• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKSISTENSI HAK ATAS TANAH MHA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EKSISTENSI HAK ATAS TANAH MHA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Mata Kuliah Metode Penelitian Hukum (MPH)

Waktu 11 April 2015

Nama Dosen Dr. M. Muhdar, SH., M.Hum Nama Mahasiswa Saparuddin

Semester II (dua) 2014-2015

Judul Makalah Bentuk-bentuk Perlindungan Hukum Bagi Masyarakat dalam Kawasan Hutan

PASCASARJANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MULAWARMAN

(2)

Desain Peneltian

Bentuk-Bentuk Perlindungan Hukum Bagi Masyarakat dalam Kawasan Hutan

Oleh Saparuddin Total Word (1.539) A. Latar Belakang (273)

Penguasaan hutan oleh negara (state forest) bertujuan meningkatkan fungsi dan manfaat sumberdaya hutan untuk kesejahteraan masyarakat. Penguasaan tersebut bermakna pengelolaan dan perlindungan, termasuk masyarakat local dan masyarakat adat.

Masyarakat local atau masyarakat adat telah diakui oleh negara sekalipun tetap tidak boleh melebihi kepentingan negara (state interest). Politik kehutanan di Indoensia yang sentralistik dan kapitalistik menjadi factor ketidaksesuaian dengan tujuan perlindungan hutan dan pemberian kesejahteraan masyarakat local sekitar hutan.

(3)

Pada kondisi dan posisi apapun, masyarakat seharusnya mendapat perlindungan hukum yang cukup untuk mengakses sumberdaya hutan untuk kesejahteraan tanpa diskriminasi.

B. Rumusan Masalah (31)

 Bagaimana pengaturan hak-hak masyarakat di kawasan hutan?  Bagaimana bentuk perlindungan hukum bagi masyarakat di

kawasan hutan?

 Peraturan seperti apa yang diperlukan masyarakat dalam memberikan kepastian ruang hidup dan kelestarian hutan ?

C. Kajian Literatur (537)

Landasan hukum yang ada hanya memberikan control dan pengelolaan atas sumberdaya alam (konstitusi, Pasal 33). Sebaliknya UUPA memungkinkan bagi negara untuk mengusai secara langsung tanah, jika tidak ada pihak lain yang mengklaim hak katas tanah tersebut. Faktanya, menyangkut hak-hak atas tanah di dalam kawasan hutan walaupun telah dikuasai oleh negara kewenangan Dephut hanyalah menyangkut pengelolaan SDA hutan pada tanah tersebut (Fay dan Sirait, 2004).

Hak-hak atas sumberdaya memprioritaskan pengelolaan berkelanjutan terhadap hutan yang secara nyata masih ada, seperti didefinisikan UU Kehutanan 1999. Wilayah tersebut adalah hutan produksi dan hutan lindung. Konsep ini mengarah pada penguasaan hutan yang lebih masuk akal yang hasilnya seharusnya diakui oleh masyarakat setempat sehingga arahnya adalah pengelolaan bersama (co-management) sumberdaya hutan (bukan tanahnya) antara masyarakat dan pemerintah.

(4)

Tanggunjawab pengelolaan hutan berada dibawah kewenangan departemen Kehutanan. Kawasan hutan ini tidak ada hubugannya dengan kondisi tutupan hutan actual bukan kewenangan atas lokasi tersebut. Kewenangan berhenti pada pengelolaan huta secar aktual atau kawasan dimana hutan direncakaan akan dikembangkan. Sementara itu, kewenangan atas negara ada pada BPN.

Dalam pengelolaan hutan di Indonesia, di beberapa tempat masyarakat menanami hutan dengan buah-buahan, damar, karet, kopi, kakao dengan system wanatani (agroforets). Konflik masyarakat yang mengklaim hak atas tanah dan sumberdaya hutan dan industri kehutanan dengan pemrintah daerah menjadikan ketidakpatian pengusaan dan kepemlikan atas tanah bagi masyarakat yang berujung pada munculnya kasus kekerasan berujung pidana. Ketidakpastian aturan main yang ditetapkan departemen kehutanan menjadi sumber masalah. Kondisii ini sekaligus menunjukkan ketikmampuan negara memberikan jaminan pengusaaan dan pengelolaan baik bagi masyarakat maupun perusahaan.

Taman nasional ditetapkan dengan tujuan melestarikan keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan. Secara khusus bertujuan sebagai tempat pelestarian ekosistem tertentu dan melindungi jenis tumbuhan dan hewan yang unik dan khas daerah tertentu. TNK mewakili hutan dataran rendah khas Kalimantan Timur yang kaya akan jenis dipterokarpa seperti meranti, kayu ulin dan habitat penting bagi orangutan.

Kementrian Kehutanan bersama gerakan konservasionis memegang konsep ideal bahwa didalam kawasan konservasi tidak ada pengaruh manusia. Sementara itu di TNK dan taman nasional lain di Indonesiaa mengamali nasib yang sama, otonomi daerah menjadi titik balik perlawanan masyarakat bersama pemerintah daerah. Kementrian Kehutanan sebagai perwakilan negara melalui UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam hayati dan Ekosistemnya memegang mandate mengelolah dan melesatarikan. Pada praktiknya menerapkan aturan main yang tidak konsisten. Pengertian mengusai negara seharusnya dimaknai bahwa pemerintah diberikan amanah oleh rakyat untuk mengatur pengelolaan taman nasional untuk kesejahteraan masyarakat. Kenyataannya penafsiran berbeda dimana tidak mencerminkan kepentingan untuk mensejahterakan rakyat dengan memberikan hak pengelolaan kepada perusahaan tanpa memperhatikan keberadaan masyarakat di kawasan tersebut. Sementara pengakuan hak kelola (atau hak milik) masyarakat sangat sulit atau tidak mungnkin?

(5)

4.1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan social legal research dengan membangun variabel sebagai dasar pengukuran isu hukum yang dibangun dalam penelitian ini. Berdasarkan fungsinya, berdasarkan status hukum yang berbeda, yaitu:

a) Taman Nasional Kutai yang terletak di wilayah Admisnitrasi Kabupten Kutai Kartanegara, Kutai Timur dan Kota Bontang Provinsi Kalimantan Timur. Pertimbangan pemilihan lokasi adalah perkembangnya klaim masyarakat dan pemerintah daerah terhadap pengusaan lahan, adanya lokasi ijin tambang dalam kawasan.

b) Hutan Lindung Bontang dan Hutan Lindung Sungai Wain Balikpapan

c) Tahura Bukit Suharto di Kabupaten Kutai Kartanegara d) Hutan Lindung Gunung Lumut di Kabupaten Paser 4.3. Sumber Data

Penggunaan bahan sekunder dikelompokan sebagai berikut:

a. Bahan hukum yang sesuai dengan peraturan mengenai kehutanan, dokumen perencaaan kehutanan, RTRW, kewenangan lembaga terkait pengelolaan hutan dan hak katas tanah yaitu Departemen Kehutanan, pemerintah daerah, dan BPN serta hak masyarakat yang diakui negara.

b. Penelitian ini juga merupakan legal research yang akan mengkaji teori hukum (konsep-konsep hukum; kepemilikan, pengusaan, pengelolaan, hubungan hukum, objek hukum dan akibat hukum).

c. Studi ini merupakan social legal research yang terkait dengan disiplin ilmu lain terutama kehutanan, social politik dan masyarakat.

Data empiric akan diperoleh melalui wawancara teknis snow-ball dengan nara sumber yang ditentukan dengan purposive sampling dari pejabat Depetmen Kehutanan (RI, Provinsi, dan kabupaten/kota), BPN, pejabat daerah, tokoh masyarakat dan tokoh adat, CSO, peneliti bidang kehutanan, desentrasilasi, dan tata ruang.

4.5. Analisa Data

(6)

Rumusan masalah (R1);

Data yang diperoleh diarahkan untuk menganalisasi beberapa hal pokok diantaranya; penentuan kategorisasi objek hukum yaitu kawasan hutan dengan status ; taman nasional, hutan lindung dan tahura, status pengusaan objek hukum oleh negara, perusahaan dan masyarakat.

Variabel-variabel tersebut membutuhkan dua pendekatan;

a. Aspek doktinal yang menjelaskan status hukum, kecukupan aspek perlindungan, aspek kepastian hukum, analisis teks (interpretasi) dan kontruksi hukum/ argumen hukum.

b. Aspek teori hukum (konsep-konsep hukum); hubungan hukum, katgeorisasi objek hukum, status subjek hukum, kualifikasi hukum, dan akibat hukum.

Rumusan masalah (R2):

Variabel utama pada bagian ini adalah bagaimana negara merumuskan bentuk perlindungan bagi masyarakat dalam kawasan hutan konservasi, hutan lindung dan tahura. Variabel ini akan menjadi variable sebab dengan mencari variable penghubung dan varibel akibat dari hasil yang diperoleh pada rumusan-1 (R1).

Rumusan masalah (R3):

Pada bagian ini merupakan gab analisis dari hasil identifikasi R1 dan R2 untuk menemukan peraturan seperti apa yang diperlukan untuk memberikan kepastian ruang hidup dan kelestarian hutan bagi masyarakat.

E. Daftar Referensi 5.1. Bagian Pendahuluan

o Arnol C.H, et.all. 2006. Memperkokoh Pengelolaan Hutan Indonesia, World Agroforestry Centre, Bogor;

o Ida Aju Pradnja Resosudarmo dan Carol J. Pierce Colfer (ed), 2003. Resources for the Future.2002. Which Way Forward, Forest, and Policymaking in Indoensia (Ke Mana Harus Melangkah, Masyarakat, Hutan dan Peumusan Kebijakan di Indoensia). Edisi 1. Yayasan Obor Indoensia. Jakarta.

o Mustofa Agung Sardjono, 2004. Mosaik Sosiologis Kehutanan; Masyarakat local, Politik dan Kelestarian Sumberdaya, Cetakan 1, Debut Wahan Sinergi, Jogjakarta. 5.2. Pertanyaan-1:

o Sulaiman N. Sembiring, 2001. Kajian Tnetang Pedoman Penegakan Hukum di Kawasan Taman Nasional, Direktorat Jenderal PHKA Kemterian Kehutanan RI, Cetakan 1, Jakarta.

o Dudung Darusman (ed), 2000. Ketika Rakyat Mengelola Hutan, KPSHK, Bogor.

(7)

5.3. Pertanyaan-2:

o Erik Meijaard, et.all, 2006. Hutan pasca Pemanenan;Melindungi Satwa Liar Dalam Kegiatan Hutan Produksi di Kalimantan, CIFOR, Bogor.

5.4. Pertanyaan-3:

o Carol J. Pierce Colfer dan Doris Capistrano (ed), 2006. Politik Desentralisasi; Hutan, Kekuasaan dan Rakyat. Penglaman di Berbagai Negera, CIFOR, Bogor.

Referensi

Dokumen terkait

Sertipikat menjamin kepastian hukum mengenai orang yang menjadi pemegang hak atas.. tanah, kepastian hukum mengenai lokasi dari tanah, batas serta luas suatu bidang

riwayat asal-usul dari tanah yang hendak dimohon berasal dari tanah Adat, tanah bekas hak barat, tanah negara atau tanah hak perorangan/ badan hukumC. Jika berasal dari tanah eks

Tujuan dilakukannya npeneelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana fungsi sertifikat Hak Milik Atas Tanah Sebagi Tanda Bukti Hak dan bagaimana kepastian hukum

Tanah yang dapat dikategorikan sebagai tanah negara atau tanah yang dikuasai langsung oleh negara, adalah: (a) hak atas tanah bekas hak barat yang tidak diajukan

Dalam rangka kepastian hukum terhadap pemegang hak atas tanah diseluruh wilayan Republik Indonesia, sebagaimana yang dicita – citakan oleh pembuat UUPA, maka wajib

24 Tahun 1997 menguraikan bahwa pendaftaran tanah bertujuan untuk memberikan kepastian dan perlindungan kepada pemegang hak atas suatu tanah, suatu rumah dan hak-hak lain yang terdaftar

Kepastian hukum penerima hibah wasiat dalam peralihan hak atas tanah tanpa dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah di Desa Sababilah Kecamatan Dusun Selatan Kalimantan Tengah kepastian

Pemberian kepemilikan tanah bertujuan untuk memberikan jaminan kepastian dan perlindungan hukum atas hak atas