1 | P a g e
ANALISIS MANAJEMEN RISIKO
PEMBANGUNAN SISTEM PERIZINAN ONLINE (
e-LICENSING)
DENGAN MENGGUNAKAN METODE
HOUSE OF RISKFuguh Prasetyo Yudanto
Program Studi Magister Manajemen Telekomunikasi, Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik, Universitas Indonesia
e-mail: [email protected]
Dosen: DR. Ir. Iwan Krisnadi, MBA.
Abstrak
Sistem perizinan online dibangun untuk menjamin kemudahan dalam memberikan pelayanan publik secara optimal dan transparan. Sehingga proses perizinan yang semula dilakukan secara manual dan tatap muka kedepan dapat dilakukan secara online, mandiri, cepat, dan waktu yang lebih fleksibel. Keberhasilan proyek pembangunan sistem perizinan online tidak lepas dari pengambilan keputusan berdasarkan analisa dan koreksi terhadap berbagai faktor risiko dari kendala-kendala yang dihadapi selama pelaksanaan proyek, baik risiko yang sebelumnya sudah diperhitungkan maupun yang belum terduga selama pelaksanaan proyek, untuk itu dibutuhkan manajemen risiko agar tujuan dari proyek dapat tercapai. Penelitian bertujuan untuk melakukan identifikasi risiko yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan proyek, melakukan analisa terhadap risiko yang berpeluang terjadi selama pelaksanaan proyek, dan menentukan langkah mitigasi yang efektif untuk mengurangi kemungkinan terjadinya risiko. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu House of Risk untuk mengidentifikasi risiko proyek, penyebab risiko, menentukan prioritas dan strategi penanganan. Terdapat 8 kejadian risiko, 21 penyebab risiko, dan 10 tindakan preventif yang diidentifikasi. Tindakan preventif dilakukan berdasarkan skala prioritas, sehingga peluang terjadinya risiko dalam proyek dapat diminimalisir.
Kata Kunci: Perizinan Online, Manajemen Risiko, House of Risk (HOR)
1. Pendahuluan
Dalam menyelenggarakan pelayanan publik, birokrasi merupakan lini terdepan yang berkaitan langsung dengan dengan pemberian pelayanan terhadap masyarakat yang merupakan kewajiban utama pemerintah. Peranan pemerintah dalam proses pemberian pelayanan adalah bertindak sebagai katalisator yang mempercepat proses sesuai dengan apa yang seharusnya. Oleh karenanya pelayanan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat ditentukan oleh sejauh mana pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dapat terjangkau, mudah, cepat dan efisien.
Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2012 tentang
Pelaksanaan UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik yang bertujuan untuk mencapai misi pelayanan publik yaitu menciptakan pelayanan publik yang prima. Pelayanan publik yang prima adalah pelayanan publik dimana proses pelayanan cepat, pengurusan mudah diakses, dan pelayanan yang ramah dan bersahabat.
2 | P a g e bagian dari instansi pemerintah yang
memberikan pelayanan dalam hal perizinan penyelenggaraan telekomunikasi membuat sebuah proyek pembangunan Sistem Layanan Online Perizinan Penyelenggaraan Telekomunikasi (e-Licensing) yaitu sistem perizinan online untuk perizinan dibidang pos dan telekomunikasi sebagai bentuk komitmen kepada masyarakat untuk dapat melakukan proses perizinan yang transparan. Penggunaan teknologi aplikasi berbasis web adalah jawaban untuk lebih mempermudah pelayanan kepada masyarakat.
Terlepas dari semua perencanaan yang ada, proses pembangunan sistem perizinan online ini seringkali terganggu oleh risiko yang muncul selama proses ini berlangsung. Sehingga berpengaruh terhadap kinerja waktu dalam penyelesaian proyek. Hal tersebut merupakan permasalahan yang harus dicarikan solusinya. Selain itu, diperlukan langkah analisa risiko serta bagaimana memitigasi risiko tersebut.
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi risiko-risiko yang mungkin timbul dalam pembangunan sistem perizinan online tersebut, melakukan analisa terhadap risiko yang berpeluang terjadi selama pelaksanaan proyek, dan menentukan langkah mitigasi yang efektif untuk mengurangi kemungkinan terjadi risiko.
2. Kajian Pustaka
Proyek didefinisikan sebagai suatu tugas yang perlu didefinisikan dan terarah ke suatu sasaran yang dituturkan secara konkrit serta harus diselesaikan dalam kurun waktu tertentu dengan menggunakan sumber daya terbatas, baru, dan rumit sehingga diperlukan suatu jenis pimpinan dan bentuk kerjasama yang tidak seperti biasa (A.Koolma dan CJM Van de Scoot). Sedangkan Manajemen Proyek dapat didefinisikan sebagai penerapan ilmu pengetahuan, keahlian, dan keterampilan, cara teknis yang terbaik dan dengan sumber daya yang terbatas untuk mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditentukan agar mendapatkan hasil yang optimal dalam hal kinerja biaya, mutu, dan
waktu, serta keselamatan kerja (Ir. Abrar Husen, MT, 2009).
Secara umum manajemen proyek terbagi menjadi lima proses yaitu inisiasi, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian, serta penutupan. Sebagai bagian dari proses manajemen proyek, perencanaan dan pengendalian yang baik belum menjamin terwujudnya sasaran dalam proyek. Selalu terdapat kemungkinan tidak tercapainya suatu tujuan atau selalu terdapat ketidakpastian atas keputusan apapun yang diambil, untuk itu diperlukan kemampuan untuk mengolah dan mempelajari risiko yang ada.
Menurut PMBOK (Project Management Institute Body of Knowledge)(2008), Definisi manajemen risiko adalah merupakan proses formal dimana faktor-faktor risiko secara sistematis diidentifikasi, dianalisis, respon, dan dikendalikan. Merupakan suatu metode pengelolaan sistematis yang formal yang berkonsentrasi pada mengidentifikasi dan mengendalikan area atau kejadian-kejadian yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya perubahan yang tidak diinginkan. Di dalam konteks suatu proyek, merupakan suatu seni dan iptek dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan merespon terhadap faktor-faktor risiko yang ada selama pelaksanaan suatu proyek.
Enam tahapan dalam manajemen risiko meliputi: a. Perencanaan Manajemen Risiko
b. Identifikasi Risiko c. Analisa Risiko Kualitatif d. Analisa Risiko Kuantitatif e. Perencanaan Respon Risiko f. Kontrol dan Monitoring Risiko
Adapun tujuan dari manajemen risiko adalah untuk meningkatkan kinerja proyek dari awal sampai selesai dengan melakukan identifikasi, evaluasi, dan control yang berhubungan dengan risiko proyek.
3. Metodologi Penelitian
3 | P a g e ilmiah. Terdapat pola-pola tertentu yang harus
diikuti dan seluruh kegiatan penelitian didasarkan pada langkah-langkah yang telah direncanakan dengan matang sebelumnya. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan, kerangka berpikir (penelitian) sebagaimana terlihat dalam diagram alur sebagai berikut:
Gambar 1. Diagram Alur Penelitian
Secara garis besar, tahapan penilitian dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap identifikasi awal, tahap pengumpulan dan pengolahan data, dan tahap analisa dan kesimpulan.
3.1 Tahap Identifikasi Awal
Pada tahap identifikasi awal meliputi: a. Mengidentifikasi masalah
b. Merumuskan masalah
c. Menentukan tujuan penelitian
d. Melakukan studi literature sesuai topik yang diambil
3.2 Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data
a. Pengumpulan Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data terkait gambaran umum proyek pembuatan sistem perizinan online dari pemilik program kerja untuk mengetahui tahapan-tahapan pelaksanaan proyek, selanjutnya dalam mengidentifikasi risiko yang berpotensi muncul pada proyek tersebut dilakukan dengan cara
brainstorming mengenai risk event, risk agent,
hubungan antara risk event dan risk agent, dan hubungan antara tindakan preventif dengan risk agent.
b. Pengolahan Data
Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan metode House of Risk (HOR). Metode House of Risk (HOR) adalah metode untuk memanage risiko secara proaktif, dimana
risk agent yang teridentifikasi sebagai penyebab
risk event dapat dikelola dengan cara
memberikan urutan berdasarkan besarnya dampak yang mungkin ditimbulkan. Berdasarkan urutan tersebut dapat ditentukan pula langkah proaktif yang efektif untuk mengurangi kemungkinan terjadinya risiko.
Pendekatan House of Risk (HOR) terbagi menjadi dua fase yaitu:
1. Fase Identifikasi Risiko atau HOR 1 Model HOR 1 adalah model untuk menentukan prioritas risk agent sebagai penyebab terjadinya risiko guna pengambilan langkah pencegahan. Adapun langkah-langkah identifikasi risiko dalam model HOR 1 adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi terjadinya risiko (risk event, Ej) dan menilai tingkat
keparahannya (severity, Sj)
b. Mengidentifikasi risk agent (Aj) dan
menilai tingkat keseringannya (Oj)
4 | P a g e c. Memberikan nilai korelasi (Rij)
antara risk event dan risk agent
d. Menghitung aggregate risk potential (ARPj) ditentukan oleh
kemungkinan terjadinya risk agent
dan aggregate dampak dari risk event yang ditimbulkan
ARPj = Oj∑ Sj Rij
e. Membuat prioritas risk agent
berdasarkan potensi risiko agregat
2. Fase Penanganan Terhadap Risiko atau HOR 2
Model HOR 2 memberikan prioritas langkah proaktif yang efektif mengurangi terjadinya risiko. Adapun langkah-langkah penanganan risiko dalam model HOR 2 adalah sebagai berikut:
a. Menentukan beberapa risk agent
dengan rangking teratas untuk dijadikan penyebab risiko yang akan diprioritaskan untuk ditangani b. Mengidentifikasi langkah proactive
action (PAk) yang relevan untuk
mencegah risk agent
c. Menentukan tingkat hubungan antara masing-masing PA dan risk agent (Ejk)
d. Menghitung total efektifitas masing-masing proactive action
TEk = ∑ ARPj Ejk
e. Menilai tingkat kesulitan (Dk) dalam
melaksanakan PA
f. Menghitung rasio total efektifitas dengan tingkat kesulitan
ETDk =
g. Memberikan rangking prioritas pada
proactive action yang paling efektif mengurangi terjadinya risiko sesuai kemampuan perusahaan.
3.3 Tahap Analisa dan Penarikan Kesimpulan
Pada tahapan ini hasil dari pengolahan data akan dianalisa sehingga diperoleh pemecahan masalah, maka langkah selanjutnya adalah menarik kesimpulan. Kesimpulan yang ditarik nantinya dapat menjawab tujuan penelitian yang dilakukan. Selain itu juga dapat memberikan saran untuk penelitian ataupun pengembangan proyek selanjutnya.
4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Identifikasi Kejadian Risiko
Hasil identifikasi risk event melalui
brainstorming dan hasil penilaian melalui kuisioner tingkat keparahan dampak (severity) dari risk event yang terjadi terdapat 8 item risk event yang diidentifikasi, 8 item risk event dan hasil penilaian responden dapat dilihat pada Tabel 1.
Nilai severity berada antara 1 sampai dengan 10, dimana nilai 1 menunjukkan bahwa risk event tidak berdampak dan 10 menunjukkan dampak yang sangat besar.
Tabel 1. Risk Event
Kode Risk Event (kejadian risiko) Severity E1 Permasalahan spesifikasi kebutuhan 8,4 E2 Aktivitas design software terlambat dimulai 7 E3 Lambatnya proses design software 7,2 E4 Hambatan saat design software 6,2 E5 Design software tidak memenuhi harapan 6,8 E6 Pengujian kurang memenuhi harapan 5,2 E7 Kualitas pekerjaan yang tidak sesuai harapan 6,6 E8 Kegagalan dalam integrasi sistem 7,2
4.2 Identifikasi Agen/Penyebab Risiko
Setelah mengidentifikasi risk event, kemudian menilai tingkat keparahan terhadap dampak yang ditimbulkan , langkah selanjutnya adalah identifikasi risk agent dan menilai
seberapa sering kemungkinan terjadi pada risk
agent. Penilaian responden terhadap
5 | P a g e
Tabel 2. Risk Agent
Kode Risk Agent Occurance
A1 Kebutuhan akan fitur dan report yang diinginkan tidak sesuai dengan sistem yang ada 7,8 A2 Ketidaksepahaman terhadap konsep dari sistem yang diinginkan owner 8,6 A3 Metode analisa sistem yang dipergunakan oleh developer tidak sesuai dengan kondisi user 6,6 A4 Koordinasi dan Komunikasi yang kurang baik dengan owner 7 A5 Perdebatan terhadap poin-poin dalam kontrak proyek 6 A6 Perubahan spesifikasi kebutuhan selama proses coding 8 A7 Perubahan terhadap SOP perizinan ataupun regulasi perizinan 9
A8 SDM yang kurang berpengalaman 5
A9 Tidak adanya koordinasi dalam tim saat pembuatan software, sehingga terjadi modul-modul
Yang tidak dapat digabungkan (missal: ketidaksesuaian tabel atau tipe data yang digunakan) 4,4 A10 Pengkodean modul lebih lama dari yang diharapkan karena kompleksitas konsep 5,6 A11 Staf sakit yang berpengaruh pada aktivitas proyek 4,2 A12 Turnover staf saat proyek berlangsung 4,6 A13 Kerusakan computer saat proses coding 4,2 A14 Computer tidak dilengkapi UPS, ketika listrik padam pekerjaan yang belum tersimpan di
hardisk akan hilang
4,4
A15 User tidak terlibat dalam testing secara cukup 5,6 A16 Pengujian memperlihatkan kesalahan ataupun ketidakefisienan dalam desain 5,4 A17 Pengujian yang dilakukan antara user dan developer tidak memenuhi keinginan user 6,6 A18 Training dari developer yang melewati dari jadwal yang ditentukan 6,6 A19 Dokumentasi, pelaporan kemajuan progress pekerjaan, dan laporan akhir melewati jadwal
yang sudah ditentukan 6,8
A20 Network down 4,4
A21 Problem pada server 4,8
Dari tabel 2 terdapat 21 risk agent yang berpotensi memicu terjadinya kejadian risiko dalam proyek. Berdasarkan nilai skala probabilitas, terdapat satu risk agent dengan nilai probabilitas sembilan yang menunjukkan bahwa kemungkinan risk agent tersebut terjadi sangat tinggi.
Nilai probabilitas ini juga akan digunakan dalam perhitungan Aggregate Risk Potential
(ARP), yaitu untuk menentukan agen/penyebab risiko yang paling berpengaruh berdasarkan perhitungan.
4.3 Penghitungan Aggregate Risk Potential (ARP)
Perhitungan nilai Aggregate Risk Potential
(ARP) digunakan sebagai masukan untuk menentukan prioritas agen risiko yang perlu untuk ditangani terlebih dahulu untuk diberikan tindakan pencegahan terhadap agen risiko.
Penilaian menggunakan angka 0,1,3,9 yang masing-masing menyatakan korelasi no, low, moderate, high. Berdasarkan hasil penilaian responden dapat ditentukan peringkat risk agent
berdasarkan nilai ARP seperti yang terlihat pada tabel 3.
Tabel 3. House of Risk 1 Risk
Event
Risk Agent
A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 A11 A12 A13 A14 A15 A16 A17 A18 A19 A20 A21 Si
E1 5 9 2,6 8,4
E2 7,8 9 5,4 7
E3 5,4 9 1,8 2,2 7,2
E4 1,8 1,4 1,2 1,6 6,2
E5 9 9 1,2 6,8
E6 4,2 3 4,2 5,2
E7 3,8 2,6 2,2 3 6,6
E8 3,8 3,8 7,2
Oj 7,8 8,6 6,6 7 6 8 9 5 4,4 5,6 4,2 4,6 4,2 4,4 5,6 5,4 6,6 6,6 6,8 4,4 4,8
ARPj 327,6 1646 144,1 869,4 226,8 311 583,2 64,8 35,9 88,7 46,9 39,9 31,2 43,6 122,3 219,7 257,4 95,8 134,6 120,4 131,3
6 | P a g e
Gambar 2. Diagram Pareto ARP Risk Agent
Dari hasil perhitungan pada tabel 3, selanjutnya dibuat diagram pareto dari risk agent
seperti terlihat dalam gambar 2. Dari diagram pareto pada gambar 2 menunjukkan bahwa terdapat 8 risk agent yang berkontribusi terhadap 80% total ARP. Nilai ARP tertinggi yaitu 1646 yang menunjukkan bahwa agen risiko tersebut memiliki prioritas utama dalam penanganannya dibanding yang lain. Hal ini dikarenakan semakin tinggi nilai ARP suatu agen risiko maka akan berbanding lurus dengan tingkat dampak yang ditimbulkan.
4.4 Perancangan Strategi Penanganan Risiko
Perancangan strategi dilakukan menggunakan matriks House of Risk (HOR) 2 untuk menyusun aksi-aksi mitigasi dalam menangani risiko. Aksi mitigasi risiko difokuskan terhadap risk agent yang termasuk dalam skala prioritas, dalam hal ini adalah 8 risk agent yang berkontribusi terhadap 80% total ARP.
Berdasarkan 8 risk agent tersebut maka akan direkomendasikan beberapa rencana strategi yang dapat memungkinkan untuk mengeliminasi atau meminimalisir munculnya risk agent
tersebut seperti terlihat dalam tabel 4..
Tabel 4. Aksi Mitigasi Risiko
Kode Aksi Mitigasi ETD
PA3 Melakukan komunikasi dan koordinasi yang
baik dengan owner 8831.76
PA1 Pertemuan intensif antara owner dengan
developer 4254.8
PA4 Pemberitahuan di awal terkait rencana revisi
regulasi yang berdampak pada SOP perizinan 1833.77
PA2 Sosialisasai project task kepada anggota tim
proyek 1609.56
PA7 Mendokumentasikan semua permintaan
perubahan dan evaluasi dalam rapat mingguan 874.68
PA5 Assessment survey data, wawancara user, dan
analisis data 867.17
PA8 Membuat dokumen checklist pengujian
software 827.35
PA9 Win-win agreements antara pihak
bersangkutan 297.67
PA6 Menggunakan requirements tools 250.52 PA10 Membuat prototype 173.44
0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800
A2 A4 A7 A1 A6 A17 A5 A16 A3 A19A21A15A20A18A10 A8
7 | P a g e Berdasarkan tabel tersebut, terdapat 10 aksi
mitigasi risiko yang mungkin dilakukan, dimulai dari nilai ETD tertinggi hingga nilai ETD terendah yaitu:
1. Ketidaksepahaman terhadap konsep dapat diselesaikan dengan melakukan komunikasi dan koordinasi yang baik dengan owner. Apabila komunikasi dan koordinasi dilakukan dengan baik, maka ketidaksepahaman dapat diminimalisir. Tentunya hal tersebut didukung melalui pertemuan yang intensif antara owner dan developer agar terjadi suatu kesepahaman terkait tujuan dan scope pekerjaan dari proyek serta mendokumentasikan hasil setiap pertemuan sebagai bahan review dan evaluasi.
2. Komunikasi dan koordinasi yang kurang baik, dapat diselesaikan dengan melakukan kembali komunikasi dan koordinasi yang baik dengan owner, sehingga segala permasalahan yang timbul bisa diselesaikan dengan baik dan sasaran proyek dapat tercapai.
3. Perubahan SOP Perizinan. Apabila komunikasi dan koordinasi berjalan dengan baik, seperti penyampaian informasi sejak awal kepada developer mengenai adanya proses revisi regulasi yang sedang berlangsung yang kemungkinan bisa
berdampak pada perubahan SOP perizinan, maka ketika terjadi perubahan SOP tim developer sudah mengantisipasi karena dalam perancangan awal sudah memperhatikan kemungkinan tersebut mengingat telah dikomunikasikan dengan baik.
4. Kebutuhan akan fitur yang diinginkan tidak sesuai dengan sistem yang ada dapat diselesaikan melalui sebuah assessment dalam tahap perencanaan yang melibatkan user selaku pengguna, mengumpulkan data-data yang dibutuhkan termasuk wawancara dengan user langsung, mengobservasi dan melakukan analisa data sehingga dapat diketahui kebutuhan sesungguhnya dari user.
5. Perubahan spesifikasi selama proyek dapat diselesaikan melalui mendokumentasikan semua permintaan perubahan spesifikasi dan melakukan evaluasi dalam rapat mingguan sehingga informasi dapat diketahui seluruh anggota tim proyek. Hanya perubahan yang disetujui yang yang akan dikerjakan.
Hasil perhitungan ETD pada tabel 4 merupakan hasil output dari HOR 2 yang dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. House of Risk 2 Risk
Agent
Proactive Action
PA1 PA2 PA3 PA4 PA5 PA6 PA7 PA8 PA9 PA10 ARPj
A2 6.6 6.6 1646
A4 9 869.4
A7 1.8 5.4 6.6 7.8 583.2
A1 2.6 9 2.6 327.6
A6 5.4 7.8 6.6 9 311
A17 9 257.4
A5 3 4.2 226.8
A16 3 219.7
TEk 11913.36 4828.68 26495.28 6601.56 2948.4 851.76 2799 2316.6 952.56 659.1
Dk 2.8 3 3 3.6 3.4 3.4 3.2 2.8 3.2 3.8
ETDk 4254.8 1609.56 8831.76 1833.77 867.17 250.52 874.68 827.35 297.67 173.44
Rank 2 4 1 3 6 9 5 7 8 10
5. Kesimpulan dan Saran Dari hasil pengolahan data dan analisis data
8 | P a g e 1. Hasil identifikasi risiko menggunakan model
HOR teridentifikasi 8 kejadian risiko yang mungkin terjadi selama proses proyek. Selain itu terdapat 21 agen risiko yang mampu memicu timbulnya suatu kejadian risiko, dimana 8 dari keseluruhan agen risiko yang teridentifikasi berkontribusi terahadap 80% total ARP atau masuk dalam kategori agen risiko prioritas, sehingga memerlukan penanganan yang serius. 2. Proses penanganan risiko didasarkan pada
hasil analisa dan perhitungan dari HOR 1 dimana telah didapatkan sebanyak 8 risk
agent yang diprediksi sangat dominan
terhadap kemungkinan terjadinya risiko. Terdapat 10 strategi penanganan yang direkomendasikan untuk mengeliminasi atau meminimalisir munculnya risk agent
tersebut dengan tingkat kesulitan penerapan yang berbeda-beda. Penerapan mitigasi risiko didasarkan atas nilai ETD tertinggi hingga terendah.
Sebagai akhir dari pembahasan ini, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan meliputi: 1. Implementasi metode House of Risk akan
lebih efektif dengan melibatkan tenaga ahli ataupun para pengambil kebijakan dalam
stakeholder proyek serta melibatkan seluruh level dalam stakeholder proyek. Hal ini bertujuan agar hasil dalam mengidentifikasi
risk event, risk agent, dan proactive action
dapat lebih teliti dan lebih sempurna lagi. 2. Walaupun memiliki keterbatasan, penelitian
ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun permodelan dari proses manajemen risiko untuk proyek-proyek selanjutnya.
Daftar Pustaka
[1] Suharjo (2011), Analisis Perencanaan dan
Manajemen Risiko Pada Proyek
Pembangunan BTS Telkomsel di Jawa Timur, Tesis Magister., Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya.
[2] Lutfi, Ahmad and Irawan, Herry(2012),
Analisis Risiko Rantai Pasok Dengan
Model House of Risk (HOR), Jurnal
Manajemen Indonesia, Vol.12-No.1.
[3] Pujawan, I.N. and Geraldin, L.H.(2009),
House of Risk: A Model for Proactive Supply Chain Risk Management. Business Process Management Journal, Vol.15 No.6, p 953-967.
[4] Yulianto, Aris Tjahyanto(2008),
Manajemen Risiko Proyek Pengembangan Perangkat Lunak MyBiz 2 di Software House ABC. Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi VII
[5] Project Management Institute, Inc.,(2008),
A Guide to the Project Management Body
of Knowledge: PMBOK Guide, Fourth
Edition, Pennsylvania.