RINTANGAN-RINTANGAN DALAM JALAN PENGABDIAN SUCI (BHAKTI)

29 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

RINTANGAN-RINTANGAN

DALAM JALAN PENGABDIAN SUCI

(2)

KATA PENGANTAR

Dalam sebuah penjelasan di dalam Skanda Satu Srimad-Bhagavatam. Srila Prabhupada menyebutkan bahwa ada banyak rintangan nyata dalam jalan pengabdian suci, namun atas karunia guru dan Krsna seseorang dapat mengatasinya. Yang menarik perhatian saya ketika pertama kali membaca penjelasan bahwa Srila Prabhupada dan vaisnava-vaisnava agung lainnya tanggap bahwa kita dihadapkan pada banyak masalah ketika kita berusaha untuk menjalankan kehidupan Kesadaran Krsna. Kadangkala kita mungkin berpikir bahwa para acarya menyampaikan tentang pelepasan ikatan duniawi yang sepenuhnya dan pencapaian pengabdian suci yang murni 100%, dalam cara-cara yang idealis. Kita bertanya-tanya apakah mereka mengetahui seperti apa sebenarnya keadaan kita dalam usaha mencapai hal tersebut. Saya sangat terhibur ketika mengetahui bahwa mereka sepenuhnya menyadari masalah-masalah nyata yang kita hadapi. Dan kita pun harus menyadari masalah-masalah tersebut, demi mengatasinya.

Pada jaman ini (Kali-yuga), masalah-masalah kehidupan menjadi lebih buruk daripada sebelumnya. Seperti disebutkan di dalam Srimad-Bhagavatam, “Dalam zaman besi Kali Yuga ini manusia berumur pendek. Mereka suka bertengkar, malas, salah bimbing, tidak beruntung, dan diatas itu semua, mereka selalu terganggu” (Bhag. 1.1.10). dalam penjelasannya Srila Prabhupada menyebutkan, “Atmosfir dijejali dengan pertentangan.”

Tentu saja rintangan-rintangan dalam kehidupan bukan diciptakan oleh proses bhakti-yoga. Bhakti Yoga dimaksudkan untuk menghilangkan segala masalah. Seperti disebutkan didalam srimad – bhagavatam : “Penderitaan-penderitaan material para entitas hidup yang sudah terlalu banyak dialaminay, dapat secara langsung dikurangi melalui proses menghubungkan diri lewat pengabdian suci (Bhag.1.7.6). kadangkala seorang penyembah pemula mengalami bahwa kehidupannya lebih nyaman saat sebelum dia melaksanakan Kesadaran Krsna, dan karenanya dia berpidir bahwa pengabdian suci itu sendiri menciptakan rintangan-rintangan bagi kebahagaiaannya. Sebenarnya kehidupan duniawilah yang menghasilkan masalah-masalah tersebtu. Jika Kesadaran Krsna tampak seperti membuatnya menjadi lebih buruk, ini dikarenakan kita sedang mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk. Jika anda membiarkan kamar anda dalam keadaan kotor, mungkina akan terasa tidak ada gangguan dibandingkan ketika anda menyapu dan debu-debu beterbangan, dan segalanya harus dipindahkan. Tapi pada akhirnya anda menjadi lebih sehat dan lebih bahagia karena keadaan sudah bersih.

Suatu kali seorang penyembah bersurat kepada Srila Prabhupada, “Banyak sekali rintangan dalam jalan saya.” Prabhupada menjawab bahwa beliau dapat menyingkirkan segala rintangan tersebut dengan sekali tendang, namun masalah yang sebenarnya adalah bahwa sang murid tidak menjalankan perintah-perintah sang guru spiritual. Pernyataan ini memberikan sebuah indikasi kepada kita bagaimana masalah-masalah yang tampaknya tidak terpecahkan akan dapat diatasi. Sambil kita mempelajari instruksi-instruksi Srila Prabhupada dan berbagi pengalaman perjuangan dan kesuksesan kita, kita dapat mempelajari bagaimana cara mengatasi rintangan-rintangan yang secara nyata datang kepada setiap kehidupan pengabdian suci.

(3)

Ketika seorang gembira karena pengaruh pergaulan dengan para penyembah dan dibangkitkan kepada Kesadaran Krsna, ia merenungkan aktivitas-aktivitas pikirannya – yaitu berpikir, merasakan dan menginginkan – dan memutuskan apakah ia mesti kembali kepada aktivitas duniawinya atau tetap mantap dan kesadaran spritual….. pikiran mungkin saja menyarankan bahwa melalui visayabhoga, atau kenikmatan indera seseorang dapat berbahagia, namun ketika seseorang telah maju dalam Kesadaran Krsna, ia tidak memperoleh kebahagian dari aktivitas-aktivitas duniawi.

- Bhag.4.26.14, penjelasan

Dalam buku kecil ini saya tidak berusaha melakukan sebuah studi komprehensif mengenai semua rintangan yang datang kepada penyembah. Saya telah memilih masalah-masalah yang dialami oleh kebanyakan penyembah dan yang dapat saya hubungkan dengan perjuangan-perjuangan saya. Saya berharap usaha-usaha kita untuk memikirkan masalah-masalah ini, membaca apa yang telah disampaikan Prabhupada, dan menjalani cara-cara perbaikannya, akan memberikan hasil yang positif.

Keraguan-Keraguan Filosofis

Kitab-kitab Veda mengajarkan bahwa semua mahluk hidup adalah roh individual yang kekal, dan sifat dasar kita adalah untuk mengabdikan diri secara riang kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa di dunia rohani. Karena kita adalah roh-roh yang sangat kecil. Kita memiliki kecenderungan untuk menyalahgunakan kebebasan kita, dan ketika kita melakukan hal tersebut kita dikirim kedunia material, dimana Krsna memfasilitasi keinginan kita untuk menikmati terpisah dari-Nya. Namun hal ini sebenarnya memberikan penderitaan tanpa henti kepada kita. Seperti Prabhupada mengatakan, “Kita mencoba mengeksploitasi sumber-sumber alam material, namun sebenarnya kita menjadi semakin terikat dalam komplesitasnya. “(SSR hal 165). Dibawah pengendalian energi material kita harus bertransmigrasi kehidupan demi kehidupan dan mengecap berbagai jenis penderitaan. Jika seseorang sangat beruntung, ia bertemu seorang guru spiritual yang bonafide dan memulai jalan pengabdian suci untuk kembali pulang kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Saat kita mengikuti Kesadaran Krsna, membaca buku-buku Srila Prabhupada kita mendapatkan suatu pemahaman teoritis terhadap filsafat ini. Ini adalah suatu filsafat yang luas dengan banyak detailnya. “seseorang akan menemukan didalam Bhagavad-gita semua yang ada di kitab-kitab suci lain, namun pembaca juga akan menemukan hal-hal yang tak akan ditemukan dikitab suci manapun. (Bg.1.1, penjelasan). Berangsur-angsur pemahaman teoritis kita berubah menjadi keyakinan dan keinsafan. Namun bahkan setelah praktek bertahun-tahun, seorang penyembah mungkin saja kembali menyalahgunakan kebebasannya dan kembali pada prilaku menentang yang membawa sang roh ke dunia material. Prabhupada mengkarakteristik sikap menentang ini sebagai suatu dualitas dalam keinginan dan kebencian. “Akibat keinginan ini dan rasa benci, orang bodoh ingin manunggal dengan Tuhan, dan iri kepada Krsna sebagai Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. “(Bg.7.27, penjelasan). Satu bentuk yang diambil oleh sikap menentang ini adalah keraguan pada ajaran kitab suci yang diwahyukan.

(4)

kadangkala saya mengutip, “Keragu-raguan yang telah timbul didalam hatimu akibat kebodohan harus dihancurkan dengan senjata pengetahuan. Dibekali dengan Yoga….berdiri dan bertempurlah (Bg.4.42) meditasi pada sloka-sloka ini telah sangat membantu mengobati keraguan saya.

Salah satu penyembah yang menghadiri seminar tersebut mengatakan bahwa dia sedikit kaget mendengar bahwa seorang sosok yang semestinya menjadi pembimbing spiritual dapat memiliki keraguan tentang Krsna. Saya kembali mengakui kepadanya bahwa sayangnya saya tidak diatas segala keraguan itu. Sampai seseorang mencapai tataran pembebasan, keraguan-keraguan itu. Akan senantiasa datang. Keraguan-keraguan itu mungkin tidak serius, atau dapat juga menjadi demikian berat hingga dapat secara serius menghambat kemajuan kita. Kita hendaknya tidak menyembunyikan fakta seperti ini dan menjadi angkuh seolah-olah kita sempurna. Kita mesti mempelajari bagaimana berurusan dengan rintangan-rintangan pada jalan kita.

PENDEKATAN INTELEKTUAL

Satu respon terhadap sikap menentang adalah dengan menyerang balik menggunakan pengetahuan. Ini direkomendasikan oleh Krsna dalam Bhagavad-gita, dan kita dapat menyebut respon seperti ini sebagai pendekatan intelektual. Keluarkan keraguan jahat itu dan buat dia berbicara kepada anda. Lakukan dialog dengan keraguan anda. Anda dapat melakukan hal ini didalam pikiran atau dalam sebuah diary. Atau mungkin akan lebih membantu dengan berbicara kepada penyembah lain mengenai hal ini. Srila Prabhupada seringkali memancing debat pada acara jalan pagi beliau. Beliau akan meminta pandangan-pandangan yang menentang – “apa yang mereka katakan? – dan beliau akan melatih kita untuk berargumen melawan cara pandang atheis.

Mari saya berikan beberapa keraguan dan memberi respon singkat terhadapnya melalui pendekatan intelektual atau debat :

1. “Kesadaran Krsna sepertinya hanya salah satu dari agama-agama didunia dan mitologi-mitologi dunia yang berbicara mengenai Tuhan dan memiliki satu teori tentang ciptaan dan kehidupan setelah kematian. Jadi tidakkah pandangan Veda itu suatu hal yang relatif? Dan tidakkah semua agama-agama ini hanyalah ciptaan-ciptaan manusia?

2. “Bahkan jika saya menerima bahwa ada kekuatan rohani yang melampaui indera-indera dan pikiran, bagaimana saya dapat menerima sudut pandang eksklusif dari para Vaisnava India, bahwa Sri Krsna adalah Personalitas Tuhan Yang Maha Esa? Apakah ini berarti bahwa semua agama yang lain itu salah? Saya takut jika saya mengikuti Kesadaran Krsna saya hanya akan masuk kepada sebuah proses sempit bersifat sekte-sekte?

JAWABAN UNTUK KERAGUAN NOMOR SATU

(5)

suci lain, namun juga mengajarkan sesuatu yang lebih – sebuah sains non sektarian dengan mana semua agama dapat dihargai dalam esensi tertinggi mereka. Sains tersebut dikenal sebagai Bhagavata- dharma atau bhakti-yoga. Bhagavata-dharma menunjuk pada agama universal yang diturunkan oleh Tuhan kepada umat manusia, dimanapun munculnya didunia. Mereka yang tertarik secara tulus pada kebenaran-kebenaran tertinggi dapat ;mempelajari sains ini melalui metode yang benar, dan melihatnya untuk diri mereka sendiri. Ini tentu saja tidak seperti buku biasa manapun.

Jawaban untuk Keraguan Nomor Dua

Nama Krsna berarti “Maha-menarik”, dan ini adalah nama Tuhan yang mencakup segala sesuatu. Krsna diungkapkan di dalam Bhagavad-gita dan Srimad-bhagavatam sebagai Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Para penyembah Krsna tidak menyangkal adanya “Kekuatan rohani”. Seperti disebutkan dalam agama-agama lain. Ini bukan proses sektarian sempit seperti yang anda takutkan. Sebagai contoh, Srimad-Bhagavatam menguraikan penyembah terbaik dan agama tertinggi sebagai berikut : “Dharma yang tertinggi bagi semua umat manusia adalah Dharma yang dapat membawa manusia kepada pengabdian dalam cinta kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang transendental Pengabdian yang seperti itu harus tanpa motivasi duniawi dan dilakukan terus-menerus untuk sepenuhnya memuaskan sang diri. (Bg. 1.2.6) apakah definisi agama seperti ini terdengar bersifat sektaria? Tidak. Definisi ini mempersilahkan bahwa dimanapun pengabdian yang murni kepada Tuhan Yang Maha Esa muncul sepenuhnya, itulah agama terbaik.

Anda sepatutnya bertanya kepada literatur Veda tanpa suatu kecenderungan. Jika seseorang benar-benar bertanya, dia pasti memperoleh pandangan spiritual dari teks-teks ini.

Walaupun jawaban-jawaban ini dapat dicounter oleh pikiran yang skeptis, kita dapat meng-counter kembali. Saat kita pergi mengajarkan kita memikirkan argumen-argumen yang lebih baik dan menggunakan referensi-referensi sastra yang relevan. Dalam kasus dialog di dalam diri kita sendiri, pikiran skeptis biasanya akan teratasi dengan metode ini.

Metode dialog ini sangat memuaskan karena argumen-argumen yang diberikan Prabhupada dan para acarya sangat kompeten. Tidak ada alasan untuk dibingungkan oleh keraguan-keraguan tersebut ketika mereka datang.

Untuk dapat secara meyakinkan menjawab keraguan-keraguan, anda perlu mempelajari filsafat. Di dalam penjelasan Bhaktivedanta anda akan senantiasa menemukan dialog-dialog, pandangan yang menentang disajikan dan pandangan vaisnava disajikan dengan alasan demikian pula bukti sastra. Dengan mempelajari metode ini yaitu menjawab pikiran pikiran skeptik dengan pengetahuan Veda, anda dapat berdiskusi dengan keraguan-keraguan anda; “diatas semua ini pembaca akan mampu meyakinkan orang lain menerima Tuhan Yang Maha Esa sebagai suatu prinsip yang konkret (Bhag, pendahuluan)

(6)

orang manapun didunia material ini, karena semua roh-roh terikat dihalangi oleh empat kelemahannya :

1. Kecenderungan untuk melakukan kesalahan

2. Ilusi

3. Menipu

4. Indera-indera yang terbatas.

Pengetahuan yang sempurna harus datang dari luar kelemahan manusia ini, dalam wujud sabda-brahma, melalui wahyu pengetahuan veda. Sebagai tambahan untuk dipelajari, “Lapangan Pekerjaan” berupa mengajarkan akan menguatkan keyakinan dan argumen seorang penyembah. Srila Prabhupada menulis, Semua penyembah khususnya para pengajar, harus mengetahui filsafat Kesadaran Krsna agar tidak diganggu dan dihina ketika mereka mengajarkan.” (Bhag. 6.1.38. Penjelasan)

Keyakinan Yang Melampaui Argumentasi

Keyakinan yang melampaui argumentasi tidak bertentangan dengan proses penjelasan intelektual atau dialog, namun mengakui bahwa kebenaran mutlak pada akhirnya berada diluar segala logika. Seperti disebutkan dalam kitab suci, “Hal-hal yang tak terpikirkan tidak dapat dipahami melalui logika.”. Logika harus membawa kita sampai pada pemahaman bahwa kita harus melampaui logika manusia untuk mengetahui sumber segala sesuatu dan sifat dari realitas spiritual.

Keyakinan itu bukan hanya untuk orang yang berpikiran sederhana yang tidak mampu berpikir. Bahkan mereka yang berargumen menentang keyakinan religius percaya pada proses pemikiran rasional, atau keyakinan-keyakinan pada bukti indera-indera atau teori-teori ilmiah. Kita mestinya tidak pernah terganggu oleh fakta bahwa kita menerima misteri-misteri pengetahuan yang lebih tinggi berdasarkan pada keyakinan. Srila Prabhupada selalu menjelaskan secara rasional mengapa kita mesti memiliki keyakinan terhadap ajaran-ajaran sempurna dari Veda dari pada terhadap spekulasi yang tidak sempurna. Prabhupada menyebutkan sebagai “Keyakinan terhadap sesuatu yang mulia”. Dengan demikian keyakinan sangatlah penting dalam melaksanakan pengabdian suci.

Mereka yang tidak yakin dalam pengabdian suci ini tidak dapat mencapai aku, wahai penakluk musuh. Karena itu mereka kembali ke jalan kelahiran dan kematian didunia material ini.

Penjelasan

Orang yang tanpa keyakinan tidak dapat menyelesaikan proses pengabdian suci ini. Keyakinan diciptakan melalui pergaulan dengan para penyembah orang yang tidak beruntung, bahkan setelah mendengarkan semua bukti dari literatur Veda dari sosok-sosok agung. Tetap tidak memiliki keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka bimbang dan tidak dapat mantap dalam pengabdian suci kepada Tuhan.

(7)

Kita harus yakin terhadap proses mendengar dari Krsna, dan puas mengetahui bahwa segalanya tidak dapat diputuskan melalui debat intelektual.

Beberapa Hal Tentang Keyakinan

Sebuah argumen kuat untuk meyakinkan diri yang selalu membantu saya adalah keberadaan pengajar-pengajar spiritual yang agung diseluruh dunia, sepanjang zaman. Sri Krsna, inkarnasi-inkarnasi Visnu, Budha dan Yesus Kristus semuanya mengajarkan atas nama misi yang sama.

Bukanlah suatu fakta bahwa Tuhan Yang Maha Esa muncul hanya ditanah Indi. Tuhan dapat memanifestasikan Diri-Nya dimanapun, dan kapan pun Dia ingin muncul. Dalam setiap inkarnasi, Dia berbicara tentang keagamaan sejauh yang dapat dipahami oleh orang-orang tertentu dibawah keadaan tertentu. Tapi misi-Nya sama – untuk membawa orang –orang kepada Kesadaran Tuhan dan kepatuhan pada prinsip-prinsip agama.

- Bg. 4.7,penjelasan.

Selain inkarnasi-inkarnasi langsung dari Tuhan, banyak wakil-wakil yang murni dan terpelajar juga memberi kita alasan untuk bersemangat dan berkeyakinan. “Seseorang harus memiliki kesadaran normal,”Prabhupada menulis, “Untuk bertanya mengapa, jika Krsna atau Rama adalah fiksi, sarjana-sarjana perkasa seperti Sridhara, Svami, Rupa Gosvami, Sanatana Gosvami, viraraghava, Vijaya dhuaja, vallabhacarya an banyak acarya-acarya terkemuka akan menghabiskan begitu banyak wakut menulis tentang Krsna dalam catatan dan ulasan atas Srimad-Bhagavatam. (Bg. 10.2.35, penjelasan).

Kita harus memiliki keyakinan dan kesabaran. Jika kita tidak mampu memahami sesuatu dengan segera, kita harus menunggu sampai hal itu menjadi lebih jelas bagi kita. Suatu filsafat tidaklah terbukti lemah hanya karena kita tidak menangkap semua maknanya seketika. Kita akan memahaminya ketika kita telah berkualifikasi.

Doa adalah sebuah perlindungan yang penting untuk menghadapi setiap rintangan dalam Kesadaran Krsna. Jadi jika seorang penyembah memiliki keraguan terhadap filsafat, ia dapat berdoa kepada Krsna untuk mohon agar melindunginya. Prahlada Maharaja berdoa, “Oh Tuhan Yang Maha Esa (Nrsimhadeva) mohon muncul di dalam hati kami dan menghilangkan segala kebodohan kami sehingga atas karunia anda, kami tidak takut dalam perjuangan untuk hidup didunia material ini.”(Bhag.5.18.8). dengan mengutip doa-doa dari sastra atau dengan memohon secara tulus kepada Krsna dan Prabhupada, kita akan diyakinkan atas keberadaan mereka dalam kehidupan kita dan keraguan -keraguan tidak akan mengganggu kita.

(8)

Pergi berziarah ke dhama suci, untuk berjapa secara intensif adalah satu cara untuk memerangi keraguan-keraguan skeptis. Realitas tanah rohani, Arca-arca di temple, dan para penyembah disana akan mengubah anda.

Sebuah respon kuat untuk menghadapi keraguan-keraguan adalah dengan mencari pergaulan penyembah-penyembah yang kuat. Ketika saya pertama kali mendatangi temple di 26 second avenue, sya memiliki banyak pertanyaan dan keraguan. Prabhupada akan menjawabnya dalam ceramah-ceramah beliau, namun kemudian keraguan baru akan datang. Tapi saya mulai memperhatikan bahwa keraguan-keraguan saya terjawab hanya dengan melihat Prabhupada memasuki ruang itu. Pada saat beliau berjalan dari pintu menuju tempat duduk saya dapat merasakan keraguan-keraguan saya sedang dijawab. Ini adalah efek dari pergaulan dengan seorang penyembah murni.

Ukuran-Ukuran Pencegahan

Mencegah lebih baik daripada melakukan penyembuhan setelah anda terkena suatu penyakit. Beberapa hal yang sebaiknya dihindari :

1. Terlibat dalam studi bidang Indologi atau Hinduisme. Kebanyakan para sarjana duniawi tidak memiliki keyakinan dan tidak menerima bahwa literatur Veda diwahyukan oleh sumber yang sempurna. Karena itu studi skeptisme mereka dapat merusak tunas bhakti. Ketika saya sedang melakukan penelitian untuk buku Readings in Vedic Literatur seorang brahmacari membantu saya dengan secara ekstensif membaca literatur akademi Hinduisme. Sebagai hasilnya, dia mulai berpikir seperti mereka. Bahwa mungkin literatur Veda semuanya adalah mitologi, dan ditulis baru-baru ini. Hal ini menimbulkan kemunduran yang serius baginya. Dia harus menghentikan penelitiannya dan memulihkan diri dengan cara berjapa dan mendengarkan dari buku-buku Prabhupada. Mungkin perlu untuk membaca literatur ini untuk proyek-proyek tertentu, seperti yang dilakukan beberapa sarjana ISKCON. Namun harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Dan bahkan jika penelitian duniawi diperlukan, haruslah diimbangi dengan waktu yang sebanding untuk membaca literatur dalam parampara.

2. Kontaminasi skeptis datang tidak hanya dari serangan langsung oleh para Mayavadi atau atheis. Dapat pula datang secara tidak langsung dari bacaan-bacaan sekuler seperti majalah Time atau dari televisi. Melalui sumber-sumber ini kita mulai menghirup atmosfir keraguan dan sekularisme yang berada dibelakangnya. Walau biasanya mereka tidak. “Mengajarkan”, doktrin mereka adalah bahwa kita harus menikmati kepuasan indera-indera karena kita hidup hanya sekali;’ agama dan kitab-kitab suci tidak begitu penting, hanyalah hal-hal kuno untuk zaman dahulu. Seperti hal nya para transendentalis selalu disarankan untuk menghindari orang-orang duniawi dan para penikmat indera, demikian pula aturan ini berlanjut saat ini.

3. Sebuah pendekatan yang positif dapat berupa memperteguh pikiran dan semangat dangan cara berjapa dan mendengar tentang Krsna. Srila Prabhupada menulis dlam Bhagavad-gita :

(9)

- Bg. 4.39, penjelasan

Suatu kali seorang penyembah bersurat kepada Prabhupada dan mengatakan bahwa dia memiliki beberapa keraguan mengenai apakah literatur Veda bersifat universal Prabhupada pertama menjawab, “boleh saya tanya apakah engkau secara teratur berjapa enam belas putaran ? Trik-trik dari pikiran atau pengaruh maya akan menyusup jika kita tidak mengikuti prinsip-prinsip mengatur dan secara teratur berjapa sejumlah tertentu tanpa kesalahan.” ( sura, 16 Januari 1970)

Solusi terakhir

Keraguan-keraguan dapat diatasi dengan membukanya dan melakukan dialog ,mengenai keraguan tersebut. Dan kita harus menghindari sumber-sumber skeptisme yang mengkontaminasi. Namun pada akhirnya senjata-senjat berupa pengetahuna yang lebih tinggi tidak akan berguna sampai kita mendapatkan kekuatan dari Tuhan Sendiri. Dengan kata lain, adalah Krsna Sendiri yang dapat mengahancurkan keraguan-keraguan . “ Krsna atau Tuhan adalah cahaya , dimana ada cahaya, disana tidak ada kegelapan.” Matahari Krsna harus terbit didalam hati kita. Jika kita melihat Krsna dan mengenal Dia, tidak akan ada keraguan. “personalitas Tuhan Yang Maha Esa berkata. Kini dengarlah…….bagaimana dengan mempraktikan yoga dalam kesadaran penuh terhadap Ku dengan pikiran terikat kepada-Ku, engkau dapat mengenal-Ku sepenuhnya, bebas dari keraguan.” ( Bg.7.1 )

Kesadaran Krsnabukan semata-mata suatu kedudukan intelektual, atau suatu partai politik. Kesadaran Krsna adalah suatu keadaan penuh karunia dan pencerahan yang menghilangkan segala kebodohan. Disebutkan dalam buku krsna bahwa kemunculan Krsna didunia ini menghancurkan segala penggambaran-penggambaran Tuhan yang bersifat spekulatif. Olrang-orang boleh saja meragukan identitas Tuhan, namun ketika Dia benar-benar muncul, maka segala keraguan menghilang. Demikian pula , ketika Krsna muncul didalam hati anda dan dalam kehidupan anda, ketika anda dibanjiri dengan keinsafan dan kebahagian transedental, maka tidak ada ruang bagi keraguan,. Pada tataran ini, anda tidak perlu menjadi seorang opendebat atau ahli logika ( walau demikian mungkin dapat digunakan dalam pengabdian kepada Krsna).

Krsna muncul di dalam hati atas karunia-Nya Sendiri, namun Dia dapat dipikat dengan praktik-praktik Kesadaran Krsna dan dengan kontak dengan seorang penyembah murni. Penyembah murni mengalahkan keraguan bukan saja melalui argumentasinya, namun jugamelalui kebenaran yang terpancar dari kepribadiannya. Prabhupada meyakinkan kita dengan argumen-argumen, namun juga dengan menyatakan; “ Kesadaran Krsnaini, adalah suatu yang sangat bagus. “ Karena datang dari beliau, kata-kata keyakinan terasa menyakinkan, seperti yang dikatakan Prabhupada mengenai Buddha,” Beliau menciptakan keyakinan pada orang yang tak berkeyakinan

Sek tidak Sah

Suatu ketika seorang siswa hatha-yoga mendekati Srila Prabhupada dan berkata”Walaupun saya mempraktikan yoga, saya masih mengalami masalah dalam mengendalikan keinginan seks “ Prabhupada menjawab, “Anda mengalami masalah ? Semua mahluk hidup mengalami masalah tersebut.” Keinginan seks dalam satu bentuk atau dalam bentuk lain akan terus muncul bahkan pada seorang penyembah yang tulus sampai seseorang mencapai pembebasan sepenuhnya.

(10)

parampara. Mereka memandang seks sebagai suatu subyek yang terlarang, yang semestinya tidak disdikusikan bahkan untuk pendidikan. Namun ada banyak informasi tentang kehidupan seks dalam buku-buku Srila Prabhupada, dan dengan demikian semestinya tidak dihindari. Kita harusnya tidak membaca tentang seks atau mendiskusikannya untuk menikmatinua. Tapi kita harus mendengarkan apa yan gguru spiritual katakan tentang dorongan kuat ini dn bagaimana berurusan dengan hal tersebut.

Srimad – Bhagavatam menguraikan mengapa alam menciptakan dorongan seks dan bagaimana seharusnya hal itu digunakan.

Kemaluan dan kenikmatan berketurunan menutupi penderitaan akibat beban keluarga. Sesdeorang akan sam sekali berhenti berketurunan jika, atas karunia Tuhan, tidak terdapat suatu kulit, suatu substansi pemberi kenikmatan, diatas permukaan organ-organ kelamin. Substansi ini memberi kan kenikmatan yang begitu kuat hingga sepenuhnya menutupi penderitaan-penderitaan akibat beban keluarga. Seseorang demikian terkjerat oleh substansi pemberi kenikmatan ini hingga ia tidak puas mempunyai seorang anak, namun menambah jumlah anak , dengan resiko besar dalam memelihara mereka, hanya demi substansi pemberi kenikmatan ini, substansi pemberi kenikmatan ini tidaklah palsu, karena bersumber dari badan transedental Tuhan..Namun hal itu telah menjadi terputar balik akibat kontaminasi material.

-Bhag. 2.6.8. penjelasan

pengunaan seks yang positif dalam pengabdian suci dinyatakan secara ringkas oleh Sri Krsna dalam Bhagavad-Gita, kamo’smi – “ Aku kehidupan seksual yang tidak bertentangan dengan prnsip-prinsip keagamaan.” ( BG.7.11 ). Dalam penjelasan Prabhupada menulis, “ Kehidupan seks, menurut prinsip-prinsip keagamaan (dharma ) , haruslah untuk mendapatkan anak, bukan sebaliknya. Tanggung jawab para orang tua selanjutnya adalah menjadikan keturunan mereka sadar- Krsna.

Mereka yang tidak mengetahui sains perpindahan sang roh tidak dapat memahami bahaya ketetarikan seksual. Faktanya adalah bahwa hal itu adalah kekuatan pengikat terbesar untuk mempertahankan seseorang dalam siklus kelahiran dan kematian.

Seks sangat dominan antara binatang-binatang seperti monyet, dan orang-orang yang dipuaskan oleh seks dapat disebut sebagai keturunan monyet ……..Mereka terpikat hanya dengan melihat wajah satu sama lain, yang mengingatkan mereka kepada kepuasan indera..Demikianlah mereka sepenuhny alupa, bahwa suatu hari umur mereka yang pendek akan berakhir dan mereka akan merosot dalam siklus evolusi.

-Bhag. 5.14.30-31

bahkan dalam perkawinan, seks yang tidak sah menggiring seseorang untuk menghasilkan kehamilan-kehamilan yang tidak diinginkan. Hal seperti ini mendorong aborsi dan kontrasepsi, yang mana semuanya memiliki reaksi-reaksi karma.

(11)

Namun standar Kesadaran Krsna oleh kitab-kitab suci dan oleh para pendiri agama-agama bonafide diseluruh dunia.

………pada dasarnya tidak ada perbedaan antara proses agama Buddha, Sankara dan Vaisnava. Untuk pengangkatan kepada status kesempurnaan tertinggi, yaitu kebebasan dari kelahiran dan kematian, kecemasan dan rasa takut, tidak satupun dari proses-proses ini mengizinkan para pengikutnya melanggar sumpah untuk berpantang seks.

Orang-orang yang berumah tangga dan orang-orang yang dengan sengaja melanggar sumpah berpantan seks tidak dapat masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian. Para brahnacari para vanaprastha dan sannyasi tidak berniat untuk lahir klembali (apraja ) tidak pula mereka dimaksuudkan akan untuk secara rahasia terlibat dalam kehidupan sesks.

-bhag. 26.20, penjelasan

kita semua mengetahui godaan seks tidak sah, namun para penyembah juga mengetahui kekuatan yang datang dari Kesadaran Krsna. Kita semua dapat membuktikan hal ini sampai pada tingkat tertentu - sebagaimana kita telah dibebaskan dari kecanduan pada kebiasaan-kebiaaan seks.

Saya dapat memberikan kasus saya sendiri sebagai contoh. Ketika saya pertama kali bertemu Srila Prabhupada pada tahun 1966. saya memilii kecansuan-kecanduan tertentu pada keingginan seks demikian pula pasa minuman keras, Saya akan berusaha menghindari seks tidak sah namun beberapa saat saya akan digiringi kepadanya. Sepertinya bahwa kecuali saya menikmatinya , kehidupan saya tidak akan terpenuhi. Saya sangat dipengaruhi oleh serangan seksualitas yang membabi butadari industri hiburan dan periklanan dan ikatan kuar kemunduran yang merupakan norma Amerika.

Salah satu pertanyaan-pertanyaan awal yang saya ajukan kepada Srila Prabhupada adalah, “ Adakah suatu kemajuan spiritual yang dapat dicapai dimana kedudukan itu kita tidak jatuh ?” Beliau berkata, “ Ya” , dan dengan bergaul bersama beliau dan berjapa bersama beliau saya mulai merasakannya. Dalam beberapa minggu, saya mampu melepaskan seks tidak sah dan mengambil sumpah, saya tidak berpikir kasus saya suatu perkecualiaan. Berpantang seks bukannlah suatu yang si awang-awang. Ini bukanlah suatu wujud patologis dari pengekangan prinsip kepuasan Kesadaran Krsnalah yang membuat kita mampu melepaskan diri dari seks tidak sah.

Seorang penyembah menemukan bahwa keinginannya untuk berpantang seks doi dorong oleh pengetahuan mengenai hasil-hasil negatif dari kehidupan seks. Ikatan pada keinginan seks membuat sang roh terus dalam siklus kelahiran dan kematian. Saya tidak dapat mencapai sinta kasih murni kepada Rhada dan Krsna sepanjang saya memiliki keinginan seksduniawi. Di dunia ini, seks adalah “ kartu panggilan” yang kuar oleh maya . seks juga sebagai sebuah borgol yang menahan kita tetap dalam kehidupan duniawi, Ajaran-ajaran tentang aspek negatif dari seks tidak sah ini memberikan efek menguntungkan san menenangkan.

(12)

Apa yang Srila Prabhupada katakan tentang seks tidak sah

Srila Prabhupada mengharapkan murid-murid beliau untuk menjadi terhormat dan mempertahankan sumpah yang mereka buat saat inisiasi. Ketika para penyembah bersurat kepada beliau bahwa mereka tidak menjalankan beberapa dari empat aturan, Prabhupada tidak pernah menyatakan bahwa hal itu” baik-baik saja “ Beliau berkata, “ Engkau bersumpah saat ini inisiasi bahwa engkau akan menghindari aktivitasa-aktivitas berdosa ini, jadi engkau harus menjaga sumpahmu, “ Srila Prabhupada Yakin bahwa proses bhakti-yoga memberiklan perlindungan yang cukup kepada para pengikut beliau yang manapun sepanjang mereka benar-benar menjalankannya.

Namun Prabhupada menyadari akan kelemahan sifat manusia dan beliau tahu bahwa para penyembah kadangkala akan jatuh . Sri Krsna juga mengakui bahwa penyembah melakukan kesalahan, khususnya pada permulaan, dan Dia menyemangakan kita untuk tidak dikalahkan, Prabhupada berkomentar :

……Orang biasa yang yakin terhadap ajaran-ajaran abadi dari Tuhan, walaupun tidak mampu melaksanakan perintah-perintah itu, dibebaskan dari hukum karma. Pada permulaan Kesadaran Krsna , seseorang mungkin tidak sepenuhnya melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan, namun karena dia tidak berkecil hati terhadap prinsip ini dan bekerja secar tulus tanpa memikirkan kegagalan dan keputusasaan, ia pasti akan diangkat sampai tataran Kesadaran Krsna yang murni.

-Bg.3.31, penjelasan

makna yang sama ditemukan dalam ayat termashyur dari Bab sembilan, api cet su-duracaro, Bahkan jika seseorang melakukan tindakan yang paling jijik. Jika dia khusuk dalam pengabdian suci dia dianggap suci karena kedudukannya tepat dalam ketabahan hatinya.” ( Bg.9.30 ). Prabhupada menulis “ Kontaminasi duniawi sedemiian kuatnya sehingga bahkan seorang yogi yang sepenuhnya khusuk dalam pengabdian kepada Tuhan kadangkala terpedaya; namun Kesadaran Krsna sedemikian kuatnya sehingga kejatuhan yang tidak sengaja seperti itu seketika diperbaiki….Tak seorang pu seharusnya menghina penyembah atas suatu kejatuhan yang tidak disengaja dari jalan yang ideal ( Bg. 9.30 penjelasan)

Contoh lain dari kemurahan hati Prabhupada adalah ketika beliau menasehati orang yang jatuh dari sannyasa untuk menjadi grhasta terhormat. Walaupun, berbicara secara teknis , hal seperti itu tidak untuk direkomendasikan, Prabhhupada mengatakan bahwa hal terpenting adalah menempatkan diri anda falam posisi kuat untuk mel;awan maya . Srila Prabhupada lemah lembut dan murah hati, namun tidak satupun dalam pernyatan-pernyataan ini beliau membenarkan sek yang amoral. Beliau tidak mengatakan bahwa kita harus terus-menerus mengakui kesalahan-kesalahan kita berminggu-minggu, Seseorang yang berbuat seperti ini adalah penyembah palsu.

Prabhupada biasanya menyarankan siapapun yangmerasakan kecendrungan pada kehidupan seks untuk memasuki kehidupan grhasta-asrama dan bertindak dengan cara yang terhormat.

(13)

resmi . kehidupan seks a moral dan kemajuan spiritual adalah dua hal yang bertentangan. Kesibukanmu dalam Kesadarn Krsna dan berjapa yang konstan akan emnyelamatkanmu dari segala hal yang tidak menyenangkan.

-Surat, 22 Januari 1968

Dalam surat ini Prabhupada memberi saya dua pilihan. Melupakan seks dengan cara sibuk dua puluh empat jam sehari dalam Kesadarn Krsna atau memasuki kehidupan grhasta. Namun beliau melarangpilihan ketiga, seks amoral.

Prabhupada ingin kita berjaya, dan beliau berpikir bahwa tentu saja dengan kekuatan kita, kita melakukannya. Beliau memaafkan kita atas kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja. Kita seharusnya tidak dibawa rasa bersalah jika kita memiliki masalah seks yang tidak dapat kita atasi sepenuhnya. Kita harus terus berusha; kita harus terus sibuk dalam pengabdian suci.

Izinkan para pengikutnya melanggar sumpah untuk berpantangan seks. Orang-orang yang berumah tangga dan orang-orang yang dengan sengaja melanggar sumpah berpantangan seks tidak dapat masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian. Para brahmacari, para vanaprastha dna para sanyasi tidak berniat untuk lahir kembali(apraja). Tidak pula mereka dimaksudkan untuk secara rahasia terlibat dalam kehidupan seks.

- Bhag.2.6.20, penjelasan.

Kita semua mengetahui godaan seks tidak sah, namun para penyembah juga mengetahui kekuatan yangdatang dari kesadaran Krsna. Kita semua dapat membuktikan hal ini sampai pada tingkat tertentu – bagaimana kita telah dibebaskan dari kecanduan pada kebiasaan-kebiasaan seks.

Saya dapat memberikan kasus saya sendiri sebagai contoh. Ketika saya pertama kali bertemu Prabhupada pada tahun 1966, saya memiliki kecanduan tertentu pada keinginan seks demikian pula pada minuman keras. Saya akan berusaha menghindari seks tidak sah namun setelah beberapa saat saya akan digiring kepadanya. Sepertinya bahwa kecuali saya menikmatinya, kehidupan saya tidak akan terpenuhi saya sangat dipengaruhi oleh serangan seksualitas yang membabi buta dari idustri hiburan dan periklanan dan ikatan kuat kemunduran yang merupakan norma Amerika.

Salah satu dari pertanyaan-pertanyaan awal yang saya ajukan kepada Srila Prabhupada adalah, “Adakah suatu kemajuan spiritual yang dapat dicapai dimana dari kedudukan itu kita tidak jatuh?”. Beliau berkata “Ya” dan dengan bergaul bersama beliau dan berjapa bersama beliau saya mulai merasakannya. Dalam beberapa minggu, saya mampu melepaskan seks tidak sah dan mengambil sumpah, saya tidak berpikir kasus saya suatau perkecualian. Berpantang seks bukanlah sesuatu yang diawang-awang. Ini bukanlah suatu wujud patulogis dari pengekangan prinsip kepuasan Kesadaran Krsna-lah yangmembuat kita mampu melepaskan diri dari seks tidak sah.

(14)

Sekali kita ikut Kesadaran Krsna kita melihat secara lebih jelas bahwa seks membawa ikatan-ikatan dan penderitaan. Kita tidak merasa tersisih karena tidak ikut dalam kecanduan pada seks. Kita berkeinginan untuk tetap berpantang seks. Namun walau demikian, kadangkala para penyembah tergoda dan kadangkala mereka jatuh kepada seks tidak sah. Hal ini adalah rintangan yang sangat besar dalam jalan pengabdian suci.

Apa Yang Srila Prabhupada Katakan Tentang Seks Tidak Sah

Srila Prabhupada mengharapkan murid-murid beliau untuk menjadi hormat dan mempertahankan sumpah mereka yang mereka buat saat inisiasi. Ketika para penyembah bersurat kepada beliau bahwa mereka tidak menjalankan beberapa dari empat aturan, Prabhupada tidak pernah mengatakan bahwa hal itu “baik-baik saja” Beliau berkata, “Engkau bersumpah saat inisiasi bahwa engkau akan menghindari aktivitas-aktivitas berdosa ini. Jadi engkau harus menjaga sumpahmu.” Srila Prabhupada yakin bahwa proses bhakti-yoga memberikan perlindungan yang cukup kepada para pengikut beliau yang manapun sepanjang mereka benar-benar menjalankannya.

Namun prabhupada menyadari akan kelemahan sifat manusia dan beliau tahu bahwa para penyembah kadangkala akan jatuh. Sri Krsna juga mengakui bahwa para penyembah melakukan kesalahan khususnya pada permulaan, dan Dia menyemangatkan kita untuk tidak dikalahkan. Prabhupada berkomentar :

...orang biasa yang yakin terhadap ajaran-ajaran abadi dari Tuhan. Walaupun tidak mampu melaksanakan perintah-perintah itu, dibebaskan dari hukum karma. Pada permulaan Kesadaran Krsna, seseorang mungkin tidak sepenuhnya melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan Yang Maha Esa, namun karena dia tidak berkecil hati terhadap prinsip ini dan bekerja secara tulus tanpa memikirkan kegagalan dan keputusasaan, ia pasti akan diangkat sampai tataran kesadaran Krsna yang murni

Bg.3.31, penjelasan

Makna yang sama ditemukan dalam ayat termashyur dari Bab Sembilan, api cet su-duracaro, “bahkan jika seseorang melakukan tindakan yang paling jijik, jika dia khusuk dalam pengabdian suci dia dianggap suci karena kedudukannya tepat dalam ketabahan hatinya” (Bg.9.30). prabhupada menulis, “Kontaminasi duniawi sedemikian kuatnya sehingga bahkan seorang yogi yang sepenuhnya khusuk dalam pengabdian kepada Tuhan kadangkala trperdaya; namun Kesadaran Krsna sedemikian kuatnya sehingga kejatuhan yang tidak sengaja seperti itu seketika diperbaiki. Tak seorang pun seharusnya menghina seorang penyembah atas suatu kejatuhan yang tidak disengaja dari jalan yang ideal (Bg.9.30 penjelasan)

Contoh lain dari kemurahan hati Prabhupada adalah ketika beliau menasehati orangyang jatuh dari sannyasa untuk menjadi grhsta terhormat. Walaupun berbicara secara teknis, hal seperti itu tidak untuk direkomendasikan Prabhupada mengatakan bahwa hal yang terpenting adalah menempatkan diri anda dalam posisi kuat untuk melawan maya. Srila Prabhupada lemah lelmbut dan murah hati, namun tak satupun dalam pernyataan-pernyataan ini , beliau membenarkan seks yang amoral. Beliau tidak mengatakan bahwa kita harus terus menerus mengakui kesalahan-kesalahan kita berminggu-minggu. Seseorang yang berbuat sepeti ini adalah penyembah palsu.

Srila Prabhupada biasanya menyarankan siapapun yang merasakan kecenderungan pada kehidupan seks untuk memasuki grhasta-asrama dan bertindak dengan cara yang terhormat.

(15)

Seseorang yang tabah mentoleransi dorongan seks seperit itu seperti halnya seseorang mentoleransi rasa gatal akibat eksim. Jika tidak seseorang dapat memuaskan dorongan seks melalui pernikahan yang resmi. Kehidupan seks amoral dan kemajuan spiritual adalah dua hal yang bertentangan. Kesibukan dalam kesadaran Krsna dan japa yang konstan akan menyelamatkan mu dari segala hal yang tidak menyenangkan.

- surat, 22 Januari 1968

dalam surat ini Prabhupada memberi saya dua pillihan: Melupakan seks dengan cara sibuk dua puluh empat jam sehari dalam Kesadaran Krsna atau memasuki kehidupan grhasta. Namun beliau melarangpilihan ketiga, seks amoral

prabhupada ingin kita berjaya, dan beliau berpikir bahwa tentu saja dengan kekuatan kita, kita melakukannya. Beliau memaafkan kita atas kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja. Kita seharusnya tidak dibawa-rasa berslah, jika kita memiliki masalah seks yang tidak dapat kita atasi sepenuhnya. Kita harus terus berusaha : kita harus terus sibuk dalam pengabdian suci.

Namun kita seharusnya tidak bersantai-santai bahwa segalanya baik-baik saja, jika kita tidak dapat menghentikan kecanduan seks. Telah dinyatakan dengna jelas dalam Srimad Bhagavatam bahwa seseorang tidak dapat kembali kepada Tuhan selama dia memiliki kecanduan kegiatan berdosa. Tidak pula seharusnya kita menunjuk pada contoh-contoh buruk dari mereka yang melakukan seks tidak sah dan mengklaim, “Semua orang melakukannya”. Kesadaran Krsna adalah sebuah sains, dan alam material juga bekerja dibawah hukum-hukum yang tegas. Kita akan memperoleh hasil dari aktivitas-aktivitas kita.

Menghindari Seks Yang Tidak Sah

Bagaimana mungkin menghindari segala kontak dengan seks tidak sah sedangkan kita hidup dalam “revolusi seksual?” adalah benar bahwa ajaran-ajaran Veda ditujukan untuk pendengar yang lebih saleh ribuan tahun yang silam. Namun Srila Prabhupada muncul selama tahun 1970an dan beliau sangat sadar akan apa yang harus dihadapi oleh murid-murid beliau. Beliau menulis tentang hal inin dalam Srimad-Bhagavatam sambil mendiskusikan Ajamila :

Pada zaman Kali-Yuga, seorang gwanita mabuk setengah telanjang memeluk seorna gpria mabuk adalah suatu pemandangan yang sangat biasa, khususnya dinegara-negara Barat, dan untuk menahan nafsu setelah melihat hal-hal seperti itu adalah sangat sulit. Namun demikian, jika atas karunia Krsna seseorang taat pada prinsip-prinsip mengatur dan mengucapkan mantra Hare Krsna, Krsna pasti akan melindunginya. Sebenarnya Krsna mengatakan bahwa penyembah-Nya tidak pernah binasa (kaunteya pratijanihi na me bhaktah pranasyati) Karena itu semua murid yang memperaktikkan Kesadaran Krsna harus dengan patuh menjalani prinsip-prinsip mengatur dan tetap mantap dalam mengucapkan nama suci Tuhan Yang Maha Esa. Maka tidak perlu ada rasa takut. Jika tidak posisi seseoran gsangatlah berbahaya, khusunya pada zaman Kali-Yuga ini – Bhag.6.1.60, penjelasan.

(16)

kita dapat melatih diri kita dalam membatasi pandangan dan tidak terlibat dalam memandangi papan-papan reklame yang memicu hawa nafsu.

Kadangkala hanya ada garis tipis antara melakukan prilaku sosial yang normal dan melindungi diri anda dari perilaku membuka diri yang tidak penting terhadap seks tidak sah. Sebagai contoh, seorang pengajar diharapkan untuk ramah dalam bergaul dengan wanita dan wanita juga harus menyambut dan berbicara dengan tamu-tamu pria pada saat tertentu. Anmun kita juga ingin melaksanakan aturan bahwa seseorang tidka boleh sendirian ditempat sepi bersama seorang wanita.

Brahmacari dan Brahmacarini

Kadangakal juga hanya ada garis tipis antara kewajiba seorang gbrahmacari untuk melindungi pantangannya dan kewajibannya untuk ramah kepada penyembah yang wanita. Ketika seorang gbrahmacari menjadi fanatik dalam tingkah lakunya, dia memperlihatkan sindrom “membenci-cinta”, mewujudkan ketertarikan kepada wanita dengna cara memperlihatkan kebencian kepada mereka. Suatu pendekatan yang lembut namun strik disarankan untuk hal ini.

Ketika seorang gbrahmacarai memutuskan untuk menjadi grhasta, tuk mengambil tanggung jawab asrama yang paling cocok baginya.

Namun para penyembah dalam gerakan Kesadaran Krsna harus menyemangatkan pria dan wanita yang belum menikah untuk tetap berpantangan seks jika mereka menginginkan demikian. Seorang brahmacari suatu kali bersurat kepada Prabhupada bahwa sang presiden temple menekan dia untuk menikah. Prabhupada menjawab:

Saya kira Hamsa duta tidak menekan kamu untuk menikah. Pernikahan adalah suatu izin bagi seseorang yang tidak mampu mengendalikan keinginan seksnya. Tentu suatu pekerjaan yang berat untuk pemuda-pemuda di negara ini karena mereka memiliki akses yang bebas untuk berbaur dengan para wanita. Dalam keadaan seperti ini, adalah perintah saya secara terbuka kepada semuanya bahwa semau dapat menikah tanpa tingkah-tingkah buatan apapun. Tapi jika seseorang mampu untuk tetap sebagai brahmacari,seharusnya tidak ada alasan apapun utnuk pernikahannya.

…..Murid-murid kita, apakah brahmacari atau berumah tangga, sedang dididik untuk kesibukan konstan dalam pengabdian Kesadaran Krsna tanpa kepentingan pribadi apapun. Ini adalah aturan yang sempurna untuk sannyasa. Jadi jika semuanya dididik dalam garis tindakan seperti ini, kita semua adalah sannyasi dalam setiap keadaan.

- surat, 7 maret, 1970

wanita-wanita yang belum menikah yang berkeinginan untuk berpantang seks disemangatkan oleh beberapa ayat dalam Srimad-Bhagavatam, Skanda Kelima, disampaikan oleh Laksmi-devi. Laksmi-devi menyarankan semua wanita untuk hanya menerima Krsna sebagai suami mereka, jika tidak seseorang harus menerima sebuah benda yang terbuat dari daging, darah, lendir, kotoran, dan urine, yang disebut-sebut suami yang tidak mampu memberikan perlindungan apapun kepada istrinya.

Makan Dan Seks Tidak Sah

(17)

kemaluan. Prabhupada ;menulis, “seseorang dapat melihat bahwa tiga indera ini secara fisik terletak dalam satu garis lurus.dan bahwa permintaan-permintaan badaniah dimulai dari lidah. Jika seseorang dapat mengendalikan permintaan dari lidah dengan cara membatasi aktivitas lidah hanya makan prasada, dorongan-dorongan perut dan kemaluan secara otomatis dapat dikendalikan (upadesamrta, teks satu penjelasan).

Dalam penjelasan yang sama Prabhupada menyebutkan bahwa bahkan prasadam, jika berlebihan disajikan dengan sangat mewah, atau dimakan dalam mood kepuasaan indera, juga dapat membawa pada ketidak terkendalikannya lidah- - yang menggiring kepada keinginan seks.

MIMPI

juga ada hubungan antara makan berlebihan dan “ mimpi basah “ pada malam hari . ini bukan suatu tindakan yang disengaja, sehingga tidak ada tindakan langsung atau suatu pengobatan untuk menghindarinya, kecuali dengan aktivitas-aktivitas yang sadar Krsna. Namun jika seseorang dapat menetapkan suatu hubungan antara makan berlebihan dengan pencemaran pada malam hari “, seseorang harus mengambil langkah-langkah untuk menghindari tindakan seks secara tidak sadar.

Seorang brahmacari suatu kali bersurat kepada Prabhupada mengungkapkan dorongan seks yang tidak sadar dan Prabhupada menjawab dengan suatu saran yang realitis :

Dalam mempertimbangkan masalah ini saya merekomendasikan bahwa dalam menu makan kamu jangan berbumbu. Lebih jauh lagi kamu harus menjaga tetap buang air besar setiap hari.

-surat 22 september, 1993

Jika tidak ada yang lain, fantasi-fantasi seks saat tidurmenyadarkan kita dengan memperlihatkan bahwa keinginan-keinginan seks telah berakar sangat dalam pada sang diri yang tidak sadar. Seseorang seharusnya tidak menjadi tertekan atau dibawa rasa bersalah oleh hal ini. (trik lain dari maya). Pemecahan terbaik adalah dengan sepenuhnya sibuk dalam kesadaran Krsna dengan ketabahan hati untuk melakukan semua yang ada pada keinginan sadar seseorang untuk bebas dari seks tidak sah.

Rasa Yang Lebih Tinggi

Kita semua pernah mendengar bahwa ketika kita mencapai rasa yang lebih tingi, seks akan terlihat pucat, dan kita tidak akan tertarik terhadapnya. Pada tahun 1968 seorang penyembah bersurat kepada Prabhupada menyatakan bahwa dia diganggu oleh “Tuan Nafsu “

Prabhupada menjawab:

Mengenai musuhmu, Tuan Nafsu : Saya telah memahami kesulitan. Kesulitan mu, namun kita harus selalu ingat bahwa Krsna lebih kuat daripada raksasa manapun, dan Tuan Nafsu, atau ayahnya atau kakeknya, tak seorangpun dapat melakukan apapun asalkan kita berlindung kepada Krsna dengan sangat erat :

(18)

Jadi menekan nafsu adalah proses yang sulit. Maka kamu harus melakukan Pemujaan Arca. Bersama ini saya kirimkan satu salinan proses Pemujaan Arca. Krsna adalah Madana Mohana kamu telah menyebutkan dalam suratmu, ini sangat baik, bahwa kamu akan sangat memilih untuk menyalurkan semua keinginanmu kepada Krsna, dan bertanya pada saya bagaimanhal ini mungkin ketika terbungkus dalam maya , hanya melihat bentuk-bentuk material, kamu juga menulis untuk mengatakan apakah kamu dapat melihat kecantikan Mutlak yang maha-menarik, hingga tidak mungkin tidak terpikat dan akan mengejek kecantikan duniawi. Inilah sebenarnya pemecahannya, jadi kamu dapat segera melaksanakan Arcana, pemujaan Arca.Prosesnya sedikit sulit pada awalnya, namun sekali terbiasa, sama sekali tidak sulit. Jadi terpisah dari saran pernikahan, kamu dapat segera melakukan pemujaan Arca.Dan saya yakin proses ini, dibantu dengan japa mu yang teratur, akan membunuh “Tuan Nafsu “, dijamin… Saya akan selalu membantumu, dan memberimu saran-saran dan cara-cara untuk memperoleh kemajuan dalam pemujaan Arca, namun kamu dapat segera menerapkan prinsip ini

- Surat, 7 Oktober 1968

Nafsu Kesepian

Martubasiadalah sebuah bentuk kehidupan seks yang tidak sah seperti diuraikan dalam penjelasan Prabhupada di dalam Upadesamrta :

Sejauh menyangkut dorongan dari kemaluan, ada dua – tepat dan tidak tepat , atau sah dan seks tidak sah. Ketika seorang pria telah dewasa, dia dapat meningkah menurut aturan dan peraturan dalam sastra dan menggunakan kemaluannya untuk mendapatkan anak yang baik. Itu sah dan beragama. Jika tidak demikian. Dia mungkin melakukan banyak cara-cara buatan untuk memuaskan permintaan dari kemaluan, dan dia mungkin tidak akan menggunakan batasan apapun. Ketika seseorang terlibat dalam kehidupan seks tidak sah, seperti yang didefinisikan oleh sastra , apakah dengan berpikir, merencanakan, membicarakan atau benar-benar melakukan tindakan seks, atau memuaskan kemaluan dengan cara-cara buatan, dia terperangkap di dalam jeratan maya. Perintah ini bukan hanya untuk orang berumah tangga namun juga bagi para tyagi, atau mereka yang berada dalam tingkat hidup pelepasan ikatan.

- Upadesamrta, Ayat satu, penjelasan.

Tidak ada alasan mengapa hal ini harus menjadi masalah yang tersebar luas di kalangan mereka yang mempraktikan bhakti-yoga. Ini bukan suatu tindakan tidak sadar seperti halnya dengan”mimpi basah”, namun suatu tindakan sengaja, dan suatu tindakan yang tidak memberikan kepuasan nyata atau hasil positif apapun. Tindakan ini dekstruktif dan membuat depresi. Siapapun yan gmemiliki kebiasaan seperti ini harus bertanggung jawab untuk mengatasinya dan bukannya menyalahkannya atau menyalahkan orang lain. Ini adalah suatu yang harus di hentikan oleh kemampuan anda sendiri.

Karena martubasi adalah tindakan disengaja, hal ini harus di hentikan segera setelah tingkatan pertama terjadi. Tindakan seperti ini terjadi dalam tiga tingkatan – berpikir, merasakan dan melakukan – dan dengan demikian jika tindakan ini hendak dihentikan sama sekali, maka harus dihentiakan pada tingkatan pertama

(19)

saya kadangkala menanyakan mereka dimana mereka melakukannya, dan bagaimana situasi saat itu. Tampaknya hal itu sering terdajdi ketika merasakan stres atau kesepian atau kebosanan dalam kehidupan mereka. Saya menyarankan bahwa jika mereka menemukan diri mereka memasuki tingkatan pendahuluan, berada ditempat dimana hal itu biasanya terjadi. Atau dalam waktu atau keadaan pikiran yang salah, maka mereka harus segera mengetahui bahwa mereka dalam bahaya besar.

Seorang penyembah memiliki kebiasaan ini sejak awal masa pubernya. Dia digiring secara tak tertahankan kepada toko buku-buku “dewasa”. Kini dia tahu bahwa untuk melawan kebiasaannya, dia harus seperti bekas – pemabuk yang tidak akan meminum setetes pun minuman keras. Dia bahkan tidak dapat membiarkan dirinya berjalan disisi jalan yang sama dimana terdapat toko buku dewasa. Jika seseorang dapat menganalisis prilakunya dan menemukan langkah-langkah pendahuluan yang membawa kepada tindakan malang seperti ini, jika seseorang tulus, dia akan bekerja keras untuk menghentikannya. Dan Krsna akan membantu.

Saya menyebutkan kata tulus, namun adalah suatu fakta bahwa beberapa penyembah yang tulus tetap tidak mampu untuk membuat suatu ketetapan hati yang cukup kuat untuk menghentikan praktek ini. Karena itu mungkin perlu bagi mereka untuk menjalankan beberapa perubahan dalam kehidupan mereka. Apapun bentuk perubahan itu, pantas untuk dilakukan.

Satu dorongan paksaan ini dapat diatasi sepenuhnya dan ditinggalkan untuk selamanya. Satu dari langkah-langkah pertamanya haruslah dengan mendekati seorang penyembah yang dapat anda percayai dan mempercayakan rahasia anda padanya. Dengan bantuannya dan dan dengan bantuan Krsna, lakukan apapun yang diperlukan untuk secara bertahap mengatasi paksaan ini. Jika tidak demikian, ini akan tetap sebagai suatu bentuk pelanggaran akan prinsip-prinsip seks tidak sah. Karena kehidupan pengabdian suci itu demikian murni, seseoran gyang melakukan masturbasi mulai mengembangkan rasa bersalah yang besar, membenci diri sendiri dan sebagainya. Seseorang tidak perlu menjadi sikolog profesional untuk melihat hal it. Bahkan jika kita tidak mampu memastikan penyebab awal atau sumber dari kebiasaan ini dalam kawan penyembah, tetap kita dapat saling membantu untuk mengatasinya untuk kebaikan bersama. Bahkan dalam tingkatan pendahuluan dari pengabdian suci, terdapat kekuatan yang cukup untuk menjadi bebas dari nafsu kesepian ini.

HOMOSEKSUAL

Kita seharusnya tidak berpikir bahwa seseorang itu khususnya seorang penyembah, homoseksual. Kita seharusnya tidak berkata, “Penyembah ini dan penyembah itu seorang homoseksual”. Sebenarnya dia adalah roh. Tidak seorang pun adalah alkoholik atau psikotik atau julukan-julukan sejenisnya. Roh terikat mungkin memiliki kecenderrungan tertentu, termasuk kecendrungan homoseksual, namun dalam sifat dasar kita, kita semua adalah abdi-abdi kekal Tuhan, murni dan bahagia.

Ketika saya masih muda, buku pertama tentang homoseksual yang saya baca menguraikan homoseksual sebagai sebuah penyakit. Sang psikiater memberitahu bagaimana dia menyembuhkan pasiennya dari kecenderungan homoseksual mereka. Sudut pandang ini mungkin dianggap agak kuno, karena saat ini orang-orang lebih suka menerima anggapan bahwa mereka terorientasi secara homoseksual dan orientasi seperti itu tidak dapat diubah.

(20)

tidak pernah membenarkan aktivitas homoseksual. dia mesti mengulang, dengan kesal dan kritik, sebuah cerita yang beliau baca bahwa suatu sekte dalam gereja Kristen memberikan izin utnuk pernikahan homoseksual. Dan beliau telah menulisnya dalam sebuah penjelasan:

Tampak disini bahwa nafsu homoseksual antara satu laki-laki dengan laki-laki lain diciptakan dalam episode ciptaan para raksasa ini oleh Brahma. Dengan kata lain, nafsu homoseksual dari seorang laki-laki terhadap laki-laki lain ini bersifat iblis dan bukan utnuk laki-laki waras manapun dalam jalan kehidupan yang normal.

- Bhag.3.20.26, penjelasan.

Srila Prabhupada meliaht kecenderungan homoseksual sebagai nafsu yang berlebihan dn terputar balik. Koreksi yang tepat untuk sifat nafsu adalah pengendalian diri dan penyucian melalui pernikahan yang religius.

Jika orang dengan kecendrungan homoseksual berpikir bahwa tidak mungkin untuk menikah dengan lawan jenis, maka dia dihadapkan dengan satu-satunya alternatif lain berpantang seks. Ini adalah dua alternatif yang sama yang Srila Prabhupada tulis untuk saya dalam sebuah surat ketika saya menyebutkan kepada beliau tentang rangsangan seks saya. Beliau mengatakan seseorang dapat menyibukkan dirinya sepenuhnya dalam Kesadaran Krsna, dan dengan demikian kehilangan segala keinginan untuk seks, atau menikah secara religius. Tapi tidak boleh ada seks yang amoral.

Seseorang yang telah menjadi homoseks yang aktif atau merasakan bahwa dia benar-benar seorang homoseks harus menganggapi hal ini dengan menerima kehidupan berpantang seks secara penuh. Karena itu, yang disebut-sebut sebagai kutukan dapat menjadi suatu berkat.

Untuk menjalankan kehidupan berpantang seks, orang seperti itu mungkin harus melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu dalam berbaur dengan orang-orang yang berjenis kelamin sama. Prinsip umum yang sama harus dipegang; seseorang seharusnya tidak bergaul secara intim dengan orang-orang yang akan memikatnya secara seksual. Ini benar bukan hanya abgi orang-orang homoseks namun juga bagi semua yang berpantang seks. Mereka harus menghindari perilaku seks, dan ini termasuk menghindari hubungan – hubungan pribadi kasih sayang manusia yang seringkali diekspresikan secara seksual.

SEKS TIDAK SAH DALAM PERNIKAHAN

Dari waktu ke waktu kita mendengar rumor-rumor pengajaran di ISKCON bahwa tidaklah bertentangan dengan aturan utnuk menikmati aktivitas seks dengan istri sendiri bahkan jika dilakukan tanpa keinginan untuk menghasilkan anak. Jatuh menjadi korban maya dapatlah dimaafkan, namun mengajarkan “filsafat” baru bahwa seks tidak sah dalam pernikahan bukan pelanggaran sumpah diksa tidak dapat dimaafkan. Pernyataan-pernyataan Srila Prabhupada terhadap hal ini telah disampaikan berulang-ulang dan tidak menimbulkan salah paham.

(21)

Kadangkala kita mendengar keluahan dari seorang gistri atau suami bahwa mereka dibujuk untuk melakukan seks oelh pasangan mereka. Seringkali wanitalah yang mengeluh bahwa suami mereka memaksa untuk melakukan seks yang tidak benar. Mereka mengtakan sang suami meminta hal itu atas nama loyalitas dan sikap menurut. Namun instruksi Srila Prabhupada tentang kesetiaan kepada suami tidak termasuk menuruti seorang gsuami yang jatuh. Jika sang suami ingin melakukan tindakan seks yang tidak benar berulangkali, bukan tugas sang istri untuk menurutinya. Tentu saja masalah sang suami harus dipertimbangkan dan dengan demikian nasihat pernikahan, demikian pula usaha-usaha lain untuk mengembalikan suatu pernikahan yang jatuh, harus dilakukan oleh pasangan tersebut.

Ini adalah saran Srila Prabhupada kepada seroang suami yang akan memasuki pernikahan

.saya mendorong semua Brahmacari dapat sangat bertanggung jawab dan menikahi salah satu gadis. Karena umumnya para gadis menginginkan suami yang baik dan rumah yang baik, anak, itulah kecenderungan alami mereka, jadi kita juga ingin memperlihatkan beberapa keluarga yang ideal. Namun saran bahwa pernikahan akan memecahkan masalah nafsu, tidaklah praktis. Istri seharusnya tidak diterima sebagai sebuah mesin untuk memuaskan nafsu kita. Ikatan pernikahan harus dijaga sangat suci. Seseorang yang menikah untuk tidak dapat menekan nafsu adalah suatu kesalahan.

- surat, 7 Oktober 1968

ketika berbicara menentang berbagai penyimpangan dan tindakan-tindakan seks yang tidak benar, para penyembah seharusnya tidak menyalahkan orang lain. Prabhupada telah mengatakan kita seharusnya “membenci dosanya, bukan yang berbuat dosa”. Masalahnya harus didiskusikan secara bijak, dan pada saat yang sama filsafatnya seharusnya tidak dikurangi. Dengan kepala dingin kita harus menjalankan sains yang sebenarnya dari Kesadaran Krsna ini. Jika anda bersikap secara benar anda akan memperoleh hasil yang benar; jika anda bersikap secara salah anda akan memperoleh hasil yang lain.

Mungkin beberapa cara penanggulangan yang telah saya sebutkan sama dengan yang pernah anda dengar sebelumnya. Namun saya berharap diskusi saya dapat membawa kepada usaha-usaha yang paling serius untuk memperbaiki diri. Kita sangat beruntung dapat mempraktekan kehidupan spiritual dan kita seharusnya tidak mengacaukannya dengan tindakan-tindakan yang menyimpang.

Ketika kita berurusan dengan berbagai rintangan dalam jalan pengabdian suci, kita harus menghindari memberikan rumus-rumus filsafat yang singkat. Kita harus mendengar setiap masalah Pribadi dan tidak hanya secra mekanis berkata kepada orang-orang , “Ucapkan saja Hare Krsna, prabhu”.

(22)

RINTANGAN-RINTANGAN DALAM BERJAPA DAN MEMBACA

Menurut Srimad-Bhagavatam, semua rintangan dapat diatasi oleh seseorang yang secara teratur berjapa dan mendengarkan ajaran dari Personalitas Tuhan Yang Maha Esa:

Mahluk hidup yang terperangkap dalam jaringan kompleks kelahiran dan kematian dapat dibebaskan dengan segera bahkan oleh pengucpan nama suci Krsna secara tidak sadar…. Siapakah, menginginkan pembebasan dari keburukan zaman pertengkaran ini, yang tidak berkehendak untuk mendengarkan keagungan Tuhan Yang Maha Esa?

Bhagavatam juga berbicara tentang memotong simpul-simpul dihati. Simpul ini, hrdaya-granthi, adalah keseluruhan dari ikatan-ikatan palsu kita kepada sang diri dan kepada dunia. Jika simpul itu (ego yang palsu) dibuka oleh Tuhan Yang Maha Esa, maka seseorang menginsafi kebahagian sang diri.

Srila Prabhupada juga menggunakan metafora untuk halangan-halangan yang muncul dalam jalan kita. Beliau menulis, “Nama rohani Krsna, walau bahkan diucapkan secara tidak sadar atau karena paksaan keadaan, dapat membantu seseorang memperolah pembebasan dari rintangan kelahiran dan kematian”. (Bhag.1.1.14, penjelasan)

Berjapa dan mendengarkan tentang Krsna juga diumpakan sebagai “ Menghidupkan lampu pengetahuan yang murni didalam hati para penyembah”. Ketika Tuhan Yang Maha Esa sendiri mengambil alih menerangi hati penyembah, maka dia tidak dapat tetap dalam kegelapan.

Sastra juga mengumpakan penyingkiran rintangan-rintangan duniawi sebagi membersihkan debu. Hal ini dilakukan pertama-tama oleh proses sravanam dan kirtanam.

Sri Krsna, Personalitas Tuhan, yang adalah Paramatma (roh yang utama) dalam hati setiap manusia dan pelindung penyembah yang jujur, membersihkan keinginana untuk kenikmatan duniawi dari hati sang penyembah yang mengembangkan dorongan untuk mendengar ajaran-ajaran-Nya, dimana ajaran-ajaran itu saleh dengan sendirinya ketika didengar dan dibacakan secara benar.

-Bhag.1.2.17

siapa yang gagal tersentuh oleh pernyataan-pernyataan ini? Dia pasti berhati batu. Siapa yang tidak akan mengucapkan dan mendengarkan keagungan Tuhan Yang Maha Esa, setelah mendengar pujian-pujian terhadap sravanam kirtanam seperti yang diberikan dalam Srimad-Bhagavatam? Telinganya tidak lebih baik daripada lubang-lubang rumah ular. Suaranya tidak lebih baik daripada suara kodok mengorek, yang memanggil kematiannya sendiri.

(23)

saja. Dalam kasus seperti ini, tidak sulit untuk memahami bahwa rintangan-rintangan dalam jalan pengabdian suci utamanya disebabkan oleh kurangnya berjapa dan mendengarkan. Karena itu, rintangan yang paling berbahaya dari semuanya adalah ketika kita mengabaikan hal pokok yang membebaskan kita dari simpul-simpul didalam hati.

APA YANG SALAH?

Mengapa kita gagal memperoleh rasa, mengapa kita kehilangan disiplin untuk melaksanakan japa dan mendengarkan sebagi tugas sehari-hari kehidupan kita? Dalam harinama Cintami, Bhaktivonoda Thakura menganalisis kesulitan dalam membahas pengucapan nama suci yang tidak atentif (kurang perhatian). Beliau menyebutkan bahwa jika seorang penyembah pemula tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakan praktek berjapa dan mendengarkan, dia segera akan jenuh dan beralih perhatian dan ini akan menghasilkan suatu tipe ilusi, menyulut kesalahan yang serius terhadap nama suci yang sangat sulit untuk diatasi. Apa yang kemudian terjadi adalah seseorang akan kehilangan minat untuk mengejar kehidupan spiritual dan mengalihkan perhatiannya pada kerinduan-kerinduan kepada kekayaan, seks, dan kemashyuran. “Ketika ketertarikan ini menyelimuti hati, sang pemula secara bertahap kehilangan minat terhadap pengucapan nama suci.” Sadar akan hal ini kegagalan untuk melaksanakan dua praktik utama dalam bhakti (sravanam kirtanam) bukanlah karena hilangnya suatu detail tertentu, dna pastilah bukan kesalahan dari proses bhakti itu sendiri. Kesalahan ada pada diri kita sendiri. Kita telah menjadi lemah hati dan dengan demikian maya sekali lagi masuk dan mengalihkan arah kita. Kita tidak ingin berjapa dan mendengarkan tentang Tuhan Yang Maha Esa karena kita asyik dalam kepuasan indera.

Suatu permulaan yang baik untuk memeprbaiki japa dan membaca adalah dengan menerima analisis yang terus terang tentang mengapa kita tidak tertarik pada sravanam kirtanam. Mari saya akui, “Saya tidak tertarik berjapa karena saya memiliki begitu banyak keinginan duniawi.” Ini tunduk hati dan inilah kebenaran. Saya dapat memberikan alasan-alasan yang lebih rumit dan psikologis, dan bahkan penjelasana sesuai keadaan, perkecualian dan rasionalisasi, namun lebih baik menjangkau dasarnya : penerimaan tentang ketidakberminatan kita yang tanpa sebab untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kini kita akan berada dalam posisi yang lebih baik untuk pertimbangkan bahaya besar kehidupan duniawi dan untuk mengingat mengapa kita tertarik pada Kesadaran Krsna pada awalnya.

Tidak akan ada analisis yang lebih jelas tentang mengapa kita tidak mampu berjapa dengan baik daripada penjelasan dan pengobatan yang diberikan oleh Rupa Gosvami dalam Upadesamrta :

Nama suci, sifat, kegiatan dan aktivitas kesenangan Krsna semuanya manis secara rohani seperti kembang gula. Walau lidah orang yang terjangkit sakit kuning avidya (kebodohan) tidak mampu mengecap rasa manis, adalah luar biasa bahwa hanya dengan mengucapkan dengan baik nama-nama yang manis setiap hari,suatu kenikmatan alami dibangkitakn didalam lidah, dan penyakit secara bertahap dihancurkan sampai keakarnya.

-Upadesmarta, ayat 7

ayat dari Rupa Gosvami ini pantas untuk dituliskan pada sebuah kartu 3x5 inchi diletakkan ditempat yang dapat kita lihat setiap hari – dan bukan hanya melihatnya, namun merasakannya.

(24)

Praktisi yang kecewa mungkin mengkomplain, “Penjelasan anda benar secara filosofis, namun anda tidak membicarakan masalah dasarnya. “Bagaimana bisa kita berjapa jika kita tidak mengecap suatu rasa? Banyak dari kita telah mendengar penjelasan-penjelasan filosofis singkat mengenai apa yang salah dengan japa kita, namun hal itu tidak mengubah hati kita atau mendorong kita untuk berubah. Kita mengakui keadaan kita yang jatuh. Tidaklah membuat bahagia dengan meminggirkan japa mala kita, untuk membaca koran bukannya srimad-bhagavatam. Kita berharap bahwa kita dapat berjapa dengan lebih baik, dan kita tahu bahwa itu adalah suatu rintangan utama dalam kehidupan kita. Namun kita tidak tahu bagaimana mengatasinya.

Jika kita telah kehilangan rasa untuk berjapa dan membaca, tidaklah beralasan bahwa kita meminta kembalinya rasa itu dengan segera sebelum kita berusaha untuk memperbaiki diri kita. Kita harus menjalani proses untuk mengembalikan kesehatan. Kita tidak dapat mengharapkan buah matang pengucapan nama suci yang penuh kebahagiaan tiba-tiba jatuh dari langit, dan kita hendaknya tidak menunggu sampai kehidupan duniawi menjadi demikian buruk hingga kita beralih dalam keadaan harapan dalam keputusasaan kepada perlindungan japa dan membaca. Dengan kemampuan sekecil apapun yang kita miliki sekarang, mari kita mempertahankan ketabahan untuk menjalani sumpah untuk berjapa dan membaca.

Saya berbicara tentang kebijaksanaan lama, keyakinan dan ketetapan hati. Mungkin kebijaksanaan-kebijaksanaan ini telah usang bagi anda karena seseorang menggiring kejalan yang salah atas nama keyakinan dan ketetapan hati. Atau mungkin anda lelah mencoba tanpa mencapai suatu rasa yang lebih tinggi. Jika kita berjapa dan mendengar hanya karena tugas, hal itu akan menjadi rutin dan mekanis. Dan demikian kita meminta, “Mana nektarnya?” namun bagi seseroang yuang belum berkualifikasi untuk merasakan bhakti-rasa, tugas sadhana-bhakti hendaknya tidak disepelekan. Ya, di Goloka Vrndavana, tidak ada lagi tugas apapun. Disana segalanya bersifat spontan; berjalan adalah menari, perkataan adalah nyanyian dan sapi surabhi memberikan susu tanpa henti. Kontras dengan itu, pertapaan seorang sadhaka (pelaksanaan pengabdian suci) mungkin memukul kita sebagai merendahan. Namun para ahli dalam pengabdian suci seperti Rupa Gosvami dan Srila Prabhupada, menyemangatkan kita menyampaikan bahwa jalan menuju bhakti-rasa bergerak melalui tingkatan-tingkatan kemajuan dari sadhana-bhakti.

Seorang Sadhana-Bhakti yang tulus akan belajar untuk memuja tugas-tugas yang diberikan kepadanya oleh sang guru spiritual, dan dia akan menemukan nektar dalam melaksanakan instruksi untuk berjapa dan mendengar. “saya tahu saya melakukan yang terbaik untuk kemajuan dan kebahagiaan spiritual saya. Saya akan bersabar. “Walau mungkin kita tidak merasakan delapan jenis kebahagiaan rohani, jika kita berpikir tentang hal itu, kita akan mengakui bahwa kita telah merasakan kepuasaan yang dalam dan tahan lama dalam berjapa dan mendengar. Kepuasan-kepuasan ini dan kemujuran ini dekat dengan kita sedekat kita menyentuh japa mala kita, dan membaca buku yang ada di rak.

BERNIAT UNTUK BERUBAH

(25)

Apa saja perubahan –perubahan yang mungkin diperlukan? Mungkin kita tinggal bersama orang-orang yang membuat tidak mungkin untuk melaksanakan pengabdian suci. Mungkin cara-cara kita mencari uang terlalu kotor, menyedot energi vital kita hingga kita tidak memiliki sisa tenaga utnuk praktek spiritual. Atau mungkin ada masalah-masalah yang tak terpecahkan dalam kehidupan kita. Seperti yang dikatakan Yesus-Krstus; “Jika kamu ingin melakukan persembahan di altar, namun kamu ingat bahwa kamu telah menipu seseorang, pertama-tama pergi dan berdamailah dengan orang itu, kemudian kembalilah dan lakukan persembahanmu.”

Kita dapat menyimpulkan bahwa kita akan mampu meluangakan 2 ½ jam sehari untuk berjapa,dan 1/2 jam sehari untuk membaca buku-buku Srila Prabhupada. Jika itu keputusan kita, maka langkah selanjutnya adalah untuk memastikan bahwa bahkan waktu yang singkat untuk bhajana ini terjaga kesuciannya. Kita harus dalam keadaan pikiran yang pas untuk benar-benar berjapa dan mendengar. Sravanam kirtanam membutuhkan kedamaian mental dan kewaspadaan. Jika waktu yang kita habiskan diluar sadhana begitu sibuk dan melelahkan, maka itu akan menghabiskan tenaga kita. Kita akan terlalu lelah atau terkontaminasi utnuk menggunakan sedikit waktu yang tersisa untuk berjapa dan mendengar. Kita tidak dapat berlari dengan kecepatan anjing pemburu selama dua puluh dua jam sehari dan kemudian tiba-tiba terhenti dan beralih kepada sifat sattva-guna. Jika kita membiarkan diri kita menjadi seperti anjing bekerja pada sifat ugrakarma; jika kita membiarkan diri kita terperangkap dalam kehidupan dengan stress yang tinggi utnuk menjaga standar kehidupan ; jika kita selalu bertengkar dengan istri atau suami kita; jika kita terlibat dalam masalah seksual tidak sah; jika kita membuat rencana-rencana untuk menipu seseorang – ini akan menghancurkan sedikit apapun waktu yang telah kita jadwalkan untuk sadhana.

BAGAIMANA CARA TERBAIK UNTUK MEMBACA?

Bahkan jika kehidupan kita relatif damai, kita harus melakukan suatu persiapan ringan sebelum mempraktekan japa atau membaca. Mungkin hanya perlu sesaat saja untuk mengingatkan diri kita. “Sekarang saya akan mengucapkan nama suci Tuhan Yang Maha Esa,” atau “Sekarang saya akan membaca buku yang sangat spesial, Srimad-bhagavatam. Biarlah saya lakukan dengan penuh hormat dan rasa tunduk hati, ini bukan membaca suatu yang biasa-biasa”.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Media Rintangan