GURU DAN MURID DALAM PENDIDIKAN ISLAM
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan Islam Dosen Pengampu : Prof.Dr. Jamali, M.Ag
Disusun oleh:
KUDUNG ISNAINI 2052113023
PROGRAM PASCASARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI STAIN PEKALONGAN
GURU DAN MURID DALAM PENDIDIKAN ISLAM
I. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah suatu bentuk interaksi manusia. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagaman, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.1 Dalam pendidikan menuntut
terwujudnya manusia Indonesia yang berkualitas, cerdas, beriman, beriptek dan berakhlakul karimah sebagai tujuan dari pendidikan, maka perlu pengamatan dari segi aktualisasinya bahwa pendidikan merupakan proses interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan dari sebuah proses pendidikan.
Pendidik dan peserta adalah dua entitas yang tak dapat terpisahkan dalam menggerakkan dimensi pendidikan terutama pendidikan Islam. Kedunya mempunyai interaksi secara kontinyu yang dapat menghasilkan perambahan intelektual, namun tidak dapat dipungkiri dalam praktek pendidikan terkadang mengalami degradasi dan dekadensi bagi kalangan pendidik dengan mengesampingkan tradisi-tradisi humanis yang seharusnya diberlakukan dalam dimensi-dimensi peserta didik. Hal ini penting menjadi sebuah otokritik yang produktif dalam membangun tradisi pendidikan dengan mensejajarkan peserta didik tanpa adanya bentuk diskriminasi.
Pendidik, peserta didik dan tujuan utama pendidikan merupakan komponen utama dalam pendidikan, ketiga komponen tersebut merupakan komponen yang satu, jika hilang salah satu dari komponen tersebut maka hilang pula hakikat pendidikan tersebut. Hakikat pendidik dan peserta didik inilah yang perlu menjadi bahan pengetahuan sebagai landasan untuk melakukan kegiatan transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang merupakan sebagai
1Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta:
obyek dalam penanaman nilai moral, sosial, intelektual, keterampilan dan spiritual. Pendidik merupakan pelaku utama dalam tujuan dan sasaran pendidikan yaitu membentuk manusia yang berkepribadian dan dewasa. Disamping sebagai tujuan pendidikan Islam secara umum diorientasikan untuk membentuk insan kamil, insan kaffah, dan mampu menjadi khalifah Allah swt.2
Melihat perkembangan pendidikan yang semakin maju seiring dengan perkembangan zaman, maka hal yang terpenting dan salah satu faktornya adalah mempersiapkan pendidik yang benar-benar dapat menjadi teladan dan memahami hakikat pendidik maupun peserta didik. Demikian pula perlu pemahaman yang mendasar tentang peserta didik yang kompleks. Hal inilah yang menyebabkan kajian tentang hakikat pendidik dan peserta didik masih menarik dan dianggap perlu dilakukan. Perlu dipahami bahwa Guru−pendidik dan anak didik (peserta didik) adalah padanan frase yang serasi, seimbang dan harmonis. Hubungan keduanya berada dalam relasi kejiwaan yang saling membutuhkan. Dalam perpisahan raga, jiwa mereka bersatu sebagai “dwitunggal”. Guru mengajar dan anak didik belajar dalam proses interaksi edukatif yang menyatukan langkah mereka kesatu tujuan yaitu “kebaikan”. Dengan kemuliaannya guru meluruskan pribadi anak didik yang dinamis agar tidak membelok dari kebaikan.3
Berangkat dari uraian latarbelakang di atas maka muncul beberapa rumusan permasalahan yang perlu dieksplorasi dalam makalah ini yaitu, (1) Seperti apa pengertian istilah dan makna guru dalam pendidikan Islami?, (2) apa pengertian istilah dan makna murid dalam pendidikan Islami?, (3) Bagaimana peran guru di era teknologi informasi?, serta (4) Bagaimana sikap dan perilaku murid dalam pendidikan Islami?
II. PEMBAHASAN
1. Pengertian istilah dan makna guru dalam pendidikan Islami
2 M.Agus Nuryanto, “Isu-Isu Kritis dalam Pendidikan Islam (Perspektif Paedagogik
Kritis)” dalam Hermeneia Jurnal Kajian Islam Interdisipliner, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Volume 9, Nomor 2 Desember 2010, hlm. 213.
3 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta:
a. Pengertian Guru dalam pendidikan Islami
Dalam konteks keindonesiaan di samping dikenal dengan istilah guru, juga dikenal dengan istilah pendidik. Pendidik bertugas sebagaimana tugas yang dilaksanakan oleh guru. Guru sebagai pribadi teladan minimal bagi peserta didiknya di sekolah sehingga muncul adagium guru adalah pribadi yang harus digugu dan ditiru segala sikap dan perilakunya. Sedangkan pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah, khalifah di muka bumi, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.4 Jadi pendidik merupakan istilah lain yang
dipergunakan untuk menunjuk makna guru.
Kata pendidik berasal dari didik, artinya memelihara, merawat dan memberi latihan agar seseorang memiliki ilmu pengetahuan seperti yang diharapkan (tentang sopan santun, akal budi, akhlak, dan sebagainya) selanjutnya dengan menambahkan awalan pe- hingga menjadi pendidik, artinya orang yang mendidik. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pendidik artinya orang yang mendidik.5
Secara etimologi dalam bahasa Inggris ada beberapa kata yang berdekatan arti pendidik seperti kata teacher artinya pengajar dan tutor
yang berarti guru pribadi, dipusat-pusat pelatihan disebut sebagai trainer
atau instruktur. Demikian pula dalam bahasa Arab seperti kata al-mu’alim (guru), murabbi (mendidik), mudarris (pengajar) dan uztadz.
Secara terminology beberapa pakar pendidikan berpendapat, Menurut Ahmad Tafsir, bahwa pendidik dalam Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan upaya
4 Nur Ubiyati, Ilmu Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hlm. 71
5 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa).6
Sedangkan Abdul Mujib mengemukakan bahwa pendidik adalah bapak rohani (spiritual father) bagi peserta didik, yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan prilakunya yang buruk.7 Pendidik dapat pula berarti orang yang
bertanggung jawab terhadap perkembangan dan kematangan aspek rohani dan jasmani anak.8 Secara umum dijelaskan pula oleh Prof. Dr.
Maragustam Siregar, yakni orang yang memberikan ilmu pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan lain-lain baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di sekolah.9
Pendidik dalam Islam ialah siapa saja yang bertanggung-jawab terhadap perkembangan anak didik. Dalam Islam, orang yang paling bertanggung-jawab adalah orangtua (ayah dan ibu) anak didik. Tanggung jawab itu disebabkan oleh dua hal yaitu pertama, karena kodrat yaitu karena orangtua ditakdirkan menjadi orangtua anaknya, dan karena itu ia ditakdirkan pula bertanggung-jawab mendidik anaknya. Kedua, karena kepentingan kedua orangtua yaitu orangtua berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya.10
Dalam konteks pendidikan Islam, banyak istilah yang dipergunakan untuk menunjuk makna guru. Setidaknya ada enam istilah dalam Islam yang semakna dengan makna guru, sebagaimana dikutip Muhaimin dari beberapa sumber.11 Enam istilah tersebut adalah ustadz,
mu’allim, murabbiy, mursyid, mudarris dan mu’addib. Masing-masing
6 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
1992), hlm. 74-75.
7 Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hlm. 88. 8 Ramayulis dan Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan
dan Pemikiran Para Tokohnya, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010), hlm. 139.
9 Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Sunan Kalijaga, 2010), hlm. 169. 10 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung : Remaja
Rosdakarya, 1994), hlm. 74.
11 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya,
istilah tersebut mempunyai makna yang spesifik yang dapat membedakan dengan yang lainnya.
- Ustadz mempunyai makna seorang yang mengajarkan, al-Mu’allim.12
Sedang dalam realitas kehidupan di Timur Tengah sebenarnya
ustadz dipergunakan untuk menunjuk seorang professor atau guru besar. Dalam konteks keindonesiaan, ustadz dimaknai sebagai guru agama, guru besar laki-laki,13 juga diartikan sebagai sapaan terhadap
seseorang.
- Mu’allim menurut bahasa berasal dari ‘allama mempunyai makna
ja’alahu ya’lamuha.14 Istilah ini berasal dari ‘allama merupakan fi’il
mazid dari ‘alima yang bermakna ‘arafahu au tayaqqona
(mengetahui dan meyakininya). Maka mu’allim berarti orang yang mengajarkan. Muallim dalam konteks keindonesiaan juga dimaknai sebagai ahli agama, atau guru agama, juga diartikan sebagai penunjuk jalan dipergunakan biasanya dalam dunia pelayaran.15 Dua
makna tersebut apabila digabungkan mengandung makna, bahwa
mu’allim adalah seorang ahli agama, guru agama yang berfungsi menunjukkan jalan kehidupan duniawi ini.
- Murabbiy berasal dari kalimat raba; nasya’a dengan makna tumbuh atau berkembang.16 Istilah ini berasal dari rabbay merupakan fi’il
mazid dari raba yang berarti tumbuh, berkembang. Maka murabbiy
berarti orang yang menumbuhkan atau mengembangkan. Istilah ini jarang dipergunakan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sedang istilah lebih banyak dipergunakan dalam konteks pendidikan ketimbang istilah yang lain.
- Mursyid juga merupakan salah satu istilah yang dipergunakan untuk menyebut guru dalam pendidikan Islam. Istilah ini lebih banyak
12 Louis Ma’luf, Al Munjid fi al Lughat wal Ilm, (Beirut: Darul Masyriq, 1986), hlm. 10 13 WJS Purwodarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Departemen Pendidikan
Nasional Indonesia, 2002), hlm. 1255
dipergunakan dalam dunia toriqot. Sebagaimana dipergunakan Imam Syafi’i ketika meminta nasehat kepada gurunya, beliau berkata sebagai berikut: “Saya mengadu kepada Imam Waki’ tentang jeleknya hafalan saya, beliau memberi nasehat untuk meninggalkan segala maksiat dan memberi tahu bahwa ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berma’siyat.”
Mursyid merupakan isim fa’il dari arsyada yang mempunyai makna memberi petunjuk.17 Arsyada merupakan fi’il mazid dari rasyada
dengan tambahan hamzah di depan yang berarti memberi petunjuk, nasehat. Maka mursyid berarti orang yang memberikan petunjuk atau nasehat. Istilah ini dalam konteks keindonesiaan diartikan sebagai orang yang menunjukkan jalan yang benar, guru agama, atau orang yang baik hidupnya, yang berbakti kepada Tuhan.18
- Mudarris berasal dari kata darasa dengan makna aqbala alaih wa yahfadhuhu (menghadap sesuatu dan menjaganya).19
- Mu’addib merupakan isim fa’il dari addaba yang merupakan fi’il mazid (kata kerja tambahan) dari aduba. Ditambahkan tasydid di tengah sehingga menjadi addaba dengan makna hadzabahu wa radha akhlaqahu (mendidiknya dan melatih akhlaknya).20
b. Makna Guru dalam Pendidikan Islam
Menurut Ahmad D Marimba mengartikan pendidik sebagai orang yang memikul tanggung jawab untuk mendidik, yaitu manusia dewasa yang karena hak dan kewajibannya bertanggung jawab tentang pendidikan siterdidik.21
Hakekat pendidik sebagai manusia yang memahami ilmu pengetahuan sudah barang tentu dan menjadi sebuah kewajiban baginya untuk mentransferkan ilmu itu kepada orang lain demi kemaslahatan
17 Louis Ma’luf, hlm. 261 18 WJS Purwodarminto, hlm. 765 19 Louis Ma’luf, hlm. 211 20 Louis Ma’luf, hlm. 5
21 Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: N.V. Alma’arif, 1980),
ummat. Hakekat pendidik−guru di tegaskan dalam Qur’an surat Al-Alaq ayat 1-5 yaitu:
Artinya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-‘Alaq: 1-5)22
Dalam Al-Qur’an hakekat guru adalah Allah Swt, namun tidak berarti manusia di dunia ini tidak mempunyai tugas sebagai khalifah dimuka bumi ini, tugas manusia salah satunya adalah mengajarkan ilmu yang telah diperolehnya kepada orang lain, dengan kata lain dia sebagai seorang guru.23
Jika di tinjau secara umum pendidik dalam pendidikan Islam kaitannya lebih luas dari pada pendidik dalam pendidikan non-Islam, adapun pendidik dalam pendidikan Islam yaitu:
1. Allah Swt.
Dari berbagai ayat al-Qur’an yang membicarakan tentang kedudukan Allah sebagai pendidik dapat dipahami dalam firman-firman yang di turunkan-Nya kepada Nabi Muhammad Saw. Beberapa firman Allah seperti:
a. Surah Al-Fatihah ayat 1,
Artinya:
22 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: PT. Sygma Examedia
Arkamlema, 2009), hlm. 597
23 Ahmad Zuhdi, Profil Guru dalam Pendidikan Islam Menurut K.H. Hasyim Asy’ari:
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
b. Surah an-Nahl ayat 89,
Artinya:
...dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (Q.S. An-Nahl: 89)
Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwa Allah Swt
sebagai pendidik bagi manusia. Ramayulis dan Syamsul Nizar mengutip al-Razi, yang membuat perbandingan antara Allah Swt sebagai pendidik dan manusia sebagai pendidik sangatlah berbeda, Allah Swt sebagai pendidik mengetahui segala kebutuhan orang yang dididiknya, sebab Dia adalah Zat Pencipta. Perhatian Allah Swt tidak terbatas hanya terhadap kelompok manusia saja, tetapi memperhatikan dan mendidik seluruh alam.24 Allah Swt sebagai pendidik untuk alam yang di dalamnya ada
unsur manusia dan makhluk lainnya meliputi aspek yang maha luas sebagai bentuk kekuasaan-Nya, kendati manusia dididik secara tidak langsung maka seyogyanyalah manusia sebagai makhluk yang mempunyai akal memaknai dan mengambil pelajaran terhadap tanda-tanda alam sebagai ciptaan dan kekuasaan Allah Swt, ilmu yang diajarkan oleh Allah Swt kepada manusia berupa kitab suci yang yang diwahyukan kepada Nabi, khususnya Nabi Muhammad Saw yang membawa kitab suci Al-Qur’an merupakan tiada bandingan untuk mengukur kemampuan manusia dalam menciptakan sesuatu sebagai
24 Perbedaan ini juga dapat dilihat dari aspek proses pengajaran. Allah Swt memberikan
hasil karyanya, karena disisi lain Al-Qur’an berfungsi memberi petunjuk jalan yang paling lurus (Q.S.Al -Isra’[17]:9)25
2. Rasulullah Saw.
Kedudukan Rasulullah Saw sebagai pendidik di tunjuk langsung oleh Allah SWT, sebagai teladan bagi ummat dan rahmat bagi seluruh alam. Dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Ahmad yang berbunyi:
هللللا لوللسر لاللق لاللق هللنع هللللا يضر ةريره يبا نع
ِقَلْخ
َ ْلا َمِراللَكَم اللَمِمَتلِل لتْثِعلب اللَمَنِا ملسو هيلع هللا ىلص
)دمحا هاور(
Artinya:
“Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya saya diutus (kepada manusia hanyalah) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad).
Rasulullah Saw dari potret sejarahnya dikenal sebagai manusia yang paling berakhlak dan dipatuhi sehingga dalam masa kehidupannya sukses mendidik generasi-generasi Islam. Sebagai seorang pendidik ummat manusia yang mengajarkan agama Islam dan ketauhidan serta etika berkehidupan, Rasulullah Saw memiliki kepribadian dan akhlak yang sangat mulia, yang pantas di jadikan teladan bagi seluruh ummat manusia, hal tersebut senantiasa tercermin dalam kehidupannya.
3. Orang Tua.
Selain pendidik (guru), yang paling berperan penting yaitu orang tua. Orang tua sebagai pembimbing dalam lingkungan keluarga di sebabkan karena secara alami anak-anak pada masa awal kehidupannya berada di tengah-tengah ayah dan ibunya.26 Menurut Hasan Basri dan
Beni Ahmad Saebani, tanggung jawab terbesar pendidikan Islam menurut ajaran Islam dipikul oleh orang tua anak, karena orang tualah
yang menentukan pola pembinaan pertama bagi anak.27 Menurut
J.I.G.M Drost, orang tualah yang pertama-tama mengajarkan kepada anak pengetahuan akan Allah, pengalaman tentang pergaulan manusiawi, dan kewajiban memperkembangkan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain.28 Orang tua yang
merupakan titik dan pemeran awal dalam membimbing, mengasuh, memberikan perhatian, kasih sayang, dan memotivasi sehingga anak didik dapat mencapai kesuksesan dalam belajar. Kesuksesan seorang anak kandung adalah merupakan cerminan atas kesuksesan orang tua. Kendati orang tua memiliki peranan dan tanggung jawab utama dalam proses pengembangan potensi anak didik, namun memiliki waktu yang terbatas hal ini disebabkan misalnya dengan kesibukan kerja, tingkat efektivitas dan efeisiensi pendidikan tidak akan baik jika hanya dikelolah secara alamiah.29
Dalam agama Islam orang yang paling bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik adalah orang tua yaitu bapak dan ibu, sebagaimana dikatakan dalam al-Qur’an surat al-Tahrim: 6 berikut ini.
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim: 6)30
27 Hasan Basri dan Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam (Jilid II), (Bandung:
Pustaka setia, 2010), hlm. 84
28 J.I.G.M Drost, Sekolah: Mengajar atau Mendidik?, (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hlm.
32
29 Abdul Mujib. Ilmu, hlm. 88
Secara kodrati, anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak yang hidup didunia ini. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
وا هللنادوهي هاوبأللف ةرللطفلا ىلع دلللوي ا دولللوم نمام
)ملسم لهاور( هناسجمي وا هنارصني
Artinya:
“Tiadalah seorang yang dilahirkan melainkan menurut fitrahnya, maka kedua orang tuanyalah yang Yahudikannya atau me-Nasranikannya atau me-Majusikannya.” (HR. Muslim).31
Dengan demikian dapat dipahami bahwa dalam mencapai tujuan pendidikan yang efektif dan efisien maka diperlukan mitra yang mendasar antara orang tua dan pendidik. Orang tua yang merupakan penanggung jawab dalam perkembangan anak karena adanya hubungan pertalian darah secara langsung sehingga mempunyai tanggung jawab terhadap masa depan anaknya demikian pula pendidik yaitu orang yang berkompeten untuk melaksanakan tugas mendidik, memberi pengajaran dan pendidikan kepada anak sesuai dengan kurikulum. Kerja sama yang terjalin bagus akan memberikan kemudahan untuk mencari solusi dan menyamakan langkah dalam membimbing anak didik. Sedangkan dalam keluarga, orang yang paling bertanggung jawab adalah ayah. Karena ayah merupakan kepala keluarga yang memimpin ibu, anak-anak, dan pelayan.32 Seperti yang telah dicontohkan oleh Allah Swt dalam
al-Qur’an melalui tauladan seorang ayah yang bernama Luqman dalam mendidik anak-anaknya untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas. Selain itu juga melarang untuk menyekutukan-Nya, serta terus
31 Sayud Ahmad Al Hasyimi, Terjemah Mukhtarul Hadits, Perty : Mahmud Zaini,
(Jakarta: Bulan Bintang, tt.), hlm. 428
32 Adnan Hasan Shalih Baharits, Mendidik Anak Laki-laki, (Jakarta: Gema Insani, 2007),
memotivasi anaknya untuk senantiasa berbuat baik, amar ma’ruf nahi munkar, bersabar dalam berdakwah, dan untuk selalu berbuat kebaikan.33 4. Guru
Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa salah satu pendidik yang memiliki peranan yang sangat penting yaitu guru setelah orang tua. Dalam Undang-Undang tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat 1 disebutkan guru adalah pendidik professional .34 Sedangkan dalam
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 6 disebut sebagai pendidik adalah tenaga kependidikan. Guru adalah suri teladan kedua setelah orang tua.35
Menurut Saiful Bahri Djamarah bahwa guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik.36 Guru sejatinya
adalah seorang pribadi yang harus serba bisa dan serba tahu37 serta
mampu mentransferkan kebiasaan dan pengetahuan pada muridnya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan dan potensi anak didik. Guru yang bekerja sebagai tenaga pengajar adalah elemen yang terpenting dan ikut bertanggung jawab dalam proses pendewasaan bagi anak didik tersebut.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa guru dapat diartikan sebagai sosok yang mempunyai kewenangan dan bertanggung jawab sepenuhnya di kelas atau di sekolah untuk mengembangkan segenap potensi peserta didik yang dimiliki sehingga mampu mandiri dan mengembangkan nilai kepribadian sesuai ajaran Islam, dengan demikian tujuan akhirnya adalah kedewasaan dan kesadaran untuk melaksanakan tugasnya sebagai khalifah dan hamba Allah Swt. Oleh karena itu, setiap guru hendaknya mempunyai kepribadian yang akan dicontoh dan di teladani oleh anak didik, baik
33 Adnan Hasan Shalih Baharits, hlm. 60
34Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dalam pdf, (Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586), hlm. 2
35 Maragustam, Filsafat, hlm. 170 36 Saiful Bahri Djamarah, Guru., hlm.31
37Peran dan Fungsi Guru dalam website, http://edukasi.kompasiana.com /2012/07/18/.
secara sengaja maupun tidak. Sudah barang tentu, pekerjaan sebagai guru tidak sama dengan pekerjaan apapun, di luar itu pengetahuan dan keterampilan yang akan diajarkan.38 Keahlian sebagai guru atau pendidik
dalam Islam tidak hanya sekedar memiliki kemampuan mentransfer pengetahuan kepada peserta didik sebagaimana yang terjadi pada umumnya, namun diperlukan syarat dan kepribadian yang ketat serta memadai untuk menjadi seorang guru atau pendidik dalam Islam.
Menurut Prof. Dr. H. Maragustam Siregar, yang mengutip al-Abrasyi bahwa syarat menjadi guru ialah zuhud (tidak terlalu suka kehidupan dunia), suci, ikhlas dalam bekerja, lemah lembut, tenang, sopan dan suka pemaaf, menjadi bapak sebelum dia menjadi guru, mengerti tabiat, kecenderungan, kebiasaan, perasaan dan pikiran peserta didiknya agar tidak salah arah dalam peserta didikan, bersih fisik dan jiwa dari dosa besar dan kesalahan, jauh dari sifat mencari nama, dengki, permusuhan, dan sifat-sifat tercelah lainnya.39 Jika menjelaskan
pendidik dalam prinsip keguruan, guru ini selalu dikaitkan dengan bidang tugas dan pekerjaan, maka variabel yang melekat adalah lembaga pendidikan−sekolah. Dan ini juga menunjukkan bahwa pendidik merupakan profesi atau keahlian tertentu yang melekat dan sebagai gelar pada diri seseorang yang tugasnya adalah mendidik atau memberikan pendidikan.
Tugas sebagai seorang guru yang harus dilaksanakan bagi anak didiknya semestinya merupakan tugas kombinasi dari tugas murabbiy, mu’allim, mursyid, mu’adib dan mudarris. Hal ini sesuai dengan pendapat Imam Al Ghozali dalam “ihya ulumuddin” (55-58). Beliau mengatakan seorang guru sebaiknya memperhatikan beberapa tugas antara lain :
- Mengasihi anak didiknya seperti halnya mengasihi anaknya sendiri dalam upaya menyelamatkan anak didik dari api neraka.
38 Ahmad Farid, Etika Guru dalam Pendidikan Islam, Telaah Terhadap Hadits Larangan
Menerima Upah Bagi Guru, (Yogyakarta:Tesis UIN Sunan Kalijaga, 2004), hlm.15
- Tidak menuntut bayaran, ucapan terima kasih atas ilmu yang diajarkannya kepada anak didiknya kecuali hanya mengharap ridlo Allah.
- Memberi nasehat kepada anak didiknya untuk menuntut ilmu secara bertahap dari ‘ilmu jaliy menuju ‘ilmu khofiy, sesuai dengan prinsip kemudahan.
- Memberi nasehat anak didik yang jelek akhlaknya dengan bahasa yang halus, jika memungkinkan dan penuh kasih sayang.
- Memberi nasehat kepada anak didiknya untuk mempelajari ilmu-ilmu lain, tanpa menjelek-jelekkan suatu ilmu-ilmu atas ilmu-ilmu lain.
- Mengajarkan ilmu kepada anak didiknya sesuai dengan kadar kemampuan anak didiknya.
- Mengajarkan ilmu-ilmu yang bersifat sederhana bagi siswa yang kemampuannya terbatas.
- Sebaiknya seorang guru mengamalkan ilmu yang telah diajarkannya bagi anak didiknya.40
- Mempelajari hidup psikologis murid-muridnya.
- Guru hendaknya mampu mengamalkan ilmunya, agar ucapannya tidak mendustai perbuatannya.
Al-Ghazali menghendaki agar guru menjadi contoh teladan yang baik bagi murid-muridnya. Dalam kaitan ini firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat yang tegas menyatakan sebagai berikut:
Artinya:
“Apakah kamu memerintah manusia dngan perbuatan baik sedang kamu lupa terhadap dirimu sendiri.” (Q.S. Al-Baqarah, 44).41
40 Ali Al-Jumbulati, Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam,
(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1990), hlm. 137-139
Disamping itu mereka melupakan arti syair yang mengatakan:
“Janganlah engkau melarang orang lain berbuat akhlak jelek sedangkan kamu sendiri melakukannya.”
Dalam salah satu penjelasannya Imam Al Ghozali mengatakan sebagai berikut:
“Mengasihi anak didiknya dengan memperlakukan mereka sebagai anaknya sendiri, Rasulullah saw bersabda, “sesungguhnya saya bagi kamu semua seperti bapak terhadap anaknya”, dan dengan tujuan menyelamatkan mereka dari api neraka, dan hal ini lebih penting dari penyelamatan orang tua atas anaknya dari api duniawi, oleh sebab itu haknya guru itu lebih utama dari hak kedua orang tua”.
c. Kedudukan Guru dalam Pandangan Islam
Dalam proses pendidikan (belajar-mengajar), pendidik memiliki peran kunci dalam menentukan kualitas pembelajaran. Yakni menunjukkan cara mendapatkan pengetahuan (cognitive), sikap dan nilai (affektif), dan keterampilan (psikomotor). Dengan kata lain tugas dan peran pendidik yang utama terletak pada aspek pembelajaran. Pembelajaran merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Singkatnya, dapat dikatakan bahwa kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualitas pendidiknya.42
Salah satu hal yang menarik pada ajaran Islam ialah penghargaan Islam yang sangat tinggi terhadap guru. Begitu tingginya penghargaan itu sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan nabi dan rasul. Mengapa demikian? Karena guru selalu terkait dengan ilmu (pengetahuan), sedangkan Islam sangat menghargai pengetahuan.
Sebenarnya tingginya kedudukan guru dalam Islam merupakan realisasi ajaran Islam itu sendiri. Islam memuliakan pengetahuan, pengetahuan itu didapat dari belajar dan mengajar, yang belajar adalah calon guru, dan yang mengajar adalah guru. Maka, tidak boleh tidak, 42 A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam, (Malang: UIN-Malang Press,
Islam pasti memuliakan guu. Tak terbayangkan terjadinya perkembangan pengetahuan tanpa adanya orang yang belajar dan mengajar, tidak terbayangkan adanya belajar dan mengajar tanpa adanya guru. Karena Islam adalah agama, maka pandangan tentang guru, kedudukan guru, tidak terlepas dari nilai-nilai kelangitan.43
Ada penyebab khas mengapa orang Islam amat menghargai guru, yaitu pandangan bahwa ilmu (pengetahuan) itu semuanya bersumber pada Tuhan:
...اَنَتْمَلَع اَم َ ِا اَنَل لَمْلِعَ
“Tidak ada pengetahuan yang kami miliki kecuali yang Engkau ajarkan kepada kami”
Ilmu datang dari Allah. Pandangan yang menembus langit ini tidak boleh tidak telah melahirkan sikap pada orang Islam bahwa ilmu tidak terpisah dari guru, maka kedudukan guru amat tinggi dalam Islam.44
2. Pengertian istilah dan makna murid dalam pendidikan Islami a. Pengertian Murid
Pengertian Siswa / Murid / Peserta Didik. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pengertian murid berarti orang (anak yang sedang berguru (belajar, bersekolah).45 Sedangkan menurut Prof. Dr. Shafique
Ali Khan, pengertian siswa adalah orang yang datang ke suatu lembaga untuk memperoleh atau mempelajari beberapa tipe pendidikan. Seorang pelajar adalah orang yang mempelajari ilmu pengetahuan berapa pun usianya, dari mana pun, siapa pun, dalam bentuk apa pun, dengan biaya apa pun untuk meningkatkan intelek dan moralnya dalam rangka mengembangkan dan membersihkan jiwanya dan mengikuti jalan kebaikan.46
Secara etimologi peserta didik adalah anak didik yang mendapat pengajaran ilmu. Secara terminologi peserta didik adalah anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran.
Murid atau anak didik adalah salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar-mengajar. Di dalam proses belajar-mengajar, murid sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal. Murid akan menjadi faktor penentu, sehingga dapat mempengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya.
Murid atau anak adalah pribadi yang “unik” yang mempunyai potensi dan mengalami proses berkembang. Dalam proses berkembang
45 Dep. Pend. Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
1990), hlm. 601.
46 Shafique Ali Khan, Filsafat Pendidikan Al-Ghazali, (Bandung: Pustaka Setia, 2005),
itu anak atau murid membutuhkan bantuan yang sifat dan coraknya tidak ditentukan oleh guru tetapi oleh anak itu sendiri, dalam suatu kehidupan bersama dengan individu-individu yang lain.47
Berdasarkan hal tersebut secara singkat dapat dikatakan bahwa setiap peserta didik memiliki eksistensi atau kehadiran dalam sebuah lingkungan, seperti halnya sekolah, keluarga, pesantren bahkan dalam lingkungan masyarakat. Dalam proses ini peserta didik akan banyak sekali menerima bantuan yang mungkin tidak disadarinya, sebagai contoh seorang peserta didik mendapatkan buku pelajaran tertentu yang ia beli dari sebuah toko buku. Dapat anda bayangkan betapa banyak hal yang telah dilakukan orang lain dalam proses pembuatan dan pendistribusian buku tersebut, mulai dari pengetikan, penyetakan, hingga penjualan.
Dengan diakuinya keberadaan seorang peserta didik dalam konteks kehadiran dan keindividuannya, maka tugas dari seorang pendidik adalah memberikan bantuan, arahan dan bimbingan kepada peserta didik menuju kesempurnaan atau kedewasaannya sesuai dengan kedewasaannya. Dalam konteks ini seorang pendidik harus mengetahuai ciri-ciri dari peserta didik tersebut.
1) Ciri-ciri peserta didik:
a) kelemahan dan ketakberdayaannya b) berkemauan keras untuk berkembang
c) ingin menjadi diri sendiri (memperoleh kemampuan).48
2) Kriteria peserta didik:
Deskripsi kriteria peserta didik menurut Syamsul nizar, yaitu:
a. peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri
b. peserta didik memiliki periodasi perkembangan dan pertumbuhan
47 Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi
Aksara, 1995), hlm. 268.
48 Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Cet. II, (Jakarta: PT Rineka Cipta,
c. peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individu baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada.
d. peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memiliki daya fisik, dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu
e. peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.49 3. Peran Guru di era teknologi informasi
Guru di era global adalah guru yang mempunyai tugas memberikan pendidikan bermutu secara profesional. Begitu juga sekarang dengan bangsa kita, yang sedang menyiapkan diri untuk memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Cirinya yaitu memiliki kemampuan dalam menguasai keahlian dalam suatu bidang yang berkaitan dengan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), mampu bekerja secara professional dengan orientasi mutu dan keunggulan, dan dapat menghasilkan karya-karya unggul yang mampu bersaing secara global sebagai hasil dari keahlian. Sebagai tenaga pendidikan, guru profesional tidak lepas dari pencitraan yang diberikan dari orang lain.
Dalam kehidupan bermasyarakat di era global ini, guru di satu sisi diharapkan lebih bermoral dan berakhlak daripada masyarakat umum, tetapi di sisi lain muncul problem baru sebagai tantangan manakala guru tidak memiliki kemampuan materi untuk memiliki segala akses dan jaringan informasi seperti TV, buku-buku, majalah, koran, dan internet untuk meningkatkan profesionalnya sekaligus memperkaya informasi mengenai perkembangan pengetahuan dan berbagai dinamika kehidupan global, sehingga sangat sulit dibayangkan guru dapat tampil lebih professional dan memiliki tanggungjawab oral profesi sebagai konsekuensinya di era global ini.50
49 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006), hlm. 77
50 Noviana Tri Lestari, “Peran Guru dalam Era Globalisasi”, dalam
Menghadapi tantangan yang demikian, diperlukan guru yang benar-benar profesional. Dalam konteks ini Makagiansar menawarkan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru guna menghadapi era global, yaitu: 1) Kemampuan antisipasi
Seorang pendidik harus mampu mengantisipasi dan mencegah terjadinya masalah baik dalam proses pembelajaran maupun diluar pembelajaran. 2) Kemampuan mengenali dan mengatasi masalah
Seorang pendidik perlu melakukan pendekatan terhadap peserta didiknya untuk dapat mengenali dan mengidentifikasi masalah yang dihadapi peserta didiknya.
3) Kemampuan mengakomodasi
Seorang pendidik harus mampu mengakomodasi perbedaan51 yang
terdapat pada peserta didiknya. 4) Kemampuan melakukan reorientasi
Pendidik harus mampu melakukan reorientasi, yaitu meninjau kembali suatu wawasan dan menentukan dan membuat peserta didiknya yakin dan termotivasi untuk mencapai tujuan tersebut.
5) Kompetensi generic (generic competences)
Kemampuan ini harus dimiliki seorang pendidik yang didalamnya mencakup strategi kognitif, dan dapat pula dikenal dengan sebutan kemampuan kunci-kunci, inti (core skill), essensial, dan dasar.
6) Keterampilan mengatur diri (managing self skills)
Mendorong diri sendiri untuk mau mengatur semua unsur kemampuan pribadi, mengendalikan kemauan untuk mencapai hal-hal yang baik, dan mengembangkan berbagai segi dari kehidupan pribadi agar lebih sempurna.
7) Keterampilan berkomunikasi (communicating skills)
Untuk mampu membina hubungan yang sehat dimana saja, di lingkungan sosial, sekolah, usaha dan perkantoran, atau dimana saja.
21 June 2012| 02:05 WIB, di unduh: 15 Oktober 2013| 17:44 WIB.
51 Perbedaan disini dapat berupa kebutuhan antara satu individu dengan individu lain,
8) Kemampuan mengelola orang dan tugas (ability of managing people and tasks)
Untuk mampu mengelola peserta didiknya sekaligus tugas keguruannya agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
9) Kemampuan mobilisasi pengembangan dan perubahan (mobilizing innovation and change)
Guru berfungsi melakukan kegiatan kreatif, menemukan strategi, metode, cara-cara, atau konsep-konsep yang baru dalam pengajaran agar pembelajaran bermakna dan melahirkan pendidikan yang berkualitas.
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta semangat kompetetif juga merupakan hal penting bagi guru-guru yang profesional karena diharapkan mereka dapat membawa peserta didik mengarungi dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sangat kompetitif. Di era global, karakteristik guru harus jelas dan tegas dipertahankan, antara lain:
a) Memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang mumpuni52
b) Memiliki kepribadian yang kuat dan baik
c) Memiliki keterampilan membangkitkan minat peserta didik dalam bidang IPTEK
Setidaknya ada empat prasyarat bagi seorang guru agar dapat bekerja profesional, yaitu:
1) Kemampuan guru mengolah/ menyiasati kurikulum
2) Kemampuan guru mengaitkan materi kurikulum dengan lingkungan 3) Kemampuan guru memotivasi siswa untuk belajar sendiri
4) Kemampuan guru untuk mengintegrasikan berbagai mata pelajaran menjadi kesatuan konsep yang utuh (perlu adanya pembelajaran terpadu).53
4. Sikap dan perilaku murid dalam pendidikan Islami a. Sikap murid
52 Mumpuni; mampu melaksanakan tugas dengan baik (tanpa bantuan dari orang lain);
menguasai keahlian (kecakapan, keterampilan) tinggi. “Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI); Kamus Versi Online/daring (dalam jaringan)”, dalam http://kbbi.web.id/mumpuni, diakses: 15/10/2013| 19:53 WIB
Secara historis istilah “sikap” (attitude) digunakan pertama kali oleh Herbert Spencer di tahun 1862 yang pada saat itu diartikan sebagai status mental seseorang. Di masa-masa awal itu pula penggunaan konsep sikap yang sering dikaitkan dengan konsep mengenai posisi tubuh seseorang.54
Dalam konteks sikap ini menurut Stephen R. Covey (1989) ada tiga teori determinisme yang diterima secara luas, baik sendiri-sendiri maupun kombinasi, untuk menjelaskan sikap manusia yaitu:
1) Determinisme genetic (genetic determinisme); 2) Determinisme psikis (psycic determinisme); dan
3) Determinisme lingkungan (environmental determenisme)
Determinisme genetic (genetic determinisme) berpendapat bahwa sikap individu ditirukan oleh sikap kakek neneknya, itulah sebabnya seseorang memiliki sikap dan tabiat seperti nenek moyangnya. Determinisme psikis (psycic determinisme) berpendapat bahwa sikap merupakan dari hasil perlakuan, pola asuh, atau pendidikan orang tua yang diberikan kepada anaknya. Determinisme lingkungan (environmental determenisme) berpendapat bahwa perkembangan sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan individu itu tinggal dan bagaimana lingkungan memperlakukan individu tersebut. Bagaimana atasan memperlakukan kita, sebagaimana pasangan kita situasi ekonomi atau kebijakan-kebijakan pemerintah semuanya membentuk sikap individu.55
54 Saifuddin Azwar, Sikap Manusia Teori Dan Pengukurannya, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2003), hlm. 3-4
55 Ali Muhammad, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT. Bumi
b. Perilaku Murid (Peserta didik)
Bimo Walgito mengartikan perilaku sebagai aktivitas-aktivitas individu dalam artian segala sesuatu yang dikerjakan oleh individu.56 Selain
itu Moekijat juga berpendapat bahwa perilaku pada dasarnya ditunjukkan untuk mencapai sebuah tujuan. Sedangkan dalam tujuan tertentu tidak selalu diikuti secara sadar oleh seseorang individu.57 Sebelum dikemukakan
tentang perilaku atau kode etik murid, terlebih dahulu perlu dipahami definisi murid dalam pendidikan Islam.
Murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa Arab dikenal dengan tiga istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan pada anak didik. Tiga istilah tersebut adalah murid yang secara harfiah berarti orang yang menginginkan atau membutuhkan sesuatu, tilmidz (jamaknya) talmidz yang berarti murid, thalib al-ilmi yang menuntut ilmu, pelajar atau mahasiswa.58
Ketiga istilah tersebut mengacu pada seorang yang menempuh pendidikan. Perbedaan terletak kepada penggunaannya. Berdasarkan pengertian tersebut maka anak didik dapat dicirikan sebagai seorang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.59
Dalam paradigma pendidikan Islam, murid atau juga dinamakan dengan peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi dasar (fitrah) yang perlu dikembangkan.60 Peserta didik
merupakan “Raw Material” (bahan mentah) dalam proses transformasi dalam pendidikan.61 Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.62 Peserta didik sebagai
komponen yang tidak dapat terlepas dari sistem pendidikan sehingga dapat
56 Bimo Walgito, Psikologi Sosial, (Yogyakarta: Andi Yogyakarta, 2003), hlm. 13 57 Moekijat, Dasar-Dasar Motivasi, (Bandung: CV. Pionir Jaya, 2002), hlm. 14
58 Abudinata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Medika Pertama, 2005), hlm. 131 59Ibid., hlm. 132
60 Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2011), hlm. 119 61 Ramayulis dan Syamsul Nizar . Filsafat... hlm.169
62 Pasal 1 ayat 4, Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan
dikatakan bahwa peserta didik merupakan obyek pendidikan tersebut.63
Secara sederhana pendidik dapat didefinisikan sebagai anak yang belum memiliki kedewasaan dan memerlukan orang lain untuk mendidiknya sehingga menjadi individu yang dewasa, memiliki jiwa spiritual, aktifitas dan kreatifitas sendiri.
Dalam upaya mencapai tujuan pendidikan Islam pendidik hendaknya memahami potensi, dimensi dan kebutuhan peserta didik. Demikian pula peserta didik hendaknya di tuntut memiliki dan menanamkan sifat-sifat yang baik dalam diri dan kepribadiannya.
Imam al-Gazali merumuskan sebelas kode etik yang harus dimiliki oleh peserta didik yaitu:
a. Belajar dengan nilai ibadah dalam rangka taqarrub kepada Allah Swt. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik di tuntut untuk menyucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercelah dan mengisi dengan akhlak yang terpuji.
b. Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi. Artinya belajar tak semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi belajar ingin berjihad melawan kebodohan demi tercapainya derajat kemanusiaan yang tinggi baik dihadapan manusia dan Allah Swt. c. Bersikap tawadhu (rendah hati) dengan cara menanggalkan kepentingan
pribadi untuk kepentingan pendidikannya sekalipun ia cerdas.
d. Menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran, sehingga ia terfokus dan dapat memperoleh satu kompetensi yang utuh dan mendalam dalam belajar.
e. Mempelajari ilmu yang terpuji, baik ilmu umum maupun ilmu agama f. Belajar dengan bertahap dan berjenjang.
g. Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya.
63 Peserta didik merupakan individu yang belum dewasa. Anak kandung adalah
h. Memahami nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari. i. Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
j. Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan yaitu ilmu yang dapat membahagiakan serta memberi keselamatan dunia akhirat. k. Harus tunduk dan patuh pada nasehat pendidik sebagaimana tunduknya
orang sakit terhadap dokternya, mengikuti segala prosedur dan metode mazhab yang dianjurkan pendidik pada umumnya.64
Selain kode etik diatas, Abudin Nata juga menambahkan bahwa dalam menerima ilmu, anak didik harus mempunyai beberapa akhlak sebagai berikut:
a. Anak didik harus bersih hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa sebelum ia menuntut ilmu.
b. Seorang anak didik harus mempunyai tujuan dalam menuntut ilmu. c. Seorang pelajar harus tabah dalam menuntut ilmu.65
Uraian kode etik peserta didik tersebut adalah bertujuan sebagai standar tingkah laku yang dapat dijadikan pedoman bagi peserta didik dalam belajar, disisi lain berkaitan pula dengan etika peserta didik dalam hubungannya dengan sesama peserta didik.
Dari kode etik pendidik dan peserta didik tersebut di atas keterkaitannya yaitu bahwa anak didik merupakan individu yang akan dipenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan, sikap dan tingkah lakunya, sedangkan pendidik adalah individu yang akan memenuhi kebutuhan tadi, akan tetapi dalam proses kehidupan dan pendidikan secara umum, batas antara keduanya sangat sulit ditentukan, karena adanya saling mengisi dan saling membantu, saling meniru dan ditiru, saling memberi dan menerima informasi yang dihasilkan, akibat dari komunikasi yang dimulai dari kepekaan indra, pikiran, daya apresiasi dan keterampilan untuk melakukan
64 Siti Maulidah, “Kode Etik Peserta Didik dalam Belajar”, dalam Website
http://hadyamaulida.blogspot.com/2009/12/kode-etik-peserta-didik-dalam-belajar.html, upload, Rabu, 16 Desember 2009, di unduh, Jum’at 11 Oktober 2013; 10:59 Wib
sesuatu yang mendorong internaslisasi dan individualisasi pada diri individu sendiri.66
III. PENUTUP
Seorang guru memang sudah sepatutnya tidak hanya menjadi sebagai pengajar saja, lebih dari itu, sebagai seorang guru kepada murid atau anak didiknya harus bisa menjadi manusia yang mumpuni dalam segala hal, karena selain sebagai pengajar, seorang guru juga harus menjadi pendidik, pembimbing, penasehat, pemerhati, pengayom, dan yang tidak kalah penting adalah guru sebagai seorang suri tauladan dan juga sebagai orang tua bagi si anak didiknya. Oleh sebab itu, sebagai guru, perilaku, tutur kata, perbuatan dan semua aktivitas yang dilakukan dirinya haruslah baik dan sesuai dengan ajaran Islam, baik dilingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah. Seorang guru tidaklah boleh berpura-pura dalam bersikap, karena dibelakang guru, ada anak didik yang selalu menjadi pemerhati kepada gurunya.
Seorang guru haruslah merupakan suri tauladan yang baik sekaligus sebagai sumber inspirasi dan motivasi bagi anak didiknya, sehingga kreatifitas dan dorongan untuk semakin lebih maju selalu tumbuh dalam jiwa anak didik. Semangat yang selalu tumbuh dengan bimbingan dari guru yang memiliki suri tauladan yang baik serta selalu profesional dalam mendidik anak didiknya akan membuahkan hasil yang memuaskan tentunya. Lebih-lebih dijaman sekarang yang serba canggih, dimana IPTEK sudah tidak asing lagi di didengar, sudah barang tentu guru yang profesional akan semakin dibutuhkan. Tidak hanya dalam pengajaran ataupun pendidikannya saja yang harus profesional, lebih dari itu, seorang guru sekarang harus mampu menguasai kemampuan sesuai dengan permintaan dan perkembagan jaman. Sehingga pengajaran yang dilakukan selalu bermakna dan melahirkan anak didik yang selalu berkualitas sesuai permintaan jaman serta menjadi anak-anak yang mencapai rahmatan lil ‘alamin.
66 Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Kajian Filosofis dan
DAFTAR PUSTAKA
Abudinata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Medika Pertama, 2005) Ahmadi, A. dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Cet. II, (Jakarta: PT Rineka
Cipta, 2006)
Al-Hasyimi, S.A., Terjemah Mukhtarul Hadits, Perty : Mahmud Zaini, (Jakarta: Bulan Bintang, tt.)
Al-Jumbulati, A., Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam,
(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1990)
Azwar, Saifuddin, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003)
Baharits, A.H.S., Mendidik Anak Laki-laki, (Jakarta: Gema Insani, 2007)
Basri, H. dan Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam (Jilid II), (Bandung: Pustaka setia, 2010)
Daradjat, Zakiah, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995)
Dep. Pend. Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990)
Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Pelita II, 1979)
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: PT. Sygma Examedia Arkamlema, 2009)
Djamarah, S.B., Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000)
Drost, J.I.G.M., Sekolah: Mengajar atau Mendidik?, (Yogyakarta: Kanisius, 2008)
Farid, Ahmad, Etika Guru dalam Pendidikan Islam; Telaah Terhadap Hadits Larangan Menerima Upah Bagi Guru, (Yogyakarta:Tesis UIN Sunan Kalijaga, 2004)
Khan, S.A., Filsafat Pendidikan Al-Ghazali, (Bandung: Pustaka Setia, 2005) Lestari, N.T., “Peran Guru dalam Era Globalisasi”, dalam
http://m.kompasiana.com/post/edukasi/2012/06/21/peran-guru-dalam-era-globalisasi/, di Upload: 21 June 2012| 02:05 WIB, di unduh: 15 Oktober 2013| 17:44 WIB.
Ma’luf, Louis, Al Munjid fi al Lughat wal Ilm, (Beirut: Darul Masyriq, 1986) Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Sunan Kalijaga, 2010) Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: N.V. Alma’arif,
1980)
Maulidah, Siti, “Kode Etik Peserta Didik dalam Belajar”, dalam Website
http://hadyamaulida.blogspot.com/2009/12/kode-etik-peserta-didik-dalam-belajar.html, upload, Rabu, 16 Desember 2009, di unduh, Jum’at 11 Oktober 2013; 10:59 Wib
Moekijat, Dasar-dasar Motivasi, (Bandung: CV. Pionir Jaya, 2002)
Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya), (ttp.Trigenda Karya,1993)
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002)
Muhammad, Ali, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2004)
Mujib, Abdul, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006) Nuryanto, M.A., “Isu-Isu Kritis dalam Pendidikan Islam (Perspektif Paedagogik
Kritis)” dalam Hermeneia Jurnal Kajian Islam Interdisipliner, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Volume 9, Nomor 2 Desember 2010
“Peran dan Fungsi Guru” dalam website, http://edukasi.kompasiana.com /2012/07/18/. Diakses, 19 July 2012 | 02:14
Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Departemen Pendidikan Nasional Indonesia, 2002)
Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991)
Ramayulis dan Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010) Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006)
Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1994)
Ubiyati, Nur, Ilmu Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 1997)
Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dalam pdf, (Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586)
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional,
(Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2003)
Walgito, Bimo, Psikologi Sosial, (Yogyakarta: Andi Yogyakarta, 2003)
Yasin, A. F., Dimensi-dimensi Pendidikan Islam, (Malang: UIN-Malang Press, 2008)