MENGIKUTSERTAKAN RANAH AFEKTIF DALAM
KRITERIA KELULUSAN UJIAN NASIONAL DENGAN
MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN SPIRITUAL
Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester 4 Mata Kuliah Pendidikan Inklusi
Dibimbing Oleh Drs. Sukarno, M.Pd
Disusun oleh
Nama : Nurul Istiqomah
Kelas : 4c
NIM : K7110125
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
MENGIKUTSERTAKAN RANAH AFEKTIF DALAM
KRITERIA KELULUSAN UJIAN NASIONAL DENGAN
MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN SPIRITUAL
(Nurul Istiqomah, K7110125, 4c, Pendidikan Inklusi)
Abstrak
Sebuah pendidikan pada hakikatnya mempunyai tujuan untuk membangun manusia seutuhnya sebagaimana yang tertulis dalam GBHN tahun 1998 bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia seutuhnya, maksud dari manusia seutuhnya adalah meliputi berbagai aspek tidak hanya aspek intelektual saja, tetapi juga aspek spiritual. Namun pada kenyataannya yang terjadi di dunia pendidikan masa kini lebih mengedepankan aspek intelektual sebagai tolok ukur keberhasilan dari sebuah proses pendidikan.
Dalam penentuan criteria kelulusan Ujian Nasional pun, aspek inteketual ini sangat mendominasi untuk menyatakan kelulusan seorang siswa. Aspek intelektual ini berkaitan dengan aspek kognitif yang dimiliki siswa selama proses pembelajaran. Padahal kenyataannya dalam perencanaan tujuan pembelajaran, terdapat 3 ranah yang harus dicapai. Yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Namun, untuk menentukan criteria kelulusan aspek afektif sering ditinggalkan.
Sehingga penulisan karya ilmiah “Mengikutsertakan Ranah Afektif dalam Kriteria Kelulusan Ujian Nasional dengan Meningkatkan Kualitas Pendidikan Spiritual” ditulis. Yaitu bertujuan agar semua kalangan mengingat pentingnya pendidikan spiritual sangat berperan penting dalam penentuan kepribadian anak. Agar kelak lulusan diharapkan tidak hanya pintar dalam bidang pengetahuan umum saja, tetapi juga diimbangi pengetahuan spiritual untuk membimbing dalam menjalani kehidupan.
I. Pendahuluan
Memasuki abad ke-21 dunia pendidikan di Indonesia sangat ironis. Di saat negara-negara lain berlomba untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, Indonesia masih saja dihadapkan pada persoalan mengenai Ujian Nasional yang dijadikan polemik di tengah masyarakat. Sebagian masyarakat mendukung adanya Ujian Nasional sebagai sarana untuk mengukur tingkat ketercapaian belajar siswa, sedangkan sebagian lagi menolak adanya Ujian Nasional ini. Adanya pihak-pihak yang pro dan kontra ini sering dijadikan bahan perdebatan saat Ujian Nasional akan berlangsung setiap tahunnya. Namun, akan luntur sendirinya seiring dengan pengumuman kelulusan tanpa adanya kejelasan dari Kementrian Pendidikan Nasional mengenai tingkat keberhasilan Ujian Nasional di tahun ini. Serta kejelasan untuk Ujian Nasional di tahun mendatang, apakah mempunyai great yang sama dengan Ujian Nasional tahun ini atau tidak. Hal demikian, menyebabkan kesimpangsiuran informasi di masyarakat.
Terkait dengan pihak-pihak yang pro dan kontra adanya Ujian Nasional mereka mempunyai alasan masing-masing. Untuk pihak yang pro Ujian Nasional menilai Ujian Nasional memang harus dilakukan. Karena bertujuan untuk mengukur, menilai, dan mengevaluasi tingkat ketercapaian pembelajaran yang dilakukan selama anak belajar pada tingkatan masing-masing.
sikap, karakter, kepribadian, dan watak yang dibentuk dalam proses pembelajaran.
Padahal sejatinya kita tahu bahwa pembentukan sikap, karakter, kepribadian, dan watak anak lebih susah serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Serta hasilnya pun tidak langsung diketahui dalam jangka waktu yang pendek. Berbeda halnya dengan pengetahuan dan keterampilan anak yang dapat langsung diketahui setelah ia mencapai criteria kelulusan. Pembentukan kepribadian tidak semudah “membalikkan telapak tangan”. Namun, untuk pembentukan karakter yang kuat dan kepribadian yang mulia membutuhkan proses.
II.Pembahasan
A. Ranah Afektif Membentuk Kepribadian
Tiga ranah yang harus dicapai dalam tujuan pembelajaran, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Mengenai ranah kognitif dan psikomotor bukan lagi ranah yang asing di telinga masyarakat. Di mana ranah kognitif berhubungan dengan pengetahuan anak dan ranah psikomotor berhubungan dengan keterampilan anak yang ingin dicapai sebagai hasil dari pembelajaran yang dilakukan. Sedangkan ranah afektif mungkin sedikit asing di telinga masyarakat karena terkadang kurang diperhatikan dalam perencanaan tujuan pembelajaran. Padahal ranah afektif ini merupakan ranah yang sangat penting sebagai hasil pelaksanaan pembelajaran. Karena ranah afektif ini berkaitan dengan sikap kepribadian yang terbentuk melalui proses pembelajaran yang dilakukan. Ranah afektif mempunyai 5 tingkatan yaitu receiving, responding, valuing, organization, characterization by evalue or calue complex.
Sjarkawi (2006 : 11) menyatakan bahwa kepribadian,
adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir.
Maka, dari pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa kepribadian anak dapat terbentuk dari lingkungan yang dimasukinya. Untuk anak lingkungan yang pertama kali dimasuki adalah lingkungan keluarga. Sehingga lingkungan keluarga ini dapat berperan besar dalam pembentukan kepribadian anak.
lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Terutama lingkungan sekolah ini, sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian anak setelah lingkungan keluarga. Karena pada lingkungan sekolah ia mulai berinteraksi dengan teman-temannya dan guru dalam melakukan proses pembelajaran.
Pembentukan kepribadian anak, sangat dipengaruhi oleh bagaimana seorang guru mendidik anak. Sebab kita tahu bahwa anak sangat mematuhi apa saja yang dikatakan guru dibandingkan apa yang dikatakan orang tuanya. Apapun yang dikatakan guru selalu dianggapnya paling benar. Untuk pembentukan kepribadian ini juga dapat direncanakan guru sebelum proses pembelajaran berlangsung. yaitu lewat tujuan pembelajaran dalam ranah afektif.
B. Posisi Guru dalam Pembentukan Kepribadian
Proses pembentukan kepribadian anak melalui kegiatan pembelajaran, dapat digambarkan sebagai berikut :
Siswa adalah suatu kelompok yang masih sangat kental berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang tuanya guna memperoleh pendidikan kepribadiannya pada awal kehidupannya.
Siswa sebelum dan sampai saat disekolahkan adalah seorang yang terikat dan dipengaruhi oleh orang tuanya. Setiap orang tua dari mereka merasa bertanggung jawab untuk membentuk kepribadian anak-anak mereka. Baik guru kelas maupun guru mata pelajaran mendapat amanat untuk membentuk kepribadian siswa. Pembentukan kepribadian direncanakan dandirumuskan dalam tujuan pembelajaran, yaitu pada ranah afektif. Selanjutnya dilakukan dengan menggunakan pendekatan, metode, dan strategi yang tepat. Perubahan cara berpikir moral siswa akan tampak pada tahapan pertimbangan moral yang ada padanya. Kualitas perilaku moral yang didasarkan pada pertimbangan moral tersebut menjadi perilaku keseharian dalam kehidupan siswa, sehingga tampak sebagai suatu cirri khas yang melekat pada kepribadian orang tersebut.
C. Kelulusan Ujian Nasional
Menurut H. A. R. Tilaar (2006 : 79), menyatakan bahwa
dalam teori perencanaan pendidikan dikenal tiga komponen besar yang menetukan standar pendidikan, yaitu komponen standar kurikulum atau standar isi, standardisasi performance (unjuk kerja), dan kesempatan belajar.
kebutuhan kehidupan nyata,. Demikian pula penyusunan kurikulum berdasarkan kepada falsafah mengenai manusia.
Standardisasi performance, tuntutan yang dimajukan kepada anak untuk dikuasai. Tingkat penguasaan materi yang disodorkan kepada anah bahkan sangat menentukan standar proses pendidikan. Suatu ujian yang dilaksanakan sewaktu-waktu ,erupakan profil sekejap dan isi kompetensi ini.
Dan kesempatan belajar, termasuk biaya yang tersedia untuk melaksanakan tugas rutin dan tugas inovatif dalam lingkungan sekolah. Apabila kita mengamati pelaksanaan Ujian Nasional yang dilaksanakan, berkaitan dengan mata pelajaran yang diujiankan semuanya lebih mementingkan pengetahuan umumnya saja. Baik itu, Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, maupun IPS. Pemerintah sepertinya buta akan pentingnya pendidikan spiritual yang tercermin dalam mata pelajaran agama.
Hal tersebut membuktikan bahwa tingkat pendidikan umum bukan jaminan memeliki kepribadian yang baik. Sehingga tidak salah jika ada orang yang mengatakan bahwa pelaksaan Ujian Nasional selama ini hasilnya tidak dapat optimal.
D. Pendidikan Spiritual
Menurut Sayid Mujtaba Musawi Lari (2001 : 64) menyatakan bahwa
… pendidikan spiritual diterapkan untuk membimbing manusia menuju kehidupan bahagia dan bebas.
Dengan demikian, dapat dikatakan pendidikan spiritual ini bukan hanya sekadar pendidikan yang mengutamakan pengetahuan saja. Tetapi lebih dari sekadar itu, pendidikan spiritual dapat digunakan untuk membimbing dan mengarahkan anak dalam menapaki kehidupannya kelak saat mereka deewasa. Membimbing dan mengarahkan anak setelah mereka lulus dari lingkungan sekolah dan mulai terjun di masyarakat. Sehingga dengan bekal pendidikan yang pernah diterima saat berada dibangku sekolah dapat digunakan untuk mengendalikan anak dari kepribadian yang kurang mulia. Diharapkan kelak dengan adanya peningkatan kualitas pendidikan spiritual, aka nada keseimbangan dalam hal pengetahuan akademik dengan spiritual.
Menurut Profesor Khalil A. Khavari (dalam Aldina Awin Septanti, 2010 : 51) menyatakan bahwa “Ada beberapa aspek yang menjadi dasar pendidikan spiritual, yaitu Sudut pandang spiritual-keagamaan, relasi sosial-spiritual-keagamaan, dan etika sosial.”
direfleksikan pada sikap-sikap sosial yang menekankan segi kebersamaan dan kesejahteraan sosial. Sudut pandang etika sosial., artinya semakin beradab etika sosial manusia semakin berkualitas pendidikan spiritualnya.
Indonesia berada dalam budaya yang secara spiritual rendah yang ditandai oleh materialisme, ketergesaan, egoisme diri yang sempit, kehilangan makna dan komitmen. Namun, tidak ada salahnya sebagai individu calon pendidik, berusaha meningkatkan pendidikan spiritual anak didik dengan melakukan evolusi.
Secara umum, meningkatkan pendidikan spiritual dengan meningkatkan penggunaan proses tersier psikologis yaitu kecenderungan membiasakan anak untuk bertanya mengapa, untuk mencari keterkaitan antara segala sesuatu, untuk membawa ke permukaan asumsi-asumsi mengenai makna dibalik atau di dalam sesuatu, menjadi lebih suka merenung, bertanggung jawab, lebih sadar diri, lebih jujur terhadap diri sendiri, dan lebih pemberani dalam kegiatan pembelajaran.
III.Penutup
A. Kesimpulan
Dalam pendidikan di Indonesia tingkat kesadaran mengenai pentingnya aspek afektif masih rendah. Sehingga dalam pembentukan kepribadian anak kurang diperhatikan. Terlebih dalam pelaksanaan Ujian Nasional, aspek afektif seolah dinomorsekiankan. Terbukti dalam penentuak Kriteria Kelulusan Ujian Nasional, hanya mengutamakan pendidikan intelektualnya berupa aspek kognitif saja. Sangat ironi memang.
Padahal apabila semua pihak terutama Kementrian Pendidikan Nasional menyadari pentingnya peningakatan mutu pendidikan spiritual, maka kelak akan terlihat bagaimana kualitas hasil lulusan. Hasil lulusan yang tidak hanya pandai secara akademik, tetapi juga pandai spiritual. Sehingga kualitas lulusan tidak seperti saat ini yang pandai dala bidang akademik, tapi kepribadiannya nol. Terbukti dengan banyaknya praktisi-praktisi diberbagai bidang melakukan KKN.
B. Saran
selalu mengawasi semua gerak-gerik kita sehingga kita harus berperilaku yang mulia, dll.
DAFTAR PUSTAKA
Lari, Sayid Mujtaba Musawi. 2001. Etika & Pertumbuhan Pendidikan Spiritual. Jakarta : Lentera
Septanti, Aldina Awin. 2010. Aktualisasi Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ) Siswa ebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Diri dalam Proses Pembelajaran di SMAN 1 Malang Kelas X. Diakses dari www.aldinaawins.blogspot.com Tanggal 29 Mei 2012
Sjarkawi. 2005. Pembentukan Kepribadian Anak. Jambi : Bumi Aksara Sukidi. 2002 Rahasia Sukses Hidup Bahagia :Kecerdasan
Spiritual” mengapa SQ lebih penting daripada EQ. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama