PENGANTAR KE PROSES BELAJAR MENGAJAR
PENDAHULUAN
Bila terjadi suatu proses belajar, maka bersama dengan itu terjadi pula proses mengajar. Hal ini kiranya mudah dipahami, karena bila ada yang belajar tentu ada yang mengajarnya, dan sebaliknya, bila ada yang mengajar tentu ada yang belajar. Sesungguhnya setiap saat dalam kehidupan terjadilah proses belajar‐mengajar, disengaja atau tidak disengaja, disadari atau tidak tentu ada yang belajar. Sesungguhnya setiap saat dalam kehidupan terjadilah proses belajar‐mengajar, disengaja atau tidak sengaja, disadari atau tidak disadari. Dari proses belajar‐ mengajar ini akan diperoleh suatu hasil, yang umumnya disebut hasil pengajaran, hasil belajar dan sebagainya. Agar memperoleh hasil yang seeffsien‐efisiennya, maka proses belajar‐mengajar dilakukan dengan sengaja, dengan sadar dan dengan terorganisir baik.
Untuk mencapai tujuan tersebut orang mengembangkan psikologi pendidikan, metode‐metode mengajar, pengelolaan pengajaran, dan lain‐lain ilmu yang dapat menunjang memperbaiki proses belajar‐mengajar tersebut. Berikut ini akan ditinjau secara garis besar proses belajar‐mengajar tersebut.
BELAJAR
Proses belajar (learning) ialah suatu perubahan yang relative tetap dalam persediaan (refertoire) tingkah laku, yang terjadi sebagai hasil pengalaman. Ini berarti bahwa hanya dapat dikatakan terjadi proses belajar bila seseorang menunjukkan tingkah laku yang tidak sama.
Misalnya: bila ia dapat membuktikan pengetahuan tentang fakta‐fakta baru atau ia dapat melakukan sesuatu, yang sebelumnya ia tidak dapat melakukannya. Jadi proses belajar menempatkan seseorang dari status abilitas yang satu ke status abilitas yang lain. Apabila didefinisikan sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang berkat usaha belajar yang dilakukannya. Perubahan status abilitas meliputi 3 ‘domain’ menurut Bloom (1964) yaitu domain cognitive, effective, dan psychomotor.
Cognitive Affective Psychomotor
Knowledge Receiving Initiatory level
Comprehension Responding Pre‐routine level
Application Valuing Routinized level
Synthesis Organization
Analysis Charactersation
Evaluation
Keterangan :
Jangkauan kemampuan cognitive dan affective menurut Bloom jangkauan
kemampuan psychomotor: diusulkan oleh Menteri Pendidikan Srilangka (1967). Jangkauan‐jangkauan tersebut diasumsikan bersifat hirarkis dan kumulatif, yaitu jangkauan yang ditulis di atas lebih rendah tingkatnya dari yang dibawahnya. Hal ini masih perlu dievaluasi.
Sesuai dengan tujuan belajar, jangkauan kemampuan tersebut tidak selalu harus dicapai yang tertinggi, mungkin hanya sampai yang pertama, kedua dan seterusnya, dan mungkin juga hanya untuk satu domain, dua domain, kombinasi domain‐domain dan sebagainya. Agar supaya proses belajar dapat berlangsung optimal, maka telah dikembangkan teori‐teori belajar; dasar‐dasar psikologis untuk proses belajar, factor‐ faktor yang mempengaruhi proses belajar dan sebagainya.
Mengajar:
Proses belajar‐mengajar menghasilkan hasil pengajaran. Meskipun tujuan belajar telah dinyatakan dengan jelas dan baik namun belum tentu hasil yang diperoleh baik.
Suatu pengajaran disebut berhasil baik, bila pengajaran tersebut membangkitkan proses belajar belajar efektif. Dalam hal ini masalah yang menentukan, bukan metoda atau prosedur yang digunakan dalam pengajaran, bukan kolot atau modernnya pengajaran, bukan pula konfensional atau profesifnya pengajaran. Semuanya itu mungkin penting artinya, tetapi tidak merupakan pertimbangan terakhir, karena berkenaan dengan ‘alat’ dan bukan dengan ‘tujuan’ pengajaran. Bagi pengukuran suksesnya pengajaran, syarat tertinggi ialah : berhasilnya.
1. Hasil yang tahan lama dan dapat digunakan dalam kehidupan oleh
mahasiswa. Mungkin seorang dosen merupakan seorang ‘pelatih yang baik’ bagi mahasiswa yang akan menghadapi ujian. Tapi bila hasil pengajarannya tidak tahan lama dan lekas menghilang, maka hasil pengajaran tersebut tidak efektif. Seorang dosen harus mempertimbangkan berapa banyak dari yang diajarkannya yang akan masih diingat kelak oleh mahasiswa, setelah lewat seminggu, sebulan, setahun atau sepuluh tahun.
2. Hasil yang merupakan pengetahuan asli atau otentik. Pengetahuan hasil
pengajaran demikian telah merupakan bagian kepribadian mahasiswa yang mempengaruhi pandangannya dan caranya mendekati suatu permasalahan. Ini disebabkan karena pengetahuan tersebut penuh arti bagi si mahasiswa.
Perumusan yang mungkin terbaik untuk pengajaran, ialah mengorganisir proses belajar. Dengan demikian permasalahan yang dihadapi oleh pengajaran yang berhasil baik, ialah bagaimana mengorganisir proses belajar untuk mencapai pengetahuan otentik. Perumusan di atas dapat berlaku bagi setiap jenis dan corak pengajaran.
Karena proses belajar harus diorganisir sebaik‐baiknya, maka menurut hakekatnya dosen dapat disebut sebagai seorang organisator. Sebagai seorang organisator yang baik, maka dosen harus memperlihatkan cirri‐ciri tertentu dalam pekerjaannya. Pada cirri‐ciri tersebut tergantung efektivitas seorang dosen.
Ciri‐ciri seorang organisator yang baik ialah :
1. Ia bukan seorang otokrat.
2. Ia tidak akan bertindak sebagai anggota biasa dari kelompoknya tanpa hak‐
hak khusus atau tanpa kekuasaan dan keistimewaan tertentu.
3. Ia akan membantu kelompok dan oknum‐oknum didalamnya untuk
menemukan, merumuskan dan menjelaskan tujuan yang hendak dicapainya sendiri.
4. Ia akan mewakili dan membagikan tanggung jawab seluas yang dapat
dilakukannya.
5. Ia merangsang dan menghargai inisiatif.
6. Ia akan lebih bertumpu pada kekuatan dan tidak akan menonjolkan
kelemahan.
7. Ia akan memupuk kritik dan penilaian diri sendiri diantara anggota‐anggota
8. Ia akan terus menerus mengadakan pengawasan, karena tanpa pengawasan
dan peraturan tidak ada satu kelompokpun yang dapat berfungsi dengan baik.
Cirri‐ciri tersebut ialah cirri‐ciri cara bertindak. Tidak boleh dilupakan, bahwa dosen terutama bekerja dengan manusia. Tugas dan tanggung jawabnya ialah menciptakan berbagai situasi yang memungkinkan orang‐orang itu dapat bekerja dan mencapai hasil sebaik‐baiknya;
Usaha untuk mencari orgnisasi yang lebih baik dari pola ‘buku pelajaran tugas hafalan – pengucapan hafalan’ mengikuti 2 garis perkembangan utama :
1. Usaha menggunakan metode yang lebih baik yaitu menggunakan cara‐cara
yang lebih baik untuk menyajikan pelajaran, dihubungkan dengan penggunaan alat‐alat yang lebih efektif, seperti pertanyaan, gutas, buku pelajaran, papan tulis dan sebagainya.
2. Usaha mengubah hubungan dosen dan mahasiswa, serta dalam pola aktivitas
yang akan membawa mahasiswa pada kesibukan belajar.
Belajar harus diorganisasi dalam arti, bahwa mahasiswa menerimanya sebagai :
• Suatu pekerjaan nyata dan memaksa serta bermanfaat.
• Yang menghadapkannya pada tantangan‐tantangan yang maknawi.
• Serta membawanya :
a. Ada wawasan yang lebih mendalam dan luas.
b. Pada sikap yang lebih kritik dan pada keterampilan yang memadai.
Seperti terlihat di atas pengajaran yang berhasil akan mengorganisir proses belajar yang bermakna penuh. Dari percobaan‐percobaan terbukti bahwa belajar tergantung dari makna (yang dipelajari). Menarik perhatian dan dapat menimbulkan pemahaman, merupakan unsure‐unsur yang menentukan ‘makna’ tersebut. Di sini dosen harus memberi tekanan pada ‘makna’ (yang dipelajari) karena belajar itu sendiri esensinya merupakan usaha mencari dan menemukan makna (dari yang dipelajari).
Dosen yang memberikan latihan, yang sama sekali tidak komprehensif sifatnya atau
menyuruh mahasiswa‐mahasiswanya menghafalkan fakta‐fakta yang tidak
agar mahasiswa‐mahasiswanya memahami akan mengorganisir proses itu seperti yang seharusnya dilakukan.
Hal yang hendaknya selalu diingat seorang dosen ialah, bahwa belajar sama dengan mengerti. Belajar ialah mencari, menemukan dan melihat pokok persoalannya. Belajar ialah memecahkan persoalan yang dihadapi dalam arti inklusif, bahwa kalau seseorang telah menguasai keterampilan motoris atau kalau seseorang sudah mempunyai kemampuan menghargai suatu simfoni misalnya, ia itu sebenarnya telah memecahkan dan menemukan kunci persoalan yang dihadapinya.
Pengajaran berhasil baik itu didasarkan pada pengakuan bahwa belajar secara esensial merupakan suatu proses yang bermakna dan bukan sesuatu yang berlangsung dengan mekanis belaka. Penelitian psikologik mengungkapkan sejumlah aspek yang khas sifatnya atau menekankan pada beberapa hal dalam keseluruhan pola dari apa yang disebut ‘belajar dengan penuh makna’, yang memungkinkan orientasi untuk lebih tegas dan pasti.
1. Belajar menurut esensinya mempunyai tujuan. Belajar mempunyai makna
penuh dalam arti mahasiswa memperhatikan makna tersebut.
2. Proses belajar, ialah sesuatu yang bersifat eksploratif serta menemukan dan
bukan merupakan pengulangan rutin.
3. Hasil belajar yang dicapai itu selalu memunculkan pemahaman atau
pengertian, atau menimbulkan reaksi atau jawaban yang dapat dipahami dan masuk akal (intelligible).
4. Hasil belajar itu tidak terikat pada situasi ditempat mencapainya, akan tetapi
dapat juga digunakan dalam situasi lain.
Pengajaran, yaitu hasil proses belajar‐mengajar efektivitasnya tergantung dari beberapa unsure‐unsur. Yang dimaksud dengan efektivitas pengajaran ialah suksesnya memproduksi hasil‐hasil otentik.
1. ‘Kemaknaan’ dan karena efektivitas ‘belajar’ untuk sebagian besar tergantung
konteks yang dianggap penting dan memaksa bagi mahasiswa dan yang melibatkannya menjadi peserta aktif, justru karena tujuannya sendiri. Tugas hendaknya dinyatakan dalam kerangka konteks yang bersifat kongkrit, dapat ditiru dan dilaksanakan secara teratur, yang memberikan kemungkinan seluas‐luasnya untuk bereksprerimentasi, beresplorasi dan menemukan, serta yang mengarahkan pada penguasaan melalui pengertian dan pemahaman serta yang memungkinkan ‘transfer’. Bila ternyata pekerjaannya tidak lancar jalannya, hendaknya dicari apakah kesulitan yang dihadapi itu disebabkan penggunaan jenis konteks yang tidak tepat.
2. Belajar yang penuh makna dan efektif harus diorganisir sekitar suatu focus.
Cirri‐ciri focus yang baik adalah:
a. Focus membolisasi tujuan. Telah dilihat, bahwa tidak mungkin ada
‘belajar’ bila tidak ada kehendak untuk belajar. Pembangkitan kehendak untuk berlajar merupakan suatu persoalan organisasi yang terutama tergantung pada dua prinsip operasional prinsip konteks dan focus. Konteks membangkitkan tujuan. Focus merumuskan dan mengarahkan tujuan itu.
b. Focus memberikan bentuk dan uniformitas pada ‘belajar’. ‘Belajar’
hendaknya diorganisasi sedemikian sehingga mahasiswa dapat melihat hbungan‐hubungan antar‐bagian. Pola atau rencana mengenai hal‐hal yang dipelajarinya.
c. Fokalisasi mengorganisasi ‘belajar’ sebagai suatu proses eksplorasi dan
penemuan. Seorang dosen yang baik akan selalu berusaha mengajak mahasiswa ‘belajar’, melalui penemuan dan pemecahan persoalan. Yang menjadi syarat bagi setiap jenis situasi mengajar‐belajar ialah suatu konteks yang ‘kaya’ dan ‘memaksa’ yang menimbulkan focus dinamik serta yang menyatukan dan menjelaskan.
3. Mutu makna dan efektivitas ‘belajar’ sebagian terbesar tergantung pada
kerangka social tempat belajar itu berlaku. Di sini dihadapi prinsip psikologi asasi yang ketiga bagi pengajaran yang berhasil baik, yakni prinsip sosialisasi. Orang umumnya tidak akan ragu‐ragu menyatakan, bahwa pertukaran pikiran antara beberapa orang dapat berakibat besar serta menguntungkan atas hasil berfikir dan belajar. Pengaruh keadaan social atas ‘belajar’ telah banyak sekali menarik perhatian dengan nama ‘dinamika kelompok’.
a. Fasilitas social.
Seseorang akan lebih baik melakukan berbagai tugasnya, bila ia
melakukannya dalam satu kelompok dengan orang‐orang yang
bersamaan tugasnya, daripada ia harus melakukan tugasnya itu seorang diri. Fasilitas social akan bekerja, bila mereka yang telah mencapai sesuatu menjadi ‘bukti hidup’, bahwa mencapai sesuatu itu memberikan kegembiraan, ada mutunya dan mungkin dicapai (oleh semua orang).
b. Perangsang (incentives)
Pengakuan atau penghargaan yang bagaimanapun untuk setiap pekerjaan dan usaha yang dilakukan selalu dianggap perlu. Perangsang yang positif sifatnya selalu lebih baik daripada yang negative. Pokok yang dihadapi ialah untuk mengorganisasi aspek social dari ‘belajar’ itu sedemikian, sehingga kelompok yang bekerja dan hidup bersama‐sama dalam kelas, selalu dan secara berkesinambungan diarahkan kegiatannya pada pengakuan dan penghargaan pekerjaan yang berhasil, serta pada pemberian dorongan kepada setiap usaha.
c. Kelompok demokratis.
Anggota‐anggota suatu kelompok yang diorganisasi dan diatur dengan cara‐cara demokratis, akan memperlihatkan cara dan hasil‐hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan suatu kelompok yang diorganisasi dan diatur secara otokratis.
4. “Belajar dengan penuh makna” harus dilaksanakan sesuai dengan bakat dan
kesanggupan serta tujuan pelajar sendiri dan dengan prosedur
eksperinmental yang berlaku. Perumusan ini merupakan perumusan tentang prinsip individualisasi yang menjadi pedoman bagi usaha mengorganisasi ‘belajar’ bila diinginkan supaya efektif.
Kiranya telah jelas bagi setiap orang bahwa ‘belajar’ merupakan persoalan individual. Alasannya sederhana saja, ialah bahwa setiap orang harus melakukan belajar itu bagi dirinya sendiri. Perbedaan ‘hasil belajar’ ada dua jenis yaitu :
a. Perbedaan‐perbedaan vertical (perbedaan satu dimensi, perbedaan
kuat.titatif).
dan sebagainya. Tetapi dasar tersebut dapat pula bersifat mental. Perbedaan‐perbedaan vertical yang terpenting dengan dasar ini ialah yang disebut ‘intelegensi umum’. Dengan ‘test intelegensi’ dapatlah diungkapkan perbedaan‐perbedaan vertical jenis ini.
b. Perbedaan‐perbedaan kualitatif.
Manusia berbeda satu dari yang lain dalam hal‐hal yang mengenai kecekatan khusus, perhatiannya dan cara‐cara bekerja.
Perbedaan‐perbedaan itu tidak dapat disusun dalam suatu lajur satu dimensi, karena hal‐hal tersebut menunjukkan perbedaan dalam jenis atau ‘type’ dan bukan derajat. “Test aptitude” sedikit banyak dapat mengungkapkan perbedaan kualitatif tersebut.
5. Sampai sekarang yang dibicarakan ialah ‘belajar’ sebagai gejala tersendiri dan
cara mengorganisasinya dengan tepat berdasar prinsip konteks, fokalisasi, sosialisasi dan individualisasi.
Disamping hal‐hal ini perlu pula dipikirkan efektivitas serangkaian pelajaran, yang disusun tepat pada waktunya. Organisasi sekuens (sequence) belajar ‘dengan penuh makna’ harus dari sendirinya bermakna penuh pula, bila hendak dicapai hasil‐hasil yang otentik. Inilah yang disebut prinsip ‘sekuens’. Ciri‐ciri suatu sekuens yang terorganisasi dengan wajar ialah :
a. Pertumbuhan itu bersifat berkesinambungan.
b. Pertumbuhan tergantung dari tujuan.
c. Pertumbuhan tergantung pada munculnya ‘makna’
d. Pertumbuhan merupakan evaluasi dari penguasaan yang langsung
menuju ke pengendalian yang jauh.
e. Pertumbuhan merupakan gerakan dari yang kongkrit kea rah yang
simbilis.
f. Pertumbuhan ialah suatu gerakan dari yang kasar dan global kea rah
yang diskriminatif.
g. Pertumbuhan merupakan suatu proses transformasi.
6. Efektivitas dan sukses setiap usaha ‘belajar’ akan meningkat oleh evaluasi
Evaluasi membawa murid pada taraf ‘belajar’ yang lebih baik lagi dari yang telah dilakukannya.
Evaluasi yang baik harus langsung berhubungan dan harus membantu realisasi secara progresif tujuan ‘belajar’ yang dianut oleh mahasiswa. Seperti telah diuraikan terdahulu ‘belajar’ dimulai karena adanya dorongan keperluan, atau karena adanya suatu persoalan yang dirasakan memaksa.