LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKjIP)
DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN
TAHUN 2015
DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN
KABUPATEN BOYOLALI
LkjIP Disnakkan 2015 | i Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kekuatan dan petunuk-Nya sehingga Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Dinas Peternakan dan Perikanan Tahun 2015 telah disusun sesuai rencana guna memenuhi kewajiban menyampaikan LKjIP setelah pelaksanaan program/ kegiatan APBD 2015 sebagaimana Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas.
Dokumen LKjIP menyajikan hasil pengukuran kinerja tahun 2015 serta evaluasi dan analisis akuntabilitas kinerjanya, sehingga dokumen LKjIP ini dapat memberikan informasi keberhasilan/ kegagalan Dinas Peternakan dan Perikanan serta dapat diketahui apakah program/ kegiatan yang dilaksanakan telah mencapai indikator dan target kinerja serta mengarah pada terwujudnya visi dan misi organisasi (Dinas Peternakan dan Perikanan).
Selain itu, dokumen LKjIP juga menyajikan dokumen perencanaan dan kinerja lain seperti Rencana Strategis (Renstra), Indikator Kinerja Utama (IKU), Rencana Kinerja Tahunan (RKT), Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA), serta Penetapan Kinerja, sehingga dokumen LKjIP juga dapat digunakan untuk mengevaluasi konsistensi penerapan rencana strategis yang telah ditetapkan, melalui pelaksanaan tugas pokok dan fungsi di masing-masing Bagian sekaligus dapat memberikan gambaran penerapan prinsip-prinsip Good Govemance, yaitu terwujudnya transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Boyolali.
Dengan tersusunnya LKjIP ini, diucapkan terima kasih kepada para pelaksanaan program/ kegiatan serta pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Harapan kita semua tentunya penyusunan LKjIP Dinas Peternakan dan Perikanan Tahun 2015 ini, benar-benar didasarkan pada pengukuran kinerja yang realistis dan obyektif sehingga hasilnya dapat dijadikan sebagai bahan untuk menentukan langkah dan kebijakan Dinas Peternakan dan Perikanan di tahun selanjutnya (2016-2020) serta dapat mendorong peningkatan kinerja para penyelenggara pemerintahan daerah dalam mewujudkan visi-misi Bupati Boyolali yang salah satunya dilaksanakan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan.
Demikian, semoga LKjIP Dinas Peternakan dan Perikanan Tahun 2015 ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada kita semua, Amin.
Boyolali, Januari 2016
KEPALA DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN
KABUPATEN BOYOLALI
LkjIP Disnakkan 2015 | ii
Halaman KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iii
IKHTISAR EKSSEKUTIF ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Gambaran Organisasi ... 2
1. Kedudukan, Tugas dan Fungsi ... 2
2. Sruktur Organisasi ... 2
3. Aspek Strategis dan Permasalahan Utama Organisasi ... 3
BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA ... 4
A. Rencana Strategis Organisasi ... 4
B. Perjanjian Kinerja ... 5
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... 7
A. Capaian Kinerja Organisasi ... 7
B. Realisasi Anggaran ... 19
BAB IV PENUTUP ... 22
A. Kesimpulan ... 22
B. Saran ... 22
DAFTAR LAMPIRAN ... 24 A. Struktur Organisasi dan Tata Kerja
LkjIP Disnakkan 2015 | iii
Halaman Tabel 2.1 Perjanjian Kinerja Dinas Peternakan dan Perikanan Tahun 2015 ... 5
Tabel 3.1 Pencapaian Kinerja Sasaran 1 ... 8
Tabel 3.2 Pencapaian Kinerja Sasaran 2 ... 8
Tabel 3.3 Capaian Kinerja Per Sasaran ... 18
Tabel 3.4 Capaian Kinerja Per Bagian ... 19
LkjIP Disnakkan 2015 | iv A. Pendahuluan
Dalam rangka lebih meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang lebih berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab serta berorientasi kepada hasil (result oriented government), perlu adanya sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Sedangkan untuk mengetahui tingkat akuntabilitas tersebut, perlu adanya Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) yang merupakan bahan utama untuk monitoring dan evaluasi sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Dengan telah terselesainya pelaksanaan tahun anggaran 2015, sesuai Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas, semua instansi pemerintah, termasuk Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, wajib menyusun LKjIP. Selain itu, informasi dalam dokumen LKjIP merupakan bentuk pertanggungjawaban atas keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan tugas.
Berdasar Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 16 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Boyolali. Peraturan Bupati Nomor 41 Tahun 2012 tentang Penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, Dinas Peternakan dan Perikanan dipimpin oleh Kepala Dinas, yang pelaksanaan tugas administrasi dibantu oleh seorang sekretaris dan tugas teknis dibantu oleh tiga kepala bidang. Jumlah pegawai secara keseluruhan 86 orang PNS dan 7 orang PTT. Dinas Peternakan dan Perikanan mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintah daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan di Bidang Peternakan dan Perikanan.
B. Perencanaan dan Perjanjian Kinerja
Visi Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali sebagaimana tertuang dalam dokumen renstra Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali 2011-2015 adalah “Terwujudnya kemandirian agribisnis peternakan dan perikanan”. Untuk mewujudkan visi tersebut, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali melaksanakan misi :
1. Memperkuat fasilitas sarana prasarana dan kelembagaan agribisnis peternakan dan perikanan; 2. Meningkatkan produksi dan produktivitas usaha peternakan dan perikanan
3. Meningkatkan usaha pengolahan dan pemasaran hasil produksi peternakan dan perikanan; 4. Meningkatkan perlindungan kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner
Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut, pada tahun 2015 Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali melaksanakan 11 (sebelah) program dengan 36 (tiga puluh enam) kegiatan serta 2 program dan 2 kegiatan Tugas Pembantuan (TP) dengan anggaran total sebesar Rp. 8.114.197.000,00 yang bersumber dari APBD dan Rp. 6.769.420.000,00 yang bersumber dari APBN (Kementerian Pertanian dan KKP RI). Seluruh program/ kegiatan tersebut direncanakan sebagai bagian dari Penetapan Kinerja Tahun 2015 untuk mencapai 2 Sasaran, atau dengan kata lain seluruh kegiatan diharapkan mempunyai kaitan sebab akibat dengan sasaran yang telah ditetapkan.
C. Akuntabilitas Kinerja
LkjIP Disnakkan 2015 | v dari 100% (67%). Berikut capaian Kinerja per Sasaran :
NO SASARAN NILAI CAPAIAN
KINERJA 1. Meningkatnya pengelolaa keuangan daerah yang akuntabel 67 2. Meningkatnya jumlah produksi dan produktivitas peternakan dan
perikanan serta diversifikasi bahan pangan
194
Berikut Capaian Kinerja per Bagian :
NO SASARAN NILAI CAPAIAN
KINERJA
1. Sekretariat 67
2. Bidang Peternakan 269
3. Bidang Keswanvet 100
4. Bidang Perikanan 218
5. Bidang Peternakan dan Keswanvet 154
D. Simpulan dan Saran
Secara keseluruhan capaian kinerja 131% (kategori Sangat Baik) dan mengalami peningkatan dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014 (111%) dan tahun 2013 (117%) dan penurunan kinerja dibandingkan dengan tahun 2011 (156%) dan tahun 2012 (141%). Pembiayaan program/ kegiatan dari APBD Kabupaten Boyolali Tahun 2015 Rp. 8.114.197.000,00 terealisasi Rp. 7.811.464.730,00 dengan serapan anggaran sebesar 96% atau efisiensi anggaran sebesar 4%. Besar pembiayaan mengalami pengurangan dibanding tahun 2014 yang sebesar Rp. 11.672.038.000,00.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang lebih berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggungjawab serta
berorientasi kepada hasil (result oriented governement ). Sedangkan untuk mengetahui tingkat akuntabilitas
perlu adanya Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP). Instansi yang wajib menyusun Laporan Kerja
Instansi Pemerintah (LKjIP) adalah Kementerian/Lembaga, Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/ Kota, Unit
Organisasi Eselon I pada Kementerian/Lembaga, Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan unit kerja mandiri yang
mengelola anggaran tersendiri dan atau unit yang ditentukan oleh pimpinan instansi masing-masing.
Sesuai dengan siklusnya, setelah selesai pelaksanaan tahun anggaran 2015, pemerintah daerah
menyusun LKjIP 2015 yang merupakan laporan kinerja tahunan yang berisi pertanggungjawaban kinerja suatu
instansi dalam mencapai tujuan/sasaran strategis instansi. LKjIP berisi ikhtisar pencapaian sasaran
sebagaimana yang ditetapkan dalam dokumen penetapan kinerja dan dokumen perencanaan. Dokumen LKjIP
bukan dokumen yang berdiri sendiri, namun terkait dengan dokumen lain yaitu Indikator Kinerja Utama (IKU),
RP JMD/ Renstra SKPD, RKPD/Renja SKPD, Penetapan Kinerja (Tapkin), dan Rencana Kinerja Tahunan
(RKT).
Tujuan penyusunan LKjIP adalah menyajikan pertanggungjawaban kinerja instansi pemerintah (Dinas
Peternakan dan Perikanan) dalam mencapai sasaran strategis instansi sebagaimana telah ditetapkan dalam
dokumen Penetapan Kinerja diawal tahun anggaran. Dokumen LKjIP ini dapat digunakan sebagai :
1. Sumber informasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan pencapaian kinerja Dinas Peternakan dan
Perikanan dengan pembanding hasil pengukuran kinerja dan penetapan kinerja;
2. Bahan evaluasi untuk mengetahui tingkat akuntabilitas kinerja Dinas Peternakan dan Perikanan;
3. Bahan evaluasi untuk penyusunan rencana kegiatan dan kinerja Dinas Peternakan dan Perikanan pada
tahun berikutnya.
Peraturan perundang-undangan yang diacu dalam penyusunan dokumen LKjIP Dinas Peternakan dan
Perikanan antara lain :
1. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah;
2. Peraturan Presiden Nomor 29 tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(SAKIP);
3. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun
2014 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Penetapan Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu
atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah;
4. Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 4 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RP JMD) Kabupaten Boyollai Tahun 2010-2015;
5. Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 10 Tahun 2014 tentang Anggaran dan Pendapatan dan
Belanja Kabupaten Boyolali Tahun Anggaran 2015;
6. Peraturan Bupati Boyolali Nomor 58 Tahun 2014 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja
7. Surat Perintah Pj. Setda Kabupaen Boyolali tentang Penyusunan Dokumen Kinerja tahun 2016 No. 050/
00025/ 08/ 2016 tanggal 6 Januari 2016.
B. Gambaran Organisasi
Gambaran umum Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali dapat dilihat dari aspek
kelembagaan, tugas pokok dan fungsi serta aspek strategis organisasi.
1. Kedudukan, Tugas dan Fungsi
Sedangkan tugas dan fungsi Dinas Peternakan dan Perikanan (sesuai Peraturan Bupati Nomor 41
Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Nomor 16 Tahun 2011 tentang Penjabaran Tugas
Pokok Dinas Peternakan dan Perikanan adalah melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan
asas otonomi dan tugas pemantuan di Bidang Peternakan dan Perikanan.
Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, Dinas Peternakan dan Perikanan mempunyai fungsi :
1. Perumusan kebijakan teknis di bidang peternakan dan perikanan;
2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum dibidang peternakan dan perikanan
meliputi penyediaan sarana prasarana, pengembangan kelembagaan, produksi pengolahan dan
pemasaran peternakan dan perikanan serta perlindungan hewan;
3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas bidang peternakan dan perikanan meliputi penyediaan sarana
prasarana peternakan dan perikanan serta perlindungan hewan;
4. Pengelolaan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD); dan
5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.
2. Strutkur Organisasi
Organisasi Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali dibentuk berdasar Peraturan
Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 16 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah
Kabupaten Boyolali. Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali terdiri dari :
1. Kepala;
2. Sekretariat;
3. Bidang Peternakan;
4. Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner;
5. Bidang Perikanan;
6. UPTD.
Dengan penjabaran sebagai berikut :
a. Sekretariat terdiri dari :
- Subbagian Umum dan Kepegawaian - Subbagian Keuangan
- Subbagian Perencanaan dan Pelaporan b. Bidang Peternakan terdiri dari :
c. Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner terdiri dari :
- Seksi Pengamatan Penyelidikan Penyakit dan Pengawasan Obat Hewan - Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan
- Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner d. Bidang Perikanan terdiri dari :
- Seksi Produksi Perikanan
- Seksi Pengendalian Sumber Daya Ikan dan Lingkungan - Seksi Sarpras dan Pasca panen Hasil ikan
e. Unit Pelaksanaan Teknis Dinas (sebanyak 7 UPTD) terdiri dari :
- UPTD RPH Ampel - UPTD BBI Tlatar Bangak
- UPTD Puskeswan Boyolali, Ampel, Banyudono, Simo dan Wonosegoro.
3. Aspek Strategis dan Permasalahan Utama Organisasi
Aspek-aspek strategis Dinas Peternakan dan Perikanan diperoleh dengan mengakomodasi isu
organisasi (Dinas Peternakan dan Perikanan), permasalahan dan atau arah kebijakan dan program RPJMD
Kabupaten 2011-2015, dan isu utama kementerian terkait dengan tugas dan fungsi Dinas Peternakan dan
Perikanan, adalah :
1. Meningkatkan jaminan ketersediaan benih dan bibit ternak yang berkualitas secara berkelanjutan dengan
bertumpu pada potensi lokal;
2. Meningkatkan populasi dan produktivitas ternak ruminansia dan ternak non ruminansia;
3. Meningkatkan dan atau mempertahankan status kesehatan hewan;
4. Meningkatkan jaminan keamanan produk;
Dalam pelaksanaan pembangunan perikanan, tujuan utama antara lain :
1. Memperkuat kelembagaan dan sumber daya manusia secara terintegrasi
2. Mengelola sumber daya perikanan secara berkelanjutan;
3. Meningkatkan produktivitas dan daya saing berbasis pengetahuan;
4. Memperluas akses pasar domestik produk perikanan dan hasil olahannya
Ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh Dinas Peternakan dan Perikanan dalam
menjalankan tugas pokok dan fungsinya yang secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Keterbatasan sarana prasarana penunjang;
2. Keterbatasan akses informasi pasar;
3. Terbatasnya dukungan infrastruktur daerah;
4. Fluktuasi harga sarana prasarana pendukung dan harga produk;
5. Keterbatasan peran lembaga keuangan dalam pembiayaan;
BAB II
PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA
A. Rencana Stratetis Organisasi
Visi dan misi Dinas Peternakan dan Perikanan sebagaimana tercantum dalam dokumen Rencana
Strategis Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali 2011-2015 sebagai berikut :
a. Visi
Gambaran arah pembangunan atau kondisi masa depan yang ingin dicapai Dinas Peternakan dan
Perikanan Kabupaten Boyolali melalui penyelenggaraan tugas dan fungsi dalam kurun waktu 5 tahun
(2011-2015) yang akan datang sebagaimana tersebut dalam dokumen Rencana Strategis Dinas Peternakan dan Perikanan adalah “Terwujudnya kemandirian agribisnis peternakan dan perikanan”. Kondisi tersebut ditandai dengan perkembangan masyarakat peternakan dan perikanan pada kurun
waktu 5 tahun terakhir (2011-2015) dengan meningkatnya produksi dan produktivitas peternakan dan
perikanan, meningkatnya sarana pendukung produksi peternakan dan perikanan, meningkatnya sarana
pendukung produksi peternakan dari perikanan, meningkatnya jaminan mutu produk peternakan dan
perikanan dan meningkatnya kelembagaan kelompok peternakan dan perikanan.
b. Misi
Upaya-upaya yang akan dilaksanakan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali,
termasuk Bagian Organisasi dan Kepegawaian untuk mewujudkan visi organisasi, adalah :
1. Memperkuat fasilitasi sarana prasarana dan kelembagaan agribisbis peterakan dan perikanan;
2. Meningkatkan produksi dan produktivitas usaha peternakan dan perikanan;
3. Meningkatkan usaha pengolahan dan pemasaran hasil produksi peternakan dan perikanan;
4. Meningkatkan perlindungan kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner.
Perencanaan strategis merupakan perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. Rencana Strategis Dinas
Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali sebagaimana tertuang dalam dokumen Rencana Strategis
Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali Tahun 2011-2015 mempunyai sasaran strategis,
sebagai berikut :
1. Pengembangan kawasan peruntukan peternakan dilakukan dengan :
- Mengatur dan mengendalikan perkembangan kawasan peternakan dengan kawasan pemukiman; - Mengembangkan teknologi tepat guna;
- Mengembangkan prasarana dan sarana pendukung;
- Melakukan usaha kemitraan dengan pengembangan peternakan; - Serta mengembangkan breeding center.
2. Pengembangan kawasan peruntukan perikanan dilakukan dengan :
- Mengembangkan perikanan budidaya air tawar - Mengembangkan minapolitan
- Mengoptimalkan produktivitas kawasan peruntukan perikanan - Mengembangkan perikanan ramah lingkungan
Sasaran strategis-sasaran strategis tersebut memiliki 25 indikator kinerja dengan target kinerja setiap
tahun selama 5 tahun perencanaan 2011-2015 secara lengkap sebagaimana terlampir. Seluruh indikator
kinerja dalam dokumen Rencana Strategis Dinas Peternakan dan Perikanan merupakan Indikator Kinerja
Utama (Key Performance Indicator, yaitu ukuran keberhasilan dari suatu tujuan dan sasaran strategis
organisasi. Indikator dalam dokumen IKU berlaku 5 tahunan menyesuaikan dokumen renstra SKPD dan
RPJMD dan digunakan sebagai acuan SKPD.
B. Perjanjian Kinerja
Semua sasaran strategis dengan indikator capainya dijabarkan lebih lanjut ke dalam sejumlah
program. Di dalam setiap program terkumpul sejumlah kegiatan yang memiliki kesamaan perspektif dikaitkan
dengan maksud, tujuan dan karakteristik program. Penetapan program diperlukan untuk memberikan focus
pada penyusunan kegiatan dan pengalokasian sumber daya organisasi. Dengan demikian kegiatan
merupakan penjabaran lebih lanjut dari program. Rencana Kinerja Tahun 2015 Dinas Peternakan dan
Perikanan Kabupaten Boyolali, disusun mengacu pada Rencana Strategis (Renstra) Dinas Peternakan dan
Perikanan Kabupaten Boyolali 2011-2015 dengan mengambil target tahun 2015.
Tabel 2.1 Perjanjian Kinerja Dinas Peternakan dan Perikanan Tahun 2015
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
1 2 3 4
1 Meningkatnya pengelolaan keuangan
daerah yang akuntabel
Intensifikasi retribusi daerah (PAD) 100%
2 Meningkatnya jumlah produksi dan
produktivitas peternakan dan perikanan
serta diversivikasi bahan pangan
Persentase kawasan perikanan
budidaya yang sehat
70%
Meningkatnya produksi ikan :
Produksi budidaya 7.050 ton
Produksi tangkap 1,094 ton
Terpenuhinya kebutuhan benih ikan 50%
Produksi benih ikan : 32,258,724 ek
Meningkatnya kelompok pembudidaya
ikan
13 kelp
Menurunnya angka kesakitan ternak
(Morbiditas)
Ternak besar < 3%
Ternak kecil < 5%
Unggas < 15%
Menurunnya angka kematian ternak
(Mortalitas)
Ternak besar < 0,8%
Ternak kecil < 1,2%
Meningkatnya populasi ternak
Sapi potong 90,691 ek
Sapi perah 64,830 ek
Kambing dan domba 171,700 ek
Ayam buras 1,249,725 ek
Ayam pedaging 312,181 ek
Ayam petelur 728,423 ek
Itik 133,926 ek
Meningkatnya :
Mempertahankan rata-rata produksi
susu sapi perah
36,421,140 ltr
Jumlah produksi daging 8,926,317 kg
Jumlah produksi telur 10,242,169 kg
(Sumber : Tapkin Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali Tahun 2015)
Untuk mencapai/mewujudkan target kinerja yang telah ditetapkan tersebut., Dinas Peternakan dan
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
Akuntabilitas kinerja Dinas Peternakan dan Perikanan merupakan perwujudan kewajiban Dinas
Peternakan dan Perikanan untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegiatan pelaksanaan tugas
pokok dan fungsinya dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Kinerja Dinas Peternakan dan
Perikanan Tahun 2015 tergambar dalam tingkat pencapaian sasaran yang dilaksanakan sasaran yang
dilaksanakan melalui berbagai kegiatan sesuai dengan program dan kebijakan yang ditetapkan.
A. Capaian Kinerja Organisasi
Mengukur kinerja adalah menghitung kuantitas/kualitas keluaran (output) dan atau hasil (outcome) kegiatan/program yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya. Indikator keluaran (output) dan atau hasil (outcome) yang diukur berdasar indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam dokumen Penetapan Kinerja. Sesuai ketentuan, Indikator Kinerja SKPD minimal meliputi keluaran (output), sehingga pengukuran kinerja Dinas Peternakan dan Perikanan dapat berupa keluaran (output) dan hasil (outcome) sesuai dokumen Penetapan Kinerja Dinas Peternakan dan Perikanan Tahun 2015.
a. Keluaran (Output) adalah segala sesuatu berupa produk/jasa (fisik dan/atau non fisik) sebagai hasil langsung dari pelaksanaan suatu kegiatan dan program berdasarkan masukan (input) yang digunakan.
b. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran (output) kegiatan. Hasil (outcome) merupakan ukuran seberapa jauh setiap produk/jasa dapat memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat.
Pengukuran pencapaian kinerja dilakukan dengan cara membandingkan antara realisasi kinerja
dengan target kinerja pada dokumen Penetapan Kinerja. Pada tahun anggaran (APBD Kabupaten) 2015,
Dinas Peternakan dan Perikanan telah melaksanakan berbagai kegiatan strategis untuk mencapai
sasaran-sasaran yang telah ditetapkan sebanyak 3 sasaran strategis. Penilaian capaian kinerja
menggunakan rumus :
1. Apabila semakin tinggi realisasi akan menunjukkan semakin tingginya kinerja atau semakin rendah
realisasi akan menunjukkan semakin rendahnya kinerja menggunakan rumus :
Capaian Indikator Kinerja =Realisasi Rencanax 100%
2. Apabila semakin tinggi realisasi akan menunjukkan semakin rendahnya kinerja atau semakin rendah
realisasi akan menunjukkan semakin tingginya kinerja menggunakan rumus :
Capaian Indikator Kinerja = Rencana−(Realisasi−Rencana)
Rencana x 100%
Simpulan hasil pengukuran dibagi menjadi 4 (empat) skala pengukuran dengan kategori sebagai
berikut :
a. Lebih dari 100% = Sangat Baik (A)
b. 76% sampai 100% = Baik (B)
c. 56% sampai 75% = Cukup (C)
Capaian kinerja Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali sesuai dengan pengukuran
kinerja Tahun 2015 disajikan dengan membandingkan antara target dan realisasi kinerja tahun ini, antara
realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir, dan
realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan target jangka menengah. Sedangkan evaluasi capaian
dan akuntabilitas kinerja meliputi analisis penyebab keberhasilan/ kegagalan, analisis efisiensi
penggunaan sumber daya, dan analisis program/ kegiatan yang menunjang keberhasilan/ kegagalan
diuraikan guna memberikan gambaran efektivitas dan efisiensi pencapaian target kinerja.
A. Sasaran 1 : Meningkatnya pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel
Tabel 3.1 Pencapaian Kinerja Sasaran 1
Indikator kinerja Sat
Capaian kinerja meliputi 1 (satu) indikator kinerja dengan capaian kinerja sebesar 67% (CUKUP). Berikut
analisis capaian kinerja dari sasaran 1 :
1. Intensifikasi retribusi daerah
- Keberhasilan capaian indikator kinerja ini, telah terlaksananya penarikan retribusi sebanyak 1 paket. Akan tetapi pada jumlah ketentuan target pendapatan asli daerah (PAD) Dinas
Peternakan dan Perikanan tahun 2015 perubahan Rp. 951.692.000,00 (hasil rapat RKAP Dinas
Peternakan dan Perikanan dengan DPRD Kabupaten Boyolali) sampai dengan akhir tahun 2015
terealisasi Rp. 634.880.500,00 (67%) atau belum tercapai 33% (Rp. 316.811.500,00);
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah dengan memaksimalkan kapasitas UPTD BBI Tlatar-Bangak dan UPTD RPH Ampel. Pada efisiensi kegiatan selanjutnya dapat
dilaksanakan dengan menggali sumber pendapatan daerah (Sektor peternakan/ perikanan) yang
potensial, seperti jasa kontrol lalulintas ternak, jasa perparkiran pasar ternak, dll.
- Target indikator RKPD tahun 2015 yaitu 1 paket kegiatan penarikan dalam 1 tahun tercapai 1 paket atau 100%. Program/ kegiatan secara umum telah sesuai dengan Tapkin, RKPD/ Rentra
Dinas Peternakan dan Perikanan Tahun 2015.
B. Sasaran 2 : Meningkatnya jumlah produksi dan produktivitas peternakan dan
perikanan serta diversifikasi bahan pangan
Tabel 3.2 Pencapaian Kinerja Sasaran 2
4.Terpenuhinya
Capaian kinerja meliputi 23 (dua puluh tiga) indikator dengan capaian kinerja secara keseluruhan
(dua) indikator kategori baik (76-100%) dan 1 (satu) indikator kategori cukup (71%). Berikut analisis
capaian kinerja dari sasaran 2 untuk setiap indikator sebagai berikut :
1. Persentase kawasan perikanan budidaya yang sehat
- Keberhasilan capaian indikator kinerja ini karena target 70% kawasan hanya tercapai 75% kawasan atau capaian kinerja 107%. Hal ini terbukti dengan adanya peningatan kelembagaan
dan kemampuan produktivitas kelompok pembudidaya. Faktor pendukung adalah efisiensi
penggunaan anggaran kegiatan kajian kawasan budidaya laut, air payau dan air tawar sebesar
78% untuk kegiatan survei desain/ EO program/ kegiatan pusat (DAK Kemen KP RI Tahun
2014).
- Efisiensi penggunaan sumberdaya yang dilakukan adalah penggunaa 78% anggaran tercapai indikator kinerja 107%. SDM yang mendukung indikator kinerja ini adalah SDM Penyuluh
Kecamatan dan SDM di Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan;
- Program/ kegiatan secara umum telah sesuai dengan Tapkin, RKPD/ Rentra Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan tahun 2015 dan pelaksanaan 107% dan efisiensi anggaran sebesar
22%.
2. Meningkatnya produksi ikan budidaya
- Keberhasilan capaian indikator kinerja ini adalah tercapainya indikator kinerja sebesar 457% (Surplus). Hal ini terbukti telah diproduksi ikan lele konsumsi, nila dan carper sebanyak 32.014
ton di Wilayah Kab. Boyolali;
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 96% anggaran pendampingan kelompok pembudidaya ikan dengan efisiensi anggaran 4%, 98% kegiatan
pembinaan dan pengembangan perikanan dengan efisiensi anggaran 2% dan 99% kegiatan
kajian optimalisasi pengelolaan dan pemasaran produksi perikanan dengan efisiensi anggaran
1%.
- Target produksi budidaya 7.050 ton tercapai 32.014 ton (+ 88 ton per hari) atau capaian kinerja 457%. Program/ kegiatan secara umum telah sesuai dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra
Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan tahun 2015.
3. Meningkatnya produksi ikan tangkap
- Keberhasilan capaian indikator kinerja ini adalah tercapainya indikator kinerja sebesar 150% (realisasi 1.641 ton). Akan tetapi produktivitas ikan tangkapan mengalami kecenderungan turun
baik dibandingkan tahun 2011 sebanyak 2.170 ton dan tahun 2012 sebanyak 1.845 ton,
mengalami peningkatan produksi tangkapan dibandingkan tahun tahun 2013 sebanyak 1.586 ton
dan tahun 2014 sebanyak 1.560 ton. Estimasi 10 tahun mendatang produktivitas ikan tangkapan
bisa diestimasikan pada angka 250-350 ton per tahun dan dampak lebih lanjut petani penangkap
ikan akan banyak menganggur karena pekerjaan utamanya tidak maksimal, maka hal yang
dapat dilakukan Dinas adalah pemulihan daya dukung fisik waduk/ sungai, dengan rehabilitasi
luasan dan kedalaman waduk/ sungai serta pelestarian kapasitas air waduk/ sungai. Hal ini
dimaksudkan untuk mengembalikan plasma nutfah yang ada di Waduk ataupun di Sungai
tersebut dan turunnya produksi pada tahun depan dapat diantisipasi.
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 96% anggaran pendampingan kelompok pembudidaya ikan dengan efisiensi anggaran 4%, 98% kegiatan
kajian optimalisasi pengelolaan dan pemasaran produksi perikanan dengan efisiensi anggaran
1%.
- Target produksi tangkap 1.094 ton tercapai 1.641 ton (4,5 ton per hari) atau capaian kinerja 150%. Program/ kegiatan secara umum telah sesuai dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra Dinas
Peternakan dan Perikanan tahun 2015.
4. Terpenuhinya kebutuhan benih ikan.
- Keberhasilan capaian indikator kinerja ini (200%) dikarenakan UPTD BBI Tlatar-Bangak dan seluruh UPR Wil. Kab. Boyolali mampu memenuhi kebutuhan benih (ikan Lele, Nila, Carper, dll)
untuk masyarakat/ kelompok pembesaran, secara teknis dikarenakan UPR dan BBI memiliki
teknis budidaya yang memadai untuk membesarkan benih pada tingkat pemijahan, pembenihan
wala sampai ukuran 1-3 cm/ ekor menjadi ukuran 7-9 cm/ ekor.
- Efisiensi penggunaan sumber daya dilakukan adalah menggunakan 97% anggaran pengembangan bibit ikan unggul dengan efisiensi anggaran 3%, 96% anggaran pendampingan
kelompok pembudidaya ikan dengan efisiensi anggaran 4%, 98% kegiatan pembinaan dan
pengembangan perikanan dengan efisiensi anggaran 2% serta efisiensi teknis pembinaan
masyarakat/ kelompok pembenih di wilayah/ sentra pembenihan ikan Lele dll.
- Target produksi terpenuhinya kebutuhan benih ikan 50% tercapai 100% atau capaian kinerja 200%. Capaian indikator ini secara umum telah sesuai dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra Dinas
Peternakan dan Perikanan tahun 2015.
5. Produksi benih ikan
- Keberhasilan capaian indikator kinerja ini (380%/ surplus) dikarenakan UPTD BBI Tlatar-Bangak dan seluruh UPR Wil. Kab. Boyolali mampu memenuhi target/ melebihi target produksi benih
yang telah ditargetkan di Tapkin, Renstra dan RKPD Dinas Peternakan dan Perikanan tahun
2015 sebesar 32,30 juta ekor benih;
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 97% anggaran pengembangan bibit ikan unggul dengan efisiensi anggaran 3%, 96% anggaran pendampingan
kelompok pembudidaya ikan dengan efisiensi anggaran 4%, 98% kegiatan pembinaan dan
pengembangan perikanan dengan efisiensi anggaran 2% serta efisiensi pembinaan masyarakat/
kelompok pembenih di wilayah/ sentra pembenihan (ikan Lele).
- Target produksi benih ikan 32,30 juta ekor tercapai 122,66 juta ekor atau capaian kinerja 380% (surplus). Capaian indikator ini secara umum telah sesuai dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra
Dinas Peternakan dan perikanan tahun 2015.
6. Meningkatnya kelompok pembudidaya ikan
- Keberhasilan capaian indikator kinerja ini (123%) dikarenakan Dinas Peternakan dan Perikanan melalui petugas teknis lapangan berhasil menyakinkan masyarakat untuk menekuni budidaya
perikanan (kelompok pembenih, pembesaran dan pengolahan), hal ini terbukti dari target 13
kelompok tercapai 16 kelompok (3 kelompok pembudidaya dan 1 kelompok pengolahan).
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 99% anggaran kajian sistem penyuluhan perikanan dengan efisiensi 1% anggaran dan memaksimalkan kegiatan lain
- Target meningkatnya kelompok pembudidaya ikan sebanyak 13 kelompok tercapai 16 kelompok atau capaian kinerja 123%. Capaian indikator ini secara umum telah sesuai dengan Tapkin dan
RKPD/ Renstra Dinas Peternakan dan perikanan tahun 2015.
7. Meningkatnya konsumsi ikan
- Keberhasilan capaian indiator kinerja ini (110%) adalah keberhasilan gemar makan ikan atau memasyarakatkan konsumsi ikan dari kaca mata Tapkin/ Renstra Dinas peternakan dan
perikanan. Hal ini dibuktian tahun 2011 konsumsi ikan 12 kg/kapita, 2012 konsumsi ikan 11 kg/
kapita, 2013 konsumsi ikan 12,20 kg/kapita dan tahun 2014 konsumsi ikan 13 kg/ kapita. Akan
tetapi konsumsi ikan dianggap masih rendah dibandingkan dengan daerah Jawa Barat rata-rata
23-26 kg/ kapita (2015) dan dibandingkan negara Jiran sebesar 55-68 kg/ kapita, maka
Indonesia khususnya Kab. Boyolali yang merupakan salah satu sentra pembudidaya ikan harus
menggeliatkan kesadaran konsumsi ikan. Peningkatan tersebut bisa dilakukan degan intervensi
harga harus dikendalikansupaya harga ikan dapat kompetitif untuk standar konsumen Kab.
Boyolali.
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah melaksanakan kegiatan Gemarikan/ Harkannas di lokasi sekolah (tahun 2013-2014). Efisiensi anggaran pada penggunaan 99%
anggaran kegiatan kajian optimalisasi pengelolaan dan pemasaran produksi perikanan dengan
efisiensi 1% anggaran.
- Target konsumsi ikan 14 kg/ kapita tercapai 15,42 kg/ kapita atau capaian kinerja 110%. Capaian indikator ini secara umum telah sesuai dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra Dinas Peternakan
dan perikanan tahun 2015.
8. Menurutnya angka morbiditas ternak besar.
- Keberhasilan indikator kinerja ini (100%) dikarenakan mulai meningkatnya kesadaran peternak terhadap pemahaman penyakit ternak besar dan diagnosa awal penyakit ternak besar;
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 85% anggaran kegiatan pendataan masalah peternakan dengan efisiensi anggaran 15%, menggunakan 92%
anggaran kegiatan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular ternak dengan
efisiensi pengwasan perdagangan ternak dengan efisiensi 8%, menggunakan 99% anggaran
kegiatan pengawasan perdagangan ternak antar daerah dengan efisiensi 1%, serta efisiensi
teknis pembinaan masyarakat/ kelompok peternak di wilayah/ sentra ternak besar;
- Target menurunnya angka morbiditas ternak besar < 3% tercapai < 1,9% atau capaian kinerja 100%. Capaian indikator ini secara umum telah sesuai dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra Dinas
Peternakan dan perikanan tahun 2015.
9. Menurunnya angka morbiditas ternak kecil.
- Keberhasilan indikator kinerja ini (100%) dikarenakan kelompok peternak telah menyadari pentingnya biosekuriti maupun manajemen pemeliharaan sehingga menyebabkan kambing/
ternak kecil rentan terhadap penyakit dibandingkan dengan tahun lalu telah mengalami
peningkatan dan pencapaian 100% target kinerja.
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 85% anggaran kegiatan pendataan masalah peternakan dengan efisiensi anggaran 15%, menggunakan 92%
anggaran kegiatan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular ternak dengan
kegiatan pengawasan perdagangan ternak antar daerah dengan efisiensi 1% serta efisiensi
teknis pembinaan masyarakat/ kelompok peternak di wilayah/ sentra ternak kecil.
- Target menurunnya angka morbiditas ternak kecil < 5% tercapai < 0,16% atau capaian kinerja 100%. Capaian indikator 100% ini telah sesuai dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra Dinas
Peternakan dan Perikanan tahun 2015.
10. Menurunnya angka morbiditas ternak unggas
- Keberhasilan indikator kinerja ini (100%) dikarenakan higienis kandang unggas telah terjaga dan peternak lebih peduli akan kebersihan kandang.
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 85% anggaran kegiatan pendataan masalah peternakan dengan efisiensi anggaran 15%, menggunakan 92%
anggaran kegiatan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular ternak dengan
efisiensi pengwasan perdagangan ternak dengan efisiensi 8%, menggunakan 99% anggaran
kegiatan pengawasan perdagangan ternak antar daerah dengan efisiensi 1% serta efisiensi
teknis pembinaan masyarakat/ kelompok peternak di wilayah/ sentra peternak unggas.
- Target menurunnya angka morbiditas ternak unggas < 15% tercapai dengan < 0,036% atau capaian kinerja 100%. Capaian indikator 100% ini telah sesuai dengan Tapkin dan RKPD/
Renstra Dinas Peternakan dan Perikanan tahun 2015.
11. Menurunnya angka mortalitas ternak besar
- Keberhasilan indikator kinerja ini (100%) dikarenakan peternak telah memahami treatment pengobatan, maka mortalitas biasanya dapat ditekan;
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 85% anggaran kegiatan pendataan masalah peternakan dengan efisiensi anggaran 15%, menggunakan 92%
anggaran kegiatan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular ternak dengan
efisiensi pengwasan perdagangan ternak dengan efisiensi 8%, menggunakan 99% anggaran
kegiatan pengawasan perdagangan ternak antar daerah dengan efisiensi 1% serta efisiensi
teknis pembinaan masyarakat/ kelompok peternak di wilayah/ sentra ternak besar;
- Target menurunnya angka mortalitas ternak besar < 0,8% tercapai < 0,002% atau capaian kinerja 100%. Capaian indikator 100% ini telah sesuai dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra Dinas
Peternakan dan Perikanan tahun 2015.
12. Menurunnya angka mortalitas ternak kecil
- Keberhasilan indikator kinerja ini (100%) dikarenakan peternak telah memahami penanganan kambing/ domba disaat musim panca roba atau penghujan, manajemen kualitas pakan waktu
penghujan dll;
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 85% anggaran kegiatan pendataan masalah peternakan dengan efisiensi anggaran 15%, menggunakan 92%
anggaran kegiatan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular ternak dengan
efisiensi pengwasan perdagangan ternak dengan efisiensi 8%, menggunakan 99% anggaran
kegiatan pengawasan perdagangan ternak antar daerah dengan efisiensi 1% serta efisiensi
teknis pembinaan masyarakat/ kelompok peternak di wilayah/ sentra ternak kecil.
- Target menurunnya angka mortalitas ternak kecil < 1,2% tercapai < 0,007% atau capaian kinerja 100%. Capaian indikator 100% ini telah sesuai dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra Dinas
13. Menurunnya angka mortalitas ternak unggas
- Keberhasilan indikator kinerja ini (100%) dikarenakan telah musnahnya virus Flu burung dan meningkatnya cara beternak unggas yang baik dikalangan masyarakat;
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 85% anggaran kegiatan pendataan masalah peternakan dengan efisiensi anggaran 15%, menggunakan 92%
anggaran kegiatan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular ternak dengan
efisiensi pengwasan perdagangan ternak dengan efisiensi 8%, menggunakan 99% anggaran
kegiatan pengawasan perdagangan ternak antar daerah dengan efisiensi 1% serta efisiensi
teknis pembinaan masyarakat/ kelompok peternak di wilayah/ sentra ternak kecil.
- Target menurunnya angka mortalitas ternak kecil < 10% tercapai < 0,001% atau capaian kinerja 100%. Capaian indikator 100% ini telah sesuai dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra Dinas
Peternakan dan Perikanan tahun 2015.
14. Meningkatnya populasi ternak sapi potong
- Tidak tercapainya indikator kinerja ini (96%) hal ini disebabkan ternak keluar dan pemotongan di Kab. Boyolali lebih besar dari pada mutasi ternak masuk, belum lagi adanya beberapa investor
yang kecenderungan melirik usaha pembesaran sapi potong di Kab. Boyolali yang kemungkinan
tidak mempertimbangkan bufferstock sapi potong di Kab. Boyolali dari pada keuntungan usahanya dan kenyataan lain pada tahun 2013 telah dilaksanakan sensus ternak (ST13) yang
menyatakan bahwa ternak yang telah tercacah/ tercatat di BPS dengan di SKPD maupun
Kementerian Pertanian terdapat selisih atau bias data sebanyak 25%, sehingga tolak ukur awal
ternak pada tahun 2013, bukan pada tahun awal RPJMD/ Renstra (2011);
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 97% anggaran kegiatan pembangunan sarpras pembibitan ternak dengan efisiensi anggaran 3%, menggunakan
82% anggaran kegiatan pembibitan dan perawatan ternak dengan efisiensi anggaran 18%,
menggunakan 90% anggaran kegiatan penyuluhan dan kualitas gizi dan pakan ternak dengan
efisiensi anggaran sebanyak 10%, menggunakan 84% anggaran kegiatan pengembangan
agribisnis peternakan dengan efisiensi 16%, serta efisiensi teknis pembinaan masyarakat/
kelompok peternak di wilayah/ sentra sapi perah;
- Target meningkatnya populasi ternak sapi potong 90,69 ribu ekor tercapai 86,99 ribu ekor atau capaian kinerja 96%. Capaian indikator 96% ini belum sesuai dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra
Dinas Peternakan dan Perikanan tahun 2015.
15. Meningkatnya populasi ternak sapi perah.
- Tercapainya indikator kinerja ini (133%) hal ini disebabkan harga susu di Wil. Kab. Boyolali meningkat dibandingkan tahun lalu, adanya fakta pada kalangan masyarakat dengan adanya
harga susu yang potensial akan menjamin kehidupan sehari-hari peternak tersebut dan adanya
penguatan modal dari pemerintah melalui Disnakkan berupa bantuan ternak sapi perah dara dan
pakan sapi perah;
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 97% anggaran kegiatan pembangunan sarpras pembibitan ternak dengan efisiensi anggaran 3%, menggunakan
82% anggaran kegiatan pembibitan dan perawatan ternak dengan efisiensi anggaran 18%,
menggunakan 90% anggaran kegiatan penyuluhan dan kualitas gizi dan pakan ternak dengan
agribisnis peternakan dengan efisiensi 16, menggunakan 93% anggaran kegiatan
pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat dengan efisiensi 7% anggaran, serta efisiensi
teknis pembinaan masyarakat/ kelompok peternak di wilayah/ sentra sapi perah;
- Target meningkatnya populasi ternak sapi perah 64,83 ribu ekor tercapai 86,36 ribu ekor atau capaian kinerja 133%. Capaian indikator 133% ini sesuai dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra
Dinas Peternakan dan Perikanan tahun 2015.
16. Meningkatnya populasi ternak kambing dan domba.
- Tidak tercapainya indikator kinerja ini (80%) hal ini diduga disebabkan mutasi ternak keluar wilayah Kab. Boyolali lebih besar dari pada ternak masuk ke dalam Wil. Kab. Boyolali dan
ditambah lagi pemotongan kambing/ domba pada waktu hari raya kurban karena harga jual yang
tinggi dan belum diimbangi dengan mutasi ternak masuk ke Kab. Boyolali;
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 97% anggaran kegiatan pembangunan sarpras pembibitan ternak dengan efisiensi anggaran 3%, menggunakan
82% anggaran kegiatan pembibitan dan perawatan ternak dengan efisiensi anggaran 18%,
menggunakan 90% anggaran kegiatan penyuluhan dan kualitas gizi dan pakan ternak dengan
efisiensi anggaran sebanyak 10%, menggunakan 84% anggaran kegiatan pengembangan
agribisnis peternakan dengan efisiensi 16, menggunakan 93% anggaran kegiatan
pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat dengan efisiensi 7% anggaran serta efisiensi
teknis pembinaan masyarakat/ kelompok peternak di wilayah/ sentra ternak kambing/ domba;
- Target meningkatnya populasi ternak kambing/ domba 171,70 ribu ekor tercapai 136,69 ribu ekor atau capaian kinerja 80%. Capaian indikator 80% ini belum sesuai dengan Tapkin dan RKPD/
Renstra Dinas Peternakan dan Perikanan tahun 2015.
17. Meningkatnya populasi ternak ayam buras.
- Tidak tercapainya indikator kinerja ini (71%) hal ini diduga karena dilema traumatis masyarakat akan dampak kasus flu burung pada tahun 2011/ 2012, yang menyebabkan masyarakat lebih
memiih jenis unggas lain yang lebih aman, sehingga pada tahun 2013 jumlah ternak ayam buras
tercatat 417,59 ribu ekor, tahun 2014 sebanyak 839,58 ekor dan meningkat lagi pada tahun 2015
sebanyak 887,71 ribu ekor. Hal ini membuktikan masyarakat mulai menggeluti lagi beternak
ayam buras disamping harga pasarnya yang cukup menjanjikan keuntungan sebagai usaha
sampingan beternak lainnya.
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 97% anggaran kegiatan pembangunan sarpras pembibitan ternak dengan efisiensi anggaran 3%, menggunakan
82% anggaran kegiatan pembibitan dan perawatan ternak dengan efisiensi anggaran 18%,
menggunakan 90% anggaran kegiatan penyuluhan dan kualitas gizi dan pakan ternak dengan
efisiensi anggaran sebanyak 10%, menggunakan 84% anggaran kegiatan pengembangan
agribisnis peternakan dengan efisiensi 16, menggunakan 93% anggaran kegiatan
pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat dengan efisiensi 7% anggaran serta efisiensi
teknis pembinaan masyarakat/ kelompok peternak di wilayah/ sentra ternak ayam buras;
- Target meningkatnya populasi ternak ayam buras 1.248,73 ribu ekor tercapai 887,71 ribu ekor atau capaian kinerja 718%. Capaian indikator 71% ini belum sesuai dengan Tapkin dan RKPD/
18. Meningkatnya populasi ternak ayam pedaging.
- Kebersihan indikator kinerja ini (1.118%/ surplus dari target RPJMD) hal ini disebabkan sebagian besar peternak ayam buras beralih ke ayam pedaging walaupun telah ada data yang aktual
menunjukan peminatan lagi pada pemeliharaan ayam buras. Ayam pedaging masih tetap jadi
primadona unggas, dikarenakan kelebihan ayam pedaging yaitu tidak memerlukan tempat usaha
yang luas (kandang komunal), waktu yang relatif singkat (40-45 hari) dan harga jual yang stabil
serta menguntungkan dibandingkan dengan biaya produksinya;
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 97% anggaran kegiatan pembangunan sarpras pembibitan ternak dengan efisiensi anggaran 3%, menggunakan
82% anggaran kegiatan pembibitan dan perawatan ternak dengan efisiensi anggaran 18%,
menggunakan 90% anggaran kegiatan penyuluhan dan kualitas gizi dan pakan ternak dengan
efisiensi anggaran sebanyak 10%, menggunakan 84% anggaran kegiatan pengembangan
agribisnis peternakan dengan efisiensi 16, menggunakan 93% anggaran kegiatan
pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat dengan efisiensi 7% anggaran serta efisiensi
teknis pembinaan masyarakat/ kelompok peternak di wilayah/ sentra ternak ayam pedaging;
- Target meningkatkan populasi ternak ayam pedaging 312,18 ribu ekor tercapai 3.488,94 ribu ekor atau tercapai kinerja 1.118%. Capaian indikator 1.118% ini bisa dikatakan surplus jika
dibandingkan dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra Dinas Peternakan dan Perikanan tahun 2015.
Jumlah fantantis ini dikarenakan adanya 2 perusahaan besar (ayam potong) yang
beroperasional di tahun 2015, dengan omzet target minimal 2,2-2,4 juta ekor per tahun. Jadi
sangat dimungkinkan bilamana tahun 2015 jumlah ayam pedaging meningkat 2,2 juta ekor
dibandingkan dengan jumlah tahun 2014 tercatatnsebanyak 1, 294,58 ribu ekor.
19. Meningkatnya populasi ternak ayam petelur.
- Tercapainya indikator kinerja ini (257%) diduga disebabkan harga jual per kilogram telur yang selalu meningkat terbukti tahun 2011 Rp. 13.450, tahun 2012 Rp. 14.500, tahun 2013 Rp. 16.500, tahun 2014 Rp. 16.750 – 17.400 dan tahun 2015 pada bulan Januari Rp. 21.000, serta akhir tahun 2015 berkisar Rp. 17.000-18.500 per kilogramnya. Kelayakan usaha telur tersebut
prospektif dan untuk ayam afkir yang tidak produktif masih memiliki nilai ekonomis karena masih
laku dijual dengan harga yang tinggi (hamper setara dengan ayam buras). Sehingga masyarakat
antusias untuk usaha ayam petelur ini;
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 97% anggaran kegiatan pembangunan sarpras pembibitan ternak dengan efisiensi anggaran 3%, menggunakan
82% anggaran kegiatan pembibitan dan perawatan ternak dengan efisiensi anggaran 18%,
menggunakan 90% anggaran kegiatan penyuluhan dan kualitas gizi dan pakan ternak dengan
efisiensi anggaran sebanyak 10%, menggunakan 84% anggaran kegiatan pengembangan
agribisnis peternakan dengan efisiensi 16, menggunakan 93% anggaran kegiatan
pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat dengan efisiensi 7% anggaran serta efisiensi
teknis pembinaan masyarakat/ kelompok peternak di wilayah/ sentra ternak ayam petelur;
- Target meningkatnya populasi ternak ayam buras 728,42 ribu ekor tercapai 1.872,92 ribu ekor atau capaian kinerja 257%. Capaian indikator 257% ini sesuai dengan Tapkin dan RKPD/
20. Meningkatnya populasi ternak itik.
- Tercapainya indikator kinerja ini (128%) hal ini diduga karena itik sebagai ternak subtitusi ternak dari ayam buras dengan kelebihan tahan penyakit dan permintaan pasar yang mulai meningkat
pada tahun 2013, tahun 2014 dan sampai pertengahan tahun 2015;
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 97% anggaran kegiatan pembangunan sarpras pembibitan ternak dengan efisiensi anggaran 3%, menggunakan
82% anggaran kegiatan pembibitan dan perawatan ternak dengan efisiensi anggaran 18%,
menggunakan 90% anggaran kegiatan penyuluhan dan kualitas gizi dan pakan ternak dengan
efisiensi anggaran sebanyak 10%, menggunakan 84% anggaran kegiatan pengembangan
agribisnis peternakan dengan efisiensi 16, menggunakan 93% anggaran kegiatan
pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat dengan efisiensi 7% anggaran serta efisiensi
teknis pembinaan masyarakat/ kelompok peternak di wilayah/ sentra peternak itik;
- Target meningkatnya populasi ternak itik 133,93 ribu ekor tercapai 172,06 ribu ekor atau capaian kinerja 128%. Capaian indikator 128% ini sesuai dengan Tapkin dan RKPD/ Renstra Dinas
Peternakan dan Perikanan tahun 2015.
21. Mempertahankan rata-rata produksi susu sapi perah.
- Tercapainya indikator kinerja ini (125%) atau realisasi 45,5 juta liter. hal ini dikarenakan oleh faktor utama yaitu :
a. Jaminan kehidupan keseharian masyarakat peternak sapi perah karena harga jual susu
yang cukup menguntungkan dan dapat disisihkan untuk kebutuhan lain (tabungan).
b. Dominansi kebijakan pemerintah Kab. Boyolali akan fokus memulihkan icon Kab. Boyolali
sebagai Kota Susu.
c. Penguatan modal pemerintah berupa bantuan pakan.
d. Iklim usaha susu yang cukup kompetitif.
- Juga faktor pendukung yaitu :
a. Ternak sapi perah lebih menjanjikan keuntungan harian dari pada beternak sapi potong.
b. Akses permodalan (KUPS).
c. Kesadaran masyarakat peternak akan kualitas pakan yang mempengaruhi produktivitas
susu sapi perah, dan jika hal ini dilakukan maka keuntungan akan lebih meningkat.
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 91% anggaran pada program pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak dengan efisiensi anggaran 8%
anggaran dan menggunakan 95% anggaran program peningkatan produksi hasil peternakan
dengan efisiensi 5% anggaran, efisiensi teknis pembinaan masyarakat peternak sapi perah serta
adanya 2 UPTD Puskeswan yang terletak di 6 Kec. Strategis peternakan sapi perah tersebut;
- Target produksi susu sapi perah 36,4 juta liter tercapai 45,5 juta liter atau capaian kinerja 125%. Capaian indikator 125% ini sesuai dan melebihi target Tapkin dan RKPD/ Renstra Dinas
Peternakan dan Perikanan tahun 2015.
22. Meningkatnya jumlah produksi daging.
- Tercapainya indikator kinerja ini (108%) atau realisasi 9,63 juta kg. Jumlah produksi daging tersebut diperoleh dari produksi daging sapi potong, domba, kambing, kelinci, ayam pedaging,
- Efisiensi penggunaan sumberdaya yang dilakukan adalah menggunakan 91% anggaran pada program pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak dengan efisiensi anggaran 8%
anggaran dan menggunakan 95% anggaran program peningkatan produksi hasil peternakan
dengan efisiensi 5% anggaran, efisiensi teknis pembinaan masyarakat sumber produsen daging
hewani dari 5 UPTD Puskeswan.
- Target produksi daging 8,9 juta kg tercapai 9,63 juta kg atau capaian kinerja 108%. Capaian indikator 108% ini sesuai dan melebihi target Tapkin dan RKPD/ Renstra Dinas Peternakan dan
Perikanan tahun 2015. Produksi daging tahun 2015 menurun daripada tahun 2014 dikarenakan
lebih dari 30-50% produksi daging di Kab. Boyolali di kirim keluar wilayah, terbukti pada populasi
ternak ayam potong dengan populasi 3.488 ribu ekor, hanya 1,200 ribu ekor yang dinikmati oleh
masyarakat Kab. Boyolali dan selebihnya dikirim keluar untuk alasan usaha dan keuntungan
bisnis ayam potong. Fenomena ini juga berlaku untuk daging sapi potong, itik, kelinci dan aneka
ternak lainnya.
23. Meningkatnya jumlah produksi telur
- Tercapainya indikator kinerja ini (229%) diduga karena meningkatnya populasi ternak ayam buras sebanyak 48 ribu ekor dari tahun 2014 sebanyak 839 ribu ekor dan tahun 2015 sebanyak
887 ribu ekor, jumlah ayam petelur tahun 2015 sebanyak 1.872 ribu ekor atau meningkat 847
ribu ekor dari tahun 2014 yang sebanyak 1.025 ribu ekor. Maka dari itu produksi telur tahun 2015
meningkat 11,18 juta kg dari tahun 2014. Faktor lain pemicu produktivitas telur adalah harga jual
telur cenderung meningkat dan stabil selama tahun 2015 yang berkisar antara Rp.
17.500-18.500 per kg di lokasi produksi telur;
- Efisiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah menggunakan 91% anggaran pada program pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak dengan efisiensi anggaran 8%
anggaran dan menggunakan 95% anggaran program peningkatan produksi hasil peternakan
dengan efisiensi 5% anggaran serta efisiensi teknis pembinaan masyarakat produsen telur
(ayam petelur, buras, itik dan burung puyuh) oleh 5 UPTD Puskeswan;
- Target produksi daging 10,24 juta kg tercapai 23,48 juta kg atau capaian kinerja 229%. Capaian indikator 229% ini sesuai dan melebihi target Tapkin dan RKPD/ Renstra Dinas Peternakan dan
Perikanan tahun 2015.
Berdasar uraian tersebut diatas, dapat disajikan tingkat capaian kinerja per sasaran :
Tabel 3.3 Capaian Kinerja per Sasaran
No. Sasaran
Capaian Kinerja 2015
(%)
Tingkat Keberhasilan
1. Meningkatnya pengelolaa keuangan daerah yang akuntabel 67 Cukup 2. Meningkatnya jumlah produksi dan produktivitas peternakan dan
perikanan serta diversifikasi bahan pangan
194 Sangat Baik
Sedangkan tingkat capaian kinerja per Bagian sebagai berikut :
Tabel 3.4 Capaian Kinerja per Bagian
No Sasaran
2. Bidang Peternakan 269 Sangat Baik
3. Bidang Keswanvet 100 Baik
4. Bidang Perikanan 218 Sangat Baik
5. Bidang Peternakan dan Keswanvet 154 Sangat Baik
Sumber : Analisis Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, 2015.
B. Realisasi Anggaran
Alokasi dan realisasi anggaran Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali pada tahun 2015
sebagaimana tabel di bawah ini. Data tabel tersebut, pembiayaan dari APBD Kabupaten Boyolali Tahun
2015 berjumlah Rp. 8.114.197.000,00 terealisasi Rp. 7.811.464.730,00 dengan serapan anggaran
sebesar 96% atau efisiensi sebesar 4% dan pembiayaan dari APBN Kementerian terkait Tahun 2015
berjumlah Rp. 6.769.420.000,00 terealisasi Rp. 6.286.992.349,00 dengan serapan anggaran sebesar 93%
atau efisiensi sebesar 7%. Besar pembiayaan tahun 2015 mengalami penurunan sebesar Rp.
3.557.841.000,00 dari tahun 2014 (Rp. 11.672.038.000,00).
Tabel 3.5 Alokasi dan ealisasi Anggaran
No Sasaran
Strategis Program/ Keg.
Anggaran
(Rp) Realisasi (Rp) % Koordinator
1 2 3 4 5 6 7
A APBD Kabupaten Boyolali 1 Meningkatnya
23.115.000 22.831.000 98 Sekretariat
2 Meningkatnya
3.753.321.292 3.686.406.560 98 Bid. Perikanan
perikanan
perikanan serta diversifikasi bahan pangan
Peningkatan prod. Ternak, dll
5.913.990.000 5.461.913.459 92 Bid. Keswanvet C APBN KKP RI (TP)
4 Meningkatnya jumlah produksi dan produktivitas peternakan dan perikanan serta diversifikasi bahan pangan
Pengelolaan
sumberdaya perikanan budidaya
Pengelolaan kesling pembudidayaan ikan, dll
855.430.000 825.078.890 96 Bid. Perikanan
Sumber : Analisis Laporan Realisasi Anggaran dan Capaian Fisik Belanja Langsung Subag Renlap
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Pada tahun 2015, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali Dari 2 (dua) sasaran dengan
24 (dua puluh empat) indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam Penatapan Kinerja Perubahan (Perjanjian
Kinerja) Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali Tahun 2015, menunjukkan tingkat keberhasilan
capaian kinerja sebagai berikut :
1) Capaian lebih dari 100% (sangat baik) : 20 (dua puluh) indikator (84%)
2) Capaian 76% sampai 100% (Baik) : 2 (dua) indikator (8%)
3) Capaian 56% sampai 75% (Cukup) : 2 (dua) indikator (8%)
Secara keseluruhan capaian kinerja 131% (kategori Sangat Baik) dan mengalami peningkatan
dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014 (111%) dan tahun 2013 (117%) dan penurunan kinerja
dibandingkan dengan tahun 2011 (156%) dan tahun 2012 (141%).
Pembiayaan program/ kegiatan dari APBD Kabupaten Boyolali Tahun 2015 Rp. 8.114.197.000,00
terealisasi Rp. 7.811.464.730,00 dengan serapan anggaran sebesar 96% atau efisiensi anggaran sebesar 4%.
B. Saran
Guna mempertahankan dan atau meningkatkan capaian kinerja Dinas Peternakan dan Perikanan
Kabupaten Boyolali, fungsi Dinas Peternakan dan Perikanan sebagai dinas teknis yang membidangi
peternakan dan perikanan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan secara umum, antara lain :
a. Meningkatkan jaring asmara dengan Dinas Peternakan dan Kesheatan Hewan Propinsi Jawa Tengah
dan Kementerian Pertanian RI yang bertujuan untuk penyesuaian program/ kegiatan untuk tahun
selanjutnya, karena membangun bidang peternakan memerlukan energi dan sinergi yang besar;
b. Menyusun Renstra/ RPJMD Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali tahun 2015 – 2020 ke
arah pengemangan produktivitas dan perikanan sesuai potensi wilayah;
c. Penambahan petugas teknis lapangan dan unit kesehatan lapangan (Puskeswan/ Posikandu);
d. Penambahan sarana dan prasarana komunikasi dan informatika terutama jaringan internet dan
pengadaan sistem informasi elektronik di lapangan.
Sedangkan upaya yang dilakukan agar kinerja Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali
lebih baik dan akuntabel antara lain :
a. Melakukan re-orientasi terhadap program/ kegiatan yang kurang tepat sasaran.
b. Meningkatkan kualitas dan sinkronisasi dokumen-dokumen perencanaan dan kinerja;
c. Memanfaatkan hasil evaluasi kinerja sebagai bahan perbaikan pelaksanaan program/ kegiatan;
d. Menguatkan komitmen dari seluruh Unit Kerja/ Bagian untuk meningkatkan kinerjanya;
e. Menambah dan mengurangi program/ kegiatan yang dinilai berpotensi pada percepatan capaian kinerja
f. Mempertimbangkan peningkatan insentif petugas teknis, karena petugas teknis merupakan ujung
tombak dinas teknis.
Boyolali, Januari 2016
KEPALA DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN
KABUPATEN BOYOLALI
BAMBANG JIYANTO, S., MS. Pembina Tk. I NIP. 19690628 199403 1 008
A. Struktur Organisasi dan Tata Kerja
B. Piagam Penghargaan
C. Rencana Strategis
D. Indikator Kinerja Utama
E. Rencana Kinerja Tahunan
F. Penetapan Kinerja