• Tidak ada hasil yang ditemukan

RUSIA INDONESIA Dan Perbandingan Diferensias

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RUSIA INDONESIA Dan Perbandingan Diferensias"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

RUSIA

INDONESIA : Perbandingan Diferensiasi Agama

Masyarakat dan Kaitannya dengan Upaya Negara Mengatasi

Disitegrasi Nasional.

disusun dalam rangka memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Perbandingan Politik

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Jahja Muhaimin Suci Lestari Yuana, S.IP, MA

INA LAILATUS SIAMI

12/328624/SP/25009

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebebasan beragama merupakan hak setiap warga negara dan sudah menjadi fungsi negara untuk melindungi hak-hak warganya. Aturan-aturan universal seperti HAM memainkan peran penting sebagai salah satu instrumen yang memastikan terjaganya hak warga negara dan dijalankannya fungsi negara untuk memenuhi hak-hak tersebut. Meskipun demikian, di luar ranah hukum, kehidupan beragama yang sehat dalam suatu masyarakat plural dan demokratis menuntut dikembangkannya pula etos hubungan antar pemeluk agama yang baik sehingga tak memicu timbulnya disintergrasi negara.

Bagi Indonesia, peristiwa revolusi serta dampaknya yang terjadi di Rusia dan

disintegrasi yang terjadi di Uni Soviet patut dijadikan cermin bagi kelangsungan bangsa

dan negara Indonesia sendiri. Karena kejadian-kejadian itu mempunyai pola-pola dan

kecenderungan yang bisa dipelajari sehingga apabila pola dan kecenderungan itu terjadi

di Indonesia, maka peristiwa serupa juga dimungkinkan akan terjadi di Indonesia.

Tentang kekhawatiran munculnya disintegrasi bangsa akibat tidak adanya

toleransi antar umat beragama, adalah salah satu tantangan bagi negara multikulturalisme.

Nilai-nilai lama sejarah yang mengandung paksaan bahwa orang harus bersatu dan

seragam tak dapat lagi digunakan. Semantara keragaman sosial budaya dan agama dalam

satu negara menjadi fakta yang tidak bisa dielakkan. Oleh karena itu, ada kesamaan pola

tentang setting historis bangsa Indonesia dengan bangsa Rusia, terutama tentang

keragaman etnis, bahasa, budaya serta agama dalam masyarakat. Sehingga, penulis ingin

memaparkan lebih dalam tentang keragaman agama di Indonesia pasca terjadinya

reformasi dan Rusia pasca runtuhnya Uni Soviet serta membandingkan ancaman

disintegrasi bangsa di kedua negara.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana perbandingan diferensiasi agama dalam masyarakat di Indonesia

pasca terjadinya reformasi dan Rusia pasca runtuhnya Uni Soviet dan kaitannya dengan

(3)

1.3 Landasan Konseptual

1.3.1 Multikulturalisme dan Pluralisme

Sebagaimana diungkapkan oleh Kymlicka, masyarakat modern dewasa ini

semakin sering diperhadapankan pada berbagai macam kelompok yang menuntut

pengakuan atas identitasnya, dan diterimanya perbedaan kulturalnya

masing-masing. Hal inilah yang biasa disebut sebagai tantangan multikulturalisme.

Multikulturalisme sendiri sebenarnya mencakup berbagai bentuk pluralisme

budaya yang berbeda, masing-masing memiliki tantangannya sendiri-sendiri.

Keterangan ini sebenarnya mau menjelaskan bahwa apa yang dimaksud dengan

multikultur merupakan salah satu bentuk dari pada pluralisme, dalam hal ini

pluralisme kultural. Pluralisme atau kemajemukan merupakan sebuah fakta yang

tak terelakan dalam kehidupan manusia. Berdasarkan fakta ini, persoalan

mengenai tercapainya suatu masyarakat yang beradab dalam kewargaan yang

inklusif (terbuka) merupakan sebuah problem universal.

Masyarakat yang pluralistik hanya dapat ditata secara etis apabila keadilan

dinomorsatukan terhadap pandangan-pandangan tentang tujuan hidup manusia.

Prinsip-prinsip keadilan harus netral terhadap keyakinan-keyakinan tentang hidup

yang baik dalam arti bahwa orang atau kelompok orang tidak ada yang

didiskriminasikan hanya karena kekhasan keyakinan, cita-cita moral dan

religiusnya dan bahwa prinsip-prinsip itu oleh seluruh masyarakat dapat diterima

secara adil, jadi tidak hanya berdasarkan pandangan komunitas tertentu tentang

apa yang baik.

Multikulturalisme merupakan pluralisme budaya. Dengan kata lain

pengakuan akan kepluralan merupakan gagasan penting bagi multikulturalisme.

Lebih jauh, multikulturalisme merupakan perangkat gagasan yang

memperjuangkan “politics of recognition”. Yakni, bentuk pengakuan terhadap

setiap entitas kultural yang ada, khususnya yang terpinggirkan dan tidak berdaya.1

1

(4)

1.3.2 Disintegrasi Negara

Salah satu yang menjadi hambatan negara untuk maju ialah adanya konflik

internal yang berupa gejala separatisme hingga ancaman disintegrasi negara.

Seperti yang diungkapakan Samuel P. Huntington (1993) bahwa konflik antar

peradaban tidak lagi disebabkan oleh faktor - faktor ekonomi, politik dan ideologi,

tetapi justru dipicu oleh masalah – masalah suku, agama, ras dan antar golongan

(SARA). Konflik tersebut menjadi gejala terkuat yang menandai runtuhnya

polarisasi ideologi dunia ke dalam komunisme dan kapitalisme, bersamaan

dengan runtuhnya struktur politik negara – negara Eropa Timur. Intensitas

hubungan dialogis akan semakin berkembang searah dengan semakin terbukanya

betas – batas wilayah administratif suatu negara, lebih – lebih antar berbagai

wilayah kehidupan dalam suatu negara. Hal ini juga merupakan indikator semakin

terbukanya peluang “pertentangan budaya” yang bersumber pada keyakinan

agama.2

1.4 Argumen Utama

Adanya kemiripan - kemiripan pola, trend, kecenderungan dari perkembangan

sistem sosial politik, ekonomi, dan budaya dari suatu masyarakat akan bisa digunakan

untuk analisis bagi suatu masyarakat lain maupun membandingkannya. Rusia pasca

runtuhnya Uni Soviet sudah mulai mengakui multikulturalisme dengan memiliki

keberagaman agama dalam masyarakatnya. Pemerintah Rusia segera menyadari kekuatan

politik masyarakat beragama yang dulunya hanya sebatas kelompok minoritas, kini telah

bertumbuh semakin banyak. Perubahan sosial masyarakat inipun jika tidak diperhatikan

akan menimbulkan gejolak perpecahan, sehingga pemerintah pun mengambil jalan

kebijakan dengan memenuhi segala fasilitas yang dibutuhkan bagi kaum beragama.

Ditambah dengan dukungan pemerintah terhadap aliansi keagamaan yang pro terhadap

toleransi antar agama juga menjadi upaya pemerintah untuk meminimalisir konflik yang

sering dihadapi negara multikulturalisme ini.

2

(5)

Sedangkan Indonesia, yang memang sudah multikultural dalam hal agama, di era

reformasi kebebasan beragama semakin diakui dan munculnya aliran aliran baru yang

menambah multikulturalisme di Indonesia sendiri. Namun dengan banyaknya agama dan

kultur dalam masyarakat lantas membuat negara ini masih menghadapi gejala

separatisme ataupun ancaman disintegrasi negara. Memang bukan hanya faktor

diferensiasi agama ataupun budaya yang menyebabkan perpecahan negara, namun

dengan mengetahui kondisi multikulturalisme dalam masyarakat,diharapkan pemerintah

dapat mengambil kebijakan politik yang tepat untuk meminimalisir konflik yang dapat

memicu disintegrasi negara. Pemerintah Indonesia yang berideologikan Pancasila

menempatkan identitas agama dan kesukuan sebagai hal yang utama diatas identitas

kebangsaannya. Hal ini membuat upaya menuntaskan masalah disintegrasi nasional

belum maksimal dan mendasar. Kesadaran politik masyarakat akan pentingnya persatuan

dan kesatuan Indonesia masih rendah dan mudah terprovokasi kelompok ekstrimis yang

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Kehidupan Masyarakat Rusia dalam Multikulturalisme Agama Pasca Runtuhnya Uni

Soviet.

Rusia adalah sebuah negeri besar, apalagi setelah menjadi Uni Soviet, dengan

memiliki pengaruh yang luas di sebagian wilayah dunia. Sejarah negerinya yang lama,

telah memberikan arti penting dalam perkembangan ilmu sejarah sosial, politik, ekonomi,

dan budaya baik untuk Rusia sendiri, Uni Soviet, Asia, dan Eropa. Revolusi Rusia 1917

merupakan Revolusi Besar yang berpengaruh pada belahan dunia ini, sehingga menjadi

kajian para ilmuwan yang sangat menarik. Ketika Uni Soviet mengalami kemunduran

ekonomi, negara ini mencoba untuk melihat kembali prinsip-prinsip dasar ideologinya.

Di bawah kepemimpinan Gorbachev, Uni Soviet berusaha untuk bangkit menjadi negara

yang besar di dunia tetapi sekaligus juga menjadi negara yang lebih demokratis. Dengan

digulirkannya Perestroika dan Glasnot oleh Gorbachev, banyak sekali terjadi perubahan

di negeri ini. Tampaknya keinginan Gorbachev untuk menjadikan Uni Soviet menjadi

negara maju justru menjadi sebaliknya dengan terjadinya disintegrasi negeri adidaya ini

hingga terpecah-pecah menjadi negara-negara yang memiliki kemerdekaan

sendiri-sendiri, sekaligus mengakhiri Era Perang Dingin antara Uni Soviet dengan Amerika

Serikat.

Sejak menggulirnya perestroika dan glasnost tahun 1991 yang juga ditandai

dengan bubarnya Uni Soviet, kehidupan agama di Rusia menemukan momentum baru.

Kehidupan agama yang semua selalu ditekan di bawah pemerintahan komunis, sekarang

bagaikan rerumputan kering yang memperoleh siraman hujan,bermunculan ke permukaan

sosial dengan penuh antusias. Masyarakat tidak lagi takut- takut mengenalkan afiliasi

serta identitas etnis dan agama secara terbuka. Negara Federasi Rusia dengan penduduk

sekitar 140 juta, terdiri atas 71,8% Kristen Ortodoks,18% Islam, 1,8% Katolik, 0,7%

Protestan, 0,6% Buddha, 0,3% Yahudi, 0,9% beragam sekte, sisanya tanpa agama. Dari

(7)

konstitusi tentang keagamaan Federasi Rusia sendiri ternyata hanya mengakui empat

agama tradisional, yaitu Kristen Ortodoks, Islam, Buddha, dan Yahudi.3

Pemerintah Rusia sedang berjuang menemukan identitas dan ideologi bangsanya

sebagai pengikat dan sumber etos baru untuk membangun kembali citra dan peran

dirinya sebagai sebuah negara besar yang mesti diperhitungkan dunia. Namun,

setidaknya bahasa dan ikatan kewargaan masih kuat sebagai sebuah warga dan bangsa

Rusia, meskipun di dalamnya terdapat puluhan etnis sebagaimana Indonesia. Hubungan

antaragama-agama yang disebut sebagai agama tradisional di Rusia memang berlangsung

cukup harmonis. Masyarakat Rusia yang pluralis dan multietnis disatukan dalam satu

negara Rusia dan mereka memiliki pengalaman panjang dalam mengatasi

masalah-masalah bersama. Kehidupan beragama di Rusia sampai saat ini belum ternoda dengan

konflik yang berkepanjangan. Semua saling menjaga keseimbangan dan toleransi.

Dukungan dari pemerintah bagi agama-agama yang ada pun sangat kuat. Contohnya bagi

umat muslim di Rusia, pemerintah telah menambah jumlah masjid, memfasilitasi

kegiatan pengiriman calon jemaah haji, serta mendukung aliansi bernafaskan islam.

Dukungan serupa juga dinikmati agama-agama tradisional lainnya di Rusia.

Pemerintah Rusia juga gencar mempromosikan toleransi antar umat beragama

dengan merangkul gereja Kristen Ortodoks, yang menjadi agama terbesar di Rusia, untuk

menyebarkan pesan toleransi kepada semua warga negara.4 Aliansi muslim di Rusia juga

turut menumbuhkan sikap toleransi antar umat beragama. Mereka percaya bahwa hal ini

dapat menciptakan suatu kerukunan warga negara dan bisa membuat suatu negara

menjadi maju dan besar. Karena perpecahan di antara warga negara, termasuk

perpecahan agama, justru akan semakin membuat negara terpuruk.

2.2 Kehidupan Multikulturalisme Agama Di Indonesia

Di Indonesia, cita-cita pemerintah untuk menciptakan kerukunan umat beragama

memiliki tujuan yang lebih luas dari kebebasan beragama. Pemenuhan hak untuk

kebebasan beragama dan berkepercayaan menjadi salah satu instrumen terpenting untuk

setidaknya memastikan bahwa batas-batas minimal terkait hak warga negara telah

3

M. Aji Surya. 2012. Segenggam Cinta dari Moskwa : Catatan Perjalanan di Rusia. Jakarta. PT Kompas Media Nusantara

4

(8)

terpenui dengan baik. Di samping itu, Indonesia telah mengikatkan diri dengan deklarasi

universal untuk HAM dan meratifi kasi beberapa instrumen pentingnya melalui UU.

Sementara hak untuk beragama dan berkepercayaan dijamin oleh UUD 1945, harus

diakui bahwa dalam masyarakat masih terus ada gesekan di antara para pemeluk agama.

Kesadaran multikultur sebenarnya sudah muncul sejak Negara Republik

Indonesia terbentuk. Pada masa Orde Baru, kesadaran tersebut dipendam atas nama

kesatuan dan persatuan. Paham monokulturalisme kemudian ditekankan. Akibatnya

sampai saat ini, wawasan multikulturalisme bangsa Indonesia masih sangat rendah. Ada

juga pemahaman yang memandang multikultur sebagai eksklusivitas.

Kehidupan multikultural di Indonesia sendiri tak bisa lepas dari ideologi yang

mengikat masyarakat negara ini, yaitu Pancasila. Dewasa ini, berbagai macam konflik

antar agama lebih banyak menjadi sorotan publik sehingga Indonesia terkesan sebagai

negara yang intolerance. Cukup penting bagi kita untuk melihat kedalam bagaimana

sesungguhnya kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat kompleks ini berjalan

ditengah keberagaman. Kondisi toleransi umat beragama di Indonesia ini dinilai pasif,

mereka hidup berdampingan namun tidak saling peduli. Berbagai riset yang dilakukan

oleh lembaga nasional kita menunjukkan bahwa toleransi antar umat beragama di

Indonesia sangat buruk. Beberapa golongan masyarakat bahkan secara terang-terangan

menolak hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain. Sejumlah kasus yang pernah

terjadi bahkan tindakan seorang warga beragama Kristen yang menggedor- gedor pintu

masjid karena merasa terganggu oleh suara loudspeaker masjid pada bulan Ramadan.5

Mengenai kebijakan pemerintah Indonesia, Ketetapan Presiden mengenai

pencegahan penyalahgunaan atau penodaan agama hingga Instruksi Kementerian Agama6

memang sudah dikeluarkankan terkait pembinaan umat beragama. Hal tersebut belum

mampu mengakomodir lebih dari 237,6 juta penduduk yang diantaranya sekitar 87,1%

beragama muslim, 16,5% kristen, 6,96% katolik, 1,69% hindu dan 0,72% Budda, sisanya

beragama lain.

5

Zainal Abidin Bagir, dkk. Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2012. Center for Religious and Cross-cultural Studies. Yogyakarta, Sekolah Pascasarjana UGM

6

(9)

2.3 Perbandingan Upaya Pemerintah Rusia dan Indonesia Terkait Ancaman Disintegrasi

Negara

Di atas permukaan, hubungan antar agama - agama yang di Rusia memang

berlangsung cukup harmonis. Antara agama satu dan yang lain, bisa hidup berdampingan

secara rukun dan saling menghormati (peaceful coexistence). Akan tetapi ada pula sisi

lain dalam kehidupan sehari-hari masyarakat berbeda keyakinan ini. Setidaknya demikian

yang dirasakan penganut agama Kristen non-ortodoks yang mengalami diskriminasi dari

kelompok ortodoks. Demikian pula bagi kelompok Muslim yang oleh pemerintah sering

dicap sebagai kelompok ekstremis, terutama di daerah Rusia bagian selatan. Laporan

lembaga aktivis keagamaan dan HAM beberapa tahun terakhir mengungkapkan

banyaknya kasus kekerasan dengan target kelompok Muslim yang dianggap ikut terlibat

dalam gerakan separatis dan serangan terorisme di berbagai wilayah Rusia. Dengan

demikian tentu beberapa wilayah wilayah di Rusia berkeinginan untuk memerdekakan

diri. Seperti daerah Chechnya dan Dagestan yang memiliki potensi radikalisme.

Pemerintah Rusia menyadari benar bahwa perkembangan keagamaan di

negaranya akan berpengaruh dalam bidang sosial budaya dan perpolitikan. Sehingga

untuk tetap persatuan Rusia sebagai negara berdaulat, negara ini menempuh kebijakan

strategis yakni dengan merangkul semua agama yang ada. Dengan mendukung

pengembangan tempat ibadah dan pendidikan agama di sekolah, serta melibatkan para

aktivis dan aliansi keagamaan yang tergolong minoritas kedalam berbagai kegiatan

nasional Rusia, pemerinah Rusia dinilai cukup berhasil meredam gejolak konflik yang

dipicu oleh faktor multikultural agama.7 Hampir semua golongan masyarakat Rusia yang

terpisahkan oleh agama kini merasa memiliki peran penting seperti saudaranya, etnis

Rusia dalam kehisupan sosial maupun politik, karena semua mendapat perhatian dari

pemerintah.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Bangsa dan negara Indonesia yang masih

mengalami krisis multisegi yang bekepanjangan ini, masih harus menghadapi berbagai

gejolak dan goncangan pergolakan sosial dalam bentuk kerusuhan dan kekerasan

masyarakat yang cenderung menjurus ke arah terjadinya disorganisasi sosial dan

7

(10)

disintegrasi masyarakat dan bangsa Indonesia yang majemuk ini. Tantangan disorganisasi

sosial dan disintegrasi bangsa semakin terasa ketika situasi konflik semakin meningkat

dalam bentuk benturan sosial dengan aksi kekerasan yang bersifat brutal dan destruktif

disertai isu-isu konflik bermuatan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan).

Peristiwa konflik seperti itu terjadi misalnya disintegrasi Timor Timur (1999), konflik

Agama di Ambon dan Maluku (1988-2003), Kalimantan Barat (1998/1999), Aceh

(1998-2005), Poso (2000), Sampang Madura (2012), aksi demonstrasi dengan kekerasan akibat

diskriminasi agama hingga permasalahan rumah ibadah.

Tata nilai yang berlaku di daerah yang di suatu daerah tidak selalu sama dengan

daerah lain. Itulah kondisi sosial budaya negara pluralistik di Indonesia. Sehingga jalan

kebijakan strategis kebijakan yang ditempuh pemerintah adalah melalui otonomi daerah.

Sesuai dengan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Darah yang diikuti dengan

UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan

Daerah, setiap daerah kini memiliki otoritas sendiri untuk mengatur daerahnya.8 Namun,

upaya yang diharapkan pemerintah mampu meredam gejolak dan semangat pemecahan

dari NKRI belum cukup menuntaskan masalah. Kualitas SDM yang rendah ditambah

masalah sosial yang menumpuk serta belum adanya pemerataan pembangunan menjadi

faktor konflik sosial yang mengatasnamakan SARA. Pasca reformasi Indonesia juga

dilanda ketidak pastian hukum yang mengubah paradigma masyarakat tentang persatuan

dan kesatuan dengan nilai – nilai demokrasi. Sehingga upaya penumpasan ketegangan

antar umat beragama di Indonesia masih perlu ditingkatkan lagi.

8

(11)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Faktor agama menjadi faktor ancaman serius dalam dinamika kehidupan

masyarakat majemuk seperti Indonesia ataupun Rusia. Di Rusia, masyarakat beragama

secara demografi disadari oleh pemerintah cukup substansial, sehingga kebijakan yang

diterapkan pun penuh perimbangan dengan keberadaan serta kebutuhan mereka. Kondisi

sosial politik di Rusia juga cukup kondusif bagi para pemeluk agama untuk saling

menjada toleransi antar umat beragama. Aliansi keagamaan juga mendapat dukungan

pemerintah Rusia sehingga gejolak masyarakat yang dapat memicu konflik keagamaan

dapat ditangani pemerintah dengan baik dengan dibantu aliansi keagamaan ini.

Sedangkan yang dapat kita lihat di Indonesia kini masih banyak masyarakat

multikultural yang hidup dalam konflik. Dari hal kecil seperti pembangunan rumah

ibadah hingga aliran keagamaan baru, masih menjadi permasalahan antar kelompok

beragama. Upaya penyelesaian oleh pemerintah pun terlalu berlarut – larut dan hasilnya

gejolak disintergrasi nasional pun masih kerap terjadi. Otonomi yang ditempuh sebagai

jalan kebijakan pemerintah rupanya belum sepenuhnya efektif menumpas gejolak konflik

antar agama dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat

multikulturalisme di Indonesia cukup kompleks dibandingkan di Rusia. Keberhasilan

relasi keagamaan yang harmonis dan adil harus didukung dengan toleransi umat

beragama yang baik. Dan disini ketegasan serta profesionalitas pemerintah sebagai

pembuat kebijakan menjadi penentu untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat

agar tidak terjadi gesekan antara masyarakat beragama tersebut.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Bagir, Zainal Abidin, dkk. Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2012. Center for

Religious and Cross-cultural Studies. Yogyakarta, Sekolah Pascasarjana UGM

Huntington, Samuel P. 1993.The Clash of Civilization. New York ; Simon & Schuster

Publisher.

Kymlicka, Will. 2002. Kewargaan Multikultural (terj E.H Eddin). Jakarta ; LP3ES

Parera, Frans.M. 1999. Demokratisasi dan Otonomi. Jakarta ; PT Kompas Media Nusantara

Surya, M. Aji. 2012. Segenggam Cinta dari Moskwa : Catatan Perjalanan di Rusia. Jakarta. PT

Kompas Media Nusantara

Surya, M Aji, Frassminggi Kamasa. 2012. Geliat Islam di Rusia Catatan Diplomat Indonesia.

Jakarta : PT Kompas Media Nusantara

Website Pemerintah Kementerian Agama . http://kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=499

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimanakah peran faktor kemampuan dan motivasi serta faktor persepsi masyarakat dan struktur organisasi partisipasi perempuan anggota BPD Se-Kecamatan Banyudono dalam

12 Lead Consultancy Services for Developing Center of Technology in Polytechnic " The Deployment-2 FHE Institution Development".

Berdasarkan uraian tersebut di atas, berikut ini dikemukakan tujuan pemberian motivasi kerja kepada para karyawan adalah untuk mengubah perilaku karyawan sesuai

Kamulyan, B., 2008 , Liquid Smoke atau lebih dikenal sebagai asap cair merupakan suatu hasil destilasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran tidak langsung maupun langsung dari

Teknologi terbaru pengendalian hama penggerek batang padi perlu disesuaikan dengan harga gabah pada saat panen, yaitu segera dilaksanakan 4 hari setelah penerbangan ngengat yang

Pada Gambar 3, dapat dilihat bahwa nilai log TPC fillet ikan nila merah di mana dengan perlakuan perendaman dalam jus wortel yang mengandung campuran bakteri BAL mampu

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 1999

Kusumawati (2013) membagi faktor-faktor yang memengaruhi pembiayaan pada perbankan syariah dibagi menjadi 4 kategori yaitu kategori kinerja perbankan syariah dengan