• Tidak ada hasil yang ditemukan

TERBITNYA ASA DARI BARAT ASA DARI BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TERBITNYA ASA DARI BARAT ASA DARI BARAT"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ii

Terbitnya Asa

di

Ufuk Barat

KISAH PERJALANAN HIDUP

Halkim Mustamin

(3)

iii

Kata Pengantar

Setiap orang memiliki kisah perjalanan

hidupnya masing-masing. Ada kisah hidup yang

menarik, mengesankan maupun kisah hidup yang

memilukan, namun kisah hidup itu terkadang hanya

menjadi kisah perjalanan hidup yang dilupakan. Tidak

sedikit kisah perjalanan hidup orang-orang menjadi

inspirasi hidup menuju kesuksesan.

Kisah perjalanan hidup ini ditulis sebagai bahan

bacaan dan semoga pesan didalamnya menjadi

motivasi bagi pembacanya. Kisah yang dituliskan

murni hasil pemikiran dan perjalanan hidup penulis.

Sebagian nama dalam tulisan ini sengaja disamarkan

untuk menjaga nama baik nama tokoh yang dimaksud.

Tulisan ini tidaklah menarik seperti tulisan,

buku atau biografi yang sudah ada sebelumnya.

Tulisan ini dirangkum dari buku harian penulis,

sehingga bahasa yang digunakan sesuai dengan

bahasa penulis. Sehingga, penulis menyadari masih

banyak kekurangan dalam penulisan ini. Semoga

tulisan berikutnya jauh lebih baik lagi.

Mamuju, 6 Desember 2015

Penulis,

(4)

1

CINTA AKHIR KULIAH

Kumulai mencoba untuk menulis sebuah kisah

hidup dari seorang perantau yang penuh dengan cerita

inspiratif. Walaupun sebenarnya aku bukanlah seorang

penulis, namun untuk merangkai kata demi kata

tidaklah menjadi sulit. Ditemani secangkir kopi dan

kacang, tombol-tombol keyboard notebook ini terus

bergerak dan seakan mengetahui apa yang ada

dibenakku. Entah ini sudah sesuai kaedah-kaedah

penulisan sebuah novel, buku, biografi atau tidak,

namun itu tidak begitu penting karena bagiku pesan

sampai kepada pembaca dan konten didalamnya tidak

menimbulkan kegelisahan pembacanya.

Hmmm...itu sekedar pengantar dan ini

kisahnya, Pemuda itu bernama Kim nama yang

kedengarannya mirip nama Korea namun ia asli

Indonesia. Ia lahir di sebuah desa di Kabupaten Bone

Provinsi Sulawesi Selatan, sebuah kabupaten yang

jaraknya sekitar 175 km kearah timur dari kota

Makassar ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Kim

adalah seorang pemuda dengan perawakan tinggi

badan hanya sekitar 150 cm yang bukan ideal untuk

seorang laki-laki, namun kulitnya yang putih dan

wajah tampan menutupi kekurangan tinggi badan yang

kurang ideal itu, Kata orang sih dia manis (kayak gula

(5)

2 Pada tahun 2001 Kim menyelesaikan studinya

di Madrasah Aliyah Negeri 1 Watampone kemudian

melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muslim

Indonesia dengan peminatan Fakultas Teknologi

Industri jurusan Manajemen Industri dengan harapan

setelah menyelesaikan studi dapat langsung diterima

sebagai karyawan di Pabrik Gula Bone di tempat

ayahnya bekerja saat itu. Namun keadaan berkehendak

lain, Kim merasa jurusan yang dipilihnya ternyata

tidak sesuai kemampuannya. Ini lantaran waktu itu

Kim hanya ikut-ikutan temannya memilih jurusan yang

sama. Akhirnya Kim dan teman-temannya yang merasa

jurusan itu tidaklah pas untuknya dan memutuskan

untuk keluar dari kampus.

Keputusan keluar dari kampus menimbulkan

kegelisahan orang tuanya karena Kim sudah mengikuti

perkuliahan selama 1 semester, sehingga orang tuanya

menawarkan kepada Kim untuk memilih menjadi

seorang guru yang merupakan cita-cita ibunya, tapi

ternyata Kim tidak berminat menjadi seorang guru.

Kim kembali ditawarkan oleh orang tuanya untuk

menjadi seorang perawat dengan harapan setelah

kuliah nanti, Kim dapat bekerja di Klinik Pabrik Gula

Bone.

Tawaran itu membuat Kim semakin bingung,

karena sebenarnya Kim menginginkan masuk di

(6)

3 Hasanuddin. Walaupun sebenarnya Kim sudah

mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi

Negeri) sebanyak dua kali namun tidak lulus, hal ini

tidak mematahkan semangatnya untuk terus berupaya

mencapai keinginannya itu. Kim berprinsip “Jika Kali

Ini Gagal, Pasti Suatu Saat Akan Terwujud”. Akhirnya

Kim memutuskan untuk mendaftarkan diri di

Politeknik Kesehatan Makassar.

Dengan persetujuan orang tuanya Kim

mendaftarkan diri di Politeknik Kesehatan, namun

tanpa sepengetahuan orangtua Kim memilih jurusan

kesehatan lingkungan dengan harapan setelah

menyelesaikan pendidikan di diploma tiga dapat

melanjutkan pendidikan strata satu di Fakultas

Kesehatan Masyarakat. Karena jurusan yang sesuai

dengan lanjutan di Fakultas Kesehatan Masyarakat

hanyalah kesehatan lingkungan dan jurusan gizi,

hanya saja Kim lebih memilih jurusan Kesling. Padahal

orang tua berharap Kim mendaftarkan diri di jurusan

Keperawatan, namun Kim merahasiakan ini kepada

orang tua dan keluarganya.

Pengumuman pun tiba, akhirnya Kim diterima

pada jurusan kesehatan lingkungan Politeknik

Kesehatan Makassar jurusan satu-satunya peminatan

pilihannya. Kim diterima sebagai mahasiswa baru pada

tahun 2002, yang di tahun sebelumnya harus

(7)

4 kampus inilah Kim mulai merajut kisah cinta dengan

beberapa wanita seangkatannya, Kim pernah menjalani

cinta dengan dua wanita sekelas dengan waktu yang

berbeda.

Tak disangkal memang dengan mengandalkan

perawakan yang cukup menarik dan ditambah dengan

keaktifan Kim sebagai ketua himpunan mahasiswa

jurusan makin menjadi daya tarik tersendiri serta

menjadi jimat Kim untuk menggaet beberapa wanita di

kampusnya. Selain keaktifan di organisasi, Kim juga

sibuk mengurusi usaha percetakan sablon yang

dibangunnya bersama ketiga temannya Jamal, Emming

dan Amir. Usaha percetakan dengan nama “SKETSA”

merupakan usaha yang dibangun untuk belajar

mandiri dan diharapkan menjadi pendukung biaya

hidup dan biaya kuliah dikampus. Namun tanpa

manajemen yang baik usaha itu tidak berjalan lancar,

akhirnya Kim memutuskan untuk menutup usaha

yang sudah berjalan 2 tahun itu.

Setelah lulus kuliah di tahun 2005, Kim

mencoba peruntungan untuk mendaftar seleksi CPNS

(calon pegawai negeri sipil) di Kota Makassar yang

menjadi dambaan setiap alumni kampus dan orang tua

beberapa daerah di Sulawesi, yang dianggap mampu

mendongkrak strata keluarga dan status sosial. Namun

keberuntungan belum berpihak, Kim belum diterima

(8)

5 langkah awal untuk investasi usaha masa depannya.

Akhirnya Kim memutuskan untuk kembali ke

kampung halaman untuk mengisi hari-hari penantian

hingga ada lowongan pekerjaan.

Di kampung halaman di desa kelahirannya Kim

ditawarkan untuk bekerja di Klinik Perusahaan di

tempat ayahnya bekerja. Di klinik itu tenaga perawat

(Mantri) hanya satu orang saja yang sebentar lagi juga

akan pensiun. Kim dengan kalimat halus menolak

tawaran itu lantaran Kim menyadari bahwa ia

bukanlah seorang perawat (tenaga medis). Karena

semua keluarga, mengira Kim seorang perawat namun

Kim tetap merahasiakan ini lantaran takut disesali oleh

keluarga dan orangtua yang menganggapnya salah

memilih jurusan. Tanpa menyesali keadaan Kim pun

mengisi hari-harinya dengan mengabdikan diri sebagai

guru ngaji di tempat ibunya mengajar ngaji. Dengan

honor 45 ribu rupiah Kim menikmati honor

pertamanya dan bersyukur yang di dapatkan sekarang.

Kita tinggalkan cerita itu, kita ikuti kisah cinta

Kim yang mungkin tidak terlalu menarik namun tidak

ingin dilewatkan. Setelah Kim menjalani cinta dengan

beberapa wanita dikampus, Kim ternyata diam-diam

menaruh simpati kepada seorang wanita yang juga

berasal dari kampus yang sama. Kali ini Kim ingin

menjalaninya dengan serius, hanya saja kali ini Kim

(9)

6 May tinggal di sebuah desa di Kabupaten Polewali

Mandar (yang dulunya Kabupaten Polmas) Provinsi

Sulawesi Barat yang umum di kenal dengan kampung

Jawa yang masyarakatnya mayoritas masyarakat

transmigrasi yang kira-kira jaraknya kurang lebih 300

km kearah barat daya dari Kota Makassar.

Cinta jarak jauh itu tidak membatasi Kim untuk

selalu berkomunikasi dengan May. Kim yang mulai

jenuh dan mulai merasa malu karena tidak bekerja

kemudian menceritakannya ke May. Lalu May pun

menyarankan kepada Kim untuk menghubungi salah

seorang teman kuliah yang ada di Mamuju (ibu kota

Provinsi Sulawesi Barat), semoga ada lowongan

pekerjaan disana. Kim pun mencoba menghubungi

temannya yang bernama Aan yang sudah bekerja

sebagai PNS di Mamuju. Aan yang sudah lama ingin

menghubungi Kim seperti menyesali Kim yang baru

menghubunginya, ini dikarenakan beberapa waktu lalu

ada lowongan pekerjaan yang ingin ditawarkan

kepadanya tetapi pendaftaran sudah tertutup sehari yang lalu tepatnya di hari Jum‟at. Apakah Kim Menyesal ?

Rupanya Aan berupaya mencari jalan keluar

dan menghubungi panitia penerimaan seleksi Pegawai

Tidak Tetap (PTT) untuk daerah terpencil, tertinggal

dan perbatasan. Beruntungnya panitia belum

(10)

7 Kesehatan dan masih memberikan kesempatan kepada

Kim untuk memasukkan berkas serta tes wawancara

pada hari minggu pagi sebelum berkas dikirimkan pada

hari senin. Tanpa berpikir panjang Kim pun langsung

berangkat hari itu juga tepatnya sabtu pagi menuju

Kota Makassar yang kemudian lanjutkan perjalanan ke

Mamuju pada malam harinya agar dapat tiba di

(11)

8

PERSAHABATAN NINJA

Setibanya di Mamuju, Kim langsung dijemput

oleh Aan menuju tempat pendaftaran. Di sesi

wawancara Kim mengutarakan semua kesiapannya

untuk siap ditugaskan dimana saja asalkan dapat

diterima sebagai PTT, baginya ditempatkan didaerah

terpencil sudah resiko, walaupun daerah ini pertama

kali di kunjunginya. Sebulan kemudian tepatnya

Desember 2006 Kim akhirnya diterima sebagai Pegawai

Tidak Tetap dengan kontrak selama 6 bulan masa

percobaan dengan gaji (diatas gaji pokok PNS) yang

lumayan buat pegawai baru. Inilah jawaban atas usaha dan do‟a yang terus dipanjatkan setiap 1/3 malam. Kim

yakin atas semua yang sudah dilakukan dan tak ada

yang sia-sia.

Tanpa terduga Kim ditugaskan di puskesmas

dimana Aan saat itu bertugas, puskesmas itu letaknya

pas disamping Bandar Udara Mamuju. Dengan penuh

suka cita, Kim menjalankan tugasnya sebagai abdi

negara yang dijalaninya penuh semangat dengan

pengalaman baru. Kepala puskesmas yang biasa disapa Uwe‟ (sebutan untuk orang tua dari keturunan bangsawan di Mamuju) memberi fasilitas rumah dinas

kepada Kim bersama kedua temannya Rony dan Dika

untuk tempat tinggal. Rumah dinas itu baru saja

(12)

9 Mamuju, namun tak ada pegawai lain di puskesmas

yang ingin tinggal di rumah dinas tersebut lantaran

sebagian dari mereka sudah memiliki rumah sendiri.

Kim, Rony dan Dika adalah tiga pemuda yang

tinggal bersama dan menjadi sahabat baru. Walaupun

sebenarnya rumah orang tua Rony dan Dika masih

berada di satu kecamatan tempat Puskesmas itu

berada, namun mereka lebih senang untuk tinggal

bersama di rumah dinas. Di rumah dinas inilah kisah

dan cerita mereka begitu menarik. Persahabatan

mereka begitu kental ditambah lagi dengan

bergabungnya salah seorang pegawai puskesmas

bernama Randy.

Berbeda dengan Kim, Rony dan Dika, Randy

memang sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak

laki-laki. Namun, jiwa mudanya membawa Randy

bergabung dengan ketiga sahabat ini. Keakraban

mereka pun terlihat ketika setiap kegiatan dilakukan

bersama. Mereka selalu berkumpul di rumah dinas

dengan berbagai kegiatan. Randy yang seorang mantri

(perawat laki-laki) di puskesmas itu, sering mengajak

ketiga rekannya untuk mengunjungi pasiennya. Tidak

dipungkiri memang, jika Randy memiliki banyak

pasien/pelanggan yang datang ke tempat prakteknya.

Tak jarang Randy juga meminta bantuan beberapa

rekannya di puskesmas untuk melayani sebagian

(13)

10 liburan, banyak tawaran sunat untuk anak-anak.

Randy yang kebanjiran panggilan sunatan (circum)

menawarkan sebagian tawaran itu kepada Dika, Rony

dan Kim, mereka pun digelari “Maling” Mantari Keliling

(“Mantari” sebutan untuk mantri di daerah Mamuju).

Kim yang bukan seorang perawat, mendapatkan

pengalaman berharga ketika ikut membantu kedua

rekannya melakukan sunatan keliling. Mereka pun menikmati profesi baru sebagai “Maling”, namun maling yang diberi upah. Berbeda dengan maling

berdasi yang mengambil upah orang lain (sindir aja).

Mereka mendapatkan upah 75 ribu rupiah per anak

yang disunat, namun terkadang mereka harus rela

dibayar dengan pisang, ubi dan ikan bagi mereka yang

tidak memiliki uang tunai. Tidak ada tarif yang

ditetapkan untuk anak yang akan di sunat, hanya saja

bagi ketiga pemuda ini dengan bayaran yang ada

cukuplah untuk membeli bahan habis pakai dan biaya

keperluan sehari-hari “Asalkan dapur ngepull, hidup

tidak ngibull” begitulah prinsip pemuda itu.

Kesibukan mereka membuat waktu istirahat

berkurang, hingga terkadang mereka harus pulang di

malam hari. Mereka yang akif dimalam hari namun

istirahat di siang hari, membuat salah seorang

temannya bernama Wayan (dipastikan nama untuk

orang Bali) menjuluki mereka dengan sebutan “ Ninja

(14)

11 Wayan ini berasal dari daerah transmigrasi yang ada di

Kabupaten Mamuju. Dimana Mamuju itu dikenal dengan “Indonesia Mini” dengan masyarakatnya yang heterogen dan terdiri dari berbagai suku bangsa yang

ada di Indonesia.

Setelah enam bulan berjalan, kontrak Kim

sebagai PTT daerah terpencil, tertinggal dan perbatasan

sudah selesai dan tidak ada lagi perpanjangan kontrak

untuk tahun berikutnya karena pembiayaan program

ini bermasalah dan perlu dikaji ulang. Kim pun

berencana untuk kembali ke kampung halaman, namun Aan dan Uwe‟ (kepala puskesmas) menawarkan kepada Kim untuk tetap tinggal mengabdi di Mamuju

walaupun sebagai tenaga sukarela sambil menunggu

pendaftaran CPNS kembali dibuka. Dengan segala

pertimbangan Kim menerima tawaran tersebut dan

beralih status Kepegawaian dari PTT menjadi Tenaga

Sukarela yang konsekuensinya tanpa menerima gaji.

Sebagai tenaga sukarela memang tak ada beban

untuk program yang diamanahkan kepada Kim, hanya

saja tanggungjawablah yang membuat Kim tetap harus

menjadikan pekerjaaannya sebagai kepercayaan.

Dipercaya mendampingi bendahara walaupun status

sebagai sukarela, Kim kembali mendapatkan

pengalaman baru. Kim juga dipercaya untuk

mengoperasikan komputer yang saat itu jumlahnya

(15)

12 kecil dari pegawai puskesmas yang mampu

mengoperasikan komputer dan tak jarang pula dari

mereka yang ingin diajarkan untuk mengoperasikan

komputer. Kim memang sudah memiliki bekal untuk

mengoperasikan komputer sejak kuliah yang

didapatkan dari teman-temannya.

Dari keterampilannya itulah salah seorang

pegawai puskesmas menawarkan kepada Kim untuk

menjadi operator komputer di usaha percetakan foto

copynya, yang kebetulan waktu itu operator yang

sebelumnya baru saja mengundurkan diri lantaran

ingin membuka usaha sendiri di kampung

halamannya. Kim tidak menolak, hanya saja Kim

terkendala mengoperasikan aplikasi editing dan cuci

cetak foto yang belum pernah dipelajarinya. Namun,

Kim tidak serta merta mundur, dibukanya laci

komputer ia menemukan buku atau modul aplikasi sederhana “Photoshop”. Ia pun mempelajarinya semalam suntuk.

Editing foto yang di kerjakannya memang tidak

sehalus atau sebaik operator sebelumnya, namun

membuat pelanggan puas itu sudah terasa cukup.

Walaupun di awal-awalnya ia harus mengerjakannya

tidak sesuai standar waktu yang disepakati karena

terlalu lama. Tapi baginya yang terpenting pemilik

(16)

13 Dengan tambahan penghasilan 500 ribu per

bulan Kim sudah merasa cukup untuk menopang

keperluannya sehari-hari. Hanya saja ia merasa terlalu

lelah dan capek, karena ia harus bekerja mulai pukul

06.00 wita sampai dengan pukul 07.00 wita di

percetakan fotocopy kemudian pada pukul 08.00 wita

sampai dengan pukul 13.00 wita di puskesmas. Pada

siang harinya setelah istirahat sejenak, ia kembali

harus bekerja di percetakan fotocopy mulai pukul

14.00 wita hingga pukul 22.00 wita dan itu

berlangsung setiap hari.

Kim mulai merasa lelah dan jenuh dengan

pekerjaan itu, Ia pun memutuskan untuk berhenti

bekerja di percetakan fotocopy tersebut. Tak lama

setelah ia berhenti ia dikabarkan ingin menikah, yang

dianggap sebagian orang keputusan berani untuk

orang yang belum bekerja seperti Kim. Tapi bagi Kim

Pintu rezeki akan bertambah setelah menikah, ada

(17)

14

MELAMAR, MENIKAH DAN MANDIRI

Niat menikah itu berawal ketika Kim merasa

sudah tidak sanggup mengatur keuangannya sendiri

yang dihabiskan untuk keperluan yang bukan

kebutuhannya. Pada suatu waktu, niat itu

disampaikan kepada kedua orang tuanya. Mendengar

hal itu, orang tuanya pun kaget lantaran Kim belum

ada penghasilan tetap. Tetapi dengan pengertian orang

tua yang baik, Kim pun menyambut izin kedua orang

tuanya untuk menikah dan ia pun langsung

mengabarkannya kepada sahabatnya Rony.

Skenario pun dijalankan, Kim dan Rony

memohon izin kepada kepala puskesmas untuk ke

kampung halaman Rony yang ada di perbatasan

Majene dan Pol-Man. Kedua sahabat ini pun berangkat

menggunakan sepeda motor Kim yang diperoleh dari

penghasilannya sendiri. Kim memutuskan untuk

melanjutkan perjalanan menuju Kampung Jawa.

Sementara Rony sendiri menunggu di kampung

halamannya.

Setibanya di Kampung Jawa, Kim kemudian

mengutarakan niat baiknya kepada orang tua May

(pujaan hatinya) untuk melamar May. Orang tua May

pun terkejut dan tak menyangka ada pemuda yang

berani datang sendiri untuk melamar anak gadisnya.

(18)

15 dianggap tidak menghormati dan menghargai adat.

Namun, bagi Kim itulah tantangan yang harus ia ubah.

Niat baik jangan dianggap buruk begitupun sebaliknya

Niat buruk jangan dianggap baik. Beruntungnya ia

menemukan “camer” calon mertua yang pengertian.

Walaupun perawakan calon mertuanya tinggi besar

dan kelihatan menakutkan ternyata baik dan penuh

pengertian.

Lamaran Kim disambut baik oleh keluarga

besar May dan kemudian langsung membicarakan

waktu pelaksanaan pernikahan yang tidak perlu

ditunda-tunda lagi. Kim pun segera mengabarkan ini

kepada keluarganya dan memintanya untuk langsung

berkomunikasi antar sesama calon besan (cihuii). Rony

yang penasaran dengan itu, segera menelepon Kim

yang masih ada di kampung Jawa. Kim pun dengan

suka-cita menjelaskan panjang lebar ceritanya, tak

disangka Rony menjebak Kim dengan menghubungkan

komunikasi teleconfrence tiga arah dengan Uwe‟. Cerita

pun terbongkar, namun mereka sepakat untuk

merahasiakannya kepada teman-teman yang lain.

Tepatnya sebulan sebelum acara pernikahan

dilangsungkan, Kim kembali mengajak teman-teman

seperjuangannya di rumah dinas (yang mereka sebut

asrama) untuk jalan-jalan ke Kampung Jawa dengan

alasan untuk mengenalkan kekasihnya. Terdiri dari 4

(19)

16 berboncengan diantaranya Nas bersama Dika, Andy

bersama Ary dan Kim serta Rony masing-masing satu

sepeda motor.

Setibanya di Kampung Jawa teman-teman Kim

terkejut dengan situasi yang ditemuinya. Dirumah May

sudah dipenuhi hiasan lamming (dekorasi acara

pengantin), mereka pun bertanya-tanya „ini kok ada

acara? Kenapa Kita tidak diberitahu sebelumnya? Tidak

ada persiapan pakaian rapih. Mereka sedikit agak risih

dengan berpakaian seadanya. Hmmm...Kim pun hanya menjawab dengan senyuman kecil, „Katanya : Kita liat

saja nanti’.

Kim membisikkan sesuatu kepada Nas untuk

mewakilkan keluarganya untuk menyerahkan biaya

belanja acara pernikahan kepada calon mempelai

wanita. Setelah penyerahan biaya belanja pernikahan,

para sahabat ini pun tertawa lepas karena skenario

yang telah direncanakan oleh Kim dan Rony. Mereka

seolah tak percaya yang baru saja dialaminya, tapi bagi

mereka kebahagiaan saudara atau sahabat adalah

kebahagiaan bersama.

Sampailah pada hari yang membahagiakan

yaitu tepatnya senin tanggal 24 Desember 2007 di

acara pernikahan Kim dan May. Kim waktu itu berusia

25 tahun dan May 23 tahun. Usia yang sebagian orang

(20)

17 Kim itulah usia ideal untuk menikah, seperti Nabi

Muhammad mencontohkan menikah di usia tersebut.

Setelah menikah, Kim mengajak May ke

Mamuju ditempatnya mengabdi. Sebagai istri yang taat

pada suami May pun ikut serta ke Mamuju dengan

harapan disana terbuka jalan pekerjaan untuk mereka.

Di Mamuju, May pun ikut mengabdi sebagai tenaga

sukarela di puskesmas yang sama. Keduanya

menikmati pekerjaan sebagai tenaga sukarela dan

mereka tinggal di rumah dinas ditempat Kim tinggal

bersama sahabatnya.

Rony dan Dika pun harus mengkondisikan

dirinya sebagai bujangan yang tinggal bersama dengan

Kim beserta istrinya. Terkadang Rony dan Dika tinggal

bersama teman lainnya yang juga masih bujangan

ditempat Nas dan Sri di rumah dinas yang disebut

sebagai asrama. Tinggal di kompleks puskesmas, Kim

memanfaatkan pekarangan belakang rumah dinas

untuk bercocok tanam sayur-sayuran untuk

kebutuhan sehari-hari. tidak sedikit dari pegawai

puskesmas yang menikmati hasil cocok tanam yang

ditanam Kim.

Waktu terus berlalu, di bulan keempat setelah

menikah May mulai merasa aneh dengan keadaannya

yang selalu mual-mual. Hmmm...Kim mulai penasaran,

akankah ini pertanda baik? Untuk membuktikan rasa

(21)

18 kehamilan). Plano test menunjukkan bahwa May positif

hamil, namun Kim belum begitu yakin dengan tes

pertama kemudian ia melakukannya berulang dan

hasilnya tetap sama jika plano test menunjukkan May

positif hamil. Kim dan May pun sujud syukur tak

terhingga atas nikmat ditiupkannya roh manusia

kedalam perut May.

Kim terus berdoa agar diberi kekuatan dan

kesehatan kepada istrinya agar dapat dilancarkan

hingga pada saat persalinan nanti. Kim juga mulai

merasa gelisah dengan keadaannya yang belum

memiliki penghasilan tetap, ia pun berpikir keras

untuk menyiapkan segala kebutuhan dan biaya

persalinan nanti. Disela-sela statusnya sebagai tenaga

sukarela di puskesmas, Kim juga aktif di beberapa

organisasi kepemudaan yang ia bentuk bersama

teman-teman aktivis mahasiswa. Kesibukan itulah

yang membuat Kim terkadang pulang malam dan

meninggalkan serta menitipkan istrinya di rumah

temannya. Sesekali May mengutarakan kesedihannya

bersama Kim, namun ia terus bersabar semoga ada

(22)

19

PENGHIANATAN NINJA

Pernah suatu waktu Kim ditawarkan untuk

menjadi Calon Legislatif oleh paman Rony, ia pun

menyanggupinya dan berharap dengan jalan itu

keberuntungan dapat berpihak padanya. Pada saat

musim kampanye, Kim bersama Rony serta pamannya

melaksanakan kampanye didaerah terpencil dan harus

menginap didaerah itu. Di saat-saat itulah May sering

ditinggalkan oleh Kim dalam keadaan hamil. Kim

merasa bersalah dengan yang apa dilakukannya,

namun berharap semua usahanya adalah investasi

dimasa depan. May terus bersabar agar kuat menjalani

kehidupannya bersama Kim.

Cobaan pun kian datang, persahabatan

bersama rekan-rekan Ninja sedikit terganggu, lantaran

beberapa teror-teror fitnah berupa sms (short message

service) gelap terus masuk di handphone salah seorang

Ninja dan beberapa pegawai di puskesmas. Isi sms itu

berupa konten fitnah yang seolah menceritakan

perselingkuhan salah seorang pegawai puskesmas

dengan bidan desa. Betul-betul sangat tidak beretika

dan tidak bertanggungjawab.

Seminggu berjalan sms itu kembali menyebar,

saling curiga antar sesama teman di puskesmas pun

mulai muncul, tak terkecuali kepada mereka yang yang

(23)

20 mengetahui keadaan puskesmas. Kelompok Ninja pun

berkumpul untuk mencari siapa pelakunya. Informasi

ini awalnya muncul dari Randy yang menerima sms

dari nomor handphone yang tak dikenal, kemudian

menceritakannya kepada Rony, Dika dan Kim. Pernah

juga sebuah sms diperlihatkan kepada Kim dan

meminta kepada Kim untuk melacak pelakunya dan

segera Kim mencatat nomor handphone pengirim sms

tersebut dengan harapan ia dapat melacak pelakunya.

Keesokan harinya tepatnya di hari minggu

siang, Kim duduk santai bersama May di teras

belakang rumah dinas. Tiba-tiba Kim kepikiran untuk

melacak pelaku sms teror tersebut. Ia mencoba untuk

menghubungi nomor tersebut dan ternyata aktif,

namun panggilan Kim tidak dijawab oleh pemilik

nomor handphone itu. Kim lalu mencoba mengirimkan

sms yang berbunyi “Pak Mohon dicek rekeningnya, saya

sudah mengirimkan uang sejumlah Rp.5.000.000,- di

rekening bapak, mohon di konfirmasi ulang takutnya

saya salah kirim uang ke rekening lain” seperti itulah

bunyi sms yang dikirimkan Kim yang seolah sms ini

salah alamat.

Kemudian pemilik nomor handphone itu membalas “Siapa ini?”.

Kim juga membalas : “Saya Danny pak”.

Pemilik nomor handphone itu kembali membalas :

(24)

21 Kembali Kim membalas : “ Iya, saya Danny pak anak

bapak”.

Balas-membalas sms pun terhenti, sekitar lima

menit. Kim mencoba menghubungi nomor tersebut

namun tidak aktif, tak lama kemudian handphone Kim

kembali berbunyi pertanda ada sms masuk yang bunyinya “kamu bukan Danny, kamu itu Kim alias Danny Dog, anjing...kamu. Pernah nonton film Danny

and The Dog kan? Seperti itu kamu pendiam tapi

penjilat.” Kim pun tersentak kaget dengan balasan sms

itu, lantaran sms dikirim oleh orang yang dia kenali. Kim berpikir “koq bisa ya sms di nomor yang pertama nyambung dengan sms dengan nomor yang kedua” dan

sms itu dikirim oleh orang yang memperlihatkan sms

teror dan memintanya untuk melacaknya.

Akhirnya, Kim menyimpulkan jika selama ini ia

dipermainkan dan dibohongi oleh temannya sendiri.

Kim pun kembali membalas sms dengan nada kecewa : “oh..ternyata kamu, selama ini saya sudah percaya ternyata kamu meminta saya mencari pelakunya

ternyata kamulah pelakunya, sekarang saya sudah

tahu itu kamu, kamu tidak bisa mengelak lagi Kurang

ajar”.

Dijawab lagi oleh temannya : “Sialan, kenapa kamu sms

saya seperti itu?”.

Kim kembali membalas : “gimana tidak sms seperti itu

(25)

22

pelakunya koq kamu yang membalas, kamu lupa ya!

Hahaha...”

Tak ada balasan sms lagi.

Malam harinya, handphone Kim kembali

berdering pertanda ada sms masuk. Sms itu berbunyi “saya tidak menyangka kamu itu penjahat, tunggu

balasanku” sms itu dikirim oleh nomor yang berbeda

dari kedua nomor handphone tadi. Namun, Kim tidak

menghiraukannya karena baginya itu berupa ancaman

oleh orang yang sudah ketahuaan belangnya. Kim dan

May berusaha untuk merahasiakan ini kepada siapa

pun, karena takutnya ada ancaman yang mengganggu

kehidupan mereka disana baginya cukup mereka

berdua yang tahu.

Keesokan harinya, di hari senin kembali

pegawai puskesmas beraktifitas seperti biasanya di

kantor. Namun, ada yang tidak biasa dengan Randy

yang datang bersama anaknya Dinan ke kantor

tiba-tiba menjadi pendiam dan tak ramah lagi kepada Kim.

Tapi Kim berpikir mungkin dia letih atau kurang enak

badan. Kim pun mencoba menghibur dan mengajak

Dinan untuk bermain, tiba-tiba Randy mengajak Dinan

pulang kerumahnya padahal baru beberapa menit tiba

dikantor dan pergi begitu saja bahkan tak menyapa

maupun menoleh kepada Kim. Kim pun menyadari jika

itu dampak dari kejadian kemarin malam akibat saling

(26)

23 Beberapa hari kemudian, muncullah isu yang

berkembang di puskesmas jika pelaku sms teror itu

telah diketahui. Semua orang di puskesmas menaruh

curiga kepada Kim dan istrinya (pembuktian terbalik)

dan semua orang pun perlahan menghindari Kim

beserta istrinya. Kim merasa terpojok dan istrinya pun

tak sanggup diperlakukan seperti itu. Kim lalu

menceritakan semua yang sebenarnya kepada

sahabat-sahabatnya Rony, Dika, Nas dan Sri. Mereka pun

memberikan support agar Kim dan May bersabar

menghadapi cobaan. Namun, May yang terus bersedih

karena tidak kuat denga fitnah yang dialamatkan

kepadanya meminta untuk pindah tempat tinggal

keluar dari kompleks puskesmas.

Kim yang diam-diam mencari rumah kontrakan

di ibu kota kecamatan yang jaraknya sekitar 10 km

dari puskesmas. Kim berharap dengan pindahnya

mereka ke rumah kontrakan dapat memulihkan

kesedihan May yang juga sedang hamil 3 bulan waktu

itu. Di rumah kontrakan yang bentuknya rumah

panggung kecil terdiri dari 1 kamar dan ketinggian

atapnya yang hanya sekitar 2 meter saja dari lantai,

membuat mereka harus menahan pengap dan

gerahnya di dalam rumah. Tapi bagi mereka bukanlah

suasana tempat yang membuat bahagia, namun

(27)

24 Sahabatnya Rony dan Dika tak kuasa melihat

mereka harus merasa terasing, akhirnya pelan-pelan

mereka menceritakan yang sebenarnya kepada Uwe‟ dan beberapa teman yang lainnya. Uwe‟ pun mengutus Aan untuk mengkonfirmasi yang sebenarnya kepada Kim dan May. Dengan rasa menyesal Aan dan Uwe‟ pun hanya berupaya menenangkan dan memberi

semangat kepada mereka berdua dan berharap mereka

berdua tetap mengabdikan diri di puskesmas. Suatu

saat Allah akan menunjukkan yang benar.

Saling curiga tidak juga berhenti, namun kali ini

beberapa orang sudah mulai curiga dengan Randy yang

akhir-akhir ini jarang masuk kantor. Merasa seperti

dipojokkan dan untuk membenarkan bahwa bukan ia

pelakunya, ia pun menginisiasi kepada beberapa teman

dan Ninja untuk melakukan sumpah di atas Al-qur‟an.

Beberapa orang hadir dalam sumpah itu diantaranya

Randy, Bidan desa, Nas, Kim, May, Rony dan Dika.

Sempat terjadi perdebatan Kim dengan Randy dan

nyaris terjadi perkelahian, namun segera dileraikan

oleh Dika. Tak lama setelah penyumpahan itu Randy

(28)

25

KEBAHAGIAAN YANG TERAKUMULASI

Pernah suatu waktu Kim berpikir untuk

merantau ke Kalimantan untuk mencari peluang

pekerjaan disana, hanya saja May tidak mengizinkan

karena tak ingin ditinggalkan dalam keadaan hamil.

Kim pun kemudian menuruti May dan mencoba sekali

lagi peluangnya mendaftar CPNS di Mamuju. Targetnya

setelah mendaftar CPNS di Mamuju kemudian tidak

lulus, ia pun akan pulang kampung atau merantau ke

tempat lain.

Sambil menunggu pendaftaran CPNS dibuka,

Kim dan May kembali menjalani aktifitasnya sebagai

tenaga sukarela di puskesmas tanpa digaji. Namun,

kegigihannya dalam bekerja ia diberi kepercayaan oleh Uwe‟ untuk menangani program di puskesmas sehingga terkadang ia dapat mengikuti pelatihan

program dan di beri biaya transport maupun uang

harian pelatihan oleh panitia. Itulah yang Kim

kumpulkan untuk kebutuhan sehari-hari bersama

May. Perannya sebagai pengelola program dan

pembantu bendahara di puskesmas, tak jarang ia

diberi uang sebagai pembayaran jasa oleh kepala

puskesmas. Beberapa pegawai yang sudah gajian pun

terkadang memberi tip kepada Kim.

Dengan keterbatasan dan kekurangan itu, Kim

(29)

26 kebutuhannya sehari-hari. Walaupun terkadang Kim

pernah kehabisan uang dan malu untuk meminjam

kepada orang lain. Di suatu waktu sepulang dari

puskesmas, May memetik daun singkong (masih sisa

tanaman Kim di pekarangan belakang rumah dinas)

untuk dimasak di rumah. Tiba-tiba sore hari datanglah

seorang teman bernama „Wayan‟ bertamu di rumah

mereka. Kim dan May saling menoleh was-was, karena

di sakunya tersisa uang tiga ribu rupiah. Untungnya

masih ada tempe dan sayur singkong yang siap untuk

dimasak. Wayan pun memohon ijin untuk menginap,

karena cuaca tidak memungkinkan ia untuk

melanjutkan perjalanan ke Tobadak nama sebuah

kampung di Mamuju yang masyarakatnya beragam

suku dan agama yang juga terkenal dengan

perkebunan sawitnya.

Surya pun menampakkan wajahnya, pagi telah tiba. May berbisik kepada Kim “Gimana ini mas, uang

kita tersisa tiga ribu”. Kim pun menyarankan May

untuk membuat teh kemudian uang tiga ribu itu

digunakan untuk membeli kue secukupnya.

Untungnya ada tetangga yang menjual kue murah

seharga 500 rupiah per buahnya. May pun membawa

kue belanjaannya sebanyak enam potong untuk

(30)

27

Petunjuk atau cobaan yang diterimanya hari ini, akan

menjadi Asa untuk kehidupannya yang akan datang.

Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba mertua

Kim datang mengunjungi mereka. Tak disangka mereka

sudah tiba duluan di kontrakan Kim dan May.

Tersontak Kim kaget dan malu menunjukkan

keadaannya seperti itu. Kedua mertuanya pun tak

sanggup menutupi kesedihannya melihat kondisi

mereka. Tidur tanpa kasur dan hanya dialasi seprei

membuat mertua Kim membelikan mereka kasur

sebagai alas tidur. Kasur mereka sebelumnya koyak

digigit tikus sewaktu pulang berlebaran. Tak bisa

dibayangkan May yang hamil sudah 7 bulan harus

tidur tanpa kasur.

Di usia kehamilan May yang memasuki 8 bulan,

May meminta kepada Kim untuk diantarkan ke

kampung halamannya di kampung Jawa. May

berharap dapat melahirkan nanti di rumah orang

tuanya yang juga menantikan cucu pertamanya.

Karena May memang anak sulung dan satu-satunya

wanita dari tiga bersaudara. Pada saat May sudah

berada di kampung jawa menanti persalinan,

terbukalah pendaftaran CPNS formasi Pemerintah

provinsi dan Pemerintah Kabupaten di beberapa

daerah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kim

dan May, bagi Kim ini kesempatan terakhirnya

(31)

28 dua kali. Sementara May harus mengikuti seleksi CPNS

di Kabupaten Polman.

Dengan jadwal pendaftaran yang berbeda di

Pemprov dan Pemkab, Kim memilih untuk mendaftar

kedua-duanya. Waktu itu Kim bersama Rony menuju

tempat pendaftaran, tanpa disengaja Kim menemukan

pin emas Korpri didepan loket pendaftaran. Kim lalu

menggenggamnya dan menyimpannya seaman

mungkin. Namun, cobaan datang lagi ketika berkas

Kim ditolak lantaran berkas atau ijazahnya tidak

sesuai dengan syarat legalisir kampus. Padahal

pendaftaran tersisa dua hari lagi. Kim kemudian segera

mengirimkan berkasnya ke kampus asalnya lalu

menitipkan kepada orang Mamuju yang akan kembali

ke Mamuju hari itu juga.

Keesokan harinya perjalanan sampainya berkas

itu terhambat lantaran jembatan di jalan poros

Majene-Mamuju terputus dan harus menunggu dibuat

jembatan darurat. Padahal pendaftaran tersisa sehari

lagi. Tanpa berpikir panjang Kim lalu memutuskan

untuk menjemput berkasnya dengan menggunakan

sepeda motor menuju daerah yang jembatannya

terputus agar keesokan harinya dapat segera

disetorkan ke panitia.

Sebulan setelah tahapan seleksi telah

dilaksanakan tibalah pada masa pengumuman hasil

(32)

29 masuk memberi ucapan selamat atas kelulusannya.

Kim pun mengucapkan syukur Alhamdulillah atas

informasi yang ia dapatkan, namun Kim belum terlalu

yakin jika belum melihat secara langsung

pengumuman tersebut. Keesokan harinya Kim

langsung menuju tempat pendaftaran dan benar ia

menemukan namanya sebagai peserta yang lulus

CPNS. Sementara May belum beruntung namanya

tidak tercantum sebagai nama yang lulus di tempatnya

mengikuti seleksi.

Kim pun segera mengikuti tahapan pendaftaran

ulang bagi peserta yang lulus. Di sela-sela ia

melengkapi dan menyetorkan berkasnya. Kim ditelepon

oleh May jika perasaannya seperti sudah akan

melahirkan. Kim pun segera bersiap mengunjungi May

setelah semua berkasnya sudah beres. Ia pun melaju

dengan sepeda motornya menuju kampung jawa.

Sesampainya di kampung Jawa, Kim terus berdoa

semoga proses persalinan dilancarkan. Sepanjang

malam May terus merintih kesakitan, akhirnya momen

yang ditunggu-tunggu lahirlah seorang bayi laki-laki

tepatnya sabtu tanggal 27 Desember 2008.

Kegembiraan terpancar di wajah keluarga kecil itu, dan

segeralah Kim mengumandangkan adzan di telinga

anaknya.

Kegembiraan mereka tak cukup sampai disitu,

(33)

30 sebagai ucapan selamat atas kelahiran putera pertama

dan atas kelulusannya. Ternyata beberapa teman

memberi informasi kelulusan Kim yang juga

dinyatakan lulus sebagai CPNS di Pemerintah Provinsi

Sulawesi Barat. Benar-benar Kegembiraan yang

terakumulasi dari usaha-usaha yang terakumulasi.

Mereka pun tidak dapat menyembunyikan

kegembiraannya. Baginya Allah sudah menjawab

semua usaha dan doanya. Tetapi Kim harus memilih

diantara satu tempat ia dinyatakan lulus, ia pun harus

mengundurkan diri di salah satunya agar memberi

peluang kepada yang lainnya untuk menggantikan

formasinya. Kim lebih memilih di Kabupaten saja

karena berkasnya sudah masuk dan baginya itu

merupakan rezeki dan tak boleh disesali kemudian hari.

Beberapa waktu kemudian, Kim memboyong

keluarga kecilnya ke Mamuju. Ia pun memutuskan

tinggal di tempat baru karena kontrakan sebelumnya

sudah selesai. Kim tinggal di rumah dinas sekolah yang

tidak digunakan lagi, atas anjuran Aan. Di sekolah itu

ada beberapa rumah dinas yang kosong dan tidak

ditempati orang. Kepala sekolah memberinya izin

untuk tinggal di rumah dinas itu secara gratis asalkan

Kim memperbaiki sebagian bagian bangunannya yang

rusak. Tak masalah buat Kim beserta keluarga

kecilnya yang sudah terbiasa dengan keadaan

(34)

31 Penempatan tugas baru Kim tidak jauh dari

puskesmas sebelumnya, di puskesmas itu Kim kembali

bertemu Randy yang lebih dahulu pindah dari

puskesmas sebelumnya. Allah memang punya maksud

dengan mempertemukan mereka kembali, namun yang

terjadi mereka pun tetap tidak saling menyapa. Kim

juga merasa sudah terlanjur tersakiti akibat fitnah

yang telah disebar Randy yang berakibat Kim bersama

May dipojokkan oleh teman-temannya waktu itu.

Namun semuanya sudah jelas atas bantuan

teman-temannya juga. Merasa risih dan malu atas

penempatan Kim ditempat yang sama dengannya,

Randy pun mengajukan pindah ke kampung

halamannya di Kabupaten Polman.

Randy sebelumnya telah bercerai dengan

istrinya lantaran diterpa isu perselingkuhan dengan

salah seorang bidan desa. Namun, beberapa orang

tidak menyangkalnya termasuk sebenarnya Kim dan

para sahabatnya karena sudah menyaksikan langsung.

Ini pun yang juga menjadi kekecewaan para Ninja, yang

harus rela menyembunyikan rahasia ini begitu lama,

namun dikecewakan Randy. Lalu Randy pun menjual

rumahnya lalu pindah tugas ke Polman.

Kini Kim dan keluarga kecilnya hidup tenang

dan damai tinggal di tempat barunya. Mereka memiliki

keluarga baru yaitu tetangga-tetangga yang ramah,

(35)

32 seperti keluarga sendiri. Zikra putera pertama Kim

juga dibesarkan di lingkungan mereka.

Di tahun berikutnya, pendaftaran CPNS kembali

dibuka. May pun berharap tahun itu menjadi tahun

keberuntungannya bisa diterima menjadi CPNS.

Keberuntungan pun bersambut, May dinyatakan lulus

sebagai CPNS Pemkab Mamuju. Penempatan tugas May

di puskesmas yang jaraknya kurang lebih 7 km dari

Ibu kota Kabupaten, namun sekitar 10 km dari tempat

tinggalnya. Keduanya pun bekerja sebagai PNS yang

sebelumnya keduanya juga tenaga sukarela di

puskesmas. Akhirnya semua terjawab oleh Allah swt

atas usahanya. Baginya Tak ada keberuntungan tanpa

usaha, karena keberuntungan itu adalah akumulasi

usaha yang lalu.

Setahun setelah Kim bertugas di puskesmas, ia

pun di tarik penugasannya ke kota untuk

melaksanakan sebuah program baru di kantor.

Berjalan dua tahun lebih Kim pulang-pergi tiap hari

dari kota tempat tugasnya ketempat tinggalnya, ia pun

merasa sudah mulai keletihan dan akhirnya Kim dan

May memutuskan untuk membeli rumah di Ibu Kota

Kabupaten. Karena ia juga merasa tidak boleh terlena

tinggal gratis di rumah dinas yang bukan milik

pribadinya. Baginya Barang milik negara untuk

(36)

33 Setahun kemudian lahir kembali anak mereka

yang kedua seorang puteri cantik diberi nama Zayyan.

Lengkaplah sudah kebahagiaan mereka. Setelah

Zayyan berumur sebulan mereka pun memutuskan

untuk segera pindah ke kota. Kepindahan mereka ke

kota sontak mendapat respon sedih tetangganya.

Keakraban seperti keluarga sudah terbina begitu erat.

Tak sedikit dari mereka yang mengantarkan keluarga

Kim pindah ke kota. Itulah anugerah terindah yang

dirasakan keluarga kecil Kim dan May. “Perjalanan dan

Penantian Panjang mengajarkan kita untuk terus

bersabar hingga Keberuntungan itu datang”.

Di tahun 2013, Kim mengajukan permohonan

untuk melanjutkan pendidikan strata satu di Fakultas

Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin sebagai

mahasiswa tugas belajar, akhirnya Kim diterima

kuliah. Harapannya kini sudah terbayar, kini ia pun

merasakan kuliah di tempat yang di idamkannya,

walaupun pernah dua kali gagal ingin masuk ke FKM

Unhas. Masih ada lagi impian dan harapan yang belum

terwujud, seperti apa?

(37)

34 “Jangan pernah takut untuk memiliki impian, asalkan dibarengi dengan usaha dan doa pasti terwujud

dan tidak mengubur impian itu hingga benar-benar

terwujud”

“Masih ada impian dan harapan di masa depan

yang ingin kita wujudkan beserta cerita baru menarik

(38)

35 INFORMASI SINGKAT

Lahir di Arasoe Kabupaten Bone Sulawesi

Selatan, 6 Desember 1982. Pendidikan

Dasar di SDN 199 Arasoe tahun 1995

kemudian menyelesaikan pendidikan tingkat SLTP di MTS Ma‟had Hadits Biru Kabupaten Bone tahun 1998, tingkat SLTA di MAN 1

Watampone pada tahun 2001. Kemudian Melanjutkan

pendidikan Diploma tiga di Politeknik Kesehatan Makassar

pada tahun 2002. Pendidikan terakhir di FKM-Universitas

Hasanuddin 2015. Bertugas sebagai PTT Daerah terpencil,

tertinggal dan perbatasan di puskesmas Tampa Padang

Kecamatan Kalukku Kabupaten Mamuju pada tahun 2007.

Kemudian diangkat menjadi CPNS di Puskesmas

Ranga-Ranga Kecamatan Kalukku Kabupaten Mamuju pada tahun

2009. Bertugas di Dinas Kesehatan tahun 2010-2013 di

Bidang P2PL dan 2015-sekarang di Bidang Promosi

Kesehatan. Semoga bermanfaat dan Terima kasih .

Referensi

Dokumen terkait

Penilaian LKS dan media penunjang dimintakan kepada pakar dan praktisi berkaitan dengan kelayakan LKS dan media penunjang yang dikembangkan. Hasil penilaian berupa saran

Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 kepada Perwakilan Negara Asing

penyebab terbesar depresi adalah gangguan fisik (penyakit) yang diderita oleh lansia melalui penelitian Meldom dkk (1997) bahwa 33 orang lansia (65,51%). mengaku memiiiki

Pada peubah akumulasi C organik dan N, bibit kayu kuku yang diinokulasi FMA-KG dan FMA-UHO memiliki akumulasi hara terbanyak, dengan peningkatan masing-masing 282% dan 269%

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terbaik hidrolisis enzim yaitu pada konsentrasi enzim selulase 5% v/v selama 12 jam pada hidrolisat asam sulfat 1%

Manfaat dari kerja sama yang saling ketergantungan antarsiswa di dalam pembelajaran kooperatif berasal dari empat faktor diungkapkan oleh Slavin (dalam Eggen dan Kauchak, 2012:

Penelitian ini disusun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana pada Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,

Penatalaksanaan: Penatalaksanaan otitis media akut dengan komplikasi intrakranial dan intratemporal mencakup pemberian antibiotik empiris, analgetik, anti-inflamasi dan