• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mahkamah Kehormatan yang Semakin Tidak Terhormat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Mahkamah Kehormatan yang Semakin Tidak Terhormat"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1

Mahkamah Kehormatan yang Semakin Tidak Terhormat

26 November 2015 12:02:26

Setelah mempertontonkan perilakunya yang serba janggal dan jauh dari predikat “terhormat” yang disandang pada nama Mahkamah yang dijabatnya, berkaitan dengan kasus Setya Novanto “sang pencatut”, anggota Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR, kini diisukan pula dengan uang suap sebesar 2 juta Dollar AS, atau sekitar 27 miliar Rupiah per orang dari Setya Novanto.

Mempersulit yang Mudah Mahkamah Kehormatan Dewan mengawali perilaku tidak terhormatnya dengan melaksanakan strategi mengulur-ulur waktu. Dalam rapat internal pertamanya pada Senin, 23 November 2015, untuk menentukan apakah persidangan kasus Setya Novanto bisa dilaksanakan atau tidak, dan terbuka, atau tertutup, mereka sengaja mempermasalahkan hal-hal yang bukan substansi masalah, dengan menjalankan prinsip: “Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah”. Yaitu, sengaja membahas hal-hal yang di luar substansi masalah kasus Setya Novanto “sang pencatut” itu, dengan memperdebatkan masalah legal standing pelapornya, yaitu Menteri ESDM Sudirman Said.

Alasannya, menurut Pasal 126 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, dan DPD, dan DPRD serta Pasal 5 Ayat 1 Peraturan DPR Nomor 2 Tahun 2015 tentang Tata Beracara MKD, sebagai pejabat negara Sudirman Said tidak berhak melaporkan anggota DPR. Karena di pasal-pasal itu tidak menyebut pejabat negara termasuk yang boleh melaporkan anggota DPR ke MKD.

Untuk memutuskan hal ini saja, MKD sampai memerlukan tambahan satu hari rapat lagi, yang telah dilaksanakan pada Selasa lalu (24/11), dengan mengundang pakar sosiolingustik, Yayah Bachria, untuk menjelaskan makna kata “dapat” dan “perorangan” di pasal-pasal tersebut. Setelah diberi kuliah singkat tentang makna kedua kata di pasal-pasal itu oleh Yayah, barulah MKD mengerti, atau lebih tepatnya pura-pura “baru mengerti”, lalu memutuskan Sudirman Said punya legal standing sebagai pelapor Ketua DPR Setya Novanto.

Susah-susah dan berbelit-belit mempermasalahkan berhak-tidaknya Sudirman Said melaporkan Setya Novanto ke MKD sebagai syarat diadakan persidangan terhadap kasusnya itu, sebetulnya tanpa ada laporan ke MKD sekalipun, jika ada anggota DPR yang diisukan melakukan pelanggaran kode etik sedemikian rupa sampai mendapat berhatian

(2)

2

besar publik, maka wajib bagi MKD untuk mengadakan suatu sidang terhadap anggota DPR itu (lihat Pasal 4 Ayat 1 Huruf b Peraturan DPR Nomor 2 Tahun2015, yang menyebutkan). Contoh yang paling nyata, dan yang paling baru, adalah kasus dugaan pelanggaran kode etik oleh anggota DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Arzetti Bilbina, Oktober silam. Kasus ini diusut oleh MKD tanpa ada pengaduan siapapun terlebih dahulu. Sidang itu bahkan dilanjutkan pada hari yang sama dengan anggota MKD yang mempermasalahakan legal standing Sudirman Said itu, dengan agenda pemeriksaan Arzetti.

Hal tak substantif kedua yang dipermasalahkan sehingga membuang-buang waktu percuma adalah MKD mempermasalahkan durasi rekaman yang belum utuh. Katanya, MKD hanya menerima rekaman berdurasi 11,38 menit dari Sudriman Said dari 120 menit durasi rekaman seluruhnya. Padahal, bukankah yang terpenting ada bukti rekaman terjadinya percakapan pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden, serta permintaan saham PLTA di Timika tersebut. Mengenai apakah MKD merasa perlu meminta tambahan bukti rekaman yang utuh, ataukah tidak, bukankah bisa dilakukan ketika persidangan sudah berjalan?

Jadi, sebetulnya dengan adanya transkrip dan bukti rekaman dan pengakuan Setya Novanto tentang percakapan tersebut (meskipun menyangkal telah melakukan pencatutan nama itu), sudah lebih dari cukup MKD memutuskan sidang terhadap Setya Novanto harus diadakan. Bahkan sekalipun, seandainya itu tanpa ada laporan Sudirman Said terlebih dulu.

Karena kasus ini merupakan suatu kasus yang sangat besar, menyangkut kekayaan negara yang luar biasa besarnya, nama baik DPR sebagai institusi, kebersihan jabatan Ketua DPR (bukan Setya Novanto), nama baik Presiden dan Wakil Presiden, serta melibatkan investor pertambangan raksasa dunia yang sudah puluhan tahun menjadi masalah nasional multi aspek (Freeport Indonesia), bahkan berpotensi menjadi salah satu skandal hukum dan politik terbesar sepanjang sejarah bangsa, maka sudah merupakan keharusan mutlak sidang kode etik yang akan diadakan MKD terhadap Setya Novanto itu terbuka untuk umum.

Setelah mendapat berbagai desakan kuat dari publik, barulah “dengan terpaksa”, mau tak mau MKD memutuskan mengakui legal standing Menteri ESDM Sudirman Said sebagai pelapor, dan tidak lagi mempermasalahkan perbedaan durasi rekaman percakapan itu. Maka, mereka pun memutuskan syarat untuk menyidangkan kasus Setya Novanto itu memenuhi syarat, dan sidang akan dilakukan terbuka. Meskipun dengan

(3)

3

embel-embel, kecuali ada saksi yang meminta sidang tertutup. Untuk apa ada pengecualian seperti ini?

Meskipun demikian, sebenarnya masih saja ada yang tidak puas, saking sudah hilang kepercayaannya kepada MKD, seperti mantan Hakim Agung Adi Andojo Sutjipto. Yang diinginkan pihak-pihak ini adalah dibentuk suatu panel independen untuk memeriksa kasus Setya “Si Pencatut” Novanto ini. Sebelum kedua hal tersebut di atas, MKD juga sudah menunjukkan sikap janggalnya, yaitu hendak melaporkan Menteri ESDM Sudirman Said dan presenter Metro TV, pemilik acara “Mata Najwa”, Najwa Shihab ke Mabes Polri.

MKD menilai kedua orang ini sudah membocorkan dokumen rahasia negara yang berupa transkrip dan cuplikan rekaman percakapan Setya Novanto tersebut. Padahal sesungguhnya yang membuat MKD tidak bisa terima adalah bocornya rahasia Setya Novanto, sehingga rekayasa dan perlindungan yang dilakukan kepada Setya akan semakin sulit bagi sebagian anggota MKD itu.

Semua tindakan MKD itu adalah demi membela Setya Novanto! Bayangkan saja, betapa kontradiksi dan tidak masuk akalnya dari MKD itu. Namanya “Majelis Kehormatan Dewan”. Fungsinya adalah untuk mengadili seadil-adilnya para anggota DPR yang melakukan berbagai pelanggaran etika dan moral, demi kepentingan rakyat banyak yang diwakilinya. Tetapi selama ini dalam menjalankan tugasnya, “kehormatan” justru jauh daripada sikap dan prilaku mereka. Subyektifitas dan keberpihakan sangat mendominasi dalam setiap penangaan kasus, apalagi menyangkut Setya Novanto kini, orang terkuat di DPR saat ini.

Hal itu dengan terang-terangan diperlihatkan oleh sebagian anggotanya secara memalukan tanpa merasa malu. MKD menyimpang jauh dari tujuan pembentukkannya, ia tak lebih dari ajang pertempuran politik antara dua kubu di DPR, yaitu kubu KIH dengan KMP, terutama sekali di kasus Setya Novanto sekarang ini. Memalukan tapi Tidak Merasa Malu Pemilihan pimpinan dan anggota MKD sampai saat ini nyaris tanpa standar dan syarat yang ketat. Pemilihan hanya didasarkan pada jumlah keanggotaan fraksi-fraksi partai politik di DPR secara proporsional, apalagi jika yang memilihnya juga tidak mempunyai standar etika dan moral yang memadai, maka tak heran yang didapat pun MKD dengan kwalitas seperti sekarang ini.

Salah satunya yang tanpa merasa malu sedikit pun saat akan melakukan tindakan memalukan, bahkan merasa tindakannya itu “patriotik” demi solidaritas membabi-buta

(4)

4

koleganya adalah Wakil Ketua MKD dari Fraksi Partai Golkar, Hadi Soesilo. Ia tanpa merasa risih sedikitpun secara terang-terangan menyatakan sesuai dengan perintah partai ia akan membela mati-matian Setya Novanto ketika menjalani sidangnya itu kelak, tetapi katanya, pembelaan itu akan dilakukan secara profesional! Sangat menggelikan! “Hakim” yang akan menyidangkan “terdakwanya” berjanji akan membela terdakwa itu secara profesional!

Ini jelas-jelas suatu pengkhianatan nyata-nyata yang dibanggakan seorang Wakil ketua MKD terhadap prinsip dasar MKD tentang indepedensi dan netalitas MKD (Pasal 11 Peraturan Kode Etik DPR Nomor 1 Tahun 2015). Seperti saat mereka berperan sebagai anggota DPR, demikian juga saat mereka berperan sebagai anggota MKD, yaitu dengan terang-benderang merusak nama dan kredibilitas lembaga kehormatan itu sendiri. Tak perduli rakyat yang diwakilinya mau mencaci makinya dengan cara dan sekasar apapun, demi kepentingan dirinya sendiri, koleganya, dan lebih-lebih kepentingan partainya masing-masing, mereka tak pernah perduli dengan kegeraman-kegeraman rakyat terhadap mereka.

Isu Suap MKD Kondisi yang sudah sedemikian parah tersebut semakin diparahkan lagi dengan beredarnya isu suap di kalangan anggota MKD, yang sampai ke masyarakat. Menurut keterangan Wakil Ketua MKD dari Fraksi PDIP Junimar Girsang, dirinya sudah ditawari 2 juta Dolar AS atau setara lebih Rp20 miliar untuk berpartisipasi dengan anggota MKD lainnya. Orang yang mendekati dan menawarkan uang suap (yang katanya dari Setya Novanto) itu berasal dari sesama anggota MKD. Katanya pula, anggota MKD yang lain sudah sepakat dan sudah menerimanya.

Mereka ditawari masing-masing 2 juta Dollar AS itu, dan ada yang sudah menerimanya. Tentu saja, anggota MKD yang lain membantah pengakuan Junimart Gorsang itu, tetapi karena masyarakat sudah terlanjur kehilangan kepercayaannya terhadap MKD, maka lebih banyak dari masyarakat yang mempercayainya. Apalagi, dengan mengingat perilaku para anggota MKD seperti yang sudah diuraikan di atas.

Junimart Girsang mengatakan, ada beberapa anggota yang sebelumnya kurang aktif mengikuti rapat dan berbagai sidang di MKD, tiba-tiba menjadi bersemangat, tidak pernah absen lagi, mengikuti kegiatan-kegiatan MKD yang akan menyidanmgkan kasus Setya Novanto itu. Isu suap inilah pula yang mungkin menyebabkan beberapa fraksi dari KIH segera menggantikan anggotanya di MKD, sebagaimana diumumkan oleh Ketua MKD Surahman Hidayat dari PKS, dalam rapat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (24/11/2015).

(5)

5

Mengikuti setiap perilaku dan perbuatan para anggota DPR dan MKD ini semakin lama semakin kita seperti melihat bahwa sesungguhnya yang terjadi adalah Gedung DPR sekarang ini telah disusupi oleh segerombolan penggarong, yang berkamuflase, bersembunyi di balik jas-jas necis dan mewah mereka.

Rombak MKD MKD yang sekarang sudah terlanjur rusak parah, masyarakat sudah kehilangan kepercayaan terhadap mereka. Maka itu jika saja DPR masih punya niat baik, segera saja lakukan langkah darurat dengan merombak MKD yang sekarang ini, diganti dengan susunan keanggotaannya yang baru, yang lebih terpercaya.

Dan, untuk menyidangkan kasus Setya Novanto dibentuk tim khusus yang terdiri dari semua anggota MKD ditambah dengan tokoh-tokoh masyarakat terpercaya, yang akan malu jika melakukan perbuatan yang memalukan, yang benar-benar layak menyandang predikat “terhormat”, serta tentu saja wajib melaksanakan sidang secara terbuka, tanpa pengecualian apapun. *****

Selengkapnya :

http://www.kompasiana.com/danielht/mahkamah-kehormatan-yang-semakin-tidak-terh ormat_56569262187b613b05c7c0ee

Referensi

Dokumen terkait

Pola pervasif deficit sosial dan interpersonal yang ditandai oleh ketidak senangan akut dengan, dan penurunan kapasitas untuk, hubungan erat dan

Pada tahap pengklasifikasian data ini, peneliti mengklasifikasikan berita mana saja yang mengandung kohesi aspek gramatikal dan leksikal yang ada dalam wacana

Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber (terutama dari pembimbing) yang

Peringatan hari-hari besar Islam juga mendapat perhatian dari Masyarakat Rungkut Lor Surabaya, baik penduduk prribumi (asli) ataupun penduduk pendatang, penyelenggaraannya

Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dimulai sejak bulan Juli 2005, telah berperan secara signifikan dalam percepatan pencapaian program wajar 9

Software biasa disebut dengan perangkat lunak. Sifatnya pun berbeda dengan hardware atau perangkat keras. Jika perangkat keras adalah komponen yang nyata yang dapat dilihat

Panduan O2SN SMP 2013 77.. Alasan meninggalkan pertandingan ini bisa karena cidera yang tidak disebabkan oleh tindakan lawan. 2) Jika dua peserta melukai satu sama lain atau

Pengaruh Pemanfaatan SaranaPembelajaran Dan Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru IPA Di SMPN gugus 03 Kabupaten Bandung.. Universitas Pendidikan Indonesia |