Sutomo & Fardilla D. (2010) Efek Pembangunan Jalan Terhadap Komposisi dan Diversitas
Vegetasi Pohon di Sebagian Kawasan Hutan Hujan Tropis Gunung Pohen Bali. Al-Kauniyah Jurnal Biologi Lingkungan 4, 100-7.
EFEK PEMBANGUNAN JALAN TERHADAP KOMPOSISI DAN
DIVERSITAS VEGETASI POHON DI SEBAGIAN KAWASAN
HUTAN HUJAN TROPIS GUNUNG POHEN BALI
Sutomo1,* dan Dini Fardila2 1
Kelompok Penelitian Ekologi, Kebun Raya Bali LIPI
2
Program Studi Biologi FST UIN Syarif Hidayatullah Jakarta *Alamat korespondensi: [email protected]
Abstract
Road corridor has been known to have an influence on vegetation composition along forest edge which directly bordered with the road. This study was conducted in order to measure the influence of road corridor on the composition and diversity of tree vegetation from edge to interior of forest in Pohen Mountain, Batukahu Nature Reserve, Bali. Vegetation parameters such as tree density, number of species and basal area were measured on ten 20 × 20 m square plots which were aligned on two 200 m transects perpendicular from forest edge to interior. Correlation between vegetation parameters and distance of plots from edge to interior was analyzed using Bray-Curtis similarity index. The result showed that there was a gradual change on tree composition and diversity from forest edge to interior. Compositional differences of tree species between edge and interior were observed up to depth of 40 m from road edge. Our result suggested that road may have associated effects that alter edge forest conditions and thus tree species composition and abundance. However, forest management practices in the study area were suggested as potentially confounding factor which affects the differences between edge and interior tree vegetation.
Key words: tree vegetation, road corridor, edge, Pohen Mountain forest
PENDAHULUAN
Hutan pegunungan menjadi salah satu tempat “sanctuary” terakhir dari keanekaragaman hayati yang tersisa di Pulau Bali seperti halnya juga di Pulau Jawa. Tipe ekosistem ini menjadi penting mengingat hampir sebagian besar hutan di dataran rendah Indonesia telah mengalami kerusakan ekologis dan kepunahan keanekaragaman hayati. Saat ini diperkirakan sekitar 31.817,75 hektar atau 25 persen dari luas keseluruhan hutan daratan di Bali, yaitu 127.271,01 hektar, mengalami
konversi fungsi lahan. Perubahan fungsi lahan hutan tersebut disebabkan beberapa hal, antara lain perambahan kawasan hutan oleh kelompok-kelompok masyarakat yang berdiam di dekat hutan dan penggunaan kawasan hutan untuk pembangunan di luar sektor kehutanan, penebangan liar dan kebakaran (Anonim, 2005).
Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) di Bedugul, Propinsi Bali hingga saat ini masih menimbulkan pro dan kontra. Selain diyakini bermanfaat bagi pemenuhan energi listrik khususnya di Bali, tidak sedikit juga yang mempermasalahkan dampak negatif yang akan ditimbulkannya. Beberapa dampak negatif yang diperkirakan akan terjadi adalah terganggunya ketersediaan air permukaan (danau), kemungkinan terjadinya amblasan, rusaknya keutuhan ekosistem dan kawasan konservasi di sekitarnya, terancamnya kelestarian keanekaragaman hayati terutama spesies endemik serta dampak terhadap sosial ekonomi masyarakat (Siregar, 2007).
Kekhawatiran terhadap dampak negatif yang akan ditimbulkan oleh pembangunan PLTP Bedugul sangat beralasan. Hal ini karena letaknya yang bertumpang-tindih dengan kawasan konservasi yakni Cagar Alam Batukahu. Cagar Alam ini sebenarnya terdiri dari tiga kawasan yang terletak berdekatan tetapi tidak bersinggungan satu sama lain.
Ketiganya adalah cagar alam Batukahu I di Bukit Tapak seluas 810,4 ha; cagar alam Batukahu II di Gunung Lesong seluas 564,2 ha dan cagar alam Batukahu III di Bukit Pohen seluas 388,2 ha. Di sekeliling kawasan ini terdapat kawasan penyangga berupa hutan lindung yang merupakan lembah dari ketiga gunung tersebut. Hutan lindung ini sebagian besar terdiri atas hutan tanaman rasamala (Altingia excelsa) dan bercak-bercak hutan alam (Siregar, 2007).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pembangunan infrastruktur dari kegiatan PLTPB ini, yaitu pembangunan jalan aspal yang membelah kawasan hutan di Gunung Pohen, terhadap komposisi dan diversitas vegetasi pohon. Penelitian ini perlu dilakukan sebagai dasar kegiatan manajemen kelestarian dan restorasi di kawasan ini, termasuk kegiatan konservasi, pengembangan dan reintroduksi spesies lokal apabila diperlukan.
METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 23 September sampai 2 Oktober 2010 di kawasan hutan Gunung Pohen, salah satu situs dari Cagar Alam Batukahu. Cagar Alam Batukahu terletak di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Dati II Tabanan, dan di Desa Asah Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Dati II Buleleng. Secara astronomis lokasi penelitian terletak pada 8°10’-8°23’ LS dan 115°02’-115°15’ BT dengan jarak ± 55 km sebelah utara Kota Denpasar dan ± 30 km sebelah selatan Kota Singaraja (Gambar 1).
Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara membuat transek dimulai dari tepi jalan tegak lurus menuju ke dalam hutan di sebagian kawasan hutan Gunung Pohen (Gambar 2). Pada lokasi penelitian dibuat dua transek
(transek A dan transek B) dengan jarak antar transek 50 m. Pada setiap transek dibuat plot pengamatan berukuran 20 × 20 m pada titik 0 m (A1 dan B1), 20 m (A2 dan B2), 40 m (A3 dan B3), 60 m (A4 dan B4) dan 80 m (A5 dan B5). Jarak antar plot sekitar 20 m, sehingga total didapatkan 10 plot. Vegetasi pohon dicatat nama jenisnya, jumlah individu serta diukur keliling batang dan tingginya.
Analisis Data
Untuk mendapatkan gambaran struktur komunitas tumbuhan digunakan metode berupa perhitungan indeks nilai penting tiap jenis yang didasarkan dari penjumlahan nilai kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR) dan dominansi relatif (DR) (Supriyadi dan Marsono, 2001).
Gambar 2. Lokasi penelitian di sebagian kawasan hutan yang dilewati oleh pembukaan jalan oleh PLTPB Bedugul (Sumber: SPOT IMAGE 2010).
Keanekaragaman tumbuhan dihitung berdasarkan indeks keanekaragaman Shannon (H’) (Waite, 2000). Persamaan dalam perhitungan indeks tersebut adalah sebagai berikut:
Keterangan:
ni = jumlah individu pada j jenis
j = jumlah jenis yang ditemukan pada lokasi a dan b
Data kelimpahan (abundance) vegetasi ditabulasikan ke dalam format Excel spreadsheet yang akan dimasukkan ke dalam software PRIMER (Clarke dan Gorley, 2005). Data tersebut kemudian dilakukan pre-treatment dengan square root transformation sebelum kemudian dihitung matriks kemiripan (resemblance matrix) berdasarkan indeks kemiripan Bray-Curtis sebagai dasar analisis selanjutnya (Clarke, 1993). Dari matriks ini kemudian untuk mendapatkan general pattern pola asosiasi spesies tumbuhan bawah di
dalam plot 1 ha digunakan analisis ordinasi non-metric multidimensional scaling NMDS.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada lokasi penelitian di Gunung Pohen ditemukan sebanyak 17 jenis pohon. Hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) menunjukkan bahwa Altingia excelsa (rasamala) adalah jenis pohon yang mendominasi di lokasi penelitian, yang kemudian diikuti oleh Macaranga javanica dan Homalanthus gigantheus (Gambar 3). Pohon dengan INP terendah adalah jenis Podocarpus imbricatus (cemara pandak). A. excelsa mendominasi di lokasi penelitian karena jenis ini banyak dijumpai terutama pada plot-plot pengamatan yang terletak dekat dengan tepi jalan. Sebagian hutan Gunung Pohen merupakan hutan lindung yang ditanami A. excelsa dengan usia tanam yang sama. Jenis pohon ini banyak ditanam terutama pada bagian terluar kawasan cagar alam serta pada daerah tepi yang berbatasan
Gambar 3. Indeks Nilai Penting (INP) jenis-jenis pohon di lokasi penelitian.
Lokasi penelitian yang berbatasan dengan jalan tampaknya masih merupakan campuran antara hutan lindung pada bagian tepi jalan dengan hutan alami pada bagian interiornya. Semakin menjauh dari tepi jalan, tipe hutan beralih dari hutan lindung menjadi hutan alami. Hal ini terlihat dari jenis pohon yang dijumpai yang semakin beragam. Meskipun jumlah jenis pohon pada bagian dalam hutan beragam namun umumnya tiap jenis hanya dijumpai dalam jumlah yang sedikit sehingga memiliki INP yang rendah. M. javanica dan H. gigantheus merupakan jenis pohon yang mendominasi pada hutan di bagian dalam lokasi penelitian.
Sebagian hutan pada kawasan hutan alami di cagar alam ini merupakan hutan sekunder yang telah mengalami gangguan pada masa lalu. Hutan sekunder dicirikan dengan tumbuhnya jenis-jenis pohon yang khas, diantaranya yang ditemukan pada penelitian ini adalah H. gigantheus dan P. imbricatus. Jenis-jenis tersebut hadir sebagai akibat dari respon terhadap peristiwa gangguan (disturbances) baik alami maupun oleh manusia pada masa lalu seperti longsor, aktivitas vulkanik maupun kebakaran (van Steenis, 1972; Whitten dkk., 1996). Hutan di Gunung Pohen memang tercatat sebagai hutan yang sering mengalami kebakaran hutan. Peristiwa kebakaran hutan hebat yang terakhir terjadi di gunung ini adalah kebakaran hutan pada musim kemarau panjang di tahun 1994 (Hehanusa dkk., 2005).
Pada penelitian sebelumnya di kawasan hutan yang sama, Sutomo dkk. (2010) mencatat bahwa P. imbricatus merupakan jenis pohon yang mendominasi kawasan hutan di Gunung Pohon, yang kemungkinan merupakan indikator bahwa sering terjadi peristiwa gangguan berupa kebakaran hutan di masa yang lalu. Pada penelitian ini P. imbricatus merupakan jenis pohon dengan INP terendah. Hal ini kemungkinan disebabkan hutan alami yang masuk ke dalam lokasi
penelitian belum mengalami gangguan kebakaran sehingga masih dijumpai vegetasi pohon dengan komposisi yang beragam pada lokasi tersebut.
Plot-plot penelitian di Gunung Pohen memiliki perbedaan di dalam hal komposisi dan kelimpahan jenis pohon. Hasil dari analisis ordinasi NMDS memperlihatkan bahwa pada transek A, plot A1, A2 dan A3 terletak mengelompok dibandingkan dengan plot A4 dan A5 (Gambar 4). Hal ini mengindikasikan bahwa komposisi jenis di plot A1, A2 dan A3 (jarak 0-40 m dari tepi jalan) relatif sama sedangkan plot A4 dan A5 yang berjarak paling jauh dari tepi jalan (60 m dan 80 m) komposisi jenisnya sangat berbeda dengan ketiga plot pertama yang lebih dekat dengan tepi jalan tersebut. Plot A1 sampai dengan A3 memang didominasi oleh jenis A. excelsa sedangkan di plot A4 didominasi oleh M. javanica dan A5 lebih beragam komposisinya dibandingkan keempat plot lainnya. Hal yang sama juga terlihat pada transek B.
Gambar 4. Analisis ordinasi NMDS yang menunjukkan perbedaan komposisi dan kelimpahan spesies pohon di lokasi penelitian.
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
0 m 20 m 40 m 60 m 80 m
Jarak dari jalan
S
h
a
n
n
o
n
I
n
d
e
x
Gambar 5. Perbedaan indeks keanekaragaman jenis pohon dari mulai tepi jalan hingga ke dalam hutan di site penelitian di Gn. Pohen
Daerah tepi umumnya didominasi oleh vegetasi bawah seperti semak dan rumput (Matlack, 1994) serta jenis tumbuhan eksotis (Laurance, 1991). Daerah tepi juga dicirikan oleh tingginya predasi biji pohon oleh herbivora (Guimaraes dan Cogni, 2002). Hal ini berpengaruh negatif terhadap rekruitmen
pohon terukur sampai kedalaman sekitar 40 m dari tepi jalan.
Gambar 5 memperlihatkan perbedaan indeks keanekaragaman jenis pohon dari tepi jalan hingga ke interior hutan di lokasi penelitian di Gn. Pohen. Tingkat keanekaragaman jenis pohon meningkat seiring bertambahnya jarak plot dari tepi jalan, yang ditandai dengan semakin tingginya nilai indeks Shannon yang diperoleh. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas vegetasi mengalami perubahan gradual dari tepi ke interior hutan. Interior hutan pada lokasi penelitian ditumbuhi oleh beragam jenis pohon asli yang memang sudah sejak lama tumbuh pada kawasan hutan tersebut, sedangkan tepi hutan ditumbuhi oleh beberapa jenis pohon saja.
Perbedaan komunitas pohon antara daerah tepi dengan interior pada lokasi penelitian kemungkinan besar lebih dipengaruhi oleh faktor pengelolaan oleh manusia dibanding faktor efek tepi itu sendiri. Seperti dijelaskan di awal, sebagian kawasan hutan di Gunung Pohen, terutama yang berada di tepi cagar alam dan perbatasan jalan, merupakan hutan lindung yang ditanami oleh jenis pohon tertentu dan mendapat pengelolaan oleh manusia. Hal ini berkontribusi terhadap perbedaan komunitas pohon antara tepi hutan yang berbatasan dengan jalan yang masih merupakan bagian dari kawasan hutan lindung, dengan interior hutan yang merupakan kawasan hutan alami.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan jalan yang membelah kawasan hutan Gunung Pohen ...
KESIMPULAN DAN SARAN ...
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kepala UPT-BKT Kebun Raya ”Eka Karya” Bali yang telah memfasilitasi pelaksanaan penelitian, serta kepada tim
kelompok penelitian ekologi Kebun Raya Bali yang membantu dalam pengambilan data di lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2005. Kawasan Konservasi Provinsi Bali. Unit KSDA Bali. Bali.
Chen, J., J.F. Franklin dan T.A. Spies. 1992. Vegetation responses to edge environments in old-growth Douglas-fir forests. Ecol. Appl. 2: 387-396. Clarke, K.R. 1993. Non-parametric
multivariate analyses of changes in community structure. Aust. J. Ecol. 18: 117-143.
Clarke, K.R. dan R.N. Gorley. 2005. PRIMER: Plymouth Routines In Multivariate Ecological Research. PRIMER-E Ltd., Plymouth.
Forman, R.T.T. 1995. Land Mosaics: The Ecology of Landscapes and Regions. Cambridge University Press. Cambridge. Gehlhausen, S.M., M.W. Schwartz dan C.K.
Augspurger CK2000. Vegetation and microclimatic edge effects in two mixed-mesophytic forest fragments. Plant Ecology 147: 21-35.
Guimaraes, P.R. dan R. Cogni. 2002. Seed cleaning of Cupania vernalis (Sapindaceae) by ants: edge effect in a highland forest in south-east Brazil. Journal of Tropical Ecology 18: 303-307.
model for the design of nature reserves. Biol. Cons. 57: 205-219.
Matlack, G.R. 1994. Vegetation dynamics of the forest edge: trends in space and successional time. J. Ecol. 82: 113-123.
Siregar, M. 2007. Kajian Kelestarian Ekosistem dan Flora Endemik Terhadap Rencana Pembangunan Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi di Bedugul, Bali. Kebun Raya Eka Karya Bali-LIPI. Tabanan, Bali.
Supriyadi dan D. Marsono. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Hutan. Laboratorium Ekologi Hutan Jurusan
Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.
Sutomo, I.N. Lugrayasa, N.K.E. Undaharta dan T.M. Bangun. 2010. Studi Komposisi dan Dinamika Vegetasi Pohon Hutan dengan Pembuatan Plot Permanen 1 Ha di Gunung Pohen Cagar Alam Batukahu Bali.
van Steenis, C.G.G.J. 1972. The Mountain Flora of Java. E.J Brill. Leiden.
Whitten, T., R.E. Soeriaatmadja dan S.A. Afiff. 1996. The Ecology of Indonesia Series Volume II: The Ecology of Java and Bali. Periplus. Hongkong.