• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Multidimensional Scaling MDS pa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Multidimensional Scaling MDS pa"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Ikacipta Mega Ayuputri, M. Alifian Nuriman, Ratna Juwita, M. Alfan AlfianRiyadi, Dr. Bambang W. Otok Departemen Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Institut Teknologi Sepuluh Nopember Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia

(2)

Abstrak Malnutrition lack of protein (kwashiorkor), the second is lack of carbohydrate (marasmus) and the last is someone who lack both of them. Malnutrition usually occur to toddler indicates by distanded stomach. Malnutrition influence the toddler growth and intelligence. In serious condition malnutrition can causing death. There is an statistical method to classify some objects based on the same characteristics that called Multidimensional Scaling (MDS). In this practice will analyze the factors that influence toddler malnutrition for each district in Surabaya. The result for the scree plot is formed two dimension as optimum dimension. The next step is classify the districts using MDS. There are four grops that formed. For te first is, Krembangan, Wonocolo, Bulak, Semampir, Kenjeran, Tegal Sari, Sukoma-nunggal dan Bubutan. The second group consist of Gunung Anyar, Gayungan, Tenggilis, Sawahan, Pabean Cantikan, Sambikerep, Tandes dan Benowo. There are Asem

Rowo, Gubeng, classification using stress and D.A.F value. Based on stress value the result of MDS using two

dimension is not good. But for the D.A.F value is good besause it aprroach 100%.

Key WordCommon Space, Goodness of Fit, Malnutrition,

Multidimensional Scaling, Scree Plot

I. P kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi, atau nutrisinya dibawah standar rata-rata. Status gizi buruk dibagi menjadi tiga, yaitu gizi

buruk karena

kekurangan protein (disebut kwashiorkor), karena kekurangan karbohidrat atau kalori (disebut marasmus), dan kekurangan kedua-duanya. Gizi buruk ini biasanya terjadi pada anak balita (bawah lima tahun) dan ditampakkan oleh membusungnya perut (busung lapar). Gizi buruk dapat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak, juga kecerdasan anak.

menyebabkan kematian [1].

berdasarkan kemiripan sifat yang dimiliki oleh objek-objek tersebut. Dalam banyak kasus,

Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai analisis

Multidimensional Scaling (MDS) pada data faktor-faktor yang mempengaruhi gizi buruk di seluruh kecamatan di wilayah Surabaya. Analisis MDS ini nantinya dapat diperoleh

pengelompokkan gizi buruk tiap kecamatan di

Surabaya yang

diharapkan dapat dijadikan informasi bagi pemerintah Kota Surabaya untuk dapat mengurangi gizi buruk di Surabaya.

untuk mencari

hubungan antar data secara spasial. MDS

juga dapat menentukan dimensi secara

minimum dari

sekelompok scale value pada tiap dimensi yang terlibat di dalamnya. Pengklasifikasian MDS dibuat berdasarkan kesamaan data, jika data tersebut bersifat kualitatif disebut dengan nonmetric MDS, sedangkan untuk data kuantitatif disebut dengan metric MDS.

ketakmiripan antara obyek ke-i dengan ke-j, (dij), merupakan fungsi

yang memenuhi

persyaratan berikut [3]. 1) dij ≥ 0, untuk setiap Ukuran kriteria kesalahan (lack of fit

error) metode

penaksiran interval ganda dengan melihat nilai stress. Ini berarti semakin kecil nilai stress memberi indikasi bahwa semakin kecil error antar jarak dan nilai kemiripan dari ruang yang disajikan.

Stress dapat

diinterpretasikan secara informal berdasarkan garis pedoman kriteria mengenai hubungan antara kemiripan dan jarak akhir. Nilai stress didefinisikan sebagai berikut [3].

Analisis

Multidimensional Scaling

(MDS) pada

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Balita Penderita

Gizi Buruk pada Setiap Kecamatan di Surabaya

(3)

Dimana :

ˆ nilai deviasi hubungan kehomogenan antara jarak d

dengan dissimilaritas obyek yang diobservasi

ik

ik ik

d jarak euclid d

Pedoman untuk

interpretasi stress adalah sebagai berikut.

Tabel 1. Interpretasi

Stress

Stress Kesesuaian

≥ 20% Poor (kurang) 10% <stress< 20% Fair (cukup)

5% <stress < 10% Good (baik) 2,5% <stress< 5% Excellent (sangat baik)

< 2,5% Perfect (sempurna) B. Penskala Metric

MDS dapat

menggunakan struktur dari sekelompok obyek yang diperoleh dari data yang saling berdekatan jaraknya. Penghitungan

kedekatan jarak ini dapat dilakukan dengan menggunakan jarak Euclid kuadrat, berikut persamaan jarak Euclid kuadrat [3]. i,j=1,2,...,n merupakan

pemetaan dari

dissimilarities

ketidakmiripan pasang obyek dalam kelompok pada suatu ruang Euclid tertentu dengan matriks jarak Euclid kuadrat.

C. Penskala Ordinal Apabila diketahui bahwa D = [dij]

merupakan matriks

yang berunsur berdimensi k yang jarak Euclid antar obyeknya tahapan yang dilakukan setelah penentuan dimensi konfigurasi

yang diinginkan, misalnya k.

1) Menentukan konfigurasi awal dari n obyek dalam ruang berdimensi k,

agi masing-masing obyek.

2) Menghitung jarak Euclid antar obyek dari konfigurasi tersebut, misal sebagai jarak Euclid antara obyek ke-i dan obyek ke-j. 3) Melakukan regresi

(kuadrat terkecil) monotonik dij

terhadap , regresi linier

. Regresi monotonik dapat memberikan kendala, jika aij naik

maka juga naik atau tetap. Sehingga hasil dugaan yang diperoleh ialah

4) Menghitung stress yang merupakan ukuran kese-suaian antara konfigurasi yang ada dengan ukuran kemiripan yang diinginkan. 5) Untuk mengurangi

nilai stress apabila dimungkinkan, maka sebaiknya disesuaikan dengan konfigurasi obyek dan kembali ke tahap 2.

D. Gizi Buruk

Gizi buruk

merupakan kurang gizi tingkat berat akibat rendahnya konsumsi energy dan protein dari makanan sehari-hari yang terjadi dalam waktu yang cukup lama. Gizi buruk ini

biasanya terjadi pada anak balita (bawah lima tahun) dan ditampakkan oleh membusungnya perut (busung lapar). Gizi buruk dapat berpengaruh kepada pertumbuhan dan perkembangan anak, juga kecerdasan anak.

menyebabkan kematian [2]. Terdapat bebe-rapa

faktor yang

mempengaruhi gizi buruk pada balita dengan ketidaktauan

akan hubungan

makanan dan kesehatan adalah faktor yang yang

diduga banyak

menyebabkan

terjadinya gizi buruk pada balita.

b. Faktor Sosial Ekonomi

Variabel yang

diduga banyak

menyebabkan terjadi-nya gizi buruk pada balita pada faktor sosial ekonomi adalah jumlah anggota yang banyak, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, penyakit, dan perilaku.

III. METO penelitia ini merupakan

data sekunder yang diperoleh dari tugas akhir mahasiswa atas nama Qurrota A’yyunin

dengan judul

“Permodelan Angka Gizi Buruk pada Balita di Kota Surabaya dengan Spatial Autoregressive Model (SAR)”, yang diambil pada tanggal 6 Mei 2017 di Ruang Baca Statistika pada pukul 11.00 WIB

B. Variabel Penelitian Variabel penelitian yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut.

Tabel 2.Variabel Penelitian V berat badan rendah tidak diberi ASI balita yang tidak sumur gali (SGL), air

(4)

Tempat

x Persentase keluarga

miskin

Rasio / Perse ntase C. Langkah Analisis

Langkah analisis yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut. 1. Merumuskan

masalah.

2. Mengumpulkan data sekunder.

Data yang

digunakan ialah data faktor-faktor yang mempengaruhi gizi buruk di

kecamatan di

Surabaya yang terdiri dari delapan

variabel dan

observasi sebanyak 30 untuk masing-masing variabel. 3. Melakukan analisis

Multidimensional Scaling (MDS). 4. Menarik kesimpulan

dan saran.

IV. HASIL DAN PEMBAHAS

AN Hasil analisis MDS pada faktor-faktor yang mempe-ngaruhi gizi buruk pada setiap kecamatan di Surabaya meggunakan scree plot dan common space adalah sebagai berikut. A. Scree Plot

Berikut adalah scree plot dari data faktor-faktor yang mempengaruhi gizi

buruk pada setiap kecamatan di Surabaya.

Gambar 1.Scree plot Data Gizi Buruk Setiap Kecamatan

di Surabaya dimensionality ke-2 dan ke-3. Sehingga dari data faktor-faktor yang mempengaruhi gizi buruk pada setiap kecamatan di Surabaya terbentuk 2 dimensi yang paling optimum. B. Common Space

Hasil koordinat yang terbentuk untuk pengelom-pokkan kecamatan di Surabaya berdasarkan faktor yang mempengaruhi gizi buruk dapat dilihat dalam tabel jarak koordinat (terlampir). Tabel jarak koordinat

yang didapat,

menunjukkan jarak setiap faktor ke setiap dimensi. Berdasarkan tabel tersebut, dapat dimensi adalah sebagai berikut.

Gambar 2. Hasil Plot berdasarkan Jarak Koordinat Hasil

pengelompokkan kecamatan di Surabaya berdasarkan

faktor-faktor yang

mempengaruhi gizi buruk terbagi menjadi empat kelompok seperti disajikan pada Gambar 2. Kelompok pertama terdiri atas Tegal Sari, Krembangan,

Wonocolo, Bulak, Semampir, Kenjeran, Sukomanunggal dan Bubutan. Kelompok kedua terdiri atas

Gunung Anyar,

Gayungan, Tenggilis, Sawahan, Pabean Cantikan, Sambikerep, Tandes dan Benowo. Pada kelompok ketiga terdapat Kecamatan Asem Rowo, Gubeng, Jambangan,

Lakarsantri, Dukuh Pakis, Genteng, Sukolilo, dan Tambak

Sari. Kelompok

keempat terdiri atas Kecamatan

Wonokromo, Wiyung, Pakal, Mulyorejo,

Karang Pilang,

Simokerto dan

Rungkut.

C. Goodness of Fit Kebaikan MDS Berikut merupakan nilai stress dan D.A.F dari data mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi gizi buruk pada setiap kecamatan di Surabaya.

Tabel 3. Nilai Stress dan D.A.F

Goodness of Fit Nilai

Normalized Raw Stress 0,13659

Stress-I 0,36958a

Stress-II 0,93007a

S-Stress 0,32097b

Dispersion Accounted For (D.A.F) 0,863413

Tucker’s Coefficient of Congruence 0,92920b

Catatan kaki: a. optimal scaling factor=1,158 b. optimal scaling factor=0,890

Berdasarkan Tabel 3, didapatkan nilai normalized raw stress bernilai cukup baik namun berdasarkan nilai s-stress, stress-I dan stress-II cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa MDS untuk dimensi dua pada data mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi gizi buruk pada setiap kecamatan di Surabaya kurang baik. Nilai Dispersion Accounted For (D.A.F) yang didapatkan

menunjukkan bahwa MDS untuk dimensi dua pada penelitian ini baik karena nilai D.A.F telah mendekati satu

Berdasarkan hasil analisis dan pengolahan data yang telah

dilakukan maka

kesimpulan yang didapatkan adalah sebagai berikut. 1. Analisis MDS

(5)

mempengaruhi gizi buruk pada setiap

kecamatan di

Surabaya.

2. Plot untuk setiap

faktor yang

didapatkan

berdasarkan jarak koordinat terbagi menjadi empat kelompok yaitu

Tegal Sari,

Krembangan, Wonocolo, Bulak, Semampir,

Kenjeran,

Sukomanunggal dan

Bubutan pada

kelompok pertama. Kelompok kedua terdiri atas Gunung Anyar, Gayungan, Tenggilis, Sawahan, Pabean Cantikan, Sambikerep, Tandes dan Benowo. Pada kelompok ketiga terdapat Kecamatan

Asem Rowo,

Gubeng, Jambangan,

Lakarsantri, Dukuh Pakis, Genteng, Sukolilo, dan

Tambak Sari.

Kelom-pok keempat

terdiri atas

Kecamatan

Wonokromo, Wiyung, Pakal, Mulyorejo, Karang Pilang, Simokerto dan Rungkut. 3. Berdasarkan nilai

stress MDS dengan dimensi dua pada faktor-faktor yang mempengaruhi gizi bruruk pada setiap

kecamatan di

Surabaya kurang baik. Sedangkan berdasarkan nilai

D.A.F telah

mendekati satu atau 100% seingga sudah baik.

B. Saran Berdasarkan kesimpulan yang didapatkan maka saran

untuk analisis

selanjutnya yaitu peneliti harus

memper-hatikan variabel yang digunakan supaya variabel yang dipilih mempunyai pengaruh pada saat pembentukan cluster.

DAFTAR PUSTAKA

[1] DINKES JATIM. (2006). Laman Resmi Profil Kesehatan Jawa Timur.

http://dinkesjatim. go.id/pdf. Diakses pada 25 Maret 2017 pukul 15.00 diakses pada 12 Mei 2016 pukul 21.00 WIB [2] Djaeni, Achmad.

(2000). Ilmu Gizi

Jilid I.

Jakarta:Dian Rakyat.

[3] Johnson. N and wichem,D. 2007. Aplied

Multivariate Statistical

Analysis, Prentice-Hall. Englewood cl, ffs. N.J

LAMPIRAN Lampiran 1. Data Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gizi Buruk pada Balita di Surabaya

Lampiran 2. Output SPSS Penghitungan Koordinat pada

Faktor-faktor yang

Mempengaruhi Gizi Buruk pada Kecamatan di Surabaya

Final Coordinates Dimension 1

Gayungan -,578

Karang_Pilang -,550

Gunung_Anyar ,280

Jambangan -,435

Tenggilis -,710

Wonocolo -,369

Rungkut -,219

Lakarsantri -,335

Wiyung -,279

Wonokromo -,683

Sukolilo ,154

Dkuh_Pakis ,039

Gubeng -,478 ,152

Sawahan ,143 ,517

Sukomanunggal -,687 -,278

Mulyorejo ,704 -,502

Tegal_Sari -,253 ,114

Tandes -,296 ,041

Sambikerep -,542 ,177

Genteng -,460 -,072

Tambak_Sari -,409 -,190

Bubutan -,256 -,219

Simokerto ,731 -,246

Bulak ,732 -,647

Pabean_Cantikan ,753 -,381

Krembangan ,764 -,118

Asem_Rowo 1,042 ,192

Pakal ,963 -,092

Seampir ,697 ,671

Kenjeran ,793 ,329

Benowo -,258 ,419

Lampiran 3. Goodnes of fit pada Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gizi Buruk pada Kecamatan di Surabaya

Stress and Fit Measures

Normalized Raw Stress ,01836

Stress-I ,13551a

Stress-II ,29859a

S-Stress ,02878b

Dispersion Accounted For (D.A.F.)

,98164

Tucker's Coefficient of Congruence

,99078

PROXSCAL minimizes Normalized Raw Stress.

a. Optimal scaling factor = 1,019. b. Optimal scaling factor = ,971.

Kecamatan X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8

Gambar

Tabel 1. Interpretasi

Referensi

Dokumen terkait

Analisa evaluatif dalam penelitian ini adalah hasil kajian mengenai faktor – faktor yang mempengaruhi motivasi kerja karyawan di Folks Coffee and Tea Surabaya, baik

Berikut di bawah ini akan dibahas mengenai faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektifitas dan Efisiensi Administrasi Perpajakan terhadap tunggakan Pajak,

Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pengeluaran Pangan Rumah Tangga Miskin di Kecamatan Medan Tuntungan. Ilmu Gizi dan Aplikasinya Untuk Keluarga

Kemudian untuk mengetahui faktor–faktor yang mempengaruhi kondisi Kecamatan di Kota Surabaya khususnya di sektor kependudukan, sektor kesehatan dan sektor

Selanjutnya dijelaskan mengenai karakteristik waktu survival pasien DBD RSU Haji Surabaya berdasarkan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi waktu survival

Selanjutnya dijelaskan mengenai karakteristik waktu survival pasien DBD RSU Haji Surabaya berdasarkan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi waktu survival tersebut

Skripsi dengan judul “Analisa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Anak Usia Prasekolah Di Rw III RT 04 Dan RT 05 Kelurahan Keputran Kecamatan Tegalsari Surabaya”

Berdasarkan Tabel analisis regresi linear berganda terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani jamur merang di Kecamatan Ajung Kabupaten Jember, disajikan bahwa