BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia dituntut untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya baik dalam hal ekonomi maupun sosial agar tetap dapat mempertahankan eksistensinya. Untuk memenuhi kebutuhannya pun manusia terkadang harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Perpindahan tersebut akan lebih efisien dalam masalah waktu dan tenaga apabila dilakukan dengan menggunakan sebuah alat transportasi sebagai sarana yang mampu membawa manusia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Seiring kemajuan jaman, kebutuhan akan alat transportasi pun semakin meningkat. Semakin banyak pula mobilisasi atau perpindahan yang terjadi di jalan. Namun sayangnya, peningkatan tersebut juga tidak diimbangi dengan ketertiban lalu lintas sehingga sangat mungkin menyebabkan terjadinya kecelakaan. Kapolri Jenderal Polisi Sutarman menyampaikan bahwa tercatat 80 orang per hari atau 3 orang per jam meninggal di jalan raya akibat kecelakaan lalu lintas selama tahun 2013. Kapolri menambahkan, bahwa sebagian besar korban lalu lintas adalah golongan usia produktif. Tingginya angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas ini disebabkan oleh banyak faktor, dan yang menjadi sorotan adalah tidak disiplinnya para pengendara kendaraan bermotor. Begitu seriusnya kasus kecelakaan lalu lintas, Kapolri mengungkapkan bahwa kecelakaan lalu lintas masuk dalam 10 besar penyebab kematian (Waskita, 2014).

(2)

2

Korps Lalu Lintas Mabes Polri mencatat, pada 2013, terjadi 101.037 kecelakaan lalu lintas. Hal ini berarti, setiap jam terjadi 12 kasus kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan tersebut menimbulkan 25.157 korban meninggal dunia. Kepala Korps Lalu Lintas Polri Inspektur Jenderal Pudji Hartanto di Jakarta pada Selasa, 21 Januari 2014 mengatakan bahwa faktor kelalaian manusia menduduki posisi puncak pemicu kecelakaan. Penyebab utama karena kurang hati-hati, kedua karena melanggar aturan (Christina, 2014).

Menurut data dari World Health Organization (WHO) tahun 2011, Indonesia setiap tahunnya harus kehilangan hingga 400 ribu nyawa anak di bawah usia 25 tahun karena kecelakaan lalu lintas. Angka ini setara dengan seribu kematian remaja setiap harinya. Lebih lanjut, Polda Metro Jaya mencatat, selama tahun 2013 angka kecelakaan di Jakarta untuk pelajar dan mahasiswa terdiri dari 6.498 kasus dengan jumlah korban meninggal sebanyak 95 orang, luka berat 409 orang dan luka ringan 703 orang (Sanjaya, 2014).

Di wilayah Sleman sendiri, kepala Urusan Pembinaan Operasional (KBO) Satlantas Polres Sleman Iptu Edwin Natanel mengatakan, selama kurun waktu Januari hingga Agustus 2013, terdapat 1.304 korban laka lantas. Dari jumlah tersebut, 21,7% di antaranya atau sebanyak 283 orang adalah pelajar. Disampaikan pula bahwa pada Agustus 2013 jumlah pelajar yang terlibat kecelakaan sebanyak 51 siswa atau 31,4% dari total korban yang mencapai 162 orang. Angka tersebut lebih tinggi dari bulan sebelumnya pada Juli yang tercatat 16,5% atau siswa yang terlibat laka lantas, dari jumlah korban 169 orang. Sebelumnya pada bulan Juni dari 170 orang laka lantas, sebanyak 32 merupakan

(3)

3

pelajar atau 18,8% dari jumlah keseluruhan (Info Jogja, 2014). Direktur Lalu Lintas Polda DIY Bambang Pristiwanto, S.H., M.M. mengatakan bahwa kecelakaan yang menimpa pelajar angkanya masih cukup tinggi, dimana korban didominasi oleh individu dengan usia produktif yakni antara 16-20 tahun (Marwoto, 2015).

Pengemudi diketahui menjadi faktor utama penyebab terjadinya kecelakaan di jalan raya. Data Ditlantas Polda Metro Jaya menyebutkan, sepanjang tahun 2014 lalu, lebih dari 90 persen kecelakaan lalu lintas yang terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya dipicu oleh faktor yang disebabkan perilaku pengemudi yang salah (Nurrashid, 2015). Tidak disiplin adalah salah satu alasan yang membuat pengendara kendaraan bermotor di Indonesia, terutama Jakarta, semakin agresif saat di jalan, kata pengamat transportasi Darmaningtyas. Agresivitas di jalan raya, sambung Darmaningtyas, lalu kerap menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas (Yuliansari, 2013).

Perilaku agresif dalam mengemudi menurut National Highway Traffic Safety

Administration (NHTSA) dalam Tasca (2000) adalah suatu pengoperasian

kendaraan bermotor dengan cara yang dapat membahayakan dirinya sendiri atau mungkin membahayakan seseorang, atau properti. Biasanya seseorang yang mengemudikan kendaraannya secara agresif akan mengabaikan peraturan dan kurang berhati-hati.

Menurut Tasca (2000) perilaku mengemudi agresif ini sangat sering dijumpai pada jalan-jalan raya. Mengemudi agresif sendiri dapat dibagi menjadi 2, yaitu secara langsung dapat membahayakan ataupun secara tidak langsung

(4)

4

membahayakan, akan tetapi cenderung mengintimidasi, membuat marah, atau memprovokasi pengendara lainnya. Perilaku-perilaku mengemudi yang termasuk kedalam mengemudi agresif secara langsung yaitu mengambil jarak terlalu dekat dengan pengendara lain atau di depannya, menyalip kendaraan lain dengan cara meliuk-liuk ke-kanan dan ke-kiri, melewati jalan yang tidak boleh untuk dilalui, menyalip kendaraan terlalu dekat di depan kendaraan yang dilewati, melewati bahu jalan, melewati jalur yang berlawanan arah, mencegah pengendara lain untuk mendahului, tidak mau mengalah dengan pengendara lain, berkendara dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan peraturan yang ditetapkan, serta menerobos lampu merah. Sedangkan perilaku-perilaku mengemudi agresif yang secara tidak langsung yaitu mengedipkan lampu, membunyikan klakson dengan intensitas yang cepat, memelototi pengendara lain dangan menunjukkan ketidaksetujuan, berteriak kepada pengendara lain, memberikan isyarat menantang.

Perilaku mengemudi agresif dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu usia dan jenis kelamin, anonimitas, faktor sosial, kepribadian, gaya hidup, tingkah laku, dan faktor lingkungan (Tasca, 2000). Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku mengemudi agresif yatu karena faktor kepribadian. Menurut Allport (1947) kepribadian adalah organisasi dinamik dalam individu atas sistem-sistem psikofisis yang menentukan penyesuaian dirinya yang khas terhadap lingkungannya (dalam Supratiknya, 1993). Grey, dkk. (1989) melaporkan bahwa salah satu faktor kepribadian yang telah diidentifikasi berhubungan dengan

(5)

5

kecelakaan kendaraan salah satunya yaitu karena daya saing atau kompetisi (dalam Tasca, 2000).

Ryckman, Hammer, Kaczor, & Gold, 1990 (Houston, 2003) mendefinisikan kepribadian kompetitif sebagai suatu kebutuhan untuk bersaing dan menang (menghindari kehilangan) dalam hal apapun. Kebutuhan untuk bersaing dan menang tersebut digunakan sebagai sarana untuk mempertahankan atau meningkatkan harga diri seseorang. Upaya tersebut tidak jarang dilakukan dengan tindakan yang bersifat agresif, manipulatif, dan eksploitasi.

Ryckman (dalam Fülöp, 2002) menyatakan bahwa kompetisi juga bersumber dari dalam diri dan bisa menghasilkan dua hal yaitu, sesuatu yang positif dan membangun (personal development competitiveness) dan sesuatu yang merusak

(hypercompetitiveness). Remaja yang memiliki personal development

competitiveness tidak melihat menang-kalah sebagai faktor yang terpenting, tetapi mereka lebih mengutamakan proses dalam mencapai tujuan dan pengembangan diri. Selain itu, mereka juga memiliki coping yang baik dalam mengatasi kekalahan dan melihat kompetitor sebagai kawan yang sama-sama berjuang mencapai tujuan. Sebaliknya, remaja yang hypercompetitiveness memiliki kepercayaan diri yang rendah dan cenderung berkepribadian neurotik. Mereka beranggapan bahwa mereka harus menang dan tidak ada kata kalah dalam „kamus‟ mereka. Hubungan sosial mereka dengan teman sebaya cenderung tidak stabil dan penuh konflik yang disertai perilaku agresif, manipulatif, dan narsistik.

Perasaan untuk berkompetisi sebenarnya mulai muncul sejak masa kanak-kanak terkait dengan pengalaman dalam keluarga. Tanpa disadari, anak-anak akan

(6)

6

berlomba dengan saudaranya untuk memperoleh perhatian, cinta, kekaguman, atau untuk menjadi anak kesayangan dari orang tuanya. Identifikasi individual anak dengan orang tuanya akan menentukan bagaimana anak akan berdamai dengan rasa berkompetisi, keinginan untuk menjadi yang terbaik, dan memperoleh apa yang diinginkan. Rasa berkompetisi dengan saudaranya tersebut lambat laun akan berubah menjadi kompetisi dengan teman sebayanya ketika anak mulai beranjak remaja dan banyak berinteraksi dengan lingkungan sosial (Ross, 2007).

Cobb (dalam Santoso, 2011) menyatakan bahwa ketika remaja berkumpul dan beraktivitas dengan teman sebayanya, tidak jarang hal tersebut disertai dengan munculnya persaingan dengan kelompok lain karena remaja menjadi tertantang untuk menunjukkan nilai lebih yang dimilikinya. Verauli (dalam Nugroho, 2013) mengatakan bahwa usia remaja (sekitar usia 12-18 tahun) itu adalah usia dimana muncul kebutuhan untuk menampilkan diri dalam pertemanan dan lingkungan. Akan tetapi, cara menampilkan dirinya kadang tidak tepat, ada yang menunjukkannya dengan prestasi di sekolah dan ada yang menunjukkan „kehebatannya‟ secara negatif antara lain dengan kebut-kebutan di jalan.

Masa remaja merupakan masa dimana seseorang ingin menampilkan diri serta menunjukkan kemampuan yang dimiliki walaupun dalam kondisi tertentu mereka harus bersaing dengan orang lain atau teman sebayanya, termasuk salah satunya yaitu kemampuan ketika mengemudi. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengamati apakah kepribadian kompetitif pada remaja memiliki hubungan

(7)

7

dengan perilaku mengemudi agresif mengingat angka kecelakaan dengan korban jiwa para remaja tergolong tinggi.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kepribadian kompetitif dengan perilaku mengemudi agresif.

C. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi perkembangan psikologi di Indonesia serta menambah khazanah keilmuan khususnya pada topik perilaku mengemudi agresif dan kepribadian kompetitif.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan acuan bagi peneliti-peneliti selanjutnya yang akan meneliti tentang kepribadian kompetitif dan perilaku mengemudi agresif. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh berbagai pihak yaitu dari pihak kepolisian dan orangtua sebagai upaya untuk mengurangi angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia yang disebabkan oleh perilaku mengemudi agresif pada remaja. Bagi pihak kepolisian, penelitian ini diharapkan bisa menjadi salah satu acuan untuk lebih menggiatkan sosialisasi tentang mengemudikan kendaraan secara aman pada remaja, sedangkan bagi orangtua, penelitian ini diharapkan bisa membuat

(8)

8

orangtua lebih mengarahkan kepribadian kompetitif yang dimiliki oleh anak ke arah yang lebih positif dan tidak dengan mengemudikan kendaraannya secara agresif.

D. Keaslian Penelitian

Penelitian tentang hubungan kepribadian kompetitif dan perilaku mengemudi agresif sudah dilakukan oleh sejumlah peneliti sebelumnya. Namun demikian, beberapa penelitian mengenai hubungan kepribadian kompetitif dan perilaku mengemudi agresif masing-masing variabel dihubungkan dengan variable yang berbeda dan pada kelompok usia yang berbeda pula.

Penelitian dilakukan oleh Elena Constantinoua, Georgia Panayiotoua, Nikos Konstantinoua, Anthi Loutsiou-Ladda, dan Andreas Kapardisb (2011) yang berjudul “Risky and Aggressive Driving in Young Adults: Personality Matters”. Dalam penelitian yang dilakukan terhadap 352 remaja di Yunani tersebut ditemukan bahwa ada beberapa variabel kepribadian yang terkait dengan perilaku menyimpang dalam mengemudi pada remaja, yaitu rasa malu. Selain itu, karakteristik pribadi yang mempengaruhi yaitu karena faktor motivasi dan gaya mengemudi. Pengendara usia remaja rentan terhadap kecelakaan lalu lintas karena beberapa hal, termasuk keinginan untuk berkembang, motivasi, kematangan kognitif, kurangnya pengalaman, dan konteks sosial. Berdasarkan faktor tersebut, remaja sering menghadapi resiko karena mereka memiliki level kepribadian yang tinggi terhadap resiko dan perilaku agresif. Penelitian tersebut menggunakan empat skala, yaitu skala DBQ (Driving Behavior Questionnaire), SPSRQ

(9)

9

(Sensitivity to Punishment / Sensitivity to Reward Questionnaire), SSS-V (Sensation Seeking Scale-V), dan BIS11 (Barratt Impulsiveness Scale-11). Kemudian data yang terkumpul dianalisis dengan uji korelasi pearson. Selain itu digunakan juga analisis regresi, untuk melihat seberapa besar kontribusi masing-masing prediktor terhadap perilaku menyimpang remaja dalam mengemudi.

Penelitian lainnya dilakukan oleh Hui dkk. (2007) yang berjudul “Research between Aggressive Driving Behavior and Type A Behavior”. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa antara TABP (Type A Behavior Pattern) dan mengemudi agresif memiliki hubungan yang unik dan saling terkait. Untuk pengemudi TABP pemarah, terdapat hubungan yang kuat diantara mengabaikan orang lain, mengambil ruang pengemudi lain, dan penyerangan secara interpersonal. Untuk ketidaksabaran pada pengemudi TABP, terdapat hubungan yang kuat diantara mengabaikan orang lain, mengambil ruang pengemudi lain, meningkatkan kecepatan kendaraan memimpin dan melakukan penyerangan secara interpersonal. Untuk permusuhan pada pengemudi TABP, terdapat hubungan yang kuat diantara mengabaikan orang lain, mengambil ruang pengemudi lain, serta melakukan penyerangan secara interpersonal.

Penelitian lainnya dilakukan oleh Nadiyya Utami (2010) dengan judul penelitian “Hubungan Persepsi Risiko Kecelakaan dengan Aggressive Driving Pengemudi Motor Remaja”. Responden penelitian tersebut sebanyak 100 remaja yang ditentukan dengan teknik non probability sampling dengan jenis purposive sampling. Instrumen penelitian berbentuk skala likert yang terdiri dari dua skala yaitu skala persepsi risiko kecelakaan dan skala mengemudi agresif. Teknik

(10)

10

analisis dari penelitian tersebut menggunakan korelasi product moment dari Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi kecelakaan pada remaja tergolong tinggi. Hal tersebut disebabkan karena kemampuan berpikir abstrak remaja dimana mereka sudah mampu berpikir tentang sesuatu yang akan atau mungkin terjadi, serta memikirkan akibat jangka panjang dari perilaku mereka sehingga para remaja jarang melakukan perilaku mengemudi agresif.

Penelitian lain tentang mengemudi agresif juga dilakukan oleh Michele Lustman, David L. Wiesenthal, dan Gordon L. Flett (2010) yang berjudul “Narcissism and Aggressive Driving: Is an Inflated View of the Self a Road Hazard?”. Penelitian dilakukan pada 210 pengemudi dengan tingkat narsistik yang berbeda berdasarkan paparan 10 skenario dari situasi mengemudi yang objektif dan diminta untuk membuat penilaian, level pertimbangan, serta kemarahan dan untuk menunjukkan respon yang ditampilkan pada situasi tertentu. Hal tersebut merupakan respon yang mencerminkan perilaku pengendara motor lain. Hasil dari penelitian tersebut yaitu terdapat kaitan antara atribusi asosiasi, kemarahan, reaksi dan perilaku. Korelasi yang positif ditemukan pada atribusi dan level kemararahan serta agresi pengemudi. Individu dengan tingkat narsisme yang tinggi diketahui lebih dapat berperilaku agresif yang mengarah pada perilaku frustasi mengemudi terhadap orang lain, tetapi hubungan ini bervariasi dan didasarkan oleh jenis kelamin dan pengamalaman mengenai kemarahan.

Penelitian ini berbeda dari penelitian-penelitian terdahulu, dimana penelitian ini menggunakan kepribadian kompetitif sebagai variabel bebas yang dihubungkan dengan perilaku mengemudi agresif. Responden pada penelitian ini

(11)

11

adalah remaja dengan rentang usia antara 16-20 tahun di Kabupaten Sleman. Penelitian ini akan menggunakan desaim non-experimental. Pengukuran terhadap variabel kepribadian kompetitif akan diukur dengan menggunakan skala kepribadian kompetitif yang diadaptasi dari Hypercompetitiveness Attitude Scale (HCA) dan disusun oleh Ryckman, Hammer, Kaczor, Gold (1990). Pengukuran untuk variabel mengemudi agresif akan diukur dengan menggunakan skala mengemudi agresif yang merupakan adaptasi dari Aggressive Driving Behavior Scale (ADBS) dan disusun oleh Houston (2003).

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memiliki kesamaan dengan beberapa variabel yang digunakan pada penelitian sebelumnya. Ditinjau dari topik, teori, dan respondennya, penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya sehingga penelitian dengan ini dikatakan cukup orisinil untuk dilakukan.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :