FORMULASI SEDIAAN CAIR DAN SEMIPADAT
“GEL”
DEFINISI
Gel merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat
dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar,
terpenetrasi oleh suatu cairan. Gel kadang–kadang disebut jeli
(FI
IV, hal 7).
Gel merupakan sistem semipadat dimana fase cairnya dibentuk
dalam suatu matriks polimer tiga dimensi (terdiri dari gom alam
atau gom sintetis) yang tingkat ikatan silang fisik (atau
atau gom sintetis) yang tingkat ikatan silang fisik (atau
kadang-kadang kimia)-nya yang tinggi sering dibicarakan
(Lachman Jilid II,
edisi Ind halaman 1092).
Gel merupakan sediaan semisolid atau solid yang transparan atau
tembus cahaya, terdiri dari larutan atau dispersi dari satu atau
lebih zat aktif dalam basis hidrofilik atau hidrofobik yang sesuai
ATURAN UMUM/PERSYARATAN GEL
Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik
ialah inert, aman, dan tidak bereaksi dengan komponen lain.
Pemilihan bahan pembentuk gel harus dapat memberikan bentuk
padatan yang baik selama penyimpanan tapi dapat
pecah/berubah segera ketika sediaan diberikan kekuatan atau
daya yang disebabkan oleh pengocokan dalam botol, penekanan
tube, atau selama penggunaan topikal.
tube, atau selama penggunaan topikal.
Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan
sediaan yang diharapkan, misalnya jika digunakan untuk topikal
tidak boleh lengket, gel untuk sediaan mata harus steril.
Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat
tinggi atau BM besar dapat menghasilkan gel yang sulit untuk
dikeluarkan atau digunakan.
Gel yang terbuat dari polisakarida rentan terhadap degradasi
Viskositas gel hendaklah hanya terpengaruh sedikit ketika berada
dalam kondisi temperatur yang bervariasi. Misalkan plastibase
menghasilkan penurunan konsistensi yang lebih kecil dibandingkan
dengan petrolatum pada rentang temperatur yang sama.
Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur, tapi dapat juga
pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga suhu tertentu.
Contoh polimer seperti MC, HPMC dapat terlarut hanya pada air
ATURAN UMUM/PERSYARATAN/KARAKTERISTIK GEL
Contoh polimer seperti MC, HPMC dapat terlarut hanya pada air
yang dingin yang akan membentuk larutan yang kental dan pada
peningkatan suhu larutan tersebut akan membentuk gel.
Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan
oleh pemanasan disebut
thermogelation
.
(
Pharmaceutical Dosage Form
:
Disperse system vol 2 halaman
SIFAT DAN KARAKTERISTIK GEL ADALAH SEBAGAI BERIKUT
SWELLING
Gel dapat mengembang dengan mengabsorbsi cairan
sehingga terjadi peningkatan volume. Hal ini dapat
dianggap sebagai fase awal disolusinya.Pelarut akan
mempenetrasi matriks gel sehingga interaksi gel-gel
mempenetrasi matriks gel sehingga interaksi gel-gel
digantikan oleh interaksi gel-pelarut.Terbatasnya
pengembangan gel disebabkan adanya beberapa
derajat ikatan silang dalam matriks gel yang
SINERESIS
Selama didiamkan sistem gel dapat kontraksi.
Mekanisme terjadinya kontraksi berhubungan dengan
relaksasi dari tekanan elastis yang timbul selama
pembentukan gel. Ketika tekanan ini hilang, ruang
SIFAT DAN KARAKTERISTIK GEL ADALAH SEBAGAI BERIKUT
pembentukan gel. Ketika tekanan ini hilang, ruang
intersititial bagi pelarut akan berkurang sehingga
cairan pelarut pun akan keluar dan menuju ke
permukaan gel, peristiwa inilah yang disebut
sineresis
.
Sineresis dapat terjadi pada hidrogel organik dan
STRUKTUR
Rantai panjang suatu pembentuk gel akan diperpanjang dalam pelarut yang
baik seperti yang terjadi pada gel aqueous di mana terjadi ikatan hidrogen antara air dan gugus hidroksil pada gelling agent.
Garam akan menarik bagian air dari suatu bagian hidrasi polimer sehingga
terbentuk lebih banyak ikatan molekuler sekunder yang mengakibatkan pembekuan dan pengendapan.
Penambahan kation di- atau trivalent seperti penambahan Cu pada larutan
ATURAN UMUM/PERSYARATAN/KARAKTERISTIK GEL
Penambahan kation di- atau trivalent seperti penambahan Cu pada larutan
CMC Na atau Ca pada Na-alginat akan membentuk gel.
Pengaruh suhu terhadap struktur gel tergantung pada sifat kimiawi polimer dan
mekanisme interaksinya dengan medium. Banyak pembentuk gel (gelling agent) lebih larut dalam air panas daripada dingin.
Pengaruh BM terhadap karakteristik gel: Polimer yang sangat panjang akan
semakin mudah terjerat atau kusut dan menghasilkan viskositas yang lebih
EFEK SUHU
Efek suhu memengaruhi struktur gel. Gel dapat
terbentuk melalui penurunan temperatur tapi dapat
juga pembentukan gel terjadi setelah pemanasan
hingga suhu tertentu.
ATURAN UMUM/PERSYARATAN/KARAKTERISTIK GEL
hingga suhu tertentu.
Polimer separti MC, HPMC, terlarut hanya pada air
yang dingin membentuk larutan yang kental.
Pada peningkatan suhu larutan tersebut membentuk
gel. Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase
yang disebabkan oleh pemanasan disebut
EFEK ELEKTROLIT
Konsentrasi elektrolit yang sangat tinggi akan berpengaruh
pada gel hidrofilik dimana koloid digaramkan (melarut).
Gel yang tidak terlalu hidrofilik dengan konsentrasi
elektrolit kecil akan meningkatkan rigiditas gel dan
ATURAN UMUM/PERSYARATAN/KARAKTERISTIK GEL
elektrolit kecil akan meningkatkan rigiditas gel dan
mengurangi waktu untuk menyusun diri sesudah pemberian
tekanan geser.
Gel Na-alginat akan segera mengeras dengan adanya
ELASTISITAS DAN RIGIDITAS
Sifat ini merupakan karakteristik dari gel gelatin agar
dan nitroselulosa, selama transformasi dari bentuk sol
menjadi gel terjadi peningkatan elastisitas dengan
peningkatan konsentrasi pembentuk gel.
ATURAN UMUM/PERSYARATAN/KARAKTERISTIK GEL
peningkatan konsentrasi pembentuk gel.
Bentuk struktur gel resisten terhadap perubahan atau
deformasi dan mempunyai aliran viskoelastik. Struktur
gel dapat bermacam-macam tergantung dari
RHEOLOGI
Larutan pembentuk gel (gelling agent) dan dispersi padatan
yang terflokulasi memberikan sifat aliran pseudoplastis yang
khas, dan menunjukkan aliran non – Newton (menggunakan alat
brookfield) yang dikarakterisasi oleh penurunan viskositas dan
peningkatan laju aliran
(Pharmaceutical Dosage Form
:
Disperse
system vol 2 halaman 401-403).
ATURAN UMUM/PERSYARATAN/KARAKTERISTIK GEL
system vol 2 halaman 401-403).
Tiksotropi merupakan pembentukan reversibel gel-sol tanpa
adanya perubahan volume ataupun suhu dalam waktu yang
cukup lama, hal ini merupakan sifat alir non Newtonian. Sifat alir
gel umumnya adalah pseudoplastis dimana viskositas akan
menurun ketika laju pengadukan ditingkatkan.
Gel tidak memiliki sifat alir yang bebas seperti bahan yang lebih
PENGGOLONGAN
BERDASARKAN SIFAT FASA KOLOID
(
Pharmaceutical
Dosage Form Disperse System Vol 2 hal 400
)
Gel anorganik, contoh : bentonit magma
PENGGOLONGAN
BERDASARKAN JENIS PELARUT(Pharmaceutical Dosage Form Disperse System Vol 2 hal 400; Panwar et al. 2011; Rao et al. 2013)
Hidrogel (adalah aqueous gel (pelarutnya air) yang mengandung polimer tidak
larut air)
Contoh : bentonit magma, gelatin.
Organogel (mengandung pelarut bukan air/pelarut organik)
Contoh : plastibase dan dispersi logam stearat dalam minyak.
Contoh : plastibase dan dispersi logam stearat dalam minyak.
Xerogel (gel padat dengan konsentrasi pelarut yang rendah) diperoleh dengan
evaporasi pelarut sehingga hanya tertinggal kerangka gel.Contoh : gelatin kering, tragakan ribbons dan acacia tears, dan sellulosa kering dan polystyrene.
Emulgel
Emulgel adalah kombinasi gel dan emulsi dalam satu sediaan di mana emulsi
PENGGOLONGAN
BERDASARKAN JENIS FASE TERDISPERSI
(FI IV
halaman 7-8, Ansel hal 390-391)
Gel fase tunggal,
terdiri dari makromolekul organik yang
tersebar serba sama dalam suatu cairan sedemikian hingga
tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang
terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari
terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari
makromolekul sintetik (misal karbomer) atau dari gom alam
(misal tragakan). Molekul organik larut dalam fasa kontinu.
Gel sistem dua fasa
, terbentuk jika masa gel terdiri dari
jaringan partikel kecil yang terpisah. Dalam sistem ini, jika
ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar, masa gel
kadang-kadang dinyatakan sebagai magma. Partikel
KEUNTUNGAN
Waktu kontak gel pada kulit atau mukosa jauh lebih panjang daripada larutan aqueous
karena sifat adhesive dan/atau reologinya.
Perpanjangan waktu kontak pada lokasi pemakaiannya akan meningkatkan absorbsi obat,
sehingga membuka peluang: obat dapat diberikan dengan dosis yang lebih rendah, interval dosing yang lebih panjang ataupun keduanya. Selain itu, kandungan minyak yang sangat
rendah dibandingkan dalam salep maupun krim, membuat gel lebih disukai secara kosmetikal. Meskipun efek oklusif tidak dimiliki gel, namun masih banyak formulasi gel yang dapat
Meskipun efek oklusif tidak dimiliki gel, namun masih banyak formulasi gel yang dapat
menghasilkan absorpsi perkutan yang memadai untuk memberikan absorpsi sistemik.
Pada rute administrasi ocular, penggunaan gel selain terkait sifat kosmetikalnya juga karena
dapat menghasilkan pelepasan obat yang diperpanjang (efisiensi sediaan meningkat)
dibanding tetes mata yang mudah terhapus karena drainase nasolakrimal dan selain itu juga penurunan bioavaibilitasnya karena permeabilitas kornea terhadap obat yang buruk(Dew, 2011 hal 12 dan 13).
Untuk hidrogel : efek pendinginan pada kulit saat digunakan; penampilan sediaan yang
KERUGIAN
Karena formulasi gel paling banyak terdiri dari air
maka laju difusi molekul bebas dan kecil dalam gel
akan mirip dalam air murni.
Artinya, obat akan cepat dikosongkan dari gel
sehingga meskipun waktu kontak panjang, namun obat
tidak berefek lagi.
tidak berefek lagi.
Untuk memperlama pelepasan obat dari gel, obat
dapat diformulasikan sebagai partikel solid dalam gel
yakni sebagai suspensi; obat dapat berinteraksi
ALASAN PEMILIHAN SEDIAAN GEL
Pemilihan penggunaan bentuk sediaan gel
dilatarbelakangi oleh banyak rute administrasi yang dapat dicapai dengan gel.
Gel dapat diaplikasikan untuk semua membran
topikal dan karena dapat digunakan untuk efek sistemik dan lokal, maka beberapa
Selain itu, di antara kelompok sediaan
semisolid lainnya, penggunaan gel yang transparan ini telah diperluas menjadi di bidang kosmetik maupun farmasetik.
Sebagai sediaan farmasetik, gel dapat
menghasilkan pelepasan obat yang lebih
(Dew, 2011 hal 11-12).
(Helal et al., 2012 hal 176).
efek sistemik dan lokal, maka beberapa penggunaan yang potensial adalah pada membran bukal, kulit, mukosa vagina dan di rongga nasal.
Gel juga dapat digunakan per subkutan dan
untuk administrasi ke perut atau kolon. Formulasi gel yang dapat menghasilkan pelepasan obat yang diperlama dapat digunakan sebagai alternatif untuk formulasi berbasis minyak atau suspensi atau untuk implan (yakni pada penggunaan subkutan)
menghasilkan pelepasan obat yang lebih cepat, tidak tergantung dari kelarutan obat dalam air jika dibandingkan dengan krim dan salep. Sediaan ini sangat biokompatibel dengan risiko inflamasi dan efek merugikan (ADR) yang lebih rendah, mudah diaplikasikan dan tidak perlu dihapus.
Dalam penggunaan dermatologis, gel
FORMULA BAKU
FORMULA umum/standar
Zat aktif
Basis gel
FORMULASI UMUM
Zat aktif
Basis gel
Peningkat penetrasi
Peningkat konsistensi
Peningkat konsistensi
Pengawet
Pendapar
Antioksidan
Formula gel yang paling sederhana terdiri
dari:
Air
thickened agent
berupa gom alam (tragakan, guar,
xanthan), bahan semisintetik ( MC, CMC, HEC), sintetik
(polimer karbomer-karbovinil) ataupun clay (silikat,
hectorite).
hectorite).
zat aktif dan
zat tambahan lainnya
(Pharmaceutical Preformulation and
PERHITUNGAN
Jumlah zat aktif selalu ditimbang dalam jumlah 5%
berlebih untuk mencegah kemungkinan
berkurangnya kadar dalam sediaan akibat proses
pembuatan ataupun dalam penyimpanannya.
SELAMAT BELAJAR