• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA PENERAPAN KONSISTENSI DALAM MENDID

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "UPAYA PENERAPAN KONSISTENSI DALAM MENDID"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Karakter adalah perwujudan dari membangun karakter bangsa. Karakter sendiri dari segi pandangan islam didasarkan atas tiga hal yakni; ihsan, iman dan islam. Tidak ada pemisahan dalam kegiatan antara amal, ilmu dan kehidupan melainkan semuanya mesti terjadi dan dilalui oleh manusia secara terintegrasi. Ketika kita pisahkan spiritual dengan kehidupan duniawi, maka karakter kita akan menyebabkan beribadah hanya pada waktu-waktunya.

Karakter dimaknai sebagai sebuah dimensi yang positif dan konstruktif. Jika dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989), karakter bersifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Sehingga dapat dikemukakan bahwa karakter anak yang diharapkan adalah kualitas mental atau kekuatan moral, akhlak atau budi pekerti yang merupakan kepbribadian khusus yang harus melekat kepada anak-anak bangsa ini.

Dari hari pertama anak dilahirkan, dia mulai belajar tentang dunia sekitarnya. Anak tersebut mulai belajar apa yang bisa ia percayai dan apa yang tidak. Seiring petumbuhan, otaknya terus memproses ulang pesan-pesan yang dia terima. Agar pesan-pesan itu bisa diterima akalnya, harus ada konsistensi dalam pesan-pesan itu.

(2)

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan mendidik ? 2. Apa tujuan mendidik ?

3. Bagaimana karateristik aspek moral, social emosional dan bahasa anak usia 4-6 tahun ?

4. Apa yang dimaksud dengan konsistensi ?

5. Bagaimana hubungan antara konsistensi dan mendidik ?

6. Bagaimana upaya penerapan konsistensi dalam mendidik anak usia 4 – 6 taun ? 7. apa manfaat adanya konsistensi dalam mendidik anak usia 4 – 6 tahun ?

1.3 Metode Pemecahan Masalah

Metode yang penulis gunakan adalah metode deskriptif.

1.4 Tujuan Makalah

- Memberikan informasi kepada tenaga pendidik mengenai penerapan konsistensi dalam mendidik anak usia dini usia 4 – 6 tahun.

(3)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Mendidik, Peserta Didik dan Pendidikan

Jauh sejak pendiri Republik ini memancangkar sendi-sendi normative kehidupan bangsa, mereka mencanangkan bahwa satu cita-cita kemerdekaan adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Hal ini secara eksplisit diemukakan dalam Pembukaan UUD 1945 yang diperjelas dalam Pasal 31 : “Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran”. Pertanyaan yang muncul adalah, kehidupan bangsa yang cerdas itu yang bagaimana ? secara harfiah, cerdas berarti pandai, berpikiran tajam dan berwawasan luas. Jadi konotasinya lebih pada aspek kognitif-intelektual. Tetapi kita percaya, bukan itu saja yang dimaksud oleh the founding fathers negeri ini. “cerdas” hanyalah satu istilah yang mewakili berbagai pengertian yang amat luas, meliputi aspek-aspek kognitif, afektif dan keterampilan sekaligus.

Bahwa dalam rumusan Pembukaan UUD 1945 itu tidak dikemukakan, misalnya “manusia yang berakhlak”. Dalam UU No 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, ditegaskan bahwa kecerdasan meruapakan salah satu dari difat manusia Indonesia yang berkualitas. Usaha untuk menciptakan manusia macam itu dipercayakan kepada pendidikan.

UNESCO menyebutkan bahwa: “education is now engaged is preparinment for a life Society which does not yet exist” atau bahwa pendidikan itu sekarang adalah untuk mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang masih belum ada. Konsep system pendidikan mungkin saja berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan pengalihan nilai-nilai kebudayaan (transfer of culture value). Konsep pendidikan saat ini tidak dapat dilepaskan dari pendidikan yang harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan pendidikan masa lalu,sekarang,dan masa yang akan datang.

2.2 Tujuan mendidik dan pendidikan

(4)

1. Trustworthiness (Kepercayaan)

Jujur, jangan menipu, menjiplak atau mencuri, jadilah handal – melakukan apa yang anda katakan anda akan melakukannya, minta keberanian untuk melakukan hal yang benar, bangun reputasi yang baik, patuh – berdiri dengan keluarga, teman dan negara.

2. Recpect (Respek)

Bersikap toleran terhadap perbedaan, gunakan sopan santun, bukan bahasa yang buruk, pertimbangkan perasaan orang lain, jangan mengancam, memukul atau menyakiti orang lain, damailah dengan kemarahan, hinaan dan perselisihan.

3. Responsibility (Tanggung jawab)

Selalu lakukan yang terbaik, gunakan kontrol diri, disiplin, berpikirlah sebelum bertindak – mempertimbangkan konsekuensi, bertanggung jawab atas pilihan anda.

4. Fairness (Keadilan)

Bermain sesuai aturan, ambil seperlunya dan berbagi, berpikiran terbuka; mendengarkan orang lain, jangan mengambil keuntungan dari orang lain, jangan menyalahkan orang lain sembarangan.

5. Caring (Peduli)

Bersikaplah penuh kasih sayang dan menunjukkan anda peduli, ungkapkan rasa syukur, maafkan orang lain, membantu orang yang membutuhkan.

6. Citizenship (Kewarganegaraan)

Menjadikan sekolah dan masyarakat menjadi lebih baik, bekerja sama, melibatkan diri dalam urusan masyarakat, menjadi tetangga yang baik, mentaati hukum dan aturan, menghormati otoritas, melindungi lingkungan hidup.

(5)

Pendidikan karakter berfungsi untuk:

1. Mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik 2. Memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur

3. Meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.

Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa. 2.3 Pencapaian perkembangan anak usia 4 – 6 tahun

Setelah anak memasuki usia prasekolah dan taman kanak-kanak, meeka mulai menjelajahi dunia melalui pengalaman tidak langsung, seperti cerita, gambar dan televise. Pada tahap ini kegiatan bermain membantu anak untuk mengembnagkan pengetahuan mereka dan pemahaman tentang dunia. Namun, dewasa ini jalur pembelajaran normal adakalanya diselewengkan pula oleh orang tua, seperti keinginan orang tua yang menggebu untuk melihat anaknya sukses. Hal ini sejalan dengan umur yang “golden age” diaman lebih cepat dalam mempelajari apapun yang dilihat dan didengar oleh anak. Tindakan orang tua yang overstimulasi, tanpa disadari membebabani secara berlebihan dan merampoknya dari masa kecil normal yang bahagia.

Berasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009 Tentang Sistem Pendidikan Anak Usia Dini Tahun 2009, Tingkat Pencapaian Perkembangan kelompok usia 4-6 tahun adalah sebagai berikut :

Lingkup perkembangan Tingkat Pencapaian Perkembangan

Usia 4 - <5 tahun Usia 5 - <6 tahun

3. Mengucapkan doa sebelum/sesudah melakukan sesuatu.

1. Mengenal agama yang dianut.

2. Membiasakan diri beribadah.

(6)

4. Mengenal perilaku baik dan buruk. 5. Membiasakan diri

berprilaku baik. 6. Mengucapkan salam

dan membalas salam.

4. Membedakan perilaku baik dan buruk.

5. Mengenal ritual dan hari besar islam.

6. Menghormati agama orang lain.

II. Kognitif 1. Mengenal benda berdasarkan fungsi. 2. Menggunakan benda

sebagai permainan simbolik.

3. Mengenal gejala sebab dan akibat yang terkait dengan dirinya.

4. Mengenal konsep sederhana dari

2. Menunjukkan aktifitas yang bersifat

5. Menunjukkan inisiatif dalam memilih tema permainan.

6. Memecahkan masalah.

III. Bahasa 1. Menyimak

perkataan orang lain. 2. Mengerti dua perintah yang diberikan

bersamaan.

3. Memahami cerita yang dibacakan.

1. Mengerti beberapa perintah secara bersamaan.

2. Mengulang kalimat yang lebih kompleks. 3. Mamahami aturan

dalam suatu

(7)

4. Mengenal 6. Menyebutkan

kata-kata yang dikenal. 7. Mengutarakan

pendapat kepada orang lain.

8. Menyatakan alsan terhadap sesuatu yang diinginkan atau ketidak setujuan.

4. Menjawab pertanyaan lebih kompeks.

5. Berkomunikasi secara lisan, memiliki

IV. Sosial emosional 1. Menunjukkan sikap mandiri dalam

1. Bersikap kooperatif dengan teman.

2. Menunjukkan sikap toleran.

5. Memahami peraturan dan disiplin.

(8)

6. Menunjukkan rasa percaya diri.

7. Menjaga diri sendiri dan lingkungannya. 8. Menghargai orang

lain. merasa aman dan memberikan anak batasan-batasan yang jelas.

Mengajarkan konsistensi penting agar anak dapat memegang prinsip dan nilai-nilai positif kelak. Nah, dalam mengajarkan konsistensi peran lingkungan cukup besar dalam mengajarkan konsistensi anak. Jika sedari dini anak sudah terbiasa melihat perilaku yang tidak konsisten, anak pun akan belajar dengan caranya sendiri untuk bersikap tidak konsisten. Seperti contoh, orangtua tengah membangun tatanan kepribadian anaknya, namun karena ada ketidaksepakatan dalam menyikapi perilaku anak, rusaklah tatanan kepribadian yang tengah dibangun tersebut. Padahal membangun kepribadian anak sejak dini merupakan investasi di usia besarnya nanti. Bila orangtua salah meletakkan dasar nilainya, maka proses pikir anak pun menjadi salah. Padahal proses pikir tadi mendasari perilakunya.

Seperti contoh di atas, ketika anak memperoleh apa yang diinginkannya dari nenek/pengasuhnya dengan caranya merengek-rengek, disini anak belajar dari mengamati lingkungannya, kepada siapa dia bisa memanfaatkan situasi yang ada. Suatu kali perilaku anak untuk bisa minum air dingin ini akan berulang. Anak akan memanfaatkan atau memanipulasi situasi maupun orang-orang dewasa yang bisa dimanipulasinya. Selain itu, anak juga akan dengan mudahnya dalam melanggar suatu aturan yang ada.

(9)

pukul 16.00-17.00, misalnya. Aturan ini harus dilakukan secara konsisten. Kalau kemudian anak melakukan negosiasi tak mau melakukan aktivitas di jam tersebut karena ingin main atau malas dan sebagainya. Kemudian orangtua membolehkannya maka ini pun menjadi tidak konsisten.

Akibatnya, tak hanya pada masalah pembentukan disiplin anak saja namun implikasinya pada hal lain seperti anak tidak terbangun mental tafness/ ketangguhannya ketika menghadapi suatu kesulitan, daya juangnya rendah, tidak sabaran, tidak mau usaha, dan lain-lain. Hal-hal negatif ini akan terbangun dalam pribadinya yang tentu akan berdampak pula dalam kehidupan di usia selanjutnya.

2.5 Hubungan antara konsistensi dan mendidik

Ketika pendidik konsisten sejak awal, anak-anak belajar tentang apa yang diharapkan dari pendidik mereka. Ini membantu proses keterikatan antara pendidik dan anak. Konsistensi memberi anak rasa aman. Mereka tahu, jika mereka menangis, pendidik yang menyayanginya akan datang sebotol susu atau siap mengganti popoknya. Anak dengan pendidik yang konsisten tidak sering merasakan kecemasan. Mereka belajar bahwa mereka bisa mengandalkan pendidik dan percaya bahwa kebutuhan mereka akan dipenuhi.

Menjaga keteraturan rutinitas dengan seorang anak juga merupakan bagian penting dari konsistensi. Keributan dan perdebatan berkurang jika anak tahu apa yang diharapkan dari mereka sejak bangun tidur, sepulang sekolah atau menjelang tidur malam. Konsisten membantu anak merasa bertanggung jawab karena mereka tahu apa yang diharapkan dari mereka.

Berkurang pula keinginan anak-anak untuk menguji batasan yang sudah ditentukan dengan tegas ketika mereka tahu ada konsekuensi untuk perilaku membantah. Mereka belajar bahwa “tidak” berarti “tidak”. Konsistensi pun mengajarkan hubungan sebab-akibat kepada anak. Dengan konsistensi, mereka mengembangkan kemampuan keputusan dengan lebih bijak.

(10)

Pendidik A atau pendidik B berkata “tidak” terhadap permintaan anak, tapi kemudian mengalah dan mengatakan “ya” ketika anak bersikeras dan merengek. Mungkin juga masih adak ketidak sepakatan antara ayah dan ibu atau setiap pendidik mengenai aturan tersebut. ayah berkata “ya”, sementara ibu tegas mengatakan “tidak” untuk permintaan yang sama dengan anak-anak. Bahkan mungkin mereka pernah mengancam anak-anak, tapi tidak benar-benar berniat melaksanakan ancaman tersebut.

Sangat sulit memang bagi pendidik untuk mempertahankan konsistensi yang dibutuhkan anak dalam dunia yang sibuk, penuh dengan stimulasi berlebihan. Setiap pendidik pastilah tidak ingin menjadi pendidik yang “jahat”, juga tidak ingin merasa sudah bersikap terlalu keras atau lembek. Itulah sebabnya peneapan konsistensi dalam mendidik anak sangat penting.

2.6 Penerapan konsistensi dalam mendidik anak usia 4 -6 tahun 2.6.1 Konsistensi Antara Pendidik

Pendidik menjadi figure yang dilihat oleh peserta didik selain orang tua. Maka sangat diperlukan suatu kesatuan antara pendidik ketika berada di depan anak-anak. Pendidik perlu adanya saling komunikasi tentang aturan dan konsekuensinya bagi anak-anak Anak-anak selalu melihat celah dalam pertahanan pendidik. Pendidik A tau pendidik B kah yang lebih mudah dibujuk ? anak-anak belajar bagaimana memanfaatkan salah satu pendidik untuk mendobrak pertahanan yang lainnya. Karena itu, pastika pendidik saling sepakat dan sejalan dalam aturan, permintaan dan disiplin sebelum menyampaikan keputusan kepada anak-anak.

2.6.2 Konsistensi Dalam Aturan

Aturan adalah bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Aturan memudahkan kita bergaul dengan orang lain. Jika anak-anak tidak belajar bagaimana berprilaku baik, mereka akan sulit berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak lain. Mereka akan menemui kesulitan dalam belajar disekolah, tidak bisa membawa diri dan menjadi tidak bahagia dan frustasi. Pemahaman anak terhadap aturan serta mengawasi pelaksanaannya dengan konsisten menjadi kunci keberhasilan dalam menegakkan aturan.

(11)

1. Anak-anak bukan orang dewasa versi kecil

Meskipun orang tua menginginkan anak-anak mereka tahu bahwa mereka didengar, hindari kekeliruan umum pendidik dalam membuat aturan dirumah, yaitu anak diberi suara setara dengan pendidik dalam membuat aturan. Ini bukanlah suatu demokrasi, melainkan hubungan pendidik dan anak. Aturan adalah keputusan pendidik. Anak-anak dilibatkan dalam pembicaraan tentang alasan-alasan yang mendasari keputusan pendidik agar mereka mengerti.

2. Jelaskan aturan agar mudak dipahami oleh anak

Jelaskan aturan dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Untuk anak usia 5-6 tahun arahkan anak untuk mengulang apa yang telah dijelaskan, tentunya dengan bahasa nya sendiri (anak usia 5-6 belum memahami makna aturan dan batasan). Jika mereka tidak bisa mengulangi kata-kata anda, bisa saja pesan yang disampaikan terlalu rumit dan panjang.

Anak lebih dapat memahami aturan jika dijelaskan pentingnya aturan tersebut dan mengapa harus dipatuhi. Simaklah percakapan berikut :

Dari percakapan diatas, jelas terlihat perbedaan antara pendidik biasa dan pendidik inspiratif. Pada saat penjelasan aturan gunakanlah kata yang konkrit (tidak abstrak), seperti kata “sore” yang masih terlalu abstrak untuk anak usia 5-6 tahun, maka harus diperjelas dengan mengatakan pukul berapa seperti “pada pukul 4 sore”, sehingga pada akhirnya anak akan mengerti benar mengapa dan kapan ia harus melakukan sesuatu. Dengan begitu, pendidik tidak harus melakukan berulang-ulang.

3. Jelaskan konsekuensinya

Pendidik biasa : “Pokoknya ikuti saja” atau “Ayah bilang begitu, turuti saja”

Pendidik inspiratif : “Bukankah mainanmu yang kecil-kecil sering tersapu Bibi ? Nah, agar tidak hilang lagi, sebelum Bibi menyapu kamu sudah harus memasukkan mainan mu pukul 4 sore. Nanti Bunda pasang alarm ya. Kalau berdering, itu tandanya waktunya beres-beres”.

(12)

Percakapan 3

Pendidik inspiratif : “Mainanmu akan Bunda simpan karena tadi Bunda yang membereskannya. Kamu boleh main lagi setelah dua hari.”

Pemberian konsekuensi merupakan hal penting dalam penerapan aturan. Konsekuensi dalam penerapan aturan diarahkan kepada hal-hal yang positif yakni konsekuensi yang tidak terlalu berat sehingga pendidik tidak tega namun juga tidak terlalu ringan sehingga anak meremehkannya, pada intinya konsekuensi tersebut mengandung unsur kegiatan yang “tidak disukai oleh anak”. Sehingga anak paham akan pentingya suatu aturan.

Pendidik memberikan pilihan yaitu : membereskan mainan atau menghadapi konsekuensinya.

4. Laksanakan dengan konsisten

Terkadang anak akan menguji pendidik dalam penerapan aturan. Pada waktu yang ditentukan, anak tersebut tidak mau membereskan mainannya. Meskipun pendidik telah mengingatkan akan pilihannya, namun anak tersebut tetap menolahknya. Maka seperti yang telah dijanjikan dan disepakati, pendidik tetap harus menyimpan mainannya lalu membawa pergi. Anak mungkin akan memprotes, merebut, menangis, mengiba, membujuk, berjanji untuk membereskannya dilain waktu agar mendapatkan kembali mainannya saat itu juga. Tapi sebagai pendidik yang bijak, haruslah bersikap konsisten.

Jika saat itu pendidik tergoda oleh janji anak dan mengembalikan mainannya, maka secara tidak langsung pendidik telah mengajari anak untuk ingkar janji. Karena itu, tentukan sebuah konsistensi dengan penuh pertimbangan. Tidak terlalu berat atau tidak mungkin melakukannya (misalnya : membuang mainan ke tempat sampah). Tapi jangan terlalu ringan sehingga anak-anak meremehkannya (misalnya : menyimpan mainan hanya selama 1-2 jam).

Percakapan 2

(13)

Inilah konsep yang diajarkan kepada anak-anak dai sejak usia dini “ aturan bukanlah aturan, kecuali mampu ditegakkan dengan konsisten.” Anak akan belajar dengan cepat dan terampil bagaimana menguji pendidik dan menentukan aturan mana yang harus mereka tanggapi secara serius.

2.6.3 Konsistensi Dalam Rutinitas

Di kalangan orang dewasa, ada anggapan bahwa rutinitas selalu membosankan dan kita perlu sekali-kali keluar dari rutinitas. Tapi ini tidak berlaku untuk anak-anak. Rutinitas yang dimaksud orang dewasa mengalami penyempitan makna, yaitu hanya berkaitan dengan pekerjaan di kantor yang mungkin monoton. Rutinitas bagi anak-anak berarti keteraturan hidup dan kemudahan bagi mereka memaknai hidup.

Banyak kegiatan keluarga membutuhkan rutinitas, seperti waktu tidur, pelaksaaan tugas dirumah, waktu makan, mandi dan bersiap ke sekolah. Anak-anak menyukai rutinitas (peristiwa yang dapat diprediksikan). Sebagai contoh, waktu tidur seorang anak akan mencakup menggosok gigi, buang air besar atau kecil, memakai baju tidur, dibacakan buku dan berdoa. Waktu tidur harus pada waktu yang sama setiap malam. Jika rutinitas ini konsisten, anak-anak akan mematuhinya dengan lebih mudah.

(14)

Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum’at Sabtu 07.30-08.00

08.00-08.30 08.30-09.00 09.00-09.30 09.30-10.00 10.00-10.30 10.30-11.00 11.00-11.30 11.30-12.00 12.00-12.30 12.30-13.00 13.00-13.30 13.30-14.00 14.30-15.00 15.30-16.00 16.30-17.00 17.30-18.00 18.30-19.00 19.30-20.00

(15)

2.6.4 Konsisten Antara Kata Dan Perbuatan Pendidik

Aturan pada umunya dibuat pendidik bagi anak-anaknya dengan asumsi bahwa ana-anak memang perlu “diatur”. Karena tanpa aturan, anak-anak akan keliru dalam berprilaku. Asumsi berikutnya adalah pendidik sudah dewasa, tidak mungkin berprilaku buruk, jadi tidak terikat dengan aturan seperti anak-anak. .

Sebagai contoh, pendidik mungkin sudah konsisten mengawasi pelaksanaan aturan “kapan boleh menonton televisi” bagi anak-anak. Anak-anak patuh hanya menonton acara pilihan selama setengah jam. Sesudah acaranya berakhir, anak tersebut akan segera mematikan televisi. Namun, kemudian Ayah atau Bunda mengambil alih remote televisi dan menonton tanpa batas. Mungkin mereka perlu menyaksikan berita penting, ataupun sedang dalam keadaan suntuk dan membutuhkan hiburan, atau mungkin mereka yakin bahwa bahaya televisi hanya mempengaruhi anak, bukan pendidik. Apapun alasannya, jika ini dilakukan, pendidik telah mematahkan konsistensinya sendiri. Menunjukkan kepada anak-anak bahwa atuan hanya bagi mereka yang lebih kecil, lebih lemah dan tidak berkuasa.

Anak-anak akan lebih mudah memahami pentingnya aturan dibuat dan dipatuhi, jika pendidiknya pun berada di dalam batasan yang dibutanya sendiri. Inilah konsistensi antara kata dan perbuatan pendidik.

2.6.7 Konsistensi Dalam Larangan

(16)

2.6.8 Tetapkan Batasan Yang Tetap

Sangatlah penting bagi anak-anak untuk mengetahui bahwa peraturan-peraturan tidak akan pernah dirubah dan akan selalu ditegakkan. Kelabilan emosional pada anak usia 4-6 tahun membuat mereka semakin sering berupaya mndorong batasan-batasan ini. Tetapi tetap, batasan ini tidak boleh dirubah.

Semakin baik upaya pendidik mempertahankan batasan-batasan tersebut, akan semakin mudah mengatur anak-anak. Setelah mereka yakin bahwa kita sebagai pendidik tidak akan pernah menyerah, maka dengan sendrinya mereka akan mematuhi dan memahami batasan-batasan tersebut. Anak-anak juga tidak ingin melakukan hal yang sia-sia, dengan begitu bukan saja merka yang merasa lebih bahagia dan percaya diri, mereka juga akan belajar menerima jawaban “tidak”.

(17)

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Berusaha untuk selalu bersikap konsisten mengajarkan anak untuk mempercayai apa yang pendidik utarakan. Dengan perencanaan yang baik, akan membantu kita sebagai pendidik untuk bisa selalu konsisten. Setelah pendidik mengetahui hal yang tepat bagi anak, maka gunakanlah strategi tersebut secara teratur, jika konsekuensi yang diberikan sesekali berubah, tidak akan berpengaruh buruk, tapi jika kita sebagai pendidik sering mengubah-ngubah konsekuensi tersebut, maka anak akan berada pada jalur kebimbangan.

Mendidik adalah sutau upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang secara langsung tersirat pada pembukaan UUD 1945 dan diperjelas kembali oleh UU Sistem Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003. Untuk mewujudkan hal ini diperlukan suatu usaha yang jelas dengan komitmen serta konsisten. Usia 4-6 tahun merupakan masa kritis yang jika orang tua atau pendidik tidak melaksanakan tanggung jawabnya secara tidak maksimal, maka anak akan memperoleh konsep yang salah (bermakna negative), begitu pula sebaliknya jika pendidik mampu bertanggung jawab atas didikannya yang baik sesuai dengan perkembangan anak, maka anak tersebut akan tumbuh dan berkembang menjadi sumber daya manusia yang berkualitas serta komperhensif.

3.2 Saran

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Baihaqi Ihsan (2013), “Yuk, Jadi Orang Tua Shalih”. Jakarta : PT Mizan Pustaka. Elfiendri (2012). “Pendidikan Karalter”. Jakarta : Baduose Media Jakarta

Pendidikan Karakter (2012). Retrieved from

http://pndkarakter.wordpress.com/category/tujuan-dan-fungsi-pendidikan-karakter/ (Access on 22 November 2014).

Retrieved from http://www.tabloid-nakita.com/read/2090/ingin-disiplin-ajarkan-konsistensi-pada-anak (Acces on November 2014)

Rimm Sylvia (2003), “Mendidik dan Menerapkan Disiplin pada Anak Prasekolah (Terjemahan Indonesia oleh Lina Jusuf)”. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Referensi

Dokumen terkait

Fuel cell adalah alat atau teknologi seperti baterai yang mampu menghasilkan listrik dengan menggunakan bahan bakar kimia seperti hidrogen.. “Seperti pabrik, fuel

Program Peningkatan Pemahaman, Penghayatan, Pengamalan, dan Pengembangan Nilai-nilai Keagamaan Kegiatan-kegiatan pokok RKP 2006: Dalam rangka pelaksanaan program ini

Bagi usaha dan/atau kegiatan yang telah berjalan dan belum memiliki dokumen kelayakan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, wajib menyusun dokumen

Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta. Tesis Fakultas

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kualitas audit, profitabilitas, dan likuiditas terhadap opini audit going concern pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di

hasil belajar (dengan Motivasi Berprestasi sebagai variabel kontrol) maka di dapatkan hasil koefisien korelasi antara Motivasi Berprestasi terhadap Hasil Belajar

1) Peraturan Daerah Nomor 04 Tahun 2011,dan peraturan Gubernur No.65 th 2011 tentang Rincian Tugas Pokok dan fungsi Dinas Perkebunan Provinsi Bali. 2) Tersedianya sumber

Sementara itu, jika hasil uji kualitas menunjukkan bahwa konsentrasi beberapa unsur-unsur terlarut dan nilai pH masih berada di rentang nilai standar yang ditetapkan