PENGARUH PERANG
DUNIA I DAN II
TERHADAP
KEHIDUPAN POLITIK
Disusun Oleh:
Dodi Kurniawan (04)
Gessy Mutiara Prameswari (05) Maria Vanesa Kanita (12)
Perang Dunia I: Sebab
Umum
Pertentangan Jerman dan Prancis
Pada tahun 1870-1871 terjadi perang antara Jerman dan prancis yang dipicu oleh perebutan hegemoni di daratan Eropa. Prancis dipimpin oleh Napoleon III dan Jerman dipimpin oleh Otto van Bismark. Prancis kalah dan menandatangani Perjanjian Perdamaian Frankfurt 1871 yang berisi:
-> Prancis menyerahkan wilayah Elzas-Lotharingen kepada Jerman.
-> Prancis harus membayar kerugian perang pada Jerman.
(masih) Sebab Umum
Pertentangan Jerman dan Inggris
Pertentangan ini disebabkan oleh persaingan industri, perebutan daerah jajahan, dan kekuatan angkatan perang terutama angkatan laut.
Pertentangan Jerman dan Rusia
(masih) Sebab Umum
Pertentangan Rusia dan Austria
Konflik ini dipicu oleh keinginan kedua negara menguasai wilayah Balkan.
Pertentangan anatara negara-negara melahirkan kelompok-kelompok kepentingan yang dikenal dengan system of alliances. Akibat politik ini, Eropa terbagi menjadi dua blok:
Triple Alliantie, terdiri atas Jerman, Austria,
dan Italia.
Triple Entente, teridir atas Prancis, Rusia,
dan Inggris.
Kedua kelompok kepentingan itu mengembangkan berbagai persenjataan sebagai strategi memenangkan perang.
Perang Dunia I: Sebab Khusus
Perang Dunia I secara langsung dipicu oleh pembunuhan putera mahkota Autria, yaitu Franz Ferdinand oleh Princep seorang Serbia.
Pembunuhan itu diawali tentara Autria yang mengadakan latihan perang di Bosnia. Bagi Serbia yang menuntut Bosnia-Herzegovina, latihan tentara seperti ini dianggap sebagai provokasi yang menghalang-halangi terwujudnya Pan Slavisme maupun Serbia Raya.
Perang Dunia I: Dampak Politik
Salah satu perubahan di bidang ini adalah
pembubaran kekaisaran yaitu Jerman, Rusia, Austria-Hungaria, Turki, dan
lahirnya negara-negara baru seperti Polandia, Finlandia, Cekoslovakia,
Yugoslavia, Hungaria, Mesir, Irak, Arab, Syria, Lebanon, dan Yordania.
Perubahan lainnya, yaitu timbulnya
Dampak Politik di Indonesia
Perang Dunia I membuat Belanda
menjadi longgar mengendalikan keadaan politik Indonesia.
Keadaan ini menguntungkan Indonesia
(masih) Dampak Politik di Indonesia
Radikalisme ini jelas membuat Belanda khawatir daerah koloninya akan
memerdekakan diri. Terlebih lagi, Perang Dunia I telah membawa pergerseran peta politik di hampir seluruh dunia, terutama setelah dikeluarkannya Doktrin Wilson
(Wilson’s Fourteen Points) yang dalam salah satu pasalnya disebutkan bahwa seluruh
bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri
(masih) Dampak Politik di Indonesia
Didasari atas doktrin yang menggema di
seluruh dunia itu, organisasi pergerakan nasional Indonesia mulai menunjukkan sikap radikalnya terhadap pemerintah Hindia Belanda. Misalnya, Indoneische Vereeniging sejak tahun 1922
(masih) Dampak Politik di Indonesia
Sepanjang Perang Dunia I, Belanda membuat
keputusan-keputusan politik guna meredam tuntutan Indonesia untuk merdeka.
Pada kongres Budi Utomo tanggal 5 dan 6
Agustus 1915, telah ditetapkan usulan perlunya dibentuk wajib militer bagi kaum pribumi.
Selanjutnya komite Indie Weebar pada tanggal 23 Juli 1916 telag memutuskan bahwa pembentukan kekuatan militer baik laut maupun darat dari
(masih) Dampak Politik di
Indonesia
Dwijisoedoyo sebagai wakil Budoyo
Utomo berhasil mengadakan
pendekatan dengan
pemimpin-pemimpin terkemuka Belanda.
Walaupun misi tidak berhasil
meloloskan usulan tentang wajib
(masih) Dampak Politik di Indonesia
Pada November 1918 Gubernur Jenderal van
Limburg Stirum mengeluarkan November Befolte
(Janji November). Isinya, pemerintah akan
memberi kewenangan yang besar pada Volksraad dalam bidang politik. Pemerintah juga berjanji
akan memperbaiki kondisi sosial-ekonomi masyarakat Hindia Belanda.
Untuk kepentingan itu dibentuk sebuah komisi
yang berhasil menyelidiki tentang:
Hubungan antara Indonesia dan Belanda perlu
diatur kembali berdasarkan landasan baru.
Pusat kekuasaan perlu dipindahkan ke
Indonesia dan Pemerintah Belanda harus mencakup unsur-unsur pribumi.
(masih) Dampak Politik di Indonesia
Janji yang diberikan Belanda tidak pernah dituntaskan, maka muncul
perlawanan-perlawanan diantaranya:
Gerakan petani di Surakarta pada 1919
dipimpin Haji Misbach. Gerakan ini didukung oleh E.F.E Douwes Dekker dan Tjipto
Mangunkusumo dari Indische Partij.
Penembakan terhadap kontroler perkebunan
Belanda di Toli-Toli (Mei 1919).
Pemberontakan rakyat dan penembakan para
pejabat Belanda di Garut (Juni 1919).
Pemberontakan PKI di berbagai daerah
Perang Dunia II: Sebab Umum
Tiap negara negara memiliki kepentingan
untuk memperluas pengaruh ideologinya ke berbagai negara di dunia.
Tiap – tiap ideologi tersebut tidak dapat
disatukan sehingga menimbulkan konflik
Terjadi perlombaan senjata seperti Italia
menyerang Ethiopia (1935)
Terbentuklah blok – blok negara yang
Perang Dunia II: Sebab Umum
Tanggal 27 September 1940, Jepang
menandatangani Pakta Tiga Kekuatan (Tripartite Pact) bersama Jerman dan Italia
Terbentuk dua blok besar yakni:
- Blok Fasis : Jerman, Italia, dan Jepang - Blok Sekutu terdiri dari:
a. Blok Demokrasi : Perancis, Inggris,
Amerika Serikat, dan Belanda
b. Blok Komunis : Rusia, Polandia, Hongaria, Bulgaria, Yugoslavia,
Perang Dunia II: Sebab Umum
Timbul nafsu imperialistis
Jerman mengumumkan Lebensraum
(Jerman Raya) yang meliputi Eropa Tengah.
Jepang mengumumkan Kemakmuran
Bersama di Asia Timur Raya.
Inggris, Perancis, AS, dan Rusia
Hitler menuntut kota Danzig karena penduduknya
adalah bangsa Jerman.
Polandia menolak tutuntan tersebut, bahkan
polandia mengadakan perjanjian dgn Inggris,
Perancis, Yunan, dan Rumania untuk menghadapi ancaman jerman tersebut.
Akibat penolakan tersebut pada 1 September 1939
Jerman melakukan ekspansi militer ke Belanda.
Terhadap serbuan tersebut agar negara blok
demokrasi mengumumkan perang terhadap Jerman pada 3 Sep. 1939, AS memihak blok demokrasi.
Atas putusan politik Jerman, Jepang pun
terikat dengan perjanjian Tripartite, pada 7 Desember 1941, Jepang menyerbu
pangkalan armada pangkalan laut amerika Pearl Harbour.
Dampak PD II di bidang politik
Lahirnya negara Superpower, yakni AS dan Rusia.
Kedua negara melakukan ekspansi ideologi keberbagai wilayah di dunia.
Terciptanya balance of power dan lahir politik aliansi seperti NATO, NETO, SEATO, yang
dimotori oleh Amerika
Dampak PD II di bidang politik
Beberapa konverensi diadakan dan
piagam dispakati seperti Declaration of the United Nations pada 1 Januari 1942
yang diadakan di Washington; Dumbarton Oaks di Washington pada tanggal 7
Oktober 1944 yang isinya membentuk UNO. Yalta Conference di Semenanjung Krim pada tanggal 4 Februari 1945 yang dihadiri oleh Roosevelt, Churcill, dan
Stalin dari Rusia. San Francisco
Conference pada 26 Juni 1945 yang
Dampak PD II di bidang politik
Tiga pemerintahan militer yang menduduki
Indonesia pada perang dunia II :
Pemerintahan militer Angkatan Darat (Tentara
Selatan Kedua puluh lima) mencakup wilayah Sumatera dengan pusat di Bukittinggi
Pemerintahan militer Angkatan Darat (Tentara
Keenam Belas) mencakup wilayah Jawa, Madura, dengan pusat di Jakarta
Pemerintahan militer Angkatan Laut (Armada
Dampak PD II di bidang
politik
Prioritas kebijakan umum Pemerintah
Jepang terhadap rakyat Indonesia:
Menghapuskan pengaruh – pengaruh Barat
dikalangan rakyat pribumi, antara lain: melarang peredaran buku – buku
berbahasa Belanda dan Inggris
Memobilisasi rakyat demi perang Dai Toa
Dampak PD II di bidang politik
Kebijakan-kebijakan Pemerintah Jepang
untuk menjalin kerjasama dengan pemimpin nasional, membentuk :
Gerakan 3A : Nippon Cahaya Asia, Nippon
Pelindung Asia, Nippon Pemimipin Asia yang dipimpin oleh Mr. Samsudin
Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) yang dipimpin
oleh Ir. Soekarno
Jawa Hokokai, didirikan oleh Kumakichi Harada Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), dipimpin
oleh K.H Mas Mansyur
Organisasi – organisasi militer bentukan jepang