18 IJHE 2 (3) (2013)
Indonesian Journal of History Education
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijhe
UPAYA GURU DALAM MENGATASI HAMBATAN PEMBELAJARAN
SEJARAH DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DI
MADRASAH ALIYAH AL IRSYAD GAJAH DEMAK
Pradita Ardiansyah
Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Info Artikel
________________ Sejarah Artikel: Diterima Januari 2013 Disetujui Februari 2013 Dipublikasikan Juni 2013 ________________ Keywords: Hambatan, Upaya, KTSP, PAIKEM ____________________Abstrak
___________________________________________________________________ Artikel ini mengkaji mengenai pelaksanaan KTSP yang lebih menekan pada kemampuan guru untuk mengembangkan materi pelajaran dan menuntut pengembangan diri siswa setelah melaksanakan proses belajar, karena pengembangan diri merupakan komponen utama dalam KTSP.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif.. Informan dalam penelitian ini adalah guru Sejarah. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode yaitu (1) observasi, (2) wawancara, (3) dokumentasi. Analisis yang dilakukan menggunakan analisis model interaktif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah hambatan yang dirasakan guru sejarah MA Al Irsyad Gajah dalam melaksanakan KTSP ternyata masih dalam level proses pembelajarannya, tidak pada level kurikulum itu sendiri. Upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan KTSP adalah dengan mengintensifkan pendekatan PAIKEM.
Abstract
___________________________________________________________________ This article examines the implementation of the SBC is more pressure on the ability of teachers to develop learning materials and requires the development of self-esteem after implementing the learning process, because the self-development is a major component in the SBC.
This study used qualitative research methods .. Informants in this study is a history teacher. Data collection techniques in this study using several methods: (1) observation, (2) the interview, (3) documentation. Analyzes were performed using analysis of interactive models.
The results showed that a number of perceived barriers MA Al Ershad history teacher in implementing SBC elephant was still in the learning process level, not at the level of the curriculum itself. Efforts are being made to overcome the obstacles teachers SBC is to intensify PAIKEM approach.
© 2013 Universitas Negeri Semarang
Alamat korespondensi:
Gedung C4 Lantai 1 FIS Unnes
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229 E-mail: [email protected]
Pradita Ardiansyah / Indonesian Journal of History Education 2 (1) (2013)
19
PENDAHULUANKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus (BSNP, 2006:6).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kurikulum pada KTSP jenjang Pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada Standar Isi (SI) dan standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta berpedoman pada panduan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Selain itu, penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005 (BSNP, 2006:3).
Para pengembang kurikulum dan pihak lain pendidikan menganalisis dan melihat perlunya di terapkan kurikulum agar dapat membekali peserta didik dengan berbagi kemampuan dalan penguasaan IPTEK sesuai dengan tuntutan Zaman dan Reformasi, dengan kurikulum baru ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam pengembangan menuntut adanya dukungan guru yang profesional dan berkualitas yang mampu memahami dan menerapkan KTSP tersebut pada masing-masing mata pelajaran.
Tidak mudah untuk menghasilkan semua tuntutan diatas, pemerintah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan harus selalu membuat kebijakan-kebijakan baru dalam dunia pendidikan yang diharapkan dengan kebijakan-kebijakan tersebut nantinya menghasilkan perubahan yang berarti dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. Perubahan yang cukup mendasar dalam sistem pendidikan nasional merupakan prasyarat utama agar pendidikan mampu melahirkan calon-calon penerus
pembangunan yang sabar, kompeten, mandiri, kritis, rasional, cerdas, kreatif dan siap menghadapi berbagai macam tantangan dengan tetap bertaqwa Kepada Tuhan.
Menurut Mulyasa (2009:9) KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan kurikulum agar lebih memudahkan guru, karena mereka banyak dilibatkan diharapkan memiliki tanggung jawab yang memadai. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakan keharusan agar sistem pendidikan nasional selalu relevan dan kompetitif.
Perubahan kurikulum adalah satu hal yang wajar, walaupun dampaknya akan mengakibatkan perubahan pada banyak hal. Setiap perubahan akan menyebabkan perubahan struktur pendidikan, buku panduan, kebijaksanaan Depdiknas, dan sosialisasi perubahan pada guru. Biasanya peristiwa ini akan diikuti dengan bentuk pelatihan secara nasional. Hal ini tentunya akan membutuhkan biaya yang sangat tinggi.
Pada dasarnya, tujuan KTSP adalah bagaimana membuat siswa dan guru lebih aktif dalam pembelajaran selain murid harus aktif dalam kegiatan belajar dan mengajar, guru juga harus aktif dalam memancing kreativitas anak didiknya sehingga dialog dua arah terjadi dengan sangat dinamis. Kelebihan lain KTSP adalah memberi alokasi waktu pada kegiatan pengembangan diri siswa, siswa tidak melulu mengenal teori, tetapi diajak untuk terlibat dalam sebuah proses pengalaman belajar. Namun pada dasarnya juga antara KBK dan KTSP tidak berbeda jauh, kedua kurikulum tersebut mempunyai komponen yang sama yaitu pengembangan diri pada siswa dan siswa dituntut untuk aktif , kreatif dalam pembelajaran.
Penerapan KTSP pada mata pelajaran sejarah diharapkan dapat menepis persepsi tentang pelajaran sejarah yang dirasa membosankan karena banyaknya materi pelajaran sejarah yang nantinya guru sampaikan. Selain itu dengan adanya KTSP ini siswa di harapkan tidak hanya tahu dan menghafal materi pelajaran sejarah saja, tetapi juga dapat memahaminya secara mendalam.
Pradita Ardiansyah / Indonesian Journal of History Education 2 (1) (2013)
20
Untuk mencapai semuanya itu tidak terlepas dari peran dan tugas guru sebagai pendidik, untuk itu guru harus terus meningkatkan pengetahuannya dalam bidang pendidikan, tidak terkecuali dengan pemahaman mengenai pelaksanaan KTSP yang lebih menekan pada kemampuan guru untuk mengembangkan materi pelajaran dan menuntut pengembangan diri siswa setelah melaksanakan proses belajar, karena pengembangan diri merupakan komponen utama dalam KTSP. Pada kenyataanya pembelajaran sejarah di MA AL IRSYAD Gajah ini banyak terdapat hambatan-hambatan dalam proses pembelajaran diantaranya adalah terbatasnya media pembelajaran, sarana dan prasarana yang kurang memadai seperti tidak adanya laboratorium sejarah, metode ceramah yang dianggap siswa membosankan, strategi guru yang kurang bisa berjalan karena keterbatasan alat dan media pembelajaran, siswa yang tidak begitu aktif karena hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru sejarah sedangkan komponen utama dalam KTSP menuntut pengembangan diri pada siswa yaitu siswa harus selalu aktif.Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, dalam penelitian ini akan diangkat beberapa permasalahan, yaitu:
1. Hambatan - hambatan apa sajakah yang ditemui guru dalam pembelajaran sejarah di MA AL IRSYAD Gajah Kabupaten Demak?
2. Upaya - upaya apakah yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan pembelajaran sejarah dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di MA AL IRSYAD Gajah Kabupaten Demak?
3. Hasil - hasil apa saja yang ditemukan guru dalam pembelajaran sejarah di MA
AL IRSYAD Gajah
Kabupaten Demak? 4.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini mengunakan metode kualitatif sehingga menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis ataupun lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2007 : 44). Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran valid tentang upaya guru mengatasi hambatan pembelajaran sejarah dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di MA AL IRSYAD Gajah tahun ajaran 2012/2013 dengan metodologi kualitatif yang menggunakan pendekatan kualitatif dianggap sesuai untuk mengkaji permasalahan dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode, yaitu (1) studi dokumen, (2) observasi, (3) wawancara. Analisis yang digunakan menggunakan model analisis interaktif dengan langkah-langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut, yaitu (1) pengumpulan data, (2) reduksi data. (3) penyajian data, (4) penarikan kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bedasarkan hasil penelitian dapat diketahui Berdasarkan pengamatan di MA Al Irsyad Gajah dapat diperoleh bahwa hambatan yang terdapat dalam pembelajaran sejarah adalah sebagai berikut
a) Kebiasaan guru dalam menggunakan metode ceramah.
Masalah atau juga hambatan besar yang paling dirasakan guru adalah tentang metodenya yang dipakai sendiri yaitu “Ceramah”. Guru memang pernah memberi metode pelajaran yang lain yang menuntut keaktifan siswa atau yang sering dikenal dengan PAIKEM. Namun metode ceramah memang dijadikan metode yang paling dominan diaplikasikan oleh guru tersebut. Dengan kata lain sebenarnya guru menyadari tentang kekurangan dirinya yang kurang inovatif. Kekurangan dalam metode ceramah akan berimplikasi terjadinya benturan dengan keinginan kurikulum KTSP yaitu masalah durasi pembelajaran. Guru mengeluh
Pradita Ardiansyah / Indonesian Journal of History Education 2 (1) (2013)
21
bahwa jika ia terus menerus menggunakan metode ceramah maka alokasi jam pelajaran yang ditetapkan kurikulum masih kurang dan akhirnya terpaksa mengorbankan tidak mengajarkan materi yang belum tersampaikan. Isi dalam ceramah tentunya selalu disisipi nasehat-nasehat moral atau sharing cerita realita yang masih ada kaitannya dengan pelajaran ataupun yang tidak. Hal inilah yang cukup mengulur waktu, padahal siswa bisa juga mendapatkan nasehat moral dan pengalaman realita di luar jam pelajaran.b) Masih Terbatasnya Alat Elektronik dan Alat Peraga.
Hambatan lain yang dialami di MA Al Irsyad Gajah adalah keterbatasan sarana dan prasarana terutama dalam hal elektronik dan alat peraga sehingga pembelajaran sejarah kurang berjalan dengan baik. Komunikasi antara guru dan siswa akan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan pembelajaran, siswa tidak hanya sebagai obyek dalam proses belajar mengajar dan guru bukan sebagai subyek utama informasi yang ada antara siswa dan guru bersama-sama dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Akan tetapi kurangnya sarana dan prasarana misalnya alat elektronik seperti LCD Proyektor untuk menyampaikan materi yang lebih menarik dan tidak membosankan ternyata belum tersedia di MA AL IRSYAD. Media pembelajaran tidak selalu berkaitan dengan teknologi, tapi juga kelengkapan dan kelayakan pakai. Media seharusnya cukup menjamin atau minimal memiliki tujuan agar proses penyerapan ilmu bisa dimengerti secara optimal oleh yang diberi ilmu. Banyak media-media pembelajaran yang mudah didapat atau murah, tinggal kemauan dan keberanian guru untuk menerapkannya kepada siswa. Jika tidak menggunakan media apapun dalam pembelajaran, maka hal yang paling primitif/konservatif dilakukan untuk melakukan transfer ilmu adalah dengan metode “ceramah”. Metode ceramah juga sebenarnya tidak selalu diartikan sebagai metode yang paling membosankan. Hanya saja dalam metode ini setidaknya harus ditambahkan siasat bagaimana agar apa yang disampaikan tidak
membosankan dan proses transfer ilmu berjalan dengan lancar.
c) Kemampuan Siswa yang tidak sama dalam menerima pembelajaran. Hambatan juga dirasakan oleh guru karena tidak semua siswa memiliki kemampuan dalam menerima pelajaran yang sama, belajar pada dasarnya merupakan proses usaha aktif seseorang untuk memperoleh sesuatu, sehingga terbentuk perilaku baru menuju arah yang lebih baik. Kenyataannya, para pelajar sering kali tidak mampu mencapai tujuan belajarnya atau tidak memperoleh perubahan tingkah laku sebagai mana yang diharapkan. Hal itu menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan belajar yang merupakan hambatan dalam mencapai hasil belajar, sementara itu setiap siswa dalam mencapai sukses belajar, mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Ada siswa yang dapat mencapainya tanpa kesulitan, akan tetapi banyak pula siswa mengalami kesulitan, sehingga menimbulkan masalah bagi perkembangan pribadinya.
Menghadapi masalah itu, ada kecenderungan tidak semua siswa mampu memecahkannya sendiri. Seseorang mungkin tidak mengetahui cara yang baik untuk memecahkan masalah sendiri. Ia tidak tahu apa sebenarnya masalah yang dihadapi. Ada pula seseorang yang tampak seolah tidak mempunyai masalah, padahal masalah yang dihadapinya cukup berat. Atas kenyataan itu, semestinya sekolah harus berperan turut membantu memecahkan masalah yang dihadapi siswa. Seperti diketahui, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sekurang-kurangnya memiliki 3 fungsi utama. Pertama fungsi pengajaran, yakni membantu siswa dalam memperoleh kecakapan bidang pengetahuan dan keterampilan. Kedua, fungsi administrasi, dan ketiga fungsi pelayanan siswa, yaitu memberikan bantuan khusus kepada siswa untuk memperoleh pemahaman diri, pengarahan diri dan integrasi sosial yang lebih baik, sehingga dapat menyesuaikan diri baik dengan dirinya maupun dengan lingkungannya.
Pradita Ardiansyah / Indonesian Journal of History Education 2 (1) (2013)
22
Mengacu pada pengembangan KTSP maka ada hal yang bisa dijadikan solusi untuk mengatasi hambatan yang telah dirasakan MA Al Irsyad dalam menjalankan KTSP mapel sejarah yaitu optimalisasi PAIKEM dan tidak dapat dipungkiri bahwa metode ceramah yang terlalu konvensional sebelumnya dipakai oleh guru sejarah MA Al Irsyad memang segera diminimalisir kemudian metode PAIKEM dioptimalkan.Nindarwati mengungkapkan bahwa dirinya ketika mengembangkan RPP dan kemudian melaksanakan pembelajaran menggunakan model PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif Menyenangkan) Hal ini mengingat KTSP lebih menekankan keaktifan siswa sedangkan guru adalah fasilitator. Beberapa hal yang sebelumnya diperhatikan guru sejarah MA Al Irsyad dalam melaksanakan PAIKEM adalah sebagai berikut. Metode yang dipilih harus memiliki penekanan pada belajar melalui berbuat. Ketika ada “godaan” untuk kembali menggunakan metode ceramah maka segera dikembalikan pada komitmen awal yaitu mencari kegiatan yang banyak melibatkan siswa untuk berbuat atau mengerjakan sesuatu, Berusaha mencari dan menggunakan berbagai alat bantu atau media belajar, Merencanakan dan mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik/spesifik materi, Menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
Hasil yang didapat dalam upaya mengatasi hambatan pembelajaran sejarah berdasarkan dari apa yang telah dilakukan oleh guru sejarah dalam mengupayakan untuk mengatasi hambatan-hambatan pembelajaran sejarah hampir semua dapat teratasi hanya saja proses itu terjadi cukup lama untuk membiasakannya hal ini dapat terjadi karena faktor persiapan guru yang belum matang baik tentang pengetahuan variasi model maupun keberanian mental untuk mencoba menerapkannya dalam kelas. Berdasarkan observasi lapangan di MA Al Irsyad beberapa hal yang dapat terlihat sebagai imbas dari upaya yang dilakukan guru sejarah dalam mengatasi
hambatan KTSP diantaranya. Siswa telah terbiasa dalam proses pembelajaran bersama (cooperative learning) dibanding belajar secara perorangan (individual learning), untuk peralihan dari belajar dengan cara menghafal (rote learning) ke belajar untuk memahami (learning for understanding) belum begitu maksimal. Siswa masih sering menggunakan teknik menghafal. Terbukti nilai siswa masih tergolong rendah ketika dilakukan uji coba ulangan dadakan, Peralihan paradigma dari guru mengajar ke siswa belajar sudah dapat terlihat, Ketergantungan menggunakan LCD Projektor juga sudah diatasi. Proses pembelajaran dapat terus berjalan tanpa adanya kebingungan guru untuk mencari media pembelajaran. Hasil yang didapat menunjukkan guru Sejarah MA Al Irsyad tentu telah mencoba mengintensifkan PAIKEM semenjak merasakan adanya hambatan-hambatan tersebut dan pada akhirnya kesadaran guru akan pentingnya PAIKEM meningkat.
SIMPULAN
1. Sejumlah hambatan yang dirasakan
guru sejarah MA Al Irsyad Gajah dalam melaksanakan KTSP ternyata masih dalam level proses pembelajarannya, tidak pada level kurikulum itu sendiri yang berkarakterkan penggalian potensi kearifan lokal. Hambatan yang nyata dalam menjalani pembelajaran KTSP mata pelajaran sejarah di MA Al Irsyad yaitu: a) ketidakefektifan metode ceramah (kurangnya kreatifitas guru dalam mendiversifikasi model pembelajaran); b) keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran; c) kesulitan mengatasi perbedaan daya serap siswa
2. Upaya yang dilakukan guru untuk
mengatasi hambatan KTSP adalah dengan mengintensifkan pendekatan PAIKEM. Pendekatan ini mencoba mulai diintensifkan ketika permasalahan (hambatan) mulai
Pradita Ardiansyah / Indonesian Journal of History Education 2 (1) (2013)
23
dirasakan. PAIKEM yang intensif dapat mengatasi hambatan karena PAIKEM mampu: a) melatih guru untuk mendiversivikasikan (penganekaragaman) model-model pembelajaran; b) mengurangi ketergantungan guru terhadap media pembelajaran yang sulit didapat; c) pembelajaran menekankan pada keterlibatan mental siswa dari pada sekedar kognitifnya.3. Hasil yang didapat dari upaya
mengatasi hambatan KTSP hampir semuanya dapat teratasi, kecuali dalam hal peralihan dari belajar dengan cara menghafal (rote learning) ke belajar untuk memahami (learning for understanding). Sehingga dalam hal ini guru belum bisa menjamin apakah hasil belajar siswa memang hasil dari
“understand” atau memang hanya hafalan belaka. Dimasukannya sebagai memori sementara dan tetap menganggapnya kurang berarti. Sampai saat ini belum ada treatment
(perlakuan) dalam mengatasi hal tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). 2006. Standar Isi (KTSP). Jakarta:
Depdiknas.
Miles, Matthew.B, dan A.Michael Huberman. 1992, Analisis Data Kualitatif. Jakarta. UI Press.
Moleong, J Lexy. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Rosdakarya Offest.
Mulyasa, E. 2009. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.