Materi Matematika :
Operasi Hitung Campuran Bilangan Bulat Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat FPB dan KPK
Akar dan pangkat Perbandingan
Operasi hitung pada pecahan
Operasi hitung pada bilangan desimal
Penulisan Bilangan Bentuk Baku Aljabar
Aritmatika sosial
Persamaan linear satu variabel Himpunan
Luas bangun datar Keliling bangun datar Volume bangun ruang
Luas permukaan bangun ruang Prisma
Limas
Fungsi
Persamaan dan pertidaksamaan linear dua variabel Persamaan garis
Eksponen dan logaritma
Persamaan dan pertidaksamaan eksponen dan logaritma Transformasi Geometri
Permutasi dan kombinasi Peluang
Trigonometri Diferensial Integral Logika Limit
Komposisi fungsi Lingkaran Polinomial
Persamaan dan Pertidaksamaan Program Linear
MENENTUKAN KPK DAN FPB
1. Menentukan Faktorisasi Prima untuk Mencari KPK Contoh soal : tentukanlah KPK dari 56, 28 dan 63
KPK dari 56, 28, dan 63 dalam bentuk faktorisasi prima adalah 2 X 2 X 2 X 7 X 3 dan ditulis = 2 3 X 7 X 3
= 8 X 7 X 3 Maka KPK dari 56, 28 dan 63 adalah 168 yaitu hasil kali faktor-faktor prima
2. Menentukan Faktorisasi Prima untuk Mencari FPB Contoh soal : Tentukanlah FPB dari 64, 80 dan 96 !
Faktor prima
56 28 63 Keterangan
Penyelesaian :
Faktor Prima 70 80 90 Keterangan
2 35 40 45 Semua bilangan prima dibagi dengan faktor prima dengan pembagi yang sama, begitu seterusnya sampai tidak dapat dibagi dengan pembagi yang sama
5 7 8 9
Bilangan 7, 8 dan 9 sudah tidak dapat dibagi dengan bilangan prima yang sama, maka hentikan.
FPB dari 70, 80, dan 90 dalam bentuk faktorisasi prima adalah 2 X 5
Maka FPB dari 70, 80, dan 90 adalah 10 yaitu hasil kali faktor-faktor prima.
OPERASI HITUNG CAMPURAN BILANGAN CACAH DAN BILANGAN
BULAT
Operasi hitung campuran adalah operasi hitung yang melibatkan penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.
hal yang harus kita perhatikan, yaitu :
1. Kerjakan lebih dahulu operasi hitung yang berada dalam kurung
2. Penjumlahan dan pengurangan sama kuat, maka kerjakanlah secara berutan dari depan atau dari kiri ke kanan
3. Perkalian dan pembagian lebih kuat daripada penjumlahan dan pengurangan maka dahulukanlah mengerjakannya.
4. Perkalian dan pembagian sama kuat, maka kerjakan secara berurutan dari kiri ke kanan. 5. Mengetahui operasi perkalian bilangan positif X positit, positif X negatif, negatif X negatif dan negatif X negatif
6. Mengetahui operasi pembagian bilangan positif : positif, Positif : negatif, negatif : negatif dan negatif : negatif
Perhatikan contoh soal berikut !
____________________________________________________________________________________
MENGHITUNG BILANGAN KUADRAT
selanjutnya
MENARIK AKAR PANGKAT TIGA (KUBIK)
METODE LAIN
Metode yang digunakan biasanya yaitu : 1. Trial Error : Mencari 3 angka yang sama
untuk dikalikan, jika belum ditemukan cari terus 3 angka tersebut sehingga ditemukan hasil dari akar pangkat tiga tersebut.
Akar pangkat tiga dari kubik sempurna
Bilangan 216.000 adalah bilangan kubik sempurna karena 216.000 = 603.
Semua bilangan yang memiliki angka terakhir 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 dapat menghasilkan nilai akar pangkat 3 yang bilangannya memiliki angka terakhir sebagai berikut:
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
0 1 8 7 4 5 6 3 2 9
Atau dapat disimpulkan, sbb :
Bilangan depan antara 1 s/d 8 hasil puluhannya adalah 1
“ 27 s/d 64 “ 3
“ 64 s/d 125 “ 4
“ 125 s/d 216 “ 5
“ 216 s/d 343 “ 6
“ 343 s/d 512 “ 7
“ 512 s/d 729 “ 8
“ 729 s/d 999 “ 9
Sifat-sifat perpangkatan
(bentuk aljabar)
Untuk setiap a, b, c, bilangan cacah berlaku:
1. (a x b)c = ac x bc atau
(an)m = an x m
(an x bm)p = anp x bnp
acbc
2. [a/b]c = ac : bc
ab : ac = ab-c ; syarat: b ≥ c, (ab)c = abc
4. a-b = 1/pa
5. Bilangan nol dalam perpangkatan
0a = 0
a0 = 1
Sifat-sifat penarikan akar
_______________________________________________
OPERASI MENARIK AKAR
( yg bilangannya bukan kuadrat).
a. Dengan perkalian factor
Contoh :
150 = 25 x 6 = 5 6
25 salah satu factor dari 125 yg merupakan bilangan kuadrat .
200 = 100 x 2 = 10 2
3 16 = 3 8 x 2 = 2 3 2
8 adalah salah satu factor 16 yang merupakan bilangan kubik.
3 54 = 3 27 x 2 = 3 3 2
b. Dengan menghitung sampai ke satu angka decimal.
Contoh :
1. 150 = 144 < 150 < 169
= 12 < 15 < 13
169 – 150
2. 200 = 196 < 200 < 225
= 14 < 200 < 25
200 = 14 200-196 = 14 4/25 = 14, 1
225-200
3. 3 16 = 3 8 < 3 16 < 3 27
= 2 < 3 16 < 3
3 16 = 2 16 - 8 = 2 8/19 = 2,4
27- 8
4. 3 54 = 3 27 < 3 54 < 3 64
= 3 < 3 54 < 4
3 54 =
3
54 – 27 =3
27/37 = 3,764 - 27
c. Menarik akar kuadrat dengan grafik kartesius dengan y = x2.
0
BANGUN DATAR
Persegi Panjang
Sifat - sifat :
Memiliki 4 sisi dan 4 titik sudut Memiliki 2 pasang sisi sejajar,
berhadapan dan sama panjang
Memiliki 4 sudut yang besarnya 90 derajat
Keempat sudutnya siku-siku
Memiliki 2 diagonal yang sama panjang
Memiliki 2 simetri lipat
Memiliki Simetri putar tingkat 2
Luas = p x l
Persegi
Sifat - sifat :
Memiliki 4 sisi dan 4 titik sudut Memiliki 2 pasang sisi yang sejajar
dan sama panjang
Keempat sisinya sama panjang Keempat Sudutnya sama besar
yaitu 90 derajat (siku-siku)
Memiliki 4 simetri lipat
Memiliki simetri putar tingkat 4
Luas = s x s
Keliling = 4 x s
Jajar Genjang
Sifat-sifat :
Memiliki 4 sisi dan 4 titik sudut Memiliki 2 pasang sisi yang sejajar
dan sama panjang
Memiliki 2 sudut tumpul dan 2 sudut lancip
Sudut yang berhadapan sama besar
Diagonalnya tidak sama panjang Tidak memiliki simetri lipat Memiliki simetri putar tingkat 2 Luas = a x t
Keliling = AB + BC + CD + AD
Belah Ketupat
Sifat - sifat :
Memiliki 4 sisi dan 4 titik sudut Keempat sisinya sama panjang Memiliki 2 pasang sudut yang
berhadapan sama besar
Diagonalnya berpotongan tegak lurus
Memiliki 2 simetri lipat
Memiliki simetri putar tingkat 2 Luas = ½ AC x BD
Keliling = AB + BC + CD + AD
Layang- layang
Memiliki 4 sisi dan 4 titik sudut Memiliki 2 pasang sisi yang sama
panjang
Memiliki 2 sudut yang sama besar Diagonalnya berpotongan tegak
lurus
Salah satu diagonalnya membagi diagonal yang lain sama panjang
Memiliki 1 simetri lipat. Luas = ½ x AC x BD
Keliling = AB + BC + CD + AD
Trapesium
Sifat -sifat :
Memiliki 4 sisi dan 4 titik sudut Memiliki sepasang sisi yang sejajar
tetapi tidak sama panjang
Sudut - sudut diantara sisi sejajar besarnya 180 derajat
Luas = (a+b) x t/2
Keliling = AB + BC + CD + AD Trapesium dibedakan menjadi 3 yaitu :
Trapesium sama kaki : Sisi diantara sisi sejajar sama panjang. Memiliki 2 pasang sudut yang sama besar, diagonalnya sama panjang, Memiliki 1 simetri lipat.
Trapesium siku-siku : Memiliki 2
Mempunyai 3 sisi dan 3 titik sudut Jumlah ketiga sudutnya 180
derajat
Luas = ½ x a x t
Keliling = AB + BC + AC
Berdasarkan panjang sisinya segitiga dibagi menjadi 4 yaitu :
1. Segitiga sama sisi :
Mempunyai 3 buah sisi sama panjang, yaitu AB=BC=CA;
Mempunyai 3 buah sudut yang besar , yaitu <ABC , <BCA, <CAB;
Mempunyai 3 simetri putar dan 3 simetri lipat
2. Segitiga samakaki :
Mempunyai 2 buah sisi yang sama panjang, yaitu BC=AC;
Mempunyai 2 buah sudut sama besar, yaitu < BAC = <ABC;
Mempunyai 1 sumbu simetri; Dapat menempati bingkainya
dalam dua cara
3. Segitiga siku-siku :
Mempunyai 1 buah sudut siku-siku,yaitu <BAC;
Mempunyai 2 buah sisi yang saling tegak lurus, yaitu BA dan AC;
Mempunyai 1 buah sisi miring yaitu BC;
Sisi miring selalu terdapat di depan sudut siku-siku.
Segitiga siku-siku samakaki memiliki 1 sumbu simetri
4. Segitiga sembarang
Mempunyai 3 buah sisi yang tidak sama panjang;
Memiliki simetri putar dan simetri lipat tak terhingga; Luas = πr2 ;
SIMETRI LIPAT & SIMETRI PUTAR
Sumbu simetri adalah garis yang membagi suatu bangun menjadi dua bagian sama besar. Berikut ini sumbu simetri dari beberapa bangun datar
Berikut ini simetri lipat, simetri putar dan sumbu simetri beberapa bangun datar :
1 Segitiga samakaki 1 1 1
2 Segitiga samasisi 3 3 3
3 Segitiga sembarang - 1
-4 Segitiga siku-siku samakaki 1 1 1
5 Persegi Panjang 2 2 2
6 Persegi 4 4 4
7 Jajargenjang - 2
-8 Trapesium samakaki 1 1 1
9 Trapesium siku-siku 1 -
-10 Trapesium sembarang - 1
-11 Layang-layang 1 1 1
12 Belah ketupat 2 2 2
13 Lingkaran tak terhingga tak terhingga tak terhingga
Segitiga sama sisi mempunyai 3 simetri putar dengan sudut putar 120°, 240°, dan 360°.
Persegi mempunyai 4 simetri putar dengan sudut putar 90°, 180°, 270°, dan 360°. Belah ketupat mempunyai 2 simetri putar dengan sudut putar 180° dan 360°.
Ket:
r = radius (jari-jari)
d = diameter
π = 3,14 atau 22/7 Luas = πx r x r
Keliling = 2 x π x d
8. Trapesium
Ket:
t = tinggi
Luas = (sisiA+sisiB) x t x 1/2
Keliling = sisiA + sisiB + sisiC + sisiD atau
Jumlah semua sisi
PENCERMINAN BANGUN DATAR
Hasil pencerminan bangun terhadap garis g adalah d.
Hasil pencerminan bangun ABCD terhadap cermin g adalah A'B'C'D'. Bangun hasil pencerminan yang tepat adalah....
Hasil pencerminan bangun yang tepat adalah d.
_____________________________________________________________________________________________
mencari panjang dan lebar persegi panjang yang diketahui hanya luas dan kelilingnya ? contoh : Luas = 112cm2 Keliling = 46 cm.
panjang = ?, lebar = ?
Luas persegi pjg = pjg x lebar keliling = 2 x (pjg + lebar)
112=pjg x lebar --> 112/lebar = panjang (ini nanti di substitusi ke persamaan keliling) kelling = 2 x (112/lebar + lebar)
46=2 x [(112 + lebar^2) / lebar] 23lebar = 112 + lebar^2
maka --> lebar ^2 - 23lebar + 112 = 0 (difaktorisasi)
ntar ketemu lebar = 7 atau lebar = 23 ada 2 jawaban sih emang. Kalo lebarnya 7, berarti panjangnya 12
Kalo lebarnya 23, berarti panjangnya 112/23
misal :
Oke dari sini kita tinggal cari pake Teori kebalikan : A. buat diketahui : Luas dan Keliling
1. lihat luasnya dulu. contoh : L = 16
kemungkinan perkalian yang muncul adalah = 1 x 16
= 2 x 8 = 4 x 4
kemungkinan lebar adalah 1, 2, 4 karena "l" lebih pendek dari "p" 2. lihat Kelilingnya
contoh : 20
kemungkinan perkalian yang muncul : 2(1) + 2(9)
2(3) + 2(7) 2(4) + 2(6) 2(5) + 2(5)
3. Cari Panjang dan Lebar yang sama yaitu :
A. pada prediksi Luas : = 2 x 8
B. pada prediksi Keliling : 2(2) + 2(8)
Jadi, panjangnya 8 cm dan lebarnya 2 cm.
Contoh : Diketahui luas persegi adalah 64 cm 2 , tentukan kelilingnya
Diketahui : L = cm 2 80 cm. Tentukan luas persegi panjang tersebut.
Diketahui : p = ( 3x + 4 ) cm l = ( x + 6 ) cm = 72 cm. Tentukan luas persegi panjang tersebut !
Q.3)
CONTOH :
Keliling suatu persegi panjang adalah 72 cm dan lebarnya 8 cm kurang dari panjangnya. Hitunglah luas persegi panjang tersebut
Diketahui : K = 72 cm
Keliling suatu persegi panjang adalah 52 cm dan lebarnya 12 cm lebih dari panjangnya. Hitunglah luas persegi panjang tersebut
( 3 words or 2 words ) Q.4)
CONTOH :
Halaman rumah berbentuk persegi panjang berukuran panjang 90 meter dan
lebar 65 meter. Di sekeliling halaman itu, akan dipasang pagar dengan biaya
Rp135.000,00 per meter. Berapakah biaya yang diperlukan untuk pemasangan
pagar tersebut?
Diketahui : p = 90 m l = 65 m
biaya = Rp. 135.000,00 per meter Ditanya : biaya pembuatan pagar seluruh halaman Jawab : K = 2 ( p + l )
K = 2 ( 90 + 65 ) K = 2 ( 155 ) K = 310 m
Jadi harga pembuatan pagar halaman adalah 310 m x Rp. 135.000 = Rp. 41.850.000,00
SOAL :
Halaman rumah berbentuk persegi panjang berukuran panjang 70 meter dan
Rp120.000,00 per meter. Berapakah biaya yang diperlukan untuk pemasangan
pagar tersebut?
Q.5)
CONTOH :
Diketahui luas persegi sama dengan luas persegi panjang dengan panjang = 16 cm dan lebar = 4 cm. Tentukan keliling persegi tersebut.
Diketahui : L persegi = L persegi panjang p = 16 cm
Diketahui keliling persegi sama dengan luas persegi panjang dengan panjang = 12 cm dan lebar = 10 cm. Tentukan luas persegi tersebut.
( 3 words or 2 words ) Q.6)
CONTOH :
Sebuah lantai berbentuk persegi dengan panjang sisinya 6 m. Lantai tersebut akan dipasang ubin berbentuk persegi berukuran 30 cm x 30 cm. Berapa banyak ubin yang dibutuhkan untuk menutup lantai tersebut
Diketahui : s lantai = 6 m = 600 cm s ubin = 30 cm
Ditanya : banyak ubin yang dibutuhkan untuk lantai tsb ? Jawab : L lantai = s 2 L ubin = s 2
L lantai = 600 2 L ubin = 30 2 L lantai = 360.000 L ubin = 900
Jadi banyak ubin yang dibutuhkan untuk lantai tsb adalah 360.000 : 900 = 400 buah
SOAL :
PHYTAGORAS
x= sisi pertama segitiga y= sisi kedua segitiga
z= sisi terpanjang segitiga (hipotenusa)
BILANGAN PHYTAGORAS BERPOLA
32 + 42 = 52 52 + 122 = 132 72 + 242 = 252 92 + 402 = 412
Berdasarkan pola tersebut, maka terdapat tiga buah pola bilangan yang terbentuk, yaitu :
Pola bilangan pertama : 3, 5, 7, 9, dengan rumus pola 2n + 1 Pola bilangan kedua : 4, 12, 24, 40, dengan rumus pola 2n2+ 2n Pola bilangan ketiga : 5, 13, 25, 41, dengan rumus pola 2n2+ 2n + 1
Dengan demikian kita dapat menentukan berbagai bentuk bilangan-bilangan phytagoras lainnya.
Contoh,
Dengan mengambil n = 30, maka Bilangan pertama = 2 x 30 + 1 = 61
Bilangan kedua = 2 x 302 + 2 x 30 = 1800 + 60 = 1860 Bilangan kedua = 2 x 302 + 2 x 30 + 1 = 1800 + 60 + 1 = 1861 Sehingga bilangan phytagorasnya adalah 61, 1860, 1861
Atau
61
2+ 1860
2= 1861
2Pembuktiannya adalah sebagai berikut :
= (2n2 + 2n + 1)2
BANGUN RUANG
1. KUBUS
Bangun kubus mempunyai ketentuan :
Terdapat 6 (enam) buah sisi yang berbentuk persegi dengan masing-masing luasnya sama
Terdapat 12 (dua belas) rusuk dengan panjang yang sama
Semua sudut bernilai 90 derajat atau siku-siku
Rumus Volume Kubus = rusuk x rusuk x rusuk (rusuk pangkat 3)
Rumus Keliling Kubus = 12 x rusuk
Rumus Luas Permukaan Kubus = 6 x rusuk x rusuk
Luas salah satu sisi = rusuk x rusuk
2. BALOK
Bangun balok mempunyai ketentuan :
Rumus Volume Balok = p x l x t (sebenarnya sama dengan kubus, hanya saja kubus memiliki semua rusuk yang sama panjang). kuadrat + l kuadrat + t kuadrat)
Rumus luas tabung /silinder = luas alas + luas tutup + luas selimut atau ( 2 x phi x r x r) + (phi x d x t)
Rumus Volume tabung = luas alas x tinggi atau luas lingkaran x t
4. KERUCUT
Luas Kerucut = luas alas + luas selimut Volume Kerucut = 1/3 x phi x r x r x t
5. LIMAS
Luas Limas = luas alas + jumlah luas sisi tegak
Volume Limas = 1/3 luas alas tinggi sisi
6. BOLA
Bangun bola mempunyai ketentuan :
Rumus Volume Bola = 4/3 x phi x jari-jari x jari-jari x jari-jari
Rumus Luas Bola = 4 x phi x jari-jari x jari-jari-jari-jari atau 4 x phi x r2
Rumus Luas Permukaan Bangun Ruang
Luas Permukaan Balok LP = 2PL + 2PT + 2LT
Luas Permukaan Limas Segi Tiga
LP = JUMALAH LUAS SEMUA SEGITIGA
jika limas segitiga sama sisi
LP = 3/2 Alas x TinggiSegitiga
Rumus Luas Permukaan Limas Segi Empat
LP = Luas Persegi + 4 Luas Segitiga
Prisma
LP = Luas Alas x Tinggi
LP = 1/2 x a x t segitiga x t prisma
Tabung
LP = Luas 2 O + Luas Selimut LP = 2∏ r2+ 2∏rt
LP = 2∏ r (r+t)
Bola LP = 4 ∏r2
Kerucut LP = ∏ r (r + s)
Rumus Konversi Satuan Suhu
t °C = 5 / 9 (t °F – 32) atau t °F = 9 / 5 t °C + 32
t °C = 5 / 4 t °R atau t °R = 4 / 5 t °C
t °C = t K – 273 atau t K = t °C + 273
C : R : F
=
5 : 4 : 9
Rumus merubah celcius ke kelvin = Celcius + 273,15
Rumus merubah celcius ke rheamur = Celcius x 0,8
Rumus merubah reamur ke celcius = Rheamur x 1,25
Rumus merubah celcius ke fahrenheit = (Celcius x 1,8) + 32
Rumus merubah fahrenheit ke celcius = (Fahrenheit - 32) / 1,8
Rumus merubah rheamur ke farenheit = (Rheamur x 2,25) + 32
dengan catatan bahwa :
a. Jika diketahui ukuran suhu dinyatakan dalam C atau R maka untuk menghitung
ukuran suhu dalam F, hasil perhitungannya ditambah 32.
b. Jika diketahui ukuran suhu dinyatakan dalam F maka untuk menghitung ukura suhu dalam C atau R, ukuran suhu dalam F dikurangi dulu 32.
Contoh 1.
Misalkan ukuran suhu sebuah apel yang baru diambil dari dalam lemari es adalah 10 0C. Berapa derajatkah suhu apel itu bila diukur dalam skala R (Reamur) dan F (Fahrenheit)?
Jawab.
R adalah 4/5 x 100 = 80
F adalah (9/5 x 100) + 320 = 500
Hasil ini sering kali dinyatakan sebagai 100 C = 80 R = 500
Contoh 2.
Suhu sebuah benda adalah 950 F. Nyatakan suhu benda itu dalam skala C dan R. Jawab.
C adalah 5/9 x (950 – 320) = 350 R adalah 4/9 x (950 – 320) = 280
Dengan demikian 950 F = 350 C = 280 R.
Contoh 1.
Misalkan ukuran suhu sebuah apel yang baru diambil dari dalam lemari es adalah 10 0C.
Berapa derajatkah suhu apel itu bila diukur dalam skala R (Reamur) dan F (Fahrenheit)? Jawab.
R adalah 4/5 x 100 = 80
F adalah (9/5 x 100) + 320 = 500
Contoh 2.
Suhu sebuah benda adalah 950 F. Nyatakan suhu benda itu dalam skala C dan R.
Jawab.
Perbandingan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam matematika, demikian juga dalam kehidupan sehari-hari kita pun tidak lepas dari perbandingan.
2.Jenis-jenis perbandingan
Perbandingan senilai adalah perbandingan yang nilainya sama. artinya,jika nilai awalnya semakin besar, maka nilai akhir juga membesar.sebaliknya nilai awal yang semakin kecil menyebabkan nilai akhir semakin kecil.
Perbandingan berbalik nilai adalah perbandingan yang jika nilai awalnya semakin besar,maka niali akhir akan semakin kecil.sebaliknya,jika nilai awal semakin kecil,maka nilai akhir semakin kecil.
Contoh Soal
Usia Ayah 45 tahun dan usia ibu 40 tahun, sedangkan usia Ali 15 tahun serta usia Ani 10 tahun. Perbandingan usia ayah dan ibu = 45 tahun : 40 tahun = 45 : 40 = 9 : 8
Perbandingan Usia Ali dan Ani = 15 tahun : 10 tahun = 15 : 10 = 3 : 2 Perbandingan usia Ayah dan Ali = 45 tahun : 15 tahun = 45 : 15 = 3 : 1
A. Skala Perbandingan
1 cm pada peta mewakili 5.000.000 cm jarak yang sebenarnya, atau 1 cm pada peta mewakili 50.000 m jarak yang sebenarnya, atau 1 cm pada peta mewakili 50 km jarak yang sebenarnya
Skala adalah perbandingan ukuran pada gambar (cm) dengan ukuran sebenarnya (cm) Tampak bahwa skala menggunakan satuan cm untuk dua besaran yang dibandingkan Perlu diingat bahwa : 1 km = 1.000 m = 100.000 cm.
Contoh soal
Pada sebuah peta jarak tempat A dan B adalah 3 cm, padahal jarak A dan B sebenarnya 450 km. Tentukan skala yang dipergunakan pada peta tersebut ?
Jawab :
Skala = Ukuran pada peta : Ukuran yang sebenarnya = 3 cm : 450 km
= 3 cm : 45.000.000 cm (pada skala harus menggunakan satuan cm) = 3 : 45.000.000
= 1 : 15.000.000
B. Skala Sebagai Suatu Perbandingan
Sekarang coba bandingkan ketiga ukuran pas foto berikut :
Apakah pas foto 2 cm x 3 cm sebanding dengan pas foto 3 cm x 4 cm ? ternyata pernyatannya salah, jadi tidak sebanding
Sekarang bandingkan pas foto 2 cm x 3 cm dengan pas foto 4 cm x 6 cm ! ternyata pernyatannya benar, jadi sebanding
contoh soal
Kota A dan kota B berjarak 60 km. Tentukan jarak kedua kota tersebut dalam suatu petayang berskala 1 : 1.200.000 nyatakan dalam cm!
Pembahasan
_____________________________________________________________________________
HUBUNGAN JARAK, KECEPATAN DAN WAKTU
Js
______
S
. Jp
A. RUMUS MENCARI JARAK
jarak = kecepatan x waktu
contoh: Ali mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 60 km/jam dalam waktu 3 jam. berapa km jarak yang harus ditempuh Ali?
Jawab: Jarak = kecepatan x waktu = 60 km/jam x 3 jam
= 180 km.
B. RUMUS MENCARI KECEPATAN
Kecepatan = jarak : waktu
jarak itu selama 1 jam 30 menit. Berapa
Waktu = jarak : kecepatan
contoh: Jarak kota A ke kota B 200 km. Adi mengendarai motor
dengan kecepatan 50 km/jam.berapa jam waktu yang diperlukan?
jawab: Jarak = 200 km
__________________________________________________________________________________
1. SATUAN WAKTU
Satuan waktu yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah jam, menit, detik, hari, bulan, dan tahun :
2. SATUAN JARAK
3. SATUAN BERAT
1 kg sama dengan 1000 gram. 1 ons sama dengan 100 gram.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa:
1 ton = 1.000 kg 1 kg = 10 ons 1 hg = 1 ons 1 kuintal = 100 kg 1 kg = 2 pon
1 ton = 10 kuintal 1 pon = 5 ons 1 kg = 10 ons
1 kg = 1000 gram 1 ons = 100 gram
satuan ons disebut juga hg (hektogram)
4. SATUAN LUAS
1 are = 1 dam2
5. SATUAN VOLUME
1 ml = 1 cc
TRIGONOMETRI
Logaritma adalah sebuah operasi matematika yang sifatnya merupakan kebalikan ( invers ) dari eksponen atau perpangkatan. Secara umum, dasar dari logaritma adalah sebagai berikut :
Contoh :
a
c= b → ª log b = c
dengan a > 0, a ≠ 1, b > 0
a = basis ( bilangan pokok logaritma ) b = bilangan yang dilogaritmakan c = hasil logaritma
Untuk basis atau bilangan pokok 10 boleh tdk ditulis.
Sifat-sifat Logaritma
ª log a = 1 ª log 1 = 0 ª log aⁿ = n
ª log bⁿ = n • ª log b
ª log b • c = ª log b + ª log c ª log b/c = ª log b – ª log c
ªˆⁿ log b m = m/n • ª log b
ª log b = 1 ÷ b log a
ª log b • b log c • c log d = ª log d
Aturan Tangen
Aturan Sinus
Parameter
Aturan Cosinus
atau
P E C A H A N
Untuk mengerjakan operasi hitung campuran pada pecahan, berlaku aturan:
1. Perkalian dan pembagian dikerjakan terlebih dahulu daripada penjumlahan dan pengurangan. 2. Jika dalam soal terdapat tanda kurung, kerjakan terlebih dahulu yang diberi tanda kurung. Contoh:
1. Perkalian dikerjakan terlebih dahulu
Soal: Diketahui:
a. Jumlah Umur Ayah dan Umur Ibu adalah 90 tahun b. Umur ayah : umur ibu = 8 :7
1. Mengubah Pecahan Ke dalam Bentuk Persen dan Sebaliknya a. Mengubah pecahan ke dalam bentuk persen
b .
Mengubah persen ke bentuk pecahan biasa
Contoh
Pembagi terbesar dari 75 dan 100 adalah 25, maka kedua bilangan 75 dan 100 (pembilangdan penyebut) dibagi oleh bilangan 25. Menjadi
75 : 25 = 3 (pembilang) 100 : 25 = 4 (penyebut)
2
. Mengubah Pecahan Ke dalam Bentuk Desimal dan Sebaliknya a
.
Mengubah pecahan ke dalam bentuk desimal
Mengubah pecahan biasa ke dalam bilangan desimal dapat dilakukan dengan dua cara berikut.
1 )
Dengan cara dibagi (bagi kurung). Ingat, bahwa ( per = bagi).Jadi, untuk mengubah pecahan menjadi desimal dengan jalan pembilang dibagi penyebut.
Contoh:
Caranya:
Pecahan 1/4 sama dengan 1 : 4, dapatkah bilangan 1 : 4? Apabila yang dibagi lebih kecil daripada yang membagi, maka tambahkan angka 0 dan naikkan koma sehingga akan membentuk bilangan desimal.
2 )
Dengan cara mengubah penyebut menjadi 10, 100, atau 1000. Ingat, bahwa bilangan desimal merupakan bilangan per sepuluh, per seratus, atau per seribu.
Contoh :
Penyebut dijadikan 10 ( 2 x 5 = 10) karena penyebut dikalikan dengan bilangan 5, maka pembilang pun harus dikalikan pada bilangan yang sama (5). Jadi, (1 x 5 = 5), maka sekarang menjadi pecahan 1/5 = 0,5
Jadi 1/5 = 0,5
b
. Mengubah bilangan desimal menjadi pecahan biasa
3. Mengubah Desimal Ke dalam Bentuk Persen dan Sebaliknya a. Mengubah desimal ke dalam bentuk persen
Bilangan desimal diubah dulu menjadi pecahan per sepuluh atau per seratus. Ingatlah per seratus sama dengan persen.
b. Mengubah persen ke dalam bilangan desimal
Bilangan persen diubah menjadi per seratus dan untuk
_____________________________________________________________________________________
Kesebangunan
Kesebangunan adalah bangun-bangun yang bentuknya sama tetapi ukurannya berbeda.
Coba perhatikan gambar dibawah ini!
Apa yang dapat kita simpulkan dari gambar yang diatas?
Bahwa dua buah bangun diakatakan sebangun jika memenuhi syarat yaitu :
1. Sudut yang bersesuaian sama besar 2. Sisi-sisi yang bersesuaian
panjangnya sebanding
Nah sekarang mari kita lihat gambar segitiga sebangun
Nah dari gambar ini dapat kita simpulkan bahwa dua buah segitiga dikatakan sebangun jika :
1. Sisi-sisi yang bersesuaian sebanding 2. Sudut-sudut yang seletak sama besar 3. Satu sudut sama besar dan kedua sisi
yang mengapitnya sebanding
Kongruen
Kongruen adalah sebuah bangun yang ukuran dan bentuknya sama. Kongruen juga dapat dikatakan sebagai bangunan yang sama persis atau 100 persen sama. Perhatikan gambar segitiga dibawah ini!
Nah dari gambar segitiga ini dapat disimpulkan bahwa dua buah segitiga dikatakan kongruen jika :
1. Sisi yang bersuaian sama panjang
2. Sudut yang bersesuaian sama besar
Nah, ada juga sifat-sifat dua segitiga kongruen yaitu :
3. s-sd-s (sisi-sudut-sisi)
_____________________________________________________________________________________
Daftar Isi Rumus Matematika
A. Ukuran-Ukuran dalam Rumus Matematika:
Bagian 01. Sistem satuan Internasional; Bagian 02. Satuan-satuan yang sering dipakai; Bagian 03. Mata Uang Beberapa Negara; Bagian 04. Beberapa Catatan Penting.
B. Aritmetika:
Bagian 01. Sifat-Sifat pada Operasi Bilangan Cacah
Bagian 02. Mengalikan Bilangan dengan 5, 10, 11, 25, 99, 999, 9999, ...
Bagian 03. Membagi Bilangan dengan 10, 9, 99, ...
Bagian 04. Penguji Pembagian
Bagian 05. Kelipatan dengan KPK
Bagian 06. Pecahan Perbandingan dan Persen
Bagian 07. Bilangan Kuadrat dan Akar Kuadrat
Bagian 08. Kubik dan Akar Pangkat Tiga
Bagian 09. Luas, Volume dan Perimeter
C. Himpunan:
Bagian 01. Jenis Himpunan
Bagian 02. Jenis Himpunan
Bagian 02. Operasi Himpunan
Bagian 03. Diagram Venn
HIMPUNAN
A. PENGERTIAN
Himpunan (set) adalah kumpulan benda-benda atau obyek yang di definisikan dengan jelas. Benda-benda atau obyek-obyek tersebut disebut ‘elemen’ atau ‘anggota himpunan’. Himpunan dinyatakan/dilambangkan dengan huruf besar,sedangkan elemen dari himpunan diberi lambang
B. CARA MENYATAKAN/MENULISKAN HIMPUNAN
1. Cara Pendaftaran/Tabulasi
Pada cara ini semua anggota himpunan dituliskan diantara dua kurawal. Contoh :
A = {Brunei,Malaysia,Indonesia,Philipina,Singapura,Thailand} 2. Cara Pencirian/Deskripsi
Contoh :
Himpunan A pada contoh di atas dapat di tuliskan seperti A = {x│x = Negara anggota ASEAN}
C. JENIS-JENIS HIMPUNAN 1. Himpunan Semesta (Universal)
Adalah himpunan yang elemen-elemennya mencakup semesta pembicaraan. Dapat fenit maupun infenit.
2. Himpunan Komplemen
Adalah himpunan yang di luar suatu himpunan lain dan masih dalam lingkup semesta. Notasi : AC atau A’ Atau Ā
Jika di gambarkan dengan diagram venn :
Yang diarsir adalah AC
3. Himpunan Bagian (Subset)
Adalah himpunan yang seluruh anggotanya menjadi anggota himpunan lain. Misalnya : A = { x│x bilangan asli }
B = { x│x bilangan bulat }
Jika di gambarkan dengan diagram venn :
4. Himpunan Kosong
Adalah himpunan yang tidak mempunyai anggota. Dilambangkan dengan ф atau { } Contoh :
A = { x│x2 + x + 6 = 0 ,x bil. Real } ====> A = Himpunan kosong.
5.Himpunan Kuasa (Power Set)
Adalah himpunan yang anggota-anggotanya berasal dari semua himpunan bagian suatu himpunan.
Contoh :
Jika A = { 1,2,3 } ,maka himpunan kuasa A (2A) adalah :
Jika n (A) = n maka n (2A) = 2n
6. Himpunan Penyelesaian
Adalah himpunan yang anggota-anggotanya merupakan jawaban dari suatu soal. Contoh :
A = { x│x2 – 5x + 6 = 0 }
himpunan penyelesaian : { 2,3 }
D. OPERASI HIMPUNAN 1. Gabungan (union)
Adalah himpunan yang anggota-anggotanya merupakan anggota-anggota himpunan asal
Jika di gambar dengan diagram venn,maka :
2. Irisan (Interseksi)
Adalah himpunan yang anggota-anggotanya merupakan anggota-anggota kedua himpunan sekaligus.
Jika di gambar dengan diagram venn,maka :
3. Selisih (Difference) A - B
Adalah himpunan yang anggota-anggotanya merupakan anggota A tetapi tidak menjadi anggota B.
Yang diarsir adalah A - B
Kemungkinan :
A – B = sebagian dari A,jika A berpotongan dengan B
A – B = A ,jika A saling asing dengan B
A – B = { } ,jika A = B
4. Tambah (Plus) A + B
Adalah himpunan yang anggota-anggotanya merupakan anggota gabungan dan tidak merupakan anggota irisan.
Diagram vennya :
Yang diarsir adalah A + B
E. HUKUM-HUKUM DALAM HIMPUNAN 1. Komutatif
2. Asosiatif
3. Distributif
4. Absorbsi
5. Demorgan
6. Identitas
F. PENGGUNAAN DIAGRAM VENN
1. Menentukan daerah hasil suatu operasi himpunan
Contoh :
Arsirlah operasi himpunan (A – B) ∩ C ,jika B,C,A dan B ∩ C ≠ Ø Jawab :
Yang diarsir adalah : 1. (B ∩ C) - A 2. AC ∩ B ∩ C
3. Menentukan banyaknya anggota himpunan. Cara : a. Gunakan diagram venn ,atau b. gunakan rumus-rumus :
Contoh :
Dari 30 orang terdapat 20 orang yang senang matematika,15 orang senang biologi dan 10 orang senang kedua-duanya. Berapakah yang tidak senang kedua-duanya.
Jawab :
30 = 10 + 5 + x + 10 =====> x = 5
Jadi yang tidak senang kedua-duanya adalah 5 orang.
Rangkuman
Himpunan adalah kumpulan benda atau objek yang ciri-cirinya jelas, sehingga dengan
Suatu himpunan biasanya diberi nama atau dilambangkan dengan huruf besar (kapital) A,
B, C, ..., Z. Adapun benda atau objek yang termasuk dalam himpunan tersebut ditulis dengan menggunakan pasangan kurung kurawal {...}.
Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan tiga cara, yaitu dengan kata-kata, dengan notasi
pembentuk himpunan, dan dengan mendaftar anggota-anggotanya.
Himpunan yang memiliki banyak anggota berhingga disebut himpunan berhingga.
Himpunan yang memiliki banyak anggota tak berhingga disebut himpunan tak berhingga.
Himpunan semesta atau semesta pembicaraan adalah himpunan yang memuat semua
anggota atau objek himpunan yang dibicarakan. Himpunan semesta biasanya dilambangkan dengan S.
a. Himpunan A merupakan himpunan bagian B, jika setiap anggota A juga menjadi
anggota B dan dinotasikan
b. Himpunan A bukan merupakan himpunan bagian B, jika terdapat anggota A yang bukan anggota B dan dinotasikan
c. Setiap himpunan A merupakan himpunan bagian dari himpunan A sendiri, ditulis . d. Banyaknya semua himpunan bagian dari suatu himpunan adalah , dengan n banyaknya anggota himpunan tersebut.
a. Dua himpunan yang tidak kosong dikatakan saling lepas atau saling asing jika kedua
himpunan tersebut tidak mempunyai anggota persekutuan.
b. Dua himpunan dikatakan sama, jika kedua himpunan mempunyai anggota yang tepat sama.
c. Dua himpunan A dan B dikatakan ekuivalen jika n(A) = n(B).
Gabungan (union) himpunan A dan B adalah suatu himpunan yang anggotanya terdiri atas anggota-anggota A atau anggotaanggota B. Gabungan himpunan A dan B dinotasikan dengan
Banyak anggota dari gabungan himpunan A dan B dirumuskan dengan
.
Untuk setiap himpunan A, B, dan C berlaku sifat komutatif, asosiatif, dan distributif.
Jenis Himpunan
Banyaknya anggota A = 4 ditulis n(A) = 4.
Banyaknya anggota B = 4, ditulis n(B) = 4.
n(A) = n(B) = 4
menjadi anggota B dan sebaliknya.
Himpunan kosong { } atau Ø Himpunan yang tidak mempunyai anggota sama sekali.
Himpunan bagian A T B A himpunan bagian dari himpunan B.
Himpunan universum atau
semesta pembicaraan U atau S Adalah himpunan dari semua unsur yang dibicarakan.
Himpunan komplemen A’ Atau Ac U = {1, 2, 3, 4, 5, 6}.
A = {3, 5}
A’ = Ac = himpunan komplemen dari A =
{1, 2, 4, 6}
Himpunan lepas (disjoint) A || B Himpunan A lepas dari himpunan B bila tidak ada anggota A yang menjadi anggota B.
Operasi Himpunan
Jenis Operasi Hukum dan sifat-sifat Operasi
3 ATU
4 ATU BTA BTU
5 A = B
6 CTBTATU
Contoh {Bilangan Asli}
Operasi Diagram Gabungan
Himpunan A = {a,b,c,d}B = {e,f} A U B = {a,b,c,d,e,f,}
A = {1,2,3,4} C = {3,4,5}
A U C = {1,2,3,4,5}
E = {x,y,z} F = {x}
E U F = {x,y,z}
Irisan A = {a,b,c,d} B = {c,d,e} A W B= {c,d}
E = {a,b,c} F = {1,2,3} E W F = { Ø }
Selisih
Himpunan A = {a,b,c}B = {d,e} A / B = {a,b,c}
C = {1,2,3} D = {3,4} C / D = {1,2}
D / C = {4}
Himpunan
Komplemen A’ atau komplemen dari A
A’ W B’ = (AUB)’
Perkalian Himpunan (Cartesian Product)
Notasi: A x B = ...??? A = {a,b,c} B = {p,q}
A x B = {(a,p),(a,q),(b,p),(b,q),(c,p),(c,q)}
Catatan: (a,b) = (a,b) (a,b) K (b,a)
Sifat-Sifat pada Operasi Bilangan Cacah (Aritmetika Bagian-01)
01. Sifat-Sifat pada Operasi Bilangan Cacah
{0,1,2,3,4,...} = Himpunan bilangan Cacah {1,2,3,4,5,...} = Himpunan bilangan Asli
a. Sifat-sifat penjumlahan
Untuk setiap a, b, c, bilangan cacah berlaku:
- Sifat Asosiatif : (a+b)+c = a+(b+c) - Elemen Identitas pada Penjumlahan : a+0 = 0+a
b. Sifat-sifat pengurangan
Untuk setiap a,b,c,p,q, dan r bilangan cacah berlaku
1. (a - b) + c = (a + c) - b ; syarat
Untuk setiap a, b, c, bilangan cacah berlaku
- Sifat perkalian dengan bilangan Nol : a x 0 = 0 x a = 0
- Sifat perkalian untuk urutan : Jika a < b, c ≠ 0, maka a x c < b x c
d. Sifat-sifat pembagian
1 Sifat bilangan nol dalam pembagian:
Untuk setiap a, b, c, p, q, dan r, bilangan cacah berlaku 0 : a = 0 untuk a ≠ 0
a : 0 = tidak didefinisikan 0 : 0 = tidak tentu
2. (a : b) : c = a : (b : c) ; syarat :
b faktor dari a dan c faktor dari b.
3. (abc) : (pqr) = a/p x b/q x c/r
; syarat :
a, b, c, p, q, r merupakan bilangan-asli
- p faktor dari a
b faktor dari a dan c faktor dari b
6. (a : b) : c = a : (b : c) ; syarat :
b dan c faktor-faktor dari a
7. (a : b) : c = (a : c) : b ; syarat :
b dan c faktor-faktor dari a
8. Sifat distributif pembagian terhadap penjumlahan: (a + b) : c = [a/c] + [b/c] ; syarat
:
c faktor dari a dan b
(a - b) : c = a/c - b/c ; syarat :
a > b dan c faktor dari a dan b
10. Jika a < b, c faktor dari a dan b, maka a/c < b/c
e. Sifat-sifat perpangkatan
Untuk setiap a, b, c, bilangan cacah berlaku: 1. (a x b)c = ac x bc
2. [a/b]c = ac : bc 3. ab x ac = ab+c
ab : ac = ab-c ; syarat: b ≥ c,
(ab)c = abc
4. Bilangan nol dalam perpangkatan 0a = 0
a0 = 1
f. Sifat-sifat penarikan akar
Cara Cepat Mengalikan Bilangan dengan 5, 10, 11, 25, 99, 999, 9999, ...
(Aritemetika Bagian-02)
1. Mengalikan Bilangan dengan 5, 10, 11, 25, 99, 999, 9999, ...
a. Mengalikan dengan 5
Cara Biasa: Dengan Cara Singkat:
dengan cara mengalikan: Dengan cara menambahkan “0” dibelakang 1575, kemudian dibagi 2. 1575
5 x 7875
Contoh:
15750 : 2 = 7875
b. Mengalikan dengan 10 dan kelipatannya
Bilangan Bulat: Bilangan Desimal:
100 x 10 = 1.000 0,1 x 10 = 1
15 x 10 = 150 1,25 x 10 = 12,5
15 x 100 = 1.500 0,200 x 1.000 = 200
Cara mengalikan suatu bilangan dengan 10, 100, 1.000, ...; adalah dengan menambahkan 1, 2, 3, ...; angka Nol di belakang bilangan tersebut.
Mengalikan suatu bilangan desimal dengan 10, 100, 1000, ...; dengan cara memindahkan koma (tanda desimal) sebanyak 1, 2, 3, ...tempat ke kanan
11 x 11 = 121 contoh lain: 243 x 11 = 2673 1 1 2 4 3
+ + +
1 2 1 2 6 7 3
d. Mengalikan dengan 25
Cara Biasa: Cara Singkat: 2138
25 x 10690 4276 + 53450
Tambahkan dua angka nol di belakang 2138, kemudian bagi dengan 4
yaitu:
213800 : 4 = 53450
e. Mengalikan dengan 99, 999, 9999, ...
3415 x 99 = 338085 Cara
Singkat:
Tambahkan dua angka nol dibelakang 3415, kemudian kurangkan dengan bilangan itu sendiri 341500
3415000 3415 -3411585
3415 x 9999 = 34146585 Cara
Singkat:
Tambahkan empat angka nol dibelakang 3415, kemudian kurangkan dengan bilangan itu sendiri 34150000
3415 -34146585
1. a : b = c : d ; seharga dengan a x d = b x c
3. Pada setiap perbandingan suku-sukunya boleh dikalikan atau dibagi dengan bilangan yang sama
a : b = c : d ; dapat diubah menjadi:
a. Bilangan kuadrat dengan 5 sebagai angka terakhir
Bilangan 25 adalah bilangan kuadrat dengan 5 sebagai angka terakhir.
Himpunan bilangan kuadrat dengan 5 sebagai angka terakhir adalah 25, 225, 625, 1225, 2025. Untuk mendapatkan bilangan kuadrat dengan 5 sebagai angka terakhir, perhatikan pola berikut:
5 x 5 = 25
15 x 15 = 1 x 2 25 = 225 25 x 25 = 2 x 3 25 = 625 35 x 35 = 3 x 4 25 = 1.225 45 x 45 = 4 x 5 25 = 2.025 55 x 55 = 5 x 6 25 = 3.025 65 x 65 = 6 x 7 25 = 4.225 75 x 75 = 7 x 8 25 = 5.625 85 x 85 = 8 x 9 25 = 7.225 95 x 95 = 9 x 10 25 = 9.025
Angka terakhir Bilangan yang mau dicari akarnya
Angka terakhir hasil akar
1 1 dan 9
bilangan 3969 memiliki angka terakhir “9”
Maka akar kuadratnya memiliki angka terakhir 3 dan 7 3969 > 3600 = 602 dan
3969 > 4225 = 652 atau 602 < √3969 < 652
Karena akar dari 3969 memiliki angka terakhir 3 atau 7, maka akar kuadratnya 63 atau 67, dan yang paling mungkin adalah 63, jadi √3969 = 63
√2601 = ...?
Bilangan 2601 memiliki angka terakhir “1” 502 = 2500; 552 = 3025;
50 < √2601 < 55 Maka:
Akar kuadratnya memiliki angka terakhir 1 atau 9, maka nilai yang mungkin adalah 51.
Jadi, √2601 = 51
Kubik dan Akar Pangkat Tiga (Aritmetika Bagian-08)
4. Kubik dan Akar Pangkat Tiga
Bilangan berpangkat tiga antara lain adalah: 13 = 1
23 = 8 33 = 27 43 = 64 103 = 1.000 203 = 8.000 303 = 27.00
0 403 = 64.00
0
b. Akar pangkat tiga dari kubik sempurna
Bilangan 216.000 adalah bilangan kubik sempurna karena 216.000 = 603.
Semua bilangan yang memiliki angka terakhir 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 dapat menghasilkan nilai akar pangkat 3 yang bilangannya memiliki angka terakhir sebagai berikut:
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Luas, Volume dan Perimeter
N
o Bangun Formula Diagram
1 Persegi Panjang
Jajaran Genjang
6 Trapesium Luas Daerah: = ½ (a + b) ∙h
Trapesium
7 Belah Ketupat Luas Daerah: = ½ ∙p∙q
Belah Ketupat
8 Balok (Kuboid)
Volume: = p x l x t
Balok/Kuboid 9 Kubus Volume:
Kubus
10 Tabung Volume: = r2t
Luas Bidang Lengkung (selimut):
= 2 rt
Luas Alas = Luas Lingkaran: = r2
Tabung
11 Limas Volume Limas Alas Segiempat:
= 1/3 Luas Alas x Tinggi Volume Limas Alas Segitiga: = 1/3 Luas Alas x Tinggi
Limas Alas Segitiga
12 Kerucut Volume:
= 1/3 Luas Alas x Tinggi = 1/3 r2t
Luas Selimut Kerucut: = rs
s = panjang garis pelukis kerucut
13 Sektor Luas sektor: = /360 x r2
Panjang Busur: = /360 x 2 r
Sektor
14 Prisma Volume Prisma: = Luas Alas x Tinggi atau: v = Lt
Prisma
15 Bola Luas Bola: = 4 r2
Luas ½ Bola: ={ ½ 4r2} + r2
Volume Bola: = 4/3 rt3
PERSAMAAN KUADRAT
x1 = 3x2,maka akar-akar dari persamaan kuadrat yang dimaksud :
(x – x2) (x – 3x2) = 0 ...(2)
Cara Menyusun Kuadrat Baru (PKB)
Persamaan kuadrat yang akar-akarnya dua kali dari akar-akar persamaan kuadrat x2 + 8x + 10
4. UMPTN/92/IPA/NO. 10
Akar-akar persamaan kuadrat x2 + bx + c = 0 ialah x
1 dan x2,persamaan dengan akar-akarnya
x1 + x2 dan x1 . x2 ialah :
Jawab :
CARA BIASA :
x2 + bx + c = 0,akar = x
1 dan x2
Persamaan kuadrat yang akar-akarnya x1 + x2 dan x1 . x2 adalah
(x – (x1 + x2) (x – x1 . x2) = 0
x1 + x2 = -b/1 = -b
(x – (-b)) (x – c) = 0 (x + b) (x – c) = 0 x2 + (b – c) x – bc = 0
5. UMPTN/89/A/NO. 76
Persamaan kuadrat yang akar-akarnya kebalikan dari akar-akar persamaan x2 – 2x + 3 =
Menentukan Nilai Maksimum dan Minimum
6. UMPTN/’89/Matematika Dasar/B
= b2 + 100 b
F’ = 2b + 100 = 0 → b = -50 Fmin → b = -50
F = (-50)2 + 100 . (-50)
Contoh Soal : 1. SIP/’88
Antara pukul 09.30 dan 10.00 jarum panjang dan pendek suatu arloji akan berimpit pada pukul 09.00 lebih?
Jawab :
2. Prediksi
Antara pukul 10.00 dan 11.00 jarum panjang dan jarum pendek suatu arloji akan membentuk garis lurus pada pukul 10.00 lebih?
Jawab :
3. Prediksi GE
Antara pukul 11.00 dan 12.00 jarum panjang dan pendek suatu arloji akan saling tegak lurus pada pukul 11.00 lebih?
4. Jika α dan β adalah akar-akar persamaan kuadrat x2 + 4x + a – 4 = 0. Jika α = 3β,maka nilai a
yang memenuhi adalah Jawab :
CARA BIASA :
x2 + 4x + a – 4 = 0 ... (1)
x1 = 3β x2 = β
Maka persamaan kuadratnya adalah : (x - 3β) (x – β) = 0
x2 - 4βx + 3β2 = 0 ... (2)
Dari persamaan (1) dan (2) 4 = -4β → β = -1
a – 4 = 3β2
a – 4 = 3(-1)2
a – 4 = 3 a = 7
1. Operasi Hitung Bentuk Akar
Dua bilangan bentuk akar atau lebih dapat dijumlahkan, dikurangkan, maupun dikalikan.
a. Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Akar
Untuk memahami cara menjumlahkan dan mengurangkan bilangan-bilangan dalam bentuk akar, perhatikan contoh - contoh berikut.
Dari contoh di atas, maka untuk menjumlahkan dan mengurangkan bilangan-bilangan dalam bentuk akar dapat dirumuskan sebagai berikut. Untuk setiap a, b, dan c bilangan rasional positif, berlaku hubungan:
b. Perkalian Bentuk Akar
Sifat di atas sekaligus dapat digunakan untuk menyederhanakan bentuk akar.
c. Pemangkatan Bilangan Bentuk Akar
2) Pemangkatan bentuk dengan pangkat negatif
2. Hubungan Bentuk Akar dengan Pangkat Pecahan
Pada pembahasan yang lalu telah disebutkan beberapa sifat dari bilangan berpangkat bulat positif. Sifat-sifat tersebut akan digunakan untuk mencari hubungan antara bentuk akar dengan pangkat pecahan. Sifat yang dimaksud adalah .
Selain sifat tersebut terdapat sifat lain, yaitu:Jika ap = aq maka p = q dengan a > 0, a ≠ 1
a. Hubungan dengan
D. Merasionalkan Bentuk Akar Kuadrat
Dalam sebuah bilangan pecahan penyebutnya dapat berupa bentuk akar. Pecahan adalah beberapa contoh pecahan yang penyebutnya berbentuk akar. Penyebut pecahan seperti itu dapat dirasionalkan. Cara merasionalkan penyebut suatu pecahan tergantung dari bentuk pecahan tersebut.
1. Merasionalkan Bentuk
Untuk menghitung nilai ada cara yang lebih mudah daripada harus membagi 6 dengan nilai pendekatan dari 3, yaitu dengan merasionalkan penyebut. Cara ini dapat dilakukan dengan menggunakan sifat perkalian bentuk akar: