• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN BARANG BUKTI UNTUK MENGUNGKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMANFAATAN BARANG BUKTI UNTUK MENGUNGKA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN BARANG BUKTI UNTUK

MENGUNGKAP KASUS KRIMINAL

MATA KULIAH MANAJEMEN INVESTIGASI TINDAK KRIMINAL Dosen : dr.Handayani Dwi Utami , Sp.F.

NUR WIDIYASONO 12917214

PROGRAM MAGISTER TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

(2)

I. Latar Belakang

Tindak kejahatan selalu meninggalkan jejak atau petunjuk-petunjuk yang

mengarah kepada pelakunya . sedangkan pada kejahatan dunia maya ada beberapa

tools atau alat bantu yang dapat mengungkap kasus kriminal yang dilakukan oleh

pelaku. Sebagai contoh pada sistem operasi terdapat Event Log dimana semua

aktifitas yang menggunakan sumber daya hardware ataupun software dapat

digunakan sebagai langkah awal untuk melakukan investigasi terhadap kerusakan

sistem.

Dalam hal melakukan investigasi tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas satu

alat bantu saja , tetapi diperlukan alat bantu lain yang saling mendukung.

Tindakan-tindakan cybercrime memang lebih rendah resikonya daripada

kejahatan fisik di dunia nyata. Itulah mengapa banyak orang jahat yang

memanfaatkan media internet sebagai sarana untuk melakukan kejahatan. Hanya

dengan seperangkat komputer dan koneksi internet yang memadai, penjahat

cybercrime siap melahap korbannya.

Tipologi cybercrime sendiri mengacu pada pemaknaan yang luas. Mulai dari

penyebaran virus sampai tulisan-tulisan yang mengandung nilai rasisme bisa

dianggap sebagai cybercrime.

II. Maksud dan Tujuan

a. Untuk mempelajari tentang pemanfaatan barang bukti digital sehingga dapat

mengetahui apa-apa saja yang termasuk jenis barang bukti digital tersebut

yang akan dimanfaatkan untuk mengungkap kasus kriminal.

b. Untuk mengetahui kategori / jenis barang bukti digital

c. Untuk mengetahui tahapan-tahapan proses identifikasi yang terdapat dalam

barang bukti digital

III. Landasan Teori

3.1. Teori Pembuktian Digital

Digital Forensik adalah Ilmu menemukan, memproses dan menyelidiki data

dari sistem komputer menggunakan suatu metode yang mana data yang

(3)

Bukti digital, sebagaimana bukti konvensional lainnya memerlukan proses

identifikasi,pengumpulan, penyimpanan, analisa serta akhirnya penunjukkan

keotentikannya pada persidangan. Dalam bidang forensika digital, fungsi hash

digunakan sebagai standar untuk melakukan proses identifikasi, verifikasi dan

otentifikasi data digital. Fungsi hash adalah sebuah prosedur terdefinisi atau fungsi matematika yang mengubah variabel dari suatu data yang berukuran

besar menjadi lebih sederhana, yaitu menjadi sebuah nilai sebesar 128-bit.

Fungsi hash dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi keamanan, dan umumnya

digunakan untuk meguji integritas sebuah file. Contoh fungsi hash yang

terkenal adalah MD5 dan SHA-1.

Sebenarnya terdapat banyak penggunaan dari fungsi hash ini, bisa untuk

kepentingan kriptografi / enkripsi, untuk kepentingan identifikasi dan juga

otentifikasi. Dalam bidang forensika digital, fungsi hash diterapkan untuk

kepentingan identifikasi dan otentifikasi bukti digital. Fungsi hash digunakan

untuk menjaga integrity karena perubahan pada file 1 bit saja akan mengubah

nilai hashnya.

Sebenarnya penggunaan MD5 dan SHA-1 tidak hanya untuk kepentingan

forensika digital saja, Dalam aktifitas menggunakan komputer sehari-haripun

kita bisa memanfaatkan kedua fungsi ini untuk meyakinkan bahwa data/file

yang kita maksud adalah sebagai mana yang kita maksud.

Misalnya kita akan mengirimkan attachment file lewat email kepada

seseorang, untuk menjaga bahwa file tersebut tidak mengalami perubahan

dalam proses pengirimannya, maka kita dapat membuat identifikasi MD5

terlebih dahulu kepada file yang akan dikirimkan kemudian nilai fungsi hash

yang dihasilkan kita sertakan pula dalam proses pengiriman file tersebut. Pada

saat file dari email tersebut akan dibuka, maka jalankan kembali aplikasi

fungsi MD5 untuk mengecek apakah nilai fungsinya sama atau tidak. Bila

ternyata sama maka dapat dipastikan bahwa file yang dikirimkan dan yang

diterima adalah sama, namun bila ternyata nilai fungsi MD5nya berbeda maka

dipastikan pula bahwa selama proses pengiriman file telah terjadi perubahan

data.

Sejarah singkat MD5 di mulai pada tahun 1991 yang didesain oleh Prof.

Ronald Rivest dari MIT. Beliau mendesain MD5 karena telah ditemukan

(4)

adalah model lain dari fungsi hash yang desain oleh NSA (national Security

Agency) Amerika untuk mengatasi beberapa kelemahan yang ditemukan dari

MD5. NSA sebenarnya mengeluarkan 4 seri fungsi hash yang dikenal dengan

SHA-0, SHA-1, SHA-2, SHA-3, namun yang secara luas diimplementasikan

dalam berbagai aplikasi adalah SHA-1.

3.2. Proses Pembuktian pada Digital Forensik

Bukti digital (Digital Evidence) merupakan salah satu perangkat vital dalam mengungkap tindak cybercrime. Dengan mendapatkan bukti-bukti yang memadai dalam sebuah tindak kejahatan,sebenarnya telah terungkap separuh

kebenaran. Langkah berikutnya menindak-lanjuti bukti-bukti yang ada sesuai

dengan tujuan yang ingin dicapai. Bukti Digital yang dimaksud dapat berupa

adalah : E-mail, file-file dokumen kerja, spreadsheet, sourcecode dari

perangkat lunak, Image, history web browser, bookmark, cookies, kalender.

Terdapat empat elemen forensik yang menjadi kunci pengungkapan bukti

digital. Elemen forensik tersebut adalah : identifikasi bukti digital,

penyimpanan bukti digital, analisa bukti digital, presentasi bukti digital.

Identifikasi Bukti Digital

Elemen ini merupakan tahapan paling awal dalam komputer forensik. Pada

tahapan ini dilakukan identifikasi dimana bukti itu berada, dimana bukti itu

disimpan, dan bagaimana penyimpanannya untuk mempermudah

penyelidikan. Network Administrator merupakan sosok pertama yang umumnya mengetahui keberadaan cybercrime sebelum sebuah kasus

cybercrime diusut oleh fihak yang berwenang. Ketika fihak yang berwenang

telah dilibatkan dalam sebuah kasus, maka juga akan melibatkan

elemen-elemen vital lainnya, antara lain:

• Petugas Keamanan (Officer/as a First Responder), Memiliki

kewenangan tugas antara lain : mengidentifikasi

peristiwa,mengamankan bukti, pemeliharaan bukti yang temporer dan

rawan kerusakan.

• Penelaah Bukti (Investigator), adalah sosok yang paling berwenang dan

(5)

instruksi-instruksi, melakukan pengusutan peristiwa kejahatan, pemeliharaan

integritas bukti.

• Tekhnisi Khusus, memiliki kewenangan tugas antara lain :

memeliharaan bukti yang rentan kerusakan dan menyalin storage bukti, mematikan(shuting down) sistem yang sedang berjalan, membungkus/memproteksi bukti-bukti, mengangkut bukti dan

memproses bukti.

Ketiga elemen vital diatas itulah yang umumnya memiliki otoritas penuh dalam penuntasan kasus cybercrime yang terjadi.

Penyimpanan Bukti Digital

Barang bukti digital merupakan barang bukti yang rapuh. Tercemarnya barang

bukti digital sangatlah mudah terjadi, baik secara tidak sengaja maupun

disengaja.

Kesalahan kecil pada penanganan barang bukti digital dapat membuat barang

bukti digital tidak diakui di pengadilan. Bentuk, isi, makna dari bukti digital

hendaknya disimpan dalam tempat yang steril. Hal ini dilakukan untuk benar-benar memastikan tidak ada perubahan-perubahan. Sedikit terjadi perubahan

dalam bukti digital, akan merubah hasil penyelidikan. Bukti digital secara

alami bersifat sementara (volatile), sehingga keberadaannya jika tidak teliti akan sangat mudah sekali rusak, hilang, berubah, mengalami kecelakaan.

Langkah pertama untuk menghindarkan dari kondisikondisi demikian salah

satunya adalah dengan melakukan copy data secara Bitstream Image pada tempat yang sudah pasti aman. Bitstream image adalah metode penyimpanan digital dengan mengkopi setiap bit demi bit dari data orisinil, termasuk File

yang tersembunyi (hidden files), File temporer (temp file), File yang terdefragmen (fragmen file), dan file yang belum ter-overwrite. Dengan kata lain, setiap biner digit demi digit di-copy secara utuh dalam media baru.

Teknik pengkopian ini menggunakan teknik Komputasi CRC. Teknik ini

(6)

Analisa Bukti Digital

Barang bukti setelah disimpan, perlu diproses ulang sebelum diserahkan pada

pihak yang membutuhkan. Pada proses inilah skema yang diperlukan akan

fleksibel sesuai dengan kasus-kasus yang dihadapi. Barang bukti yang telah

didapatkan perlu di-explore kembali kedalam sejumlah scenario yang berhubungan dengan tindak pengusutan, antara lain: siapa yang telah

melakukan, apa yang telah dilakukan (Contoh : penggunaan software apa

saja), hasil proses apa yang dihasilkan, waktu melakukan). Secara umum,

tiap-tiap data yang ditemukan dalam sebuah sistem komputer sebenarnya adalah

potensi informasi yang belum diolah, sehingga keberadaannya memiliki sifat

yang cukup penting. Data yang dimaksud antara lain : Alamat URL yang telah

dikunjungi, Pesan e-mail atau kumpulan alamat e-mail yang terdaftar, Program

Word processing atau format ekstensi yang dipakai,Dokumen spreedsheat

yang dipakai, format gambar yang dipakai apabila ditemukan, Registry

Windows, Log Event viewers dan Log Applications,File print spool.

Presentasi Bukti Digital

Kesimpulan akan didapatkan ketika semua tahapan telah dilalui, terlepas dari

ukuran obyektifitas yang didapatkan, atau standar kebenaran yang diperoleh, minimal bahan-bahan inilah nanti yang akan dijadikan “modal” untuk bukti di

pengadilan. Selanjutnya bukti-bukti digital inilah yang akan dipersidangkan,

diuji otentifikasi dan dikorelasikan dengan kasus yang ada. Pada tahapan ini

semua proses-proses yang telah dilakukan sebelumnya akan diurai

kebenarannya serta dibuktikan kepada hakim untuk mengungkap data dan

informasi kejadian.

Ilustrasi sederhana dari metodologi digital / komputer forensik dapat dilihat

(7)

Gambar 1 Ilustrasi Metodologi Digital Forensik (Sumber Gambar : http://www.cse.salford.ac.uk)

3.3. Digital Forensik Tool

Bila kita mencoba untuk mencari tools forensic yang paling bagus dan

lengkap, maka jawabannya adalah relatif, artinya boleh dikatakan tidak ada

tools forensic yang paling lengkap. Bayangan kita terkadang sebuah tools

forensics adalah sebagaimana pisau swiss, alat sederhana namun multi fungsi

dan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan. Namun ternyata hal itu tidak

berlaku untuk tools forensics. Setidaknya tools forensic dapat dikatagorikan

dalam sejumlah fungsi dan tentunya untuk setiap fungsi terdapat tools yang

spesifik yang akan memberikan output yang lebih maksimal. Berikut ini

adalah contoh pembagian fungsi forensic.

• Suite, yaitu katagori tools yg sifatnya all in, mengintegrasikan banyak

kemampuan.

Contohnya adalah FTK, Encase, SANS.

• First responder

• Memory / RAM Capture • Memory / RAM Analysis • IOS Apps

• Imaging and Disk Arbitration Control • Network

• Decription

(8)

• Searching • Reporting • Mobile device

Berikut ini adalah contoh dari list forensics tools yang dapat digunakan :

• http://www.appleexaminer.com/MacsAndOS/Recommendations/Softw

are/Software.html

• http://digitalcurationexchange.org/node/2038

• http://www.timberlinetechnologies.com/products/forensics.html • http://forensiccontrol.com/resources/free-software/

• http://www.forensicswiki.org/wiki/Category:Tools

IV. Rangkuman

• Barang bukti setelah disimpan, perlu diproses ulang sebelum diserahkan

pada pihak yang membutuhkan.

Bitstream image adalah metode penyimpanan digital dengan mengkopi

setiap bit demi bit dari data orisinil, termasuk File yang tersembunyi

(hidden files), File temporer (temp file), File yang terdefragmen (fragmen

file), dan file yang belum ter-overwrite. Teknik ini umumnya diistilahkan dengan Cloning Disk atau Ghosting.

• Digital Forensik merupakan teknik ilmiah yang meneliti perangkat digital

dalam membantu pengungkapan berbagai macam kasus kejahatan.

Tahapan-tahapan yang dilakukan pada Digital Forensik meliputi:

Pengumpulan (Acquisition), Pemeliharaan (Preservation), Analisa (Analysis), dan Presentasi (Presentation).

• Alat bantu / Tool untuk Digital Forensik sudah banyak , sehingga

(9)

V. References:

Ademu, I. O., Imafidon, C. O., & Preston, D. S. (2011). A New Approach of

Digital Forensic Model for Digital Forensic Investigation. International

Journal Of Advanced Computer Science and Applications, 2(12), 175-178.

Rekhis, S. (2008). Theoretical Aspects of Digital Investigation of Security

Incidents. Communication.

Eoghan Casey, “Digital Evidence and Computer Crime”, 2nd ed., hal. 20

Marcella, Albert J., and Robert S. Greenfiled, “Cyber Forensics a field manual for

collecting, examining, and preserving evidence of computer crimes”, by CRC

Gambar

Gambar 1 Ilustrasi Metodologi Digital Forensik

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengukuran dapat diterima karena penyimpangan hasil pengukuran yang digambarkan dengan nilai standar deviasi cukup kecil yaitu 1,07% untuk sampel uji 1 dan 1,49% untuk

Data di analisis statistik chikuadat perolehan hasil penelitian Prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan metode kooperatif model group investigasi lebih baik dari pada

f. Terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah Negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan

Dari biji tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang dikenal sebagai coklat.Wikipedia Jadi rancangan wisata edukasi kakao adalah proses merancang fasilitas yang melibatkan

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola konsumsi sarapan pagi pada murid sekolah dasar di SDN 060921 Kecamatan Medan Sunggal tahun 2015.. Penelitian ini merupakan

Sedangkan pada percobaan variasi I (menggunakan pipa kecil, dengan pengaturan fuel rack yang sama dengan percobaan normal ), putaran dan daya yang dihasilkan motor diesel

Melalui kajian data potensial elektroda standart siswa secara mandiri dapat menentukan unsur yang berperan sebagai anoda pada sel elektrolisis dengan benar – c3 3.8.4.2..

Pada Periode April - Juni 2017, analisis kuantitatif pelayanan informasi di BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah yang ditanggapi berdasarkan kategori