• Tidak ada hasil yang ditemukan

sejarah pemikiran ekonomi masa rasul

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "sejarah pemikiran ekonomi masa rasul"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ekonomiislam di awali sejak jaman Nabi Muhammad SAW dipilih sebagai seorang rasul. Nabi Muhammad SAW mengeluarkan sejumlah kebijakan yang menyangkut penyelenggaraan hidup masyarakat. Selain masalah hukum dan politik, masalah perekonomian juga menjadi perhatian Rasulullah, karena masalah ekonomi pilar penyangga keimanan, sebagaimana yang di katakana rasulullah “kemiskinan membawa orang kepada kekafiran”, maka upaya mengentas kemiskinan merupakan kebijakan–kebijakan social Rasulullah.

Selanjutnya kebijakan – kebijakan Rasulullah menjadi pedoman oleh para penggantinya, Setelah Rasulullah wafat kepemimpinan pemerintah, negara dan keagamaan diserahkan kepada empat sahabat pilihan, yaitu Abu Bakar, Umar, Usmandan Ali. Bukan itu saja, Al-Qur’an dan Al-Hadist digunakan menjadi dasar teori ekonomi oleh para khalifah dan sampai pada para pengikutnya Oleh karena itu, dalam pembahasan kali ini di harapkan pembaca dapat meneladani sifat-sifat sahabat nabi agar dapat di terapkan pada kegiatan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana Konsep pemikiran dan praktek ekonomi di masa khulafaurrasidin :

1. Abu Bakar As-Shiddiq 2. Umar bin Khattab 3. Utsman ibn Affan 4. Ali ibn Abu Thalib

C. Tujuan

(2)

BAB II PEMBAHASAN

1. Masa Kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a (11-13 H/631-635 M)

Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar yang bernama lengkap Abdullah ibn Abu Quhafah Al-Tamimi terpilih sebagai Khalifah Islam yang pertama. Ia merupakan pemimpin agama dan kepala negara kaum Muslimin. Selama dua tahun pemerintahannya, Abu bakar as-Shiddiq banyak menghadapi persoalan dalam negeri seperti kelompok murtad, nabi palsu, dan pembangkang zakat. Setelah musyawarah dengan para sahabat, ia memutuskan untuk memerangi kelompok tersebut melalui Perang Riddah(Perang Melawan Kemurtadan).1Sukses menyelesaikan urusan dalam negeri, Abu Bakar mulai melakukan ekspansi ke wilayah utara untuk untuk menghadapi pasukan Romawi dan Persia yang selalu mengancam kedudukan umat Islam. Sayangnya, ia meninggal dunia sebelum usaha ini selesai dilakukan.

Dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan umat islam, Abu Bakar melaksanakan berbagai kebijakan ekonomi seperti yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW. Ia sangat memperhatikan keakuratan perhitungan zakat, sehingga tidak terjadi kelebihan atau kekurangan pembayarannya. Kemudian hasil dari pengumpulan zakat tersebut dijadikan sebagai pendapatan negara dan disimpan dalam Baitul Mal yang langsung didistribusikan seluruhnya kepada kaum muslimin hingga tidak ada yang tersisa.

Dalam mendistribusikan harta Baitul Mal tersebut, Abu Bakar menerapakan prinsip kesamarataan, yakni memberikan jumlah yang sama kepada sahabat Rasulullah SAW, dan tidak membeda-bedakan antara sahabat yang terlebih dahulu memeluk Islam dengan sahabat yang kemudian, antara hambadengan orang merdeka , dan antara pria dengan wanita. Sebab, ia berpendapat bahwa dalam hal keutamaan beriman, Allah SWT yang memberikan ganjarannya, sedangkan dalam masalah kebutuhan hidup, prinsip kesamaan lebih baik daripada prinsip keutamaan.

Dengan demikian, selama masa pemerintahannya harta Baitul Mal tidak pernah menumpuk dalam jangka waktu yang lama. Seluruh kaum muslimin diberikan bagian yang sama dari hasil pendapatan negara. Apabila pendapatan meningkat seluruh kaum muslimin mendapat manfaat yang sama dan tidak ada seorangpun yang dibiarkan dalam kemiskinan. Kebijakan tersebut berimplikasi pada agregat demand dan agregat supply yang pada akhirnya

(3)

akan menaikkan total pendapatan nasional, disamping memperkecil jurang pemisah antara orang-orang yang kaya dan miskin.

2. Masa Kekhalifahan ‘Umar Ibn Khaththab r.a (13-23 H/634-644 M)

Berdasarkan hasil musyawarah antara Abu bakar dengan para pemuka sahabat lainnya, ia menunjuk Umar ibnu Khattab sebagai Khalifah Islam II. Setelah diangkat sebagaiKhalifah, Umar ibn al-Khattab menyebut dirinya sebagai Khalifah Khalifati Rasulillah (pengganti dari pengganti Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mukmin (Komandan Orang-Orang Yang Beriman).

Dalam sepuluh tahun masa pemerintahannya, Umar ibn al-Khattab banyak melakukan ekspansi hingga wilayah Islam meliputi Jazirah Arab, Palestina, Syiria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir.Atas keberhasilannya orang-orang Barat menjuluki Umar the Sait Paul of Islam.Pada masa pemerintahanya, Umat ibn Khattab memiliki beberapa rencana dalam hal pembangunan ekonomi, namun dalam prosesnya rencana tersebut ada yang berhasil direalisasikan dan ada yang tidak, berikut uraianya:

1. Pendirian Lembaga Baitul Mal

Seiring dengan meluasnya wilayah kekuasaan Islam pada masa pemerintahan Umar ibn al-Khattab, pendapatan negara mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Hal ini, memerlukan perhatian khusus untuk mengelolanya agar dapat dimanfaatkan secara benar, efektif dan efisien.Baitul Mal yang pada waktu itu dicetuskan dan difungsikan oleh Rasulullah SAW, dan diteruskan oleh Abu Bakar Al-Shiddiq, semakin dikembangkan fungsinya pada masa pemerintahan khalifah Umar ibn al-Khattab sehingga menjadi lembaga yang reguler permanen dengan sistem administrasi yang tertata baik. Hal ini merupakan kontribusi terbesar yang diberikan oleh khalifah Umar ibn al-Khattab kepada Dunia Islam dan kaum Muslimin.

Pada tahun 16 H, bangunan lembaga Baitul Mal pertama kali didirikan dengan Madinah sebagai pusatnya. Hal ini kemudian diikuti dengan pendirian cabang-cabangnya di ibukota provinsi. Untuk menangani lembaga tersebut, Khalifah Umar ibn al-Khattab menunjuk Abdullah ibn Irqam sebagai bendahara negara dengan Abdurrahman ibn Ubaid al-Qari sebagai wakilnya.Secara tidak langsung, Baitul Mal berfungsi sebagai pelaksana kebijakan fiskal negara Islam dan khalifah merupakan pihak yang berkuasa penuh. Namun, khalifah tidak diperbolehkan menggunakan harta Baitul Mal untuk kepentingan pribadi.

(4)

Aqil bin Abi Thalib, Mahzamah bin Naufal, dan Jabir bin Mut’im untuk membuat laporan sensus penduduk sesuai dengan kepentingan dan kelasnya. Daftar tersebut disusun secara berurutan dimulai dari orang-orang yang mempuyai hubungan pertalian dengan Nabi Muhammad Saw, kelompok al-Sabiqun al-Awwalun, hingga seterusnya.Kaum wanita, anak-anak dan para budak juga mendapat tunjangan.

Untuk mendistribusikan harta tersebut, Khalifah Umar mendirikan beberapa departemen yang dianggap perlu, seperti: Departemen Pelayanan Militer, Departemen Kehakiman dan Eksekutif, Departemen Pendidikan dan Pengembangan Islam, dan Departemen Jaminan Sosial.

Dengan kata lain, Khalifah Umar bin Khattab menerapakan prinsip keutamaan dalam mendistribusikan harta Baitul Mal. Namun demikian, di kemudian hari, Khalifah Umar ibn al-Khattab menyadari bahwa cara itu keliru karena membawa dampak negatif pada kehidupan masyarakat. Ia bertekad akan mengubah kebijakannya tersebut apabila masih diberi kesempatan hidup. Akan tetapi, Khalifah Umar telah tewas terbunuh sebelum rencananya berhasi direalisasikan.

2. Klasifikasi dan Alokasi Pendapatan Negara

Khalifah Umar ibn al-Khattab mengklasifikasi pendapatan negara menjadi empat bagian, yaitu Pendapatan zakat dan ‘ushr (pajak tanah), Pendapatan khums dan sedekah, Pendapatan kharaj, fai, jizyah dan sewa tanah, dan Pendapatan lain-lain.

Selain hal-hal tersebut, Khalifah Umar ibn al-Khattab juga menerapkan beberapa kebijakan ekonomi lainnya, seperti:

a. Kepemilikan Tanah, dalam memperlakukan tanah-tanah taklukannya, Khalifah Umar Ibnal-Khattab tidak mrmbagi-bagikannya kepada kaum muslimin, tetapi membiarkan tanah tersebut tetap berada pada pemiliknya dengan syarat membayar Kharajdan Jizyah.

b. Zakat. Khalifah Umar ibn al-Khattab menetapkan kuda, karet, dan madu sebagai objek zakat karena, pada masanya, ketiga hal tersebut telah lazim diperdagangkan, bahkan secara besar-besaran sehingga mendatangkan keuntungan bagi para penjualnya.

c. ‘Ushr(bea dan cukai, yang merupakan hak kaum muslim yang di ambil dari harta perdagangan ahl dzimah dan penduduk darul harbi yang melewati perbatasan negara islam). Khalifah Umar ibn al-Khattab menerapakan pajak ‘ushr kepada para pedagang yang memasuki wilayah kekuasaan Islam berupa uang cash atau barang.

(5)

kebingungan masyarakat. Atas dasar itu, Khalifah Umar ibn al-Khattab menetapkan bahwa dirham perak sebesar 14 qirat atau 70 grain barley. Dengan demikian, rasio antara satu dirham dengan satu mistqal adalah tujuh persepuluh.

3. Pengeluaran

Di antara alokasi pengeluaran dari harta baitul Mal tersebut, dana pensiun merupakan pengeluaran negara yang paling penting. Prioritas berikutnya adalah pertahanan negara dan pembangunan. Khalifah Umar menempatkan dana pensiun di tempat pertama dalam bentuk rangsum bulanan (arzaq) pada tahun 18 H, dan selanjutnya pada tahun 20 H dalam bentuk rangsum tahunan (atya). Dana pensiun ini ditetapakan untuk mereka yang akan dan pernah bergabung dalam kemiliteran. Dengan kata lain, dana pensiun ini sama halnya dengan gaji reguler angkatan bersenjata dan pasukan cadangan serta penghargaan bagi oarang-orang yang telah berjasa. Beberapa orang yang telah berjasa diberi pensiun kehormatan (sharaf) seperti yang diberikan kepada para istri Rasulullah atau para janda dan anak-anak pejuang yang telah wafat. Non-Muslim yang bersedia ikut dalam kemiliteran juga mendapat penghargaan serupa.2

3. Masa Kekhalifahan ‘Utsman Ibn ‘Affan r.a (23-35 H/644-656 M)

Setelah Umar ibn al-Khattab wafat, tim yang terdiri dari 6 orang: Abdurrahman ibn ‘Auf, Zubair ibn al-Awwan, Thalhah, Sa’ad ibn Abi Waqqash, ‘Ali ibn Abi Thalib dan ustman ibn ‘Affan melakukan musyawarah dan berhasil menunjuk Ustman ibn Affan sebagai khalifah Islam III setelah melalui persaingan yang ketat dengan Ali bin Abi Thalib.

Pada masa pemerintahan Utsman ibn Affan yang berlangsung selama 12 tahun, ia berhasil melakukan ekspansi kewilayah Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristan. Ia juga berhasil menumpas pemberontakan didaerah Khurasan dan Iskandariah. Pada enam tahun pertama, Khalifah Ustman ibn Affan melakukan penataan baru dengan mengikuti kebijakan Umar ibn al-Khattab. Dalam hal pendistribusian harta Baitul Mal, Khalifah Utsman ibn Affan menerapkan prinsip keutamaan seperti halnya Umar ibn Kl-Khattab. Dalam pengelolaan zakat, ia mendelegasikan kewenangan menaksir harta yang dizakati kepada para pemiliknya masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar terhindar dari bebagai masalah dalam pemeriksaan kekyaan yang tidak jelas oleh para oknum pengumpul zakat.

(6)

Memasuki enam tahun kedua, tidak terdapat perubahan situasi ekonomi yang cukup signifikan. Berbagai kebijakan Khalifah Utsman ibn Affan yang banyak menguntungkan keluarganya telah menimbulkan benih kekecewaan yang mendalam pada sebagian besar kaum muslimin. Akibatnya pada masa ini, pemerintahannya lebih banyak diwarnai kekecauan politik yang berakhir dengan terbunuhnya sang Khalifah.

4. Masa Kekhalifahan ‘Ali Ibn Thalib r.a (35-40 H/656-661 M)

Setelah diangkat sebagai Khalifah Islam IV oleh segenap kaum muslimin, Ali bin Abi Thalib langsung mengambil beberapa tindakan, seperti memberhentikan para pejabat yang korup, membuka kembali lahan perkebunan yang telah diberikan kepada orang-orang kesayangan Utsman, dan mendistribusikan pendapatan pajak tahunan sesuai dengan ketentuan yang telah di tetapkan Umar ibn al-Khattab.Masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib yang belangsung selama enam tahun selalu diwarnai dengna ketidakstabilan kehidupan politik,adanyabeberapa pemberontakan Thalhah, Zubair ibn Al-Awwam, dan aisyah yang menuntut kematian Ustman ibn affan. Berbagai kebijakan tegas yang diterapkannya menimbulkan api permusuhan dengan kelurga Bani Umayah yang dimotori Muawiyah ibn Abi Sofyan. Pemberontakan juga datang dari Khwarij, mantan pendukung Khalifah Ali bin Abi Thalib yang kecewa terhadap keputusan tahkim pada perang Shiffin.3

Ali ibnu Abi Thalib juga membenahi sistem administrasi Baitul Mal, baik tingkat pusat maupun daerah sehingga semua berjalan dengan baik. Sedangkan dalam pembenahan Baitul Mal, ia menerapkan prinsip pemerataan. Khalifah Ali memberikan santunan yang sama kepada setiap orang tanpa memandang status sosial atau kedudukannya didalam Islam. Selain itu Khalifah Ali melakukan percetakan mata uang koin atas nama negara Islam.Hal ini menunjukkan bahwa pada masa itu, kaum muslimin telah menguasai tekhnologi peleburan besi dan percetakan koin. Namun demikian, uang yang dicetak kaum muslimin itu tidak dapat beredar dengan luas karena pemerintahan Ali ibn Abi Thalib yang singkat seiring dengan terbunuhnya sang Khalifah pada tahun keenam terakhir pemerintahannya.

(7)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Sejarah perkembangan ekonomi sudah dimulai pada zaman rasulullah, perekonomian yang dijalankan rasulullah sesuai dengan tuntunan nilai-nilai kemanusiaan, hal ini dapat dilihat dari cara nabi dalam memajukan perekonomian Negara sewaktu memimpin, Rasulullah sangat mementingka nmasalah ekonomi dalam memperbaiki umat, karena dengan menegakkan ekonomi yang mantap maka keyakinan tentang islams emakin mantap.

Dalam bebrbagai kitab dan sejarah, terdapat empat puluh nama sahabat yang jika digunakan istilah modern disebut sebagai pegawai sekretariat rasulullah. Namun, tidak disebutkan adanya bendharawan negara. Kondisi yang seperti ini hanya mungkin terjadi di lingkungan yang mempunyai sistem pengawasan yang sangat ketat. Pada perkembangan berikutnya, institusi ini memainkan peran yang sangat penting dalam bidang keuangan dan administrasi negara, terutama pada masa pemerintahan Al-khulafa al-Rasyidin.

B. Saran

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Adiwarman Karim2004.Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam.Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada.

Sudarsono, Heri. 2007. Konsep Ekonomi Islam, Yogyakarta: Ekonisia, Cet. Ke-5.

Yatim, Badri. 1994.Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada, Cet. Ke-2. http://ponpes-nu.blogspot.com/2011/06/perkembangan-pemikiran-ekonomi-islam.html

Referensi

Dokumen terkait

Jika peserta didik dapat menuliskan hal-hal yang dilakukan khalifah Ali bin Abi Thalib dalam mengahadapi lawan-lawan politiknya dengan benar dan lengkap, skor 66. Jika peserta

10) Peserta didik menjelaskan profil Khalifah Usman bin Affan 11) Peserta didik menjelaskan profi Khalifah Ali bin Abi Thalib. Penutup 1) Guru membuat simpulan tentang materi ajar..

Bila dilihat dari beberapa uraian di atas, bahwasannya sistem pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam menjalankan pemerintahannya menggunakan sistem

Setelah Usman Khalifah ketiga wafat, maka masyarakat beramai-ramai membai‟at Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah. Pemerintahan Ali hanya berjalan selama 6 tahun. Selama masa

• Membimbing siswa berperilaku positif sebagai implementasi dari pemahaman tentang sejarah kekhalifahan khalifah Ali bin Abi Thalib dalam berinteraksi dengan

Kholifah Ali dipilih dan diangkat oleh Jamaah kaum muslimin di Madinah dalam suasana yang sangat kacau, dengan pertimbangan muslimin di Madinah dalam suasana yang sangat kacau,

Terlepas dari benar atau tidak adanya hubungan nasab Khalifah Fatimiyah dengan Fatimah binti Muhammad dan Ali bin Abi Thalib, namun yang jelas Khalifah Fatimiyah merupakan

Salah seorang yang mengusulkan Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah pengganti khalifah Usman bin Affan adalah..... Di bawah ini adalah Strategi awal Abu Bakar as Shidiq dalam menjalankan