Adaptasi Fisik Pada Ibu Pada Masa Postpartum
Oleh Marisa Diah Lestari, 1306409394, Fakultas Ilmu Keperawatan
Pada enam minggu pertama setelah kelahiran seorang bayi, dikenal dengan masa postpartum. Pada pada masa postpartum, seorang ibu akan mengalami adaptasi fisiknya. Adaptasi ini untuk kembalinya sistem tubuh ke masa sebelum kehamilan. Adaptasi fisik yang dialami oleh ibu pada masa postpartum diantaranya adaptasi pada sistem reproduksi, sistem kardiovaskular, dan sistem urinari. Adaptasi fisik yang pertama ialah adaptasi pada sistem reproduksi. Menurut White, Duncan, dan Baumle (2011), adaptasi pada sistem reproduksi terjadi pada uterus, serviks, vagina, dan perineum. Adaptasi sistem reproduksi yang pertama menurut White, Duncan, dan Baumle (2011), ialah uterus. Pada adaptasi uterus dikenal dengan involusi. Involusi merupakan kembalinya uterus ke ukuran dan kondisi sebelum ibu mengalami kehamilan (White, Duncan, dan Baumle, 2011). Pada involusi ini terjadi tiga proses, yaitu:
1. Kontraksi serat otot. Rahim seorang ibu pada masa postpartum dalam keadaan kosong, otot uterus berkontraksi untuk mengontrol perdarahan di daerah tersebut. Serat otot secara bertahap kembali ke dalam ukuran dan bentuk semula.
2. Katabolisme. Perbersaran sel otot uterus mengalami perubahan katabolik pada protein sitoplasma yang mana mengurangi ukuran setiap sel otot uterus. Produk katabolik di sekresikan pada hasil nitrogen dalam urin.
3. Regenerasi. Endometrium mengalami regenerasi selama rentang waktu 2 sampai 3 minggu.
Menurut Blackburn dalam Ricci (2009), ketiga proses involusi pada uterus diantaranya:
1. Kontraksi serta otot untuk mengurangi serat otot yang sebelumnya mengalami peregangan selama kehamilan.
Gambar 1. Involusi uterus menurut Ricci (2009)
Gambar 2. Penurunan fundus uterus sekitar 1 cm setiap harinya (White, Duncan, dan Baumle, 2011)
Saat setelah melahirkan serang bayi, seorang wanita akan mengalami kontraksi rahim. Kontraksi rahim ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman. Kontraksi rahim ini biasa dikenal dengan afterpains. Menurut Ricci (2009), afterpains akan lebih kuat selama menyusui. Hal ini terjadi karena menyusui merangsang pelepasan hormon oksitosin dari hipofisis posterior yang dapat merangsang kontraksi rahim yang kuat (White, Duncan, dan Baumle, 2011). Selain involusi dan penurunan fundus uterus, adaptasi uterus lainnya ialah lochia. Menurut White, Duncan, dan Baumle (2011), lochia merupakan debit rahim atau debit vagina setelah melahirkan. Pada awalnya, debit rahim berwarna merah, kemudian berubah ke merah muda atau coklat kemerahan, setelah itu berubah ke putih kekuningan.
Lochia menurut Ricci (2009), ialah keputihan yang terjadi setelah proses kelahiran. Hal ini merupakan hasil dari involusi, di mana lapisan superfisial dari membran mukus (desidua) basalis menjadi nekrosis dan melebur. Lochia dari rahim bersifat basa, kemudian menjadi asam setelah melewati vagina. Lochia mempunyai aroma amis. Jumlah rata-rata lochia adalah sekitar 240 – 270 ml (Ricci, 2009). Lochia memiliki 3 tahap, menurut Ricci (2009), yaitu:
1. Lochia lubra. Merupakan campuran lendir yang berwarna merah tua, serpihan jaringan, serta darah. Lochia lubra ini berlangsung selama 3 – 4 hari pertama setelah melahirkan.
2. Lochia serosa merupkan tahap kedua, di mana karakteristik dari lochia ini berwarna coklat kemerahan. Locia serosa ini mengandung leukosit, jaringan desidua, sel darah merah, dan cairan serosa. Lochia serosa ini berlangsung sekitar 3 – 10 hari setelah melahirkan.
3. Lochia alba merupakan tahap terakhir, di mana karakteristik lochia alba ialah berwarna coklat putih. Lochia alba ini terdiri atas leukosit serta jaringan desidua. Lochia alba berlangsung di hari ke-10 – 14. Normalnya, lochia alba dapat bertahan selama 3 – 6 minggu.
Lochia pada wanita hamil harus didokumentasikan. Mendokumentasikan jumlah lochia dengan melihat dari pembalut. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mendokumentasikan jumlah lochia, menurut Murray dan McKinney (2014), yaitu dengan melihat selama satu jam :
Adaptasi sistem reproduksi yang kedua ialah serviks. Menurut Ricci (2009), serviks akan kembali menutup secara bertahap dalam rentang waktu 2 minggu, tetapi mulut rahim tidak dapat menutup atau kembali dalam bentuk sebelum kehamilan. Mulut serviks tidak dapat kembali berbentuk seperti lingkaran, tetapi akan berbentuk seperti celah (Ricci, 2009). Terdapat perbedaan mulut rahim pada wanita yang belum mengalami kehamilan dengan wanita yang telah mengalami kehamilan. Pada wanita yang belum mengalami kehamilan, mulut rahim berbentuk oval atau bulat, tetapi pada wanita yang telah mengalami kehamilan ialah berbentuk celah secara horisontal (White, Duncan, dan Baumle, 2011).
Gambar 4. Perbedaan mulut rahim pada wanita yang belum mengalami kehamilan dengan wanita yang sudah mengalami kehamilan (Ricci, 2009)
Adaptasi reproduksi yang ketiga ialah vagina. Menurut White, Duncan, dan Baumle (2011), selama persalinan, vagina mengalami pelebaran atau peregangan yang besar. Kondisi ini membutuhkan waktu sekitar 6 minggu untuk melakukan involusi serta menstabilkan bentuk vagina. Selama periode postpartum, dinding vagina mengalami atropi dan tidak dapat menebal (Murray dan McKinney, 2014). Hal ini disebabkan terjadi penurunan hormon estrogen. Hormon estrogen akan diproduksi pada siklus menstruasi. Siklus menstruasi akan kembali dalam rentang waktu 1 – 3 bulan setelah melahirkan (Ricci, 2009). Saat ovuluasi akan memproduksi hormon estrogen. Hormon estrogen inilah yang akan menebalkan mukosa vagina.
persalinan, dibutuhkan untuk dilakukannya episiotomi, insisi bedah di daerah perineum untuk memberikan ruang tambahan untuk kelahiran bayi. Hal ini akan membutuhkan proses penyembuhan pada bagian perineum sekitar 4 – 6 bulan (Murray dan McKinney, 2014). Laserasi pada bagian perineum juga dapat terjadi. Menurut White, Duncan, dan Baumle (2011), laserasi dan episiostomi dapat diklasifikasikan berdasarkan jaringan yang akan terlibat serta waktu dalam proses penyembuhan, yaitu:
1. Tingkat pertama yaitu kulit dan membran mukosa 2. Tingkat kedua yaitu kulit, membran mukosa, dan otot
3. Tingkat ketiga yaitu kulit, membran mukosa, otot, dan spingter anal
4. Tingkat keempat yaitu kulit, membran mukosa, otot, spingter anal, dan mukosa dubur.
Pengklasifikasian jaringan yang terlibat antara laserasi dan episiostomi menurut Murray dan McKinney (2014), yaitu :
1. Jaringan yang terlibat di tingkat pertama yaitu mukosa vagina superfisial dan kulit perineum
2. Jaringan yang terlibat di tingkat kedua yaitu mukosa vagina, kulit perineum, fasia, serta otot-otot perineum
3. Jaringan yang terlibat di tingkat ketiga meluas hingga ke spingter anal eskternal 4. Jaringan yang terlibat di tingkat keempat hingga ke dalam mukosa anus.
Adaptasi pada perineum akan menyebabkan seorang ibu merasa tidak nyaman setelah melahirkan. Rasa tidak nyaman ini dapat terjadi pada saat seorang ibu menggunakan otot-otot perineum untuk duduk, membungkuk, berjongkok, berjalan, hingga melakukan defekasi dan buang air kecil (White, Duncan, dan Baumle, 2011). Sebagai seorang perawat, untuk mengurangi rasa ketidaknyamanan dengan beberapa teknik. Menurut Ricci (2009), teknik mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri pada bagian perineum diantaranya mengkompres bagian perineum dengan es, mandi sitz, latihan kegel, atau dengan memberikan anastesi.
mengalami kehilangan darah sebanyak 1000 mL. Adaptasi pertama yang dapat terjadi pada sistem kardiovaskular ialah tanda vital. Menurut White, Duncan, dan Baumle (2011), seorang ibu akan mengalami peningkatan suhu tubuh, 38o C, selama 24 jam pertama. Peningkatan
suhu ini terjadi karena ibu mengalami kondisi dehidrasi selama persalinan.
Peningkatan nadi juga terjadi pada seorang ibu di masa postpartum. Akan tetapi peningkatan nadi tidak melebihi 100 kali per menit. Menurut Bowes dalam White, Duncan, dan Baumle (2011), denyut nadi akan kembali normal sekitar minggu ke 8. Selain itu, tekanan darah ibu akan mengalami peningkatan yang berlangsung selama 4 hari. Pola napas pada ibu pada masa postpartum akan terasa lebih mudah karena rahim dalam keadaan kosong yang tidak lagi memberikan tekanan pada diafragma. Menurut White, Duncan, dan Baumle (2011), dalam rentang waktu 6 – 8 minggu, pola napas ibu akan kembali normal.
Adaptasi kedua yang dapat terjadi pada sistem kardiovaskuler ialah curah jantung. Menurut White, Duncan, dan Baumle (2011), selama kehamilan curah jantung akan mengalami peningkatan. Peningkatan terjadi pada proses persalinan baik secara normal maupun sesar. Curah jantung tetap tinggi selama minimal 48 jam setelah persalinan. Curah jantung akan turun di minggu ke 2 pada masa postpartum. Curah jantung membutuhkan waktu sekitar 24 minggu untuk kembali secara normal sebelum kehamilan (White, Duncan, dan Baumle, 2011). Menurut Murray dan McKinney (2014), peningkatan curah jantung disebabkan karena:
1. Peningkatan aliran darah kembali ke jantung dari unit uteroplasenta ke dalam sirkulasi sentral
2. Penurunan tekanan pada bagian rahim
3. Perpindahan kelebihan cairan ekstraseluler ke dalam intravaskular.
Adaptasi ketiga yang dapat terjadi pada sistem kardiovaskular ialah volume darah. Selama proses persalinan, seorang ibu akan mengalami perubahan volume darah secara cepat dan banyak. Menurut White, Duncan, dan Baumle (2011), terdapat 3 perubahan fisiologis untuk menstabilkan homeostatis dari kehilangan darah yang berlebih, diantaranya:
1. Kehilangan sirkulasi uteroplasenta, ketika plasenta dikeluarkan, akan mengurangi volume darah sebesar 10% - 15%
3. Perpindahan cairan dari ruang ekstraseluler ke dalam pembuluh darah akan meningkatkan volume darah.
Kelebihan volume darah dieliminasikan dari tubuh dengan dua cara. Menurut Murray dan McKinney (2014), kedua cara untuk mengeliminasikan kelebihan volume darah yaitu dengan cara:
1. Diuresis. Terjadi peningkatan eksresi urin. Diuresis terjadi karena penurunan hormon aldesteron. Hal ini akan menyebabkan penurunan pada retensi natrium dan akan mempercepat ekskresi cairan. Selain aldesteron, hormon oksitosin juga akan mengalami penurunan yang akan menyebabkan reabsorpsi cairan. Seorang ibu akan menghsilkan urin hingga 3000 mL per hari.
2. Diaphoresis. Terjadi peningkatan keringat. Hal ini terjadi pada malam hari selama 2 – 3 malam setelah melahirkan.
Adaptasi keempat yang terjadi pada sistem kardiovaskular ialah nilai darah. Menurut White, Duncan, dan Baumle (2011), jumlah sel darah putih akan meningkat selama kehamilan, jumlanya ialah 12.000/mm3 meningkat menjadi 20.000 – 30.000/ mm3.
Peningkatan sel darah putih terjadi selama 10 – 12 hari setelah proses persalinan. Jumlah hemoglobin dan hematokrit akan menurun selama 3 hari pertama setelah proses persalinan. Hal ini terjadi karena ibu mengalami kehilangan volume darah yang cepat dan banyak. Akan tetapi, jumlah hemoglobin dan hematokrit akan kembali nilai normalnya dalam 4 – 6 minggu (Murray dan McKinney, 2014).
Adaptasi pada masa postpartum yang ketiga ialah adaptasi pada sistem perkemihan. Pada sistem perkemihan, adaptasi mencakup dua, yaitu perubahan fisik dan perubahan kimia. Menurut White, Duncan, dan Baumle (2011), perubahan fisik pada sistem perkemihan ialah terjadi penurunan tonus otot dari kandung kemih serta pelebaran ureter. Kondisi ini akan kembali stabil dengan memerlukan waktu sekitar 2 – 8 minggu. Selain itu, kandung kemih, uretra, serta jaringan di sekitar meatus kemih akan mengalami trauma sehingga akan menjadi edema selama proses persalinan. Hal ini akan menyebabkan seorang ibu akan mengalami kesulitan dalam berkemih. Pada umumnya, seorang ibu akan mengalami kesulitan dalam mengosongkan kandung kemih, distensi kandung kemih, serta retensi urin. Saat berkemih pada seorang ibu di masa postpartum mengalami hambatan. Menurut Ricci (2009), beberapa hal yang dapat menghambat proses berkemih pada seorang ibu di masa postpartum ialah:
1. Laserasi perineum
2. Edema pada daerah perineum dan jaringan sekitar meatus kemih 3. Hematoma
4. Penurunan tonus otot kandung kemih akibat dari anastesi regional yang diberikan
Gambar 5. Kandung kemih yang menekan rahim ke atas pada masa postpartum (Murray dan McKinney, 2014)
Menurut Murray dan McKinney (2014), perdarahan berlebih dapat disebabkan oleh atonia uteri, ketidakmampuan rahim untuk berkontraksi, sehingga kandung kemih yang penuh akan menekan rahim ke atas dan ke samping. Kemampuan kandung kemih untuk dapat kembali mengosongkan urin secara menyeluruh dapat pulih dalam rentang waktu 5 – 7 hari setelah persalinan (Lowdermilk & Perry dalam White, Duncan, dan Baumle, 2011). Perubahan kimia pada sistem perkemihan menurut White, Duncan, dan Baumle (2011), terdapat kandungan protein dalam urin seorang ibu pada masa postpartum. Terdapatnya protein dalam urin disebabkan karena proses katabolik dari involusi uterus. Kondisi ini akan berlangsung selama 1 – 2 hari. Tidak hanya protein yang terdapat di dalam kandungan urin, tetapi juga keton dan BUN yang dapat terkandung di dalam urin (White, Duncan, dan Baumle, 2011).
Daftar pustaka
Murray, S. S., dan McKinney, E. S. (2014). Foundations of maternal-newborn and women’s health nursing: 6th edition. United States of America: Elsevier
White, L., Duncan, G., dan Baumle, W. (2011). Foundations of maternal & pediatric