data panel marginal effect dari peubah penjelas dilihat dari dua dimensi (individu dan waktu) sehingga paramater yang diestimasi akan lebih akurat dibandingkan dengan model lain. Secara teknis menurut Hsiao (2003), data panel dapat memberikan data yang informatif, mengurangi kolinearitas antar peubah serta meningkatkan derajat kebebasan yang artinya meningkatkan efisiensi.
Kedua, keuntungan yang lebih penting dari penggunaan data panel adalah mengurangi masalah identifikasi. Data panel lebih baik dalam mengidentifikasi
43 dan mengukur efek yang secara sederhana tidak dapat diatasi dalam data cross section saja atau data time series saja. Data panel mampu mengontrol heterogenitas individu. Dengan metode ini estimasi yang dilakukan dapat secara eksplisit memasukkan unsur heterogenitas individu. Data panel juga lebih baik untuk studi dynamics of adjustment. Hal ini berkaitan dengan observasi pada cross section yang sama secara berulang, sehingga data panel lebih baik dalam mempelajari perubahan dinamis.
Parameter model data panel pada persamaan (1) diatas akan diestimasi dengan menggunakan model Pooled Least Square (PLS), Fixed Effect Model (FEM) dan Random Effect Model (REM). Selanjutnya, dari hasil estimasi ketiga model tersebut, akan dilakukan beberapa uji statistik untuk melihat model yang lebih valid diantara ketiganya.
Uji-uji tersebut antara lain:
(i) Uji Chow (uji F), untuk menentukan model yang lebih valid antara model PLS dengan FEM;
(ii) (ii) Uji Breusch Pagan LM, untuk menentukan model yang lebih valid antara model PLS dengan REM; dan
(iii) (iii) Uji Hausman, untuk menentukan model yang lebih valid antara FEM dengan REM.
Setelah pemilihan model yang terbaik, selanjutnya dilakukan identifikasi kondisi matrik varians covarians residual. Pengujian dilakukan untuk menghindari bias dari model terpilih apabila terdapat heteroskedastisitas. Pada penelitian ini tidak membandingkan model dengan struktur heteroskedastik serta tidak ada Cross Sectional Correlation/Seemingly Uncorrelated Regression (SUR), karena model yang dipakai tidak memungkinkan diestimasi dengan model SUR. Hal ini disebabkan jumlah unit cross-sections sebanyak 30 propinsi lebih banyak daripada periode waktu yang hanya 8 tahun. Statistik uji untuk pemilihan struktur homoskedastik dan heteroskedastik, menggunakan statistik LM (Lagrange Multiplier).
44 Halaman ini sengaja dikosongkan