• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.Isolasi Kasein Susu & Penentuan Kadar Protein

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "3.Isolasi Kasein Susu & Penentuan Kadar Protein"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI PERCOBAAN IX

UJI AKTIVITAS ENZIM GLUKOAMILASE

OLEH:

NAMA : AGUNG WIBAWA MAHATVA YODHA STAMBUK : F1C1 08 006

KELOMPOK : I

ASISTEN :

LABORATORIUM KIMIA JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HALUOLEO

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Enzim merupakan protein yang berfungsi sebagai biokatalis dalam sel

hidup. Kelebihan enzim dibandingkan katalis biasa adalah (1) dapat meningkatkan

produk beribu kali lebih tinggi; (2) bekerja pada pH yang relatif netral dan suhu

yang relatif rendah; dan (3) bersifat spesifik dan selektif terhadap subtrat tertentu

(Azmi, 2006).

Enzim glukoamilase (EC. 3.2.1.3) atau sering disebut amiloglukosidase

atau α-1,4-glukano glukohidrolase merupakan enzim ekstraseluler yang mampu

menghidrolisa ikatan α-1,4 pada rantai amilosa, amilopektin, glikogen, dan

pullulan ( Azwar D. dan R. Erwanti, 2000). Glukoamilase dapat diproduksi dalam

skala industri melalui fermentasi kultur cair maupun fermentasi padat. Fermentasi

dengan media cair lebih menguntungkan, tetapi biaya operasional dan alat yang

digunakan lebih mahal. Fermentasi dengan media padat mempunyai keunggulan

lebih sederhana dalam pelaksanaannya, biaya operasional dan peralatan

fermentasi lebih murah, tetapi untuk menjaga kondisi fermentasi sesuai dengan

apa yang diinginkan seperti kehomogenan media, aerasi sangat sulit untuk

dilakukan .

Produksi glukosa hasil aktivitas glukoamilase diukur dengan

spektrofotometer dengan metode Smogy-Nelson pada panjang gelombang 550 nm,

(3)

B. Permasalahan

Permasalahan dalam praktikum ini yaitu bagaimanakah aktivitas enzim

glukoamilase yang diproduksi oleh mikroba ?

C. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk menguji aktivitas enzim glukoamilase

yang diproduksi oleh mikroba.

D. Manfaat

Manfaat dari praktikum ini yaitu untuk menambah pengetahuan uji aktivitas

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Enzim merupakan unit fungsional dari metabolisme sel. Bekerja dengan

urutan-urutan yang teratur, enzim mengkatalisis ratusan reaksi bertahap yang

menguraikan molekul nutrient, reaksi yang menyimpan dan mengubah energi

kimiawi dan yang membuat makromolekul sel dari prekursor sederhana. Di antara

sejumlah enzim yang berpartisi di dalam metabolisme terdapat sekelompok

khusus yang dikenal sebagai enzim pengatur yang dapat mengenali berbagai

isyarat metabolik dan mengubah kecepatan katalitiknya sesuai dengan isyarat

yang diterima. Melalui aktivitasnya, sistem enzim terkoordinasi dengan baik,

menghasilkan suatu hubungan yang harmonis di antara sejumlah aktivitas

metabolik yang berbeda, yang diperlukan untuk menunjuang kehidupan

(Lehninger, 1982).

Reaksi kimia dipengaruhi oleh suhu. Reaksi yang menggunkana katalis

enzim juga dipengaruhi oleh suhu. Pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung

lambat, sedangkan pada suhu yang lebih tinggi reaksi berlangsung lebih cepat. Di

samping itu, karena enzim adalah suatu protein, maka kenaikan suhu dapat

menyebabkan terjadinya proses denaturasi. Apabila proses denaturasi terjadi,

maka bagian aktif enzim akan terganggu dan dengan demikian konsentrasi efektif

enzim menjadi berkurang dan kecepatamn reaksinya ikut menurun (Poedjiadi,

1994).

Fermentasi mempunyai pengertian aplikasi metabolisme mikroba untuk

mengubah bahan baku menjadi produk yang bernilai lebih tinggi, seperti

(5)

merupakan proses yang relatif murah yang pada hakekatnya telah lama dilakukan

oleh nenek moyang kita secara tradisional dengan produk-produknya yang sudah

biasa dimakan orang sampai sekarang, seperti tempe, oncom, tape, dan lain-lain.

Fermentasi dapat dilakukan dengan metode kultur permukaan dan kultur terendam

submerged. Kultur permukaan yang menggunakan substrat padat atau semi padat

banyak digunakan untuk memproduksi berbagai jenis asam organik dan enzim.

Fermentasi media padat ini sering disebut proses ‘koji’, misalnya proses koji

untuk memproduksi enzim yang dibutuhkan dalam pembuatan shoyu (kecap

kedelai), miso, sake, asam-asam organik dan sebagainya. (Muhiddin et al, 2001).

Pati (starch) adalah karbohidrat penyimpan energi pada tanaman. Pati

merupakan komponen padi-padian, kentang, jagung. Dalam bentuk inilah glukosa

disimpan oleh tanaman untuk keperluan mendatang. Pati tersusun dari unit-unit

glukosa yang dihubungkan oleh ikatan 1,4- -glikosida, walaupun rantai ini

dapat pula mempunyai percabangan karena adanya ikatan 1,6- -glikosida.

Hidrolisis parsial pada pati menghasilkan maltosa, dan hidrolisis selengkapnya

akan memberikan D-glukosa. Pati dapat dipisahkan dengan macam-macam

pelarut dan teknik pengendapan menjadi dua bagian, yaitu amilosa dan

amilopektin. Pada amilosa, yang menyusun 20% pati, unit-unit glukosa (50-300)

membentuk rantai lurus yang berikatan menurut 1,4. Amilopektin (amylopectin)

bercabang banyak. Sekalipun setiap molekul dapat mempunyai 300-500 unit

glukosa, rantai dengan ikatan 1,4 hanya terdapat rata-rata sepanjang 25-30 unit

glukosa. Rantai-rantai demikian mempunyai percabangan melalui ikatan 1,6.

Karena strukturnya yang banyak bercabang, butir pati mengembang dan

(6)

Pada fungi, studi yang rinci mengenai pemurnian α-amilase terbatas hanya

pada sedikit spesies fungi. Meskipun demikian, Amirul et al memproduksi

α-glukosidase, α-amilase, dan dua bentuk glukoamilase dari Aspergillus niger yang

tumbuh pada medium cair yang mengandung pati tapioka sebagai sumber karbon.

Di sisi lain, saat α-amilase telah banyak diproduksi dari strain genus Bacillus,

beberapa usaha telah dilakukan untuk pemurnian dan karakterisasinya, baik dari

strain mesofilik maupun termofilik (El-Safey et al, 2004).

Proses perubahan karbohidrat menjadi glukosa secara enzimatik, melibatkan

kelompok enzim amilase. Oleh karena itu, enzim amilase banyak diisolasi, diteliti,

dan dipelajari sifat dan karakteristiknya. Gasperik et al telah mengisolasi dan

mengkarakterisasi enzim amilase yang diproduksi secara ekstraselular dari kultur

cair Endomycopsis fibuligera yang mengandung pati sagu. Selanjutnya dilakukan

pemisahan dengan metode HPLC menunjukkan bahwa amilase terdiri dari

beberapa enzim, diantaranya α-amilase (EC 3.2.1.1) dan amiloglukosidase (EC

3.2.1.3). Disamping itu mereka menemukan bahwa α-amilase dan

amiloglukosidase memiliki perbedaan stabilitas termal. Amiloglukosidase

tampaknya lebih stabil dibandingkan dengan α-amilase. Pengujian aktivitas enzim

amiloglukosidase dihitung dari jumlah glukosa yang diperoleh dari hidrolisis pati

dan diukur dengan metode Nelson-Somogy. Dari hasil percobaan Gasperik et al

menemukan bahwa aktivitas optimum α-amilase dicapai pada pH 5,8 sedang

(7)

Dimasukkan 2 ml kedalam tabung reaksi

Ditambahkan 8 ml reagen biuret

Didiamkan selama 30 menit

Diukur absorbansinya pada λ = 530 nm

Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

B. Alat dan Bahan a. Alat

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu tabung reaksi, pipet tetes,

pipet volume, filler, labu takar 50 ml, spektonik 20D, botol ampul, water bath dan

elektromantel.

b. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan yaitu crude enzim, enzim 40 %, enzim 80 %,

reagen biuret, substrat pati, buffer pH 4, 7 dan 9, DNS, es batu dan akuades.

C. Rancangan Percobaan

1. Penentuan Kadar Protein

- Pembuatan Kurva Standar Protein

(8)

Dimasukkan 2 ml kedalam masing-masing tabung reaksi

Ditambahkan 2 ml DNS

Didiamkan selama 30 menit

Dipanaskan dalam penangas selama 15 menit

Didinginkan pada permukaan es batu

Diukur absorbansinya pada λ = 540 nm

Dibuat kurva standar glukosa

Ditambahkan 8 ml reagen biuret

Didiamkan selama 30 menit

Diukur absorbansinya pada λ = 530 nm

Ditentukan kadar protein enzim - Pembuatan Kurva Standar Glukosa

Hasil Pengamatan

- Penentuan Kadar Protein

(9)

1 ml buffer pH 4

Dimasukkan dalam tabung reaksi

Diinkubasi selama 30 menit

Ditambahkan 2 ml DNS

Dipanaskan dalam penangas selama 15 menit

Didinginkan pada permukaan air es

Diencerkan dengan akuades hingga 10 ml

Diukur absorbansinya pada λ = 540 nm

Ditentukan aktivitas enzim 1 ml substrat

Dimasukkan dalam tabung reaksi

Ditambahkan 1 ml buffer pH 4

Diinkubasi selama 30 menit

Ditambahkan 2 ml DNS

Dipanaskan dalam penangas selama 15 menit

Didinginkan pada permukaan air es

Deencerkan dengan akuades hingga 10 ml

Diukur absorbansinya pada λ = 540 nm

Ditentukan aktivitas enzim Hasil Pengamatan

2. Penentuan Aktivitas Enzim Amiloglukosidase - Karakterisasi pH 4, 7 dan 9 pada suhu kamar

a. Kontrol substrat

b. Blanko

(10)

0,5 ml enzim 40 %

0,5 ml crude

enzim 0,5 ml enzim 80 %

 Masing-masing ditambahkan 1 ml substrat dalam tabung reaksi

 Ditambahkan buffer pH 4  Diinkubasi selama 30 menit  Ditambahkan 2 ml DNS

 Dipanaskan dalam penangas selama 15 menit  Didinginkan pada permukaan air es

 Deencerkan dengan akuades hingga 10 ml  Diukur absorbansinya pada λ = 540 nm  Ditentukan aktivitas enzim

Hasil Pengamatan

1 ml substrat

Dimasukkan dalam tabung reaksi

Ditambahkan 1 ml buffer pH 7

Diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar

Ditambahkan 2 ml DNS

Dipanaskan dalam penangas selama 15 menit

Didinginkan pada permukaan air es

Deencerkan dengan akuades hingga 10 ml

Diukur absorbansinya pada λ = 540 nm

Ditentukan aktivitas enzim Hasil Pengamatan

c. Aktivitas enzim glukoamilase

Keterangan : Dilakukan perlakuan yang sama untuk pH7 dan 9

- Karakterisasi suhu aktivitas enzim pada pH 7 1. Suhu Kamar

(11)

0,5 ml enzim 40 %

0,5 ml crude

enzim 0,5 ml enzim 80 %

 Masing-masing ditambahkan 1 ml substrat dalam tabung reaksi

 Ditambahkan buffer pH 7

 Diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar

 Ditambahkan 2 ml DNS

 Dipanaskan dalam penangas selama 15 menit

 Didinginkan pada permukaan air es  Deencerkan dengan akuades hingga 10 ml  Diukur absorbansinya pada λ = 540 nm  Ditentukan aktivitas enzim

Hasil Pengamatan 1 ml buffer pH 7

Dimasukkan dalam tabung reaksi

Diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar

Ditambahkan 2 ml DNS

Dipanaskan dalam penangas selama 15 menit

Didinginkan pada permukaan air es

Deencerkan dengan akuades hingga 10 ml

Diukur absorbansinya pada λ = 540 nm

Ditentukan aktivitas enzim b. Blanko

c. Aktivitas enzim glukoamilase

Keterangan : Dilakukan perlakuan yang sama untuk variasi suhu 50 oC dan 100 oC

(12)
(13)

4. Karakteristik Suhu Aktif Enzim (pH 7)

Suhu (oC) Absorbansi

Crude Enzim Fraksi I (40 %) Fraksi II (80%) Kamar

5. Karakteristik pH Aktif Enzim (Suhu Kamar)

pH

Absorbansi

(14)

B. Pembahasan

Protein adalah makromolekul paling berlimpah di dalam sel hidup dan

merupakan 50 persen atau lebih berat kering sel. Protein ditemukan dalam semua

sel dan semua bagian sel. Protein merupakan senyawa polipeptida dengan berat

molekul besar dan tersusun atas unsur-unsur C, H, O, N, serta ada pula yang

mengandung unsur S dan P. Molekul protein terdiri atas unit-unit kecil asam

amino yang saling bersambung satu sama lain yang dihubungkan oleh ikatan

peptida. Protein merupakan senyawa yang sangat penting dalam semua sel hidup,

karena protein merupakan bagian esensial dari protoplasma. Selain itu, protein

juga berfungsi mengekspresikan informasi genetik.

Salah satu jenis protein yang sangat penting adalah enzim. Enzim

merupakan kelompok protein yang berperan sangat penting dalam proses aktivitas

biologi. Enzim berfungsi sebagai katalisator dalam sel dan sifatnya sangat khas.

Dalam jumlah yang sangat kecil enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga

dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan hasil reaksinya.

Enzim akan kehilangan aktivitasnya akibat panas, asam atau basa kuat, pelarut

organik atau apa saja yang menyebabkan denaturasi protein. Melalui aktivitasnya,

sistem enzim terkoordinasi dengan baik menghasilkan suatu hubungan yang

harmonis di antara sejumlah aktivitas metabolik yang berbeda, yang diperlukan

untuk menunjang kehidupan. Enzim juga biasa disebut sebagai biokatalisator.

Enzim adalah katalisator sejati. Molekul ini meningkatkan secara nyata

kecepatan reaksi kimia spesifik yang tanpa enzim akan berlangsung sangat

(15)

tertentu. Penelitian terhadap spesifitas enzim menunjukkan bahwa molekul

substrat harus memiliki dua ciri struktural yang jelas, yaitu ikatan kimia spesifik

yang dapat diserang oleh enzim dan biasanya beberapa gugus lainnya yaitu gugus

pengikat yang berikatan dengan enzim dan mengarahkan molekul substrat dengan

tepat pada sisi aktif sehingga ikatan yang rapuh tapi tepat terletak pada posisi yang

berhubungan dengan gugus katalitik enzim. Mekanisme kerja enzim biasa

digambarkan dengan mekanisme kerja gembok dan anak kunci (lock and key).

Karena sifat spesifitasnya, banyak enzim diberi nama berdasarkan substratnya,

seperti enzim glukoamilase yang mengkatalisis hidrolisis pati menjadi molekul

yang lebih kecil, yakni glukosa.

Enzim glukoamilase (EC 3.2.1.3) merupakan kelompok enzim dari keluarga

amilase. Nama lain dari enzim ini adalah enzim amiloglukosidase. Enzim ini

berfungsi mengkatalisis reaksi hidrolisis pati (amilosa dan amilopektin) menjadi

molekul karbohidrat yang lebih kecil, yakni berupa monosakarida glukosa. Cara

kerja enzim ini adalah dengan memotong pati pada ikatan α1,4 dan

α1,6-glikosidik secara teratur dari ujung rantai pati, sehingga produk yang dihasilkan

berupa molekul α-D-glukosa.

Aktivitas enzim merupakan mikromol produk yang dihasilkan setiap 1

menit enzim bekerja. Untuk itu, ekstrak kasar enzim glukoamilase digunakan

untuk menghidrolisis larutan pati. Aktivitas enzim glukoamilase tersebut diukur

dari konsentrasi produk yang dihasilkan setelah proses hidrolisis selama 10 menit.

Konsentrasi produk dihitung dengan spektrofotometri menggunakan spektronik

(16)

dilakukan penambahan reagen DNS untuk membentuk kompleks berwarna

dengan produk (glukosa). Larutan blanko digunakan untuk menghilangkan

pembacaan absorbansi pati, air, enzim, dan DNS, sehingga pada saat larutan hasil

hidrolisis pati dibaca absorbansinya, hanya absorbansi glukosa yang terbaca oleh

alat spektronik 20D. Pembacaan absorbansi dilakukan triplo. Konsentrasi produk

kemudian dihitung dengan menggunakan persamaan regresi linear dari kurva

standar glukosa. Dari persamaan regresi tersebut, diketahui konsentrasi rata-rata

glukosa hasil hidrolisis pati oleh enzim glukoamilase sehingga aktivitas enzim

(17)

BAB V PENUTUP A. Simpulan

Simpulan dari percobaan ini yaitu bahwa enzim glukoamilase yang

dihasilkan oleh mikroba memiliki aktivitas.

B. Saran

Saran dari praktikan yaitu pelaksanaan praktikum hendaknya dapat lebih

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Ahyar. 2003. Purification and Characterization of Amyloglucosidase Enzyme from Endomycopsis fibuligera, ISTECS Journal. Vol. 4. p. 47-55.

El-Safey, E.M. dan M.S. Ammar. 2004. Purification and Characterization of α-Amylase Isolated from Aspergillus falvus var. columnaris, Ass. Univ. Bull.

Environ. Res. Vol. 7 No. 1. p. 93-99.

Hart, Harold. 1983. Kimia Organik: Suatu Kuliah Singkat. Jakarta: Erlangga.

Lehninger, A.L. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Referensi

Dokumen terkait

Ia adalah seorang mantan duta besar Oman untuk Amerika Serikat... kesamaan antara seluruh manusia. Apa pun bentuk diskriminasi manusia, baik yang berdasarkan ras,

“Bank Indonesia menetapkan ketentuan mengenai batas maksimum pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, pemberian jaminan, penempatan investasi surat

Dengan melihat hasil dari perhitungan tersebut berarti dapat menguatkan dari penelitian-penelitian terdahulu yang meneliti tentang kinerja dan kepuasan masyarakat yaitu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Guru menyampaikan materi peperangan secara menarik karena materi peperangan sangat berpotensi membuat siswa bosan, jenuh, bahkan

Analisis serat pangan tak larut air dilakukan dengan menyaring larutan sampel pH 4,5 dengan kertas saring Whatman 40 hingga diperoleh filtrat dan

Selanjutnya uji hipotesis dengan menggunakan uji t diperoleh hasil bahwa (1) terdapat pengaruh yang signifikan pada penggunaan model pembelajaran Think Pair Share

Modus operandi merupakan cara, langkah seseorang dalam melakukan suatu tindakan, sebagaimana dalam putusan cara para terdakwa melakukan tindak pidana adalah dimulai pada

Di samping itu, pencatatan perkawinan selain substansinya untuk mewujudkan ketertiban hukum juga mempunyai manfaat preventif, seperti supaya tidak terjadi penyimpangan rukun dan