• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Tanaman R

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Tanaman R"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hutan Tanaman Rakyat (HTR)

2.1.1 Gambaran Umum dan Tujuan HTR

Program HTR pertama dicanangkan pada awal tahun 2007 berdasarkan PP

No. 6 tahun 2007 Jo PP No. 3 tahun 2008 tentang Tata Hutan dan Penyusunan

Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan dan Permenhut No.

P.23/Menhut-II/2007 Jo. Permenhut No. P.5/Menhut-II/2008 tentang Tata Cara

Permohonan IUPHHK-HTR dalam Hutan Tanaman. Program ini memberikan

akses kepada masyarakat untuk (1) Memperoleh pengakuan secara hukum dalam

usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan produksi; (2) Memperoleh

pinjaman dana pembangunan HTR; (3) Memperoleh jaminan pasar melalui

penetapan harga dasar. Kebijakan HTR ini sekaligus merupakan implementasi

dari Kebijakan Prioritas Departemen Kehutanan 2004-2009 terutama Revitalisasi

Sektor Kehutanan dan Pemberdayaan Ekonomi, sehingga sektor kehutanan dapat

memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional, perbaikan

lingkungan, mensejahterakan masyarakat dan memperluas lapangan kerja.

Berdasarkan pembelajaran terhadap beberapa program pemberdayaan

masyarakat sebelumnya, Emila dan Suwito (2007) menyimpulkan bahwa HTR

harus dijalankan dengan prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat yaitu :

a. Masyarakat mengorganisasikan dirinya berdasarkan kebutuhannya (people organized themselves based on their necessity) yang berarti pemberdayaan hutan beserta masyarakatnya ini bukan digerakkan oleh proyek ataupun

bantuan luar negeri karena kedua hal tersebut tidak akan membuat

masyarakat mandiri dan hanya membuat “kebergantungan” masyarakat.

b. Kegiatan pemberdayaan masyarakat harus bersifat padat karya ( labor-intensive) sehingga kegiatan ini tidak mudah ditunggangi pemodal (cukong) yang tidak bertanggung jawab.

c. Pemerintah memberikan pengakuan/rekognisi dengan memberikan aspek

legal sehingga kegiatan masyarakat yang tadinya informal di sektor

(2)

nasional dan global sehingga bebas dari pemerasan oknum birokrasi dan

premanisme pasar.

2.1.2 Lokasi dan Ijin Pemanfaatan HTR

Program HTR dilaksanakan di kawasan hutan produksi yang tidak

produktif dan tidak dibebani hak serta letaknya diutamakan dekat dengan industri

dan ditetapkan oleh Menteri Kehutanan sebagai areal pencadangan HTR.

Selanjutnya bupati/walikota melakukan sosialisasi alokasi lahan yang telah

ditetapkan di daerahnya kepada masyarakat (Pasal 2 Permenhut No.

P.23/Menhut-II/2007 Jo. Permenhut No. P.5/Menhut-II/2008). Mekanisme proses pencadangan

HTR seperti yang terlihat pada Gambar 2.

Selanjutnya masyarakat dapat mengajukan ijin pemanfaatan di areal yang

telah ditetapkan tersebut. Pasal 8 Permenhut di atas menyebutkan ijin

pemanfaatan pada program HTR berupa Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan

Kayu (IUPHHK-HTR) yang diberikan kepada perorangan atau koperasi.

Koperasi yang dimaksud adalah koperasi skala usaha mikro, kecil, menengah

yang dibangun oleh masyarakat yang tinggal di dalam atau sekitar hutan.

Luas lahan yang diberikan pada individu perorangan dibatasi maksimum 15

ha/KK, sedangkan luas untuk koperasi disesuaikan dengan kemampuannya. Letak

areal yang dimohonkan tersebut harus berada dalam satu lokasi yang telah

ditetapkan Menteri Kehutanan. Apabila areal yang dimohon berada di luar areal

yang telah ditetapkan Menteri maka bupati dapat mengusulkan areal yang

dimaksud kepada Menteri Kehutanan untuk ditetapkan sebagai areal HTR.

Persyaratan pemohon untuk mendapatkan IUPHHK-HTR seperti yang

diatur dalam Pasal 9 adalah :

1. Persyaratan permohonan yang diajukan oleh perorangan: foto copy KTP,

keterangan dari Kepala Desa bahwa benar pemohon berdomisili di desa

tersebut, sketsa areal yang dimohon (memuat info wilayah administrasi

pemerintahan,koordinat dan batas-batas yang jelas dan dapat diketahui

luasnya)

2. Persyaratan permohonan yang diajukan oleh koperasi: foto copy akta

pendirian, keterangan dari Kepala desa yang menyatakan bahwa Koperasi

(3)

areal yang dimohon untuk luasan di atas 15 (lima belas) hektar dengan skala

1 : 5000 atau 1 : 10.000.

Bagi pemohon perorangan diutamakan membentuk kelompok untuk memudahkan

proses permohonan ijin (pasal 10). Ketentuan kelompok ini sangat penting

terutama ketika pemegang ijin mengajukan pinjaman dana bergulir (PDB) untuk

biaya pembangunan HTR (pasal 17). Dimana pemegang ijin perorangan

diharuskan membentuk kelompok minimal beranggotakan 5 pemegang ijin

dengan luasan minimal masing-masing 8 ha (Permenhut Nomor

P.9/Menhut-II/2008 pasal 2). Tata cara permohonan IUPHHK-HTR seperti yang diatur dalam

Pasal 11 dan 12 Permenhut No. P.23/Menhut-II/2007 Jo. Permenhut No.

P.5/Menhut-II/2008 dapat dilihat pada Gambar 3.

Ijin tersebut akan dihapus apabila dalam jangka waktu 180 hari sejak

tanggal penetapan pemegang IUPHHK-HTR belum melakukan kegiatan

administrasi dan kegiatan di lapangan.

(4)

Gambar 3 Tata cara permohonan Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Rakyat dalam Hutan Tanaman (IUPHHK-HTR).

2.1.3 Pola Pengembangan HTR dan Jenis Tanaman

Pola pengembangan HTR direncanakan mengikuti 3 pola, yaitu (a) Pola

Mandiri, (b) Pola Kemitraan dengan HTI, BUMN/S, dan (c) Pola Developer.

Pengertian dari masing-masing pola adalah sebagai berikut:

a. Pola Mandiri

Masyarakat setempat membentuk kelompok, Pemerintah mengalokasikan

areal dan SK IUPHHK-HTR untuk setiap individu dalam kelompok dan

masing-masing ketua kelompok bertanggung jawab atas pelaksanaan HTR, pengajuan dan

pengembalian kredit, pasar, dan pendampingan dari pemerintah/Pemda.

b. Pola Kemitraan

HTR yang dibangun oleh Kepala Keluarga pemegang IUPHHK-HTR

bersama dengan mitranya berdasarkan kesepakatan bersama dengan difasilitasi

oleh Pemerintah agar terselenggara kemitraan yang menguntungkan kedua pihak.

Mitra bertanggung jawab atas pendampingan, input/modal, pelatihan dan pasar.

c. Pola Developer

BUMN/S sebagai developer membangun hutan tanaman rakyat dan

selanjutnya diserahkan oleh Pemerintah kepada masyarakat sebagai pemegang

IUPHHK-HTR yang selanjutnya biaya pembangunannya diperhitungkan sebagai Pemohon HTR

Kepala Desa (verifikasi dan

rekomendasi

Camat BP2HP

BP2HP verifikasi dan berkoordinasi

dgn BPKH sbg pertimbangan teknis

Bupati/Walikota (menerbitkan ijin)

Ijin HTR oleh Bupati/Walikota a.n. Menhut

(5)

pinjaman pemegang IUPHHK-HTR dan dikembalikan secara bertahap sesuai

akad kredit.

Jenis tanaman pokok yang bisa dikembangkan berupa tanaman hutan

berkayu sejenis, atau tanaman hutan berkayu yang dikombinasikan dengan

tanaman budidaya tahunan yang berkayu atau jenis lain yang ditetapkan oleh

Menhut (pasal 6). Tanaman hutan berkayu, antara lain (1) kayu pertukangan

(meranti, jati, sengon, mahoni, dll); dan (2) kayu serat (gmelina, akasia, dll).

Tanaman budidaya tahunan berkayu adalah jenis MPTS, antara lain: karet,

nangka, kemiri, rambutan, mangga, dll. Persentase komposisi jenis tanaman

adalah tanaman hutan berkayu (70%) dan tanaman budidaya tahunan berkayu

(30%). Komposisi ini tidak termasuk kegiatan tumpangsari tanaman semusim.

2.1.4 Hak dan Kewajiban

Pemegang IUPHHK-HTR mempunyai hak melakukan kegiatan sesuai izin,

kemudahan memdapatkan dana untuk pembiayaan pembangunan HTR,

bimbingan dan penyuluhan teknis dan peluang ke pemasaran hasil hutan (pasal

19). Dalam pasal 20 disebutkan kewajiban pemegang IUPHHK-HTR adalah

menyusun Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan

Tanaman Rakyat dalam hutan tanaman (RKU IUPHHK-HTR) dan Rencana Kerja

Tahunan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Rakyat

dalam Hutan Tanaman (RKT). RKUPHHK HTR adalah rencana kerja untuk

seluruh areal kerja IUPHHK-HTR dalam satu wilayah Kabupaten/Kota dan

berlaku selama jangka waktu izin, antara lain memuat aspek kelestarian usaha,

aspek keseimbangan lingkungan dan sosial ekonomi yang disahkan

Bupati/Walikota. RKT adalah rencana kerja yang disusun secara gabungan dalam

satu kelompok pemegang izin dan/atau Koperasi untuk jangka waktu 1 (satu )

tahun, yang merupakan penjabaran RKUPHHK-HTR Penyusunan RKU

IUPHHK-HTR dan RKT ini dilakukan oleh UPT atau konsultan yang bergerak di

bidang kehutanan atau Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang

kehutanan dan biaya penyusunannya dibebankan kepada pemerintah.

Apabila pemegang IUPHHK-HTR meminjam dana pembangunan HTR

(6)

IUPHHK-HTR juga memiliki kewajiban untuk melunasi pinjaman tersebut

kepada BP2H dan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pemegang ijin tetap harus melunasi pinjaman ini walaupun ijin pengusahaannya

telah dihapuskan.

2.1.5 Kinerja HTR di Kabupaten Sarolangun, Jambi

Data dari BP2HP wilayah IV Jambi menyebutkan bahwa hingga Mei 2011

areal yang telah dicadangkan untuk pembangunan HTR seluas 49.703 ha berada

di 7 kabupaten yaitu Tebo, Sarolangun, Muaro Jambi, Batang Hari, Tanjung

Jabung Barat, Merangin dan Kerinci. Dari luasan tersebut baru 3.843,64 ha atau

sekitar 7,73% yang telah terbit ijin pengusahaannya untuk 3 (tiga) kabupaten yaitu

Tebo (2 ijin koperasi dan 33 ijin perorangan), Sarolangun (18 ijin perorangan) dan

Muaro Jambi (1 ijin koperasi).

Tabel 1 Daftar perkembangan pemberian ijin pengelolaan HTR (IUPHHK-HTR) di Kabupaten Sarolangun hingga Mei 2011

No Nomor

Sumber : BP2HP Wilayah IV Jambi (2011)

Di Kabupaten Sarolangun sendiri, melalui SK Menteri Kehutanan No.

SK.386/Menhut-II/2008 tanggal 7 Nopember 2008 telah dicadangkan areal hutan

produksi untuk HTR seluas 18.840 ha atau sekitar 10,70% dari luasan hutan

(7)

tersebut baru 154,66 ha yang telah terbit ijin pengelolaannya dengan rincian

seperti pada Tabel 1.

Dari Tabel 1 tersebut dapat diketahui bahwa mayoritas ijin pengelolaan

HTR diberikan kepada perorangan (pola HTR mandiri). Semua pemilik ijin

tersebut terdaftar sebagai anggota kelompok tani (KTH) yang berada di Desa

Taman Bandung, Kecamatan Pauh.

2.2 Persepsi

2.2.1 Pengertian Persepsi

Dalam terminologi psikologi Lindsay dan Norman (1977) menyebutkan

bahwa “Perception is the process by which organisms interpret and organize sensation to produce a meaningful experience of the world”. Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa persepsi merupakan pandangan akhir seseorang

setelah memproses semua input dan sensasi yang diperolehnya melalui panca

indera. Sattar (1985) menyebutkan bahwa Vredentbergt (1974) memiliki pendapat

yang tidak jauh berbeda yaitu bahwa melalui proses yang selektif. Manusia akan

memberikan tanggapan terhadap rangsangan suatu obyek atau gejala yang diterimanya. Persepsi dikatakan sebagai proses selektif untuk membangun kesan

dan membuat penilaian.

Persepsi (perception) juga diartikan sebagai penglihatan atau tanggapan daya memahami/menanggapi (Echols & Shadily 1989). Persepsi merupakan cara

bagaimana seseorang melihat dan menaksirkan suatu obyek atau kejadian.

Seseorang akan melakukan tindakan sesuai persepsinya, sehingga persepsi

memiliki peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi perilaku seseorang

(Chartrand & Bargh 1999).

Beberapa definisi persepsi menurut para ahli, antara lain:

1. Menurut Grice (1964), persepsi merupakan proses sebab akibat. Proses

pemberian arti oleh seseorang sebagai akibat atas berbagai rangsangan atau

stimulus yang diterimanya, dan dari proses tersebut seseorang mempunyai

opini tertentu mengenai apa yang diamatinya.

2. Menurut Krech (1962), persepsi merupakan integrasi dari individu dan

rangsangan yang diterimanya. Apa yang dipersepsikan individu dalam suatu

(8)

dipengaruhi juga oleh apa yang ada dalam diri individu tersebut, misalnya

pengalaman, perasaan, prasangka, keinginan, sikap dan tujuan.

3. Menurut Lindsay dan Norman (1977), persepsi merupakan suatu proses dari

seseorang dalam menyeleksi, mengorganisir dan menginterpretasikan

rangsangan ke dalam sesuatu yang berarti dan koheren dengan dunia. Dengan

demikian orang yang berbeda bisa jadi akan melihat sesuatu yang sama secara

berbeda..

4. Menurut Hufman (1987), persepsi merupakan proses penyeleksian,

pengorganisasian, dan penyampaian data yang dapat dipahami oleh mental

2.2.2 Mekanisme Pembentukan Persepsi

Seseorang yang mengalami suatu persepsi selalu melalui suatu proses

tertentu. Proses tersebut dimulai saat diterimanya rangsangan melalui alat

penerima, kemudian diteruskan ke otak. Dalam otak terjadi proses psikologis yang

menyebabkan seseorang sadar tentang apa yang dialaminya. Sehingga menurut

Swanky (2006), suatu proses psikologis merupakan suatu persepsi jika terdapat

karakteristik berikut, yaitu adanya obyek yang dipersepsikan, alat indra (reseptor)

dan perhatian.

Obyek persepsi dapat berada di dalam maupun di luar individu. Jika obyek

persepsi berada di dalam individu yang mempersepsi, berarti individu tersebut

mempersepsi dirinya sendiri, sehingga ia dapat mengerti dan mengevaluasi

keadaan dirinya sendiri. Namun jika persepsi berada di luar individu yang

mempersepsi, maka obyek persepsi dapat berupa benda-benda, situasi atau

manusia (Swanky 2006). Selama proses mempersepsi suatu obyek, individu

dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan

faktor-faktor yang ada dalam diri individu, seperti pengalaman, perasaan,

kemampuan berpikir, kerangka acuan, dan motivasi. Faktor eksternal berupa

rangsangan itu sendiri dan faktor lingkungan di mana persepsi itu berlangsung.

Litterer dalam Susiatik (1998) membagi mekanisme pembentukan persepsi

menjadi 3 yaitu “selectivity”, “interpretation” dan “closure”. Mekanisme tersebut

digambarkan seperti pada Gambar 4. Model ini memperlihatkan bahwa

(9)

interpretasi informasi. Namun Susiatik (1998) mengatakan bahwa menurut

Asngari (1984) faktor internal yang mempengaruhi persepsi tidak hanya

pengalaman masa silam tetapi juga karakteristik seperti umur, jenis kelamin,

pendidikan, pekerjaan, dan status kependudukan karena persepsi merupakan

proses pengamatan serapan yang berasal dari kemampuan kognitif seseorang.

Sumber: Susiatik (1998)

Gambar 4 Proses pembentukan persepsi model Litterer (1984).

2.2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Weaver (1978) dalam Susiatik (1998) menyatakan bahwa umumnya terjadi

perbedaan persepsi antara individu satu dengan yang lain terhadap suatu obyek

yang sama. Persepsi individu terhadap suatu obyek atau gejala dapat bersifat

positif atau negatif, benar atau salah serta dapat berubah. Hal ini terjadi karena

perbedaan karakteristik setiap individu yang bersifat pribadi dan unik.

Selanjutnya di dalam Susiatik (1998), Ruch (1964) juga menyebutkan bahwa

persepsi setiap individu terhadap obyek yang sama dapat berbeda tetapi persepsi

dari individu yang sama terhadap suatu obyek yang sama juga dapat berbeda

dalam waktu yang berbeda. Ruch menyimpulkan perbedaan persepsi dipengaruhi

oleh faktor tingkat intelejensia, pengharapan terhadap obyek yang dipersepsi dan

pengalaman masa lalu.

Sadli (1976) menyatakan ada empat faktor yang dapat mempengaruhi

persepsi seseorang, yaitu: Pembentukan Persepsi

Mekanisme Pembentukan Persepsi

Informasi sampai ke Individu

Closure Interpretation

Selectivity

Pengalaman Masa Silam

(10)

1. Faktor obyek rangsangan seperti nilai, arti emosional, familiaritas dan

intensitas suatu obyek.

2. Faktor individu seperti tingkat kecerdasan, minat, emosional, dll

3. Faktor pengaruh kelompok, bahwa respon orang lain dalam suatu kelompok

akan memberikan arah terhadap tingkah laku seseorang

4. Faktor latar belakang kultural seperti adat istiadat dan kebudayaan seseorang

akan mempengaruhi tingkah lakunya.

Dalam penelitiannya mengenai persepsi masyarakat terhadap kegiatan

reboisasi dan penghijauan, Sattar (1985) menyimpulkan bahwa karakteristik

individu yang mempengaruhi persepsi adalah pendidikan, sosial ekonomi, sosial

budaya serta karakteristik penyuluhan yang dilakukan. Penelitian lain yang

dilakukan Yuwono (2006) menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi

persepsi masyarakat terhadap program hutan rakyat pola kemitraan di Kabupaten

Musi Rawas adalah umur, pendidikan, penyuluhan dan pemahaman program.

Hasil penelitian Susiatik (1998) menyimpulkan bahwa selain umur dan

pendidikan, pengalaman berusaha tani dan kekosmopolitan individu juga

memiliki hubungan yang erat dengan persepsi masyarakat terhadap program

Pembangunan Masyararakat Desa Hutan Terpadu di Kabupaten Grobogan Jawa

Tengah.

2.3 Pengambilan Keputusan oleh Individu

Usaha kehutanan merupakan suatu investasi jangka panjang mengingat

petani belum akan menikmati hasilnya hingga bertahun-tahun mendatang. Waktu

yang panjang juga meningkatkan resiko bagi investasi itu sendiri. Hal ini

dikombinasikan dengan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki oleh petani itu

sendiri. Shievely (1999) menunjukkan bahwa permasalahan dalam pemilihan

jenis tanaman yang akan ditanam dapat dijadikan sebagai analog dari pemilihan

kombinasi investasi yang harus dilakukan oleh petani sehubungan dengan biaya

yang harus dikeluarkan dan keterbatasan modal yang dimiliki oleh petani.

Investasi yang dilakukan menyangkut pertimbangan seberapa besar dari usaha tani

tersebut yang digunakan untuk kepentingan produksi dan seberapa besar yang

(11)

Keputusan petani untuk berinvestasi sangat bergantung pada seberapa besar

petani mau menerima resiko usaha. Predo (2003) menyebutkan beberapa

penelitian di negara berkembang menunjukkan bahwa petani dengan tingkat

kesejahteraan rendah sangat menghindari resiko usaha dan lebih bersifat subsisten

(Biswanger 1980; Walker & Ryan 1990). Kesediaan petani untuk mengadopsi

suatu program bergantung pada bagaimana dia mempertimbangkan manfaat dan

biaya yang dikeluarkan.

Keputusan seseorang untuk ikut berpartisipasi atau tidak dalam suatu

kegiatan dipengaruhi oleh karakteristik individu tersebut dan karakteristik

program yang ditawarkan serta sejauhmana persepsi individu tersebut terhadap

program yang ditawarkan (Predo 2003; Neupane et al. 2002; Pregernig 2002). Hasil penelitian Predo (2003) menyebutkan bahwa keputusan petani untuk ikut

serta dalam program menanam pohon dipengaruhi secara nyata oleh umur,

tingkat pendidikan kondisi ekonomi, kepemilikan lahan, status sosial, persepsi

petani terhadap kegiatan menanam dan keberanian petani mengambil resiko.

Pregernig (2002) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa keputusan seseorang

untuk melakukan program rehabilitasi lahan bukan hanya dipengaruhi oleh faktor

obyektif (tingkat kerusakan lahan) tetapi juga faktor subyektif (urgensi dari

program yang mencerminkan persepsi mereka terhadap program tersebut).

Penelitian Neupanea et al. (2002) menyimpulkan faktor jenis kelamin, tingkat pendidikan, keanggotaan dalam organisasi dan persepsi positif merupakan faktor

yang berpengaruh nyata terhadap keputusan masyarakat untuk mengadopsi

program agroforestri di Nepal.

2.4 Partisipasi

2.4.1 Pengertian Partisipasi

Berdasarkan asal katanya, partisipasi berasal dari kata participate (Inggris),

participo, participatium (Latin) yang berarti ambil bagian (Purnawan & Widayati 2005). Partisipasi sering disinonimkan dengan peran serta atau keikutsertaan.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia arti partisipasi adalah hal turut berperan

(12)

Bank Dunia (1996) seperti yang diacu oleh Sinha & Suar (2005)

mendefinisikan partisipasi sebagai suatu proses dinamis dalam pengelolaan hutan

dimana para pelaku saling mempengaruhi dan berbagi kontrol terhadap ide-ide

pengembangan, pengambilan keputusan dan penggunaan sumberdaya yang

mempengaruhinya. Dalam pengertian yang sempit, partisipasi di dalam suatu

kelompok sama dengan jumlah anggota yang ikut serta, namun dalam pengertian

yang lebih luas dapat didefinisikan sebagai individu yang memiliki suara dan

pengaruh terhadap pengambilan keputusan. Dengan demikian maka partisipasi

bukan hanya melibatkan unsur fisik saja tetapi lebih dari itu adalah keterlibatan

secara psikis. Agar dapat dikatakan berpartisipasi dalam suatu kegiatan

diperlukan keterlibatan secara total atau keterlibatan secara aktif dan untuk itu

diperlukan kesadaran masyarakat terhadap kegiatan tersebut.

Penelitian Sinha & Suar (2006) membedakan partisipasi masyarakat

menjadi partisipasi langsung dan tidak langsung. Yang termasuk partisipasi

langsung antara lain keterlibatan individu dalam kegiatan pertemuan, berperan

aktif dalam pertemuan, berperan serta dalam pelaksanaan kegiatan, pengawasan

dan evaluasi kegiatan. Sedangkan yang termasuk partisipasi tidak langsung antara

lain mematuhi peraturan yang telah ditetapkan, memotivasi anggota keluarga dan

orang lain, mendukung secara moral terhadap transparansi pelaksanaan kegiatan.

Raharjo (1983) dalam Yuwono (2006) berpendapat bahwa partisipasi adalah

keikutsertaan suatu kelompok masyarakat dalam program-program pemerintah.

Dalam hal ini masyarakat bukan hanya menerima tetapi juga turut membantu

dalam proses pelaksanaannya.

Munir (2004) menyatakan bahwa agar partisipasi masyarakat dapat berjalan

dengan aktif maka partisipasi masyarakat harus dibangun di atas tiga pilar, yaitu

partisipasi, transparansi dan akuntabilitas. Partisipasi dimaksudkan untuk

memberikan penyadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam pelestarian

sumber daya alam. Transparansi berarti adanya keterbukaan penyelenggara

pemerintahan dalam memberikan penjelasan ataupun data-data yang dibutuhkan

masyarakat. Akuntabilitas diartikan sebagai kegiatan dan tindakan yang dilakukan

oleh pemerintah atau masyarakat dan dapat dipertanggungjawabkan secara

(13)

Masyarakat akan tergerak untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan apabila

(1) partisipasi dilakukan melalui organisasi yang sudah dikenal atau yang sudah

ada di tengah masyarakat yang bersangkutan, (2) partisipasi memberikan manfaat

langsung kepada masyarakat yang bersangkutan, (3) manfaat yang diperoleh

tersebut dapat memenuhi kepentingan masyarakat setempat, dan (4) dalam proses

partisipasi terdapat aminan kontrol oleh masyarakat (Winarto 2003).

Menurut Krishna dan Lovell (1985) paling tidak ada empat alasan

pentingnya partisipasi dalam menunjang keberhasilan suatu program/kegiatan

seperti yang diacu oleh Iqbal (2007). Pertama, partisipasi diperlukan untuk

meningkatkan rencana pengembangan program/kegiatan secara umum dan

kegiatan prioritas secara khusus. Kedua, partisipasi dikehendaki agar

implementasi kegiatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ketiga, partisipasi

dibutuhkan untuk menjamin kelangsungan program/kegiatan. Keempat, partisipasi

dapat meningkatkan kesetaraan dalam implementasi kegiatan. Oleh karena itu,

partisipasi merupakan suatu tatanan mekanisme bagi para penerima manfaat dari

suatu program/kegiatan.

2.4.2 Tipologi Partisipasi

Menurut Iqbal (2007), Selener mengklasifikasikan partisipasi atas dua tipe.

Pertama, partisipasi teknis yang dapat mempengaruhi para pemegang kekuasaan

untuk mengakomodasikan kebutuhan mereka. Partisipasi tipe ini relatif tidak

bermuara pada pemberdayaan atau perubahan sosial masyarakat. Kedua,

partisipasi politis yang memiliki kemampuan dalam pengambilan langkah

pengawasan terhadap suatu kondisi dan situasi tertentu. Partisipasi tipe ini mampu

meningkatkan aksi swadaya dalam pengembangan dan penguatan kelembagaan.

Pada umumnya para pelaku dalam implementasi program/kegiatan terlibat

secara semu (pasif). Petani, misalnya, hanya difungsikan sebagai target dan

mereka berpartisipasi berdasarkan informasi yang mereka dapatkan mengenai apa

yang terjadi di lingkungan mereka. Dengan kata lain, informasi dari target

diinterpretasikan oleh pihak luar (kaum profesional dan ahli). Oleh karena itu,

pengenalan tentang bentuk dan tingkatan partisipasi perlu dipahami oleh semua

(14)

Tabel 2 Karakteristik berbagai tipologi partisipasi

Tipologi Karakteristik

Partisipasi pasif Masyarakat berpartisipasi berdasarkan informasi yang mereka terima dari pihak luar tentang apa yang terjadi di lingkungan mereka

Partisipasi informasi

Masyarakat berpartisipasi dengan cara menjawab pertanyaan ekstraktif yang diajukan pihak luar (misalnya peneliti dengan menggunakan kuesioner), di mana hasil temuan tidak dimiliki, dipengaruhi, dan diperiksa akurasinya oleh masyarakat

Partisipasi konsultasi

Masyarakat berpartisipasi melalui konsultasi dengan pihak luar, di mana pihak luar tersebut mengidentifikasi masalah dan sekaligus mencarikan solusinya serta memodifikasi penemuan berdasarkan respons masyarakat

Partisipasi insentif material

Masyarakat berpartisipasi dengan menyediakan sumber daya, misalnya tenaga kerja dan lahan untuk ditukar dengan insentif material, namun partisipasi masyarakat terhenti seiring berakhirnya imbalan insentif tersebut

Partisipasi fungsional

Masyarakat berpartisipasi dengan membentuk kelompok dan melibatkan pihak luar dalam rangka menentukan tujuan awal program/kegiatan, di mana pada umumnya pihak luar terlibat setelah keputusan rencana utama dibuat

Partisipasi interaktif

Masyarakat berpartisipasi dalam melakukan analisis kolektif dalam perumusan kegiatan aksi melalui metode interdisiplin dan proses pembelajaran terstruktur, di mana masyarakat mengawasi keputusan lokal dan berkepentingan dalam menjaga serta sekaligus memperbaiki struktur dan kegiatan yang dilakukan

Partisipasi

mobilisasi swadaya

Masyarakat berpartisipasi dengan cara mengambil inisiatif dan tidak terikat dalam menentukan masa depan, di mana pihak luar hanya diminta bantuan dan nasihat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya

Sumber: Pretty (1995) dalam Iqbal (2007).

Menurut tipologinya, Pretty (1995) mengklasifikasikan partisipasi

berdasarkan 7 karakteristik (Tabel 2). Dari ketujuh karakteristik tersebut,

partisipasi interaktif merupakan bentuk partisipasi yang dianggap paling sesuai

dengan implementasi program pembangunan. Para pelaku harus terwakili secara

khusus dalam rancangan organisasi, di mana mereka berpartisipasi dan sekaligus

menjalani proses pembelajaran dalam pelaksanaan program pembangunan. Hal ini

perlu disadari mengingat tidak semua pelaku memiliki peluang dan kesempatan

(15)

berpartisipasi. Pengembangan kapasitas pelaku merupakan salah satu unsur efektif

dalam memotivasi mereka untuk berpartisipasi (Iqbal 2007).

Davis membagi partisipasi menjadi dua bagian yaitu berdasarkan jenis dan

bentuknya seperti yang diacu dalam Santosa (1999). Partisipasi berdasarkan jenis

dibagi atas enam, yaitu : (1) pikiran, (2) tenaga, (3) pikiran dan tenaga, (4)

keahlian, (5) barang, dan (6) uang. Sedangkan menurut bentuknya partisipasi

dikategorikan menjadi tujuh, yaitu (1) konsultasi, (2) sumbangan berupa uang atau

barang, (3) sumbangan dalam bentuk kerja yang biasanya dilakukan tenaga ahli

setempat, (4) aksi massa / gotong royong, (5) mengadakan pembangunan

dikalangan keluarga dari masyarakat setempat, (6) mendirikan proyek yang

sifatnya berdikari dan dibiayai seluruhnya oleh masyarakat setempat, dan (7)

mendirikan proyek yang juga dibiayai oleh sumbangan dari luar lingkungan

masyarakat setempat.

Tabel 3 Tingkatan partisipasi berdasarkan tanggung jawabnya Tingkat partisipasi Tanggung jawab

Partisipasi

berdasarkan pesanan atau tekanan

Masyarakat tidak berperan dalam pengambilan keputusan, melainkan hanya berpartisipasi menyediakan tenaga kerja dan materi suatu kegiatan

Partisipasi sukarela Masyarakat dapat menggunakan kebebasan untuk berpartisipasi atau tidak dalam suatu kegiatan

Partisipasi memberi saran

Masyarakat memperoleh kesempatan lebih luas untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepada mereka

Partisipasi inisiatif Masyarakat berpartisipasi dengan cara mengambil inisiatif untuk kelancaran suatu kegiatan

Partisipasi kreativitas Masyarakat berpartisipasi dalam menganalisis situasi, menentukan prioritas, perencanaan, implementasi, serta monitoring dan evaluasi

Sumber: Johnston (1982) dalam Iqbal (2007).

Berdasarkan pertanggungjawabannya, tingkatan partisipasi masyarakat

dapat dibedakan menjadi 5 tingkatan (Tabel 3). Tingkatan yang paling cocok

untuk kegiatan pengelolaan hutan adalah partisipasi kreativitas. Pada tingkatan ini

masyarakat berpartisipasi mulai dari tahap perencanaan kegiatan, pelaksanaan,

(16)

masyarakat dalam kegiatan pengelolaan hutan lainnya seperti agroforestri, hutan

rakyat atau rehabilitasi hutan (Susiatik 1998; Yuwono; 2006; Trison 2005).

2.4.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi

Partisipasi masyarakat dalam suatu program/kegiatan dipengaruhi oleh

berbagai faktor. Menurut Sastropetro (1988) yang diacu oleh Yuwono (2006),

secara umum faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan

pembangunan adalah : (1) keadaan sosial ekonomi masyarakat, (2) bentuk

program/kegiatan pembangunan itu sendiri, dan (3) keadaan lingkungan. Keadaan

sosial ekonomi masyarakat yang dimaksud terdiri dari pendidikan, pendapatan,

kebiasaan, kepemimpinan, keadaan keluarga, kemiskinan, kedudukan sosial dan

sebagainya. Bentuk program/kegiatan merupakan kegiatan yang dirumuskan serta

dikendalikan oleh pemerintah yang dapat berupa organisasi kemasyarakatan atau

kebijakan-kebijakan. Sedangkan keadaan lingkungan adalah faktor fisik daeah

yang ada di lingkungan sekitar tempat hidup masyarakat.

Beberapa faktor lain yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat

terutama dalam program pengelolaan hutan antara lain tingkat pendidikan,

pengalaman bertani, sifat kekosmopolitan (Susiatik 1998; Neupane 2002; Zbinden

& Lee 2005). Bahkan penelitian Neupane (2002) dan Lee Zbinden dan Lee

(2005) menambahkan faktor seperti umur, kepemilikan lahan, jumlah anggota

keluarga, pendapatan, dan persepsi masyarakat sebagai faktor yang juga sangat

mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan pengelolaan hutan di Nepal

dan Kostarika.

Selain itu kebiasaan-kebiasaan lama yang terdapat dalam masyarakat

setempat juga merupakan faktor-faktor yang perlu diperhatikan. Tokoh

masyarakat, pemimpin adat, tokoh agama, adalah merupakan komponen yang

juga berpengaruh dalam menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam

suatu kegiatan. Pemimpin yang bergaya karismatik dapat meningkatkan

partisipasi masyarakat di sekitarnya, sebaliknya pemimpin yang bergaya otoriter

dan manipulatif tidak banyak diikuti oleh yang lain karena sifatnya yang tidak

transparan dan cenderung mengambil keputusan sendiri sehingga dapat

Gambar

Gambar 2   Mekanisme proses pencadangan areal HTR.
Gambar 3  Tata cara permohonan Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada
Tabel 1   Daftar perkembangan pemberian ijin pengelolaan HTR (IUPHHK-HTR)
Gambar 4   Proses pembentukan persepsi model Litterer (1984).
+3

Referensi

Dokumen terkait

1) Pengaruh lokasi terhadap motivasi petani lada dalam menabung Berdasarkan analisis diperoleh nilai t-hitung untuk variabel lokasi sebesar 5,237 Jika dibandingkan dengan nilai

Juga sebaliknya, sistem pendidikan seni di Indonesia diharapkan mampu beradaptasi terus menerus dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan peran aktif nilai-nilai luhur

Dari hasil penelitian dan wawancara terhadap responden didapatkan informasi bahwa jumlah ganti rugi yang diterima oleh petani termasuk dalam kategori rendah, hal

Sumber data utama dalam penelitian ini adalah perkembangan, fungsi, dan bentuk penyajian musik Tanjidor di Kecamatan Pemangkat yang dipaparkan oleh

Proses pengolahan kayu yang meliputi pemotongan dan pengawetan juga tidak dapat membuat material kayu akan memiliki kekuatan dan ketahanan yang sama. Lain halnya dengan

a) Susunlah dalam kolom 1, tentukan faktor-faktor strategis eksternal yang menjadi peluang dan ancaman serta faktor- faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan. b) Beri

Dapat menambah wawasan bagi penulis dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami masalah utama asam urat. Bagi keluarga

Yang menjadi unit analisis penelitian adalah pelaksanaan stimulasi senam otak pada anak ADHD, respon anak ADHD saat diberikan stimulasi senam otak dan pengaruh