7
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Mambesak
Budaya Papua yang merupakan identitas orang Papua semakin terkikis seiring dengan munculnya era globalisasi. Jika tidak segera ditangani, nilai-nilai yang menjadi ciri khas Papua lama kelamaan akan punah. Melalui kelompok musik yang bernama Mambesak, Arnold Ap dan kawan-kawan menciptakan dan memperkenalkan lagu-lagu tradisional Papua dalam bahasa Biak-Numfor. Kelompok ini kemudian mendokumentasikan seluruh tradisi rakyat Papua dengan cara mengunjungi berbagai tempat di Papua, merekam lagu-lagu rakyat dan membuat katalognya.1 Kelompok Mambesak yang dipandang sebagai barisan terdepan dalam usaha mempertahankan kebudayaan rakyat, berhasil menimbulkan sifat nasionalisme masyarakat Papua.2 Melalui kesenian musik, kelompok Mambesak menjadi pelopor persatuan rakyat. Hal ini membuktikan bahwa pentingnya peran budaya di dalam membangun identitas suatu bangsa.
Secara etimologis, istilah Mambesak muncul dari kata Mambefor dalam strata bahasa Biak yang lebih tinggi. “Man” memiliki arti burung dan kata “wor” yang berarti tarian dan nyanyian.3 Bagi penduduk Biak sendiri, kata
“man” memiliki makna sebagai simbol kejantanan dan telah menjadi spirit dan power bagi rakyat Biak, yang kemudian berhasil mencakup Papua secara keseluruhan melalui semangat kelompok musik Mambesak.4
1Yesaya Koteka goo, “Arnold C. Ap dan Group Mambesak, Penabur Spirit Nasionalisme Dari Panggung Budaya,” 21 Agustus 2014. http://www.gookoteka.web.id/2014/08/arnold-c-ap-dan-group-mambesak-penabur.html diunduh pada 31 Januari 2018.
2Yesaya Koteka goo, Ibid.
3Azir, Siradjuddin, Michel Menufandu, Marthinus Howay, D. Negarayati Siregar,
Alimaturahim, dan Miicha Ronsumbre. Biak Tanah Damai. Kab. Biak-Numfor: Dinas Pariwisata, 2002.46
4Wawancara dengan Moserby Sawor, mahasiswa Magister Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana asal Biak Papua pada 23 Maret 2017 di Salatiga.
8
B. Konserto
Konserto berasal dari bahasa Italia concertare yang berarti saling berlawanan.5 Istilah konserto awalnya digunakan untuk sebuah karya paduan
suara dengan iringan alat musik instrumen. Concerti ecclesiastici (church concerto) oleh Giovanni Gabrieli tahun 1587 merupakan karya konserto yang disusun pertama kali.6 Setelah melalui proses yang panjang, hingga kini
istilah konserto lebih dikenal sebagai pertunjukan musik instrumen yang dimainkan secara kontras antara pemain solo dan kelompok orkestra. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Charles Hoffer, bahwa konserto merupakan bentuk musik yang dianggap berpengaruh dan menjadi favorit di zaman Barok. Biasanya terdiri dari kelompok musik besar melawan kelompok musik kecil atau individu yang saling bersahutan.7
Dibawah ini merupakan bentuk konserto menurut Leon Stein ditinjau dari tipenya.8
1. Concerto grosso
Disebut juga grand concerto merupakan karakteristik musik jaman Barok yang terdiri dari dua kelompok musik yang saling bersahutan. Kelompok solis disebut concertino atau principale, dan kelompok besar disebut concerto, tutti atau ripieno.
2. Solo concerto
Merupakan karya musik untuk instrumen solo dengan menggunakan iringan orkestra dan virtuositas pemain sangat ditekankan. Pola permainan yang rumit dan bersifat soloistic (keterampilan bermain solo) menjadi ciri utama dari karya konserto. Konserto Biola secara khusus menjadi pilihan penulis dalam penyusunan komposisi ini.
5Leon Stein, The solo concerto,Structure & Style Expanded Edition The Study and Analysis of Musical Forms (New Jersey : Summy-Bichard Music, 1979), 163.
6Michael Kennedy, Concerto, The Oxford Dictionary of Music (Oxford University Press, 2007), Adobe Reader E-book, 226.
7Charles R. Hoffer, The Concerto Grosso,The Understanding of Music. Edisi ke-5.(California : Wadsworth Publishing Company, 1985), 193.
9
Konserto biola mulai diperkenalkan dan menjadi populer di jaman Barok.9 Bisa dilihat dari karya-karya konserto biola gubahan Johann
Sebastian Bach dan Antonio Vivaldi. Permainan soloistic yang membutuhkan keterampilan khusus ini ternyata sudah di perkenalkan dalam karya masterpiece mereka.
Beberapa karya konserto biola populer yang menjadi referensi utama penulis dalam menyusun komposisi ini: Violin Concerto in D minor Op.47 karya Jean Sibelius, violin concerto No.1 Op.99 karya Dmitri Shostakovich, dan Bela Bartok violin concerto.
C. Pemain Solo
Pembahasan mengenai solo concerto, identik dengan peranan penting pemain solo atau soloist. Peran seorang pemain solo selalu menjadi pusat perhatian penonton, maka dari itu tidak banyak yang bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemain solo. Dibutuhkan waktu yang cukup panjang serta keseriusan dan kerja keras pemainnya dalam mempersiapkan pertunjukan konserto. Berikut ini beberapa pemain solo concerto terkenal yang sering disebutkan, diantaranya: Isaac Stern, Arthur Grumiaux, Itzhak Perlman, Maxim Vengerov, Anna Sophie Mutter. Masing-masing memiliki ciri dan gaya bermain yang berbeda antara satu dengan yang lain. Hal ini sangat memungkinkan adanya perbedaan dalam mengintepretasikan karya musik yang dibawakan.
D. Musik Abad ke-20
Pada awal abad ke-20 terjadi sebuah perkembangan industri oleh pengaruh global yang luar biasa menyebabkan munculnya banyak perbincangan dan perdebatan terhadap relevansi politik, budaya dan ideologi sosial.10 Berlangsungnya perang dunia ke-2 pada 1939, menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam sejarah peradaban dunia pada waktu
9Charles R. Hoffer, Ibid.
10Edward Pearsall, Modernism In Music, Twentieth-Century Music Theory and Practice (New York : Routledge, 2012), 1.
10
itu. Setiap negara membangun kekuatannya sendiri dan hidup dalam ideologinya masing-masing, membuat sebuah jembatan pemisah antara satu dengan lainnya. Austro-Hungarian Empire yang didalamnya termasuk Austria, Czechoslovakia, Hungaria, Yugoslavia dan Romania membuat negara bagian independennya sendiri. Sementara itu di Jerman, Adolf Hitler dan (NAZI) membentuk paham komunisnya, dan masih banyak hal serupa yang menimpa negara-negara di belahan dunia lainnya.11
Begitu juga dengan para komposer musik, seniman, penulis dan arsitektur mulai mencari estetika baru sebagai respon terhadap perubahan dunia yang terjadi. Mereka mulai menolak nilai artistik yang lama dan beralih ke bentuk ekpresi yang lebih abstrak dan individual, sehingga menyebabkan sulitnya mengklasifikasikan keberadaan seni abad ke-20. Perbedaan rumpun daerah juga membuat seni abad ke-20 menjadi berbeda dalam tren dan gaya musiknya. Di sisi lain, hal tersebut membawa para seniman menuju pada paham kedaerahannya masing-masing (Ethnic Context).12
Pembahasan musik abad ke-20 kurang lengkap jika tidak menyinggung kehidupan para komposernya. Arnold Schoenberg merupakan salah satu komposer yang paling terkenal di jaman itu karena prinsip “dodekafon” (ke-12 nada) ciptaannya. Lazimnya, penemuan ini dianggap sebagai revolusi paling besar dalam sejarah musik barat.13 Melalui penemuan tersebut, muncul banyak kritikan dari para ahli dan pakar musikolog, menyerang dirinya sebagai seorang penjahat yang telah membuang nilai-nilai abadi seni musik.14
Tak kalah dalam hal popularitasnya juga, kota Paris (Perancis) dikenal dengan perkembangan musik Impresionisme gaya musik Claude Debussy. Oleh karena sifat terbuka negara Perancis terhadap kesenian, sehingga Paris dianggap sebagai pusat “melting pot” kesenian.15 Begitu pula yang terjadi di
11Barbara Russano Hanning,The European Mainstream in The Twentieth Century, Concise History of Western Music. Edisi ke-5 (New York : Artist Rights Society, 1997), 462.
12Barbara Russano Hanning, Ibid., hal 464.
13Dieter Mack, “Arnold Schoenberg,” dalam Ilmu Melodi (Yogyakarta : Pusat Musik Liturgi, 1995), 104.
14Ibid. 15Ibid., hal 89.
11
negara-negara bagian lainnya, latar belakang yang berbeda membuat kesenian khususnya musik membuat seni abad ke-20 berbeda dengan nilai-nilai konvensional musik sebelumnya.
Pada perkembangannya, musik abad ke-20 membuat sebuah konsep tonalitas baru. Hubungan antar nada dan estetika musik yang berbeda dengan periode sebelumnya, menjadikan musik periode ini tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Penemuan tersebut diperlukan dalam rangka memahami idiom dan perbedaan bentuk musik abad ke-20 dengan bentuk musik klasik. Nampak dari segi melodi, harmoni, ritme, dan ide musikal sebagai unsur penting dalam musik telah mengalami gebrakan baru yang signifikan.
E. Musik Tradisional Papua
Dr. J Kunst seorang ahli etnomusikologi asal Belanda melakukan penelitian terhadap musik tradisional di beberapa wilayah Hindia Belanda yang sekarang dikenal dengan New Guinea Barat (West Papua). Penelitian Kunst dibagi dalam empat periode, yakni pada 1926, 1929, 1932 dan 1939.16 Hasil penelitian di atas, kemudian diterjemahkan ke dalam versi bahasa Inggris dan naskah aslinya diterbitkan pada 1967 berjudul Music in New Guinea, terbitan Martinus Nijhoff di ‘s-Gravenhage (Den Haag).17
Menurut Kunst karakteristik musik Papua dapat dibagi dalam 3 ciri umum yakni: (a) musik tradisional pantai utara memiliki tipe gembira dan keras; (b) musik tradisional pantai Selatan memiliki tipe melankolis; (c) musik tradisional Pegunungan Tengah Papua memiliki ciri-ciri keras, gembira dan juga melankolis. Dalam bukunya Music in New Guinea, Kunst mengemukakan bahwa terdapat tangga nada Anhemitonic dalam tangga nada musik Papua, dimana Kunst mengklaim musik tadisional Papua terdapat dua, tiga, empat hingga lima nada.18
16 https://deateytomawin.wordpress.com/2009/03/04/pengatar-musik-etnik-papua/, diunduh 02/01/2019.
17 Ibid.
12
Dibawah ini merupakan contoh lagu dari suku Awembiak dan suku Dem daerah pegunungan tengah Papua:
Lagu Panizage dan Yao hanya memiliki tiga nada (do, mi, sol). Lagu-lagu tersebut mengingatkan Kunst pada jenis musik barat yang disebut musik fanfare. Fanfare adalah permainan satu atau beberapa buah trompet sebagai sinyal dalam upacara-upacara militer.19
F. Rencana Komposisi
Komposisi Mambesak terdiri dari tiga movements dengan deskripsi sebagai berikut:
1. Movement 1
Menceritakan tentang mitologi burung cendrawasih berangkat dari sejarah pertama kalinya burung cenderawasih mendapat sebutan burung surga (bird of paradise). Pada abad ke-16, Ferdinand Magellan dan
13
kawan-kawan menemukan seekor burung cendrawasih ketika melakukan penjelajahannya ke Australia. Keindahan warna bulu burung tersebut membuat Magellan dan teman-temannya sangat terkagum-kagum, sehingga dinamakannya burung tersebut “Bird of God”.20 Berawal dari peristiwa Magellan tersebut, muncul berbagai persepsi masyarakat bahwa burung cendrawasih merupakan titisan burung dari kayangan. Masyarakat beranggapan bahwa burung tersebut hanya jatuh ke bumi ketika dia mati. Anggapan ini seakan burung cendrawasih tidak pernah turun dari langit dan hanya berterbangan di kayangan. Itulah sebabnya penamaan burung cendrawasih diambil dari bahasa latin “Paradisaeidae” yang berarti surga dan “Apoda” yang berarti tanpa kaki.21 Hingga kini burung cendrawasih dikenal dengan sebutan “Bird of Paradise”. Pada bagian ini penulis menggunakan tangga nada Anhemitonik Pentatonik sebagai perwakilan dari tangga nada daerah Papua dan octatonic scale atau disebut juga diminished scale untuk memunculkan kesan gelap dan mistis. Struktur lagu ini disusun ke dalam bentuk sonata form (eksposisi-development-rekapitulasi).
2. Movement 2
Movement kedua mendeskripsikan tentang sisi romantisme burung cendrawasih. Struktur movement dua berbentuk lagu dua bagian (two part song form). Bagian ini terdapat peralihan tempo yakni Grave menjadi Adagio Cantabile. Tangga nada phrygian dan susunan melodi yang ekspresif disusun untuk memunculkan kesan manis dan hasrat cinta yang sangat dalam.
20Rachell Warenn-Chadd dan Marianne Taylor, “Bird of Paradise,” Birds Myth, Lore and Legend (London, Oxford, New York, New Delhi, Sydney : Bloomsburry Publishing Plc, 2016). Adobe Reader e-book, hal 211.
14 3. Movement 3
Movement ketiga merupakan karya Scherzo yang memiliki arti jenaka, dan sering ditempatkan pada movement kedua atau ketiga dalam karya-karya Symphony. Pada umumya karya Scherzo mengandung humor, lincah dan sering ditulis dalam sukat 3/4.22
Movement ini mendeskripsikan tentang seekor burung cendrawasih jantan yang sedang menari-nari untuk memikat lawan jenisnya. Ketika burung cendrawasih jantan sedang menikmati tariannya, tiba-tiba seorang pemburu datang dan memburunya. Terjadi aksi kejar-kejaran antara pemburu dengan burung cendrawasih. Melodi disusun dengan menggunakan whole tone scale serta penggunaan lompatan-lompatan interval jauh untuk memunculkan kesan lincah. Pada bagian tengah lagu memunculkan tempo “adagio” dan melodi ratapan sebagai gambaran kesedihan saat burung cendrawasih dijadikan buruan. Bagian akhir lagu suasana ketegangan semakin memuncak. Teknik permainan solo yang virtuos dan pola iringan yang saling kejar-kejaran menggambarkan keadaan burung cendrawasih saat dikejar-kejar oleh pemburu.