• Tidak ada hasil yang ditemukan

RADIKALISME DALAM PEMBELAJARAN PAI (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RADIKALISME DALAM PEMBELAJARAN PAI (1)"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

RADIKALISME DALAM PEMBELAJARAN PAI (Analisis Nilai-Nilai Radikalisme Dalam Buku Teks PAI SMA) A. LATAR BELAKANG

Islam adalah agama keselamatan. Ia merupakan rahmat bagi seluruh alam jagat raya ini. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Surat Al Anbiya ayat 107 yang berbunyi “ wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil’aalamiin“ artinya “dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (Al-Qur’an dan terjemahannya, 2008: 331) Ayat ini menunjukkan bahwa islam sebagai agama rahma, islam selalu menjunjung tinggi aspek-aspek kehidupan.

Namun sungguh sangat disayangkan bahwa beberapa dekade terakhir islam telah berubah menjadi sebuah momok menakutkan bagi masyarakat dunia. Hal ini disebabkan karena mencuatnya isu islam radikal. Isu islam radikal bukan serta merta muncul akan tetapi jika kita telisik kebelakang, isu radikalisme islam tidak lepas dari tragedi pengeboman WTC pada 11 september 2001 yang diklaim dilakukan oleh pasukan Osama bin Laden seorang tokoh islam garis keras. setelah peristiwa itu terjadi, Kata radikalisme islam dan terorisme memang banyak bertebaran di media massa.(Ahmad Fuad Fanani, 2012: 4)

Tragedi WTC ternyata telah membangkitkan sentimen permusuhan antar agama dan juga telah merusak citra islam. Islam sebagai sebuah agama yang sangat menghargai perdamaian kini dicap sebagai agama intoleran, agama yang mengajarkan kekerasan.(Mun’im A. Sirry, 2003: 27) Meskipun anggapan ini sebenarnya bisa saja dibantah. Namun, adanya fakta bahwa kejadian teror yang belakangan ini marak terjadi dilakukan oleh seorang atau sekelompok umat islam yang berhaluan keras menjadi sebuah beban psikologis dan sosial bagi umat islam yang lain. (Abu Rokhmad, 2012: 80)

(2)

sebelah mata atau dibiarkan tumbuh subur karena radikalisme merupakan satu tahapan menjadi terorisme. Sebagaimana dikutip fanani dalam rizal sukma (2004) bahwa “radicalism is only one step short of terrorism” Memang pada umumnya para teroris yang melakukan tindakan destruktif dan bom bunuh diri mempunyai pemahaman yang radikal terhadap berbagai hal khususnya agama. Dan hal ini tampak tatkala pelaku teroris melegitimasi tindakannya dalam paham keagamaan radikal yang ia anut. (Ahmad Fuad Fanani, 2012: 5)

Fenomena paham radikalisme dan terorisme telah menjalar keseluruh penjuru dunia termasuk indonesia. Hal ini ditandai dengan maraknya tindakan teror yang melanda indonesia 13 tahun teakhir. Mulai dari teror bom bali I, bali II, hotel J.W Marriot, hotel Rits Carlton, bom buku hingga bom WC yang baru-baru ini terjadi di sebuah pusat perbelanjaan di jakarta. Namun yang tatkala memprihatinkan bahwa Paham radikal telah masuk dalam dunia pendidikan dan kalangan muda. Dan hal inilah yang sangat disayangkan, bahwa dunia pendidikan yang seharusnya tidak boleh sampai terkontaminasi paham-paham radikal ternyata pada kenyataanya juga telah terkontaminasi.

Masuknya paham radikalisme dalam dunia pendidikan terbukti dengan ditemukannya muatan radikal pada buku ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti pada jenjang sekolah menengah. Dalam buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas XI, cetakan ke-1 pada bab tokoh-tokoh pembaharuan dunia Islam masa modern dinyatakan unsur radikal karena adanya pernyataan didalamnya bahwa yang harus disembah hanyalah Allah SWT, dan orang yang menyembah selain Allah SWT, telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh. (Kompas, 2 April 2015).

(3)

segelintir orang untuk memasukkan paham-paham keagamaan mereka mulai dari paham yang moderat hingga paham keagamaan yang radikal. Kondisi seperti ini mempunyai konsekuensi makin banyaknya siswa yang terpengaruh pada paham-paham radikal keagamaan.

Selaras dengan penelitian maarif institute, survei yang dilakukan oleh lembaga kajian islam dan perdamaian (LaKIP) Jakarta menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Survei yang dilakukan antara bulan oktober 2010 hingga 2011 terhadap siswa (SMP dan SMA) di jabotabek menunjukkan bahwa 49% siswa setuju dengan aksi radikalisme demi agama.14,2% menyatakan setuju dengan aksi terorisme. 84,8% siswa setuju dengan penegakan syariat islam. (Metro TV, 15 September 2012).

Hal di atas menggambarkan bahwa dunia pendidikan kita kini telah digerogoti paham radikal. Meski riset diatas sebenarnya masih bisa dipertanyakan kevalidanya begitupun dengan buku yang dikatakan mengandung unsur radikal massih bisa dipertanyakan. “Radikal dalam arti apa?”. Namun hal ini harus dijadikan alarm untuk mengantisipasi semakin banyaknya generasi muda yang menganut paham radikal tersebut.

Jika kita lihat kebelakang, secara historis indonesia memang memiliki basis islam radikal yang cukup kuat. Negara Islam Indonesia (NII) yang diproklamirkannya pada 7 Agustus 1949 yang diketui oleh Kartusuwiryo (Endang Turmudi dan Riza Sihbudi, 2005: 226) adalah sebuah gerakan politik keagamaan yang dianggap sebagai cikal bakal lahirnya gerakan radikal di nusantara. Disamping itu pergolakan di timur tengah serta kebangkitan idologi jihad turut serta menyuburkan paham radikal di bumi nusantara.

(4)

undang-undang yang ada yakni UUD 1945 pasal 29 serta Keputusan menteri agama RI no.70 tahun 1978 tentang pedoman penyiaran agama. Namun pada kenyataannya sikap eksklusif yang dapat menimbulkan konflik sangat sulit untuk dihilangkan.(Ahmad Najib Burhani, 2001: 22)

(5)

Berangkat dari latar belakang di atas, penelitian dengan judul “radikalisme islam dalam pembelajaran PAI (analisis nilai-nilai radikalisme dalam buku PAI tingkat SMA) menjadi sangat penting untuk dilakukan mengingat bahwa buku PAI beserta standar isi dan kompetensinya sangat dipengaruhi oleh kecenderungan paham penulisnya. Dimana isi dari buku tersebut dengan mudah akan diserap oleh pelajar, sehingga akan berakibat fatal jika apa yang ada dalam buku tersebut dipahami secara tekstual dan diyakini sebagai kebenaran mutlak. B. PERMASALAHAN

1. IDENTIFIKASI MASALAH

Dari latar belakang di atas, penulis memetakan beberapa masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai islam radikal dalam buku teks PAI SMA yang menggunakan KTSP dan K.13 sebagai berikut:

a. Maraknya tindak terorisme dan radikalisme di indonesia b. banyaknya teroris yang ditangkap beberapa tahun terakhir

c. Kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya paham-paham radikal bagi generasi muda.

d. Masuknya paham radikal di lingkungan sekolah

e. Adanya unsur-unsur radikalisme islam dalam pembelajaran PAI

f. Rendahnya kontrol sekolah dalam mengantisipasi merebaknya paham radikalisme di lingkungan sekolah.

g. Perlunya upaya de-radikalisasi guna mengantisipasi merebaknya paham radikal serta tindakan terorisme di lingkungan sekolah.

2. BATASAN MASALAH

Dari identifikasi masalah tersebut di atas, maka agar penelitian ini lebih terarah dan lebih fokus, maka penulis memberikan batasan permasalahan pada penelitian ini yaitu:

1. Nilai-nilai radikalisme dalam buku PAI

(6)

Berdasarkan pembatasan masalah, maka adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu nilai-nilai yang manakah yang menjadi indikasi adanya muatan islam radikal dalam buku teks PAI tingkat SMA?

C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai yang menjadi indikasi adanya muatan islam radikal dalam buku teks PAI tingkat SMA.

2. Manfaat Penelitian

Adapun hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Penulis: Secara formal-akademis, sebagai syarat untuk meraih gelar “Magister” pada Program Pasca sarjana UIN jakarta di bidang PAI dan menambah pengetahuan dan pengalaman terkait fokus penelitian.

2. Menjadi salah satu sumbangan untuk memperkaya khazanah ilmiah dalam kajian keilmuan islam khususnya dalam bidang pengembangan buku ajar pendidikan agama islam di SMA.

3. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dan lembaga pendidikan dalam menyusun dan mengembangkan buku teks pendidikan agama islam SMA di masa akan datang.

D. KAJIAN TEORI

a. Konsep Radikalisme 1) Pengertian radikalisme

(7)

dalam International Enyclopedia of Social Sciences (Vol.7, hal 48), radikalisme merupakan sebuah konsep yang bersifat kontekstual dan posisional, dalam hal ini kehadirannya merupakan antitesis dari ortodoks atau arus utama (mainstream), baik bersifat sosial, sekuler, saintifik, maupun keagamaan. Menurutnya, radikalisme tidak mengandung seperangkat gagasan dan argumen, melainkan lebih memuat posisi dan ideologi yang mempersoalkan atau menggugat sesuatu (atau segala sesuatu) yang dianggap mapan, diterima, atau menjadi pandangan umum. (Muhammad Najib Azca, 2012: 24-25)

Radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. (Depdigbud, 1995: 808). Sedangkan Kelompok Islam radikal adalah sebuah gerakan politik ekstrim yang berusaha membentuk negara Islam melalui perjuangan bersenjata. Dimana terdapat doktrin-doktrin pada kelompok untuk membenarkan tindakan kekerasan untuk menghilangkan rezim di dunia yang dianggap kafir saat ini. Dan karena tindakan kekerasan inilah, maka gerakan Islam radikal seringkali di cap sebagai teroris oleh negara-negara barat khususnya Amerika.(Francesco Cavatorta, 2005:11)

(8)

memasukkan warga sipil dalam aksi bom bunuh diri.( Anshour, 2009: 6 )

Radikalisme dapat pula diartikan sebagai tindakan kekerasan dan terorisme. Pada dasarnya radikalisasi muncul akibat adanya kesenjangan dan marjinalisasi politik. Adapun tujuan dari kelompok-kelompok radikal di indonesia adalah menciptakan negara islam. Dalam mencapai tujuan, kelompok ini melakukan proses rekruitmen anggota mulai dari tingkat sekolah hingga universitas. Dan biasanya proses indoktrinasi ini dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler agama yang ada di sekolah maupun perguruan tinggi. Ada 3 cara yang dapat ditempuh untuk menganalisis munculnya gerakan islam radikal di indonesia yakni:

a) Konteks historis; munculnya islam radikal di indonesia. b) Konteks global; kebangkitan gerakan jihad

c) Implementasi syariah sebagai ideologi negara.(Wasisto Raharjo Jati, 2011: 22)

(9)

makna penggunaan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut dalam usaha mencapai suatu tujuan. (depdikbud, 1995: 1048).

2). Karakteristik Radikalisme

Menurut Yusuf al-Qordhowi, radikalisme atau ekstrimisme agama memiliki karakteristik sebagai berikut:

1). Kekerasan hati dan intoleransi.

Kekerasan hati dan intoleransi dan intoleran adalah karakteristik radikalisme yang paling jelas. Orang yang seperti ini akan cenderung memaksakan kehendaknya pada orang lain. Perkataannya adalah sesuatu yang wajib untuk dituruti adapun pendapatnya adalah sebuah kebenaran. Orang yang seperti ini akan menganggap pendapatnya mutlak benar sedangkan pendapat orang lain salah.

2). Berpaham garis keras

Berpaham garis keras maksudnya menampakkan diri dalam bentuk komitmen yang berlebihan, dan berusaha untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

3). Memaksakan kehendak

Memaksakan kehendak maksudnya membebani orang lain tanpa peduli tempat dan waktu untuk menerapkan ajaran-ajaran islam di negeri non islam atau bagi orang-orang yang baru masuk islam.

4). Berlaku zalim

Memperlakukan orang secara zalim, melakukan pendekatan dengan kekerasan, kaku dalam menganjak orang untuk masuk dalam islam. (Yusuf Al-Qardhawi dalam Charles Kurzman, 2003: 324-328)

Menurut Martin Riesebrodt sebagaimana dikutip oleh Mu’min A.Sirry, radikalisme atau dengan kata lain fundamentalisme memiliki karakteristik sebagai berikut:

(10)

Disebut sebagai tradisionalisme radikal karena lahir dari ketegangan antara tradisi dan modernitas serta mengambil berbagai aspek dari keduanya. Berbagai perubahan serba cepat sebagai akibat dari modernisasi memaksa kaum tradisional untuk mendekap dan mempertahankan tradisi secara taken for grandted.

2. Milieu Kultural

Mileniu kultural adalah sebutan bagi suatu kelompok atau gerakan yang identitas dan persepsi kelompok terhadap rasa kebersamaan ditentukan oleh kesamaan cita-cita sosio-moral dan kriteria non ekonomis lainnya.

3. Mobilisasi masyarakat awam

Keberhasilan paham ini dalam memobilisasi massa, bukan saja dalam segi jumlah tapi juga dari segi militansi. (Mu’min A. Sirry, 2003: 8)

3). Faktor-faktor penyebab berkembangnya radikalisme.

Persoalan radikalisme tidak boleh dipandangan dari sudut internal agama saja tetapi memerlukan kajian literatur yang mendalam untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kemunculannya. Radikalisme tidaklah terjadi dalam situasi vakum tetapi memiliki keterkaitan dengan situasi makro baik yang berkaitan dengan masalah sosial-ekonomi maupun dengan masalah politik. (Mu’min A. Sirry, 2003: 28)

(11)

dikalahkan jika faktor-faktor sosial, ekonomi dan politik yang menimbulkan lahirnya gerakan ini dapat di eliminasi. (Saeed Rahnema, 2008: 2)

Ada 2 faktor yang menyebabkan munculnya ideologi islam radikal yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya yaitu adanya pandangan yang berbeda dalam persoalan ideologi jihad. Kalangan islam moderat menilai jihad dapat dilakukan dalam seluruh aspek kehidupan, tidak monoton melalui perang. Sedangkan kalangan islam radikal menilai bahwa jihad hanya dapat dilakukan melalui perang. Adapun faktor eksternal yaitu munculnya islam radikal merupakan hasil dari kolonialisme, hegemoni politik negara-negara tertentu terhadap negara islam serta penyitaan tanah-tanah islam oleh negara-negara non islam. (Masdar Hilmy, 2013: 12)

b. Konsep Pendidikan Agama Islam 1). Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama Islam merupakan usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran islam.(Zuharini, Abdul ghofir dan Slamet As. Yusuf, 1983: 27) sedangkan menurut Dr. Zakiyah Daradjat, Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannyan dapat memahami serta mengamalkan ajaran agama islam serta menjadikannya sebagai way of life. (Zakiyah Daradjat, 1992: 86)

(12)

akhirnya dapat mengamalkannya serta menjadikan agama islam yang dianutnya itu sebagai way of life sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akhirat. (Zakiyah Daradjat, 1992: 88).

Adapun menurut Abdul Majid dan Dyan Andayani, Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau pelatihan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. (Abdul Majid dan Dyan Andayani, 2006: 132)

2. Fungsi dan Tujuan PAI di SMA

Adapun Fungsi Pendidikan Agama Islam di SMA yaitu untuk:

1) Pengembangan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin, yang telah ditanamkan lebih dahulu dalam lingkungan keluarga.

2) Penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

3) Penyesuaian mental peserta didik terhadap lingkungan fisik dan sosial melalui pendidikan agama Islam.

4) Perbaikan kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pengamalan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.

5) Pencegahan peserta didik dari hal-hal negatif budaya asing yang akan dihadapinya sehari-hari.

6) Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsionalnya.

(13)

Pendidikan Agama Islam di SMA pada dasarnya merupakan kelanjutan dari PAI pada jenjang pendidikan sebelumnya yaitu mulai dari Paud, TK, SD, SMP, hingga SMA. Pada jenjang pendidikan dasar, menengah, dan atas PAI bertujuan untuk meningkatkan potensi spiritual peserta didik. Karena itu, pada jenjang pendidikan dasar, peserta didik diarahkan agar dapat mengenal dan membiasakan diri dalam mengamalkan ajaran agama. Selanjutnya pada tingkat pendidikan menengah pertama peseta didik diharapkan dapat mendakwahkan serta membudayakan ajaran dan nilai-nilai islam, selanjutnya pada tingkat menengah atas, peserta didik diarahkan pada pembinaan kesholehan individu dan sosial.

Tujuan pendidikan islam menurut Ibnu Khaldun sebagaimana dikutip oleh Ramayulis bahwa Pendidikan Islam mempunyai dua tujuan yaitu tujuan keagamaan dan tujuan ilmiah. Adapun tujuan keagamaan yaitu beramal untuk akhirat, sehingga ia dapat menjumpai tuhannya serta dapat melaksanakan hak-hak yang telah diwajibkan tuhan atas dirinya. Sedangkan tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan yaitu untuk mendapatkan manfaat dari pendidikan sebagai persiapan hidup di dunia. (Ramayulis, 2002: 70)

(14)

bakat peserta didik serta mengikuti tuntunan zaman. Selanjutnya terakhir yaitu tujuan sementara, yaitu untuk mencapai Kompetensi inti (KI) dan kompetensi Dasar (KD). (Ramayulis, 2002: 66-71)

Adapun tujuan pendidikan agama islam di SMA adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. (Abdul Majid dan Dyan Andayani, 2006: 135)

3. Materi Pendidikan Agama Islam di SMA

Materi merupakan alat untuk mencapai tujuan, oleh karena itu penentuan materi harus didasarkan pada tujuan yang direncanakan baik dari segi cakupan, tingkat kesulitan maupun organisasinya. (Chabib Thoha, 1990: 8) Menurut Abdul Ghofur, Materi Pendidikan Islam adalah bahan-bahan Pendidikan Agama Islam yang berupa kegiatan, pengalaman dan pengetahuan yang disengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka menacapai tujuan Pendidikan Agama Islam.(Zuharini, 1981: 57). Adapun materi-materi PAI di SMA yaitu membaca kitab suci, Aqidah, Ibadah, tarikh, muamalah dan akhlak.

c. Radikalisme dalam dunia Pendidikan

(15)

dasarnya paham radikal bukanlah pertama kali tetapi jatuhnya rezim suharto juga memiliki andil terhadap timbulnya paham radikal. (Muhammad Kholid Fathoni, 2005: 131) Jatuhnya rezim suharto pada tahun 1998 serta terjadinya pengeboman world Tride Center pada tahun 2001 menyebabkan isu radikal semakin menghangat, bahkan isu ini telah menyihir pembelajaran agama sehingga masalah terorisme serta radikalismepun masuk dalam muatan kurikulum pembelajaran. (Muhammad Kholid Fathoni, 2005: 132-133).

Perkembangan selanjutnya, gerakan-gerakan radikal tersebut memengaruhi bahkan menguasai beberapa institusi pendidikan umum negeri baik pada level perguruan tinggi maupun setingkat SMU. Melalui gerakan radikal ini, muncul gejala sekolah umum negeri menjadi pusat penyemaian intoleransi, eksklusivitas, anti keragaman, bahkan kekerasan. (Muh. Abdullah Darraz, 2012: 157)

(16)

Namun demikian, penelitian-penelitian terakhir yang dilakukan oleh lembaga penelitian di Indonesia pada akhir-akhir ini menunjukkan bahwa trend yang terjadi, justru pertumbuhan radikalisme sedang sangat gencarnya berhembus dan dihembuskan melalui institusi pendidikan umum negeri, terutama setingkat Sekolah Menengah Umum (SMU). (Muh. Abdullah Darraz, 2012: 157)

d. Elemen Radikalisme Islam dalam Pembelajaran PAI di Sekolah

Ada dua elemen radikalisme islam dalam pembelajaran PAI yaitu: 1. Pandangan Guru-guru PAI

Guru adalah salah satu aspek penting dalam pembelajaran PAI, baik secara formal maupun nonformal. Guru memiliki andil yang kuat dalam menanamkan ideologi radikal dalam diri pelajar. Dalam hal ini, guru bisa saja melakukan radikalisasi melalui indoktrinasi pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Oleh karena itu, pembelajaran PAI banyak berkaitan dengan doktrin-doktrin agama. (Abu Rokhmad, 2012: 87)

2. Bahan Ajar

Dalam proses pendidikan, sumber belajar, seperti guru dan buku pelajaran, menjadi penting. Buku pelajaran merupakan organ krusial dalam proses belajar. Di Indonesia, dengan keterbatasan kualitas guru, buku pelajaran masih menjadi sumber belajar terbesar para murid. Untuk level Sekolah Menengah Atas (SMA) ada tiga buku ajar Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk masing-masing kelas yang berbeda satu sama lain. Untuk kelas X digunakan buku Pendidikan Agama Islam yang disesuaikan dengan kompetensi yang akan dicapai pada kelas tersebut. Hal yang sama juga berlaku di kelas X dan XI. (Abu Rokhmad, 2012: 89)

3. Kegiatan Ekstrakurikuler

(17)

memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam memasukkan ideologi dan pemahaman radikal di kalangan pelajar. (Muh. Abdullah Darraz, 2012: 159 )

E. METODE PENELITIAN 1. Jenis penelitian

Dilihat dari segi obyeknya, penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (Library Research). Library research dilakukan dengan menelaaah dokumen, arsip, koran, majalah, jurnal, maupun buku-buku yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Penelitian ini juga merupakan jenis penelitian deskriptif-kualitatif, yaitu penelitian yang tidak menggunakan uji statistik dalam pengolahan datanya.

2. Pendekatan penelitian

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan orientasi teoritik pada content analisys yang berupaya menemukan isi pesan komunikasi verbal yang tertuang dalam teks. Bentuk teks yang kemudian akan ditemukan dan dipahami isinya adalah buku teks PAI SMA.

3. Sumber data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 macam yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah buku PAI tingkat SMA dan buku sekunder yaitu buku-buku penunjang penelitian yaitu berkaitan dengan islam radikal dan islam moderat sebagai pendukung untuk menganalisa nilai-nilai islam radikal dan islam moderat pada buku PAI tingkat SMA.

DAFTAR PUSTAKA

(18)

Cavatorta, Francesco, (2005). The ‘War on Terrorism’—Perspectives from Radical Islamic Groups. Journal of Irish Studies in International Affairs, Vol. 16 (2005). Diakses dari http://doras.dcu.ie/488/1/isia_16_1_2005.pdf

Daradjat Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, 1992, Cet.2; Jakarta: Bumi Aksara.

Dede Rosyada, Seminar Nasional Bertajuk Radikalisme dalam Perspektif Global dan Nasional, Kampus UIN Jakarta, 6 Juni 2015

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, (1995). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ed.II; Jakarta: Balai Pustaka

Fathoni, Muhammad Kholid. (2005). Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional Paradigma Baru, Jakarta: Departemen Agama RI.

Kurzman Charles, (2003) Wacana Islam Lliberal Pemikiran Islam Kontemporer Tentang Isu-isu Global, Cet.II, Jakarta: Paramadina.

Majid, Abdul dan dyan Andayani, (2006) Pendidikan Agama Islama Berbasis Kompetensi. Cet.III; Bandung: Remaja Rosdakarya

Marasabessy. Rahman Ismail. (2007). Pluralisme Agama Persprektid Al-Qur’an, Cet.I; Jakarta Selatan: Pustaka Mapan.

Munthahhari, Murtadha. (1993). Falsafah Pergerakan Islam, Cet. III; Jakarta: Mizan..

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (2002). Cet. III; Jakarta: Radar Jaya Offset.

Rahnema, Saeed, (2008). Radical islamism and failed developmentalism. journal of third world quarterly volume 29, issue 3, 2008. Diakses dari http://courses.arch.vt.edu/courses/wdunaway/gia5524/rahnema08.pdf

(19)

Syu’aibi, Ali dan Gills Kibil. (2004) Meluruskan Radikalisme Islam, Cet. I; Ciputat: Pustaka Azhary

Turmudi, Endang dan Riza Sihbudi. (2005). Islam dan Radikalisme di Indonesia. Cet.I; Jakarta: LIPI Press.

Zuahrini, Abdul Gafur dan Slamet As. Yusuf. (1983). Metodik Khusus Pendidikan Agama (dilengkapi dengan sistem modul dan permainan simulasi), Cet.VIII; Malang: Biro Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel.

Abdillah, Masykuri. Demokrasi di Persimpangan Makna: Respons Intelektual Muslim Indonesia terhadap Konsep Demokrasi 1966-1993. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999.

Assyaukanie, Luthfi. Ideologi Islam dan Utopia Tiga Model Negara Demokrasi di Indonesia. Jakarta: Freedom Institute, 2011.

Azra, Azyumardi. Pergolakan Politik Islam: dari Fundamentalisme, Modernisme, Hingga Post-Modernisme. Jakarta: Paramadina, 1996.

Bamualim, Chaider S. Fundamentalisme Islam dan Jihad antara Otentisiats dan Ambiguitas. Jakarta: PBB UIN dan KAS, 2004.

Al-Banna, Gamal. Jihad. Jakarta: Mata Air Publishing, 2006.

Baradath, Leon P. Political Ideologies: Their Origins and Impact. London: Macmillan, 1994.

Chirzin, Muhammad. Jihad dalam Al-Qur’an: Telaah Normatif, Historis, dan Prospektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Choueiri, Youssef M. Islamic Fundamentalism Boston: 1990.

Dekmejian, R. Hrair. Islam in Revolution: Fundamentalism in The Arab World. Syracuse, 1995.

Enayat, Hamid. Modern Islamic Political Thought. Austin, 1982. Hasan, Noorhaidi. Islam di Ruang Publik; Politik Identitas dan

(20)

Lim, Merlyna. Islamic Radicalism and Anti-Americanism in Indonesia: The Role of the Internet. Washington: East-West Center, 2005.

Al-Mawdûdî. Al-Jihâd fî Al-Islâm: War in Islam, V. Terj. Kaukab Siddique. Washington D.C: 1971-1973.

Peters, Rudolph. Jihad in Medieval and Modern Islam: The Chapter on Jihad from Averroes’ Legal Handbook Bidâyat Al-Mujtahid. Leiden: 1977.

Al-Qaraḍawy, Yûsuf. Fiqh Al-Jihâd. Qâhirah: Maktabah Wahbah, 2009. Diterjemahkan oleh Masturi Irham dkk. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2011.

_______. Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna. Terj. Bustami A. Gani dan Zainal Abidin Ahmad. Jakarta: Bulan Bintang, 1980.

Sabirin, Rahimi. Islam & Radikalisme. Jakarta: Ar Rasyid, 2004. Sachedina, A. A. “The Development of Jihâd in Islamic Revelation

and History” dalam J.T Kelsay (ed.), Cross, Crescent, and Sword. New York: 1990.

Singh, Bilveer dan Abdul Munir Mulkhan. Jejaring Radikalisme Islam di Indonesia: Jejak Sang Pengantin Bom Bunuh Diri. Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher, 2012.

Sivan, Emmanuel. Radical Islam: Medieval Theology and Modern Politics. New Haven, 1985.

Zada, Khamami. Islam Radikal: Pergulatan Ormas-ormas Islam Garis Keras di Indonesia. Jakarta: Teraju, 2002.

AF, Ahmad Gaus. “Pemetaan Problem Radikalisme di SMU Negeri di 4 Daerah” Jurnal Maarif, Vol. 8, No. 1 (Juli 2013): 172-191. Diakses dari http://maarifinstitute.org/ images/xplod/jurnal/vol%20viii%20no%201 %20juli %202013.pdf tanggal 25 September 2015.

(21)

%20no%201%20juli %202013.pdf tanggal 25 September 2015.

Qodir, Zuly, “ Perspektif Sosiologi tentang Radikalisasi Agama Kaum Muda” Jurnal Maarif, Vol. 8, No. 1 (Juli 2013): 14-41. Diakses dari http://maarifinstitute.org/ images/xplod/jurnal/vol%20viii %20no%201%20juli %202013.pdf tanggal 25 September 2015.

Zubadki, Zora A, “Kaum Muda dan Radikalisme” Jurnal Maarif, Vol. 8, No. 1 (Juli 2013): 14-41. Diakses dari http://maarifinstitute.org/ images/xplod/jurnal/vol%20viii %20no%201%20juli %202013.pdf tanggal 25 September 2015.

Muhd. Abdullah Darraz “Radikalisme dan Lemahnya Peran Pendidikan Kewargaan” Jurnal Maarif, Vol. 8, No. 1 (Juli 2013): 14-41. Diakses dari http://maarifinstitute.org/ images/xplod/jurnal/vol%20viii %20no%201%20juli %202013.pdf tanggal 25 September 2015

Muhammad, Wahyudi Akmaliah dan Khelmy K. Pribadi “Anak Muda, Radikalisme, dan Budaya Populer” Jurnal Maarif, Vol. 8, No. 1 (Juli 2013): 14-41. Diakses dari http://maarifinstitute.org/ images/xplod/jurnal/vol%20viii %20no%201%20juli %202013.pdf tanggal 25 September 2015

Ahmad Gaus AF, Pribadi “Pemetaan Problem Radikalisme di

SMU Negeri di 4 Daerah” Jurnal Maarif, Vol. 8, No. 1 (Juli 2013): 14-41. Diakses dari http://maarifinstitute.org/ images/xplod/jurnal/vol%20viii %20no%201%20juli %202013.pdf tanggal 25 September 2015

Azra, Azyumardi. “Revisitasi Islam Politik dan Islam Kultural di Indonesia”, Jurnal Indo-Islamika, Vol. 1, No. 2, (2012 M/1433 H): 233-244.

(22)

Nahrawi, Muh. Nahar. “Perkembangan Pemaknaan Jihad dalam Islam” Jurnal Harmoni 7, No. 32 Oktober-Desember (2009): 64-73.

Qodir, Zuly. “Perspektif Sosiologi tentang Radikalisasi Agama Kaum Muda” Jurnal Maarif, Vol. 8, No. 1 (Juli 2013): 45-65. Diakses dari http://maarifinstitute.org/ images/xplod/jurnal/vol%20viii%20no%201 %20juli %202013.pdf tanggal 25 September 2015.

Rahman, Fazlur. “Kekerasan Atas Nama Tuhan: Respon “Netizen” Indonesia” Jurnal Indo-Islamika, Vol. 1 No. 2 (2012): 197– 231.

Riedel, Helmut P.R dkk, “Psychological Behaviorism Theory of Bipolar Disorder” The Psychological Record, No. 51, (2001):

510–511. Diakses dari Radikalisme_ Islam.pdf tanggal 25 September 2015.

Rusmulyadi. “Framing Media Islam Online atas Konflik Keagamaan di Indonesia” Jurnal Komunikasi Islam, Vol. 03, No. 01, (Juni

2013): 47-74. Diakses dari

http://jki.uinsby.ac.id/index.php/jki/article/view/57/42 tanggal 25 September 2015.

R, Yayuk Eny. “Karakteristik Pemakaian Bahasa dalam Spanduk Kampanye Pemilihan Kepala Daerah di Yogyakarta” Penelitian Dosen, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Yogyakarta (2005).

Saidurrahman. “Fiqh Jihad dan Terorisme (Perspektif Tokoh Ormas Islam Sumatera Utara)” Asy-Syir’ah, Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum, Vol. 46, No. I, (Januari-Juni 2012): 53-82.

Diakses dari

(23)

Smith, Christopher. “Anti-Islamic Sentiment and Media Framing during the 9/11 Decade” Journal of Religion and Society 5 (2013): 1 – 15.

Sukabdi, Zora A. “Kaum Muda dan Radikalisme (?)”Jurnal Maarif, Vol. 8, No. 1 (Juli 2013). Diakses dari http://maarifinstitute.org/images/xplod/ jurnal/ vol%20viii %20no%201%20juli%202013.pdf tanggal 25 September 2015.

Pengertian PAI Pp 55 no 2007 dan 2010

Referensi

Dokumen terkait

Satu dari sekian banyak masalah dalam sebuah keluarga yang sering dialami anak yang memiliki saudara lebih dari satu yakni munculnya rasa persaingan antar saudara kandung atau

Etika normatif juga dapat dibedakan dari segi benar dan tidaknya suatu tindakan dan baik-buruknya akibat yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut, yakni: 1) Etika Deontologis,

Sehingga menurut Snouck, dalam bidang agama Pemerintah Hindia Belanda hendaknya memberikan kebebasan kepada umat Islam Indonesia untuk menjalankan Agamanya sepanjang

Artinya, penyandang disabilitas menganggap positif metode yang digunakan oleh BPBD dan tim SAR Klaten dalam menyampaikan komunikasi tentang bencana, masyarakat

Memperoleh gambaran tentang perubahan perilaku yang terjadi pada anak jalanan dalam melakukan aktivitas mendapatkan penghasilan, dan implikasinya terhadap kebijakan

Untuk mengetahui hasil belajar Biologi pada siklus I dan siklus II dengan penerapan model pembelajaran langsung pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Batu

Bidan Novi Inggerianie, S.ST. adalah tempat usaha yang bergerak dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat. Bidan Novi Inggerianie, S.ST. didirikan