• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Penguatan Industri Kecil dalam Men

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Model Penguatan Industri Kecil dalam Men"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

33 | J u r n a l S e n i R u p a & D e s a i n V o l 2 N o 1 2 0 1 2

Model Penguatan Industri Kecil

dalam Menghadapi Perkembangan Industri

Kreatif (Studi Kasus: Industri Kecil Pakaian di

Desa Suka Mulya Soreang)

Oleh: Sri Martini

Program Studi Desain Produk STISI Telkom

email : [email protected]

Abstract

The purpose of this study was to provide reinforcement to the small industrial apparel in the village of Suka Mulya Soreang. so that their product can compete better in the market. Strengthening global scope will include the strengthening of the management, design, production and operation. Implementation of this program using quantitative analytical descriptive approach. Data collection through literature studies, in-depth interviews, Forum Group discution (FGD), and workshops. with the managerial aptitude and ability of imagination as well as increased technical and operating skills in visualizing poduk with good quality, then the long-term strengthening is expected to strengthen the bargaining position of small entrepreneurs apparel, so that the resulting product can compete better in the market and the will indirectly impact on the welfare of the community as it can open up wider job opportunities thus helping alleviate unemployment.

Keywords: Reinforcement Model, Garment, Small Industries, Creative Industries

Latar Belakang Masalah

Berbagai masalah dapat saja dihadapi oleh industri kecil, misalkan saja kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar; kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan; kelemahan di bidang organisasi dan

manajemen sumber daya manusia;

keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran); iklim usaha yang kurang kondusif, karena persaingan yang saling

mematikan; pembinaan yang telah

dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian

masyarakat terhadap usaha kecil; dan sebagainya.

Industri produk tekstil, termasuk industri mayoritas di Kabupaten Bandung, Dari 20 jenis komoditi yang diekspor pada tahun

2010, menunjukkan bahwa industri

produk tekstil merupakan industri yang

menduduki peringkat teratas dalam

mengekspor produknya. Oleh sebab itu, produksi sektor produk tekstil sangat berpeluang untuk dikembangkan. Salah satu industri produk tekstil adalah industri pakaian jadi yang banyak diproduksi oleh industri dengan skala kecil.

(3)

34 | S r i M a r t i n i : M o d e l P e n g u a t a n I n d u s t r i K e c i l d a l a m M e n g h a d a p i P e r k e m b a n g a n I n d u s t r i K r e a t i f ( S t u d i K a s u : I n d u s t r i K e c i l P a k a i a n d i D e s a S u k a M u l y a S o r e a n g

wilayah, industri kecil pakaian jadi Kabupaten Soreang dihadapkan pada persaingan dan kerjasama.

Dalam mensikapi dinamika persaingan. Pengusaha dituntut untuk meningkatkan

aspek yang dapat mendukung

pengembangan usahanya agar

mempunyai prospek yang lebih baik dan

mampu bersaing dipasar. Namun

demikian dalam prakteknya, sebagian

besar kalangan pengusaha industri,

khususnya untuk kelompok usaha kecil dan menengah masih memiliki kesulitan dalam memperoleh kesempatan yang berkaitan dengan peluang pasar, dan

pengembangan kapasitas usahanya

dikarenakan sistem penanganannya yang kurang maksimal, baik pada sistem manajemen, desain, proses produksi, maupun hasil produksinya. Demikian juga

sebagian besar kalangan pengusaha

industi kecil dan menengah tersebut belum dapat memanfaatkan peluang untuk bekerja sama atau bermitra dengan

industri lain sejenis yang mampu

menciptakan keuntungan kolektif.

Industri kecil menengah pakaian jadi Kabupaten Soreang ini, walaupun ruang lingkup usahanya relatif kecil, namun juga mempunyai peluang pasar yang tinggi, sekalipun hanya untuk konsumsi lokal. Biasanya kualitas produk yang dihasilkan oleh industri kecil dan menengah relatif

rendah. Namun tidak menutup

kemungkinan untuk diupayakan menjadi industri yang mempunyai kualitas tinggi agar dapat menembus pasar yang lebih baik. Untuk itu maka diperlukan upaya agar industri kecil dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik sehingga mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi, antara lain dengan perbaikan pada sistem operasi dan produksi secara menyeluruh (sistem manajemen, desain, proses dan hasil produksi).

Nilai Kreativitas

Didalam industri kreatif, kreativitas

memegang peranan sentral sebagai

sumber daya utama. Industri kreatif lebih

banyak membutuhkan sumber daya

kreatif yang berasal dari kreatifitas manusia daripada sumber daya fisik. Namun demikian, sumber daya fisik tetap diperlukan terutama dalam peranannya sebagai media kreatif.

Industri kreatif mengutamakan desain dalam penciptaan produk. Industri kreatif membutuhkan kreativitas individu sebagai input utama dalam proses penciptaan nilai.

Pemahaman rantai penciptaan nilai di dalam industri kreatif dapat membantu stakeholders untuk memahami posisi industri kreatif dalam rangkaian industri yang terkait dengan industri kreatif. Rantai nilai yang menjadi pokok perhatian

dalam menentukan strategi

pengembangan memiliki urutan linear. Penjabaran rantai penciptaan nilai sesuai dengan urutan linier adalah sebagai berikut :

1. Kreasi, terdiri dari; Edukasi, Inovasi, Ekspresi, Kepercayaan Diri, Pengalaman dan Proyek, Proteksi, Agen Talenta. 2. Produksi, terdiri dari; Teknologi,

Jaringan Outsourcing Jasa, Skema Pembiayaan

3. Distribusi, terdiri dari; Negosiasi Hak

Distribusi, Internasionalisasi,

Infrastruktur

4. Komersialisasi, terdiri dari; Pemasaran, Penjualan, Layanan (Services), Promosi

Metodologi Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang

(4)

35 | J u r n a l S e n i R u p a & D e s a i n V o l 2 N o 1 2 0 1 2

sebagai upaya peningkatan nilai tambah, produktivitas, inovasi, dan struktur. Pendekatan ini sekaligus memelihara eksistesi industri kecil yang potensial dan prospektif.

Paradigma Penguatan

Paradigma mengenai kompetensi untuk meningkatkan kualitas usaha melalui penerapan model penguatan usaha pada bidang rekayasa industri kreatif, berawal dari fakta yang menunjukkan banyaknya

pengangguran pada usia produktif;

potensi pengelolaan usaha industri kecil pakaian jadi di Kabupaten Bandung; mayoritas pengusaha di Desa Suka Mulya Soreang Kabupaten Bandung adalah pengusaha industri kecil jenis pakaian jadi; banyaknya produk-produk impor dari berbagai negara masuk ke Indonesia; produksi sektor produk tekstil sangat

berpeluang untuk dikembangkan;

produksi sektor produk tekstil

memberikan kontribusi besar dalam

penerimaan devisa Negara; dan

sebagainya, sehingga pengembangkan penguatan berbasis Industri Kreatif dipandang perlu untuk dilakukan degan

memadukan prinsip dan konsep

penguatan berupa pendekatan; strategi; metoda; teknik; dan taktik penguatan, dengan prinsip keilmuan lingkup industri

kreatif antara lain kemampuan

mengembangkan ide-ide baru dan

menerapkannya untuk menemukan cara-cara baru dalam memecahkan persoalan.

Rancangan Analisis

Identifikasi data yang berhasil digali dari

hasil wawancara, dicari sejauhmana

interes dari pengusaha untuk melakukan pengembangan usahanya dan dicari kendala apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan usahanya.

a. Sesuaikan dengan empirik dan konsep-konsep teori.

b. Menentukan model awal yang sesuai

untuk diterapkan kepada para

pengusaha.

c. Kemudian diujicobakan kepada

pelaksanaan kegiatan usaha, dan

hasilnya dianalisis kembali untuk penentuan model lanjutan.

d. Sosialisasi kompetensi berwawasan industri kreatif kepada para pengusaha industri kecil.

e. Analisis model yang diperoleh dari hasil usaha yang telah ditreatmen dan

dibandingkan dengan model

sebelumnya untuk dapat dipilih model penguatan yang sesuai.

Rancangan Penguatan

Pertama, dilakukan analisis terhadap profesi pelaku kegiatan bidang industri kreatif berikut ruang lingkup atau skop ilmu industri kreatif. Kedua, dilakukan perancangan program penguatan yang

didasarkan pada analisis kebutuhan

terhadap pengusaha dan materi

penguatan, kemudian Ketiga, didasarkan atas esensial industri kreatif, disusunlah

konsep-konsep penguatan sebagai

komponen atau bagian dari tujuan yang dapat mendukung pegembangkan model penguatan berwawasan industri kreatif yang mampu menghasilkan output berupa kompetensi usaha. Dan Keempat, dilakukan pengembangan program, yang merupakan kegiatan implementasi/ uji coba terbatas dari draft rancangan model penguatan berwawasan industri reatif, yang dievaluasi dan direvisi oleh pakar manajemen usaha, pakar desain, dan pakar industri dimana hasil uji coba ini

akan mengalami perbaikan hingga

(5)

36 | S r i M a r t i n i : M o d e l P e n g u a t a n I n d u s t r i K e c i l d a l a m M e n g h a d a p i P e r k e m b a n g a n I n d u s t r i K r e a t i f ( S t u d i K a s u : I n d u s t r i K e c i l P a k a i a n d i D e s a S u k a M u l y a S o r e a n g

Indikator Capaian

Pendampingan dilakukan terhadap para pelaku industri kecil dimaksudkan sebagai

dukungan terhadap peningkatan

kompetensi bidang manajemen, desain, proses produksi, dan hasil produksi. Adapun indikator keberhasilan penerapan penguatan dapat dilihat pada Tabel 1

Tabel 1 : Indikator Keberhasilan Penguatan

Aspek yang Diukur

Dampak Program Tingkat Keberhasilan

Manajemen Peserta memiliki kapabilitas manajerial

* Mampu menyusun business dan action plan.

* Mampu mengembangkan sistem evaluasi performansi pemasaran.

* Mempunyai kemampuan menangkap peluang.

Desain Peningkatan kemampuan imajinasi

*Mampu membuat desain (model) lebih fashionable

*Mampu menseraskani dalam memadu padankan bentuk, corak, warna, dan asesorisnya.

Proses Produksi Peningkatan keterampilan teknis, operasi, dalam memvisualisasikan poduk

* Hasil produksi lebih baik (size lebih akurat, waktu dan penggunaan bahan lebih efisien).

Hasil produksi Produk lebih marketable *Terbukanya akses pasar yang lebih luas termasuk pasar global.

* Pemintaan meningkat. * Perkuatan pada posisi tawar.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Soreang merupakan salah satu wilayah yang secara administratif di bawah

kewenangan Pemerintah Kabupaten

Bandung. Wilayah ini terdiri dari beberapa desa antara lain adalah desa Sukamulya. Hampir 30% dari total jumlah penduduk di

wilayah tersebut menekuni usaha

konveksi pakaian jadi. Mengacu pada Dokumen Potensi dan Pembangunan Sektor Industri dan Perdagangan di Kabupaten Bandung pada era pasar bebas saat ini, banyak terjadi perubahan yang sangat cepat pada kegiatan sektor industri manufaktur, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dengan adanya produk impor mudah masuk ke pasar lokal, dapat menjadikan satu sisi sebagai ancaman dan juga disisi lain sebagai peluang, karena di dalamnya terkandung

muatan persaingan baik domestik

maupun internasional yang cukup berarti. Berbasis pada kondisi tersebut di atas, dan dalam rangka menjadi salah satu media solusi untuk mengoptimalkan pasar dalam negeri bagi produk tekstil nasional, maka upaya penguatan industri tekstil untuk mampu mengisi pasar domestik perlu dilakukan, antara lain berupa

penyelenggaraan pembinaan dan

pengembangan kapasitas industri kecil untuk memproduksi produk berkualitas baik.

Hasil Produksi

Jenis produk utama yang dihasilkan dari usaha konveksi Desa Sukamulya ini adalah

berupa pakaian jadi yang dapat

(6)

37 | J u r n a l S e n i R u p a & D e s a i n V o l 2 N o 1 2 0 1 2

a. Pengusahaan produk jenis levis dan

kasual. Sekitar 50% pengusaha

memproduksi busana pria khususnya jenis celana levis, dimana kurang lebih 20% dari mereka telah memiliki alat untuk washing, serta sisanya belum memiliki sehingga mereka perlu dukungan pihak lain yang memberikan pelayanan jasa washing.

Jasa washing biasanya berada

diwilayah sekitar usaha mereka yaitu Soreang. Selain itu biasanya dalam

produk berbahan baku levis

menggunakan asesoris-asesoris kecil yang dibordir, maka sebagian dari para pengusaha tersebut mempunyai mesin bordir. Bahkan beberapa dari mereka, kepemilikan mesin bordir

tersebut dijadikan lahan usaha

tambahan yaitu penyediaan jasa bordir bagi pengusaha lain yang memerlukannya. Selain menyediakan jasa bordir, pengusaha produk jenis

levis ini juga memiliki usaha

sampingan yaitu sablon, karena beberapa dari mereka telah memiliki mesin sablon. Hal ini dikarenakan

beberapa produknya perlu

menggunakan aplikasi yang disablon, sehingga mesin sablon yang mereka miliki, mereka jadikan sebagai alat mendukung penyedia jasa sablon.

b. Pengusaha produk jenis busana

muslim. Sekitar 35% pengusaha

konveksi Desa Sukamulya

memproduksi jenis busana muslim ini. Mereka memproduksi produknya berdasarkan pesanan maupun stock order. Sama seperti para pengusaha jenis levis, para pengusaha jenis busana muslim juga mempunyai

produk sampingan yang dapat

mereka garap dan dapat menjadikan added value bagi perekonomian

mereka. Rata-rata produk yang

mereka buat menggunakan aplikasi yang dibordir, sehingga sebagian

pengusaha jenis ini juga memiliki mesin bordir sendiri. Namun seiring dengan berjalannya waktu, mesin bordir yang mereka miliki (mesin bordir konvensional), tergeser oleh

mesin bordir yang dioperasikan

menggunakan komputer/ digital,

sehingga banyak dari para pengusaha tersebut beralih menggunakan jasa bordir komputer. Bordir dengan

menggunakan komputer ini

disamping produk yang dihasilkan lebih rapi, juga operasi kerjanya cepat.

c. Pengusaha produk jenis lainnya.

Pengusaha jenis ini membuat produk misalkan jenis produk berbahan baku kaos, katun, dan denim. Produk yang dihasilkan dapat berupa leging dan busana. Busana yang dibuat berupa busana dewasa atau busana anak dan jenis kasual. Selain itu, pengusaha jenis ini dapat juga hanya merupakan pengusana murni jasa yakni jasa bordir.

Gambar 1 : Klasifikasi Pengusaha Menurut Jenis Usaha

Wilayah Pemasaran

Wilayah pemasaran produk yang dibuat oleh ketiga jenis pengusaha tersebut di atas adalah meliputi wilayah Kabupaten Bandung, Bandung dan sekitarnya, dan luar Kota Bandung, dan bahkan luar Pulau Jawa, antara lain:

a. Kabupaten Bandung, Kota Bandung

dan sekitarnya: Batu Jajar,

Padalarang, Cililin, Soreang,

67%

20% 13%

(7)

38 | S r i M a r t i n i : M o d e l P e n g u a t a n I n d u s t r i K e c i l d a l a m M e n g h a d a p i P e r k e m b a n g a n I n d u s t r i K r e a t i f ( S t u d i K a s u : I n d u s t r i K e c i l P a k a i a n d i D e s a S u k a M u l y a S o r e a n g

Sumedang, Pasar Ujung Berung, Pasar dayeuh Kolot, Lembang, Pangalengan, Ciwidey, Pasar Baru, Cicaheum, Pasar Andir, Pasar Cicalengka, Majalaya, dan Ciparay.

b. Di Kota di luar Kota Bandung: Cimahi, Garut, Tasikmalaya, Cirebon (Tegal

Gubuk), Cikampek, Sukabumi,

Subang, Cianjur, Garut, Jakarta, (Cipulir, Tanah Abang), Purwakarta, Jawa Tengah (Solo), dan Jawa Timur (Surabaya).

c. Di luar Pulau Jawa: Aceh dan Makasar

Bahan Baku dan Pendukung

Bahan baku utama yang dibutuhkan oleh para pengusaha tergantung dari jenis produk yang mereka buat, namun demikian untuk perolehan bahan baku, para pengusaha memperolehnya hanya dari wilayah sekitar perusahaan. Hal ini dikarenakan bahan baku yang dibeli hanya

dalam jumlah sedikit (pembelian

dilakukan sesuai dengan kapasitas

produksi), sehingga dengan pertimbangan besarnya ongkos yang dibutuhkan untuk

pengadaan tersebut dianggap tidak

sebanding dengan jumlah bahan yang dibeli.

Jenis bahan-bahan baku tersebut antara lain bahan polyester, bahan kaos dari berbagai jenis (Tetoron Catoon), katun, bahan jean, dan sebagainya yang didapat dari pusat-pusat tekstil yang berada disekitar perusahaan antara lain: dari Cigondewah dan Tamim.

Kebutuhan bahan pendukung seperti resluiting, kancing, gesper, spoon, benang jahit, benang karet, kain keras, dapat dipenuhi dengan mudah dari toko-toko di Wilayah Soreang dan Kota Bandung.

Kualitas dan Segmentasi

Kualitas produk yang dibuat oleh para pengusaha pakaian jadi di wilayah Soreang ini termasuk produk dengan

kategori sedang, dan mempunyai

segmentasi pasar pada kelas menengah-bawah. Harga produk bervariasi mulai dari Rp. 10.000,- hingga Rp. 120.000,- per pieces.

Instansi/ Jasa Terkait, dan Pemodalan

Pada saat ini para pengusaha di wilayah penelitian tersebut menjalankan usahanya secara swakelola. Modal didapat dari sumber yang bervariasi antara lain dari pribadi, pinjaman dari (keluarga, teman, orang tua, koperasi, dan perbankan). Namun keterlibatan dengan pihak lainnya seperti perbankan relatif jarang dilakukan, karena prosedur perbankan yang

diberlakukan dianggap menyulitkan para pengusaha.

Tenaga kerja

Tenaga kerja di wilayah penelitian cukup

tersedia dari masyarakat sekitar

perusahaan, walaupun ada beberapa dari daerah lain misalnya dari Cianjur, Ciwidey, Cililin, dan Tasikmalaya. Jumlah tenaga

yang dipekerjakan pada setiap

perusahaan adalah sekitar 2 (dua) sampai dengan 11 (enam) orang, dan didominasi oleh tenaga kerja laki-laki. Namun

beberapa pengusaha mengerjakan

usahanya/ dijalankan sendiri. Rata-rata tingkat pendidikan mereka adalah Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), hanya sebagian kecil yang tamat Sekolah Mengengah Atas (SMA).

80%

20%

Laki-laki Perempuan

(8)

39 | J u r n a l S e n i R u p a & D e s a i n V o l 2 N o 1 2 0 1 2

Beberapa tahun lalu, untuk tenaga khusus ahli bordir masih memanfaatkan tenaga ahli khusus dari Tasikmalaya, namun sekarang karena banyak bermunculan bordir computer, maka tenaga khusus ahli bordir dapat dikatakan sudah tidak ada. Tenaga kerja tersebut pada umumnya

belajar teknik menjahit secara langsung dari temannya atau dari saudaranya.

Proses Produksi

Proses produksi usaha konveksi dilakukan hampir sama untuk berbagai jenis

prodrusi, meliputi : perancangan,

pembelian bahan baku, pembuatan pola dan pemotongan bahan, pemeriksaan

kualitas (quality control), serta

pengepakan dan pemasaran. Kecuali untuk pengusaha yang bergerak di bidang jasa seperti jasa washing, bordir. Alur produksi untuk produk manufaktur, lebih jelas dapat dilihat pada taditampilkan dalam gambar berikut:

Gambar 4 : Proses Produksi Konveksi

TEMUAN DAN KESIMPULAN

Usaha konveksi ini merupakan usaha yang diwariskan secara turun temurun, dan saat ini dikelola oleh generasi ketiga dari para pendirinya. Pola manajemen yang diterapkan pada industri kecil konveksi ini

masih sangat sederhana dan bersifat

kekeluargaan. Namun pimpinan

perusahaan berusaha mengadakan

pengembangan sistem manajemenya ke arah yang lebih baik, misal dalam hal pengusaan teknologi, metode produksi, 89%

10% 1%

SD SMP SMA

Gambar 3 : Persentasi Jumlah Tenaga Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Perancangan

Pembuatan pola Pembelian bahan baku

Pemotongan

Bandung dan sekitarnya

Luar Kota Bandung

Proses Bordir

Proses Jahit

Jasa Bordir

Bordir sendiri

Pemasangan asesoris

Bandung dan sekitarnya

Luar Kota Bandung

Penyeterikaan Pemeriksaan/QC

Pengepakan Pemasaran Bandung dan sekitarnya

Luar Kota Bandung

(9)

41 | J u r n a l S e n i R u p a & D e s a i n V o l 2 N o 1 2 0 1 2

keterampilan, dan sebagainya. Saat ini wilayah pemasaran produk meliputi pasar Tanah Abang (Jakarta), serta pasar-pasar lainnya dibeberapa kota di Jawa Barat,

seperti Bandung, Subang, Cianjur,

Cipanas, Indramayu, Garut, dan lain-lain. Investasi yang dimiliki industri kecil pakaian ini masih sangat minim, baik dari segi fasilitas maupun modal usaha. Untuk modal usaha diperoleh dari dana sendiri/

busana muslim, pakain formal

(blouse/kemeja, celana, dan formal wear). Karakteristik khusus dari industri kecil tersebut terletak pada pemanfaatan

bahan baku kain secara umum

(katun/polyester) dengan kapasitas

produksi yang dapat dihasilkan oleh industri kecil ini kurang lebih adalah 1000 lusin setiap tahunnya.

Pada masa sebelumnya, konveksi Wilayah Desa sukamulya ini pernah dibentuk sebuah koperasi pengusaha konveksi. Namun saat ini Koperasi tersebut sudah tidak berjalan dan diharapkan ke depan

akan dijalankan kembali dengan

kepengurusan baru.

Para pengusaha berharap agar pihak pemerintah ataupun instansi terkait

lainnya dapat membantu dalam

pemasaran produk, baik bantuan secara langsung ataupun tidak langsung misalnya menjadi fasilitator agar dapat bekerja

sama/bermitra dalam jangka waktu

panjang dengan pengusaha besar terkait, dan membantu menjamin kestabilan harga bahan baku dan harga jual. Dan juga berharap agar Pemerintah Kabupaten Bandung mengadopsi program yang dibuat Pemerintah Kota Tasik, yaitu

menyediakan dana talangan untuk

pembelian kios di Pasar Tanah Abang,

sehingga diharapkan ada pasar Soreang di

Tanah Abang serta membantu

mempatenkan merek produk, mengingat selama ini sering terjadi pembajakan merek produk.

Diharapkan terdapat peluang yang dapat dilakukan/ kerjasama antara industri kain sebagai produsen bahan baku, dengan pengusaha konveski Desa Sukamulya, dan diharapkan pembayaran dapat dilakukan setiap akhir tahun mengingat pemodalan yang dimiliki para pengusaha masih kurang memadai.

Terdapat peluang dilakukan kerjasama dengan industri garmen dengan pola sub kontrak, hanya saja perlu peningkatan skill tenaga kerja yang memadai produk yang dihasilkan dapat sesuai dengan spesifikasi industri garmen.

Dalam perkembangannya, terjadi

ketidakseimbangan antara pertumbuhan jumlah pengusaha dengan pertumbuhan permintaan. Kondisi tersebut menjadikan

posisi tawar (bargaining position)

pengusaha menjadi lemah dibanding

pedagang perantara (grosir) dan

diperlukan modal kerja tiga atau empat putaran untuk menjalankan usaha ini. Hal demikian merupakan dampak dari posisi tawar pengusaha yang lemah.

Untuk mendapatkan pasar, sering kali terjadi praktek persaingan yang tidak

sehat seperti permainan dalam

penentuan harga. Bagi industri dengan modal besar, bahan baku dan bahan pendukungnya dibeli dengan ukuran besar, sehingga dengan harga pembelian yang lebih murah dapat juga membantu

menurunkan harga jual, dimana

penurunan harga jual tersebut merupakan

ancaman bagi kelangsungan usaha

konveksi di desa Sukamulya.

(10)

42 | S r i M a r t i n i : M o d e l P e n g u a t a n I n d u s t r i K e c i l d a l a m M e n g h a d a p i P e r k e m b a n g a n I n d u s t r i K r e a t i f ( S t u d i K a s u : I n d u s t r i K e c i l P a k a i a n d i D e s a S u k a M u l y a S o r e a n g

relatif kecil didukung oleh pembayaran dri pedagang perantara sering dilakukan dengan jangka waktu tertentu sehingga untuk memproduksi produk berikutnya harus menunggu pembayaran dari para

pedagang perantara tersebut atau

meminjam dulu dari pihak lain.

Daftar Pustaka

Tim Indonesia Design Power, (2008). Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025. Studi Industri Kreatif ndonesia. Departement Perdagangan RI.

Jones, Christopher. 1970. Design

Methods. Toronto: Wiley & Sons Ltd. Suryana. (2006). Kewirausahaan. Jakarta : Salemba Empat.

Afendi, Yusuf., (1976), Pengantar Singkat Mengenai Dasar-Dasar Desain, Bandung, FSRD ITB.

Davis, Marian L., (1979), Visual Desain in Dress, Prentice Hall, Newjersey.

Ryanto, A. Arifah., (2003), Teori Busana,

Gambar

Tabel  1 : Indikator Keberhasilan Penguatan
Gambar 4 : Proses Produksi Konveksi

Referensi

Dokumen terkait

Pengusaha yang berada di luar klaster tidak memiliki pekerja (tukang jahit lain), ini disebabkan karena memang jumlah pesanan juga tidak terlalu banyak dan

Judu} Tesis Ekonomi Rumahtangga Pengusaha dan Pekerja Industri Kecil Gerabah di Sentra Industri Gerabah Kasongan Kabupaten Bantul.. Nama Mahasiswa Noor

yang sulit menggali potensi sikap kritis dari masyarakat. Model civic governance di Kabupaten Bandung pada dasarnya dilandasi oleh tiga. unsur utama yang meliputi civic knowledge,

Judu} Tesis Ekonomi Rumahtangga Pengusaha dan Pekerja Industri Kecil Gerabah di Sentra Industri Gerabah Kasongan Kabupaten Bantul.. Nama Mahasiswa Noor

Sumpia HEPI di Desa Kubang Kabupaten Cirebon Jawa Barat). Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan; 1)

 Jenis Industri Manufaktur Mikro dan Kecil di Provinsi Gorontalo adalah industri Makanan, industri Minuman, industri Tekstil, industri Pakaian Jadi, industri Kayu,

Di beberapa daerah, sesuai dengan potensi ekonominya, sektor pertanian mampu menjadi sektor utama yang mampu mendongkrak perkembangan perekonomian. Di kabupaten Banyumas

Di beberapa daerah, sesuai dengan potensi ekonominya, sektor pertanian mampu menjadi sektor utama yang mampu mendongkrak perkembangan perekonomian. Di kabupaten Banyumas