Sitasi:
Luthfia, Agusniar Rizka. 2015. ”E-government, Birokrasi dan Diseminasi Kebijakan Publik”. Gagasan, Vol. 21, No. 1, April 2015, hal. 42-46.
E-Government, Birokrasi dan Diseminasi Kebijakan Publik
Agusniar Rizka Luthfia
Dunia kini berubah semakin cepat. Pesatnya laju perkembangan teknologi komunikasi dan informasi membuat berbagai proses sosial pun berlangsung semakin deras. Arus informasi yang pada masa lalu dapat dikatakan cenderung lambat. Saat ini semua itu dapat terjadi dengan sekejap saja. Hal ini pun merambah ke dalam segenap sendi kehidupan sehari-hari. Salah satu produk perkembangan teknologi komunikasi dan informasi adalah internet. Bahkan saat ini, masyarakat dapat dikatakan mulai tidak dapat lepas dari internet itu sendiri. Masyarakat di Indonesia dalam tataran tertentu. Atau tepatnya pada kalangan sosial tertentu mulai kecanduan. Mereka semakin hari semakin mengalami ketergantungan dan bahkan tidak dapat melepaskan diri darinya.
Hal ini seperti apa yang diungkapkan Marshall McLuhan, ia mengatakan manusia berusaha untuk menciptakan teknologi kemudian menggunakan
teknologi tersebut dan akhirnya tidak dapat terlepas atau menjadi tergantung dengan teknologi tersebut (technological determinism) (Nurudin, 2007). Kini internet dengan segenap variannya telah membuat manusia di abad ini menjadi ketergantungan. Bisa dibayangkan, sebagai contoh, sebuah kantor yang dalam aktivitas kesehariannya menggunakan internet. Apabila internet tersebut dihilangkan dapat dipastikan berbagai kegiatan yang selama ini dijalankan dapat terhambat dan lumpuh.
Internet dapat pula dikatakan sebagai wahana globalisasi. Meminjam bahasa Giddens, ia akan terus dan terus menyusup dalam kehidupan masyarakat baik itu secara perlahan ataupun berlangsung dengan cepat (Giddens, 2001). Sementara itu, Eka Nada Shofa Alkhajar dalam bukunya Media, Masyarakat da n
batas-batas teritorial. Internet pun mahir mengatasi berbagai hambatan ruang, waktu dan birokrasi. Lebih dari itu, internet mampu membuat segenap manusia dari berbagai belahan dunia dapat terkoneksi dan berkomunikasi secara cepat (Alkhajar, 2014).
Peranan internet pun merambah dalam bidang pemerintahan. Hal ini tentu saja dapat dikatakan baik karena akan mampu berdampak positif bagi proses pelayanan masyarakat sekaligus bagi pembangunan demokrasi di tanah air. Dalam artian memberi ruang yang lebih terbuka terhadap rakyat untuk dapat mengakses dan bersentuhan secara langsung dengan pemerintah berkenaan dengan berbagai
hal terkait relasi pemerintah dan masyarakat. Ini sebagaimana dikatakan Peter Ferdinand dalam The Internet, Democracy, and Democratization (2000). Ia menuturkan: The Internet is a powerful democratizing force. It transcends national and cultural borders, facilitates the spreads of ideas around the globe
and allows like-minded people to find one another in the realm of cyberspace. Ferdinand benar, internet memang merupakan kekuatan luar biasa terutama dalam rangka demokratisasi. Selanjutnya, perkembangan internet melahirkan apa yang dinamakan e-government. Hal ini jelas kian membuat administrasi menjadi lebih terbuka, transparan serta mudah diawasi. Oleh karena itu, ini dapat dikatakan pula sebagai pintu baru bagi terbukanya ruang-ruang komunikasi pemerintah.
E-Government dan Birokrasi
Electronic government atau disingkat e-government kini dapat dikatakan sudah berkembang dengan pesat di Indonesia. Terhitung semenjak dikeluarkannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2003 berkenaan dengan Kebijakan dan
Strategi Nasional Pengembangan E-Government. Dalam konteks ini, Presiden mengamanatkan kepada seluruh pemimpin daerah baik itu Gubernur, Walikota dan Bupati untuk mengambil langkah-langkah konkrit dalam rangka pengembangan e-government secara nasional.
dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas layanan publik secara efektif dan efisien. Hal yang harus diingat di sini adalah bahwasanya e-government itu berbasiskan media baru berupa internet. Bahkan saat ini konteks bahasan antara internet dengan pemerintah telah menjadi suatu kajian ilmu yang menarik di berbagai belahan dunia. Khususnya berkenaan dengan praktik e-government
terlebih misalnya praktik e-government di negara berkembang. Beberapa studi bahkan telah dilakukan mengenai e-government di Indonesia dengan melihat peluang sekaligus hambatan dalam penerapannya.
Ditilik dari berbagai literatur, definisi e-government pun beragam.
Pemerintah Federal Amerika Serikat memaknai e-government sebagai penyampaian informasi dan pelayanan online pemerintahan melalui internet atau media digital lainnya. Sementara itu, pemerintah New Zeland mendefinikannya sebagai sebuah cara bagi pemerintahan untuk menggunakan sebuah teknologi baru untuk melayani masyarakat dengan memberikan kemudahan akses untuk pemerintah dalam hal pelayanan dan informasi juga untuk menambah kualitas pelayanan serta memberikan peluang untuk berpartisipasi dalam proses dan institusi demokrasi. Sedangkan pemerintah Italia memaknai e-government sebagai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (information and communication
technology) yang modern pada pengadministrasian negara (Hidayanto et. al., 2014).
Mirip dengan pemerintah Italia, UNDP (United Nation Development
Progra mme) mendefinisikan: “E-government is the application of Information and Communication Technology (ICT) by government agencies”. Menurut OECD (Organization for Economics Cooperation a nd Development), definisi
e-government lebih terkait pada penggunaan teknologi informasi dan komunikasi melalui internet sebagai alat untuk mencapai pelayanan pemerintah yang lebih baik (Indrajit, 2006). Sementara itu, Bank Dunia (World Bank) mendefinisikannya secara lugas sebagai berikut: “e-Government refers to the use by government agencies of information technologies that have the ability to transform relations
with citizens, businesses, and other arms of government”.
mereka mendefinisikan e-government berdasarkan penelitian literatur yang diterbitkan baik berasal dari akademisi maupun praktisi terhitung sejak tahun 1992 hingga 2004. Mereka menyimpulkan e-government sebagai inisiatif transformasi yang dipengaruhi oleh kemampuan teknologi informasi dan komunikasi untuk (1) Mengembangkan dan menghasilkan pelayanan publik yang berkualitas tinggi dan terintegrasi; (2) Membangun hubungan manajemen konstituen yang efektif; (3) Mendukung tujuan pengembangan ekonomi dan sosial masyarakat, bisnis dan komunitas sosial pada tingkat lokal, negara dan internasional (dalam Ridley, 2011).
Dari berbagai uraian mengenai e-government di atas. Sejatinya wajah birokrasi kita diharapkan terus bertransformasi menjadi lebih baik. Dari sosok yang menyulitkan dan tidak menyenangkan menjadi sosok yang ramah dan melayani. Kita kerap menjumpai birokrasi misalnya di masa lalu bahkan mungkin di beberapa daerah hingga hari ini kerap jauh dari misi utamanya yakni memberikan sebuah pelayanan yang baik kepada masyarakat. N. Flynn dalam bukunya Public Sector Management (1990) mengungkapkan berbagai hal seperti kesulitan mengakses, prosedur yang lama dan berbelit-belit, biaya yang tidak jelas hingga praktik pungutan liar (pungli) merupakan beberapa contoh mengapa birokrasi menjadi penting untuk dibenahi (Flynn, 1990). Tak heran, sejak tumbangnya Orde Baru, pemerintah terus dan terus menggalakkan apa yang dinamakan reformasi birokrasi. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (2012) mengurai reformasi birokrasi sebagai bentuk transformasi segenap aspek dalam manajemen pemerintah menuju pemerintah berkelas dunia.
Penggunaan e-government pun telah diakui sebagai salah satu langkah
Pembangunan, Komunikasi dan Diseminasi Kebijakan Publik
Pembangunan merupakan upaya untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik (Peet dan Hartwick, 2009). Pembangunan sebagai proses multidimensi mencakup perubahan penting dalam struktur sosial, sikap masyarakat dan lembaga-lembaga nasional. Oleh karena itu, singkatnya, pembangunan adalah proses perubahan masyarakat pada hampir semua aspek kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik (Subhilhar, 2008; Yanuardi, 2012).
Berpijak pada Amartya Sen (1999), pembangunan dimaknai sebagai suatu “process of expanding the real freedoms that people can enjoy (removal of mayor source of unfreedom: poverty, tyranny, poor economic opportunities & systematic
social depriviation, neglect of public utilities & the intolerance or over activity of
repressive regimes)”. Sen sekali lagi menegaskan pembangunan sesungguhnya merupakan suatu proses pembebasan ke arah yang lebih baik. E-government di Indonesia sudah seharusnya tidak sekadar menyelenggarakan pemerintahan secara elektronik semata. Melainkan turut menjadi penggerak dalam praktik mewujudkan cita-cita nasional maupun pembangunan nasional.
Adapun berbagai manfaat dari penerapan e-government ini antara lain: (1) Memperbaiki kualitas pelayanan pemerintah kepada para stakeholdernya; (2) Meningkatkan transparansi, kontrol dan akuntabilitas; (3) Mengurangi secara signifikan total biaya administrasi, relasi dan interaksi; (4) Memberikan peluang bagi pemerintah untuk memdapatkan sumber-sumber pendapatan baru; (5) Menciptakan suatu lingkungan yang dapat secara cepat dan tepat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi; (6) Memberdayakan masyarakat dan pihak-pihak lain sebagai mitra pemerintah dalam proses pengambilan berbagai kebijakan
publik (Indrajit, 2006). Sementara itu, website sebagai salah satu bentuk e-government pun dapat menjadi media komunikasi yang efektif antara pemerintah dan stakeholdernya (Medina, 2011).
negara, dan dengan demikian berbagai bentuk kesenjangan yang bersumber dari ketidakseimbangan kesempatan memperoleh informasi dapat diatasi secara bertahap; (2) Meningkatkan ketersediaan informasi dan pelayanan publik serta memperluas dan memperdalam jangkauannya; (3) Meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kemampuan inovasi dalam sektor produksi, serta memperlancar rantai distribusi; (4) Meningkatkan transparansi dan memperbaiki efisiensi pelayanan publik; (5) Memperlancar interaksi antar lembaga-lembaga pemerintah, baik pada tingkat pusat maupun daerah, dan dengan masyarakat.
Melihat berbagai manfaat di atas. Sesungguhnya kita dapat melihat relasi
yang penting dari e-government, pembangunan dan kebijakan publik antara lain: Pertama, terbukanya ruang komunikasi dengan segenap stakeholder. Kedua, tersedianya sarana inventarisasi masukan hingga diseminasi (penyebaran) informasi berkenaan dengan kebijakan publik kepada masyarakat yang tentunya akan mampu mendukung dan mempercepat cita-cita pembangunan. Ini dapat dimaknai bahwa setiap warga negara dapat berkomunikasi langsung dengan pemerintah dalam rangka menyampaikan aspirasi serta turut berpartisipasi dalam proses pembuatan kebijakan. Hal ini pun sejalan dengan semangat good
governance atau tata kepemerintahan yang baik yakni dengan mengikut sertakan masyarakat dan sektor swasta dalam pembangunan nasional.
Kooiman menuturkan beberapa kerangka acuan dalam mengaktualisasi terciptanya good governance di antaranya: (1) Bahwa orientasi interaktif dan eksternal bagi organisasi pemerintah merupakan salah satu hal yang sangat penting dan strategis; (2) Administrasi publik harus mampu memberikan perhatian terhadap beragam sudut pandang administratif, politik, ilmiah, dan sosial; serta harus pula mempertimbangkan berbagai pengertian yang berlaku
konflik di antara berbagai kelompok kepentingan dan hambatan lainnya dalam kerangka sosial-politik (Ashari dan Fernanda, 2001: 60-61).
Melalui e-government ini diharapkan berbagai dimensi seperti keterbukaan, kemudahan akses serta akuntabilitas pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang merupakan pilar good
governace dapat tercapai. Mengutip Putera (2009), kemajuan teknologi informasi berupa internet telah menyebabkan pelayan begitu dekat dengan masyarakat. Pemanfaatan e-government oleh pemerintah baik pusat dan daerah telah memberikan peluang untuk melaksanakan prinsip-prinsip pelayanan yang cepat
dan tepat tanpa ada batas waktu.
Adapun hal yang harus menjadi catatan sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Hidayanto et. al. (2014), faktor kepemimpinan, sumber daya manusia, pengelolaan informasi dan budaya organisasi ternyata masih kerap menjadi hambatan dalam pengembangan e-government. Namun demikian, seiring berjalan tentunya e-government akan terus dan makin berkembang di negara ini hingga ke pelosok tanah air sejalan dengan proses penyebaran jaringan internet yang telah digalakkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Harapan utamanya dari e-government ini tak lain adalah dapat mendukung produktivitas serta efisiensi dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.
Daftar Pustaka
Alkhajar, Eka Nada Shofa. 2014. Media, Masyarakat dan Realitas Sosial. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Ashari, Eddy Topo dan Desi Fernanda. 2001. Membangun Kepemerintahan Yang Baik. Jakarta: LAN RI.
Ferdinand, Peter. 2000. The Internet, Democracy, and Democratization. London: Routledge.
Giddens, Anthony. 2001. Runawa y World. Jakarta: Gramedia.
Hidayanto, Achmad Nizar, Yulia Razila Ningsih, Puspa Indah Sandhyaduhita, and Putu Wuri Handayani. 2014. “The Obstacles of the E-Government Implementation: A Case of Riau Province, Indonesia”. Journal of Industrial and Intelligent Information, Vol. 2, No. 2, hlm. 126-130, Juni. Indrajit, R. 2006. Elektronik Government: Strategi Pembangunan dan
Pengembangan Sistem Pelayanan Berbasis Teknologi Digital Yogyakarta: Andi.
Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government.
Medina, Desmi Avicena. 2011. Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Keberhasilan Pengembangan e-Government. Tesis. Jakarta: Universitas Bina Nusantara.
Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Peet, Richard and Elaine Hartwick. 2009. Theories of Development. New York: Guilford Press.
Putera, Roni Ekha. 2009. “E-Government dan Reformasi Birokrasi dalam Rangka Peningkatan Pelayanan Publik di Daerah”. Demokrasi, Vol. 8, No. 1.
Ridley, Gail. 2011. “Potential toMitigate E-Government Barriers: Use of an IT Control Framework”. MCIS 2011 Proceedings. Paper 51.
Sen, Amartya. 1999. Development as Freedom. Oxford: Oxford University Press.
Subhilhar. 2008. Etika Pembangunan: Kajian Alternatif dalam Studi Pembangunan. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Universitas Sumatera Utara, 20 September.
Yanuardi. 2012. Diktat Teori Pembangunan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Dimuat di Gagasan, Vol. 21, No. 1, April 2015, hal. 42-46
Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BPPKI), Yogyakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Republik Indonesia.