PROPOSAL SRKIPSI
Metode Mind Mapping sebagai Upaya Pengembangan Daya Pikir
Kreatif dalam Pemecahan Masalah Matematika
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Metode Penelitian”
Oleh
LILIK MAZRO’ATUS SHOLIHAH
201310060311156
Pendidikan Matematika dan Komputasi
Fakultas Ilmu Keguran dan Pendidikan
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan ilmu yang menekankan pada tata cara berfikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif maupun kualitatif (Erman Suherman, 2003: 253). Kegunaan matematika bukan hanya memberikan kemampuan dalam perhitungan- perhitungan kuantitatif, tetapi juga dalam penataan cara berfikir terutama dalam pembentukan kemampuan menganalisis, membuat sisntesis, melakukan evaluasi, hingga kemampuan memecahkan masalah serta menerapkannya dalam kehidupan sehaari- hari. Ada dua visi pambelajaran matematika, yaitu: (1) mengarahkan pembelajaran matematika untuk pemahaman konsep- konsep yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah dan ilmu lainnya, dan (2) mengarahkan ke masa depan yang lebih luas yaitu matematika memberikan kemampuan pemecahan masalah, sistematik, kritis, cermat, bersifat objektif dan terbuka. Kemampan tersebut sangat diperlukan dalam menghadapi masa depan yang selalu berubah (Sumarmo, 2001).
Kemampuan pemahaman matematik adalah salah satu tujuan penting dalam pembelajaran, memberikan pengertian bahwa materi- materi yang diajarkan kepada siswa bukan hanya sebagai hafalan, namun lebih dari itu. Dengan pemahaman, siswa dapat lebih mengerti akan konsep materi pelajaran itu sendiri. Pemahaman matematik juga merupakan salah satu tujuan dari dari setiap materi yang disampaikan oleh guru.
Untuk mempelajari, mengembangkan, dan juga menyelesaikan permaslahan matematika dibutuhkan sebuah pemikiran yang terampil. Menurut Salfina (2015: 2) keterampilan berfikir adalah keterampilan kognitif untuk memunculkan dan mengembangkan gagasan baru, ide baru sebagai pengembangan dari ide yang telah lahir sebelumnya dan keterampilan untuk memecahkan masalah divergen. Rata- rata kemampuan siswa dalam menjawab soal matematika hanya dinilai dari jawaban benar salah, bukan tentang proses bagaimana siswa menjawab dan menalar soal tersebut dengan menggunakan pemikiran- pemikirannya yang logis dan kreatif.
Kemampuan berpikir divergen penting untuk mencermati permasalahan dari segala perspektif, dan mengkonstruksi segala kemungkinan pemecahannya yang reasonable dan viabel (I Gst. Putu Sudiarta, 2005: 529). Dalam hal ini, sebuah perspektif baru berkaitan dengan prinsip kemampuan berpikir divergen perlu dijadikan pegangan dalam pembelajaran, yaitu bukan belajar menemukan satu jawaban benar yang menjadi tujuan setiap pemecahan masalah, tetapi bagaimana mengkonstruksi segala kemungkinan jawaban yang reasonable, beserta segala kemungkinan prosedur dan argumentasinya kenapa jawaban tersebut masuk akal sehingga dapat diaplikasikan dalam pemecahan masalah dunia nyata lainnya, yang biasanya jauh lebih kompleks dan tak terduga. Pemikiran kritis sangat penting dalam menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi segala argumen untuk mampu membuat keputusan yang rasional dan bertanggung jawab.
Berpikir divergen lebih tertuju pada pengembangan kemampuan dalam menghasilkan elaborasi kreativitas dari ide-ide yang dihasilkan dari stimulus. Keterampilan berpikir kreatif sangat diperlukan dalam menunjang kemampuan berpikir divergen dan juga kritis.
aspek, (1) fluency (berpikir lancar), (2) flexibility (berpikir luwes), (3) originality (orisinalitas berpikir), (4) eleboration (penguraian) (Munandar dalam Salfina, 2013: 2), yaitu dengan menggunakan metode mind mapping.
Mind mapping merupakan suatu metode pembelajaran yang mengembangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan dengan menggambarkan hal- hal yang bersifat umum kemudian ke hal- hal yang bersifat khusus dalam sebuah peta. Mind mapping memberikan kebebasan pada setiap siswa untuk mengkonstruksi ide atau konsep siswa sendiri sehingga mudah untuk dipahami.
Menurut Tony Buzan (2009: 3) dalam bukunya “Buku Pintar Mind Map”, mind mapping adalah suatu cara mencatat yang keatif, efektif, dan secara harfiah akan memetakan pikiran- pikiran. Peta pikiran dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam memahami suatu konsep dan mengembangkan suatu ide, karena peta pikiran dapat menghubungkan antara satu ide dengan ide lainnya dengan memahami konteksnya. Sehingga dapat memudahkan otak untuk memahami dan menyerap suatu informasi (De Porter dan Hernacki: 2013: 596). Dari definisi diatas, maka dengan menggunakan metode mind mapping siswa dapat mencatat pokok-pokok materi yang kemudian akan dikembangkan dengan sendirinya. Penalaran yang dihasilkan siswa akan membentuk kreatifitas dalam berfikir sehingga siswa akan menemukan sendiri pemikiran- pemikiran dari konsep yang ada.
1.2. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah
1. Bagaimana mengembangkan daya pikir kreatif dalam memecahkan masalah matematika dengan menggunakan metode mind mapping?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mengembangkan daya pikir kreatif dalam memecahkan masalah matematika dengan menggunakan metode mind mapping
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi Siswa
Penelitian dengan menggunakan metode pembelajaran mind mapping diharapkan dapat meningkatkan daya pikir kreatif siswa dalam memecahkan masalah matematika.
2. Bagi Guru
Memberikan rekomendasi tentang metode pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan berfikir kreatif siswa yaitu mind mapping. Sehingga metode mind mapping dapat digunakan guru sebagai solusi alternatif dalam menggunakan metode pembelajaran matematika.
3. Bagi Peneliti
Memberikan rujukan pengetahuan untuk menambah wawasan terkait upaya peningkatan daya pikir kreatif siswa dalam memecahkan masalah matematika.
1.5. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya permasalahan pada penelitian ini, maka dalam penelitian ini permasalahan dibatasi pada penggunaan metode mind mapping sebagai upaya pengembangan daya pikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika pada siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas VII.
KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teori
2.1.1. Pembelajaran Matematika
Menurut Utari Sumarmo (2004:5) pembelajaran matematika diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir matematis, yang meliputi pemahaman, pemecahan masalah, penalaran, komunikasi, dan koreksi matematis, kritis serta sikap yang terbuka dan objektif. Dalam pembelajaran matematika, siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi). Dengan pengamatan terhadap contoh-contoh dan bukan contoh diharapkan siswa mampu menangkap pengertian suatu konsep (Erman Suherman, 2001: 55).
Terkait dengan butir ke- 2, ke- 4, dan ke-5 di atas dijelaskan bahwa dalam pembelajaran matematika diperlukan cara untuk melatih daya pikir terutama dalam kreativitas berfikir untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat membentuk kompetensi yang diharapkan.
2.1.2. Masalah Matematika
Terdapat berbagai macam teori tentang definisi dari masalah. Suherman (2003:92) menjelaskan bahwa suatu masalah biasanya memuat suatu situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya.
Johnson dan Rising (1972) berpendapat bahwa matematika adalah pola berfikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logis, matematika itu bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide dari pada mengenai bunyi. Kemudian Kline (1973) mengemukakan bahwa matematika itu bukan lah pengetahuan yang dapat sempurna karena dirinya sendiri akan tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.
Jadi masalah matematika adalah suatu soal atau pertanyaan ataupun fenomena yang memiliki tantangan yang dapat berupa bidang aljabar, analisis, geometri, logika, permasalahan sosial ataupun gabungan satu dengan lainnya yang membutuhkan pemecahan bagi yang menghadapinya.
Daya Pikir adalah suatu kemampuan dari seorang anak dalam proses berpikir yang diperoleh dari lingkungan alam sekitarnya. Untuk memperoleh pengetahuan baru atau terhadap situasi yang belum dikenalnya dan sekaligus mencari pemecahan masalah yang dihadapinya. Daya pikir disebut juga sebagai kemampuan kognitif sering diartikan sebagai daya atau kemampuan seorang anak untuk berfikir dan mengamati, melihat hubungan- hubungan, kegiatan yang mengakibatkan seorang anak memperoleh pengetahuan baru.
M.Solehuddin dalam jurnal ilmu pendidikan menyebutkan bahwa daya pikir atau perkembangan kognitif adalah kemampuan anak untuk memahami suatu konsep, hubungan, operasi, dan sejenisnya untuk menyelesaikan masalah atau persoalan yang dihadapi.
Sedangkan menurut Witherington, mengemukakan bahwa daya pikir atau kognitif adalah pikiran, melalui pikiran dapat digunakan denaggn cepat dan tepat untuk mengatasi suatu situasi untuk memcahkan masalah. Adapun perkembangan kognitif adalah perkembangan pikiran. Pikiran adalah bagian dari proses berfikir dari otak, pikiran yang digunakan untuk mengenali, mengetahui dan memahami.
2.1.4. Kreatif
Kemudian James J.Gallagher mengatakan bahwa “Creativity is a mental process by which an individual creates new ideas or products, or recombines existing ideas and product, in fashion that is novel to him or her” (kreativitas merupakan suatu proses mental yang dilakukan individu berupa gagasan ataupun produk baru, atau mengkombinasikan antara keduanya yang pada akhirnya akan melekat pada dirinya).
Sedangkan Supriadi mengutarakan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada. Adapun Semiawan mengemukakan bahwa kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.
Dari definisi-definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang dalam menciptakan ide atau gagasan baru yang berbeda dengan pemikiran orang lain, sehingga dapat diwujudkan dalam menyelesaikan suatu masalah dan dapat pula hasil pemikiran tersebut tertuang dalam bentuk suatu produk atau tindakan nyata.
2.1.5. Kemampuan Berfikir Kreatif dalam Pemecahan Masalah Matematika
2.1.5.1. Pengertian Berfikir Kreatif
berpikir divergen adalah kemampuan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragam jawaban.
Dari kesimpulan di atas, maka kemampuan berfikir kreatif adalah keterampilan kognitif untuk memunculkan dan mengembangkan gagasan baru, ide baru sebagai pengembangan dari ide yang telah lahir sebelumnya dan keterampilan untuk memecahkan masalah secara divergen.
2.1.5.2. Indikator Berfikir Kreatif dalam Pemecahan Masalah Matematika
Menurut Munandar, kemampuan berfikir kreatif mencakup empat aspek, yaitu: (1) fluency (berpikir lancar), (2) flexibility (berpikir luwes), (3) originality (orisinalitas berpikir), (4) elaboration (penguraian).
Aspek dan indikator keterampilan berpikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika yang diukur dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 1.
NO. Aspek Indikator
1 fluency (berpikir lancar)
Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah, atau pertanyaan; memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal; selalu memikirkan lebih dari satu jawaban
2 flexibility (berpikir luwes)
pemikiran. 3 originality
(orisinalitas berpikir)
Mampu melahirkan ungkapan yang baru dan unik. Setelah membaca atau mendengar gagasan-gagasan, bekerja untuk menyelesaikan yang baru
4 elaboration (penguraian)
Mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk; menambahkan atau memperinci detil-detil dari suatu obyek, gagasan, atau situasi sehingga menjadi lebih menarik
2.1.6. Metode Mind Mapping
2.1.6.1. Pengertian Mind Mapping
Menurut Tony Buzan (2009:3) dalam bukunya “Buku Pintar Mind Map”, mind mapping adalah suatu cara mencatat yang keatif, efektif, dan secara harfiah akan memetakan pikiran- pikiran.
Lebih lanjut, Buzan menjelaskan bahwa Mind Map juga merupakan peta rute yang hebat bagi ingatan, memungkinkan kita menyusun fakta dan pemikiran sedemikian rupa sehingga cara kerja alami otak dilibatkan sejak awal. ini berarti mengingat sekaligus memproduksi kembali informasi akan lebih mudah dan lebih bisa diandalkan dari pada menggunakan teknik pencatatan konvensional.
Dengan Mind Map daftar informasi yang panjang bisa dialihkan menjadi diagram warna-warni, sangat teratur, dan mudah diingat yang bekerja selaras dengan cara kerja alami otak dalam melakukan berbagai hal.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa Mind Map adalah teknik meringkas bahan atau materi yang akan dipelajari dan memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau teknik grafik sehingga lebih mudah memahaminya. Dengan menggunakan Mind Map kemampuan otak menyimpan dan mengembangkan konsep materi atau informasi tertentu dapat ditingkatkan dengan sangat baik. Di dalam Mind Map terdapat kata kunci, garis lengkung, gambar, dan warna yang bervariasi yang semuanya ini mempermudah otak mengingat sesuatu dengan lebih baik.
Karena Mind Map ini menggabungkan cara kerja otak bagian kanan dan kiri. Wilayah otak bagian kanan melibatkan gambar, warna, imajinasi, sedangkan wilayah otak bagian kiri melibatkan kata, angka, dan logika, sehingga siswa dapat menggunakan potensi otaknya secara optimum. Dengan demikian Mind Map bukan hanya dapat dikatakan sebagai teknik mencatat yang akan meningkatkan daya ingat siswa, tetapi Mind Map juga dapat meningkatkan kreativitas siswa.
Menurut Buzan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat Mind Map, yaitu sebagai berikut :
a. Mulailah dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan mendatar
b. Gunakan gambar atau foto untuk ide sentral c. Gunakan warna
d. Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat. Dan hubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tingkat tiga ke tingkat satu dan dua, dan seterusnya.
e. Buatlah garis hubungan yang melengkung, bukan garis lurus
f. Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis g. Gunakan gambar
2.1.6.3. Fungsi Mind Mapping
Menurut Michael Michalko dalam buku terlarisnya Cracking Creativity, Mind Map berfungsi :
a. Mengaktifkan seluruh otak
b. Membereskan akal dari kekusutan mental
c. Memungkinkan kita berfokus pada pokok bahasan d. Membantu menunjukkan hubungan antara
bagian-bagian informasi yang saling terpisah
e. Memberi gambaran yang jelas pada keseluruhan dan perincian
f. Memungkinkan kita mengelompokkan konsep, membantu kita membandingkannya
2.2. Hasil Penelitian yang Relevan
Sebagai bahan penguat penelitian tentang metode mind mapping sebagai upaya pengembangan daya pikir kreatif terhadap pemecahan masalah matematika, penulis menguntip beberapa penelitian yang relevan, yaitu:
diajar menggunakan metode konvensional nilai signifikannya lebih kecil dari taraf signifikan (α). Hal ini menyatakan terdapat perbedaan antara siswa yang diajar menggunakan metode mind map dan siswa yang diajar dengan mind map dan siswa yang diajar dengan metode konvensional.
2. Neily El’Izzah, dalam penelitiannya yang berjudul “ Pengaruh strategi Mind Mapping terhadap hasil belajar matematika siswa berdasarkan Taksonomi SOLO (The Structure of The Observed Learning Outcome).” Hasil penelitian mengungkapkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika siswa berdasarkan Taksonomi SOLO yang diajar strategi Mind Mapping lebih tinggi dari pada yang diajar strategi ekspositori.
3. Rahma Faelasofi, Yini Arnidha, dan Ana Istiani dalam jurnal penellitian yang berjudul “Metode Pembelajaran Mind Mapping untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa Dalam Pemecahan Masalah Matematika”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan rata-rata kemampuan komunikasi matematika siswa dan komunikasi matematika siswa dalam pemecahan masalah matematika di kelas eksperiemen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang ditunjukkan dengan besaran prosentase yang diperoleh yang ditunjukkan secara deskriptif.
4. Jarnawi Afgani D dan Ayu Anzela Sari, dalam jurnal penelitian yang berjudul “Pengaruh Pemberian Tugas Creative Mind Map setelah Pembelajaran Terhadap Kemampuan Kreativitas dan Koneksi Matematik Siswa”. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ada peningkatan kreativitas dan koneksi siswa dalam pembelajaran matematika setelah diberi tugas mind map.
2.3. Kerangka Konseptual
Dalam pembelajaran matematika dikelas, guru harus mencari cara dalam kegiatan pembelajaran dikelas dengan menggunakan metode serta teknik pembelajaran yang bervariasi dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa tidak merasa bosan dan dapat lebih mudah memahami materi yang terdapat konsep-konsep abstrak didalamnya. Salah satu teknik pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran matematika adalah dengan teknik Mind Mapping atau yang biasa dikenal dengan peta pikiran.
Mind Mapping adalah cara mencatat yang menggabungkan kinerja otak kanan dan kiri pada manusia. Karena cara kerja Mind Maping yaitu dengan mencabangkan materi dari satu tema, sehingga materi yang dijabarkan dalam bentuk Mind Mapping lebih spesifik dan lebih rinci.
Mind Mapping juga dapat meningkatkan kemampuan cara berpikir siswa, yaitu siswa dapat lebih mengoptimalisasikan ide-ide baru yang lebih kreatif sehingga berbeda dengan yang lainnya. Kemudian dari terbiasanya siswa dilatih berpikir kreatif dalam proses pembelajaran, maka pada saat diberi soal yang memungkinkan pemahaman lebih dari siswa, siswa tersebut sudah terbiasa dan dapat menjawab soal tersebut dengan jawaban-jawaban yang berbeda tetapi memiliki maksud yang sama.
Oleh karena itu upaya untuk mengembangkan daya pikir kreatif dalam pemecahan masalah matematika siswa dapat dilakukan dengan menerapkan metode Mind Mapping.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa (Moleong, 2007).
Adapun pendekatan penelitian dalam penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya. Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat (Sukardi, 2012: 157).
Dengan digunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, diharapkan dapat diperoleh data yang mendalam dan bermakna sehingga tujuan penelitian dapat tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan daya pikir kreatif dalam memecahkan masalah matematika melalui metode mind mapping yang meliputi fluency, flexibility, originality, dan elaboration.
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Maduran. Berlokasi di Desa Maduran, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan.
3.2.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014. Pada tanggal 1 - 15 November 2016.
3.3. Prosedur Penelitian
1. Tahap Awal (Persiapan)
a. Melakukan perijinan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 25 Malang
b. Pembuatan proposal penelitian c. Pembuatan instrumen tes
d. Observasi awal untuk mengidentifikasi masalah 2. Tahap Pelaksanaan
a. Melakukan observasi tentang kemampuan daya pikir kreatif siswa b. Melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode mind
mapping
c. Memberikan tes kepada siswa untuk mengetahui tingkat berfikir kreatif dalam menyelesaikan soal setelah melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode mind mapping
d. Melakukan wawancara kepada beberapa subjek yang telah ditentukan
e. Mengumpulkan dokumentasi atau data dari lapangan yang sudah diperoleh dari pengamatan langsung pada waktu proses penelitian f. Memvalidasi data yang diperoleh
3. Tahap Akhir (Refleksi)
Setelah diperoleh data yang valid, maka dilakukan tahap akhir yang meliputi 3 kegiatan yaitu:
a. Reduksi data b. Penyajian data
c. Penarikan Kesimpulan
3.4. Subyek Penelitian
Subyek dari penelitian ini adalah siswa dari kelas VII SMP Negeri 1 Maduran.
3.5. Data dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah:
1. Hasil pekerjaan siswa saat melakukan tes tulis
2. Pernyataan verbal siswa yang diperoleh dari hasil wawancara
3. Hasil observasi terhadap suasana dan aktivitas siswa saat pembelajaran berlangsung
4. Hasil dokumentasi
Sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Maduran.
1. Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Tes digunakan untuk mengukur ada atau tidaknya serta besarnya kemampuan objek yang diteliti (Suharsimi, 2010: 266). Tes yang dilakukan dalam penelitian ini berupa tes tertulis berbentuk uraian. Dimana siswa diberikan soal untuk mengetahui tingkat berpikir kreatif siswa terhadap pemecahan masalah.
2. Observasi
Observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif, dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu (Zainal, 2015: 153). Dilihat dari kerangka kerjanya, observasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
a. Obsevasi berstruktur, yaitu semua kegiatan observer telah ditetapkan terlebih dahulu berdasarkan kerangka kerja yang berisi faktor-faktor yang telah diatur kategorisasinya. Isi dan luas materi observasi telah ditetapkan dan dibatasi dengan jelas dan tegas.
b. Observasi tak berstruktur, yaitu semua kegiatan observer tidak dibatasi oleh suatu kerangka kerja yang pasti. Kegiatan observer hanya dibatasi oleh tujuan observasi itu sendiri.
3. Wawancara
Wawancara merupakan percakapan dengan maksud tertentu (Moleong 2007). Percakapan wawancara dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Stainback mengemukakan bahwa dengan wawancara, maka peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterprestasikan situasi dan fenomena yang terjadi, di mana hal ini tidak bisa ditemukan melalui observasi.
Dalam penelitian ini wawancara dipergunakan untuk mengadakan komunikasi dengan pihak-pihak terkait atau subjek penelitian, yaitu siswa kelas VII SMP Negeri 1 Maduran yang bertujuan memperoleh penjelasan atau informasi tentang hal-hal yang belum tercantum dalam observasi. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk mengetahui pengembangan daya pikir kreatif siswa dalam memecahkan masalah matematika melalui metode pembelajaran mind maping.
4. Dokumentasi
Suharsimi (2010) menyatakan dibandingkan metode lain, metode ini agak tidak begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum berubah. Sugiyono (2015) menyatakan dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi digunakan sebagai rekap seluruh kegiatan peneliti, baik berupa foto kegiatan observasi peneliti pada proses pembelajaran, hasil tes dan juga wawancara.
Suharsimi Arikunto dalam buku Manajemen Penelitian (2005:101) mengartikan instrumen penelitian sebagai alat bantu merupakan saran yang dapat diwujudkan dalam benda misalnya angket, daftar cek, pedoman wawancara, lembaran pengamatan.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Soal Tes
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa soal tes kemampuan berpikir kreatif. Tes berpikir kreatif ini berdasarkan TKV Torrence. Tes ini bersifat verbal (mengukur kemampuan berpikir divergen) dan sudah baku, karena sudah diujikan ke beberapa negara oleh Torennce. Dan Utami Munandar telah menggunakan tes ini pertama kali di Indonesia (Utami Munandar : 2012).
TKV ini terdiri dari enam aspek berpikir kreatif antara lain: kelancaran kata, kelancaran menyusun kata, kelancaran berekspresi, kelancaran memberi ide, fleksibelitas dan orisinalitas serta kelancaran memberi ide dan elaborasi.
2. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara digunakan dalam penelitian ini adalah untuk menyusun beberapa pertanyaan yang akan diajukan kepada beberapa siswa dari kelas VII SMPN 1 Maduran.
3. Pedoman Observasi
Pedoman observasi yang digunakan peneliti yaitu memuat garis besar tentang aktivitas siwa selama pembelajaran
3.8. Teknik Analisis Data
satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Pada analisis data menurut Miles dan Huberman dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:
1. Reduksi data adalah merangkum, memilah hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
2. Penyajian data, bentuk penyajian data yang akan digunakan adalah bentuk teks-naratif. Penyajian data ini digunakan sebagai bahan untuk menafsirkan dan mengambil simpulan atau dalam penelitian kualitatif dikenal dengan istilah inferensi yang merupakan makna terhadap data yang terkumpul dalam rangka menjawab permasalahan.