• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas dan Tanggung Jawab Mahasiswa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tugas dan Tanggung Jawab Mahasiswa"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas dan Tanggung Jawab Mahasiswa

Oleh: Ziaulhaq

Pendahuluan

Secara konvensional dapat disebut mahasiswa adalah merupakan generasi muda yang belajar dan beraktifitas di Perguruan Tinggi. Penegasan bahwa

mahasiswa merupakan orang-orang yang belajar di Perguruan Tinggi jelas menempatkan posisi mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat Perguruan Tinggi, yang merupakan tempat segala bentuk ilmu diproduksi. Makanya kita juga sering mendengar mahasiswa disebut sebagai masyarakat ilmiah; masyakat ilmu pengetahuan; masyarakat intelektual dan lain sebagainya.

Sebagai bagian dari masyarakat ilmu pengetahuan tentu sejatinya tugas utama mahasiswa adalah belajar dan merangkai ilmu sesuai dengan tujuan ilmu untuk menjadi “rahmat” bagi kehidupan. Sebab, tidak ada yang membantah bahwa hanya dengan ilmu pengetahuan lah kehidupan ini dapat dijalankan secara maksimal. Begitu juga besar pengharapan masyarakat ke kampus-kampus untuk mendidik anak-anak mereka menjadi orang yang berilmu pengetahuan, yang diharapkan mampu melakukan perbaikan dalam kehidupan ini dan menaikan status sosial keluarga.

Selain itu, menarik untuk dikemukan selain tugas utama mahasiswa adalah belajar juga harus diakui bahwa mahasiswa juga merupakan bagian dari warganegara bangsa ini yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warganegara lainnya, yaitu hak untuk berbicara, hak untuk mendapatkan keadilan dan tentu hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Adanya kesadaran bahwa mahasiswa selain sebagai pelajar dan sekaligus bagian dari warganegara inilah diharapkan sikap ideal dalam memenuhi tugas dan tanggung jawabnya mahasiswa.

Tugas dan Tanggung Jawab

Mahasiswa sebagai masyarakat intelektual dan sekaligus sebagai warganegara tentu saja memiliki tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan. Sebab, idealnya mahasiswa dituntut bukan hanya untuk cerdas dalam belajar, tetapi lebih dari pada itu juga harus kritis terhadap kenyataan sosial yang ada. Kenyataan inilah, makanya mahasiswa disebut sebagai agent of change

meminjam istilah Auguste Comte atau agent of modernization dalam istilah lain Ali Syariati. Sebab, secara regeneratif segala bentuk kenyataan yang ada hari ini

 Disampaikan dalam diskusi “Membangun Karakter Politik yang Santun dan

Bermartabat” di Fakultas Syariah IAIN SU Tanggal 19 September 2011.  Dosen Fakultas Dakwah IAIN SU

(2)

pasti diwariskan kepada mahasiswa yang memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai penggagas ide bagi kemajuan kehidupan sosial dan berbangsa.

Sejarah juga mencatat bahwa peran mahasiswa juga sangat besar dalam proses reformasi kehidupan berbangsa. Untuk menyebut misalnya beberapa peristiwa penting reformasi negara-negara juga diperankan oleh mahasiwa, di antaranya seperti Juan Peron di Argentina tahun 1955; Perez Jimenez di

Venezuela tahun 1958; Soekarno di Indonesia tahun 1966; Ayub Khan di Paksitan tahun 1969; Reza Pahlevi di Iran tahun 1979; Chun Doo Hwan di Korea Selatan tahun 1987; Ferdinand Marcos di Filipinan tahun 1985 dan Soeharto di Indonesia tahun 1998.1

Tentu saja kita harus jujur mempertanyakan, mampukan mahasiswa-mahasiswa hari ini untuk menunaikan tugas dan tanggung jawabnya itu, terutama ketika pragmatisme dan materialisme merasuki dunia kampus yang membuahkan sikap anarkisme? Tampaknya kenyataan menunjukkan bahwa beberapa tahun terakhir ini, terutama ketika pasca reformasi tugas dan tanggung jawab ini seakan terabaikan mahasiswa. Sebab, harus kita sesalkan bahwa media masa, baik cetak atupun elektronik hanya melaporkan sikap anarkisme yang diiklan para

mahasiswa, yang justeru terkesan mengotori semangat reformasi yang digaungkan.

Kenyataan ini tentu tidak dapat kita pungkiri bahwa bukan hanya secara projetatif media masa menyebutkan adanya anarkisme itu di kalangan mahasiswa, tetapi kenyataan menunjukkan kepada kita justeru hampir setiap kampus kita menyaksikan itu bahwa itu benar-benar ada. Hal ini adalah sesuatu yang sangat kontradiktif dengan tugas utama mahasiswa sebagai masyarakat kampus, yang seharusnya tugasnya belajar untuk menjadi calon-calon ilmuan. Namun, justeru lebih banyak mengabiskan waktunya hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak relevan dengan keilmuan yang diajarkan di Perguruan Tinggi.

Tampaknya, kita harus menegaskan kembali tugas primer mahasiswa meminjam istilah Arief Budiman bahwa “mahasiswa adalah orang yang belajar di sekolah tingkat Perguruan Tinggi untuk mempersiapkan dirinya bagi suatu keahlian tingkat sarjana. Itulah yang pertama dan utama tugas bagi para mahasiswa.Bahwa dia juga aktif sebagai aktifis atau senang pada kesenian, itu adalah fungsi sekundernya. Demikian juga bila dia senang pada persoalan-persoalan politik, itu adalah fungsi sekundernya, yang pertama dan yang utama tugasnya ialah mempersiapkan diri untuk suatu keahlian tertentu”.2

Berdasarkan kenyataan ini, tentu saja semua kita akan sepakat apa yang disebut Arief Budiman bahwa tugas utama mahasiswa adalah belajar. Namun,

1Aswab Mahasin dan Ismed Natsir, ed., Cendikiawan dan Politik (Jakarta: LP3ES, 1983), h. 150.

2Arief Budiman, Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005

(Jakarta: Pustaka Alvabet dan Freedom Institute, 2006), h. 251.

(3)

kenyataan menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran dari tugas primer menjadi tugas skunder dan sebaliknya tugas skunder menjadi primer. Atau dalam

kenyataan lain kita juga menyaksikan justeru adanya kesan over fuction

mahasiswa menjadi agen-agen kepentingan tertentu sehingga mengabaikan tugas primernya untuk belajar.

Pada dasarnya, tidak diragukan lagi bahwa tanggung jawab terhadap kenyataan kehidupan itu juga merupakan bagian dari tanggung jawab mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dalam kehidupan bangsa ini. Tampaknya, beberapa gejolak yang terjadi di kampus—secara positif dapat dikatakan—hal itu juga merupakan bagian dari ungkapan dari tanggung jawab mahasiswa terhadap bangsa ini.3 Namun, gejolak itu tentu saja idealnya tanpa harus dimuati anarkisme. Sebab, anarkisme bukanlah dari jati diri mahasiswa yang

sesungguhnya dan justeru kita melihat adanya kesan “tumpangan” politik pihak-pihak tertentu di dalamnya, yang terkadang disadari atau tidak oleh mahasiswa dijadikan sebagai alat pressure group (group penekan) untu memuluskan kepentingan tertentu.

Idealnya tentu saja menurut Jusuf A Feisal adalah bahwa mahasiswa dalam konteks tanggung jawab ini minimal harus mampu menuntut dan membantu mahasiswa dalam usaha memenuhi hal-hal: a) pengembangan pemikiran dan penalaran mahasiswa (structured ideas and reasoning); b) minat dan kegemaran mahasiswa (student interest); dan c) kesejahteraan mahasiswa (student walfare).4 Karena memang ketiga hal ini seharusnya menjadi fokus utama mahasiswa sebagai penunjang setiap aktifitas yang dilakukan, baik itu dalam proses pemenuhan tugas ataupun tanggung jawabnya.

Untuk itu, sejatinya mahasiswa harus menjadi insan-insan yang visioner,5 yaitu manusia yang berwawasan ke depan, yang berani bermimpi untuk

membentangkan cita-cita yang luhur sejalan dengan semangat keilmuan yang diterimanya di kampus. Bagi orang yang visioner mimpi menjadi energi dahsyat untuk menggerakkannya menjadi kondisi luar biasa yang sesuai dengan

mimpinya. Sebab itu, visioner juga artinya tidak bergantung kepada orang lain, yaitu mandiri dalam berpikir dan mandiri dalam bertindak, itu semua dibentuk di dalam kampus dan tentu saja berakhlak luhur merupakan inti dari semua itu.

Penutup

Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa tugas primer mahasiswa adalah belajar secara serius dengan mentotalkan diri. Hal ini berkaitan khusus

3H.A.R. Tilaar, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif

Abad 21 (Magelang: IndonesiaTera, 1998), h. 183.

4Jusuf A Feisal, Reorientasi Pendidikan Islam (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), h. 224. 5Ahmad Sutardi dan Endang Budiasih, Mahasiswa Tidak Memble: Siap Ambil Alih

Kekuasaan Nasional (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2010), h. 79.

(4)

dengan entitas mahasiswa yang merupakan calon-calon ilmuan, yaitu orang-orang yang bekerja dengan ilmu. Sedangkan tanggung jawab mahasiswa sebagai bagian dari bangsa ini, tentu saja harus berperan aktif dalam menyuarakan kepentingan kehidupan berbangsa, terutama lagi bagi perbaikan kehidupan sosial kemasyarakatan.[z]

Kampus IAIN SU, 19 September 2011.

Referensi

Dokumen terkait

KAJIAN TUGAS AKHIR STRATA SATU (S1)  FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS INDONESIA Shinta T. Effendy 1 , Rahmat M. Samik­Ibrahim 2

Menunjuk surat Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) Tingkat Nasional Nomor : ST/14/XII/2013 Tanggal 28 Desember 2012 tentang Ketentuan Pokok STQ Nasional

Karena itu penelitian ini akan mengangkat judul “Hubungan Impulsiveness dan Perilaku Prokrastinasi pada Mahasiswa Universitas Airlangga yang Sedang Mengerjakan Tugas

Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah guru bahasa Indonesia yang mengajar di SMA Negeri 2 Bandar Lampung dan siswa kelas X IPA 3 SMA Negeri 2

Jadi adanya bakteri tersebut pada air atau makanan menunjukkan bahwa dalam tahap pengolahan air atau makanan pernah dicemari dengan kotoran yang berasal dari usus manusia dan

Penting penulis tegaskan di akhir, paper ini melakukan eksplorasi khusus dalam bidang studi-studi keislamam (islamic studies), sehingga menimbang dominasi dan

Untuk kebanyakan pasien, eksisi yang tepat adalah hemikolektomi kiri atau kanan, tetapi pada beberapa pasien dengan beberapa adenoma dan pasien muda dengan

Agar hasil analisis mempunyai kualitas yang baik maka diperlukan suatu model evaluasi proses acquisisi pada rekaman percakapan (metadata) yang terpengaruh noise, maka