• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Ilmu Pendidikan Islam Pada

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Karakteristik Ilmu Pendidikan Islam Pada"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

KARAKTERISTIK PENGAJARAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM PADA ABAD PERTENGAHAN

A. Pendahuluan

Pendidikan islam dapat pula diartikan pendidikan yang didasari dengan nilai-nilai ajaran islam. Dalam pengajarannya terdapat berupa pengajaran islam secara umumnya. Dalam dunia pendidikan, islam pernah mengalami masa-masa keemasan. Dimana banyak diantara kaum muslimin terdahulu bisa dikatakan sebagai ilmuan islam. Dan juga berbagai perkembangan mengenai universitas-universitas islam yang diminati diabad pertengahan.

Dalam pengajaran diabad pertengahan jika dibandingkan dengan sekarang tidak terlalu mengalami perubahan.Bahkan masih menggunakan cara-cara atau model pengajaran seperti yang sudah diterapkan sekarang ini.

B. Rumusan Masalah

1. BagaimanaKondisi Pendidikan Islam Pada Masa Zaman Pertengahan? 2. Bagaimana Watak Ilmu Pengetahuan Islam Zaman Pertengahan? 3. Apa yang diterapkan dalam Kurikulum dan Pengajaran?

C. Pembahasan

1. Kondisi Pendidikan Islam pada Masa Turki Utsman

(2)

pendidikan, peribadatan, perekonomian, pertanian, pertanian, kedokteran, dan komponen masyarakat, baik ilmuwan, birokrat, agamawan, militer, dan ekonom maupun masyarakat.

Setelah mesir jatuh di bawah kekuasaan Utsmaniyah Turki, Sultan Salim memerintahkan supaya kitab-kitab di perpustakaan dan barang-barang berharga di Mesir di pindahkan ke Istambul, anak-anak Sultan Maklum, ulama-ulama, pembesar-pembesar yang berpengaruh di Mesir semuanya dibuang ke Istambul. Sementara itu, ulama-ulama dan kitab-kitab yang ada di perpustakaan Mesir mengalami kemunduran dalam ilmu pengetahuan , dan Istambul lah yang menjadi pusat pendidikan dan pengembangan kebudayaan saat itu. Yang mula-mula mendirikan Madrasah pada masa Turki Utsmani adalah Sultan Orkhan(w. 1359).Sultan-sultan Utsmani banyak mendirikan masjid-masjid dan madrasah-madrasah, terutama di Istambul dan Mesir.Pada masa itu banyak juga perpustakaan yang berisi kitab-kitab yang tidak sedikit jumlahnya.Banyak pula ulama-ulama, guru-guru, ahli sejarah dan ahli syair pada masa itu yang datang untuk membaca dan mempelajari isi kitab-kitab itu.

(3)

Dari sudut pandang organisasi, sistem madrasah mencapai puncak perkembangannya pada masa kerajaan ‘Utsmani dimana sistem tersesbut dilembagakan secara sistematis, dipelihara danditunjang oleh pejabat ‘Syaikh al-islami’ dengan kecakapan dan efisiensi administrative yang tinggi.Kaum ulama diorganisir dengan suatu hirarkhi dan hampir-hampir merupakan kasta tersendiri dalam masyarakat ‘Utsmani.Sarana-sarana belajar tradisional ini sampai sekarang masih tetap berfungsi diseluruh dunia Islam di luar Turki.Yang paling terkemuka diantaranya yaitu Universitas Al-Azhar di Kairo.

Tradisi intelektual yang dibangun pada masa klasik di masa Rasulullah Muhammad Saw, telah begitu menentukan bentuk dan corak pemikiran Islam sehingga apa yang berkembang pada abad pertengahan lebih bersifat konservatif. Jika pada abad-abad sebelumnya bisa dirasakan pesatnya perkembangan pendidikan Islam yang ditandai dengan semangat mengkritik, polemik dalam bentuk karya tulis, munazarah dan pengajaran di madrasah, halaqah di masjid-masjid dan perpustakaan, maka pada abad pertengahan ini mengalami kebekuan dan konservatisme dalam sistem pendidikan. Sehingga masa ini dikenal dengan masa taqlid, karena kegairahan berijtihad telah punah.

2. Watak Ilmu Pengetahuan Islam Zaman Pertengahan

(4)

ijazah-ijazah tersebut seringkali dikeluarkan atas nama guru, dan bukan atas nama sekolah. Banyakilmuwan yang termasyhur bukanlah produk madrasah-madrasah, tetapi adalah bekas-bekas murid informal dari guru-guru individual. Berkaitan erat dengan pentingnya guru secara sentral ini adalah fenomena yang dikenal sebagai ‘mencari ilmu’ (tholabul ‘ilm). Mahasiswa-mahasiswa pengembara melakukan perjalanan-perjalanan yang jauh, kadang-kadang dari ujung ke ujung dunia Islam, dengantujuan untuk mengikuti kuliah dari guru-guru yang terkenal.

Sistem madrasah, yang secara luas didasarkan pada sponsor dan kontrol negara, umumnya telah dipandang sebagai sebab kemunduran dan kemacetan ilmu pengetahuan dan kesarjanaan Islam. Tetapi madrasah dengan kurikulumnya yang terbatas, hanyalah gejala, bukan sebab sebenarnya dari kemunduran ini, walaupun, tentu saja, ia mempercepat dan melestarikan kemacetan tersebut.

(5)

3. Kurikulum dan Pengajaran a. Tujuan Pendidikan

Pada masa nabi Muhammad SAW, masa khalifah rasyidin dan Muawiyah, tujuan pendidikan hanya satu, yaitu keagamaan semata-mata. Mengajar dan belajar karena Allah serta mengharapkan keridhaannya.

Sedangkan pada masa Abbasiyah tujuan pendidikan itu telah bermacam-macam karena pengaruh masyarakat pada masa itu. Adapun tujuan itu dapat disimpulkan sebagai berikut:

1) Tujuan keagamaan dan akhlak 2) Tujuan kemasyarakatan 3) Cinta akan ilmu pengetahuan 4) Tujuan kebendaan

Keterangan ini, sebagaimana seorang ulama An namiry al Quthubi yang hidup di tahun 463 H menyatakan bahwa tuntutlah ilmu, karena ilmu itu menjadi penolong dalam agama, menajamkan otak, teman ketika sendirian, berfaedah dalam majlis-majlis dan menarik harta benda.

b. Materi Pendidikan

Sebelum membahas materi pendidikan, perlu diketahui bahwa tingkat pengajaran kepada peserta didik tergantung tingkatanya, yaitu: 1) Tinkat sekolah rendah (kuttab), tempat belajarnya di kuttab, rumah,

istana, toko-toko dan di pinggir-pinggir pasar.

2) Tingkat sekolah menengah, tempat belajarnya di masjid, majelis sastra dan ilmu pengetahuan.

(6)

Untuk peserta didik tingkat rendah disediakan materi ijbari dan materi ikhtiari. Adapun materi ijbari adalah: al Qur’an, shalat, doa, sedikit ilmu nahwu dan bahasa Arab, membaca dan menulis. Sedangkan materi yang Ikhtiari adalah: berhitung, semua ilmu nahwu dan bahasa Arab, syair-syair dan tarikh Arab.

Sedangkan untuk anak-anak amir dan penguasa, materi tingkat rendah sedikit berbeda.Di istana-istana biasanya ditegaskan pentingnya pengajaran khitabah, ilmu sejarah, cerita perang, cara-cara pergaulan, disamping ilmu-ilmu pokok seperti Qur’an, syair dan fiqh.

Pada masa ini, tidak ada ketentuan pasti tentang batasan umur bagi seseorang yang belajar di kuttab.Para murid yang memasuki lembaga pendidikan dasar ini bervariasi. Ada murid yang mulai memasuki kuttab berumur lima tahun ada pula yang tujuh tahun bahkan ada yang sepuluh tahun. Nampaknya hal ini karena kesiapan peserta didik, baik fisik, mental ataupun dari segi ekonomi.

Setelah usai menempuh pendidikan tingkat rendah, murid bebas memilih bidang studi yang ingin ia dalami di tingkat selanjutnya, umumnya rencana pengajaran itu adalah: al Quran, bahasa Arab dan kesusasteraannya, Fiqh, Tafsir, Hadist, Nahwu/saraf/Balaghah, ilmu-ilmu pasti, Mantiq, Falak, Tarikh, ilmu-ilmu alam, kedokteran dan musik.

(7)

Selanjutnya pada tingkat tinggi untuk materi pelajarannya tidak sama diseluruh negara Islam. Umumnya perguruan tinggi terdiri dari dua jurusan, yaitu:

1) Jurusan ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab serta kesusteraanya (ilmu naqliyah). Materinya adalah tafsir al Quran, hadist, fiqh dan usul fiqh, nahwu/saraf, balagah, bahasa Arab dan kesusteraanya.Saat itu belum ada spesialisasi dalam satu materi pelajaran seperti sekarang ini, spesialisasi itu lahir kemudian sesudah para peserta didik selesai dari perguruan tinggi.

2) Jurusan ilmu-ilmu hikmah (ilmu-ilmu aqliah). Materinya adalah: mantik, ilmu-ilmu alam dan kimia, musik, ilmu-ilmu pasti, ilmu ukur, falak, ilahiyah, ilmu hewan, ilmu tumbuh-tumbuhan, kedokteran.

c. Pendidik

Dilihat dari segi sosial ataupun penghasilan, pendidik dapat digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu:

1) Para muallim kuttab

Guru model ini memiliki status sosial yang rendah karena kualitaskeilmuan mereka yang dangkal dan kurang berbobot.

2) Para muaddib

Guru ini mempunyai status social yang tinggi, karena syarat untuk menjadi muaddib sangat sulit, diantaranya: alim, berakhlak mulia dan dikenal masyarakat.

3) Para guru yang memberikan pelajaran di masjid-masjid dan disekolah-sekolah.

(8)

d. Metode Pengajaran

Pada masa dinasti Abbasiyah metode pendidikan yang digunakan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu:

1) Metode lisan (dikte, ceramah, qiraah dan diskusi)

Metode dikte adalah metode penyampaian pengetahuan yang dianggap baik dan aman karena dengan dikte ini murid mempunyai catatan yang akan dapat membantunya ketika ia lupa. Metode ini dianggap penting, karena pada masa klasik buku-buku cetak seperti masa sekarang sulit dimiliki.

Metode ceramah adalah guru menjelaskan dan murid mendengarkan. Metode qiraah biasanya digunakan untuk belajar membaca sedangkan diskusi merupakan metode yang khas pada masa ini.

2) Metode menghafal (ciri umum pendidikan pada masa ini)

Murid-murd harus membaca secara berulang-ulang pelajarannya sehingga pelajaran tersebut melekat pada benak mereka. 3) Metode tulisan (pengkopian karya ulama)

Metode tulisan adalah pengkopian karya-karya ulama. Dalam pengkopian buku-buku terjadi proses intelektualisasi hingga tingkat penguasaan ilmu murid semakin meningkat.

(9)
(10)

Daftar Pustaka

http://aminmahfud.blogspot.com/2013/05/analisis-pendidikan-islam-periode-pra_29.html

Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hlm. 271

Fazlur Rahman, Islam, Pustaka, Bandung, 1984, hlm. 268

http://aminmahfud.blogspot.com/2013/05/analisis-pendidikan-islam-periode-pra_29.html

Fazlur Rahman, ISLAM, Pustaka, Bandung, 1984, hlm. 269-271

http://aminmahfud.blogspot.com/2013/05/analisis-pendidikan-islam-periode-pra_29.html

Referensi

Dokumen terkait

Diharapkan, lulusan dari sekolah umum dan lulusan dari madrasah mempunyai titik pandang yang sama dan memiliki wawasan yang sama pula (Saridjo, 1997:41). Seiring dengan usul

Seperti halnya di Damaskus, di tempat- tempat lain di Dunia Islam, seperti di Mesir dan Hijaz dengan tokoh utamanya Salahuddin Al-Ayyubi juga didirikan madrasah sebagai

Tanah”. Dalam pelaksanaannya banyak hal yang menjadi suatu kebanggaan dari Kepala Madrasah Diniyah sebab meningkatnya motivasi belajar dan semangat murid diniyah

Madrasah sebagai penyelenggara dan pengelola pendidikan sangat berkaitan dengan keterlibatan orang banyak, (pengelola) dan mengurusi orang banyak juga, (siswa) maka untuk

Pelaksanaan pendidikan di masa Khalifah Umar bin Kattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini

Tato masih kerap dipandang oleh masyarakat sebagai suatu hal yang identik dengan kriminal dan dekat dengan budaya pemberontakan karena dianggap melanggar aturan, oleh

Oleh sebab itu, kegiatan KSM tahun 2021 tetap dilaksanakan dengan menggunakan skema Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tahun 2021 secara daring untuk tingkat kabupaten/kota

Dokumen ini membahas tentang implementasi nilai-nilai karakter pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dan