commit to user
1BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kesehatan merupakan kebutuhan pokok setiap manusia, kerena kesehatan merupakan modal utama manusia dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Melaksanakan upaya kesehatan yang maksimal bagi rakyat adalah tugas dari pemerintah bersama-sama rakyat yang bahu membahu menyelenggarakan upaya kesehatan agar tercapai derajat kesehatan yang optimal, sehingga kesehatan dari setiap individu dalam masyarakat dapat terjaga.
Dalam kesehatan terdapat istilah kesehatan masyarakat dan kesehatan individu. Dalam kaitannya dengan hukum, maka Hukum Kesehatan meliputi pengaturan kedua area tersebut, sedangkan didalam Hukum Kedokteran (Medical
Law) khusus mengatur mengenai pemeliharaan kesehatan individu saja.
Pemeliharaan kesehatan individu merupakan suatu pelayanan di bidang kedokteran yang melibatkan dokter dan pasien. Layaknya hubungan antar manusia, maka di dalam hubungan pelayanan kedokteran selalu terdapat kekurangan dan kelebihan, dalam arti ada keuntungan dan kerugian yang timbul pada saat pelaksanaan dari pelayanan kedokteran tersebut. Apalagi hubungan antara dokter dan pasien selalu ada kaitannya dengan kepentingan penyembuhan penyakit bahkan sampai dengan menyelamatkan nyawa manusia, sehingga hubungan itu sifatnya sangat unik karena ada ketergantungan pasien yang dalam hal ini adalah menyerahkan kepercayaan kepada keahlian dokter dalam upaya penyembuhan atau penyelamatan.
Dalam hubungan dokter-pasien, dokter sangat dipengaruhi oleh etika profesi kedokteran, sebagai konsekuensi dari kewajiban-kewajiban profesi yang memberikan batasan atau rambu-rambu hubungan tersebut. Kewajiban-kewajiban tersebut tertuang di dalam prinsip-prinsip moral profesi, (Danny Wiradharma, 2001:81) di mana prinsip utamanya adalah autonomy (menghormati hak-hak pasien), beneficence (berorientasi kepada kebaikan pasien), non maleficence (tidak mencelakakan atau memperburuk keadaan pasien), dan justice (meniadakan
commit to user
2diskriminasi). Sedangkan prinsip utamanya adalah veracity (kebenaran), truhtfull (kepercayaan), information (informasi), fadility (kesetiaan), privacy, dan
confidentiality (menjaga kerahasiaan).
Sebagaimana layaknya hubungan profesional dengan klien pada umumnya, maka hubungan antara dokter dengan pasien juga mengikuti alternatif hubungan yang sama. Pada awalnya hubungan antara dokter dengan pasiennya bersifat paternalistik (pater = father = ayah) yang prinsip moral dasarnya adalah prinsip sikap baik (beneficence). Dalam perkembangannya sifat paternalistik dinilai oleh masyarakat seolah-olah mengabaikan otonomi pasien. Kemudian hubungan itu berkembang menjadi hubungan kontraktual.
Hubungan kontraktual terjadi karena para pihak yaitu dokter dan pasien masing-masing diyakini memiliki kebebasan. Kedua belah pihak lalu mengadakan suatu perikatan atau perjanjian di mana masing-masing pihak harus melaksanakan peranan atau fungsinya satu terhadap yang lain. Peranan tersebut bisa berupa hak dan kewajiban, perikatan tersebut disebut perikatan medik atau kontrak medik atau disebut juga transaksi terapeutik, karena bertujuan untuk menyembuhkan penyakit. Secara yuridis, transaksi terapeutik diartikan sebagai hubungan hukum antara dokter dengan pasien dalam pelayanan medik secara profesional didasarkan kompetensi yang sesuai dengan keahlian dan keterampilan tertentu di bidang kedokteran. Oleh karena praktik kedokteran merupakan pelayanan yang bersifat pemberian pertolongan atau bantuan yang didasarkan kepercayaan pasien terhadap dokter dan bukan merupakan hubungan bisnis semata yang berorientasi pada keuntungan sepenuhnya. Prestasi dari kontrak terapeutik bukanlah hasil yang akan dicapai (resultaatsverbintennis), melainkan upaya yang sungguh-sungguh/ikhtiar (inspaningsverbintennis). Hubungan kontrak semacam ini berikut dengan tindakan medik yang tercakup di dalamnya sudah merupakan bidang hukum, maka harus dipertahankan melalui peraturan perundang-undangan dan mengacu kepada standar tertentu. (Safitri Hariyani, 2005:2)
Dalam hal ini keberadaan hukum kesehatan membawa pengaruh yang sangat besar terhadap pembangunan, khususnya di bidang kesehatan. Hukum kesehatan termasuk hukum lex specialis yang melindungi secara khusus tugas
commit to user
3profesi kesehatan (provider) dalam program pelayanan kesehatan manusia ke arah tujuan deklarasi Health for All dan perlindungan secara khusus terhadap pasien
(receiver) untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Dan dalam pemberian
pelayanan kesehatan, pada akhir-akhir ini cukup sering diperbincangkan oleh masyarakat dari berbagai golongan mengenai masalah malpraktek kedokteran.
Jika dilihat secara umum, malpraktek adalah suatu istilah yang mempunyai konotasi buruk, bersifat stigmatis, menyalahkan. Praktek buruk dari seorang yang memegang suatu profesi dalam arti umum. Tidak hanya profesi medis saja, sehingga juga ditujukan kepada profesi lainnya. Malpractice mempunyai pengertian yang lebih luas daripada negligence. Karena selain mencakup arti kelalaian, istilah malpraktek pun mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan dengan sengaja (intentional, dolus, opzettelijk) melanggar undang-undang. Di dalam arti kesengajaan tersirat adanya motif (mens rae, guilty mind). Sedang arti negligence lebih berintikan ketidaksengajaan (culpa), kurang teliti, kurang hati-hati, acuh, sembrono, sembarangan, tak peduli terhadap kepentingan orang lain. Namun akibatnya yang timbul memang bukanlah yang menjadi tujuannya. (J. Guwandi, 2005:20-21)
Menilik pengertian di atas, dapat diambil suatu pemahaman bahwa pelaku malpraktik mestiah orang yang berkompeten dalam bidangnya tetapi tidak melakukan pekerjaannya sesuai standar yang telah ditetapkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara umum malpraktik dapat dilakukan oleh semua profesi, mulai dari pengacara, psikolog hingga seorang supir sepanjang yang bersangkutan memang menyebut dirinya profesional.
Jika dikaitkan secara khusus dalam bidang profesi kesehatan atau medis, malpraktek merupakan pelayanan kesehatan yang mengecewakan pasien karena kurang berhasil atau tidak berhasilnya dokter dalam mengupayakan kesembuhan bagi pasiennya dikarenakan kesalahan profesional seorang dokter yang mengakibatkan cacat hingga kematian pasien. (Bambang Tri Bawono, 2011:455) Menurut Ketua YPKKI, dr. Marius Widjajarta, SE, yang disebut malpraktik adalah seorang profesional yang tidak melakukan pekerjaannya secara profesional
commit to user
4(Warta Kota, 14 Maret 2002). Menurut pengertian lain malpraktik dikatakan sebagai :
"Profesional misconduct or unreasonable lack of skill, failure of one rendering profesional service to exercise that degree of skill and learning commonly applied under all circumstances in the comunity by the average prudent member of the profession with the result of injury, loss or damage to (Black,1968:111)
Malpraktek dokter juga diartikan sebagai semua tindakan medis yang dilakukan oleh dokter atau oleh orang-orang di bawah pengawasannya, atau oleh penyedia jasa kesehatan yang dilakukan terhadap pasiennya, baik dalam hal diagnosis, terapeutik, atau manajemen penyakit, yang dilakukan secara melanggar hukum, kepatutan, kesusilaan, dan prinsip-prinsip profesional, baik dilakukan dengan kesengajaan, atau ketidak hati-hatian, yang menyebabkan salah tindak, rasa sakit, luka, cacat, kematian, kerusakan pada tubuh dan jiwa, atau kerugian lainnya pada pasien dalam perawatannya. (M. Marwan, dan Jimmy P, 2009:420)
Pengertian lain diberikan oleh Berkhouwer & Worstman bahwa seorang dokter dikatakan telah melakukan kesalahan apabila tidak memeriksa, tidak menilai, tidak berbuat atau tidak mengabaikan hal-hal yang oleh para dokter yang baik pada umumnya dalam situasi yang sama, perlu diperiksa, dinilai, diperbuat atau diabaikan. (Qomarudin Sukri, 2002:58)
Suatu peristiwa dapat dikatakan sebagai malpraktik jika memenuhi lima unsur, yaitu:
1. Adanya kewajiban yang berhubungan dengan kerusakan; 2. Adanya pengingkaran kewajiban;
3. Adanya hubungan sebab-akibat antara tindakan yang mengingkari kewajiban dengan kerusakan;
4. Pengingkaran kewajiban me-rupakan faktor penyebab yang substansial
(proximate cause);
5. Kerusakan itu nyata adanya. ( Bahar Azwar, 2002:95).
Dunia kedokteran yang dahulu seakan tidak terjangkau oleh hukum, dengan berkembangnya kesadaran masyarakat akan kebutuhannya tentang perlindungan hukum, menjadikan dunia pengobatan bukan saja sebagai hubungan
commit to user
5keperdataan, bahkan sering berkembang menjadi persoalan pidana. Dalam hal ini kasus yang akan diangkat adalah kasus malpraktek kedokteran di Banda Aceh yang telah dilakukan oleh dr . Taufik Wahyudi, Sp.OG pada tahun 2007, yang karena kesalahannya menyebabkan korban Rita Yanti Binti (Alm) Jamal luka berat, dimana terdakwa sebagai dokter spesialis kandungan yang bertugas di Rumah Sakit Kesdam Iskandar Muda Tingkat III Banda Aceh telah mengambil tindakan untuk dilakukan Operasi Caesar terhadap proses persalinan terhadap korban, namun terdakwa justru melakukan kelalaian dalam tindakan operasi tersebut sehingga mengakibatkan kain kasa steril berukuran 20 X 10 cm tertinggal diperut korban. Hal ini terjadi sebab sebelum memulai menutup dinding perut, Terdakwa seharusnya menanyakan kepada Instrumen dan Asisten apakah alat yang digunakan telah lengkap termasuk kain kasa yang digunakan apa telah sama jumlahnya saat sebelum digunakan dan saat setelah digunakan. Terdakwa juga seharusnya melihat dengan teliti kembali ke dalam rongga perut apakah ada yang tertinggal di dalam perut, kemudian setelah dinyatakan tidak ada yang tertinggal baru dapat dilakukan penjahitan, namun hal tersebut tidak terdakwa lakukan. Kelalaian yang dilakukan oleh Terdakwa inilah yang mengakibatkan korban mengalami luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatannya atau pekerjaannya sementara, hal ini berdasarkan atas Surat Keterangan Medis Nomor: 04/MR/I/2009 yang dibuat dan di tandatangani oleh dr. M. Andalas, Sp.OG yaitu dokter pada Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin.
Pada tanggal 10 Agustus 2009, Pengadilan Negeri Banda Aceh dalam putusannya No. 109/Pid. B/2006/ PN.BNA. menyatakan bahwa dr. Taufik Wahyudi Mahady, Sp. OG telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana karena keaalpaannya menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga berhalangan melakukan pekerjaan untuk sementara waktu yang dilakukan dalam melakukan suatu jabatan atau pekerjaan. Dan dijatuhi pidana penjara selama 5 (lima) bulan. Putusan ini dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi Banda Aceh dengan putusannya pada tanggal 7 Desember 2009 No. 181/PID/2009/ PT.BNA. yang menyatakan bahwa terdakwa dr. Taufik
commit to user
6Wahtudi Mahady, Sp. OG tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 360 ayat (1) jo Pasal 361 ayat (2) KUHPidana. Sebab Hakim Pengadilan Tinggi Banda Aceh berpendapat bahwa kasus ini bukan kasus malpraktek tetapi suatu kekhilafan (resiko medik) di mana sehubungan dengan kasus tersebut ketua POGI cabang Banda Aceh merekomendasikan agar dilakukan pengawasan selama 6 (enam) bulan untuk izin praktek yang bersangkutan, di mana POGI sebagai wadahnya Terdakwa hanya mengenakan sanksi administrasi terhadap anggotanya, bukan ancaman pidana.
Pada tanggal 28 Desember 2009 Jaksa/Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Banda Aceh telah mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan Pengadilan Tinggi tersebut. Didalam putusannya Mahkamah Agung menyatakan bahwa Terdakwa dr. Taufik Wahyudi Mahady, Sp.OG terbukti bersalah melakukan tindak pidana karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka sedemikianrupa sehingga berhalangan melakukan pekerjaan untuk sementara waktu, yang dilakukan dalam melakukan suatu jabatan atau pekerjaan, kepada terdakwa dijatuhi hukuman pidana penjara selama 6 (enam) bulan.
Semua pihak pada hakikatnya menyadari bahwa dokter hanyalah manusia biasa yang suatu saat bisa lalai dan salah, sehingga pelanggaran terhadap kode etik dapat terjadi, bahkam mungkin sampai pelanggaran norma-norma hukum. Soerjono Soekanto dan Kartono Muhammad berpendapat, bahwa belum ada parameter yang tegas tentang batas pelanggaran kode etik dan pelanggaran hukum. (Anny Isfandyarie, 2005:10). Belum adanya parameter yang tegas antara pelanggaran kode etik dan pelanggaran hukum didalam perbuatan dokter terhadap pasien tersebut, menunjukkan adanya kebutuhan akan hukum yang betul-betul bisa diterapkan dalam pemecahan masalah-masalah medik, yang hanya bisa diperoleh dengan berusaha memahami fenomena yang ada di dalam profesi kedokteran. Sekalipun pasien atau keluarganya mengetahui bahwa kualitas pelayanan yang diterimanya kurang memadai, seringkali pasien atau keluarganya lebih memilih diam karena kalau mereka menyatakan ketidak puasannya kepada dokter, mereka khawatir kalau dokter akan menolak menolong dirinya yang pada akhirnya bisa menghambat kesembuhan pasien. Namun, tidak semua pasien
commit to user
7memilih diam apabila pelayanan dokter tidak memuaskan dirinya maupun keluarganya. Terutama apabila salah satu anggota keluarganya ada yang mengalami cacat atau kematian setelah prosedur pengobatan dilakukan oleh dokter. Berubahnya fenomena tersebut terjadi karena perubahan sudut pandang terhadap pola hubungan antara dokter dengan pasiennya.
Kedudukan pasien yang semula hanya sebagai pihak yang bergantung kepada dokter dalam upaya penyembuhan terhadap penyakitnya, kini berubah menjadi sederajat dengan dokter. Dengan demikian dokter tidak boleh lagi mengabaikkan pertimbangan dan pendapat pihak pasien dalam memilih cara pengobatan, termasuk pendapat pasien untuk menentukan pengobatan dengan operasi atau tidak. Akibatnya apabila pasien merasa dirugikan dalam pelayanan dokter, pasien akan mengajukan gugatan terhadap dokter.
Dalam hal ini, dokter pun memberikan pandangannya. Tindakan penuntutan di pengadilan itu mereka anggap sebagai ancaman. Penerapan hukum
di bidang kedokteran dianggap sebagai intervensi hukum. Mereka
mengememukakan bahwa Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) sudah cukup untuk mengatur dan mengawasi dokter dalam bekerja, sehingga tidak perlu lagi adanya intervensi hukum tersebut. Kekhawatiran paling utama adalah profesi kedokteran akan kehilangan martabatnya manakala diatur oleh hukum. Dokter merasa resah dan merasa diperlakuan tidak adil, sehingga mereka menuntut perlindungan hukum agar dapat menjalankan profesinya dalam suasana tentram.
Sampai sekarang, yang mereka persoalkan adalah perlindungan hukum dan bukan mengenai masalah tanggung jawab hukum serta kesadaran hukum dokter dalam menjalankan profesinya. Hal ini menunjukkan kurangnya pengertian mengenai Etika dan Hukum dalam kalangan dokter. Demikian juga kerancuan pemahaman atas masalah medical malpractice (kesalahan profesi medis), masih sering dianggap sebagai pelanggaran norma etis profesi saja yang tidak seharusnya diberikan sanksi ancaman pidana.
Fokus permasalahan yang akan diangkat oleh penulis dalam tulisan ini
commit to user
8PN.BNA., Putusan Pengadilan Tinggi Banda Aceh No. 181/PID/2009/ PT.BNA.,
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang dirumuskan untuk dibahas dalam penelitian skripsi ini antara lain adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sistem hukum pidana Indonesia mengatur mengenai indikasi tindak malpraktek kedokteran?
2. Apakah pertimbangan hukum oleh hakim dalam mengadili perkara malpraktek kedokteran di Banda Aceh (Studi Putusan Pengadilan Negeri Banda Aceh No. 109/Pid. B/2006/ PN.BNA., Putusan Pengadilan Tinggi Banda Aceh No. 181/PID/2009/ PT.BNA., Putusan Mahkamah Agung Nomor: 455 K/Pid/2010)?
C. Tujuan Penelitian
Setiap penelitian pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai, hal ini untuk memberi arah yang jelas dalam melangkah agar sesuai dengan maksud penelitian. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Tujuan Objektif
a. Untuk mengetahui pengaturan mengenai malpraktek kedokteran di dalam hukum pidana indonesia.
b. Untuk mengetahui argumentasi hukum oleh hakim dalam mengadili perkara malpraktek kedokteran di Banda Aceh.
2. Tujuan Subjektif
a. Memperluas dan menambah wawasan serta pengetahuan penulis dalam bidang malpraktek kedokteran.
b. Untuk memenuhi persyaratan akademis guna mencapai gelar Strata 1 (Sarjana) dalam bidang Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
commit to user
9D. Manfaat penelitian
Adapun manfaat-manfaat yang diharapkan penulis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
a. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan hukum pada umumnya dan hukum pidana pada khususnya.
b. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi di bidang karya ilmiah serta bahan masukan
2. Manfaat Praktis
a. Untuk memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti.
b. Meningkatkan penalaran, membentuk pola pikir dinamis dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh penulis selama studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.
c. Memberikan konstribusi melalui tulisan mengenai malpraktek kedokteran di Indonesia bagi masyarakat pada umumnya dan pembaca pada khususnya.
E. Metode Penelitian
Paparan mengenai pengertian penelitian dalam penulisan hukum dapat dijabarkan sebagai berikut, seperti halnya yang dikemukakan oleh Peter Mahmud Marzuki:
Penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Hal ini sesuai dengan perspektif ilmu hukum. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan di dalam keilmuan yang bersifat deskriptif yang menguji kebenaran ada tidaknya suatu fakta disebabkan oleh suatu faktor tertentu, penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. (Peter Mahmud Marzuki, 2010:35)
commit to user
10 1. Jenis PenelitianJenis penelitian dalam penelitian ini yaitu jenis penelitian hukum doktrinal atau penelitian hukum normatif yang penekanannya pada teori-teori hukum, bahan-bahan hukum (library based) yang fokusnya dengan membaca dan mempelajari bahan-bahan hukum primer dan sekunder. Penelitian ini merupakan penelitian yang memberikan penjelasan sistematis aturan yang mengatur kategori hukum tertentu. Menganalisis hubungan antara aturan yang mengatur kategori hukum tertentu. Menganalisis hubungan antar hubungan serta menjelaskan hambatan-hambatan dan mungkin memprediksikan pembangunan masa depan. (Peter Mahmud Marzuki, 2010:32)
2. Sifat Penelitian
Sifat penelitian ini yaitu preskriptif dan terapan. Peter Mahmud Marzuki menyatakan: Ilmu hukum mempunyai karakteristik sebagai ilmu yang bersifat preskriptif dan terapan. Sebagai ilmu yang bersifat preskriptif, ilmu hukum mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum, dan norma-norma hukum. Sebagai ilmu terapan ilmu hukum menetapkan satndar prosedur, ketentuan-ketentuan, rambu-rambu dalam melaksanakan aturan hukum. (Peter Mahmud Marzuki, 2010:22)
3. Pendekatan Penelitian
Mengenai pendekatan penelitian di dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan. Dengan pendekatan tersebut, peneliti akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk dicari jawabnya. Pendekatan yang digunakan di dalam penelitian hukum adalah pendekatan Undang-Undang (statute approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis (historical
approach), pendekatan komparatif (comparative approach), dan
pendekatan konseptual (conceptual approach). (Peter Mahmud Marzuki, 2010:93)
commit to user
11Pendekatan penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Undang-Undang (statute approach) karena dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang berkaitan dengan isu atau permasalahan hukum yang sedang ditangani, dan menggunakan pendekatan kasus (case approach) karena dilakukan dengan cara menelaah ratio decidendi dimana alasan-alasan hukum yang digunakan oleh hakim untuk sampai kepada putusannya. (Peter Mahmud Marzuki, 2010:119)
4. Jenis dan Sumber Data Penelitian
Pemecahan isu hukum memerlukan sumber-sumber penelitian. Sumber-sumber penelitian hukum dapat dibedakan menjadi bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autortatif artinya memiliki otoritas yang terdiri dari perundang-undangan. Sedangkan bahan hukum sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Bahan hukum primer
1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
2) Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.
3) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 4) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan.
5) Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi.
6) Putusan Mahkamah Agung Nomor: 455 K/Pid/2010. b. Bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder adalah berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Bahan hukum sekunder yang digunakan sebagai pendukung data dalam
commit to user
12penelitian ini yaitu buku-buku, referensi, jurnal-jurnal hukum yang terkait, majalah, internet dan sumber lainnya yang berkaitan dengan topik yang dibahas.
5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan penulis adalah studi kepustakaan yakni pengumpulan data dengan mempelajari, membaca, mencatat buku-buku literatur, perundang-undangan serta artikel-artikel penting dari internet yang berkaitan dengan isu hukum yang hendak diteleti.
6. Teknik Analisis Sumber Bahan Hukum
Teknik analisis penelitian ini menggunakan teknik analisis silogisme deduksi untuk menguraikan dan memecahkan permasalahan yang diteliti berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan. Tahapan analisis bahan hukum ini berawal dari penarikan premis mayor, penarikan premis minor dan conclusion atau kesimpulan. (Peter Mahmud Marzuki, 2010:47)
Premis mayor tersebut merupakan penarikan suatu aturan hukum sedangkan premis minor adalah fakta hukum yang dapat sitemukan dalam putusan Mahkamah Agung Nomor: 455 K/Pid/2010 kemudian ditarik kesimpulan dengan menganalisis kecocokan antara premis mayor dan premis minor tersebut.
F. Sistematika Penulisan Hukum
Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh tentang sistematika penulisan hukum yang sesuai dengan aturan dalam penulisan hukum, maka penulis menjabarkan dalam bentuk sistematika penulisan hukum yang terdiri dari empat bab, yang tiap-tiap bab terbagi dalam sub-sun bagian yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan hasil penelitian ini. Adapun sistematika penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:
commit to user
13Pada bab ini penulis akan menguraikan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian dan metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan penulisan hukum ini.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang landasan teori atau memberikan penjelasan secara teoritik berdasarkan literatur-literatur yang berkaitan dengan penulisan hukum ini. Landasan-landasan tersebut meliputi pengertian tentang tindak pidana, jenis tindak pidana, tinjauan umum profesi dokter, tinjauan umum KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) dan tinjauan umum malpraktek kedokteran. Sedangkan kerangka pemikiran penulis menggambarkan bagan kerangka pemikiran penulis.
BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini penulis akan membahas dan menjawab permasalahan yang berdasarkan rumusan masalah, yaitu pertama pengaturan malpraktek kedokteran dalam sistem hukum pidana di Indonesia, dan kedua mengenai pertimbangan hukum oleh hakim dalam putusan Pengadilan Negeri Banda Aceh No. 109/Pid. B/2006/PN.BNA., putusan Pengadilan Tinggi Banda Aceh No. 181/PID/2009/PT.BNA., putusan Mahkamah Agung Nomor 455 K/Pid/2010.
BAB IV : PENUTUP
Pada bab ini penulis akan menguraikan mengenai simpulan yang didapat dari keseluruhan hasil pembahasan serta saran-saran yang diperoleh penulis dalam proses penyusunan penelitian hukum ini. DAFTAR PUSTAKA