Penyelewangan Dana Otonomi
Khusus di Provinsi Papua
A. Latar Belakang
Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa. Keputusan politik penyatuan Papua (semula disebut Irian Barat kemudian berganti menjadi Irian Jaya) menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada hakikatnya mengandung cita-cita luhur. Namun, kenyataannya, berbagai kebijakan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang sentralistik belum sepenuhnya memenuhi rasa keadilan, belum sepenuhnya memungkinkan tercapainya kesejahteraan rakyat, belum sepenuhnya mendukung terwujudnya penegakan hukum, dan belum sepenuhnya menampakkan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) di Provinsi Papua, khususnya masyarakat Papua.
Momentum reformasi di Indonesia memberi peluang bagi timbulnya pemikiran dan kesadaran baru untuk menyelesaikan berbagai permasalahan besar bangsa Indonesia dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Sehubungan dengan itu, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia pada tahun 1999 dan 2000 menetapkan perlunya pemberian status Otonomi Khusus kepada Provinsi Irian Jaya. Hal ini merupakan suatu langkah awal yang positif dalam rangka membangun kepercayaan rakyat kepada Pemerintah, sekaligus merupakan langkah strategis untuk meletakkan kerangka dasar yang kukuh bagi berbagai upaya yang perlu dilakukan demi tuntasnya penyelesaian masalah-masalah di Provinsi Papua.
B. Rumusan Masalah
Pada praktiknya, sudah 10 tahun semenjak ditetapkannya Otonomi Khusus (Otsus) di Papua belum diimplementasikan secara efektif. Banyak permasalahan yang timbul seperti pendidikan di papua yang masih jauh dari standar layak, sekolah-sekolah rusak, kurangnya jumlah tenaga pengajar dan sekolah yang ada, jauhnya jarak antara sekolah dengan masyarakat yang tinggal di wilayah itu bahkan di salah satu kabupaten, masyarakat mendemo DPRD karena ketiadaan tenaga pengajar di sekolah itu. Tidak hanya itu, menurut BPK pengelolaan dana otsus seakan menguap dan tanpa hasil yang nyata. Dana otsus yang diberikan pemerintah pusat malah dibuat sebagai ajang memperkaya pejabat itu sendiri. Tak heran setelah otsus tahun 2001, rumah para pejabat berganti bak istana, melancong keluar negeri bahkan dana pendidikan pun di depositokan sebesar 1,85 triliun. Menurut PCW (Papua Coruption Watch), dana Otsus Papua terkesan menjadi lahan korupsi baik pejabat di pemerintah pusat, terlebih pejabat di propinsi dan kabupaten. Penyaluran dana otonomi khusus ke Papua yang sering terlambat. hal ini merupakan pemicu penyerapan dana oleh rakyat Papua sangat kecil, sehingga lebih banyak terserap ke kantong pejabat.
C. Pembahasan Masalah
Otonomi Khusus bagi Papua pada dasarnya merupakan pemberian kewenangan yang lebih luas bagi pemerintah daerah Provinsi dan rakyat Papua untuk mengatur dan mengurus diri sendiri di dalam kerangka NKRI. Kewenangan tersebut berarti pula tanggung jawab yang lebih besar bagi pemerintah daerah dan rakyat Papua untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pemanfaatan kekayaan alam yang tersedia bagi kemakmuran rakyat. Melalui kebijakan Otsus ini diharapkan dapat mengurangi kesenjangan di Papua dengan provinsi-provinsi lainnya di tanah air, serta memberikan peluang bagi orang asli Papua untuk turut serta berkiprah di wilayahnya sebagai subjek sekaligus objek pembangunan. Namun, pada kenyataannya, kebijakan ini belum mampu mencapai tujuan yang dikehendaki.
Titik kunci dari masalah ini yaitu penyelewengan dana yang dialokasikan untuk Otsus oleh pemerintah daerah Papua itu sendiri. Berdasarkan hasil audit yang dilakukan BPK terhadap APBN yang dialokasikan untuk daerah Papua ditemukan kerugian negara sebesar 319,7 miliar rupiah. Setelah ditelaah lebih lanjut, sejak 2002-2010 dari total sebanyak 28 triliun yang dialokasikan untuk Papua, sebanyak 4,12 triliun bermasalah. Masalah tersebut timbul karena dana fiktif, tidak menaati peraturan dan UU yang berlaku hingga digunaka untuk plesir para pejabatnya ke Eropa. Belum lagi ada dana sebesar 1,85 triliun yang didepositokan di bank lokal Papua, padahal seharusnya dana tersebut digunakan untuk peningkatan pendidikan dan kesehatan Papua.
Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menginginkan bahwa Papua harus merdeka dari Indonesia. Di samping itu banyak terjadi pelanggaran HAM terjadi di Papua seperti penculikan terhadap orang asing, pembunuhan, dan lain-lain. Ditambah lagi media dan LSM asing yang mengompori konflik yang tejadi di tanah Papua. Masalah yang dihadapi rakyat Papua menjadi semakin kompleks, image buruk tentang Papua pun muncul.
D. Simpulan
Otonomi khusus papua dengan dikeluarkannya UU no 21 tahun 2001 bukan berarti membuat pemerintah pusat lepas tangan dalam masalah pembangunan di papua. Pemerintah pusat juga harus ikut mengawasi dan membantu dalam pembangunan sarana dan prasana di pulau paling timur di indoneia itu. Pemerintah pusat bertanggung jawab karena dalam pengelolaan dana otonomi khusus yang sudah 10 tahun itu kurang maksimal dan rakyat papua masih sedikit yang merasakan dampaknya. Pemerintah sesuai konstitusi harus bisa memeratakan kesejahteraan dengan memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan kepada semua warga negara Indonesia termasuk papua. Wawasan nusantara juga harus diterapkan di tanah papua dalam pembangunan dan pengelolaan Sumber Daya Alam Papua yang sangat kaya. Masyarakat papua harus ikut menikmati hasil dari pembangunan di papua tidak hanya masyarakat pendatang non papua saja. Suku-suku pedalaman papua juga harus dibantu dengan pembangunan yang tidak mengenyampingkan adat dan budaya papua.
Sumber Daya Alam Papua sangat besar dan sangat melimpah hingga kini bercokol di sana perusahaan emas asal Amerika Serikat sejak tahun 1967. Sudah seharusnya masyarakat papua diberi kesempatan untuk mengelola tanah dan alam mereka sendiri. Menjadi isu yang krusial di mana orang-orang Papua menuduh jawa dan pihak asing bersekongkol untuk mengeruk kekayaan alam papua. Dengan isu krusial seperti ini, maka asas keadilan dari wawasan nusantara tidak tercapai sehingga ada sebagian masyarakat yang kecewa dan hendak memisahkan diri dari NKRI. Pemerintah pusat seharusnya tahu bahwa memberikan kesempatan kepada asing untuk mengeruk habis-habisan alam Papua bukan suatupilihan yang bagus. Tanah Papua harus dimanfaatkan untuk kepentingan nasional tanpa mengabaikan hak-hak orang papua itu sendiri. Pengelolaan sumber daya alam dan peningkatan SDM Papua akan menjadi hasil tersendiri saat perekonomian di pulau ini maju. Dengan SDA yang masih melimpah, Papua akan memberikan sumbangan terhadap APBN yang besar dan benar daripada saat ini yang ratusan triliun rupiah dibawa asing ke luar negeri. Pembangunan di Papua tidak boleh dianggap sebagai “genosida terselubung” oleh rakyat Papua. Penanaman investasi, pembukaan lahan, dan pembangunan struktur fasilitas lainnya tidak boleh merusak hutan yang menjadi tempat tinggal suku-suku asli Papua. Program pengiriman tenaga-tenaga ahli dari luar Papua harus digalakkan sehingga masyarakat Papua bisa mengelola dengan benar tanah mereka tanpa merasa iri dengan masyarakat non Papua yang sukses di Papua. Papua sekarang bukan milik orang Papua saja tapi milik bangsa Indonesia. Siapapun dapat mengelola tanah Papua tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat asli di sana.