• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGARUH AKTIFITAS FISIK DAN PE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS PENGARUH AKTIFITAS FISIK DAN PE"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH AKTIFITAS FISIK DAN PERENCANAAN MAKAN TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH

PADA PENDERITA DM TIPE 2 DI KOTA CIMAHI TAHUN 2010

Oleh :

Dyan Kunthi Nugrahaeni1

1

Dosen STIKES Jenderal A. Yani Cimahi

ABSTRAK

Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas di negara berkembang dan menjadi beban bagi pelayanan kesehatan dan perekonomian. Faktor risiko terjadinya DM tipe 2 adalah keturunan, obesitas, kurang olahraga, umur, jenis kelamin, stress, hipertensi dan obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya faktor pembeda antara kadar gula darah terkontrol dengan kadar gula darah tidak terkontrol pada penderita Diabetes mellitus Tipe 2 di Kota Cimahi tahun 2010.

Desain penelitian adalah studi kasus-kontrol (Case-control). Variabel yang diteliti meliputi umur, perencanaan makan, IMT, olah raga, tekanan darah dan kadar gula darah penderita DM tipe 2. Sampel sebanyak 40 orang kasus (kadar gula darah tidak terkontrol) dan 40 orang kontrol (kadar gula darah terkontrol). Data didapatkan dari data sekunder (kadar gula darah), pengukuran (BB, TB, Tekanan darah) dan food recall 1 x 24 jam. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat, uji yang digunakan adalah uji diskiminan.

Hasil penelitian didapatkan bahwa penderita DM dengan kadar gula darah tidak terkontrol berumur 54,93 tahun, AKG lebih rendah (82,33%) IMT lebih tinggi yaitu 35,70, olah raga lebih rendah yaitu 2,43 kali dan tekanan darah lebih tinggi yaitu 141,25 mmHg dibandingkan kadar gula darah terkontrol. Dari kelima variabel, didapatkan hanya dua variabel yang secara statistik signifikan, yaitu olah raga (p value = 0,024) dan tekanan darah (P value = 0,0001). Variabel yang paling membedakan adalah tekanan darah, karena memiliki nilai paling tinggi yaitu 0,838. Keakuasian model diskriminan sebesar 73,8%. Disarankan penderita DM tipe 2 perlu melakukan pemantauan dan pemeriksaan kadar gula darah secara rutin agar kadar gula darah menjadi terkontrol, melakukan oleh raga secara teratur dan melakukan pengukuran tekanan darah secara rutin, sehingga dapat mengurangi resiko munculnya komplikasi pada penderita DM tipe 2.

Kata kunci : Case Control, kadar gula darah, hipertensi

ANALYSIS PHYSICAL ACTIVITY AND DIETARY PLANNING

TO REDUCTION OF BLOOD SUGAR FOR PATIENTS TYPE 2 DIABETES MELLITUS AT DISTRICT CIMAHI IN 2010

ABSTRAC

(2)

BMI, exercise, blood pressure and blood sugar levels of people with type 2 diabetes. A sample of 40 cases (uncontrolled blood sugar levels) and 40 of the control (blood sugar control). data obtained from secondary data (blood sugar), measurement (BB, TB, blood pressure) and food recall 1 x 24 hours. data were analyzed by univariate, bivariate and multivariate test used is diskiminan test.The study found that DM patients with poorly controlled blood sugar levels was 54.93 years, AKG lower (82.33%) higher BMI is 35.70, which sports a lower blood pressure and 2.43 times higher at 141.25 mmHg compared to control blood sugar levels. Of the five variables, found only two statistically significant variables, namely sports (p value = 0.024) and blood pressure (P value = 0.0001). The most distinguishing variables were blood pressure, because it has the highest value is 0.838. Acuracy discriminant models of 73.8%. Patients with type 2 diabetes are advised to conduct monitoring and inspection of blood sugar levels on a regular basis in order to control blood sugar levels, do the exercise regularly and do regular blood pressure measurement, thus reducing the risk of the emergence of complications in patients with type 2 diabetes.

Key words: Case Control, blood sugar, hypertension

A. PENDAHULUAN

Penyakit tidak menular atau penyakit degeneratif sejak beberapa dasawarsa menjadi segmentasi permasalahan bagi tiap negara di seluruh dunia. Dampak penyakit tidak menular adalah adanya double burden (beban ganda) bagi dunia kesehatan. Menurut World Health Organization (WHO), diperkirakan banyak negara mengalami kerugian akibat penyakit degeneratif ini, oleh karena itu dibutuhkan langkah konkrit untuk menanggulanginya (Asdi A, 2000).

Penyakit degeneratif yang akan meningkat jumlahnya di beberapa negara berkembang diantaranya adalah Diabetes mellitus (DM) dan menjadi salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas di negara–negara yang sedang berkembang, sehingga menimbulkan beban bagi pelayanan kesehatan dan perekonomian negara tersebut pada saat sekarang dan dikemudian hari baik secara langsung maupun tidak langsung. Diabetes mellitus adalah suatu penyakit dengan kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup. Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas, yang bertanggung jawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang normal. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi (Yunia,2007, Mau Tahu Lebih Jauh tentang Diabetes , ¶ 2, http://www.depkes.go.id di peroleh tanggal 21 Februari 2008).

(3)

ras dan etnik, stress, hipertensi dan obat-obatan. DM tipe 2 adalah jenis yang paling banyak di temukan (lebih dari 90%) dan prevalensi meningkat setelah umur 40 tahun.

Diabetes mellitus adalah pembunuh pelan–pelan namun mematikan dan menjadi penyakit pembunuh utama manusia di dunia. Diabetes adalah penyebab kematian orang dewasa dalam usia kerja. Diabetes mellitus adalah suatu penyakit yang tidak begitu banyak diketahui dan disadari keberadaannya. Penyakit ini dapat memberikan komplikasi yang mematikan, seperti serangan jantung, stroke, kegagalan ginjal, impotensi dan kebutaan.

Dari data Departemen Kesehatan (Depkes), jumlah pasien diabetes Rawat Inap maupun Rawat Jalan di Rumah Sakit menempati urutan pertama dari seluruh penyakit endokrin. Pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat menjadi 14 juta orang, dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30% yang datang datang berobat teratur (http://www.depkes.go.id diperoleh pada tanggal 18 maret 2008).

Penyakit Diabetes mellitus berada di urutan keenam dari 10 penyakit yang dapat penyebabkan kematian di Rumah Sakit (RS) Indonesia pada tahun 2002 dengan prevalensi 3 %, tetapi Diabetes mellitus berada diurutan pertama penyebab kematian di pasien Rawat Inap Rumah Sakit pada tahun 2005 dengan Jumlah kasusnya sebesar 42.000 dan jumlah meninggal sebanyak 3316 dengan CFR 7,9% (Pratiwisam, 2007, Epidemiologi, Program Penanggulangan, Dan Isu Mutakhir Diabetes Mellitus, ¶ 3. http//: www.amirudin.com diperoleh pada tanggal 18 Februari 2008).

Berdasarkan tingginya prevalensi DM di Indonesia, dan tingkat kefatalan penyakit serta berbagai macam komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit ini, maka diperlukan pengelolaan yang terpadu bagi penderita DM. Untuk mendapatkan hasil pengelolaan yang tepat guna dan berhasil guna bagi pasien DM dan untuk menekan angka penyulit, diperlukan suatu standar pelayanan minimal bagi penderita DM. Dalam Penatalaksanaan penyakit Diabetes mellitus, dikenal 4 (empat) pilar utama, yaitu: edukasi, perencanaan makan, latihan jasmani dan obat-obatan yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar gula darah. Langkah pertama dalam pengelolaan DM adalah pengelolaan non farmakologis, berupa perencanaan makan dan kegiatan jasmani. Jika pengendalian diabetes belum tercapai, dilanjutkan dengan penggunaan obat-obatan atau pengelolaan farmakologis (waspadji, 2007). Diabetes Melitus adalah penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup, sehingga yang berperan dalam pengelolaannya tidak hanya dokter, perawat dan ahli gizi, tetapi lebih penting adalah keikutsertaan pasien sendiri dan keluarganya. Penyuluhan kepada pasien dan keluarganya, asupan makanan yang sesuai dengan kebutuhan bagi penderita DM, melakukan aktifitas fisik yang rutin sangat membantu memperbaiki pengelolaan DM (http://www.Persadia.org. diperoleh pada tanggal 11 Januari 2010).

B. TUJUAN PENELITIAN

1. Mengetahui perbedaan yang jelas antara kelompok kadar gula darah terkontrol dengan tidak terkontrol pada penderita DM tipe 2 di kota Cimahi tahun 2012 2. Mengidentifikasi faktor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kadar gula

darah terkontrol dan tidak terkontrol

3. Mengelompokkan kadar gula darah berdasarkan variabel umur, perencanaan makan (AKG), IMT, olah raga dan tekanan darah

(4)

C. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan studi analitik dengan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus-kontrol (Case-control). Variabel yang diteliti meliputi umur, perencanaan makan, IMT (Indeks Massa Tubuh), aktifitas olah raga per minggu, tekanan darah dan kadar gula darah penderita DM tipe 2.

Populasi adalah semua pasien yang didiagnosis menderita DM tipe 2 yang tercatat di Persadia (Persatuan Diabetes Mellitus Indonesia) Kota Cimahi sebanyak 223 orang. Berdasarkan hitung sampel di peroleh sampel sebanyak 40 orang sebagai kasus dan 40 orang sebagai kontrol. Kasus adalah responden yang menderita DM dengan kadar gula darah tidak terkontrol (jika gula darah sewaktu ≥ 200 mg/dl. Dan kontrol adalah penderita DM dengan kadar gula darah terkontrol (< 200 mg/dl), penentuan kelompok kontrol dengan kriteria tidak sepadan (unmatching).

Pengumpulan data meliputi : (1) hasil pengukuran kadar gula darah sewaktu, sebagai data sekunder; (2) pengukuran tinggi badan dan berat badan responden, untuk menghitung IMT; (3) food recall 1 x 24 jam, untuk data perencanaan makan sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) dalam %; (4) aktifitas fisik yang dilakukan dalam satu minggu; dan (5) hasil pengukuran tekanan darah.

Data dianalisis secara univariat untuk mendapatkan nilai rata-rata masing-masing variabel, bivariat untuk mengetahui hubungan antar variabel dan multivariat untuk menentukan variabel yang paling membedakan dan membuat model fungsi diskriminan, uji yang digunakan adalah uji diskiminan.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil nilai rata-rata (mean) masing-masing variabel yang diteliti dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 1. Rata-rata umur, Perencanaan Makan, IMT, Olah Raga, dan Tekanan Darah Berdasarkan Kadar Gula Darah Penderita DM Tipe 2 di Kota Cimahi Tahun 2010

Variabel Kadar gula darah Rata-rata

Tidak terkontrol Terkontrol

Umur 55,93 57,18 56,55

Perencanaan Makan 82,33 86,90 84,61

IMT 35,70 33,84 34,77

Olah raga 2,43 2,98 2,70

Tekanan darah 141,25 123,75 132,50

Berdasarkan tabel diatas penderita DM tipe 2 dengan kadar gula darah terkontrol memiliki umur 54,93 tahun, lebih rendah dibandingkan dengan kadar gula darah tidak terkontrol. Pada penderita DM dengan kadar gula darah tidak terkontrol, rata-rata AKG lebih rendah yaitu 82,33%, IMT lebih tinggi yaitu 35,70, aktifitas olah raga lebih rendah yaitu 2,43 kali dan tekanan darah lebih tinggi yaitu 141,25 mmHg.

(5)

Tabel 2. Uji Perbedaan Antargroup Variabel Independen (Umur, Perencanaan Makan, IMT, Olah Raga, dan Tekanan Darah) Penderita DM Tipe 2 di Kota Cimahi Tahun 2010

Variabel P Value

Umur 0,587

Perencanaan Makan 0,271

IMT 0,150

Olah raga 0,024

Tekanan darah 0,0001

Dari kelima variabel independen, didapatkan hanya dua variabel yang secara statistik signifikan, yaitu variabel olah raga (P value = 0,024) dan tekanan darah (P value = 0,0001). Sehingga variebel yang masuk dalam model diskriminan adalah olah raga dan tekanan darah.

Selanjutnya menentukan indikasi perbedaan nyata antara kedua group (kadar gula darah terkontrol dan tidak terkontrol), hasilnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 3. Uji Perbedaan Antara 2 Group Penderita DM Tipe 2 di Kota Cimahi Tahun 2010

Test of Fungtion Wilk’s Lamda Chi Square df Sig

1 0,757 21,436 2 0,0001

Dari hasil uji didapatkan P.Value 0,0001 (≤ 0,05), menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata antara kadar gula darah terkontrol dan tidak terkontrol dilihat dari variabel umur, perencanaan makan, IMT, olah raga dan tekanan darah.

Variabel yang paling membedakan diantaranya semua variabel yang diteliti dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4. Variabel Independen (Umur, Perencanaan Makan, IMT, Olah Raga, dan Tekanan Darah) yang paling membedakan terhadap kadar gula darah Penderita DM Tipe 2 di Kota Cimahi Tahun 2010

Variabel Fungsi

Umur 0,010

Perencanaan Makan 0,117

IMT -0,058

Olah raga -0,461

Tekanan darah 0,838

Variabel independen yang paling membedakan antara kadar gula darah terkontrol dan tidak terkontrol adalah tekanan darah, karena memiliki nilai paling tinggi yaitu 0,838. Model fungsi diskriminan adalah sebagai berikut :

(6)

Tabel 5. Klasifikasi Model Fungsi Koefisien

Variabel Fungsi

Tidak Terkontrol Terkontrol

Olah raga 1,449 2,024

Tekanan darah 0,397 0,344

(konstanta) -30,509 -24,979

Model fungsi diskriminan adalah sebagai berikut : 1. Kadar gula darah tidak terkontrol :

Skor kadar gula darah tidak terkontrol =

- 30, 509 + 1,449 (Olah raga) + 0,397 (tekanan darah) 2. Kadar gula darah tidak terkontrol : =

- 24,979 + 2.024 (olah raga) + 0,344 (tekanan darah)

Tabel 6. Diskriminan Fungsi Koefisien

Variabel Fungsi

Olah raga -0,514

Tekanan Darah 0,048

Konstanta -4,942

Model diskriminan fungsi koefisien (Z-Skor) adalah : - 4,942 – 0,514 (Olahraga) + 0,048 (tekanan Darah).

Ketepatan model analisis diskriminan adalah sebagai berikut : Tabel 7. Hasil Klasifikasi

Gula Darah Tidak

Terkontrol

Terkontrol Total

Jumlah Tidak Terkontrol 29 11 40

Terkontrol 10 30 40

% Tidak Terkontrol 72,5 27,5 100

Terkontrol 25 75 100

Ketepatan model diskriminan adalah =

= 73,8%

(7)

Penderita DM tipe 2 diharapkan melakukan perencanaan makan yaitu dengan AKG antara 80 – 100%. Dalam penelitian ini rata-rata AKG sebesar 84,61%. Kebutuhan kalori yang sesuai untuk mencapai dan mempertahankan berat-badan dengan komposisi energi yang dianjurkan adalah terpenuhinya AKG minimal 80% dan diet yang dilakukan dapat dipergunakan untuk mengontrol kadar gula dalam darh pada penderita DM.

Kegemukan (obesitas) dihitung berdasarkan IMT, dimana seseornag dengan IMT lebih dari 30 sudah dikategorikan Obesitas. Dari hasil penelitian didapatkan rata-rata IMT sebesar 34,77, yang berarti sebagian besar penderita Dm Tipe 2 mengalami Obesitas. Obesitas merupakan faktor resiko pasti terjadinya obesitas, seiring dengan bertambahnya berat badan, maka tubuh seseorang semakin kurang sensitif terhadap efek inslin, akibatnya pankreas akan memproduksi insulin lebih banyak lagi. Ketika kemampuan insulin tidak bisa mengimbangi resistensi insulin terjadi DM tipe 2.

Olah raga adalah bentuk aktifitas fisik yang terencana dan terstruktur yang melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang dan ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Olah raga dapat menurunkan resiko DM tipe 2 pada wanita yang memiliki kelebihan berat badan dan pada wanita yang mempunyai anggota keluarga yang menderita DM. Olah raga dapat meingkatkan sensitifitas insulin sehingga ambilan glukosa darah meningkat dan secara langsung kadar gula darah berkurnag.

Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko terjadinya DM. Pada penelitian in, tekanan darah memiliki kontribusi terbesar dalam membedakan kadar gula darah penderita DM tipe 2 dengan nilai paling tinggi yaitu sebesar 0,838. Berdasarkan beberapa hasil penelitian terdahulu didapatkan bahwa apabila tekanan darah diatas 130/80 mmHg. Harus dianggap sebagai faktor resiko dan sebaiknya diberikan perawatan, dengan diberikan pengobatan maka tekanan darah akan stabil dan gula darah juga akan ditekan sehingga mencapai batas normal.

E. SIMPULAN

1. Ada perbedaan yang jelas antara kelompok kadar gula darah terkontrol dengan kadar gula darah tidak terkontrol pada penderita penyakit diabetes mellitus tipe 2 di Kota Cimahi Tahun 2010 berdasarkan variabel umur, perencanaan makan, IMT, olah raga dan tekanan darah.

2. Tekanan darah memberikan kontribusi terbesar dalam membedakan kadar gula darah penderita Diabetes mellitus tipe 2 dengan nilai sebesar 0.838

3. Model diskriminan dalam pengelompokan kadar gula darah penderita DM tipe 2 adalah = - 0, 4,942 – 0,514 (Olahraga) + 0,048 (tekanan Darah).

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Arisman.(1999),Pencegahan Diabetes Mellitus Laporan Kelompok Studi WHO . Jakarta : Hipokrates

Budiarto, E. (2001). Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:EGC

Bustan, M.N (1997). Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta : PT.Rineka Cipta

Format referensi elektronik direkomendasikan oleh Depkes RI, 2002, Mau Tahu Lebih Jauh Tentang Diabetes Mellitus tersedia http://www.depkes.go.id di peroleh tanggal 21 februari 2008

Amrizal Muhtar, 2007, tersedia http://www.geocitis.com diperoleh pada tanggal 8 mei 2008

Ridwan Amirudin, 2007, Analisis Faktor Risiko Kejadian Diabetes melitus di Rumah Sakit

Umum Pusat dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar tahun 2007 . tersedia

http://www.amirudin.wordpress.com diperoleh tanggal 18 Februari 2008

Karim F (2007).Panduan Kesehatan Olahraga Bagi Petugas Kesehatan tersedia. http://pbcprimaciptautama.blogspot.com di peroleh pada tanggal 24 April 2008

Santoso, dkk. (2007). Gambaran Pola Penyakit Diabetes Melitus di Bagian Rawat Inap RSUD Koja 2000-2004. tersedia http://www.cerminduniakedokteran.com diperoleh pada tanggal 8 mei 2008

Sam pratiwi. Epidemiologi, Program Penanggulangan, Dan Isu Mutakhir Diabetes Mellitus. (2007). Tersedia http://www.amirudin.wordpress.com diperoleh tanggal 18 Februari 2008

Achmad, (2006). Faktor yang mempengaruhi terjadinya neuropati diabetik simptomatik perifer (studi di RSD dr. Soegiri lamongan tahun 2006) tersedia http://digilib.litbang.depkes.go.id diperoleh pada tanggal 8 mei 2008.

Fortunestarindonesia 2007, tersedia http://www.fortune star indonesia, diperoleh pada tanggal 25 April 2008

Persadia Indonesia, tersedia http://www.persadia.org, diperoleh pada tanggal 11 Januari 2010

Surkesnas 2004, tersedia http://www.litbang.depkes.go.id, diperoleh pada tanggal 24 April 2008

Hastono, S.R. (2007). Analisis Data Kesehatan. Jakarta : FKUI

(9)

Kartini, Sukardji, 2007 Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Martinus, A, (2005) .1001 Tentang Diabetes. Bandung:Nexx Media Inc.

Notoatmodjo, S. (2005). Metode penelitian untuk kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

PERKENI (2006). Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia tahun 2006. Jakarta:PB.Perkeni.

Soegondo S., 2007. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Sugiyono, (2007), Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.

Supariasa, I, dkk. (2001). Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC

Suyono, S. (2004).Penatalaksanaaan Diabetes Mellitus. Jakarta: FKUI

Suyono S.,2007. Patofisiologi DM Dalam Penatalaksanaan DM Terpadu. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Yusmayanti (2008). Hubungan Obesitas Sentral dengan Kejadian DM tipe 2 di RSU DR.M Djamil Padang Tahun 2008. Jakarta: FKM UI

Referensi

Dokumen terkait

HUBUNGAN POLA MAKAN DAN KEBIASAAN OLAH RAGA DENGAN KADAR GULA DARAH PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DI RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA.. Latar belakang : Diabetes

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini yaitu : Kadar gula darah pasien diabetes mellitus di Puskesmas Gatak sebagian

Terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dan pola aktivitas fisik terhadap kadar gula darah Jurnal sewaktu pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan nilai p

Pengaruh Senam Aerobik Dan Yoga Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Pasien. Diabetes Mellitus Tipe II Di Poliklinik Khusus Penyakit Dalam RSUP

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 di Poli Penyakit Dalam RSUD Mardi Waluyo Blitar sebanyak 75 responden, memiliki kadar

Kesimpulan Dan Saran : Pemberian juice alpukat dapat menurunkan kadar gula darah penderita diabetes mellitus tipe II di Wilayah kerja Puskesmas Jetis II Bantul,

KTI: Gambaran Kadar Gula Darah Sebelum dan Sesudah edukasi diit Diabetes Mellitus pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di Wilayah Kerja Kedung Kandang.. Malang: Poltekkes Kemenkes

Notoatmodjo,2010 Pada studi kasus ini akan mendeskripsikan penatalaksanaan penyakit yang telah dilakukan oleh penderita diabetes mellitus dengan gula darah tidak terkontrol.. 3.2