kemampuan belajar yang dimiliki oleh siswa. Kita akan menjumpai siswa yang memiliki kemampuan belajar yang lebih baik dalam beberapa mata pelajaran dibanding teman-temannya, ada pula yang prestasi belajarnya rendah, bahkan mungkin kita akan menjumpai siswa yang memiliki minat hanya pada satu pelajaran saja serta ia sangat berprestasi dalam pelajaran itu.
Keberagaman itu sering luput dari perhatian guru. Guru lebih memilih melakukan pembelajaran dengan cara atau metode yang sama untuk semua anak. Padahal satu cara itu tidak mungkin memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajar siswa dalam satu kelas yang begitu beragam.
Tidak terpenuhinya kebutuhan dan kemampuan belajar yang dimiliki oleh siswa akan menimbulkan berbagai dampak, diantaranya potensi belajar tidak berkembang secara optimal, menimbulkan perilaku yang mengganggu suasana kelas, rendah motivasi, dan lain-lain. Munculnya dampak tersebut sering ditanggapi oleh guru sebagai hal yang negatif sehingga upaya yang dilakukan untuk mengatasinya tidak menyentuh pada “akar” permasalahan. Upaya yang tidak tepat dapat merugikan semua siswa. Misalnya, siswa yang sesungguhnya memiliki potensi belajar yang sangat baik akan tidak berkembang potensinya itu jika upaya yang dilakukan tidak tepat. Prestasi belajarnya akan berada jauh di bawah potensi yang dimiliki.
Sebagaimana yang sering terjadi pada kasus-kasus anak berbakat. Mereka sering dituduh sebagai anak nakal, pemalas, suka mengganggu, atau bahkan disebut anak bodoh. Sesungguhnya perilaku negative yang muncul dari anak berbakat itu lebih disebabkan oleh factor pembelajaran yang tidak mampu mengakomodasi kemampuan dan kebutuhan belajarnya. Tentunya itu sangat merugikan.
Sangat disayangkan bila kondisi ini terus terjadi. Jika terus terjadi makan kita akan banyak kehilangan generasi unggul. Kerugian besar bagi kita jika anak-anak berbakat ini tidak dapat mengaktualisasikan potensinya. Sebaliknya, apabila mereka mampu mengaktualisasikan potensinya maka bangsa ini akan memperoleh manfaat yang besar dari hasil-hasil karya mereka.
Oleh karena itu perlu dipikirkan suatu pembelajaran yang dapat mengakomodir kemampuan dan kebutuhan belajar anak-anak berbakat ini. Pembelajaran yang dilakukan tentunya harus tetap memperhaikan keberagaman kemampuan belajar. Maksudnya adalah pembelajaran bagi anak berbakat tetap dilakukan di sekolah-sekolah regular dalam setting inklusif.
Mengapa demikian? Karena semua anak, diantaranya anak berbakat, tetap harus belajar menghadapi keberagaman, nantinya pun ketika mereka selesai mengikuti pendidikan akan kembali kemasyarakat. Apabila mereka telah belajar tentang keberagaman maka ketika mereka kembali kemasyarakat diharapkan mampu menyikapi keberagaman yang ada di masyarakat dengan sikap-sikap yang baik sesuai dengan potensi yang mereka miliki.
Pengertian Anak Berbakat
Istilah keberbakatan (anak berbakat) yang digunakan di psikologi seperti gifted, talented,genius dan prodigy ternyata tidak memiliki satu definisi atau batasan yang sama, hal ini baru saya ketahui setelah membaca buku karya Reni Akbar-Hawadi (Keberbakatan Intelektual Melalui Metode Non-tes dengan Pendekatan Konsep Keberbakatan Renzulli).
Seseorang bisa dikatakan berbakat jika ia menunjukkan kemampuan diatas rata-rata, melakukan hal-hal yang kreatif dan memiliki tekad dalam melaksanakan tugasnya (Renzulli, 1998)
Istilah gifted digunakan untuk merujuk pada orang-orang dengan bakat intelektual . Menurut Galton, keberbakatan merupakan kemampuan alami yang luar biasa, diperoleh dari kombinasi sifat-sifat yang meliputi:
a. kapasitas intelektual, kemauan yang kuat, dan unjuk kerja (Whitmore, dalam Hawadi, 2002). Inteligensi, kreativitas, dan talenta , merupakan pusat perhatian untuk mendefinisikan kerberbakatan selama bertahun-tahun. Anak berbakat didefinisikan oleh USOE (United States Office of Education) sebagai anak-anak yang dapat membuktikan kemampuan berprestasinya yang tinggi dalam bidang-bidang seperti intelektual, kreatif, artistik,
b. kapasitas kepemimpinan atau akademik spesifik, dan mereka yang didapatkannya skor IQ yang tinggi pada pengerjaan tes kecerdasan/intelegensi (terkait: I Q Tidak Sama dengan Kecerdasan), sedangkan talentedadalah kebalikannya, ditujukan untuk orang yang memiliki kemampuan unggul dalam bidang akademis yang khusus (seperti matematika, bahasa), juga bidang seni, musik, dan drama. Jadi kalau gifted itu ditujukan untuk kemampuan akademis secara umum, sedangkan talented ditujukan untuk dua kemampuan unggul:
dapat berpidato berjam-jam tanpa jeda dan tanpa teks, dan anehnya pendengarnya tidak jenuh-jenuh dan tetap serius mendengarkan beliau.
Kemudian apa bedanya gifted dan genius (jenius)? Genius merujuk pada individu yang telah menampilkan kemampuan tingkat tinggi yang luar biasa pada prestasi bermakna, sedangkan giftedadalah secara umum merujuk pada mereka yang menampilkan tanda-tanda atau indikasi kemampuan superior. Jadi, seorang gifted belum tentu orang yang jenius, sebab gifted belum tentu memberikan kontribusi unik pada lingkungannya dalam kurun tertentu, tetapi orang jenius sudah pasti seorang gifted. Contoh orang jenius bisa diwakili oleh Bapak B.J. Habibie yang banyak memberikan kontribusi yang mengagumkan dalam bidang teknologi penerbangan di Indonesia dan dunia, juga berkontribusi atas perkembangan demokrasi di Indonesia.
Istilah prodigy (anak ajaib) merujuk pada anak yang mampu berprestasi secara menakjubkan dalam bidang keterampilan tertentu seperti matematika, catur dan musik. Jadi prodigy ini boleh dibilang sama dengan talented menurut pengertian di atas. Contoh orang seperti ini barangkali bisa diwakili oleh Utut Adianto, seorang pecatur yang sering dianggap sebagai yang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Ia adalah Grandmaster (GM) Indonesia berperingkat tertinggi di dunia saat ini. Saat meraih gelar grand master, ia adalah pecatur Indonesia termuda yang berhasil mencapai prestasi ini, yaitu pada usia 21 tahun.
Ciri-ciri Anak Berbakat
Berikut disarikan beberapa karakteristik yang paling sering diidentifikasi terdapat pada anak berbakat istimewa pada masing-masing domain diatas. Namun demikian perlu dicatat bahwa tidak semua anak-anak berbakat istimewa (gifted) selalu menunjukkan atau memiliki semua karakteristik yang disebutkan di dalam daftar ini.
Karakteristik Intelektual-Kognitif
a. Menunjukkan atau memiliki ide-ide yang orisinal, gagasan-gagasan yang tidak lazim, pikiran-pikiran kreatif.
b. Mampu menghubungkan ide-ide yang nampak tidak berkaitan menjadi suatu konsep yang utuh.
c. Menunjukkan kemampuan bernalar yang sangat tinggi.
e. Memiliki kecepatan yang sangat tinggi dalam memecahkan masalah. f. Menunjukkan daya imajinasi yang luar biasa.
g. Memiliki perbendaharaan kosakata yang sangat kaya dan mampu mengartikulasikannya dengan baik.
h. Biasanya fasih dalam berkomunikasi lisan, senang bermain atau merangkai kata-kata.
i. Sangat cepat dalam memahami pembicaraan atau pelajaran yang diberikan. j. Memiliki daya ingat jangka panjang (long term memory) yang kuat.
k. Mampu menangkap ide-ide abstrak dalam konsep matematika dan/atau sains.
l. Memiliki kemampuan membaca yang sangat cepat. m. Banyak gagasan dan mampu menginspirasi orang lain. n. Memikirkan sesuatu secara kompleks, abstrak, dan dalam.
o. Mampu memikirkan tentang beragam gagasan atau persoalan dalam waktu yang bersamaan dan cepat mengaitkan satu dengan yang lainnya.
Karakteristik Persepsi/ Emosi
a. Sangat peka perasaannya dan Menunjukkan gaya bercanda atau humor yang tidak lazim (sinis, tepat sasaran dalam menertawakan sesuatu hal tapi tanpa terasa dapat menyakiti perasaan orang lain).
b. Sangat perseptif dengan beragam bentuk emosi orang lain (peka dengan sesuatu yang tidak dirasakan oleh orang-orang lain).
c. Memiliki perasaan yang dalam atas sesuatu dan Peka dengan adanya perubahan kecil dalam lingkungan sekitar (suara, aroma, cahaya).
d. Pada umumnya introvert dan Memandang suatu persoalan dari berbagai macam sudut pandang.
e. Sangat terbuka dengan pengalaman atau hal-hal baru serta Alaminya memiliki ketulusan hati yang lebih dalam dibanding anak lain.
Karakteristik Motivasi Dan Nilai-Nilai Hidup
a. Menuntut kesempurnaan dalam melakukan sesuatu (perfectionistic).
b. Memiliki dan menetapkan standar yang sangat tinggi bagi diri sendiri dan orang lain.
c. Memiliki rasa ingin tahu dan kepenasaran yang sangat tinggi.
e. Selalu berusaha mencari kebenaran, mempertanyakan dogma, mencari makna hidup.
f. Melakukan sesuatu atas dasar nilai-nilai filsafat yang seringkali sulit dipahami orang lain.
g. Senang menghadapi tantangan, pengambil risiko , menunjukkan perilaku yang dianggap “nyerempet-nyerempet bahaya”. Dan Sangat peduli dengan moralitas dan nilai-nilai keadilan, kejujuran, integritas.
h. Memiliki minat yang beragam dan terentang luas.
Karakteristik Aktifitas
a. Punya energi yang seolah tak pernah habis , selalu aktif beraktifitas dari satu hal ke hal lain tanpa terlihat lelah.
b. Sulit memulai tidur tapi cepat terbangun , waktu tidur yang lebih sedikit dibanding anak normal.
c. Sangat waspada.
d. Rentang perhatian yang panjang, mampu berkonsentrasi pada satu persoalan dalam waktu yang sangat lama.
e. Tekun, gigih, pantang menyerah, namun cenderung Cepat bosan dengan situasi rutin , pikiran yang tidak pernah diam, selalu memunculkan hal-hal baru untuk dilakukan serta Spontanitas yang tinggi .
Karakteristik Relasi Sosial
a. Umumnya senang mempertanyakan atau menggugat sesuatu yang telah mapan.
b. Sulit melakukan kompromi dengan pendapat umum.
c. Merasa diri berbeda, lebih maju dibanding orang lain, merasa sendirian dalam berpikir atau pada saat merasakan suatu bentuk emosi.
d. Sangat mudah jatuh iba, empatik, senang membantu.
HASIL SURVEI ANAK BERBAKAT
Karakteristik Perilaku (Hasil Survei)
Ada kecenderungan dua pola perilaku dasar, yaitu agresif dan menarik diri. Gambaran pola perilaku agresif, mencakup:
1) Penolakan yang terus menerus yang ditunjukkan dengan complain. 2) Mencari perhatian.
3) Mengganggu orang lain.
4) Penolakan yang terus menerus terhadap tugas yang ditetapkan. 5) Ketiadaan arahan diri dalam pembuatan keputusan.
6) Pemisahan yang terus menerus dari teman sebaya.
Gambaran pola perilaku menarik diri, mencakup: 1) Kurangnya komunikasi
2) Dikuasai oleh dunia fantasi 3) Bekerja sendiri
Karakteristik Yunus dan Irsalina (Studi Survei)
a. Kemampuan Mengumpulkan informasi. Responden mampu menangkap berbagai informasi yang didengar dan kemudian menceritakannya kembali.
b. Memiliki ketertarikan yang besar. Responden cenderung mudah menunjukkan minat pada berbagai topic, misalnya tertarik pada dinosaurus di waktu tertentu, lalu tertarik pada ruang angkasa di bulan berikutnya, dan seterusnya.
c. Menulis dan membaca lebih dini. Responden mampu membaca dan menulis pada usia dini tanpa pendidikan formal sebelumnya.
d. Berbakat di bidang seni (Irsalina Anwar/ 12 tahun). Menunjukkan bakat luar biasa dalam seni lukis, menggambar, dan music. Sejak Balita Responden mampu menggambar sesuatu dengan jelas, mampu membuat garis sempurna.
M. Yunus (16 tahun).
Pemecahan Rekor MURI 2011
Sejak SD menyukai elektro
dan beberapa kali
memodifikasi bebrapa
mainan rusak untuk
dikombinasikan menjadi
robot.
Irsalina Anwar (12
tahun)
Sejak usia 7 tahun
hingga sekarang
telah
memenangkan
Juara Melukis
Anak-anak dalam
74 kali Lomba,
untuk jenis Lukisan
Surealis dan
Contoh Hasil Jarya Irsalina
e. Menunjukkan konsentrasi. Responden (Yunus dan Irsalina) menurut orangtuanya sering lama berkonsentrasi ketika mengerjakan sesuatu atau mengamati sesuatu.
f. Memiliki ingatan yang baik. Responden sejak balita mampu mengingat sesuatu dengan baik, mampu mengingat dan menceritakan kembali peristiwa sejak kanak-kanak.
g. Memiliki kosakata lanjutan. Responden sejak usia balita dapat berbicara menggunakan kosakata dan kalimat lebih, Contohnya, "Ada ular." Maka responden mampu membuat kalimat lagi, seperti "Ada ular panjang di halaman belakang dan lari ketika kulihat."
h. Memahami sesuatu yang kompleks. Responden mampu untuk memahami sesuatu yang kompleks, yang berkaitan dengan hubungan dan berpikir secara abstrak. Mereka mampu memahami masalah secara mendalam dan memikirkan solusinya.
Irsalina
Sejak SD suka menggambar dan tergolong diberikan fasilitas oleh orangtuanya,
namun tidak pernah diikutkan Les menggambar karena orangtuanya tidak
memperoleh informasi tempat les. Kegiatan lomba yang diikuti selama ini atas
informasi dari Guru kesenian di Sekolah, dan di Sekolah tidak ada kegiatan
ekstra kurikuler menggambar.
Setelah masuk SMP (sekarang), Irsa tidak mengikuti lomba lagi karena tidak
mendapatkan informasi tentang penyelenggaraan lomba meskipun berusaha
mencarinya melalui internet. Orangtuanya mulai keberatan dengan
Contoh Hasil Karya Yunus
Kebutuhan Belajar
Yunus
Dari Keluarga miskin dan sejak SD ayahnya
meninggal dunia. Yunus menghabiskan banyak
waktu di luar sekolah untuk melihat tetangganya
mereparasi televisi, kipas angin, dan beberapa
peralatan elektronik. Yunus mulai mengembangkan
bakatnya, menciptakan beberapa peralatan/ mainan
dari barang bekas untuk dijadikan Robot. Juga
memodifikasi beberapa mainan elektrik (remote
control) menjadi satu Robot, serta membuat
mainan jenis Aerodynamic.
Yunus tidak pernah mengikuti kursus ataupun les
untuk hobinya, dan selama ini belum pernah
Merujuk kepada konsep keberbakatan yang menggunakan perspektif yang lebih inklusif dan bersifat majemuk serta karakteritik umum yang dapat diidentifikasi maka kebutuhan belajar siswa berbakat secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar yaitu:
1) kebutuhan dalam mengembangankan kemampuan intelektual dan kreatifitas, 2) kebutuhan dalam mengembangkan aspek sosial-emosional dan motivasi.
Rancangan Pendidikan Anak Berbakat
Rancangan pembelajaran ini didasari oleh konsep keberbakatan yang diungkapkan oleh Joseph S. Renzulli (1998), bahwa keberbakatan itu harus memenuhi tiga area, yaitu kecerdasan di atas rata-rata, memiliki kreatifitas, dan keterikatan terhadap tugas/motivasi. Dari konsep keberbakatan tersebut, maka pendidikan yang efektif bagi anak-anak berbakat harus memperhatikan, sekurang-kurangnya meliputi pemilihan konten materi, pendekatan pembelajaran, memberikan peluang pembelajaran yang mengacu pada kebutuhan belajar anak berbakat.
Untuk mewujudkan itu maka diperlukan langkah-langkah yang meliputi; identifikasi, asesmen, diferensiasi kurikulum (konten, proses, produk), dan strategi (materi, metode, penataan lingkungan, evaluasi).
a. Self-Directed Learning. Kurikulum memberikan peluang pada proses belajar mandiri. Oleh karena itu kurikulum disusun berdasarkan kesiapan belajar anak. Melalui proses ini diharapkan anak mampu belajar mandiri, diantaranya mampu memilih keputusan, membuat perencanaan, menyusun tujuan, menentukan sumber belajar, dan mengevaluasi sendiri.
b. Learning Centers. Kurikulum menjadi pusat proses belajar sehingga anak mampu memperoleh pengayaan dan penambahan berbagai hal ketika anak telah mampu menguasai standar kurikulum yang telah ditetapkan.
c. Problem-Based Learning. Kurilum harus menciptakan pembelajaran yang berbasis masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga anak-anak berbakat diharapkan dapat memberikan solusi atas permasalahan itu. Melalui pembelajaran seperti demikian maka akan mendorong anak-anak berbakat untuk memunculkan ide-ide yang original.
Produk.
Hasi dari pencapai tujuan kurikulum dapat berupa produk pemikiran atau berwujud barang/benda kongkrit. Contoh di setiap akhir semester siswa memilih tugas projek untuk menghasilkan sesuatu. Tugas projek sesuai dengan minat masing-masing. Tugas projek ini ada yang tugas individu ada pula tugas kelompok.
Strategi
Pengembangan materi dapat mengikuti tahapan taksonomi Blooms (1956), yaitu mengetahui, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Tiga tahapan terakhir merupakan tahapan yang paling diharapkan lebih banyak muncul bagi anak berbakat (Smutny & Blocksom, 1990). Analisis di dalamnya terdapat kemampuan klasifikasi, komparasi, menjelaskan, investigasi, membuat kesimpulan. Sitesis akan mendorong anak untuk menggunakan ide dan pengetahuannya dalam menghasilkan kerja yang original, dan merancang atau merencanakan sesuatu. Kemampuan evaluasi dibutuhkan agar anak mampu melakukan interpretasi, verifikasi, kritis, menghubungkan, serta judgment ide dan inforasi.
b. Metode
Menentukan metode-metode pembelajaran yang menantang diantaranya discoveri, inquiry, dll
c. Penataan lingkungan
Lingkungan ditata sedemikian rupa sehingga sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan
d. Evaluasi
Memberikan berbagai evaluasi yang adil/objektif sehingga dapat mengungkap kemampuan dan keberhasilan pembelajaran serta dapat menentukan tindak lanjut yang dibutuhkan.
PUSTAKA ACUAN
Clark, B. (1988), Growing Up Gifted (3rd ed.). Columbus, OH: Charles E.
Merrill Colangalo, Nicholas, and Daives, Gary A. (1991), Handbook of Gifetd Education, Boston: Allyn and Bacon
Davis, G.A., and Rimm, S. B. (1998). Education of the Gifted and Talented (4th Ed.). Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Kitano, Margie K. dan Kirby, Darrell F. (1986), Gifted Education: A Comprehensive View, Boston: Little, Brown and Company.
Rimm, Sulvia, (1995), Why Bright Kids Get Poor Grades and What You Can Do About It, New York: Crown Publishers, Inc.
Reis, Sally M. & McCoach, D. Betsy, (2000).The Underachievement of Gifted What Do We Know and Where Do We Go? Students Gifted Child Quartly, 44 (3), 152-170
Somantri ,T. Sutjihati, (2007). Psikologi Anak Luar Biasa,Bandung: Refika Aditama.
Tirtonegoro, Sutratianah, (2006). Anak Supernormal dan Program Pendidikannya, Jakarta: Bumi Aksara
Hawadi,Reni akbar (2006). Akselerasi: a-z program percepatan belajar dan anak berbakat intelektual.Jakarta: Gramedia
Semiawan ,Conny,Perspektif Pendidikan Anak Berbakat,Cet ke-6.Jakarta:Grasindo,1997