Kepatuhan Hukum:
Penanggulangan Rendahnya Tingkat Kepatuhan Hukum yang berdampak
terhadap Wibawa Hukum pada Masyarakat Indonesia
Diajukan untuk Ujian Akhir Semester Sosiologi Hukum Dosen : Tim Pengajar Sosiologi Hukum
Oleh
MEIDANA PASCADINIANTI
1306 3806 13
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah hukum di Indonesia sudah sangat melekat dengan telinga masyarakatnya. Hukum memiliki suatu hubungan timbal balik dengan masyarakat itu sendiri, minimalnya dengan dua orang yang hidup saling berdampingan dipastikan sudah ada “aturan” yang mengatur di antara mereka. Ucapan filsuf Romawi, Cicero, ubi societas ibi ius, di mana ada masyarakat di situ ada hukum memang masih dirasakan sampai sekarang dan hingga manusia masih ada di muka bumi ini.
Perkembangan hukum dipengaruhi oleh masyarakat, yang berarti hukum itu merupakan manifestasi dari filsafat hidup, tata nilai, rasa susila, rasa kesopanan dari masyarakat di mana hukum-hukum itu berlaku. Dengan kata lain, hukum itu merupakan cermin budaya masyarakat. Oleh karena itu, hukum selain mempunyai sifat universal, ia juga mempunyai sifat nasional yang berbeda dari negara atau masyarakat yang lain karena perbedaan filosofi, politik, dan sistem sosialnya. Di lain pihak, hukum juga mempunyai potensi mengarahkan gerak masyarakat di dalam kehendak untuk mencapai cita-cita (tujuan). Potensi hukum untuk menggerakkan masyarakat terutama di bidang kehidupan yang bersifat netral atau non spirital. Sedangkan di bidang yang bersifat spiritual, hukum bersifat memantapkan dan normatif.1
Kaidah-kaidah hukum yang hidup di dalam masyarakat salah satunya dikaji melalui sosiologi hukum. Sosiologi hukum berkembang atas dasar suatu anggapan bahwa proses hukum berlangsung di dalam suatu jaringan atau sistem sosial yang dinamakan masyarakat. Hukum hanya dapat dimengerti dengan jalan memahami sistem sosial telebih dahulu dan bahwa hukum merupakan suatu proses yang tiada akhir. Seorang ahli sosiologi menaruh perhatian yang besar kepada hukum yang bertujuan untuk mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas warga masyarakat serta memelihara integrasinya.2
Hukum sangat erat hubungannya dengan kesadaran hukum dan diwujudkan dalam bentuk prilaku sebagai cermin kepatuhan hukum di dalam masyarakat. Di dalam budaya hukum itu dapat dilihat suatu prilaku masyarakat keseharian yang sejalan dan mencerminkan kehendak undang-undang atau rambu-rambu hukum yang telah
1 Soebagio dan Slamet Supriatna, Dasar-dasar Ilmu Hukum. Jakarta: Akademika Pressindo CV, 1987, hlm. 13
ditetapkan berlaku bagi semua subjek hukum dalam hidup berbangsa dan bernegara. Di dalam budaya hukum masyarakat dapat pula dilihat apakah masyarakat kita dalam kesadaran hukumnya sungguh-sungguh telah menjunjung tinggi hukum sebagai suatu aturan main dalam hidup bersama dan sebagai dasar dalam menyelesaikan setiap masalah yang timbul dari resiko hidup bersama.
B. Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan mempunyai manfaat teoritis dan praktis sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Manfaat secara teoritis dimaksudkan bahwa penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu hukum penulis dan menambah wawasan pembaca, khususnya mengenai upaya penanggulangan kepatuhan hukum yang berdampak pada wibawa hukum di Indonesia.
2. Manfaat Praktis
a) Bagi masyarakat umumnya, penelitian ini dapat menjadi salah satu sumber pengetahuan dalam upaya menegakkan kepatuhan hukum di Indonesia.
b) Bagi lembaga masyarakat, LSM, dan mahasiswa, penelitian ini memaparkan bahwa kepatuhan hukum menunjukkan korelasi yang positif dengan wibawa hukum sehingga harus ditegakkan dengan beberapa upaya yang ada.
c) Bagi pemerintah, penelitian ini dapat menjadi salah satu referensi untuk mengetahui sejauh apa wibawa hukum aparat penegak hukumnya serta menerapkan upaya-upaya yang telah dipaparkan pada makalah ini.
C. Metode Penelitian
Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, penulis menggunakan metode studi kepustakaan dimana data dan informasi diperoleh dari bahan bacaan. Selain itu, untuk melengkapi data dan informasi dari buku bacaan, penulis juga mencari bahan-bahan dan sumber-sumber dari media elektronik yang berskala global yakni internet.
PERMASALAHAN
A. Identifikasi Masalah
Masyarakat yang selalu berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari selalu disuguhkan dengan pemberitaan lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Hal ini sangat memprihatinkan bagi saya sebagai individu dan sebagai mahasiswa hukum yang mempelajari ilmu hukum tersebut. Memang antara das sollen dan das sein hukum itu jarang ditemukan hal yang sesuai karena masyarakat terus bergerak dan mempunyai kasus yang berbeda satu sama lain.
Tujuan hukum pada umumnya atau secara universal adalah perdamaian, keadilan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Bagi bangsa Indonesia, tujuan hukum khusus dan nasionalnya atau etik hukum dirumuskan di dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi:
1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia 2. Memajukan kesejahteraan hukum
3. Mencerdaskan kehidupan bangsa
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdakaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.3
Agar tujuan hukum yang mulia tersebut dapat terpenuhi, masyarakat harus mau dan mampu untuk menegakkan hukum. Penegakan hukum berhubungan dengan kepatuhan pada hukum baik formil maupun materil. Kepatuhan hukum adalah kesadaran kemanfaatan akan hukum yang melahirkan bentuk kesetiaan masyarakat terhadap nilai-nilai hukum yang diberlakukan dalam hidup bersama yang diwujudkan dalam bentuk prilaku yang senyatanya patuh terhadap nilai-nilai hukum itu sendiri yang dapat dilihat dan dirasakan oleh sesama anggota masyarakat. kepatuhan hukum masyarakat pada hakikatnya adalah kesadaran masyarakat terhadap hukum yang berlaku sebagai aturan main (rule of the game) sebagai konsekuensi hidup bersama.
Jika faktor kesetiaan tidak dapat diandalkan lagi untuk menjadikan masyarakat patuh pada hukum, maka negara atau pemerintah mau tidak mau harus membangun dan menjadikan rasa takut masyarakat sebagai faktor yang membuat masyarakat patuh pada hukum. Wibawa hukum akan dapat dirasakan jika kita punya komitmen kuat, konsisten dan kontiniu menegakkan hukum tanpa diskriminatif, siapapun harus tunduk kepada hukum, penegakan hukum tidak boleh memihak kepada siapapun dan dengan alasan apapun, kecuali kepada kebenaran dan keadilan itu sendiri. Di situlah letak wibawa hukum dan keadilan hukum.
“Lingkaran Survei Indonesia (LSI), melakukan survei kepada 1.200 responden di 33 provinsi tentang Kepuasan masyarakat Indonesia terhadap penegakan hukum. Hasilnya sekitar 29,8% menyatakan puas, sedangkan 56% publik menyatakan tidak puas. Hal ini membuktikan bahwa wibawa hukum Indonesia berapa pada titik terendah. Salah satu peneliti LSI Dewi Arum mengatakan, merosotnya kepercayaan hukum di masyarakat Indonesia dikarenakan terjadinya beberapa kasus besar yang menyebabkan sejumlah aparat penegak hukum di Indonesia seperti TNI dan Polri yang melakukan penegakan
hukum dengan caranya sendiri.” –merdeka.com
Kepatuhan hukum yang memudar di Indonesia berdampak pada apatisnya masyarakat pada peraturan-peraturan yang dibuat oleh lembaga legislatif. Mereka akan berpikir tidak ada dampak apa-apa jika dikeluarkannya suatu peraturan, toh, hukum tetap tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Lalu, apakah upaya agar masyarakat Indonesia yang hidup di negara hukum dapat menegakkan hukum dengan sepenuh hati?
B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini untuk mengetahui:
1. Hubungan timbal balik antara manusia dan hukum serta tujuan hukum di dalam suatu masyarakat.
2. Penegakan hukum dan kepatuhan hukum masyarakat. 3. Faktor-faktor menguat dan melemahnya wibawa hukum.
4. Upaya penanggulangan kepatuhan hukum masyarakat di Indonesia.
BAB III PEMBAHASAN
A. Definisi Konsep
1. Pengertian Kepatuhan Hukum
Kepatuhan hukum berarti sifat patuh dan ketaatan seseorang terhadap hukum yang ada.
2. Pengertian Wibawa Hukum
Wibawa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pembawaan untuk dapat menguasai dan mempengaruhi dihormati orang lain melalui sikap dan tingkah laku yang mengandung kepemimpinan dan penuh daya tarik. Wibawa hukum artinya pembawaan hukum untuk dapat menguasai dan memengaruhi orang atau subjek hukumnya agar dapat berkelakuan sesuai tujuan hukum itu.
B. Penegakan Hukum dan Kepatuhan Hukum Masyarakat
Schuyt menjelaskan perspektif penegakan hukum yang memiliki ciri-ciri pokok: 1. Menegakkan hak asasi individu maupun kelompok, walaupun harus
mengorbankan kepentingan sosial.
2. Pemecahan masalah harus didasarkan pada aturan dan asas yang berlaku. 3. Penerapan metode penemuan hukum harus konsisten.
4. Peradilan merupakan tindakan kreatif yang penting untuk pengembangan hukum.
5. Memelihara moral intern dari hukum. 6. Harus netral.
7. Orientasi pada nilai-nilai hukum.
8. Hakim terikat pada isi putusan (tidak pada penerapannya). 9. Tanggungjawab mandiri.
10. Hakim diakui kewibawaannya karena putusannya bijaksana. 11. Ketaatan secara sukarela.4
Kepatuhan hukum tidak terlepas dari kesadaran hukum. Kesadaran hukum yang baik adalah kepatuhan hukum dan ketidaksadaran hukum yang baik adalah ketidakpatuhan. Kewajiban moral untuk mentaati hukum dan peranan peraturan membentuk karakteristik masyarakat. Di dalam kenyataannya, kepatuhan terhadap hukum tidaklah sama dengan kepatuhan sosial lainnya. Kepatuhan hukum merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan dan apabila tidak dilaksanakan akan timbul sanksi. Tidaklah berlebihan jika kepatuhan pada hukum cenderung dipaksakan.
Kepatuhan sendiri dapat dibedakan dalam tiga jenis mengutip H. C Kelman (1966) dan L. Pospisil (1971) dalam buku Prof DR. Achmad Ali,SH Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicial Prudence) Termasuk Interprestasi Undang-undang (Legisprudence):
1. Kepatuhan yang bersifat compliance
Jenis kepatuhan ini, orang patuh pada hukum karena didasarkan pada harapan akan suatu imbalan atau sebagai suatu usaha untuk menghindarkan diri dari hukuman atau sanksi yang mungkin dijatuhkan manakala hukum tersebut dilanggar. Kepatuhan ini sama sekali tidak didasarkan pada suatu keyakinan akan tujuan hukum tapi lebih menekankan kepada sistem pengendalian dari pemegang kekuasaan. Salah satu akibatnya bahwa kepatuhan hukum baru terjadi ketika ada yang mengawasi pelaksanaan hukum itu secara ketat.
2. Kepatuhan yang bersifat identification
Seseorang mematuhi hukum karena identifikasi, maksudnya dia mematuhi hukum bukan nilai yang sesungguhnya dari kaidah itu, akan tetapi karena ingin memelihara hubungan dengan warga-warga lainnya yang sekelompok atau segolongan atau yang ingin dipelihara adalah hubungan dengan pemimpin kelompok atau pejabat hukum. Jenis ini biasanya dijumpai pada masyarakat yang homogen dan tradisional di mana alat-alat pengendalian sosial berfungsi dan berperan ketat sekali. Apabila seseorang tidak mematuhi hukum ataupun kaidah-kaidah lainnya, maka ia biasanya disingkirkan dari masyarakat.
3. Kepatuhan yang bersifat internalization
Orang patuh pada hukum karena kaidah-kaidah hukum itu ternyata sesuai dengan nilai-nilai yang menjadi pegangan masyarakat. Ini berarti bahwa masyarakat mematuhi hukum atas dasar alasan-alasna yang mendalam yakni penjiwaan dari kaidah hukum tersebut dalam diri mereka.
4. Kepentingan-kepentingan warga masyarakat terlindungi oleh hukum
Hukum yang baik dan biasanya dipatuhi oleh masyarakat adalah hukum yang berisikan nilai-nilai yang tumbuh dalam masyarakat. Dengan perkataan, anggota masyarakat patuh pada hukum karena merasa bahwa kepentingan-kepentingannya dilindungi hukum. Sebaliknya, apabila hukum yang diciptakan tadi tidak dapat lagi mengatur kepentingan-kepentingannya, maka masyarkaat berusaha membentuk kaidah hukum yang baru.5
Dari penjelasan di atas, di Indonesia terdapat berbagai jenis kepatuhan pada hukum tergantung pada kelompok masyarakat yang dianut. Masalah kepatuhan pada hukum merupakan titik sentral dalam rangka penegakan hukum. Yang penting adalah bagaimana mengusahakan agar masyarakat patuh pada hukum tanpa menerapkan sistem paksaan atau kekerasan.
Selain itu, ada beberapa faktor yang menghambat penegakan hukum yakni bila faktor-faktor tersebut tak dapat diatasi atau dilengkapi:
1. Tata hukum Indonesia yang transisional
Peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia masih banyak yang berasal dari pemerintahan kolonial. Pengubahan terhadap hal tersebut juga molor dan tidak selesai hingga kini.
2. Aparat penegak hukum
Aparat penegak hukum mempunyai kewajiban menegakkan dan mengawasi agar fungsi hukum itu dapat menjelma. Dalam menegakkan dan mengawasi itu, hendaknya aparat penegak hukum melaksanakan fungsinya sesuai dengan administratif hukum yang berlaku. Jika tidak demikian dapat timbul penyelundupan hukum dan tentu merugikan semua pihak.
3. Kesadaran hukum masyarakat
Pengetahuan masyarakat yang terbatas tentang peraturan-peraturan hukum yang ada dan belum mantapnya kepercayaan masyarakat terhadap hukum sebagai penjamin hak-hak dan kewajiban-kewajiban secara adil dapat menjadi penghambat masyarakat dalam usaha menegakkan hukum.
4. Fasilitas yang tersedia
Fasilitas yang dimaksudkan adalah sarana untuk mencapai tujuan hukum yaitu kedamaian dan keadilan dalam pergaulan hidup.
C. Faktor-faktor Menguat dan Melemahnya Wibawa Hukum
Wibawa sebenarnya bersifat kesusilaan. Kesusilaan yang tinggi akan menambah kuatnya wibawa, sedangkan kemerosotan akhlak akan memperlemah kewibawaan.6
Hukum yang berwibawa apabila hukum itu merupakan kekuatan sosial dan ia ditaati oleh subjeknya. Hukum yang ditaati itu terjadi jika hukum itu berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat. Hukum akan bertambah kewibawaannya jika:
1. Memperoleh dukungan dari sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat. Hukum merupakan salah satu jenis norma yang keberlakuannya akan lebih mudah jika ditopang oleh norma-norma lainnya yaitu norma agama, norma moral, norma kesopanan, dan norma kebiasaan.
2. Hukum dalam pembentukannya oleh pejabat hukum disambungkan serta disesuaikan dengan norma-norma sosial yang berlaku. DPR, hakim, pengacara, polisi dan lain-lain penegak hukum diharapkan mengikuti perkembangan norma-norma sosial dalam masyarakat.
3. Kesadaran hukum dari subjek hukum. Wibawa hukum dapat bertambah kuat jika kesadaran hukum masyarakat menguat, maka dari itu masyarakat harus dididik dan diarahakan pada tatanan hukum yang pasti.
4. Kesadaran hukum dari pejabat hukum untuk memelihara hukum (rechtszorg) dan sebagai penggembala hukum (rechtshoeder). Pejabat hukum harus diperkuat
kesadaran hukumnya dengan mempergunakan ilmunya sebaik mungkin dan mempergunakan hati nurani serta tanggungjawab dalam melaksanakan tugasnya. 5. Apabila penyelenggaraan hukum didukung oleh pemerintah dan pressure groups
dalam suatu negara. Yang dimaksud dengan pemerintah adalah presiden beserta kabinetnya dan pemerintah daerah. Pressure groups seperti partai-partai politik dan organisasi massa.
Wibawa hukum dapat melemah karena:
1. Hukum tidak mendapatkan dukungan yang semestinya dari norma-norma sosial bukan hukum.
2. Norma-norma hukum tidak atau belum sesuai dengan norma-norma sosial yang bukan hukum, mislanya karena hukum yang dibentuk terlalu progresif sehingga dirasakan sebagai norma yang asing bagi masyarakat. Rakyat tidak merasa terikat dengan norma yang asing itu sehingga mereka tidak menaatinya.
3. Tidak ada kesadaran hukum dan kesadaran norma yang semestinya.
4. Pejabat-pejabat hukum tidak sabar akan kewajibannya yang mulia untuk memelihara hukum negara.
5. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah berusaha membongkar hukum yang berlaku untuk maksud-maksud tertentu. Dapat terjadi bahwa pemerintahan yang seharusnya mendukung hukum dengan kewibawaannya malah mengkhianati hukum yang berlaku. Dengan pengaruh dan usaha tersebut, maka hukum tidak membangun stabilisasi dan tidak dapat membimbing masyarakat. Masyarakat akan runtuh menjadi anarki atau diktator sehingga keadilan dan kebebasan akan lenyap.
D. Upaya Penanggulangan Kepatuhan Hukum Masyarakat di Indonesia
Proses penegakan hukum dapat dilihat melalui dua sudut pandang. Dari sudut pandang kultural, penegakan hukum adalah upaya yang dilaksanakan oleh alat-alat sosial kontrol (pengendalian sosial) resmi untuk memaksakan internalisasi hukum pada warga masyarakat. Sedangkan dari sudut pandang struktural, proses penegakan hukum adalah bekerjanya berbagai organisasi yang mewakili pola kepentingan dan konstelasi nilai-nilai dominan untuk menciptakan keamanan dan ketertiban sesuai dengan ideologi hukum yang berkuasa.7
Upaya penanggulangan rendahnya kepatuhan hukum masyarakat di antaranya: 1. Pendidikan tinggi hukum
Sasaran dari pendidikan tinggi hukum adalah pertama menciptakan tenaga kerja di bidang hukum yang mampu memahami hukum sebagai gejala
sosial dan mampu melaksanakan fungsi hukum sebagai sasaran pembangunan. Kedua, menciptakan tenaga kerja di bidang hukum yang mampu dan mempunyai kemampuan teknis serta mempunyai keterampilan dalam merancang peraturan perundang-undangan bagi keperluan pemerintah maupun DPR. Ketiga, meningkatkan pembinaan sikap para penegak hukum ke arah tegaknya hukum, keadilan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia, ketertiban dan kepastian hukum. Keempat, meningkatkan kesadaran hukum masyarakat sehingga masyarakat dapat melaksanakan hak dan kewajiban sebagaimana tersebut dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga diharapkan masyarakat dapat menaati dan melaksanakannya.
2. Sumber daya manusia
Sumber daya manusia yang diharapkan dalam pembangunan hukum saat ini adalah manusia yang berpotensi sebagai pemikir, perencana, dan pelaksana dalam membuat produk-produk hukum dan sekaligus dapat melaksanakan segala produk hukum yang dibuat itu.
3. Profesionalisme aparat penegak hukum
Agar dapat digolongkan profesional dalam suatu pekerjaan atau jabatan tertentu, maka harus mempunyai kriteria umum atau persyaratan yang harus ada pada diri seseorang, antara lain pertama mempunyai keterampilan tinggi dalam suatu bidang pekerjaan, mahir dalam mempergunakan perlatan tertentu yang diperlukan dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Kedua, mempunyai ilmu pengetahuan yang cukup memadai, mempunyai kecerdasan dalam menganalisis suatu masalah, peka dalam membaca situasi, cepat dan cermat dalam mengambil keputusan yang terbaik. Ketiga, mempunyai kemampuan untuk mengantisipasi segala permasalahan yang terbentang di hadapannya. Keempat, mempunyai sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka untuk menyimak dan menghargai pendapat orang lain.
4. Integritas moral yang solid
yurisprudensi serta pendapat para ahli hukum. Kedua, harus bersifat bersih dari sifat nafsu tamak dan serakah serta tidak boleh mempunyai kepentingan pribadi dalam memutuskan perkara. Ketiga, harus bersikap belas kasih dan tidak boleh mempunyai rasa dendam terhadap para pencari keadilan. Keempat, harus mencontoh prilaku dan mengikuti jejak para imam serta pendahulunya. Kelima, harus dapat bergaul dengan para ilmuwan dan para pakar hukum serta cerdik pandai lainnya.
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Kepatuhan hukum yang merupakan proses dari penegakan hukum memang suatu hal yang tidak mudah dijalani oleh masyarakat dikarenakan masyarakat memiliki beragam latar belakang dan cara berpikirnya apalagi pada masyarakat Indonesia yang masih tergolong masyarakat berkembang. Namun, para aparat penegak hukum dan seluruh subjek hukum harus terus berusaha agar hukum dapat ditegakkan supaya cita-cita bangsa dapat tercapai.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Kusumah, Mulyana W., Perspektif, Teori, dan Kebijaksanaan Hukum. Jakarta: CV Rajawali, 1986
Manan, Abdul, Aspek-aspek Pengubah Hukum. Jakarta: Kencana Prenada Media, 2009 Notohamidjojo, O, Makna Negara Hukum. Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1970
Soebagio dan Slamet Supriatna, Dasar-dasar Ilmu Hukum. Jakarta: Akademika Pressindo CV, 1987
Soekanto, Soerjono dan R.O. Salman, Disiplin Hukum dan Disiplin Sosial. Jakarta: CV Rajawali, 1988
Soekanto, Soerjono, Pokok-pokok Sosiologi Hukum. Jakarta: CV Rajawali, 1991.
Sumbayak, Radisman F.S., Beberapa Pemikiran ke Arah Pemantapan Penegakan Hukum.
Jakarta: Ind-Hill Co., 1985
Kamus Besar Bahasa Indonesia online
http://wonkdermayu.wordpress.com/kuliah-hukum/sosiologi-hukum/ diakses pada 12
Desember 2014 pukul 05.53 WIB
http://www.kantorhukum-lhs.com/1?id=indonesia-dalam-krisis-kepatuhan-hukum diakses
pada 12 Desember 2014 pukul 05.58 WIB
http://www.merdeka.com/peristiwa/survei-lsi-wibawa-hukum-indonesia-jatuh-pada-titik-terendah.html diakses pada 12 Desember 2014 pukul 06.00 WIB.