A. Latar Belakang Masalah
Sastra sudah lama diakui memiliki potensi besar untuk membawa masyarakat ke arah perubahan, semacam perubahan sosial dan budaya. Sastra bahkan sudah lama diakui dapat menjadi sumber spirit kebangkitan suatu bagsa, spirit cinta pada tanah air, dan sumber semangat patriotik untuk melawan segala bentuk penjajahan.1 Sastra asing khususnya sastra
arab telah lama memasuki negara Indonesia baik sastra klasik maupun sastra modern. Karya sastra itu bisa berupa prosa atau yang berbentuk novel dan cerpen serta puisi.
Karya sastra asing berupa puisi yang banyak disentuh oleh masyarakat di indonesia adalah puisi karangan Rabi’ah Al-Adawiyah, tapi tidak dengan pengarang selainnya. Banyak puisi yang telah masuk negara kita bahkan telah membacanya, namun masih sedikit sekali yang menyentuh untuk menerjemahkan. Salah satunya adalah buku karangan Salem Al-Ajm. Di dalam bukunya banyak terdapat penggalan-penggalan puisi yang indah namun sampai saat ini belum ada yang menerjemahkannya.
Penerjemahan puisi merupakan penerjemahan estetis puitis yang bertujuan mengalihkan pesan serta bentuk estetis yang ada di dalam bahasa sumber kepadanannya di dalam bahasa sasaran.2 Penerjemah puisi
dituntut untuk dapat memberikan rasa kesenangan kepada para pembaca
atau pendengar agar mereka dapat merasakan unsur yang terkandung dalam puisi tersebut. Oleh karena itu, penerjemahan puisi masih dianggap sangat sukar.
Penyebab utama sukarnya menerjemahkan puisi adalah sifat ganda yang kompleks dari subjenis penerjemahan. Penerjemah puisi selalu melibatkan dua faktor: dua orang (penulis dan penerjemah), dua bahasa dan dua situasi susastra.3 Perbedaan di antara penulis dan penerjemah
timbul karena perbedaan yang ada di dalam latar sosial dan budaya dan perbedaan ini saja sudah merupakan masalah yang rumit, apalagi perbedaan-perbedaan diantara kedua bahasa yang bersangkutan.
Seperti halnya dengan karya sastra, bahwa karya sastra dicuplik oleh penulis dari kehidupan sosial yang nyata adanya. Kehidupan berumah tanggapun merupakan kehidupan bersosial yang nantinya akan dirasakan oleh semua manusia. Menikah termasuk diantara sunnah yang sangat ditekankan, karena ia adalah sunnah dari para Rasul.4
Buku Walyasa’ka Baituka karya Salem Al-Ajmi ini banyak mengulas hal positif. Dimana penulis buku ini memaparkan tentang kebahagiaan hidup berumah tangga. Rumah tangga yang yang bahagia dan harmonis merupakan idaman bagi setiap mukmin.5 Penulis buku ini
memotivasi para pembaca bahwa kehidupan yang bahagia itu dimulai dengan pernikahan. Dan di dalam buku ini pula penulis banyak
3 Ibid, h. 202
mencantumkan syi’ir-syi’ir yang berkaitan. Sehinga peneliti tertarik untuk meneliti karya sastra yang berupa puisi, yang mana terdapat hubungan atara karya sastra dengan dunia pernikahan, bahwa sastra disini mengungkapkan realitas kehidupan masyarakat secara imajiner atau secara fiksi.6
Alasan yang mendasari peneliti menerjemahkan buku Walyasa’ka Baituka adalah pertama, banyaknya buku yang membahas tentang pernikahan namun yang diulas adalah mengenai kewajiban, sunnah dan larangan dalam pernikahan. Namun, dalam buku Walyasa’ka Baituka ini lebih mengulas tentang arti kehidupan dalam sebuah pernikahan karena dalam buku ini banyak mengulas tentang motivasi. Dalam buku ini dijelaskan apa alasan menikah, menikah adalah awal kebahagiaan dan masih banyak yang lainnya. Kedua, dalam referensi karangan Salem Al-Ajmi banyak terdapat kisah inspiratif dan dapat memotivasi, akan tetapi di kalangan akademis Indonesia masih sedikit yang menyentuh buku karangan Salem Al-Ajmi dan bahkan menerjemahkannya. Oleh karena itu, peneliti memiliki insiatif untuk menerjemahkan buku karangan Salem Al-Ajmi yang berjudul Walyasa’ka Baituka.
B. Batasan dan Rumusan Masalah
Agar dapat menemukan dan memahami masalah yang lebih dalam dan fokus, peneliti membatasi objek penelitian ini dengan mengkaji metode penerjemahan buku Walyasa’ka Baituka karya Salem Al-Ajmi. Adapun perumusan masalah dan penelitian ini adalah:
1. Bagaimana penerjemahan buku Walyasa’ka Baituka karya Salem Al-Ajm dengan menggunakan metode semantis?
C. Tujuan Penelitian
Setiap hal didunia ini pasti memiliki tujuan, jika tidak maka hancurlah ia di tengah perjalanan. Begitu pula dengan penelitian ini, peneliti memiliki sasaran yang pragmatis, yang menjadi pokok tujuan diadakannya penelitian ini. Sasaran yang dimaksud peneliti tersebut di antaranya:
1. Mengetahui bagaimana penerjemahan buku Walyasa’ka Baituka karya Salem Al-Ajm dengan menggunakan metode semantis
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini bertujuan untuk:
a) Menambah wawasan bagi penerjemah yang ingin menerjemahkan teks modern khususnya teks sastra dengan pendekatan semantis. b) Menambah wawasan bagi pembaca yang ingin mengkaji dan
2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan referensi kepada pembaca khususnya bagi penerjemah agar hasil penerjemahannya tidak hanya pengalihan bahasa sumber namun pesan dalam bahasa sumber dapat tersampaikan dan dipahami oleh pembaca. E. Tinjauan Pustaka
bahwv penerjemahan Al-Qur’an secara puitis menjadi instrument dalam mengungkap keindahan teks Al-Qur’an.
Zainab yang menulis skripsi dengan judul “Analisis Makna Konotatif dan Denotatif Yang Tidak Tepat Maupun Tepat: Studi kasus Terjemahan Kitab Subulussalam bab pernikahan oleh Drs. Abu Bakar Muhammad pada tahun 2012. Skripsi ini menganalisa makna konotatif dan denotatif pada terjemahan kitab Subulussalam bab nikah. Skripsi ini memaparkan penggunaan kalimat konotatif dan denotatif yang tepat dan tidak tepat sesuai apa yang telah dikajinya.
Rahmat Darmawan yang menulis skripsi dengan judul “Analisis Diksi dan Konstruksi Kalimat dalam Terjemahan Sya’ir Ta’lim Muta’alim” pada tahun 2012. Skripsi ini menganalisa tentang ketepatan dan kesesuaian diksi dan konstruksi kalimat pada terjemahan teks Syair kitab Ta’lim Muta’allim. Selain itu, skripsi ini juga meneliti tentang metode penerjemahan yang digunakan oleh Achmad Sunarto dalam menerjemahkan teks sya’ir pada kitab Ta’lim Muta’allim serta apa pengaruh metode tersebut terhadap isi makna syai’r.
berfokus pada kasus pengkhianatan teks yang ada pada terjemahan puisi Rabi’ah Al-Adawiyah.
Bilmauidhah yang menulis tesis dengan judul “Puitisasi Terjemahan Al-Qur’an”. Tesis ini menyatakan bahwv penerjemahan Al-Qur’an secara puitis menjadi instrument dalam mengungkap keindahan teks Al-Qur’an. Tesis ini juga memaparkan bahwa terjemahan dalam bentuk gaya puisi tidak akan merubah akurvsi makna dan pemahaman teks Al-Qur’an.
Nauval Fitriyah yang menulis skripsi dengan judul “Penerjemahan Kitab Dau’u Al-Misbah Fi Bayani Ahkami Al-Nikah Karya Hasyim Asy’ari pada tahun 2017. Skripsi ini menerjemahkan kitab Dau’u Al-Misbah Fi Bayani Ahkami Al-Nikah dengan menggunakan metode semantis dan penerapan strategi penerjemahan yang digunakan dalam penerjemahan kitab Dau’u Al-Misbah Fi Bayani Ahkami Al-Nikah Karya Hasyim Asy’ari.
Sementara itu, dari banyaknya penelitian diatas, peneliti belum menemukan penelitian tentang bagaimana menerjemahkan teks sastra khususnya puisi pada buku Walyasa’ka Baituka karya Salem Al-Ajmi. F. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
menghasilkan data deskriptif berupa data tertulis atau lisan di masyarakat bahasa.7 Penelitian kualitatif tidak berarti tanpa
menggunakan dukungan dari data kuantitatif, tetapi lebih ditekankan pada kedalaman berfikir formal dari penelti dalam menjawab permasalahan yang dihadapi.8
Pendekatan kualitatif yang melibatkan data lisan di dalam bahasa melibatkan apa yang disebut informasi (penutur asli bahasa yang diteliti). Metode ini dipergunakan untuk mendeskripsikan pemahaman tentang sesuatu yang sebelumnya belum diketahui sedikitpun. Begitupun metode kualitatif dapat memaparkan secara rinci dan kompleks tentang fenomena yang sulit diungkapkan oleh metode kuantitatif.
2. Sumber Data
Peneliti menggunakan metode kepustakaan (library research) yaitu, untuk memperoleh data yang berkaitan dengan penelitian untuk menghasilkan penelitian yang akurat. Kemudian, agar hasil penelitian lebih maksimal, peneliti mennggunakan sumber data sekunder yang merujuk pada buku, kamus dan internet. Sedangkan sumber data primer terkait dengan penelitian dan dalam proses menerjemahkan, peneliti akan merujuk pada buku “Walyasa’ka Baituka” karya Salem Al-Ajmi, “Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif” karya Nurhadi, “Penerjemahan Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia” karya Frans
7Fatimah Djajasudarma, Metode Linguistik. (Bandung: PT. Refika Aditama,2006). h. 11
Sayogie, “Seluk Beluk Penerjemahan Arab-Indonesia Kontemporer”dan Cakrawala Linguistik Arab” karya Dr. Moh. Syarif Hidayatullah, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab” karya Ahmad Fuad Effendy, “ Epistemologi dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab” karya Dr. Muhbib Abdul Wahab, “Pembelajaran Menulis Bahasa Arab dalam Perspektif Komunikatif” karya Dr. Ahmad Murod, “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)”, “Kamus Munawwir Arab-Indonesia””Kamus
Alma’ani”, dan kamus android “Kamus Mutarjim”. 3. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang peneliti lakukan adalah metode catat. Terdapat tiga kegiatan dalam penyediaan data yaitu mengumpulkan, menata dan memilih. Sekalipun telah dikumpulkan, data akan sulit dianalisis karena belum ditata dan dipilah. Satu alternatif untuk menata data yang telah dikumpulkan adalah dengan mengelompokannya sebagai konteks data. Data dalam hal ini merujuk pada fenomena yang mengandung dan berkaitan langsung dengan masalah penelitian.9
4. Analisis Data
Dalam metode penelitian ini, peneliti memaparkan langkah-langkah analisis agar penelitian ini berjalan secara sistematis dan bertahap. Adapun tahap peneliti yang akan digunakan, sebagai berikut:
a. Menerjemahkan buku Walyasa’ka Baituka dengan menggunakan berbagai macam kamus yang dijadikan rujukan.
b. Mendeskripsikan penerjemahan buku Walyasa’ka Baituka dengan menggunakan metode semantis.
G. Kerangka teori
1. Penerjemahan Teks Sastra
Pembeda antara sastra modern dan sastra melayu klasik adalah sastra Barat atau Eropa.10 Baik dalam bidang bidang prosa yang
dikenal sebagai istilah novel dan cerpen, bidang puisi, maupun bidang drama dan teater sejak masuknya pengaruh Eropa kini telah menggeser apa yang dimaksudkan sebagai karya sastra asli sebagai leluhurnya.Hampir semua karya sastra yang diproduksi telah mendapatkan pengaruh dari sastra Barat.
Sastra atau kesusasteraan merupakan jenis tulisan yang memiliki arti dan keindahan tertentu bagi orang yang membaca atau mendengarkan.11 Sapardi Djoko Damono (1979) memaparkan bahwa
10 Nurhadi, Bahasa dan Sastra Dalam Berbagai Perspektif, (Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana, 2008), h. 209
sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium bahasa: bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial.12
Berdasarkan jenisnya, sastra dibagi menjadi dua bagian, yaitu sastra lama dan sastra modern. Bentuk karya sastra lama berupa prosa dan puisi. Ciri-ciri dari puisi lama adalah sebagai berikut:
a. Merupakan puisi lama yang tidak dikenal nama pengarangnya (anonim).
b. Merupakan sastra lisan karena disampaikan dari mulut ke mulut.
c. Sangat terikat oleh aturan-aturan, seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata, maupun rima.13
Puisi modern berbeda dengan puisi lama. Diantara ciri-ciri puasa modern adalah sebagai berikut:
a. Secara tipografi rapi, simetris. b. Rima teratur.
c. Sebagian besar menggunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain.
d. Sebagian besar puisi empat seuntai.
e. Tiap gatranya terdiri atas dua kata, umumnya 4-5 suku kata.14
Membaca sastra sering disebut dengan membaca estetis atau membaca indah yang memiliki tujuan agar pembaca dapat
12 Endah Tri Priyatni, Membaca dengan Ancangan Literasi Kritis, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), h. 12
menikmati,merasakan, menghayati, dan sekaligus menghargai unsur-unsur keindahan yang terdapat dalam teks sastra.15 Sastra biasanya
menggambarkan tentang gambaran kehidupan, yang mana kehidupan tersebut adalah kehidupan nyata di sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat, antara masyarakat dengan orang-seorang, antar manusia, dan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang.
Adanya teks sastra adalah bertujuan untuk memberikan kesenangan dan kenikmatan kepada para pembaca dan pendengar. Sehingga pembaca dan pendengar dapat memperoleh kenikmatan estetis yang aktif.
2. Metode Penerjemahan Semantis
Banyak metode penerjemahan yang digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan sebuah teks. Salah satu penerjemahan tersebut adalah penerjemahan sematik.
Metode penerjemahan semantik adalah metode penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sumber atau yang sering dikenal dengan istilah Bsu.16 Hal ini dapat dikatakan bahwa penerjemahan semantik
mencoba untuk mengalihkan sedekat mungkin struktur semantis dan sintaksis bahasa sasaran dengan makna kontekstualyang tepat sama
15 Endah Tri Priyatni, Membaca dengan Ancangan Literasi Kritis, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), h. 3
dalam teks bahasa sumber, serta makna kata dan makna kalimat ditinjau dari sudut konteks naskah sumber.
Penerjemahan itu sendiri merupakan pemindahan pesan Bsu ke dalam Bsa, bukan pemindahan struktur Bsu ke Bsa.17 Pesan disini
perlu digaris bawahi. Banyak para penerjemah khususnya penerjemah pemula yang melakukan penerjemahan teks hanya memindahkan stuktur Bsu ke dalam Bsa namun pesan Bsa belum tersampaikan.
Pada metode ini, penerjemah dituntut untuk menerjemahkan teks dengan lebih luwes dan fleksibel dari pada penerjemah yang menggunakan metode penerjemahan setia.18Penerjemah
mempertahankan unsur estetika Tsu dengan mengkompromikan makna selama masih dalam batas wajar.
Metode penerjemahan semantik biasanya mempertimbangkan tingkat kematangan berbahasa penulis teks bahasa sumber dan mengikuti proses pemikiran penulis teks bahasa sumber yang bersifat personal dan individual. Di samping itu, penerjemahan semantik itu cenderung untuk over-translate dalam mengejar bentuk makna dan menganalisis makna tersebut untuk memproduksi efek pragmatik dari teks yang diterjemahkan.19
17 Moch. Syarif Hidayatullah, Cakrawala Linguistik arab, (Tangerang Selatang: Alkitabah, 2012), h. 151
Menurut Newmark, produk penerjemahan semantik lebih rendah (nferior) dari teks aslinya dan memerlukan interprestasi yang dalam bagi pembacanya untuk memahami pesan penulis teks bahasa sumber.20 Penerjemah yang menerjemahkan teks dengan menggunakan
metode ini harus mempertahankan idolek penulis teks bahasa sumber, khususnya bentuk ekspresi yang digunakan dalam teks bahasa sumber. H. Sistematika Penelitian
Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari empat Bab, yang akan dirincikan sebagai berikut:
Bab I adalah pendahuluan. Bagian pendahuluan ini berisi satu bab tersendiri yang meliputi latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, kerangka teori dan sistematika penulisan.
Bab II adalah uraian sekilas tentang penulis dan bukunya. Bab ini menguraikan tentang biografi Salem Al-Ajm, karya-karya Salem Al-Ajm dan tentang buku Walyasa’ka Baituka.
Bab III akan memaparkan pertanggungjawaban metode penerjemahan yang digunakan. Bab ini menguraikan tentang pendahuluan, terjemahan buku Walyasa’ka Baituka, dan metode penerjemahan yang digunakannya.
Djajasudarma, Fatimah. Metode Linguistik, Bandung: PT Refika Aditama, 2006. Efendy, Ahmad Fuad. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Malang: Penerbit
Misykat, 2005.
Gunawan, Imam. Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik, Jakarta: Bumi Aksara, 2013.
Hidayatullah, Moch. Syarif. Cakrawala Linguistik Arab, Tanggerang Selatan: Alkitabah, 2012.
Hidayah, Maria. Sakinah Mawaddah Warahmah, Klaten: Abata Press, 2016. Hidayatullah, Moch. Syarif. Seluk Beluk Penerjemahan Arab Indonesia
Kontemporer, Tanggerang Selatan: Alkitabah, 2014.
Machali, Rochayah. Pedoman Bagi Penerjemah, Jakarta: PT Grasindo, 2000. Muhammad. Metode Penelitian Bahasa, Jogjakarta: Arruz Media, 2011.
Nurhadi. Bahasa dan Sastra Dalam Berbagai Perspektif, Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta dengan penerbit Tiara Wacana, 2008.
Priyatni, Endah Tri. Membaca sastra dengan Ancangan Literasi Kritis, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010.
Rahardi, Kunjana. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, Jakarta: Erlangga, 2008.
Salim, Abu Malik Kamal Ibn as-Sayyid. Fikih Sunnah Wanita, Jakarta: Qisthi Press, 2013.