• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI DAN KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STRATEGI DAN KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1

STRATEGI DAN KEBIJAKAN EKONOMI PADA MASA KEKUASAAN DINASTI UMAYYAH

oleh: Asep Koswara*

*Master Student of Islamic Economy at Sunan Gunung Djati Islamic University e-mail: [email protected], www.asepkoswara.com

Abstract

The purpose of this paper is to determine the depth of the economic policy and strategy at the Umayyad period. The data is obtained from several sources such as books, papers, journals and articles. Furthermore, the data presented in the clear description and interpreted critically. The results of this study is to find a few strategies and policies – influence on – the economic field. Some of them are fiscal reform policy, coinage, built the office of state notes, the emerged of post services, the policy of urbanization, built agricultural irrigation, the beginning of maritime economy. In the Umayyad period, the position of non-Muslims got a chance to occupy government positions such as becoming comptroller, but on the other hand, non-Muslims are also obliged to pay more tax. Keyword: Dynasty of Umayyad, Economic Policy, Economic strategy and the state system reformation

Pendahuluan

Sejarah Islam menjadi sumber lain selain Al-qur’an dan Hadis yang bisa

dijadikan pedoman hidup. Mempelajarinya adalah sebuah keharusan sebagai

upaya untuk mengetahui dan mendapatkan banyak pelajaran termasuk ilmu

pengetahuan yang bisa dijadikan pedoman di masa yang akan datang. Dengan

mempelajari sejarah jauh ke belakang, kita bisa melihat jauh kedepan[1]. Tak salah

kiranya jika Presiden soekarno mengatakan ‘jangan sekali-sekali meninggalkan

sejarah’. Seharusnya, studi sejarah menjadi agenda wajib untuk dipelajari

termasuk bagi umat Islam, apalagi banyak yang percaya jika Islam is the youngest

of the great world religions[2].

[1]

Suherman. 2012. Mereka Besar Karena Membaca. Bandung: Literate Publishing. hlm.88

[2]

(2)

2

Dalam sejarah islam, terdapat lima fase penting yang perlu diketahui yakni

fase Wahyu, fase Ekspansi, fase Ijtihad, fase Disintegrasi dan fase Kebangkitan.

Fase wahyu adalah sejarah yang terjadi pada masa Rasulullah Muhammad SAW.

Kemudian fase ekspansi, ini terjadi pada masa khulafaul rasyidin dan berakhir

pada masa bani Ummayah. Selanjutnya, fase ijtihad adalah sejarah yang terjadi

pada masa Bani Abbasiyah yang mana sering disebut sebagai masa kebangkitan

ilmu pengetahuan dan kejayaan islam. Selanjutnya, islam kembali mengalami

kemunduran, dan bangkit kembali.

Kali ini, penulis membahas perkembangan sejarah di masa akhir ekspansi

yakni pada masa kekuasaan Bani Umayyah. Adapun fokus pembahasan yang

disoroti adalah prihal kebijakan dan strategi apa saja yang muncul di bidang

ekonomi. Hal ini disesuaikan dengan bidang keilmuan yang tengah dipelajari oleh

penulis saat ini.

Sejarah islam pada masa bani umayyah (661 M-750 M) cukup menarik

untuk dipelajari. Nama ” Daulah Umayah” berasal dari nama‘Umayah ibnu’ Abdi

Syam ibnu ‘Abdi Manaf, yaitu salah seorang dari pemimpin Qurays di zaman

Jahiliyah [3]. Para keturunan bani umayyah ini memiliki kelebihan khususnya

dalam bidang politik dan pertahanan. Sejak jaman Nabi Muhammad dan masa

khulafaul rasyidin beberapa keturuan bani ini cukup berpengaruh dalam

pemerintahan. Misalnya pada jaman Umar Bin Khattab, Muawiyah bin Abd

Supyan dipercaya menjadi salah satu pemimpin angkatan laut. Kemudian, pada

masa Utsman, banyak keturunan Umayyah ini yang dipercayai menduduki posisi

strategi dalam pemerintah. Karena terlalu banyak yang menduduki jabatan

strategis di pemerintah, kemudian inilah yang mengundang pendapat jika

umayyah pemicu nepotisme yang terjadi pada masa Utsman bin Affan. Bahkan

ada yang mengatakan bahwa kerusakan pemerintahan Ustman akibat

nepotismenya kepada Bani Umayah, sehingga mendapatkan tantangan dari para

pendukung Ali [4].

[3]

Prof. Dr. A. Syalabi. 2003. Sejarah dan Kebudayaan Islam 2. Jakarta: Pustaka al-Husna. hlm. 21

[4]

(3)

3

Pada masa kekuasaan bani umayyah ini ditandai dengan empat ciri khas[5]

yakni: pertama, adanya perpindahan sistem pemerintahan dari khalifah kedalam

bentuk dinasti. kedua, pada masa ini ditandai dengan urbanisasi dalam skala yang

besar. ketiga, ditandai dengan adanya keinginan untuk melakukan ekspansi politik

salah satunya dengan tujuan perdagangan. dan keempat, ditandai dengan adanya

reformasi sistem keuangan negara dan sistem administrasi. Meski pada masa

umayyah masih masuk dalam fase ekspansi, namun kebijakan dalam bidang

ekonomi cukup banyak dilakukan. Beberapa kebijakan ekonomi yang ada tersebar

dalam beberapa kepemimpinan dari jaman pemimpin pertama yakni Muawiyah

sampai Marwan. Berikut masa kekuasaan pada masa dinasti umayyah[6]:

Tabel Periode Kepemimpinan Bani Umayyah

NO NAMA MASA BERKUASA

1 Mu’awiyah ibnu Abi Sufyan 661-681 M

2 Yazid ibn Mu’awiyah 681-683 M

3 Mua’wiyah ibnu Yazid 683-685 M

4 Marwan ibnu Hakam 684-685M.

5 Abdul Malik ibn Marwan 685-705 M

6 Al-Walid ibnu Abdul Malik 705-715 M

7 Sulaiman ibnu Abdul Malik 715-717 M

8 Umar ibnu Abdul Aziz 717-720 M

9 Yazid ibnu Abdul Malik 720-824 M

10 Hisyam ibnu Abdul Malik 724-743 M

11 Walid ibn Yazid 734-744 M

12 Yazid ibn Walid [ Yazid III] 744 M

13 Ibrahim ibn Malik 744 M

14 Marwan ibn Muhammad 745-750 M

[5]

Ahmed a.f. El-ashker and Rodney Wilson. 2006. Islamic Economy: A Short History. Koninklijke Brill NV, Leiden, The Netherlands. hlm. 144

[6]

(4)

4

Ada beberapa alasan dilakukan penulisan paper ini. Selama ini memang

cukup banyak sejarah peradaban islam yang ditulis oleh banyak ahli, begitupun

dengan beberapa penelitian yang dituangkan dalam paper, artikel dan lainnya.

Namun meski begitu, keberadaan paper yang fokus pada pembahasan prihal

ekonomi memang sangat terbatas. Karenanya, ini menjadi peluang bagi penulis

untuk kemudian mensarikan sejarah islam yang ada dengan hanya

menitikberatkan pada strategi dan kebijakan ekonomi saja. Dengan begitu,

penulisan ini diharapkan bisa memberikan wawasan tentang sejarah pemikiran

ekonomi khususnya pada masa dinasti umayyah secara mendalam. Adapun

pendekatan yang dilakukan oleh penulis adalah Idealist Approach[7]. Dalam

prakteknya, penulisan dilakukan dan pengumpulan beberapa sumber tentang

sejarah islam, lalu kemudian memilahnya sesuai dengan topik, dan kemudian

menginterpretasikan-nya dalam bentuk tulisan.

Reformasi Sistem

Pada mula pemerintahan muawiyah memimpin, masalah utama yang

muncul adalah prihal stabilitas sistem. Oleh karenanya, Muawiyah kemudian

mengambil inisiatif untuk mereformasi sistem yang digunakan sebelumnya oleh

Ali bin Abi Thalib. Reformasi sistem ini dilakukan sebagai upaya untuk

menstabilkan kondisi pasca runtuhnya kepemimpinan Ali. Adapun sistem yang

diadopsi oleh Muawiyah adalah sistem pemerintahan yang telah diterapkan

Byzantium [8]

. Sistem yang dipilih meliputi tiga hal yakni politik dan militer

(political and military affairs), pengumpulan pajak (tax collection;) dan

administrasi keagamaan (religious administration).

[7]

Dalam pendekatan sejarah ada minimal dua teori yang bisa digunakan yaitu Idealist Approach dan Reductionalitst Approach. Maksud idealist approach adalah dimana peneliti berusaha memahami dan menafsirkan fakta dalam sejarah dengan mempercayai secara penuh fakta yang ada tanpa keraguan. Sementara reductionalitst approach adalah dimana peneliti berusaha memahami dan menafsirkan fakta sejarah dengan penuh keraguan.

[8]

(5)

5

Kebijakan reformasi sistem ini diterapkan pada masa awal kepemimpinan

Muawiyah karena mau tidak mau pada masa ini adalah masa awal kekuasaan yang

masih belum stabil. Pada masa awal kekuasaannya, Muawiyah lebih disibukan

dengan upaya konsolidasi memerangi beberapa wilayah kekuasaan islam yang

tidak mau mengakui kekhalifahannya. Akan tetapi meski disibukan dengan

beberapa masalah politik, Muawiyah sudah mampu membuat beberapa kebijakan

yang cukup berpengaruh signifikan terhadap perkembangan ekonomi pada waktu

itu. Kebijakan-kebijakan tersebut kemudian diikuti dan disempurnakan oleh

beberapa kepemimpinan setelah Muawiyah.

Dinasti Umayyah dideklarasikan pada tahun 660 di Yerusalem [9], namun

tidak sekaligus beberapa wilayah islam mengakuinya. Sebelumnya dinasti ini

dipandang sebelah mata sehingga setelah sepeninggal Ali, ada banyak daerah

yang mendeklarasikan pemimpinnya sendiri. Misalnya di Irak, warga pendukung

Ali mendeklarasikan Al-Hasan –anak tertua ali –sebagai pemimpin penerus Ali.

Kemudian, di Mekah dan Madinah, warga disana tidak begitu simpati terhadap

Umayah, karena dia adalah keturunan Umayyah yang pernah menentang nabi

serta baru masuk islam setelah dilakukan penaklukan Mekah.

Dengan banyaknya penentangan tersebut, Muawiyah tentu harus pandai

menyusun strategi mengembalikan kekuasaan islam kepadanya. Namun bukan

Muawiyah namanya jika dia tidak pandai dalam menyusun strategi. Muawiyah

memang bukan eksekutor yang hebat seperti Ali, namun dia adalah seorang

konseptor yang handal. Dia mampu menjadi organisator[10] yang mumpuni dalam

bidang pemerintahan serta militer. Itulah yang membuatnya berhasil menata rapih

pemerintahannya. Meski di permukaan tampak kacau, namun dia mampu

membangun sebuah masyarakat muslim yang tertata dengan baik.

[9]

Philip K. Hitti. 2010. History of the Arab: from the Earliest Time to the Present. terj. R.Cecep Lukman Hakim dan Dedi Slamet Riyadi. dengan judul: History of the Arab: Rujukan Induk Paling Otoritatif tentang Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta

[10]

(6)

6

Di dalam bidang militer misalnya, Muawiyah ada sesorang yang sangat

unggul dibanding dengan rekan-rekan sejamannya. Itulah yang menjadi alasan

mengapa pada masa pemerintahan Umar bin Khatab, Muawiyah diangkat sebagai

salah seorang panglima angkatan laut yang hebat. Dalam mampu menciptakan

kader militer yang hebat dengan melatih pasukan mentah yang terdiri dari

orang-orang Suriah. Selain itu, dia juga mampu mereformasi sistem militer dengan

menghapuskan sistem militer kuno yang berdasarkan pada kesukuan [11].

Muawiyah mampu menggaji semua prajurit yang ada sehingga mereka begitu

loyal terhadap perintahnya.

Pembangunan Kantor Catatan Negara

Banyak sejarawan yang percaya bahwa pembangunan kantor catatan negara

dibangun pertama kali pada masa awal dinasti umayyah tepatnya pada masa

kepemimpinan Muawiyah[12]. Kantor catatan ini cukup berperan penting dalam

mengatur proses berlangsungnya sebuah negara. Berbagai catatan dalam berbagai

bidang ada pada kantor tersebut, seperti catatan keuangan. Kemudian, kantor

catatan negara ini disempurnakan dan ditata rapi pada masa Khalifah Abd

al-Malik. Dia berhasil melakukan penbenahan-pembenahan administrasi

pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab (Arabisasi) sebagai bahasa resmi

pemerintahan Islam. Semua pejabat pemerintahan kemudian diganti oleh

mereka-mereka yang mempunyai kemampuan dalam bahasa arab.

Munculnya Layanan Pos

Pada masa umayyag juga dibangun layanan pos sebagai alat pertukaran informasi

[13]

. Dengan adanya sistem ini, masyarakat bisa dimudahkan untuk menyampaikan

beberapa informasi kepada keluarganya yang jauh. Layanan ini juga berdampak

pada komunikasi yang baik dalam bidang ekonomi. Jasa pos yang digagas

Muawiyah ini kemudian ditata secara rapih pada masa Abd-Malik. Pada saat itu

jasa pos yang ditawarkan adalah antara Damaskus dan ibu kota provinsi lainnya.

[11]

Ibid. hlm 242 [12]

Ibid. hlm 250 [13]

(7)

7

Adapun media yang digunakan dalam proses pengantaran surat-surat dan

dokumen lainnya dilakukan dengan menggunakan hewan. Adapun hewan yang

digunakan adalah ‘fresh animals, mules and horses in Persia, and camels in Syria

and Arabia’[14]. Kuda dan unta memang menjadi hewan yang biasa digunakan

sebagai alat transportasi pada jaman tersebut. Namun memang proses pengiriman

tidak begitu singkat, melainkan butuh waktu yang cukup lama untuk bisa

menyampaikan sebuah surat.

Selain mengantarkan paket kiriman, para petugas pos pada masa tersebut juga

ditugasi untuk mencatat dan mengirimkan kepada khalifah beberapa pristiwa

penting yang terjadi di wilayah mereka masing – masing. Dengan kata lain, dalam

sistem pos yang digunakan tidak sepenuhnya bersifat rahasia, namun ada

beberapa kebijakan untuk wajib lapor kepada khalifah.

Umat Kristen Jadi Pengawas Keuangan

Salah satu kebijakan yang sangat cukup kontras yang dilakukan pada masa dinasti

umayyah adalah adanya penempatan umat kristen dalam sistem pemerintah salah

satunya menjadi pengawas keuangan. Umat kristen yang diberi peluang tersebut

diantaranya keturunan Masyur ib Sarjun yang merupakan keluarga kristen

terhormat. Hal ini dilakukan sebagai strategi Muawiyah untuk menggalang

dukungan dari umat kristen, apalagi pada waktu itu pendukung Ali masih besar

dan loyal serta tidak mengakui kekhalifahannya.

Muawiyah memang dianggap sebagai salah satu pemimpin yang melakukan

sekularisme. Bahkan ada yang mengakatakn jika akar sekularisme berasal dari

kepemimpinan dinasi Umayyah[15].. Hal dilihat dari bukti data dimana Muawiyah

memberikan kesempatan kepada umat selain Islam menduduki posisi penting di

pemerintahan. Tudingan ini banyak disampaikan oleh para sejarahwan, namun

ada juga sebagian sejarahwan yang menyampaikan interpretasi berbeda.

[14]

Ahmed a.f. El-ashker and Rodney Wilson Op.Cit., 130

[15] ‘Akar Sekularisme dalam Konsep Kenegaraan’. dilansir dari situs Muhamadiyah

(8)

8

Penerbitan Uang Logam

Teknologi pada masa dinasti Umayyah ini memang cukup modern, bisa dilihat

dari adanya mesin penerbitan uang logam[16]

. Penerbiatan uang logam dilakukan

pada masa kepemimpinan Abd al-Malik dan Al-Walid. Pada saat itu, pemerintah

mendirikan tempat percetakan uang yang bertempat di Daar Idjard. Pencetakan

mata uang dilakukan secara terorganisir dengan kontrol penuh dari pemerintah.

Pada mulanya, uang yang dicetak adalah uang logam tiruan dari dinar dan dirham

yang sudah ada. Namun kemudian pada tahun 77 H/697 Masehi, Abdul Malik

mencetak dinar asli yang bercorak islam yang berisi teks Arab di ukir dengan

tulisan kufi.

Berdasarkan sejarah, itulah dinar emas dan dirham perak yang murni hasil karya

asli dengan bahasa Arab. Sejak saat itu pula, dinasti umayyah meninggalkan

Dinar Bizantium dan Dirham Kisra yang sudah sejak lama digunakannya.

Kebijakan ini berawal dari pemikiran bahwa selain memiliki nilai ekonomi, mata

uang juga sebagai ciri khas kedaulatan Dinasti Islam. Selain itu, mata uang asli ini

juga berfungsi sebagai sarana keabsahan pemerintah dimana namanya terpatri

pada mata uang tersebut.

Kebijakan Pembatasan Urbanisasi

Kebijakan ini muncul akibat banyaknya orang yang baru masuk islam terutama

yang tinggal di Irak dan Khurasan, mereka meninggalkan desa tempat mereka

bekerja sebagai petani. Mereka berbondong-bondong pergi ke kota dengan

harapan bisa bergabung menjadi prajurit[17]

. Tentu fenomena ini memberikan

dampak yang buruk terhadap pembendaharaan negara dimana pemasukan

keuangan menjadi berkurang. Al-Hajjaj (wakil Abd Malik di irak) kemudian

membuat kebijakan untuk mengembalikan orang-orang tersebut ke ladang-ladang

mereka untuk mengolah pertaniannya. Mereka kemudian kembali diwajibkan

untuk membayar pajak.

[16]Chase F., Robinson. 2010. ‘Conclusion: From Formative Is

lam to Classical Islam. The New Cambridge History of Islam Volume 1: The Formation of the Islamic World Sixth to Eleventh Centuries. Cambridge: Cambridge University Press

[17]

(9)

9

Warga irak berbondong-bondong ingin menjadi prajurit dikarenakan mereka

melihat ada keuntungan yang lebih yang didapatkan oleh para prajurit waktu itu.

Selain itu, mereka juga melihat ada ketidakadilan dalam pembayaran pajak

dimana pada waktu itu oang-orang Islam-arab lebih mendapatkan keistimewaan

dibanding dengan islam wilayah lainnya. Namun dengan adanya penyelesaian

kasus ini, maka kemudian orang Arab-Islam-pun kembali diwajibkan untuk

membayar pajak tanah.

Reformasi Budaya Pertanian

Dalam bidang pertanian, ada kebijakan reformasi yang cukup hebat membantu

warga dalam mengolah tanahnya. Hal ini dilakukan dengan baik setelah dilakukan

kebijakan pembatasan urbanisasi. Pemerintahan pada masa Abd-al Malik

membangun perubahan atau mereformasi bidang pertanian. Jika sebelumnya

warga mengolah lahan pertanian mereka dengan bergantung pada musim hujan,

kini praktek bertani bisa dilakukan kapan saja karena ketersediaan air yang cukup

melimpah.

Kebijakan yang dilakukan adalah dengan menggali sejumlah kanal yang dialirkan

dari Sungai Tigris dan Efrat[18]

. Tanah rawa yang ada kemudian di keringkan agar

kemudian bisa dibajak. Selain itu, beberapa tanah kering yang terlantar juga diairi

dan dioptimalkan sebagai lahan pertanian. Kebijakan ini memang cukup

berpengaruh signifikan terhadap kondisi perekonomian warga sehingga bisa

menghasilkan keuangan yang melimpah. Tidak hanya untuk warga namun juga

masuk pada khas keuangan negara.

Teknik pengairan yang dilakukan pada jaman umayyah ini adalah yang terbaik

dan tak tertandingi pada masa itu khususnya di dunia timur. Kita bisa lihat

peninggalannya sampai saat ini yang masih berfungsi dengan baik.

[18]

(10)

10

Oasis subur dan taman – tamannya yang indah adalah hasil peninggalan pada

dinasti umayyah. Disana, ada kanal yang namanya Nahr-Yazid sebagai

penghargaan terhadap khalifah Yazid sebagai pemimpin yang membuat kanal

tersebut untuk menyempurnakan irigasi di wilayah Gutah[19]

.

Reformasi Fiskal

Pada masa umayah, ada juga kebijakan reformasi fiskal degan merubah tata kelola

keuangan. Reformasi fiskal ini dilakukan setelah adanya pembatasan urbanisasi

dan reformasi budaya pertanian. Sebelumnya, memang ada kemudahan yang

diberikan pada umat islam khususnya warga arab asli seperti bebas pajak. Berbeda

dengan warga non muslim yang diwajibkan untuk membayar pajak lebih besar.

Namun kemudian, ada kebijakan reformasi dimana hampir semua pemilik tanah

baik muslim maupun non muslim diwajibkan membayar pajak tanah.

Kemudian, pada masa Umar bin Abdul Aziz, beliau memiliki pandangan bahwa

menciptakan kesejahteraan masyarakat bukan dengan cara mengumpulkan pajak,

melainkan dengan mengoptimalkan kekayaan alam yang ada[20]

. Umar percaya

jika hal itu bisa dilakukan dengan mengelola keuangan negara dengan efektif dan

efisien. Umar bin Abdul Aziz tidak hanya layak disebut sebagai pemimpin negara,

tetapi juga sebagai fiskalis muslim. Dia mempunyai kemamampuan untuk

merumuskan, mengelola, dan memutuskan kebijakan fiskal dengan baik.

Kebijakan fiskal ini cukup berdampak pada perekonomian warga sehingga banyak

yang mendapatkan manfaat. Dalam bidang ekonomi, Umar bin Abdul Aziz telah

memberikan banyak sumbangan pemikiran yang sangat bagus apalagi pemikiran

tersebut telah berhasil diterapkan dalam sistem ekonomi yang berkadilan.

Dikabarkan pada masa ini, Umar bin abdul Aziz kesulitan untuk mendapatkan

penerima zakat. Ini bisa dijadikan indikator keberhasilan pemerintahanya dalam

menyejahterakan rakyatnya.

[19]

Philip K. Hitti. Op.Cit., hlm. 263 [20]

(11)

11

Pengembalian Harta ke Baitul Maal

Para khalifah pada masa dinasti Umayyah khususnya yang memimpin sebelum

khlaifah Umar bin Abdul Aziz, mereka suka berpoya-poya. Peran baitul maal

seolah menjadi lumbung harta para punggawa kerajaan dimana mereka bisa

seenaknya mengambil harta dari baitul maal tersebut. Namun tidak semua

khalifah seperti itu, Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu pengecualian dari para

pemimpin umayah yang rakus dan suka mengambil harta secara ilegal. Bahkan

ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz ini, beliau mengambil kebijakan untuk

mengembalikan harta-harta tersebut[21].

Umar bin Abdul Aziz sendiri tidak pernah mengambil harta sedikitpun dari baitul

maal tersebut. Beliau juga menyuruh istrinya dan keluarganya mengembalikan

harta yang telah diambilnya itu. Bahkan dikabarkan semua keluarga Umayyah

menjadi miskin akibat kebijakannya itu. Namun yang dilakukan oleh Umar bin

Abdul Aziz adalah karena dia tahu bahwa harta tersebut bukanlah harta yang

halal. Dalam kehidupannya dia juga tidak ingin diperlakukan berbeda oleh

umatnya. Dia tampil sederhana dan menghindari pemborosan yang biasa

dilakukan oleh kerajaan.

Kebijakan Pengurangan Pajak bagi Umat Kristen

Kebijakan pengurangan pajak juga muncul yakni pada masa Khalifah Umar bin

Abdul Aziz. Dia menetapkan kebijakan mengurangi beban pajak untuk kaum

Kristen najran dari 2000 keping menjadi 200 keping. Hal itu dilakukan karena

ternyata kaum tersebut kebanyakan bukan orang kaya. Selain itu, dia juga

melarang pembelian tanah non-Muslim kepada umat islam, karena banyak tanah

orang Kristen yg menjadi kaum muslim yang kemudian menyebabkan umat

Kristen tidak memiliki lahan untuk digarap[22].

[21]

Muhammad Moljum Khan. The Muslim 100 the Lives, Thought and Achievements of the Most Influental Muslim in History. terjemaah oleh Wiyanto Suud dan Khairul Imam. dengan Judul Baru: 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah. Jakarta: Noura Books Mizan Pustaka

[22]

(12)

12

Selain itu, Umar bin Abd Aziz juga mewajibkan kharaj kepada umat islam dan

jizyah (pajak jiwa) kepada non-muslim. Ini menunjukan adanya sikap toleran

khalifah Umar kepada warganya yang bukan muslim serti mencerminkan

keadilan. Tidak salah jika banyak umat kristen pada masa itu bisa hidup dengan

tenang dan bisa berkembang dengan baik karena mereka tidak diperangi.

Kebijakan Otonomi Daerah

Kebijakan lain yang muncul pada masa khalifah Umar Ibn Abdul Aziz adalah

menerapkan kebijakan otonomi daerah (OTDA). Pada masa ini, gubernur yang

ditunjuk dan menguasai wilayah tertentu memiliki kewajiban untuk menarik pajak

dan mengelolanya. Pada waktu itu, setiap wilayah islam memiliki wewenang

untuk mengelola zakat dan pajak sendiri dan tidak diharuskan menyerahkan upeti

kepada pemerintah pusat[23]. Bahkan, pada masa ini muncul juga konsep ‘subsidi’

dimana pemerintah pusat akan memberikan subsidi kepada wilayah islam yang

minim pendapatan zakat dan pajaknya. Pada masa ini juga, ada tokoh yang

ditunjuk sebagai amil shadaqah yang bertugas mendistribusikannya secara adil

dan merata. Dengan begitu, distribusi harta berjalan dengan baik sehingga

warganya bisa sejahtera.

Cikal Bakal Munculnya Ekonomi Maritim

Ekonomi maritim juga pertama kali muncul pada masa dinasti Umayyah tepatnya

pada saat Muawiyah berhasil menguasai galangan kapal yang ada di Akka (Acre)

[24]

. Dalam sejarah islam, galangan yang dikuasainya itu menjadi salah satu

galangan terbesar kedua setelah mesir lengkap dengan perlengkapannya. Pada

mulanya, memang dugunakan untuk mengangkut prajurit islam. Kemudian pada

masa kepemimpinan setelah Muawiyah, galangan kapal tersebut dipindahkan ke

Tyre dan tetap disana sampai pada masa Abassiyah.

Salah satu ekpansi yang dilakukan pada masa umayyah ini adalah dengan

menggunakan jalur laut. Beberapa wilayah ekspansi seperti India, Cina[25].

[23]

Ibid hlm 120

[24]

Philip K. Hitti. Op.Cit., hlm. 263

[25]

(13)

13

Aprika Utara dan Spanyol juga sebagian menggunakan jalan laut. Setelah

berhasil, kemudian ini menjadi peluang untuk dinasti umayah melakukan

penjualan atau dagang (trade) [26]. Memang dalam banyak literatur tidak dibahas

secara mendalam tentang kehidupan warga pantai pada saat itu. Namun dengan

adanya galangan kapal ini, maka bisa ditafsirkan jika teknologi dalam

kemampuan mereka membangun kapal sudah cukup mumpuni. Selain itu, para

pemilik kapal juga merupakan bagian dari kebutuhan salah satunya kebutuhan di

bidang ekonomi kelautan (maritim).

Penutup

Ada banyak hal yang bisa didapatkan dengan mempelajari sejarah islam baik

secara keseluruhan atau fokus pada bidang tertentu. Salah satu bidang yang kini

tengah banyak dipelajari adalah bidang ekonomi. Pemikiran ekonomi terus

berkembang dari jaman rasulullah sampai sekarang. Salah satu masa yang

menarik untuk dipelajari adalah pemikiran ekonomi pada masa Umayyah. Ini

adalah tonggak baru sistem ekonomi pada tataran pemerintahan bentuk dinasti.

Dari hasil studi dari berbagai literatur, terryata ada begitu banyak kebijakan dan

strategi bidang ekonomi yang tengah ditelurkan oleh banyak pemimpin pada masa

dinasti Umayyah. Beberapa diantaranya ada kebijakan pada tataran sistem

keuangan yang fokus pada reformasi sistem yang sudah ada. Reformasi sistem ini

dilakukan dalam berbagai sendir kehidupan ekonomi; hasilnya ada yang

berdampak positif dan ada juga yang tidak.

Selama ini, ada banyak sekali buku dan literatur yang membahas tentang sejarah

kebudayaan islam dari mulai kelahirannya sampai sekarang. Namun masih sangat

terbatas yang hanya membahas tentang kebijakan ekonomi saja. Padahal saat ini,

publik dunia tengah menantikan beberapa pemikiran ekonomi islam yang

sebagian sudah ada banyak yang diyakini keefektifannya. Karenanya, saran dari

penulis, pengkajian terhadap ekonomi islam termasuk menggali sejarahnya adalah

hal urgen yang harus segera dilakukan khususnya oleh para intelektual muslim.

[26]

(14)

14

Referensi:

Ahmed a.f. El-ashker and Rodney Wilson. 2006. Islamic Economy: A Short

History. Koninklijke Brill NV, Leiden, The Netherlands

‘Akar Sekularisme dalam Konsep Kenegaraan’. dilansir dari situs Muhamadiyah Mesir. pcimmesir.com (diakses pada 23 Oktober 2015)

Chase F., Robinson. 2010. ‘Conclusion: From Formative Islam to Classical

Islam’, in Chase F. Robinson (ed.), The New Cambridge History of Islam

Volume 1: The Formation of the Islamic World Sixth to Eleventh Centuries.

Cambridge: Cambridge University Press

Drs. Badri Yatim, M.A. 1998. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta, PT. Grafindo

Persada

Lise Hudson. 2011. Umayyad Dynasti: What Happening Politically, Socially and

Economically?. Full Transcript Presentation: PREZI.COM

Muhammad Moljum Khan. The Muslim 100 the Lives, Thought and Achievements

of the Most Influental Muslim in History. terjemaah oleh Wiyanto Suud dan

Khairul Imam. dengan Judul Baru: 100 Muslim Paling Berpengaruh

Sepanjang Sejarah. Jakarta: Noura Books Mizan Pustaka

Philip K. Hitti. 2010. History of the Arab: from the Earliest Time to the Present.

terj. R.Cecep Lukman Hakim dan Dedi Slamet Riyadi. dengan judul:

History of the Arab: Rujukan Induk Paling Otoritatif tentang Sejarah

Peradaban Islam. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta

Prof. Dr. A. Syalabi. 2003. Sejarah dan Kebudayaan Islam 2. Jakarta: Pustaka

al-Husna

Stefan Heideman. 2010. Post-Class: Caliphate Economy in Umayyad and

Abbasid. Cambridge: Cambridge University Press

Gambar

Tabel Periode Kepemimpinan Bani Umayyah

Referensi

Dokumen terkait

Seni budaya Jawa Barat yang hidup atau yang berkembang pada masa. kemerdekaan merupakan kelanjutan dari seni

Karena anggapan saat ini khususnya di masa post modern ini bahwa dengan mendekati Allah dengan filsafat ilmu maka manusia bisa terjebak dengan pengatahuan mereka

pemerintahan Umar, orang-orang kafir tidak lagi mendapatkan zakat sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan Abu Bakar dengan alasan bahwa kondisi umat Islam pada

Hasil dari dakwah ekonomi umat pada Pesantren Shiddiqiyyah yakni memberi santunan kepada mereka yang tidak berkecupan dalam pemenuhan biaya kebutuhan hidup seperti orang

Sering terjadi ketegangan antara iman dan profesi orang-orang Kristen dan mereka tidak mampu untuk menyelesaikan hal ini, tidak banyak model yang dapat menjadi

Golongan Paulus terdiri dari kaum Libertin, mereka mendengar khotbah Paulus tentang kemerdekaan Kristen yang menimpulkan bahwa mereka dapat hidup seenaknya,

Dengan melihat berbagai kondisi yang terjadi selama masa demokrasi Liberal, pemilu yang tidak bisa menciptakan stabilitas politik, gejolak di berbagai daerah, diperparah

Pada masa Nabi Muhammad SAW, sumber dari penerimaan negara bisa dibedakan menjadi tiga klasifikasi yang besar yaitu dari umat islam sumber penerimaan negara berasal dari pajak tanah