• Tidak ada hasil yang ditemukan

Opinio Juris Vol 1 Jan Maret 2010 9 19

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Opinio Juris Vol 1 Jan Maret 2010 9 19"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

(%

$

ARAH KEBIJAKAN PERIKANAN INDONESIA?

TANTANGAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM DAN

KEPENTINGAN NASIONAL (Bagian I)

1

Oleh : HARI YULIANTO

" $ )

Sumber daya ikan memiliki arti penting, baik sebagai sumber protein dan gizi pada makanan di banyak negara maupun kontribusinya yang semakin meningkat bagi keamanan pangan dunia.2 Sektor perikanan kiranya telah menjadi sumber protein utama bagi satu miliar umat manusia dan merupakan 5:10% persediaan pangan dunia.3

Dalam Deklarasi :

+ 3 / '((&, diprediksikan

keharusan negara:negara untuk meningkatan . pertanian (termasuk ikan) sebesar 70% sampai dengan tahun 2050 guna menjamin pangan masyarakat dunia yang diperkirakan akan melebihi 9 miliar jiwa pada saat itu.4

Sumber daya ikan juga memberikan keuntungan ekonomi dan sosial yang sangat besar. FAO memperkirakan nilai perdagangan ekspor produk

perikanan pada 2009 sebesar 93,4 miliar Dollar AS5 sedangkan kegiatan penangkapan ikan dan 8 + telah berperanan penting sebagai mata pencaharian langsung bagi sekitar 43,5 juta orang dan 4 juta orang secara tidak langsung (2006). Dari jumlah tersebut, diperkirakan 86 % dari nelayan:nelayan tersebut berada di kawasan Asia, terutama Cina yang menempati jumlah terbanyak terdiri atas 8,1 juta nelayan dan 4,5 juta petani ikan.6

) $

Terkait kegiatan penangkapan ikan, FAO memperkirakan bahwa pada tahun 2006 terdapat kapal:kapal penangkap ikan bermesin sebanyak 2,1 juta, dimana 70%: nya terkonsentrasi di Asia dan sisanya tersebar di Afrika, Eropa, Timur Dekat, Amerika Latin dan Karibia. 90% dari jumlah tersebut didominasi oleh kapal:kapal yang berukuran kurang dari 12 meter, khususnya

1. Materi tulisan dalam artikel ini merupakan Bagian Pertama dari keseluruhan Artikel “ (% $ ARAH KEBIJAKAN PERIKANAN INDONESIA? TANTANGAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM DAN KEPENTINGAN NASIONAL”, kelanjutan tulisan ini akan dimuat dalam edisi mendatang.

2. http://www.fao.org/fishery/topic/424/en

3. A Marine Environment and Tanker Safety Action Plan, G 8 Summit, Evian June 2003 4. # + * : + $ $ %9;%< 3 / '((&

5. = .

(2)

di wilayah Asia, Afrika dan Timur Jauh, sedangkan kapal:kapal di kawasan Pasifik, Oceania, Eropa dan Amerika Utara umumnya terdiri dari kapal:kapal yang berukuran lebih besar.7

Kegiatan pengangkapan ikan yang telah dimulai secara global pada abad ke:20 didukung juga oleh penggunaan kapal bermotor, murahnya harga bahan bakar, penggunaan mesin pendingin, peningkatan pasar komoditas global, dan subsidi pemerintah bagi peningkatan armada kapal. Praktek:praktek penangkapan ikan secara negatif seperti penangkapan ikan secara berlebihan ( / * ) yang bersifat destruktif, serta pencemaran terhadap ekosistem laut, pada akhirnya telah mengubah lautan dunia dan memengaruhi sumber daya perikanan laut.8

Dalam kurun waktu 40 tahun, sejak 1950 – 1990, diperkirakan hasil tangkapan (

) perikanan laut meningkat lima kali lipat (Mace, 1997). Namun demikian, upaya penangkapan ikan tidak mampu mengimbangi permintaan yang semakin meningkat sementara banyak dari perikanan laut telah melampaui batas penangkapan ( / * ). FAO memperkirakan dalam periode 1990 – 1997, konsumsi ikan meningkat sebesar 31% sementara pemenuhan dari tangkapan ikan hanya bertambah sebesar 9%. Hal ini pada gilirannya telah meningkatkan

7. Ibid.

8. * + $ # + '((& 7 ) # **

9. James H. Tidwell & Geoff L. Allan, )+ + + + . + + * * * + . * . http://www.nature.com/embor/journal/v2/n11/full/embor285.html

10. = * * + + + . ftp://ftp.fao.org/docrep/fao/011/aj982e/aj982e09.pdf

11. / + + " 7 '((&7 # + / , + + . http://www.conservationinstitute.org/ocean_change/ Fisheries/destructivefishingpractices.htm.

tekanan pada usaha:usaha penangkapan ikan komersial. Diperkirakan bahwa hampir setengah dari seluruh perikanan laut telah tereksploitasi (FAO, 1999) dan 70% diantaranya membutuhkan pengelolaan segera.9

Ekosistem ikan juga mengalami krisis yang diakibatkan oleh polusi air dan degradasi habitat, dimana kapal:kapal melakukan pencemaran di laut dengan membuang sampah dan limbah serta terjadinya tumpahan minyak oleh kapal. Beberapa kasus penangkapan ikan dengan menggunakan alat:alat tangkap yang bersifat destruktif juga membawa akibat merugikan pada lingkungan laut.

Penggunaan . + . ,

misalnya, tidak hanya mampu menangkap ikan namun juga dapat mengakibatkan ikut terbawanya penyu laut sebagai + + .10 Para nelayan juga banyak menggunakan , yaitu penggunaan jaring besar yang ditebarkan hingga ke dasar laut sehingga menjaring tidak hanya ikan namun juga hewan laut dan organisme lainnya seperti terumbu karang dan mengancam keanekaragaman hayati ( / ) serta lingkungan laut.11

(3)

keberlanjutan ( ) sumber daya kelautan kiranya telah menjadi tema geopolitik baru yang menjadi perhatian saat ini. Hal ini sejalan dengan meningkatnya

= : , + dunia sebesar 60

triliun Dollar AS, yang tidak hanya membawa keuntungan berupa peningkatan harapan hidup ( * 1. + + ) dan kesehatan publik secara keseluruhan, namun juga memiliki dampak negatif berupa berkurangnya/hilangnya biodiversity dunia dan sumber daya perikanan laut. Kecuali jika kita mengadaptasikan global politik dengan tantangan keberlanjutan, maka kita akan menisbikan harapan kesejahteraaan dan perdamaian di masa depan.12

Secara lebih luas, potensi konflik akan terjadi dalam hal persaingan atas sumber daya akibat perubahan iklim dan menipisnya sumber daya air baik secara kuantitas (digunakan untuk kebutuhan hidup) maupun secara kualitas (terkait kontaminasi sumber daya air, misalnya 80% perairan Cina tidak lagi aman bagi kehidupan ikan). Potensi ” / ” ini sejalan dengan meningkatnya angka pertumbuhan penduduk, khususnya yang penghidupannya tergantung pada air, seperti di Asia Tenggara, India, dan Cina.13

Dalam konteks regional, pengelolaan perikanan dan lingkungan laut juga terkait dengan karakteristik geopolitik kawasan. Perdebatan

dan kepentingan atas Laut Cina Selatan, misalnya masih menjadi topik hangat hingga saat ini. Meskipun resiko terjadinya konflik telah menurun, namun demikian penetapan batas maritim dan klaim kedaulatan di kawasan ini masih menjadi isu yang belum terselesaikan. Disetujuinya , .. > > oleh Kongres Filipina dan selanjutnya menyebut tindakan Filipina ini dapat mengancam perdamaian dan stabilitas di kawasan.14

Masih adanya tumpang tindih klaim batas maritim dari beberapa negara di kawasan Laut Cina Selatan, pada gilirannya telah mempenga: ruhi upaya pengelolaan laut, keselamatan dan keamanan pelayaran, perlindungan dan konservasi lingkungan laut, serta eksplorasi dan eksploitasi sumber daya kelautan.15

Dalam ketiadaan batas maritim yang disetujui, upaya pengelolaan bersama (

+ . / ), dan

dengan menghindarkan diri dari klaim yurisdiksi sepihak serta kepemilikan tunggal atas sumber daya kelautan, nampaknya menjadi solusi terbaik pada saat ini.16

12. Jeffrey Sachs, the New Geopolitics, Preventing wars and other strife will increasingly depend on facing the ecological consequences of our economic activities.

13. International Institute of Straregic Studies (IISS), 7th Global Strategic Review: "The New Geopolitics", written by: Brig. Gen. (rtd.) Dieter Farwick, Dr. Benedikt Franke, Philipp Hauenstein and Benedikt Wahler, 24:Sep:09

14. Sam Bateman, Commentary on Energy and Geopolitics in the South China Sea by Michael Richardson 15. Ibid.

(4)

Sehubungan dengan faktor keamanan pengelo: laan perikanan, isu yang juga mengemuka dalam agenda kebijakan perikanan internasional adalah kegiatan $

. * ("22

). Kegiatan "22 selain berdampak langsung pada / dan berkurangnya jumlah tangkapan ikan yang sah, juga berdampak tidak langsung terhadap keberlangsungan ekonomi dan sosial masyarakat nelayan yang hidupnya bergantung pada perikanan serta merugikan industri perikanan yang menjalankan aturan yang ditetapkan oleh otoritas pengelolaan.17

Meningkatnya kegiatan "22 yang mengancam sumber daya perikanan dunia tersebut selanjutnya makin didorong oleh aktivitas kapal:kapal penangkap ikan yang menggunakan ”* * + / + 718 19

Dalam International , * + , / $

# ) $ 2 .

2 '((% disebutkan bahwa

" * merupakan kegiatan yang

+ + * /

+ * $

. * $

+ / * ?

+ + / * * *

. / *

5 .

+ / * + / ;

. 5

+ $ /

. / * .. + ?

/ *

$ +

+ . /

* 5 .”20

Adapun 2 . * merupakan

kegiatan penangkapan ikan yang “ + /

. $ / . $

/ $ + ;

/ * ?

* + . +

* / *

5 + / .

/ . $ + /

* . . + *

5 ”21

17. Carl:Christian Schmidt, Addressing Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing

18. # + " . * * + * . $ .

$ $ %(;%% + %&&&

19. Sebuah kapal dikatakan menggunakan “* * + / +” jika ia terdaftar di suatu negara asing “dengan tujuan mengurangi biaya operasi atau menghindari peraturan pemerintah” + # + * ) 4 $ ) . Houghton Mifflin Company. 2004. http://dictionary.reference.com/browse/flag%20of%20convenience.

2 3 / 4 * %&<' menyatakan dalam Pasal 94 bahwa Negara Bendera memiliki yurisdiksi terkait masalah administrasi, teknis dan sosial kapal serta masalah kondisi perburuhan dan seaworthiness. Selanjutnya berdasarkan instrumen: instrumen internasional pasca UNCED, Negara bendera bertanggungjawab atas ketaatan kapal terhadap ketentuan manajemen dan konservasi perikanan internasional, termasuk di laut lepas. :

Namun demikian beberapa negara menggunakan “. ” hanya demi menarik keuntungan, yaitu dengan tidak mengambil langkah positif untuk memenuhi tanggungjawab ketaatan Negara Benderanya terkait kapal perikanannya. Banyak dari negara:negara ini tidak menjadi anggota atau bekerjasama dengan 5 (RFMO) yang telah mengadopsi ketentuan manajemen dan konservasi internasional. Hal ini telah menjadi faktor pendorong bagi kapal:kapal perikanan untuk membeli ”* * + / +” dari negara

. yang tidak melakukan tanggung jawab ketaatan negara Bendera atas kapal:kapal perikanannya.

. # + . $ - / . . 1 + * * ….

(5)

Sementara 2 * merupakan kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan

* .. + * / mengurangi ketentuan tersebut, kegiatan penangkapan ikan tertentu

Guna menggambarkan besarnya akibat "22

, FAO memperkirakan bahwa pada beberapa sektor perikanan yang penting,

"22 dapat mencapai 30% dari keseluruhan tangkapan perikanan. Dalam satu kesempatan, FAO pernah mengindikasikan bahwa tangkapan ikan dari "22

dapat mencapai tiga kali lebih banyak dari level tangkapan yang diperbolehkan.23

20. http://www.imcsnet.org/imcs/docs/international_poa.pdf 21. Ibid

22. Ibid.

23. David J. Doulman, "A General Overview of some Aspects of Illegal, Unreported and Unregulated Fishing" (FAO Fisheries Report No. 666, FIPL/R666), FAO, Rome 2001.

http://www.oecd.org/document/5/0,3343,en_2649_33901_21007109_1_1_1_37401,00.html 24. Edward H Allison, Ingrid Kelling, Fishy crimes: the societal costs of poorly governed marine fisheries.

Selanjutnya pada awal 2009, Bank Dunia dan FAO juga menerbitkan laporan yang berjudul

> “ untuk menggambarkan

inefisiensi sektor perikanan. Laporan tersebut menghitung selisih antara keuntungan ekonomi potensial dan aktual perikanan global sebesar 50 miliar Dollar AS per tahun, sehubungan dengan hilangnya keuntungan akibat IUU Fishing. Diperkirakan pula bahwa total kerugian ekonomi global sektor perikanan dalam 30 puluh tahun terakhir adalah sebesar 3 triliun Dollar AS, tidak termasuk

kerugian “ + ”.24

) " " * ) " )

Instrumen:instrumen hukum internasional terkait dengan pengelolaan perikanan tersebut di atas, kiranya perlu terlebih dahulu merujuk pada awal perkembangan hukum laut modern. Hugo Grotius (1583: 1645) telah meletakkan prinsip 4

(* * ) yang menyatakan

bahwa setiap negara bebas menggunakan laut, termasuk sebagai jalur perdagangan. Prinsip tersebut memperoleh perlawanan dari John Selden (1584:1654), yang berpendapat bahwa laut dapat menjadi n dan

. . dari suatu negara seperti halnya darat, atau yang dikenal dengan prinsip

(6)

tempat sebagai hukum kebiasaan inter: nasional di bidang hukum laut.25

Paska Perang Dunia II, terdapat kesadaran untuk melakukan pemutakhiran dan kodifikasi hukum kebiasaan internasional. Guna maksud tersebut maka diadakan Konferensi Hukum Laut I pada 1958 yang kemudian menghasilkan empat Konvensi yang dikenal dengan “Konvensi Jenewa 1958”. Konvensi tersebut meliputi

/

Dalam perkembangannya, Konvensi Jenewa 1958 mendapat pertentangan keras dari negara:negara pantai. Pada 1970an terdapat ketidakpuasan negara:negara berkembang atas rezim perikanan yang ada, sehubungan dengan fakta bahwa kapal:

kapal dari / . $ yang

dilengkapi dengan teknologi terbaru, melakukan kegiatan penangkapan ikan di laut lepas yang jauh dari pantainya. Pada saat yang sama, beberapa negara maju menyuarakan hal yang sama, terkait dengan keinginan mereka untuk memperoleh akses yang lebih besar atas sumber daya perikanan dan ketidakpercayaan atas kemampuan komisi perikanan internasional untuk mengatur penangkapan ikan ditengah

tekanan atas sediaan ikan akibat semakin intensifnya metode penangkapan ikan.27

Dalam Konferensi III Hukum Laut,

> mengungkapkan tiga

pendekatan terkait dengan perikanan.

, , negara:negara berkembang menginginkan yurisdiksi yang luas bagi negara pantai atas perikanan (suatu ide yang kemudian berkembang dalam proposal mengenai Zona Ekonomi Eksklusif:ZEE). A $ Amerika Serikat dan Kanada, mengusulkan pendekatan manajemen perikanan berdasarkan karakteristik migrasi spesies yang berbeda, dimana spesies ikan yang bermigrasi jauh akan diatur oleh organisasi perikanan internasional. A , Jepang dan Uni Soviet memilih status quo, yaitu menginginkan sedikit perubahan dari rezim yang ada, dan berpendapat bahwa negara: negara pantai/berkembang seharusnya menikmati hak:hak preferensial dalam perairan yang dekat dengan pantainya.28

Ketentuan:ketentuan dalam UNCLOS 1982 mengenai perikanan memang pada akhirnya merefleksikan pendekatan yang pertama dari negara:negara berkembang, namun demikian elemen:elemen pendekatan spesies dapat pula ditemukan.29 ”Kompromi kepentingan” tersebut misalnya terdapat dalam Pasal 64 UNCLOS 1982 sebagai berikut:

25. William Tetley, International Maritime and Admiralty Law, International Shipping Publication, Les Editions Yvon Blais Inc, 2002, hal 630:631.

26. Ibid.

27. RR Churchill and A.V Lowe, the Law of the Sea, Juris Publishing Manchester University Press 1999, hal 288. 28. Ibid.

(7)

+ ; prinsip yang dijamin dalam kebiasaan hukum

internasional, = / /

, dan Bagian VII UNCLOS 1982. Prinsip ini misalnya dapat dirujuk dalam putusan arbitrasi >

(1893) yang menolak klaim Inggris atas kapasitasnya untuk menahan kapal Amerika Serikat yang melakukan penangkapan *

di laut lepas, berdasarkan peraturan perlindungan dan konservasi.31

Namun demikian, tarik menarik antara kebebasan menangkap ikan dan kebutuhan penerapan aturan konservasi di laut lepas, sebagaimana diilustrasikan dalam kasus laut Behring tersebut, kiranya telah menjadi kunci dalam memahami dua perkembangan hukum

penting yang terjadi hingga saat ini. , , adanya perubahan aturan mengenai perikanan di laut lepas oleh untuk menjamin konservasi, pembangunan sediaan ikan (* + ), dan distribusi hasil laut yang lebih adil. A , perluasan yurisdiksi perikanan nasional oleh negara pantai sampai dengan 200 mil dari garis batas laut teritorial, atau yang dikenal dengan zona ekonomi eksklusif.32

Bagi negara:negara berkembang yang berpantai, perluasan laut wilayah sejauh 200 mil laut merupakan reaksi atas prinsip kebebasan di laut dari kapal:kapal penangkap ikan negara: negara maritim besar yang mengarungi semua lautan dan samudera dan melakukan kegiatan:kegiatannya di laut:laut dekat perairan nasional negara:negara pantai. Selanjutnya, dikarenakan negara:negara pantai tersebut merasa lebih berhak dari negara:negara lain telah memutuskan untuk mencadangkan kekayaan:kekayaan laut yang berdekatan dengan perairannya untuk kesejahteraan rakyat mereka.33

Dengan demikian, konsepsi ZEE merupakan manifestasi dari usaha:usaha negara:negara pantai untuk melakukan pengawasan dan penguasaan terhadap segala macam sumber kekayaan yang terdapat di zona laut yang terletak di luar dan berbatasan dengan laut wilayahnya.34

30. + 9B 2 3 / 4 * %&<'

31. Oppenheim’s International law, Ninth Edition 1996, Edited by Sir Robert Jennings QC and Sir Arthur Watts KCMG QC, Volume 1, Longman, hal 757.

32. Ibid.

33. Boer Mauna, Hukum Internasional, Pengertian Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global. Edisi ke:2 , Penerbit PT Alumni, 2005 hal 359

(8)

Pengaturan lebih lanjut upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya ikan di laut lepas

diatur dalam , . +

" /

C

1993. Pengaturan ini bertujuan menjamin negara:negara bendera kapal untuk melakukan pengawasan atas kapal:kapalnya yang melaku: kan penangkapan ikan di laut lepas dengan mengharuskan kapal:kapal tersebut memiliki izin ( 5 ) untuk menangkap ikan dan mematuhi ketentuan konservasi dan pengelolaan yang diadopsi oleh organisasi perikanan regional.35

Selanjutnya, isu konservasi jangka panjang dan pemanfaatan secara berkelanjutan atas sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh, sebagai pelaksanaan yang efektif atas ketentuan:ketentuan yang terkait dengan UNCLOS 1982, diatur dalam

* " . * negara lain, sehingga pengelolaannya melintasi batas yurisdiksi beberapa negara. Sementara jenis ikan yang beruaya jauh

(Pasal 64 UNCLOS) merupakan jenis ikan yang beruaya dari ZEE ke laut lepas dan sebaliknya yang jangkauannya dapat melintasi perairan beberapa samudera. Oleh karenanya terdapat kemungkinan terjadinya konflik kepentingan antara negara pantai dengan negara penangkap ikan jarak jauh, khususnya dalam pemanfaatan dan konservasi ikan baik di ZEE maupun di laut lepas yang berbatasan dengan ZEE. Dengan demikian, kerjasama internasional dianggap sebagai solusi paling baik untuk mencegah dan mengatasi potensi konflik tersebut.37

Hingga saat ini, terdapat 13

5 (RFMO) diseluruh dunia. Pada kawasan Samudera Atlantik terdapat

3 ;: + 5

Pada kawasan Mediterania terdapat =

+ *

= !, Samudera Hindia memiliki "

(9)

* + 4 / + 4 !. Sementara itu, di Samudera Pasifik dapat pula dijumpai *

/ *

+ :

, + * + + : , ! dan

" ; + . +

" !7

Masalah:masalah pengelolaan perikanan yang timbul di laut bebas, misalnya: / 5 $

* $ / ;+ . 5 $

1+ / * 5 $ / * + .

+ $ ** + + / , dan

. Langkah:langkah yang ditempuh RFMO misalnya memutuskan jumlah tangkapan yang diperbolehkan dan besarnya alokasi para pihak, kewajiban para pihak untuk memberikan informasi ilmiah dan data tangkapan (CCSBT),38 memperhatikan kondisi dan kecenderungan sediaan, men: dorong kegiatan penelitian dan pengembangan sediaan dan perikanan, mengadopsi langkah: langkah konservasi dan pengelolaan ber: dasarkan bukti ilmiah, memberikan salinan peraturan nasional yang berlaku terkait konservasi dan pengelolaan sediaan (IOTC),39 memelihara daftar kapal ikan yang sah melakukan kegiatan penangkapan, menilai dampak penangkapan ikan pada

sediaan dan ; . , serta

mencegah terjadinya / * dan 1+ * (WCPFC).40

Terkait dengan ancaman "22 , instru: men hukum internasional terkait diantaranya

adalah " , * + , / $

# ) " $ 2 .

2 '((%dan

, , / $ #

) " $ 2 . 2

'((&7Salah satu aturan terpenting dalam instrumen tersebut adalah kewajiban negara pihak untuk menolak pelabuhannya digunakan untuk melayani kegiatan pendaratan,

.. , pengepakan dan pemrosesan,

* , dan .. , terhadap kapal yang diduga terlibat dalam kegiatan "22

.41 Selanjutnya, negara pihak juga harus mematuhi ketentuan minimal inspeksi atas kapal:kapal yang diduga melakukan kegiatan "22 .42

+ , ) ) !

* ) " +

Peranan sektor perikanan bagi bangsa Indonesia juga sangat besar. Indonesia adalah negara kepulauan, dengan 2/3 (dua pertiga) wilayahnya berupa laut. Lebih dari 60% masyarakat Indonesia hidup di wilayah pesisir dengan mata pencaharian dari laut. Mereka bukan saja para nelayan atau para pembudidaya ikan, tetapi juga yang berhubungan tidak langsung dengan laut seperti pedagang atau jasa:jasa lainnya. Pada wilayah pesisir dan pantai tersebut terdapat lebih dari 100 juta penduduk Indonesia bermukim.43

38. Pasal 5 dan Pasal 8 ayat 3 / * / * > * .

(10)

44. Naskah Penjelasan Pengesahan Convention for the Conservation of Southern Bluefin Tuna.

45. Aji Sularso, " . + * " $ 2 . $ " 4): "", Nusa Dua:Bali, 23 – 26 March 2010. 46. # * + . " $ : $ 3 $ ';B '((<. 47. Ibid.

48. UU No. 45 tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang:Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, Bagian Menimbang butir b.

Wilayah nusantara juga merupakan daerah yang cocok bagi kegiatan pemijahan ikan, salah satunya berada pada wilayah perairan ZEE Indonesia yaitu pada perairan selatan Jawa dan Bali (8º LS : 50ºLS), dimana ikan tuna sirip biru melakukan pemijahan pada bulan September – April.44 Secara geografis, wilayah Indonesia merupakan wilayah kepulauan terbesar dan teragam di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau dan memiliki garis pantai sepanjang 95.181 km. Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, yang mengapit wilayah Indonesia, juga membawa pengaruh bagi / laut terluas di dunia dan terumbu karang yang menopang berlimpahnya sediaan ikan yang beragam.45

Dalam perspektif politis dan keamanan, wilayah Indonesia yang luas dan berada di jalur transportasi dunia membawa dampak bagi banyaknya kapal:kapal asing yang lalu lalang (atau bahkan melakukan pencurian sumber daya ikan) dan berpotensi melakukan pencemaran lingkungan. Perkiraan besarnya kerugian yang dialami Indonesia akibat kegiatan "22

adalah sebesar 2 (dua) miliar Dollar AS46 belum termasuk rusaknya sumber daya perikanan dan ekosistem biota laut.

Kegiatan "22 ini pada gilirannya telah memengaruhi nelayan:nelayan lokal, skala kecil dan menengah, yang tidak mampu bersaing dengan operator "22

karena penggunaan teknologi yang

lebih canggih. Dengan demikian, nelayan tidak mengalami peningkatan taraf hidup dan bahkan makin bertambah miskin.47 Industri perikanan nasional juga belum terlihat ”gregetnya” meskipun Pemerintah telah mencanangkan tahun 2015 sebagai tahun kemajuan industri perikanan nasional.

Dalam Undang:Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang:Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, dinyatakan bahwa pemanfaatan sumber daya ikan belum dapat meningkatkan taraf hidup yang berkelanjutan dan berkeadilan melalui pengelolaan perikanan, pengawasan dan sistem penegakan hukum yang optimal.48

Sejumlah inisiatif telah diambil, diantaranya dengan mengadopsi sejumlah ketentuan internasional yang diharapkan dapat memperbaiki situasi pengelolaan dan pelestarian perikanan nasional. Saat ini, Indonesia telah menjadi pihak pada dua

perkembangannya kemudian, Indonesia juga berperan aktif mengusulkan agar "22

(11)

batas dalam kerangka 2 3 /

5 , mengingat sifatnya sebagai kejahatan serius bersanding dengan

$ *

dan terorisme.

Namun demikian, Pemerintah dan segenap perikanan perlu tetap kritis terhadap perkembangan pengaturan inter: nasional pasca penandatanganan UNCLOS 1982, sehubungan dengan pengelolaan dan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penyisihan COD, penurunan turbiditas dan pH air buangan proses elektrokoagulasi menggunakan variasi pasangan elektroda dalam air buangan yang sama, waktu

adalah sebesar-besarnya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana tersebut.27 Kerugian keuangan negara harus dilakukan sesuai dengan standar audit yang benar yakni

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai lamanya waktu yang diperlukan pada proses desorpsi paraquat pada tanah Oesao dan untuk mendapatkan

Berdasarkan permasalahan yang sudah dipaparkan untuk membangkitkan daya tarik belajar siswa terkait tarian daerah, serta meningkatkan pengetahuan dan nilai mereka pada muatan materi

Pelayanan kesehatan mencakup semua layanan yang berhubungan dengan diagnosis dan pengobatan penyakit, promosi, pemeliharaan dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang baik memberikan pelayanan yang efektif, aman, dan berkualitas tinggi kepada mereka yang membutuhkannya dengan didukung oleh sumber daya yang memadai. Upaya pembangunan kesehatan dapat berdaya guna dan berhasil guna bila kebutuhan sumber daya kesehatan dapat terpenuhi. Sumber daya kesehatan mencakup sumber daya tenaga, sarana dan pembiayaan.Kesehatan yang baik merupakan hal yang penting untuk pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan dan mengurangi kemiskinan (World Health Organization, 2017). Pelayanan kesehatan tercantum dalam kebijakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28 H Ayat (1) tentang kesehatan yaitu “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Dalam Pasal 28 H Ayat (1) tersebut memiliki makna setiap orang atau warga Negara Republik Indonesia berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dan Negara bertanggung jawab mengatur agar terpenuhi hak hidup bagi seluruh