TINJAUAN KINERJA EKONOMI REGIONAL:
STUDI EMPIRI STUDI EMPIRISTUDI EMPIRI
STUDI EMPIRIS : PROVINSI KALIMANTAN TENGAH S : PROVINSI KALIMANTAN TENGAH S : PROVINSI KALIMANTAN TENGAH 2003 S : PROVINSI KALIMANTAN TENGAH 2003 2003 –2003 ––– 2007 2007 2007 2007 OLEH :
OLEH :OLEH : OLEH :
ERNAWATI PASARIBU, S.Si, ME*) Latar Belakang
Kebijaksanaan pembangunan yang dilakukan selama ini dalam prakteknya lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan belum memfokuskan pemerataan pembangunan antar wilayah secara signifikan. Hal ini pada akhirnya memberikan dampak yang kurang menggembirakan, antara lain timbulnya kesenjangan antar daerah-daerah khususnya di wilayah Kalimantan.
Pembentukan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) sebagai prime mover dan generator bagi pertumbuhan perekonomian wilayah ternyata juga tidak dapat memacu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, khususnya sebagai penggerak pembangunan di wilayah sekitarnya. Hal ini disebabkan pemilihan suatu daerah sebagai Kapet tidak mempertimbangkan persyaratan yang sudah ditetapkan seperti tingkat pertumbuhan dan spesialisasi daerah (Pasaribu, Ernawati dalam Evaluasi Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu , 2005).
Salah satu cara yang dapat diharapkan memberikan imbas positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah sekitar (hinterland) adalah melalui pemberdayaan sektor-sektor unggulan sebagai penggerak perekonomian daerah dan keterkaitan ekonomi antar daerah. Penekanan pada pertumbuhan ekonomi ini mengingat ”pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu variabel ekonomi yang merupakan indikator kunci dalam pembangunan” (Kuncoro, 2000:18).
Secara administratif, Provinsi Kalimantan Tengah meliputi 14 wilayah Kabupaten/Kota. Dilihat dari aspek geografis, luas wilayah Kalimantan Tengah melebihi 30% dari wilayah Kalimantan, namun hanya didiami oleh kurang lebih 16% total penduduk Kalimantan. Dilihat dari aspek ekonomi, jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha baru mencapai sekitar 14% dari total nilai tambah wilayah Kalimantan (Statistik Indonesia; 2007).
Dengan wilayah yang luas, dan ditambah dengan melimpahnya kekayaan sumberdaya alam, maka sangat ironis sekali apabila Kalimantan Tengah harus menghadapi ketertinggalan pembangunan bila dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di wilayah Kalimantan.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah :
1. Untuk mengetahui posisi perekonomian Kab/Kota di wilayah Kalimantan Tengah yang diukur melalui perbandingan tingkat pertumbuhan dan pendapatan per kapita setiap kabupaten/kota terhadap propinsi Kalimantan Tengah;
2. Untuk menentukan sektor ekonomi unggulan yang potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian pada tiap kabupaten/kota di propinsi Kalimantan Tengah
Analisis Tipologi Klassen digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah. Tipologi Klassen pada dasarnya membagi daerah berdasarkan dua indikator utama, yaitu pertumbuhan ekonomi daerah dan pendapatan per kapita daerah. Dengan menentukan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebagai sumbu vertikal dan rata-rata pendapatan per kapita sebagai sumbu horizontal, daerah yang diamati dapat dibagi-bagi menjadi empat klasifikasi, yaitu : daerah cepat maju dan cepat tumbuh (high growth and high income), daerah maju tapi tertekan (high income but low growth), daerah berkembang cepat (high growth but low income), dan daerah relatif tertinggal (low growth and low income) (Hil,1989).
Gambar 1. Pembagian daerah Kab/Kota Menurut Tipologi Klassen
2. Analisis Location Quotient (LQ)
Analisis LQ digunakan untuk menentukan sektor unggulan perekonomian daerah, yang mengacu pada formulasi berikut :
LQ =
RVn
Xn
RVr
Xr
atau LQ =RVn
RVr
Xn
Xr
Keterangan :Xr = Nilai Produksi sektor i pada kabupaten/kota RVr = Total PDRB kabupaten/kota
Xn = Nilai produksi sektor i pada propinsi RVn = Total PDRB propinsi
Kriteria pengukuran LQ yaitu bila nilai LQ > 1 berarti nilai produksi sektor tertentu di Kab/kota lebih besar dari sektor yang sama di tingkat propinsi. Bila nilai LQ < 1 berarti nilai produksi sektor tertentu di Kab/kota lebih kecil dari sektor yang sama di tingkat propinsi, dan bila nilai LQ = 1 berarti nilai produksi sektor tertentu di Kab/kota sama dengan sektor yang sama pada tingkat provinsi.
Bila nilai LQ >1 berarti sektor tersebut merupakan sektor unggulan di kabupaten/kota dan potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian kabupaten/kota. Apabila nilai LQ < 1 berarti sektor % Pertumbuhan
PDRB/Kapita Daerah Relatif Tertinggal
Daerah Berkembang Cepat Daerah Cepat Maju Cepat Tumbuh
Daerah Maju Tertekan Provinsi
tersebut bukan merupakan sektor unggulan dan kurang potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian kabupaten/kota.
Pembahasan
Berdasarkan analisis Tipologi Klassen, dari 14 kab/kota di Kalimantan Tengah, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur berada pada kategori daerah cepat maju cepat tumbuh. Rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita kedua daerah tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata provinsi. Kabupaten Sukamara, Lamandau, Seruyan, Katingan, Barito Utara, dan Murung Raya berada pada kategori daerah maju tertekan. Keenam daerah ini memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi, tetapi tingkat pertumbuhan ekonominya lebih rendah dibanding rata-rata provinsi. Ironisnya hampir sebagian besar dari daerah-daerah di Kalimantan Tengah justru berada pada kategori daerah relatif tertinggal. Daerah-daerah tersebut yaitu Palangkaraya, Gunung Mas, Barito Timur, Barito Selatan, Kapuas, dan Pulang Pisau. Daerah-daerah ini memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih rendah dibanding rata-rata provinsi.
Analisis LQ menunjukkan bahwa seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Tengah memiliki nilai LQ lebih besar dari satu pada beberapa sektor lapangan usaha. Artinya, semua daerah memiliki sektor unggulan. Selain itu, terdapat sektor-sektor yang bukan merupakan unggulan dan daya saingnya tidak dimiliki oleh masing-masing daerah. Adapun penyebaran Sektor-sektor unggulan yang dimiliki oleh Kabupaten/Kota di Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut :
1. Sektor Pertanian : Kab. Kapuas, Barito Selatan, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Sukamara, Lamandau, Seruyan, Katingan, Pulang Pisau, Gunung Mas, dan Barito Timur;
3. Sektor Industri Tanpa Migas : Kab. Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur; 4. Sektor Listrik dan Air Bersih : Kota Palangka Raya dan Kab. Barito Utara;
5. Sektor Bangunan : Kota Palangka Raya, Kab. Kapuas, Barito Selatan, Barito Utara, Pulang Pisau, Gunung Mas, dan Barito Timur;
6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran : Kab. Kotawaringin Timur, Katingan dan Pulang Pisau.; 7. Sektor Pengangkutan dan Komunkasi : Kota Palangka Raya, Kab. Barito Selatan, Kotawaringin Barat,
Kotawaringin Timur dan Barito Utara;
8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan : Kota Palangka Raya dan Kab. Kapuas; 9. Sektor Jasa-jasa : Kota Palangka Raya, Kab. Barito Selatan, dan Barito Timur.
Penutup
Berdasarkan hasil pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, kebijakan pembangunan dan pengembangan sektoral perekonomian daerah, hendaknya lebih memprioritaskan sektor unggulan yang dimiliki oleh masing-masing kabupaten/kota. Meskipun demikian sektor lainnya tetap mendapat perhatian secara proporsional sesuai dengan potensi dan peluang pengembangannya. Pengembangan sektor unggulan hendaknya diarahkan pada upaya untuk menciptakan keterkaitan antardaerah di Kalimantan Tengah. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah melalui penciptaan spesialisasi yang memungkinkan bergeraknya perekonomian secara bersama-sama melalui proses pertukaran komoditas. Namun demikian, masih dibutuhkan analisis lanjut untuk mengukur tingkat spesialisasi aannttaarr k
kaabbuuppaatteenn//kkoottaa ddii KKaalliimmaannttaann TTeennggaahh..
Kedua, untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi daerah terutama untuk daerah yang masih berada pada klasifikasi daerah relatif tertinggal, diperlukan kebijakan yang dapat memberikan insentif bagi investasi di daerah tersebut. Insentif yang dapat diberikan adalah perbaikan prasarana, yang selama ini menghambat laju investasi di daerah-daerah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
BPS, Produk Domestik Regional Bruto Propinsi Menurut Lapangan Usaha, Tahun 2003 - 2007. BPS, Statistik Indonesia, Tahun 2007.
Pasaribu, Ernawati. Evaluasi Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu. Jakarta, 2005.
Hill, H. (Ed.). (1989). Unity and Diversity: Regional Economic Development in Indonesia since 1970. Singapore: Oxford University Press.
Lampiran
Kab/Kota Pertanian
Pertambangan Tanpa Migas & Penggalian
Industri Tanpa Migas
Listrik &
Air Bersih Bangunan
Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan Palangkaraya 0.158 0.303 0.624 3.439 1.672 0.959 2.503 1.133 Kapuas 1.423 0.067 0.766 0.580 1.613 0.817 0.509 1.010 Barito Selatan 1.077 0.086 0.690 0.819 1.752 0.825 1.655 0.825 Kotawaringin Barat 1.234 0.571 1.732 0.562 0.746 0.911 1.508 0.551 Kotawaringin Timur 1.045 0.145 1.919 0.634 0.669 1.114 1.409 0.592 Barito Utara 0.881 3.250 0.644 1.108 1.411 0.885 1.011 0.639 Sukamara 1.934 0.087 0.251 0.227 0.315 0.802 0.178 0.341 Lamandau 1.782 0.096 0.088 0.151 0.048 0.872 0.432 0.573 Seruyan 1.516 0.261 0.837 0.357 0.460 0.901 0.933 0.453 Katingan 1.236 0.834 0.762 0.312 0.483 1.029 1.395 0.393 Pulang Pisau 1.422 0.043 0.740 0.542 1.748 1.013 0.302 0.560 Gunung Mas 1.364 1.940 0.331 0.266 1.336 0.717 0.371 0.381 Barito Timur 1.431 0.094 0.518 0.418 1.509 0.636 0.683 0.733 Murung Raya 0.931 6.076 0.363 0.544 0.711 0.529 0.731 0.409 0.669 0.960 1.106 0.807 0.416 0.765 0.513 0.739 1.073 0.573 0.516 0.881 Tabel 1. LQ Rata-rata Kabupaten/Kota di Kalimantan Tengah Menurut 9 Sektor Lapangan Usaha, 2003 - 2007
Jasa-jasa
3.007 0.676