• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERFORMANCE KERJA DOSEN SARANA PEMBELAJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERFORMANCE KERJA DOSEN SARANA PEMBELAJA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL PENELITIAN

(2)

KONTRIBUSI PERFORMANCE KERJA DOSEN, SARANA PEMBELAJARAN, DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP SIKAP BELAJAR MAHASISWA

Erman Sepniagus Saragih

Program Studi Pendidikan Agama Kristen Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

ABSTRACT

Erman, Sepniagus Saragih. 2013. The Contribution Performance Work Lecturer, Means Learning and Motivation Attitude Toward Student Learning Prodi PAK Divinity School North Sumatra (STTSU) TP. 2013/2014

Keywords: Job Performance Lecturer, Means Learning, Motivation and Attitude Study.

(3)

PENDAHULUAN

Tuntutan untuk menghasilkan dan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas menjadi hal penting bagi setiap negara. Kondisi tersebut apabila tidak dicermati oleh suatu negara akan membawa bencana untuk masa depan negara itu. Persaingan kualitas sumber daya manusia global menjadi isu yang menarik untuk diperbincangkan karena berpengaruh pada kondisi kesejahteraan di suatu negara.

Oleh karena itu sangat penting kualitas dan kompetensi sumber daya manusia yang dimiliki oleh suatu negara. Pembicaraan tersebut tidak akan lepas dari pendidikan sebagai aspek yang berfungsi untuk menghasilkan dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas di suatu negara. Melalui pendidikan, manusia Indonesia dipersiapkan untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, ahli dan terampil bekerja sehingga pada akhirnya mampu mendukung dan menyukseskan pembangunan nasional.

Sesuai dengan Undang-undang SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Selanjutnya pasal 1 menegaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, Masyarakat, Bangsa dan Negara.1 Maka pendidikan harus mampu menjawab carut-marutnya masyarakat terutama dibidang pengembangan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya dalam masyarakat, bangsa dan negara, karena pada dasarnya sebelum manusia berdosa, kehidupannya Allah sendiri yang menyediakan kebutuhan hidup mereka (Kej. 1: 28-31), tanpa diatur oleh ideal.2

Peran dunia pendidikan dalam menghasilkan lulusan yang kompeten masih diragukan oleh dunia kerja, tanpa terkecuali pendidikan keagamaan. Lulusan perguruan tinggi teologi hanya memiliki ijazah, namun tidak memiliki kompetensi. Akibatnya, mereka tidak memiliki posisi arah tujuan substansi SISDIKNAS maupun visi misi institusi yang bersangkutan. Pada prinsipnya setelah mereka tamat akan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan sebagai pengajar dalam ruang lingkup sebagai hamba Tuhan. Tetapi maraknya alumni Teologi yang dihasilkan setiap tahunnya, maka alumni Sekolah Tinggi Teologi harus mampu berdaya saing dengan alumni sekuler lainnya. Bukan berarti ketika kelak mereka selesai dalam perkuliahan, pada kenyataannya mereka ragu hendak melangkah kemana. Sikap tersebut merupakan hal yang sudah biasa terjadi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sikap merupakan perbuatan, perilaku yang berdasarkan pendirian, keyakinan; gerak-gerik.3 Dalam berbagai literatur kita menemukan bahwa sikap adalah kecenderungan seseorang untuk berbuat. Sikap sesungguhnya (attitude) berbeda dengan perbuatan, karena perbuatan merupakan implementasi atau wujud nyata dari sikap.4

Sebagai calon guru PAK perlu menyadari bahwa profesi yang ia emban adalah panggilan khusus dari Tuhan. Sebagaimana Yeremia terpanggil akan tugas khusus dari

1Undang-undang SISDIKNAS, Tahun 2012

2Saur Hasugian., dalam ceramah Seminar Nasional Menciptakan Kehidupan Sosial Masyarakat Yang

Kondusif , 27 Pebruari 2013: Hotel Danau Toba 3KBBI., Jakarta: Balai Pustaka, 2007

(4)

TUHAN. Ia merasa rendah diri akan panggilan itu dengan menyadari kekurangannya dalam berbicara dan usianya yang masih muda. Tetapi TUHAN mau supaya Yeremia bersikap taat, berani, dan percaya akan panggilan tugas tersebut (Yer. 1: 4-9), demikian juga Musa (Kel. 3; 4). Sikap seseorang akan tercermin melalui tindakannya. Artinya jika ia menyadari akan panggilan khusus padanya maka ia juga harus belajar dari sikap Yeremia dan Musa saat dipanggil Tuhan. Sebagai contoh, ketika seorang mahasiswa merasa tertarik untuk mempelajari suatu mata pelajaran tertentu, maka dalam dirinya sudah ada keinginan untuk menerima atau menolak pelajaran tersebut, walaupun waktu itu belum dimulai atau dilaksanakan kegiatan pembelajaran. Bilamana seseorang menyenangi sesuatu, maka ia akan menerima, dan pada gilirannya akan bersedia melakukan tersebut. Tetapi sebaliknya bilamana seseorang memiliki sikap tidak senang dengan belajar, maka ia akan menolak, dan pada gilirannya ia tidak bersedia untuk melakukan atau mengabaikan kesempatan untuk melakukan kegiatan tersebut.

Sikap merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran dan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar yang akan diperoleh mahasiswa. Setiap mahasiswa memiliki karakteristik yang berbeda, begitu pula dengan kecenderungan sikap yang dimilikinya.

Sebagaimana yang kita ketahui, pembelajaran merupakan segala usaha yang dilakukan seorang pendidik agar terjadi belajar pada diri mahasiswanya. Sedangkan belajar adalah proses perubahan sikap. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif. Dalam kegiatan belajar, sikap mahasiswa dalam proses belajar terutama sekali ketika memulai kegiatan belajar merupakan bagian penting untuk diperhatikan karena aktivitas belajar mahasiswa selanjutnya banyak ditentukan oleh sikap mahasiswa ketika akan memulai kegiatan belajar. Bilamana ketika akan memulai kegiatan mengajar siswa memiliki sikap menerima atau ada kesediaan emosional untuk belajar, maka ia akan cenderung untuk berusaha terlibat dalam kegiatan belajar dengan baik. Namun kenyataannya mahasiswa STTSU lebih dominan adalah sikap menolak sebelum belajar atau ketika akan memulai pelajaran, dimana mahasiswa cenderung kurang memperhatikan atau mengikuti kegiatan belajar. Saya perhatikan sikap dan minat belajar mahasiswa prodi PAK STTSU cenderung rendah , ujar Albet Saragih, MA., M.Pd.K selaku ketua program studi PAK di STTSU.5Sikap mereka juga nampak dari cara mengikuti pelajaran, bersikap acuh terhadap aktivitas belajar dan mereka senang jika dosen tidak datang/berhalangan untuk mengajar. Mereka memilih bercanda-gurau (gosip) dari pada berdiskusi saat sebelum masuk kelas. Sebagian acuh dengan penjelasan guru, tidak serius ketika bertanya/mengemukakan pendapat, mengerjakan tugas berprinsip asal jadi (copy-paste dari internet), dalam hal ini siswa tidak berupaya menyelesaikan tugas sesuai dengan kapasitas kemampuan optimalnya. Mahasiswa jarang menggunakan perpustakaan sebagai sumber atau sarana belajar, hal tersebut peneliti peroleh ketika melihat buku tamu perpustakaan. Dimana jumlah keseluruhan mahasiswa prodi PAK sebanyak 192 orang (semester I s/d VIII) tetapi pada TP. 2012/2013 yang menggunakan perpustakaan hanya ±10 % saja yakni 18-25 orang/perbulan. Pengunjung perpustakaan

meningkat ketika ada tugas meringkas atau membuat makalah dari dosen tertentu , ujar Ibu Tiobunga Sihotang selaku ketua perpustakaan STTSU.6

5Wawancara dilakukan peneliti untuk memastikan sikap belajar mahasiswa prodi PAK STTSU Medan pada tanggal 4 Mei 2013.

(5)

Dari pengamatan tersebut peneliti melihat kesenjangan sikap belajar mahasiswa STTSU yang cenderung rendah. Karena itu disarankan agar dosen dapat mencermati secara sungguh-sungguh sikap mahasiswa, memberi kesan positif tentang belajar termasuk manfaat bagi mahasiswa dalam kaitan dengan pencapaian hasil belajar yang lebih baik dan mencapai cita-cita yang mereka diinginkan.

Kata pendidikan tidak terlepas dari profesi mengajar baik guru atau dosen.

Kedudukan seorang dosen sangat penting dalam mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran mahasiswanya, tidak mengherankan apabila semua pihak baik dari pemerintah, orang tua mahasiswa serta lainnya sangat memperhatikan terhadap mutu pendidikan yang harus mengarah pada kemampuan seorang dosen.7 Banyak dosen saat ini tidak displin, baik dalam persiapan pembelajaran di kelas, disiplin waktu pembelajaran karena mengejar target untuk mengajar di tempat lain. Karena tingginya jadwal pengajaran dosen atau kesibukan dosen maka waktu kedatangan dan waktu pulang tidak sesuai lagi dengan kontrak perkuliahan. Mungkin faktor penyebabnya adalah kurangnya kesejahteraan dosen tersebut atau mungkin juga besarnya keinginan untuk mencapai standar taraf hidup dosen dalam era modern ini. Mari kita bertanya kepada hati nurani kita masing-masing.

Karena kurangnya pencapaian kualitas performance dosen, tentu hal ini sangat mempengaruhi sikap belajar mahasiswa, pemahaman mahasiswa akan materi pembelajaran dan prestasi kompetensi pembelajaran mahasiswa itu sendiri.

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi belajar mahasiswa, yang secara garis besar dapat dikategorikan menjadi 2 (dua) yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor dari dalam diri siswa yang meliputi kondisi fisiologis dan psikologis siswa. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor dari luar diri siswa, yang meliputi kondisi lingkungan sosial dan nonsosial. Faktor dari dalam diri mahasiswa meliputi motivasi belajar, sikap ketekunan, faktor fisik dan psikis. Sedangkan faktor dari luar diri mahasiswa di antaranya meliputi kondisi lingkungan sosial dan nonsosial.8 Jika kedua faktor di atas dapat disentuh dengan baik, maka out put pembelajaran akan mencapai kompetensi yang ditentukan. Ada juga dosen yang tidak mewujudkan kreativitas dan penguasaan kelas dalam proses pembelajaran. Mereka hanya menyediakan sarana pembelajaran yang umum saja, seperti buku sumber belajar. Padahal sarana pembelajaran tidak kalah penting dengan ceramah yang dosen lakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Di sisi lain ada juga dosen tradisional, yang tidak mau membuka diri untuk mempergunakan IT (e-learning) supaya proses pembelajaran sangat menarik dan hidup. Misalnya dengan audiovisual, tentu hal ini juga membantu mahasiswa untuk lebih mengenal materi pembelajaran, dan penguasaan kelas.

Secara institusional, STTSU Medan berusaha menghasilkan lulusan yang profesional dan berdaya saing, sesuai dengan visi dan misinya. Ini bisa dilihat dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler seperti Badan Misi Mahasiswa (BMM), team paduan suara (adoremuste; sembah bagi Allah) dan lain sebagainya. Hal ini merupakan pewujudan tujuan utama mendirikan IAKPSU yang sekarang dikenal dengan nama STTSU dimana tujuan tesebut ialah membentuk manusia susila bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahas Esa, berjiwa luhur dan bertanggung jawab terhadap pembangunan dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi kepentingan Bangsa dan Negara Republik Indonesia. STTSU merupakan Lembaga Pendidikan Tinggi yang membentuk manusia Indonesia yang terampil dengan terciptanya keterpaduan dan keselarasan antara pendidikan umum dan kejuruan, latihan kerja dan ketrampilan, serta pendidikan latihan antara lain dalam syarat mutu dan pengelolaannya.9

Jika melihat kebelangkang (evaluasi), jujur ini belumlah terwujud dengan sempurna (100%), maka berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas, maka peneliti terbeban untuk

7Opcit., http://ejournal.gunadarma.ac.id/file.pdf

(6)

melihat dan mengadakan penelitian sebahagian unsur-unsur pendukung akademis untuk pencapaian tujuan tersebut yaitu; Performance Kerja Dosen, Sarana Pembelajaran dan Motivasi Belajar terhadap Sikap Belajar Mahasiswa Prodi PAK STTSU Medan.

PERMASALAHAN

Perumusan masalah merupakan hasil dari pemahaman yang jelas atas suatu masalah, dan merupakan langkah akhir dari penentuan suatu masalah setelah diidentifikasi dan dibatasi, sehingga dapat dipastikan bahwa peneliti benar-benar memahami duduk permasalahan dengan benar dan mampu melihatnya secara objektif. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Berapa besar tingkat kontribusi persepsi mahasiswa tentang performance kerja dosen STTSU terhadap sikap belajar mahasiswa/i tingkat III prodi PAK STTSU? b. Berapa besar tingkat kontribusi persepsi mahasiswa tentang sarana pembelajaran

terhadap sikap belajar mahasiswa/i tingkat III prodi PAK STTSU?

c. Berapa besar tingkat kontribusi persepsi mahasiswa tentang motivasi belajar terhadap sikap belajar mahasiswa/i tingkat III prodi PAK STTSU?

d. Berapa besar tingkat kontribusi persepsi mahasiswa tentang performance kerja dosen, sarana pembelajaran, dan motivasi belajar secara bersama-sama terhadap sikap belajar mahasiswa/i tingkat III prodi PAK STTSU?

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan juga dapat disimpulkan sebagai sasaran yang harus dicapai oleh setiap penelitian. Demikian juga dalam penelitian ini yang menjadi tujuannya adalah:

a. Untuk mengetahui jumlah tingkat kontribusi persepsi mahasiswa tentang performance kerja dosen STTSU terhadap sikap belajar mahasiswa/I tingkat III prodi PAK STTSU.

b. Untuk mengetahui jumlah tingkat kontribusi persepsi mahasiswa tentang sarana pembelajaran terhadap sikap belajar mahasiswa/i tingkat III prodi PAK STTSU. c. Untuk mengetahui jumlah tingkat kontribusi persepsi mahasiswa tentang motivasi

belajar terhadap sikap belajar mahasiswa/i tingkat III prodi PAK STTSU.

d. Untuk mengetahui jumlah tingkat kontribusi persepsi mahasiswa tentang performance kerja dosen, sarana pembelajaran dan motivasi belajar secara bersama-sama terhadap sikap belajar mahasiswa/i tingkat III prodi PAK STTSU.

KAJIAN TEORI 1. Sikap Belajar

Sikap belajar mempengaruhi intensitas seseorang dalam belajar. Bila sikap belajar positif, maka kegiatan intensitas belajar yang lebih tinggi. Bila sikap belajar negatif, maka akan terjadi hal yang sebaliknya. Sikap belajar yang positif dapat disamakan dengan minat, minat akan memperlancar proses belajar mahasiswa. Karena belajar akan terjadi secara optimal dalam diri mahasiswa apabila ia memiliki minat untuk mempelajari sesuatu. Mahasiswa yang sikap belajarnya positif akan belajar dengan aktif.

Dalam proses belajar sikap berfungsi sebagai Dynamic force maksudnya sebagai kekuatan yang akan menggerakkan seseorang untuk belajar. Jadi mahasiswa yang sikapnya negatif (menolak/tidak senang) terhadap materi atau dosen tidak akan tergerak untuk belajar, sedangkan mahasiswa yang memiliki sikap positif (menerima/suka) akan digerakkan oleh sikapnya yang positif itu untuk mau belajar.

(7)

masalah-masalah belajar baik intern maupun ekstern dapat dikaji dari dimensi dosen maupun dari dimensi mahasiswa. Sedangkan dikaji dari tahapannya, masalah belajar dapat terjadi pada waktu sebelum belajar, selama proses belajar dan sesudah belajar.

Dari dimensi siswa, masalah-masalah belajar yang dapat muncul sebelum kegiatan belajar dapat berhubungan dengan karakteristik/ciri siswa, baik berkenan dengan minat, kecakapan, maupun pengelaman-pengalaman. Selama proses belajar, masalah belajar sering berkaitan dengan sikap terhadap belajar, motivasi, konsentrasi, pengolahan pesan pembelajaran, menyimpan pesan, menggali kembali pesan yang telah tersimpan, unjuk hasil belajar. Sesudah belajar, masalah belajar dimungkinkan berkaitan dengan penerapan prestasi atau ketrampilan yang sudah diperoleh melalui proses belajar sebelumnya.

Berbagai definisi tentang sikap yang telah dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah Mueller yang menyampaikan 5 definisi dari 5 ahli, adalah sebagai berikut :

Sikap adalah afeksi untuk atau melawan, penilaian tentang suka atau tidak suka akan tanggapan positif/negatif terhadap suatu obyek psikologis (thurstone). Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak ke arah atau melawan suatu faktor lingkungan (Emory Bogardus). Sikap adalah kesiapsiagaan mental atau saraf (Golden Allport). Sikap adalah konsistensi dalam tanggapan terhadap obyek-obyek sosial (Donald Cambell). Sikap merupakan tanggapan tersebunyi yang ditimbulkan oleh suatu niai (Ralp Linton, ahli antropologi kebudayaan). Berdasarkan definisi di atas, para ahli menyimpulkan bahwa sikap mempunyai 3 komponen penting, yaitu komponen : (1) kognisi yang berhubungan dengan kepercayaan, ide dan konsep; (2) afeksi yang mencakup perasaan seseorang; dan (3) konasi yang merupakan kecenderungan bertingkah laku atau yang akan dilakukan. Oleh karena itu ketiga komponen ini dimasukkan di dalam format kisi-kisi sikap belajar siswa seperti contoh berikut. Definisi operasional sikap belajar adalah kecenderungan bertindak dalam perubahan tingkah laku melalui latihan dan pengalaman dari keadaan tidak tahu menjadi tahu yang dapat diukur melalui: toleransi, kebersamaan dan gotong royong, rasa kesetiakawanan dan kejujuran.

Menurut Krech, Allport dan campbell dalam Mar at (1982 : 9) mendefenisikan sikap sebagai berikut :

Sikap adalah sistim yang abadi terhadap penilaian yang positif atau negatif, perasaan emosional dan tendensi untuk memberikan respek terhadap suatu objek. Sikap adalah kesiapan mental terorganisasi melalui pengalaman, digunakan untuk mengetahui respon seseorang terhadap semua objek dan situasi. Sikap seseorang individu adalah kemantapan bertindak atau memberikan respon terhadap suatu objek.

Hal senada juga dikemukakan oleh Rachman Natawijaya mengenai sikap:

Sikap adalah kesediaan mental individu yang mempengaruhi, mewarnai bahkan menentukan kegiatan individu yang bersangkutan dalam memberikan respon terhadap objek atau situasi yang memberikan arti baginya. Kesediaan ini mungkin dinyatakan dalam kegiatan (perbuatan atau perkataan) atau merupakan kekuatan laten yang kadang-kadang tersalurkan.10

Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan sikap adalah pola, tingkah laku dan kesiapan mental seseorang yang mempengaruhi kegiatan dan perbuatan seseorang dalam bertindak. Salah satu faktor penting dalam kegiatan belajar adalah kondisi si pelajar sendiri. Hal ini mencakup banyak hal antara lain intelegensi, minat, bakat, motivasi, kondisi kesehatan dan sebagainya. Salah satu diantaranya yang tidak kalah penting ialah sikap pelajar itu sendiri.

(8)

2. Performance Kerja Dosen

Secara umum, penilaian kinerja merupakan kegiatan penting dalam kehidupan organisasi. Dengan penilaian pimpinan organisasi dapat mengetahui kinerja pegawainya. Menurut Marwansyah dan Mukaram mengemukakan bahwa; Tujuan umum sistem penilaian unjuk kerja adalah: untuk meningkatkan unjuk kerja karyawan dengan cara membantu mereka agar dapat menyadari dan menggunakan seluruh potensi mereka dalam mewujudkan tujuan-tujuan organisasi, dan untuk memberikan informasi kepada karyawan dan manajer sebagai dasar untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan.11

Standar kinerja menunjukkan sebagai tolok ukur dalam mengadakan perbandingan antara apa yang telah dilakukan dengan yang diharapkan, kaitannya dengan pekerjaan atau jabatan yang telah dipercayakan kepada seseorang. Standar dapat pula dijadikan ukuran dalam mengadakan pertanggungjawaban terhadap sesuatu yang telah dilakukan. Sejalan dengan itu; Mitchell menyatakan bahwa kinerja meliputi beberapa aspek, yaitu: quality of work, promptness, initiative, capability, and communication (mutu pekerjaan, ketepatan waktu, prakarsa, kemampuan, dan komunikasi). Kelima aspek tersebut dapat dijadikan ukuran dalam mengkaji kinerja dosen. Di samping itu, untuk mengadakan pengukuran terhadap kinerja diperlukan pengkajian khusus tentang kemampuan dan komunikasi.

Dari pandangan ini jelas bahwa kinerja itu hanya dapat diketahui dengan baik berdasarkan satu penilaian jika semua tugas yang akan dilaksanakan oleh seseorang benar-benar dapat dijabarkan dengan baik, dan dapat menggambarkan suatu keseluruhan tugas organisasi yang bersangkutan. Dengan kata lain, bahwa kinerja bukan saja menggambarkan satu bagian saja dari organisasi, tetapi secara keseluruhan.

Kedudukan seorang dosen sangat penting dalam mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran mahasiswanya, tidak mengherankan apabila semua pihak baik dari pemerintah, orang tua mahasiswa serta lainnya sangat memperhatikan terhadap mutu pendidikan yang harus mengarah pada kemampuan seorang dosen. Selanjutnya Mitchell mengemukakan kriteria kinerja yang sangat berguna, yang perlu dimiliki dosen, antara lain:12

a. Kemampuan intelektual. Kapasitas untuk berpikir secara logis, praktis dan analisis dan sesuai dengan konsep, begitu juga halnya kemampuan dalam mengungkapkan dirinya dengan jelas.

b. Ketegasan. Menganalisis kemungkinan dan memiliki komitmen terhadap pilihan yang pasti secara cepat atau singkat, cepat tanggap memiliki perencanaan karier yang pasti.

c. Semangat, antusias. Kapasitas untuk bekerja secara aktif tanpa mengenal lelah. Hal ini merupakan kecenderungan untuk mengungkapkan perilaku positif, emosi dan semangat.

d. Berorientasi pada hasil. Keinginan intrinsik dan memiliki komitmen untuk mencapai suatu hasil dan menyelesaikan apa yang telah dimulai olehnya.

e. Kedewasaan. Sikap dan perilaku yang pantas. Suatu kemampuan dalam melatih control emosi, dan disiplin diri.

f. Assersif. Suatu kemampuan untuk mengambil alih tanggung jawab)

g. Keterampilan interpersonal. Bersahabat, cepat tanggap, dan menekankan setiap orang untuk memberikan tanggapan. Suatu kecenderungan untuk memperhatikan dan menunjukkan perhatian, pemahaman, dan mempedulikan perasaan orang lain.

h. Keterbukaan. Kemampuan untuk mengungkapkan pendapat dan perasaan secara jujur, ada adanya dan bersikap langsung.

i. Keingintahuan. Suatu kemampuan untuk melakukan usaha-usaha yang rumit secara objektif dan singkat. Menilai suatu peristiwa atau seseorang.

(9)

j. Proaktif. Kemampuan untuk melakukan inisiatif sendiri, mengantisipasi permasalahan dan menerima tanggung jawab dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan. k. Pemberdayaan kemampuan. Kemampuan untuk mempercayai dan memberikan harapan, petunjuk-petunjuk dan kewenangan kepada yang lainnya untuk melaksanakan tanggung jawab masing-masing.

Sesuai dengan kajian teori dalam penelitian ini, maka penulis mensarikan konsep dasar dari beberapa topik penting yang berhubungan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian dalam karangan ilmiah ini. Berdasarkan kajian teori dari bab dua, dapat disimpulkan bahwa kinerja dosen merupakan ujung tombak dalam proses kegiatan belajar menganjar. Demikian juga dengan hasil penelitian yang relevan pada point d,e,j mengatakan bahwa performance kerja dosen memiliki pengaruh terhadap kinerja budaya mengajar sebesar 7,251. Maka dari konsep tersebut, timbul suatu dugaan bahwa performance kerja dosen memiliki kontribusi yang sangat berarti terhadap sikap belajar mahasiswa prodi PAK STTSU Medan.

3. Sarana Pembelajaran

Berbagai sarana dan fasilitas penunjang merupakan tempat untuk melaksanakan tiga kegiatan pokok berikut:13

a. Pendidikan dan pembelajaran berdasarkan prinsip belajar bagaimana belajar (learning to learn)

b. Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan keagamaan maupun teologi serta aplikasi dan pemanfaatannya dalam berbagai bidang.

c. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat

Untuk kebutuhan itu maka semua sarana dan fasilitasi penunjang (ruangan kuliah, laboratorium, perpustakaan, kantor, dan sebagainya) dalam kampus, dikondisikan sebagai tempat yang kondusif untuk:14

a. Belajar bagaimana seharusnya belajar (learning how to learn).

b. Mengembangkan ilmu pengetahuan melalui kegiatan perkuliahan, penelitian, penemuan ilmiah, dan terbitan ilmiah.

c. Melaksanakan proses sosialisasi masyarakat akademik melalui pertemuan informal, pertemual formal, baik yang terjadwal maupun yang tidak terjadwal.

d. Menyelenggarakan layanan jasa kepada dunia pendidikan khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Untuk mewujudkan itu maka secara kreatif, inovatif, dan proaktif, baik individual maupun secara kolektif akan melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui bidang keahlian yang dimiliki sehingga dapat memberikan layanan jasa berkualitas bagi custumers. Akan selalu diusahakan bahwa sekolah dan gereja sebagai pemakai jasa bidang pendidikan keagamaan diperlakukan sebagai mitra kerja jangka panjang yang merupkan bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan.

Sarana pembelajaran merupakan segala macam bentuk perangsangan dan alat yang disediakan guru atau dosen untuk mendorong siswa belajar. Dalam pembelajaran orang dewasa biasanya menggunakan alat bantu audiovisual. Alat bantu audiovisual merupakan sarana untuk memperlengakapi bahan cetakan atau ucapan dalam menularkan pengetahuan, konsep, dan ide, tetapi tidak direncanakan untuk mengganti buku atau sumber informasi lainnya. Alat bantu ini dimaksudkan agar proses belajar lebih menarik dan menyenangkan.15

Adapun manfaat alat bantu audiovisual dalam pengajaran; membantu memberikan

13Opcit 14Opcit

(10)

konsep pertama atau kesan yang benar, mendorong minat, meningkatkam pengertian yang lebih baik, melengkapi sumber belajar lain, menambah variasi metode mengajar, menghemat waktu, meningkatkan keingintahuan intelektual, cenderung mengurangi ucapan dan pengulangan kata yang tidak perlu, membuat ingatan terhadap pelajaran lebih lama dan dapat memberi konsep baru dari sesuatu diluar pengalaman biasa. Adapun sarana pembelajaran yang sering digunakan ialah; alat bantu audiovisual, film, slide, filmstrip, tape recorder, radio, televise, video tape, overhead projector, LCD projection panel, papan tulis, chart, peta, papan planel, pameran, dan benda.16

Berdasarkan kajian teori dalam bab dua dimana sarana belajar yang memadai ataupun yang mencukupi sangat mendukung sikap belajar. Demikian juga dengan hasil penelitian yang relevan pada point i mengatakan bahwa semakin baik Sarana dan Prasarana Sekolah maka akan menghasilkan Kinerja Guru yang tinggi. Berarti sarana pembelajaran dibenahi dengan baik/buruk maka sikap belajar mahasiswa/i STTSU Medan cenderung meningkat/rendah; Hal tersebut penulis rumuskan berdasarkan rumusan konsep atas variabel penelitian, dimana; sikap merupakan faktor internal psikologis yang sangat berperan dan akan mempengaruhi proses belajar. Maka dari konsep tersebut, timbul suatu dugaan bahwa sarana pembelajaran memiliki kontribusi yang sangat berarti terhadap sikap belajar mahasiswa prodi PAK STTSU Medan.

3. Motivasi Belajar

Dalam kegiatan belajar mengajar dapat dilihat dan diamati adanya tanda-tanda yang nampak bagi setiap siswa, motivasi belajar diantaranya ketekunan, keaktifan, keuletan dan mampu menyelesaikan masalah belajar dengan baik.

Salah satu ciri dari siswa yang memiliki motivasi belajar dapat diamati dalam kemampuan belajar mandiri, gigih dan bekerja keras, tidak lekas putus asa, senang mencari dan memecahkan soal-soal.

Pendapat di atas sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sardinian dalam bukunya Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar sebagai berikut:

1.Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sampai selesai). 2. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa), tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapainya). 3. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah untuk orang dewasa (misalnya, masalah pembangunan agama, politik, ekonomi, keadilan, pemberantasan korupsi, penentangan terhadap setiap tindak kriminal, amoral dan sebagainya). 4. Lebih senang bekerja mandiri. 5. Cepat bosan pada tugas-tugas rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif). 6. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu). 7. Tidak mudah melepaskan hal yang sudah diyakini itu. 8. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.17

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa siswa yang memiliki motivasi belajar ditandai dengan adanya sifat-sifat yang ditunjukkan dalam kegiatan belajarnya antara lain: tekun, ulet, berusaha mencapai prestasi dengan usaha sendiri, memiliki minat untuk memecahkan masalah dan suka menghadapi tantangan.

Selain ketekunan dan keuletan dalam kegiatan belajar, siswa dapat dilihat bahwa motivasi belajarnya tinggi, sebagaimana disebutkan oleh Sardiman sebagai berikut:

16Ibid., halaman 170

(11)

Tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan, menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah, lebih senang bekerja mandiri, kreatif, dapat mempertahankan pendapatnya, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini dan senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.18

Seorang siswa yang memiliki motivasi belajar ia akan menunjukkan sifat-sifat bekerja secara mandiri, percaya diri, kreatif dan memiliki pendirian yang tetap dan teguh tentang apa yang telah diakui kebenarannya.

Seorang siswa memiliki motivasi belajar dapat dilihat melalui pengamatan bahwasanya ia memiliki motivasi belajar antara lain ia harus menunjukkan sifat-sifat bekerja secara mandiri, percaya diri, kreatif dan memiliki pendirian yang tetap dan teguh serta menyukai tantangan.

Sejalan dengan pendapat di atas Hamzah mengatakan sebagai berikut:

Motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal pada setiap orang yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan sikap dan tingkah laku pada umumnya dapat ditandai dengan indikator atau unsur-unsur yang mendukung .19

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa adanya motivasi belajar yang tinggi akan memberikan dorongan untuk mendapatkan prestasi yang baik. Adapun motivasi belajar itu ditunjukkan melalui indikator keuletan belajar, ketekunan, belajar keras, percaya diri, bekerja mandiri, dan suka menghadapi tantangan dan berpendirian teguh.

Motivasi belajar merupakan bagian dari sikap belajar. Jika seorang seseorang memiliki motivasi belajar maka sikap belajarnya juga mengarah kepada hasi belajar yang lebih baik. Demikian halnya dengan hasil penelitian yang relevan pada point i terdapat hubungan yang positif antara sikap asertif dan motivasi belajar siswa secara bersama-sama dengan hasil belajar. Oleh sebab itu maka timbul dugaan bahwa apabila mahasiswa STTSU prodi PAK memiliki motivasi belajar yang baik/buruk maka sikap belajarnya juga mengarah kepada cara belajar yang baik/buruk.

4. Kerangka Berpikir

a. Sesuai dengan kajian teori dalam penelitian ini, maka penulis mensarikan konsep dasar dari beberapa topik penting yang berhubungan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian dalam karangan ilmiah ini. Berdasarkan kajian teori dari bab dua, dapat disimpulkan bahwa kinerja dosen merupakan ujung tombak dalam proses kegiatan belajar menganjar. Demikian juga dengan hasil penelitian yang relevan pada point d,e,j mengatakan bahwa performance kerja dosen memiliki pengaruh terhadap kinerja budaya mengajar sebesar 7,251. Maka dari konsep tersebut, timbul suatu dugaan bahwa performance kerja dosen memiliki kontribusi yang sangat berarti terhadap sikap belajar mahasiswa prodi PAK STTSU Medan.

b. Berdasarkan kajian teori dalam bab dua dimana sarana belajar yang memadai ataupun yang mencukupi sangat mendukung sikap belajar. Demikian juga dengan hasil penelitian yang relevan pada point i mengatakan bahwa semakin baik Sarana dan Prasarana Sekolah maka akan menghasilkan Kinerja Guru yang tinggi. Berarti sarana pembelajaran dibenahi dengan baik/buruk maka sikap belajar mahasiswa/i STTSU Medan cenderung meningkat/rendah; Hal tersebut penulis rumuskan berdasarkan

18Ibid, halaman 83

(12)

rumusan konsep atas variabel penelitian, dimana; sikap merupakan faktor internal psikologis yang sangat berperan dan akan mempengaruhi proses belajar. Maka dari konsep tersebut, timbul suatu dugaan bahwa sarana pembelajaran memiliki kontribusi yang sangat berarti terhadap sikap belajar mahasiswa prodi PAK STTSU Medan. c. Motivasi belajar merupakan bagian dari sikap belajar. Jika seorang seseorang memiliki

motivasi belajar maka sikap belajarnya juga mengarah kepada hasi belajar yang lebih baik. Demikian halnya dengan hasil penelitian yang relevan pada point i terdapat hubungan yang positif antara sikap asertif dan motivasi belajar siswa secara bersama-sama dengan hasil belajar. Oleh sebab itu maka timbul dugaan bahwa apabila mahasiswa STTSU prodi PAK memiliki motivasi belajar yang baik/buruk maka sikap belajarnya juga mengarah kepada cara belajar yang baik/buruk.

d. Berdasarkan uraian teori dan penelitian yang relevan (a-i) tersebut maka timbul dugaan peneliti atas performance kerja dosen, sarana belajar dan motivasi belajar memberikan kontribusi yang berarti terhadap peningkatan sikap belajar mahasiswa prodi PAK STTSU Medan TP. 2013/2014.

Gambar 1. Defenisi operasional penelitian

X1 = Performance Kerja Dosen X2 = Sarana Pembelajaran X3 = Motivasi Belajar Y = Sikap Belajar

Ry123= Kontribusi persepsi mahasiswa tentang Performance Kerja Dosen, persepsi mahasiswa tentang Sarana Belajar, persepsi mahasiswa tentang motivasi belajar terhadap sikap Belajar Mahasiswa.

5. Hipotesa Penelitian

Hipotesa merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah berdasarkan teori, belum berdasarkan fakta-fakta empiris .20 Berdasarkan studi latar belakang masalah, analisa teori dan kopsetual peneliti maka dalam hal ini, hipotesa yang diajukan adalah ada dua jenis yaitu Ha, disebut sebagai hipotesa kerja (yang harus dibuktikan) dan Ho, sebagai hipotesa yang di terima apabila hipotesa kerja tidak terbukti:

20Opcit, halaman 96

X1

X2

X3

Y

r

r

r r

r r

(13)

a. Terdapat kontribusi yang berarti dari persepsi mahasiswa tentang performance kerja dosen STTSU terhadap sikap belajar mahasiswa/i tingkat III prodi PAK STTSU TP 2013/2014.

b. Terdapat kontribusi yang berarti dari persepsi mahasiswa tentang sarana pembelajaran terhadap sikap belajar mahasiswa/i tingkat III prodi PAK STTSU TP. 2013/2014.

c. Terdapat kontribusi yang berarti dari persepsi mahasiswa tentang motivasi belajar terhadap sikap belajar mahasiswa/i tingkat III prodi PAK STTSU TP. 2013/2014. d. Terdapat kontribusi yang berarti dari persepsi mahasiswa tentang performance

kerja dosen, sarana pembelajaran dan motivasi belajar secara bersama-sama terhadap sikap belajar mahasiswa/i tingkat III prodi PAK STTSU TP. 2013/2014.

6. Metode Penelitian

Studi ini menggunakan penelitian penjelasan (explanatory research) yakni kausalitas menjelaskan suatu hubungan antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis.21 Ditinjau dari jenis masalah yang disediakan, teknik, dan alat yang digunakan dalam penelitian, serta tempat dan waktu, penelitian ini berjenis penelitian deskriptif kuantitatif. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran secara sistematis, faktual mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.22 Penelitian kuantitaif adalah penelitian yang dituntut mengenai angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut serta penampilan yang dihasilkannya.23

Jenis penelitian ini dipilih mengingat tujuan yang hendak dicapai mencakup usaha-usaha untuk menjelaskan kontribusi yang terjadi antara kuisioner sebagai alat pengumpul data primer. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian korelasional dimana peneliti bermaksud mencari kontribusi antara variabel Performance Kerja Dosen dengan Sikap Belajar, Sarana Pembelajaran dengan Sikap Belajar dan Motivasi Belajar dengan sikap Mahasiswa STTSU TA. 2013/2014. Adapun rancangan penelitian yang digunakan adalah cross-sectional, dimana peneliti melakukan penelitian baik terhadap variabel bebas maupun variabel terikat dalam satu satuan waktu atau bersamaan.

7. Pembahasan Hasil Penelitian

a. Kontribusi Performance Kerja Dosen terhadap Sikap Belajar Mahasiswa Prodi PAK Terdapat kontribusi yang berarti antara Persepsi Performance Kerja Dosen terhadap sikap belajar mahasiswa tingkat tiga STTSU Medan. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan teknik korelasi product moment, maka diperoleh harga koefisien korelasi dengan menunjukkan hubungan antara variabel X1 dengan variabel Y dimana ry1 = 0,831. Dengan membandingkan rhitungdengan rtabel untuk N = 30 adalah pada taraf signifikan 5%, dimana tetapan rtabeladalah 0,361, maka rh0,831 > rt0,361 maka h1diterima, dengan kata lain bahwa hipotesa terbukti bahwa ada kontribusi yang berarti antara variabel X1dengan Variabel Y. Untuk melakukan uji-t sehingga mendapatkan nilai keberartian berdasarkan daftar distribusi t pada taraf signifikan 5% dk = N-2 = 28, maka didapatkan bahwa nilai ttabel pada taraf tersebut sebesar 1,7011. Dengan demikian maka harga thitung7,905 ttabel1,7011. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat terdapat kontribusi yang berarti antara persepsi performance kerja dosen (X1) terhadap sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU (Y).

21Opcit., Ghozali 22Nazir., 2003:55

(14)

Sesuai dengan kajian teori dalam penelitian ini, maka penulis mensarikan konsep dasar dari beberapa topik penting yang berhubungan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian dalam karangan ilmiah ini. Berdasarkan kajian teori dari bab dua, dapat disimpulkan bahwa kinerja dosen merupakan ujung tombak dalam proses kegiatan belajar menganjar. Demikian juga dengan hasil penelitian yang relevan, maka dari hasil penelitian meyatakan bahwa, performance kerja dosen memiliki kontribusi yang sangat berarti terhadap sikap belajar mahasiswa prodi PAK STTSU Medan yaitu sebesar 69%.

b. Kontribusi Sarana Pembelajaran terhadap Sikap Belajar Mahasiswa Prodi PAK

Terdapat kontribusi yang berarti antara persepsi tentang sarana pembelajaran dan sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan teknik korelasi product moment, maka diperoleh harga koefisien korelasi dengan menunjukkan hubungan antara variabel Y dengan variabel X2 dimana ry 2= 0,701.

Dengan membandingkan rhitung dengan rtabel untuk N = 30 adalah pada taraf signifikan 5%, dimana tetapan rtabeladalah 0,361, maka rh, 0,701 rt0,361 maka hi diterima, dengan kata lain

bahwa hipotesa terbukti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan persepsi tentang sarana pembelajaran (X2) terhadap sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU (Y).

Untuk melakukan uji-t sehingga mendapatkan nilai keberartian berdasarkan daftar distribusi t pada taraf signifikan 5% dk = N-2 = 28, maka didapatkan bahwa nilai ttabelpada taraf tersebut sebesar 1,7011. Dengan demikian maka harga thitung 5,201 ttabel 1,7011. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat kontribusi yang berarti antara persepsi tentang sarana belajar (X2) terhadap sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU (Y).

Berdasarkan kajian teori dalam bab dua dimana sarana belajar yang memadai ataupun yang mencukupi sangat mendukung sikap belajar. Demikian juga dengan hasil penelitian yang relevan. Berarti sarana pembelajaran dibenahi dengan baik/buruk maka sikap belajar mahasiswa/i STTSU Medan cenderung meningkat/rendah; Hal tersebut penulis rumuskan berdasarkan rumusan konsep atas variabel penelitian, dimana; sikap merupakan faktor internal psikologis yang sangat berperan dan akan mempengaruhi proses belajar. Maka dari hasil penelitian tersebut, ditemukan bahwa sarana pembelajaran memberikan kontribusi yang sangat berarti terhadap sikap belajar mahasiswa prodi PAK STTSU Medan yaitu sebesar 49,14%.

c.Kontribusi Motivasi Belajar terhadap Sikap Belajar Mahasiswa Prodi PAK

Terdapat kontribusi yang berarti antara persepsi tentang motivasi belajar dan sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan teknik korelasi product moment, maka diperoleh harga koefisien korelasi dengan menunjukkan hubungan antara variabel Y dengan variabel X3 dimana ry 3= 0,700.

Dengan membandingkan rhitung dengan rtabel untuk N = 30 adalah pada taraf signifikan 5%, dimana tetapan rtabel adalah 0,361, maka rh, 0,700 rt0,361 maka hi diterima, dengan kata

lain bahwa hipotesa terbukti bahwa terdapat kontribusi yang berarti antara persepsi tentang motivasi belajar (X3) terhadap sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU (Y).

Untuk melakukan uji-t sehingga mendapatkan nilai keberartian berdasarkan daftar distribusi t pada taraf signifikan 5% dk = N-2 = 28, maka didapatkan bahwa nilai ttabelpada taraf tersebut sebesar 1,7011. Dengan demikian maka harga thitung 5,187 ttabel 1,7011. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat kontribusi yang berarti antara persepsi tentang motivasi belajar (X3) terhadap sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU (Y).

(15)

memiliki motivasi belajar yang baik/buruk maka sikap belajarnya juga mengarah kepada cara belajar yang baik/buruk adalah benar.

d. Kontribusi Bersama-sama

Terdapat kontribusi yang berarti antara persepsi tentang performance kerja dosen, sarana pembelajaran, dan motivasi belajar secara bersama-sama terhadap sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan teknik korelasi product moment, maka diperoleh harga koefisien korelasi berganda dengan menunjukkan hubungan antara variabel Y dengan variabel X123dimana ry 1= 0,831, dimana

ry 2= 0,701, dimana ry 3= 0,700. Dengan membandingkan rhitung dengan rtabel untuk N = 30

adalah pada taraf signifikan 5%, dimana tetapanrtabeladalah 0,361, maka ry123 0, 959 rt0,361

maka hi diterima, dengan kata lain bahwa hipotesa terbukti bahwa terdapat kontribusi yang berarti antara persepsi tentang performance kerja dosen, sarana pembelajaran, dan motivasi belajar secara bersama-sama terhadap sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU. Untuk melakukan uji-t sehingga mendapatkan nilai keberartian berdasarkan daftar distribusi t pada taraf signifikan 5% dk = N-2 = 28, maka didapatkan bahwa nilai ttabelpada taraf tersebut sebesar 1,7011. Dengan demikian maka harga thitung 5,291 ttabel 1,7011. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat kontribusi yang berarti antara persepsi tentang performance kerja dosen (X1), sarana pembelajaran (X2), dan motivasi belajar (X3) secara bersama-sama terhadap sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU (Y).

Berdasarkan uraian teori, penelitian yang relevan dan hasil penelitian maka dapat dikatakan bahwa peneliti atas performance kerja dosen, sarana belajar dan motivasi belajar memberikan kontribusi yang berarti terhadap peningkatan sikap belajar mahasiswa prodi PAK STTSU Medan TP. 2013/2014 yaitu sebesar 91,96%.

8. Kesimpulan

Dari pembahasan dan hasil penelitian yang penulis paparkan pada bab-bab sebelumnya sebagai akhir dari penulisan tesis ini, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

a. Bahwa terdapat kontribusi yang berarti antara persepsi tentang performance kerja dosen (X1) terhadap sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU (Y) sebesar 69%.

b. Terdapat kontribusi yang berarti antara persepsi tentang sarana belajar (X2) terhadap sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU (Y) sebesar 49,14%.

c. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat kontribusi yang berarti antara persepsi tentang motivasi belajar (X3) terhadap sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU (Y) sebesar 49%.

d. Bahwa terdapat kontribusi yang berarti antara persepsi tentang performance kerja dosen (X1), sarana pembelajaran (X2), dan motivasi belajar (X3) secara bersama-sama terhadap sikap belajar mahasiswa tingkat tiga prodi PAK STTSU (Y) sebesar 91,96%. Nilai Korelasi Koefisien berganda = 96,91 % (lampiran ) memberikan arti bahwa besarnya kontribusi persepsi performance kerja dosen, sarana pembelajaran, dan motivasi belajar terhadap naik/turunnya sikap belajar yaitu sebesar 96,91%, selebihnya yaitu 3,09 % berasal dari faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi sikap belajar tidak dimasukkan dalam regresi. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lanjutan, faktor apa sajakah yang tergolong kedalam 3,09%, untuk mencapai sikap belajar yang maksimal di STTSU sampai 100%. 9. Implikasi

(16)

pengukuran kelima dimensi sikap tersebut sangatlah sulit karena belum ada instrumen pengukuran sikap yang dapat mengungkap kelima dimensi tersebut. Dari sekian banyak skala pengukuran sikap yang digunakan dalam pengukuran sikap hanya dapat mengungkapkan dimensi arah dan intensitas sikap saja, yaitu hanya menunjukkan kecenderungan sikap positif atau negatif dan memberikan tafsiran mengenai derajat kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap respon individu.

Secara umum, penilaian kinerja merupakan kegiatan penting dalam kehidupan lembaga/organisasi. Dengan penilaian pimpinan organisasi dapat mengetahui kinerja pegawainya. Standar kinerja menunjukkan sebagai tolok ukur dalam mengadakan perbandingan antara apa yang telah dilakukan dengan yang diharapkan, kaitannya dengan pekerjaan atau jabatan yang telah dipercayakan kepada seseorang. Standar dapat pula dijadikan ukuran dalam mengadakan pertanggungjawaban terhadap sesuatu yang telah dilakukan.

Sarana pembelajaran merupakan segala macam bentuk perangsangan dan alat yang disediakan guru atau dosen untuk mendorong siswa belajar. Alat bantu ini dimaksudkan agar proses belajar lebih menarik dan menyenangkan, dimana sarana pemebelajaran harus mampu menyentuh seluruh alat indra yang belajar.

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Motivasi belajar adalah pendorong atau usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia bergerak untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga tercapai hasil atau tujuan tertentu.

10. Saran

a. Semua Pihak Yayasan Pekabaran Injil Kristus. Berdasarkan temuan dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka harapan sesungguhnya kepada semua pihak bahwa: Upaya peningkatan kinerja dosen, staf dan semua yang terkait dengan Yayasan Pekabaran Injil Kristus guna terciptanya wadah pendidikan yang kondusif dan dinamis sesuai dengan visi dan misinya.

b. Semua Struktur STTSU. Perlu upaya penyempurnaan sarana dan prasaran pembelajaran di STTSU untuk memaksimalkan hasil belajar yaitu terbentuknya tenaga-tenag PAK yang handal, serta hamba-hamba Tuhan yang militan.

c. Dosen STTSU. Perlu upaya peningkatan Performance kerja (profesionalis) lewat hal-hal yang membangun, atau menimbulkan motivasi belajar yang baik, baik lewat studi banding, maupun character building lainnya. Bangkitkan kebutuhan untuk menghargai keindahan, untuk mendapat penghargaan dan sebagainya. Hubungkan dengan pengalaman lampau. Beri kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik. Gunakan berbagai metode mengajar seperti diskusi, kerja kelompok, membaca, demonstrasi dll. d. Mahasiswa STTSU. Perlu diupayakan pemerhatian terhadap sikap belajar kepada

(17)

DAFTAR PUSTAKA

_______ Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, 2010.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 2006. Aunurrahman. Belajar dan Pembelajaran, Bandung: Alfabeta, 2009.

Budiyana, Hardi. Dasar-dasar Pendidikan Agama Kristen, Yogyakarta: Andi Offset, 2011. Echols, John M dan Hasan Shadily. Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka

Utama, 2004.

E.G. Homrighausen, dan Enklaar, I.H, Pendidikan Agama Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009

_________Evaluasi Pengajaran,Fakultas Ilmu Pendidikan UNIMED Medan, 2009.

Fachrunnisa.Implementasi Softskills di Perguruan Tinggi. Institusi Teknologi Bandung.

Makalah. Bandung. 2008

Gove, Philip Bablok Gove. Kamus Webster Third New International Dictionary, USA: Meriam Compeny, 1981.

Hamalik, Oemar. Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar, Bandung: Tarsito, 2002 Harefa, Etiknius. Metode Penelitian Teologia, Medan: STT Paulus, 2010

Hasan Iqbal. Analisis Data Penelitian dengan Statistik, Jakarta: Bumi Aksara, 2006.

Hasugian, Saur. dalam ceramah Seminar Nasional Menciptakan Kehidupan Sosial Masyarakat Yang Kondusif , 27 Pebruari 2013: Hotel Danau Toba

Kusnandar. Guru Profesional, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Sukses dalam Sertifikasi Guru,Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010.

Max, Darsono.Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press, 2000 M, Sardiman A. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo, 2011. Mulyasa, E. Menjadi Guru Profesional,Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009.

Munandar, Utami,Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Jakarta: Rinekacipta, 1995 Nazir, Moh. Metode Penelitian, Bogor: Ghalia Indonesia, 2005

Nasution S dan Thomas. Penentu Membuat Disertasi, Skripsi, Paper, Bandung: Jamars, 1980

(18)

Nuhamara, Daniel. Pembimbing PAK, Bandung: Jurnal Info Media, 2007.

Nurdin, Syafruddin. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, Jakarta: Quantum Teaching, 2005.

Panggabean, Yusri. Strategi, Model, dan Evaluasi, Pembelajaran Kurikulum 2006, Bandung: Bina Media Informasi, 2007.

Purwanto, Ngalim. Prinsip-prinsip dan tekhnik Evaluasi Pengajaran, Bandung: Rosdakarya, 2009.

Rusman. Model-model Pembelajaran, Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012.

Sidjabat, B. S. Menjadi Guru Profesional, Sebuah Perspektif Kristiani, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2000

Silitonga, M.P. di dalam buku diktat Metodologi Penelitian

Sitanggang, Sariaman. Bagaimana menyusun KTSP dan Perencanaan Pembelaaran PAK, Jakarta: Egkrateia Putra Jaya, 2008.

Slameto. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi, Jakarta: Rineka Cipta, 2010. Soejipto, dkk. Profesi Keguruan, Jakarta: Rineka Cipta, 2009.

_________Statuta IAKPSU Medan

Stefanus, Daniel. Sejarah PAK, Tokoh-tokoh Besar PAK, Bandung: Bina Media Informasi, 2009.

Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: Rosdakarya, 2009. Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan,Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996 Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,

Bandung: Alfabeta, 2008.

Sumadi, Suryabrata. Psikologi Pendidikan (Suatu Penyajian Secara Operasional), Yogyakarta: Rake Press, 2002

Suprijanto, H. Pendidikan Orang Dewasa dari Teori Hingga Aplikasi, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Surahman, Winarto. Pengantar Penelitian Ilmiah, Bandung: Tarsito, 2003. Suharsimi, Arikunto.Prosedur Penelitian,. Jakarta; Rineka Cipta: 2006

Syafruddin, dkk. Manajemen Pembelajaran, Jakarta: Quantum Teaching, 2005. Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012.

(19)

_________Undang-undang SISDIKNAS. Bandung: Fokusindo Mandiri, 2012 _________ Undang-undang Guru dan Dosen

Usman, Husaini dkk.Metodologi Penelitian sosial,Jakarta: Bumi Aksara: 1998

Walker, D. F. Konkordansi Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.

Gambar

Gambar 1.  Defenisi operasional penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa dukungan orang tua, motivasi dan sarana transportasi belajar secara simultan mempunyai kontribusi positif terhadap kedisiplinan siswa SMK N

Dengan demikian kontribusi pengetahuan pengelolaan kelas terhadap kinerja dosen di STAIN Padangsidimpuan adalah sebesar 13,9%.(6) Kontribusi motivasi kerja dan pengetahuan

Karena tidak terdapat pengaruh antara motivasi belajar dan pe- manfaatan sarana penunjang pembelajaran terhadap prestasi belajar, maka dapat dikatakan bahwa prestasi

Hipotesis pertama pada penelitian tidak terbukti kebenarannya, dikarenakan hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai t sebesar 1.392 yang berarti lebih kecil

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa secara bersama-sama kepemimpinan direktur, motivasi kerja dan disiplin kerja memiliki kontribusi terhadap kinerja dosen AKBID

Dengan demikian hipotesa Ha diterima dan Ho ditolak, artinya bahwa ada pengaruh yang signifikan dari variabel motivasi kerja terhadap kinerja karyawan dan karena

Dari data tersebut diketahui bahwa persepsi mahasiswa mengenai keterampilan dosen dalam mengelola kelas sangat penting untuk menunjang hasil belajar mahasiswa, dilihat dari kondisi

Hal ini berarti bahwa variabel kepemimpinan visioner X1, suasana akademik X2 dan motivasi kerja X3 akan meningkatkan kinerja dosen Y secara bersama-sama sebesar 40,3 %, dan sisanya